Skip to content

MUSASHI – BUKU 2 ( AIR )

27 August 2010
tags:

Buku 2 : A I R

Perguruan Yoshioka
HIDUP hari ini, yang tak kenal hari esok….
Di Jepang, pada awal abad tujuh belas, kesadaran orang mengenai hidup yang hanya selintas terdapat pada orang kebanyakan maupun pada golongan elite. Jenderal terkenal Oda Nobunaga, yang telah meletakkan dasar-dasar bagi Toyotomi Hideyoshi dalam mempersatukan Jepang, menyimpulkan pandangan ini dalam sebuah sajak pendek:
Umur manusia yang lima puluh tahun Tidak lebih dari impian maya Dalam perjalanan lewat Perpindaban perpindahan abadi.
Kalah dalam suatu pertempuran kecil dengan salah seorang jenderalnya sendiri, yang menyerangnya secara mendadak dalam usaha balas dendam, Nobunaga bunuh diri di Kyoto pada umur empat puluh delapan.
Tahun 1605, sekitar dua dasawarsa kemudian, perang yang tak kenal henti antara para daimyo pada pokoknya sudah lewat. Tokugawa Ieyasu telah memerintah sebagai shogun dua tahun lamanya. Lentera di jalan-jalan Kyoto dan Osaka bersinar terang sebagaimana pada masa kejayaan zaman ke-shogun-an Ashikaga. Suasana umumnya riang dan penuh pesta.
Tapi hanya sedikit orang yang yakin bahwa perdamaian itu akan kekal. Perang saudara selama lebih dari seratus tahun telah demikian mewarnai pandangan hidup rakyat, hingga mereka beranggapan bahwa ketenangan yang sedang berlangsung itu rapuh belaka dan bakal berumur pendek. Ibu kota memang berkembang, tetapi ketegangan akibat tidak diketahuinya berapa lama keadaan itu akan berlangsung lebih merangsang keinginan rakyat untuk bersuka ria.
Sekalipun masih memegang kekuasaan, Ieyasu secara resmi sudah mengundurkan diri dari kedudukan shogun. Selagi masih cukup kuat untuk menguasai daimyo lain dan mempertahankan hak keluarga untuk berkuasa, ia menyerahkan gelarnya kepada anak lelakinya yang ketiga, Hidetada. Ada desas-desus bahwa shogun baru akan segera mengunjungi Kyoto untuk menyatakan hormatnya kepada Kaisar, tapi semua orang tahu bahwa perjalanannya ke barat itu akan lebih dari sekadar kunjungan kesopanan. Saingan terbesarnya yang potensial, Toyotomi Hideyori, adalah anak Hideyoshi, penerus Nobunaga. Hideyoshi telah berbuat sebisa-bisanya agar kekuasaan tetap berada di tangan keluarga Toyotomi sampai Hideyori cukup umur, tetapi pemenang di Sekigahara adalah Ieyasu.
Hideyori masih bersemayam di Puri Osaka. Meskipun Ieyasu tidak menying-kirkannya, malahan mengizinkannya menikmati penghasilan tahunan yang besar jumlahnya, ia sadar bahwa Osaka merupakan ancaman besar. Tempat ini bisa menjadi titik kumpul yang mungkin dipakai untuk perlawanan. Banyak penguasa feodal lainnya juga mengetahui hal ini. Mereka memasang taruhan yang jumlahnya sama untuk kemenangan kedua belah pihak. Mereka pun berbaik-baik dengan Hideyori maupun shogun untuk mengamankan diri. Sering orang mengatakan bahwa Hideyori memiliki cukup banyak puri dan emas hingga bisa membeli semua samurai tak bertuan atau ronin di negeri itu, jika ia mau.
Spekulasi kosong mengenai masa depan politik negeri itu merupakan bahan utama pergunjingan di udara Kyoto.
“Perang pasti pecah, cepat atau lambat.”
“Tinggal masalah waktu.”
“Lentera-lentera jalan ini bisa padam besok.” “Kenapa mesti pusing? Apa yang terjadi, terjadilah.” “Mari kita bersuka ria selagi bisa!”
Kehidupan malam yang sibuk dan tempat-tempat hiburan yang semakin meriah merupakan bukti nyata bahwa kebanyakan penduduk memang melakukannya.
Di antaranya adalah sekelompok samurai yang kini sedang berjalan membelok masuk Jalan Shijo. Di samping mereka berdiri tembok panjang berplester putih yang berakhir pada sebuah gerbang mengesankan dan beratap mengagumkan. Sebuah papan kayu yang sudah hitam warnanya karena usia, memuat tulisan yang hampir tak terbaca lagi:
Yoshioka Kempo dari Kyoto. Instruktur Militer bagi para Shogun Ashikaga.
Kedelapan samurai muda itu kelihatannya selesai berlatih pedang terus-menerus sepanjang hari. Sebagian mengenakan pedang kayo sebagai pelengkap pedang baja yang biasa, dan sebagian lagi membawa lembing. Mereka tampak kuat, jenis orang pertama yang melihat tumpahnya darah pada saat pertarungan senjata meletus. Wajah mereka sekeras batu dan mata mereka penuh ancaman, seakan selamanya berada di ambang letusan kemarahan.
“Ke mana kita pergi malam ini, Tuan Muda?” tanya mereka beramai-ramai sambil mengelilingi guru mereka.
“Ke mana lagi kalau bukan ke tempat kemarin malam?” jawab sang guru dengan muram.
“Ah! Perempuan-perempuan itu semuanya jatuh hati kepada Tuan! Mereka hampir tidak memandang kami.”
“Barangkali dia benar,” yang lain menyela. “Kenapa tidak kita coba tempat lain yang baru, di mana tak ada orang mengenal Tuan Muda atau salah seorang dari kita?” Sambil berteriak-teriak dan ribut tak keruan, tampaknya mereka benar-benar tenggelam dalam persoalan ke mana akan pergi minum dan melacur.
Mereka masuk daerah yang berpenerangan balk di sepanjang tepi Sungai Kamo. Bertahun-tahun tanah itu kosong dan penuh ditumbuhi rumput, benar-benar lambang kehancuran perang. Tetapi bersamaan dengan datangnya damai, nilainya pun melonjak. Rumah-rumah rapuh tersebar di sana-sini, tirai-tirai merah dan kuning pucat tergantung melengkung di pintu masuk. Di situ kupu-kupu malam menjalankan usahanya. Gadis-gadis dari Provinsi Tamba dengan muka berpupur sembarangan menyiuli calon pelanggan. Perempuan-perempuan malang yang dibeli secara berkelompok itu memetik shamisen, alat musik yang belum lama populer. Mereka menyanyikan lagulagu mesum clan tertawa-tawa antara sesamanya.
Nama tuan muda itu Yoshioka Seijuro. Kimono cokelat tua yang bagus potongannya menutup tubuhnya yang jangkung. Begitu mereka memasuki daerah pelacuran, ia menoleh ke belakang dan katanya kepada
salah seorang dari kelompoknya, “Toji, belikan aku topi anyaman.”
“Yang dapat menyembunyikan wajah Anda?”
“Ya.”
“Anda membutuhkannya bukan untuk di sini, bukan?” jawab Gion Toji.
“Aku takkan minta kalau tidak membutuhkannya di sini!” decap Seijuro tak sabar. “Aku tak suka orang melihat anak Yoshioka Kempo berkeliaran di tempat seperti ini.”
Toji tertawa. “Tapi itu justru menarik perhatian. Semua perempuan di sini tahu bahwa kalau Anda menyembunyikan wajah dengan topi, tentunya Anda dari keluarga baik-baik, dan barangkali dari keluarga kaya. Tentu saja ada alasan lain kenapa mereka suka pada Anda, tapi itu salah satu di antaranya.”
Toji, sebagaimana biasa, sedang menggoda dan sekaligus menjilat tuannya. Ia menoleh dan memerintahkan salah seorang untuk mencari topi yang dimaksud, lalu ia berdiri menanti orang yang disuruh itu pergi melewati lentera-lentera dan orang-orang yang sedang bersuka ria. Ketika orang yang disuruh itu kembali, Seijuro mengenakan topi dan merasa lebih santai.
“Dengan topi itu,” ucap Toji, “Anda lebih tampak seperti orang yang tahu mode.” Sambil menoleh kepada yang lain-lain, ia melanjutkan jilatannya secara tak langsung.
“Lihat, perempuan-perempuan itu semua melongok dari pintu, supaya dapat benar-benar melihatnya.”
Tanpa jilatan Toji pun, Seijuro memang memiliki tubuh yang bagus. Dengan dua sarung pedang bersemir mengilat yang tergantung di sisinya, ia memancarkan kemuliaan dan kelas yang memang pantas bagi anak keluarga kaya. Maka tak ada topi jerami yang dapat menghentikan perempuanperempuan itu menegurnya ketika ia lewat.
“Hei, tampan! Kenapa sembunyi di bawah topi jelek?”
“Ayolah kemari! Saya ingin lihat yang di bawahnya.”
“Ayo, jangan malu-malu. Biar kami melihat.”
Seijuro menanggapi ajakan-ajakan menggoda ini dengan berusaha kelihatan lebih tinggi dan lebih mulia lagi. Sikap ini diambilnya belum lama setelah ia, untuk pertama kalinya, berhasil dibujuk Toji untuk menginjakkan kaki di daerah itu, dan ia masih malu dilihat orang di sana. Terlahir sebagai anak tertua pemain pedang terkenal, Yoshioka Kempo, tak pernah ia kekurangan uang, tapi sampai waktu belum lama berselang ia tak kenal dengan sisi buruk kehidupan ini. Perhatian yang ditunjukkan orang kepadanya membuat detak darahnya berpacu. Masih ada rasa malu yang disembunyikannya. Sebagai anak manja dari keluarga kaya, ia selalu suka pamer. Jilatan pengiringnya tak kalah ampuhnya dengan cumbuan perempuan, menyokong kesombongannya seperti racun yang manis. “Oh, itu tuan dari Jalan Shijo!” ujar salah seorang perempuan itu.
“Kenapa Anda menyembunyikan wajah? Anda tidak bisa mengecoh siapa pun.”
“Bagaimana perempuan itu bisa tahu siapa aku?” geram Seijuro kepada Toji, pura-pura tersinggung.
“Mudah sekali,” kata perempuan itu, sebelum Toji dapat membuka mulut. “Semua orang tahu, orang dari Perguruan Yoshioka suka memakai warna cokelat tua. Namanya ‘warna Yoshioka’. Warna itu populer sekali di sini.”
“Betul. Tapi seperti kaukatakan, banyak orang lain yang memakainya juga.”
“Ya, tapi mereka tidak mengenakan hiasan tiga lingkaran pada kimononya.”
Seijuro menunduk memandang lengan kimononya, “Aku mesti lebih hati-hati,” katanya. Saat itu juga sebuah tangan dari belakang kisi-kisi terulur dan menarik pakaian itu.
“Wah, wah,” kata Toji. “Menyembunyikan wajah, tapi tidak menyembunyikan hiasannya. Tentunya dia memang ingin dikenali. Jadi, saya kira, betul-betul tak mungkin sekarang untuk tidak singgah.”
“Semaumulah,” kata Seijuro yang tampak tak enak, “tapi suruh perempuan ini melepaskan lengan bajuku.”
“Lepaskan, perempuan!” raung Toji. “Beliau bilang, kami akan masuk!” Para siswa itu pun berkerumun masuk ke bawah tirai warung. Kamar yang mereka masuki itu, hiasannya tanpa selera sama sekali. Gambar-gambar kampungan dan bunga-bungaan disusun morat-marit, hingga sukar bagi Seijuro untuk merasa senang. Namun yang lain-lain tidak memperhatikan joroknya lingkungan.
“Keluarkan sake!” perintah Toji, yang juga memesan beberapa penganan pilihan. Sesudah makanan datang, Ueda Ryohei yang menjadi tandingan Toji dalam permainan pedang berteriak,
“Keluarkan perempuan!” Perintah itu diberikan dengan nada yang sama masamnya dengan nada yang dipakai Toji untuk memesan makanan dan minuman. “Hei, Ueda tua bilang, keluarkan perempuan!” kata yang lain-lain serentak menirukan suara Ryohei. “Aku tak suka disebut tua,” kata Ryohei, memberengutkan muka. “Memang aku lebih lama dari yang lain-lain
belajar di perguruan ini, tapi kalian takkan menemukan uban dalam rambutku.” “Kau menyemirnya barangkali.” “Siapa yang mengatakan itu, maju ke depan dan minum satu sloki sebagai hukuman!” “Susah-susah amat. Lemparkan ke sini!” Sloki sake pun melayang di udara. “Dan ini balasannya.” Dan satu sloki lagi terbang. “He, siapa yang menari!” Seijuro berseru, “Kau menari, Ryohei! Menarilah, dan tunjukkan kau masih muda.” “Boleh. Lihat!” Ryohei pergi ke sudut beranda. Di situ diikatkannya celemek merah milik pelayan ke belakang
kepalanya, ditusukkannya kembang prem ke dalam simpulnya, dan diambilnya sapu. “Lihat! Dia mau menarikan tarian Perawan Hida! Mari kita dengarkan nyanyiannya juga, Toji!” Ia mengajak mereka semua menggabungkan diri, dan mulailah mereka, mengetuk-ngetuk piring secara
berirama dengan sumpitnya, sedangkan satu orang mendentang-dentangkan penjepit api ke pinggir anglo. Di balik pagar bambu, pagar bambu, pagar bambu, Kulihat kimono berlengan panjang, Kimono berlengan panjang di salju…. Tenggelam dalam tepuk tangan sesudah bait pertama, Toji pun membungkuk, dan perempuan-perempuan melanjutkannya dengan iringan shamisen.
Gadis yang kulihat kemarin Tak ada lagi hari ini. Gadis yang kulihat hari ini Takkan datang lagi esok hari. Tak tahulah apa yang terjadi esok, Aku ingin mencumbunya hari ini Di sebuah sudut, seorang siswa mengangkat mangkuk sake yang besar untuk rekannya. Katanya,
“Bagaimana kalau minum ini sekali teguk?” “Tidak, terima kasih.” “Terima kasih? Katanya kau samurai, tapi tak bisa kau menghabiskan ini?” “Tentu saja bisa. Tapi kalau aku minum, kau juga mesti!” “Ya, itu adil!” Pertandingan pun dimulai. Mereka minum seperti kuda di palungan, dan sake mengucur dart sudut-sudut
mulut mereka. Kira-kira sejam kemudian, beberapa orang di antaranya sudah mulai muntah, sedang lain¬lainnya tak bisa bergerak lagi dan hanya melotot kosong dengan mata merah.
Satu orang yang punya kebiasaan bicara keras, dan semakin lantang bicaranya kalau makin banyak minumnya, menyatakan, “Apakah di negeri ini, di luar Tuan Muda, ada yang benar-benar mengerti teknik¬teknik Delapan Gaya Kyoto? Kalau ada-hik-ingin aku ketemu dengannya…. Hups!”
Seorang anggota perguruan yang duduk dekat Seijuro tertawa. Bicaranya tersendat-sendat, cegukan, “Dia mengumbar jilatan karena Tuan Muda ada di sini. Ada perguruan lain di samping delapan yang ada di Kyoto ini, dan Perguruan Yoshioka ini tidak lagi yang terbesar. Di Kyoto saja ada Perguruan Toda Seigen di Kurotani, dan Ogasawara Genshinsai di Kitano. Dan jangan lupa Ito Ittosai di Shirakawa, walaupun tidak menerima siswa.”
“Apa istimewanya mereka itu?” “Maksudku, kita tidak boleh merasa kita ini satu-satunya pemain pedang di dunia.” “Bajingan picik kamu!” seru seorang yang merasa tersinggung harga dirinya. “Maju!” “Begini?” jawab si pengecam dengan tajam sambil bangkit. “Kau anggota perguruan ini, tapi kau mengecilkan Gaya Yoshioka Kempo?” “Aku tidak mengecilkannya! Sekarang ini tidak seperti dulu, ketika guru mengajar para shogun dan dianggap
pemain pedang terbesar. Sekarang jauh lebih banyak orang yang mempraktekkan Jalan Pedang, tidak hanya di Kyoto, tapi juga di Edo, Hitachi, Echizen, provinsi-provinsi dalam, provinsiprovinsi barat, Kyushu-di seluruh negeri ini. Ketenaran Yoshioka Kempo tidak berarti Tuan Muda dan kita semua ini pemain-pemain pedang terbesar masa kini. Itu sama sekali tidak benar, kenapa pula mesti membohongi diri sendiri?”
“Pengecut! Kau pura-pura jadi samurai, tapi kau takut pada perguruan lain!” “Siapa yang takut? Aku cuma ingin kita menjaga diri dari rasa puas diri.” “Tapi siapa kau ini, berani-berani memberi peringatan?” Murid yang tersinggung itu meninju dada lawannya hingga terjatuh. “Kau ingin berkelahi?” geram orang yang jatuh. “Ya. Ayo.” Murid-murid senior, Gion Toji dan Ueda Ryohei, menengahi. “Berhenti kalian!” Keduanya melompat, memisahkan yang berkelahi, dan mencoba meredakan kemarahan
mereka. “Tenang!” “Kami semua mengerti perasaan kalian.” Beberapa sloki sake lagi dituangkan untuk mereka yang berkelahi, dan akhirnya keadaan normal kembali. Si
penghasut sekali lagi memuji-muji dirinya dan lain-lainnya, sedang si pengecam, sambil menangis memeluk
Ryohei, mempertahankan pendapatnya. “Aku cuma mengemukakan pendapat untuk kebaikan perguruan ini,” sedannya. “Kalau orang terus menyemburkan jilatan, nama baik Yoshioka Kempo akhirnya akan runtuh. Percayalah, runtuh!”
Hanya Seijuro yang tetap paling tenang. Melihat ini, Toji berkata, “Apakah Anda tidak menikmati pesta ini?” “Ah. Apa mereka itu betul-betul menikmatinya? Rasanya tidak.” “Tentu. Inilah cara mereka bergembira.” “Aku tak percaya kalau kelakuan mereka seperti itu.”
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih tenang? Saya sendiri sudah bosan di sini.”
Seijuro tampak sangat lega dan segera saja setuju. “Aku ingin pergi ke tempat kemarin malam.”
“Maksud Anda Yomogi?”
“Ya.”
“Di sana memang jauh lebih baik. Tadinya saya kira Anda memang ingin pergi ke sana, tapi di sana cuma buang-buang uang saja kalau membawa gerombolan orang bebal ini. Itu sebabnya saya giring mereka kemari-murah.”
“Mari kita pergi diam-diam. Biar Ryohei mengurus orang-orang ini.”
“Anda pura-pura pergi ke belakang. Saya akan menyusul beberapa menit lagi.” Seijuro menghilang dengan lihainya. Tak seorang pun melihat.
Di luar rumah, tak jauh dari situ, seorang perempuan sedang berdiri berjinjit, mencoba menggantungkan kembali lentera ke pakunya. Angin mengembus lilin lentera itu, dan ia menurunkannya untuk menyalakannya kembali. Punggungnya tegak di bawah tepi atap, dan rambutnya yang baru dikeramas tergerai di sekitar wajahnya. Untaian rambut dan cahaya lentera menimbulkan bayang-bayang yang terus berubah-ubah di kedua tangannya yang terulur. Semerbak kembang prem mengambang di angin petang.
“Oko! Biar kugantungkan lampunya.”
“Oh, Tuan Muda,” kata Oko kaget.
“Tunggu.” Ketika orang itu mendekat ternyata bukan Seijuro, tapi Toji. “Cukup?” tanya Toji.
“Ya, bagus. Terima kasih.”
Tetapi Toji melirik lentera itu, menganggapnya miring, dan menggantungkannya kembali. Oko heran, kenapa sebagian lelaki bisa begitu suka menolong dan penuh perhatian bila sedang mengunjungi tempat seperti mi, padahal di rumah sendiri mereka sama sekali menolak mengulurkan tangan. Sering kali mereka membuka dan menutup jendela sendiri, mengeluarkan bantal-bantal sendiri, dan melakukan selusin pekerjaan kecil lain yang tak terbayang akan mereka lakukan di rumah sendiri.
Toji berpura-pura tidak mendengar, dan mempersilakan tuannya masuk. Begitu duduk, Seijuro berkata, “Tenang sekali di sini.”
“Saya buka pintu ke beranda,” kata Toji.
Di bawah beranda sempit itu berdesir air Sungai Takase. Di sebelah selatan, di seberang jembatan kecil di Jalan Sanjo, menghampar halaman luas Zuisenin, jajaran hitam Teramachi atau “Kota Kumpulan Kuil”, dan padang miskantus. Tempat ini berada dekat Kayahara. Di sini pasukan Toyotomi Hideyoshi membantai istri, gundik-gundik, dan anak-anak kemenakannya, regent Hidetsugu yang kejam. Suatu peristiwa yang masih segar tersimpan dalam kenangan banyak orang.
Toji jadi gugup. “Masih terlalu sepi di sini. Di mana saja perempuanperempuan sembunyi? Rupanya tak ada pelanggan lain malam ini.” la gelisah sedikit. “Saya heran, kenapa Oko lama betul. Dia malahan tidak membawakan kita teh.” Ketika akhirnya ketidaksabaran itu berubah jadi kegelisahan, ia tidak dapat lagi duduk tenang. Ia berdiri mencari tahu, kenapa teh tidak dihidangkan.
Waktu melangkah ke beranda, hampir saja ia bertumbukan dengan
Akemi yang sedang membawa baki berpernis emas. Giring-giring kecil pada obi-nya berdering ketika ia berseru, “Awas! Bisa tumpah teh ini!”
“Kenapa kau begitu lambat? Tuan Muda di sini. Kurasa kau suka dia.”
“Lihat, tumpah sebagian. Ini salahmu. Ayo ambilkan lap.”
“Ha! Lancang kamu, ya? Di mana Oko?”
“Berhias tentu saja.” “Jadi, dia belum selesai?” “Ya, siang hari kami sibuk sekali.” “Siang? Siapa yang datang siang-siang?” “Itu bukan urusanmu. Biarkan aku lewat.” Toji minggir, dan Akemi masuk kamar menyalami tamunya. “Selamat malam. Terima kasih atas kedatangan
Anda.” Seijuro berpura-pura acuh tak acuh, memandang ke samping, dan katanya, “Oh, kamu, Akemi. Terima kasih atas yang semalam.” Ia merasa jengah. Dari baki itu Akemi menurunkan guci yang menyerupai pedupaan dan meletakkan di atasnya sebuah pipa
yang bagian pengisap dan kepalanya terbuat dari keramik. “Anda ingin merokok?” tanyanya sopan. “Rasanya tembakau baru-baru ini dilarang.” “Memang, tapi semua orang masih juga merokok.” “Baiklah, aku akan merokok.” “Saya nyalakan apinya.” Akemi mengambil sejumput tembakau dari sebuah kotak kecil dari kerang mutiara dan memasukkannya ke
dalam pipa dengan jari-jarinya yang mungil dan molek. Kemudian diselipkannya pipa itu ke mulut Seijuro. Karena tidak terbiasa, Seijuro memegang pipa itu dengan kaku. “Hmm, pahit, ya!” katanya. Akemi mengikik. “Toji ke mana?”
“Barangkali di kamar Ibu.” “Rupanya dia suka Oko. Paling tidak, begitulah kelihatannya. Kukira dia sering datang kemari tanpa aku. Betul?” Akemi tertawa, tapi tidak menjawabnya.
“Apanya yang lucu? Kupikir ibumu suka dia juga.”
“Saya betul-betul tidak tahu.”
“Tapi aku yakin! Betul-betul yakin! Pertemuan yang menyenangkan, ya? Dua pasangan bahagia-ibumu
dengan Toji, kau dengan aku.” Berusaha selugu mungkin, Seijuro meletakkan tangannya ke tangan Akemi yang terletak di pangkuan.
Akemi menyingkirkan tangan itu dengan santun, tetapi tindakan ini malah membuat Seijuro menjadi lebih berani. Ketika Akemi berdiri, ia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Akemi dan menariknya. “Tak usah lari,” katanya. “Aku tak akan menyakitimu.” “Lepaskan!” protes Akemi. “Baik, asalkan kau duduk lagi.”
“Sake…. Saya cuma mau ambil sake.”
“Aku tak mau sake.” “Tapi kalau saya tidak ambil, Ibu marah.” “Ibu di kamar lain, sedang asyik ngobrol dengan Toji.” Seijuro mencoba menggosokkan pipinya ke wajah Akemi yang tertunduk, tapi Akemi mengelak dan
berteriak-teriak meminta tolong. “Ibu! Ibu!” Seijuro melepaskannya, dan Akemi lari ke belakang rumah. Seijuro jadi gundah. Ia kesepian, tapi tak ingin memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Tak tahu apa
yang hendak dilakukannya, ia menggerutu keras, “Aku pulang sekarang,” dan turun ke gang luar. Semakin jauh ia melangkah, semakin merah tua mukanya. “Tuan Muda, mau ke mana? Tuan Muda belum mau pulang, kan?” Entah dari mana datangnya, Oko muncul
begitu saja di belakangnya, berlari lewat ruang depan. Ia memeluk pinggang Tuan Muda, dan tampak rambut Oko sudah rapi dan riasannya sudah beres. Oko minta pertolongan Toji, dan bersama-sama mereka membujuk Seijuro untuk kembali duduk.
Oko membawakan sake dan mencoba menggembirakan Seijuro, kemudian Toji mendatangkan kembali Akemi ke kamar itu. Melihat betapa kecewanya Seijuro, gadis itu pun melontarkan senyuman. “Akemi, tuang sedikit sake untuk Tuan Muda.” “Ya, Bu,” kata Akemi patuh. “Tuan lihat sendiri,” kata Oko. “Tingkahnya seperti anak kecil saja.” “Itulah daya tariknya-dia masih muda,” kata Toji sambil menggeser bantalnya ke dekat meja.
“Tapi dia sudah dua puluh satu umurnya.” “Dua puluh satu? Tak kukira sudah setua itu. Dia begitu kecil. Kelihatannya baru sekitar enam betas atau tujuh belas.”
Akemi tiba-tiba jadi kembali hidup seperti ikan, dan katanya, “Betul? Oh, saya senang sekali. Saya ingin tetap umur enam belas selamanya. Sesuatu yang indah terjadi, ketika saya umur enam betas.”
“Apa?” “Oh,” katanya sambil menangkupkan tangannya ke dada. “Saya tak bisa menceritakan pada siapa pun. Tapi betul. Waktu itu tahun pertempuran di Sekigahara.”
Dengan pandangan mengancam, Oko berkata, “Tukang bual! Kau jangan bikin kami bosan di sini. Pergi
sana ambil shamisen-mu.” Sambil cemberut sedikit, Akemi berdiri dan pergi mengambil alat musiknya. Ketika kembali, ia mulai bermain dan menyanyi, tapi kelihatannya ia lebih cenderung menghibur diri sendiri daripada menyenangkan hati para tamu.
Malam ini, Kalau berawan, Biarlah ia berawan, Menyembunyikan bulan Yang hanya terlihat lewat air mataku.
Ia berhenti menyanyi, dan tanyanya, “Anda paham, Toji?” “Aku tak yakin. Teruskanlah.”
Bahkan di malam yang tergelap pun Tak hilang jalanku. Tapi oh! Betapa kau memikatku!
“Yah, bagaimanapun dia memang sudah dua puluh satu tahun,” kata Toji. Seijuro yang selama ini duduk diam sambil menyandarkan dahi di tangan kini tergugah lagi, dan katanya, “Akemi, ayo minum sake sama-sama.”
Ia mengulurkan sloki pada Akemi dan mengisinya dari tempat pemanasannya. Akemi mereguknya tanpa menolak-nolak lagi dan cepat menyerahkan kembali sloki itu pada Seijuro.
Seijuro agak heran, katanya, “Bisa juga kau minum, ya?”
Selesai meneguk bagiannya, Seijuro menawarkan lagi pada Akemi, yang diteguk lagi dengan cekatan. Rupanya karena tak puas dengan ukuran sloki itu, ia mengambil sloki lain yang lebih besar, dan selama setengah jam sesudah itu ia terus menandingi Seijuro, sloki demi sloki.
Seijuro kagum. Gadis yang tampaknya berumur enam belas tahun, dengan bibir yang tidak pernah dicium dan mata yang memejam malu, ternyata dapat mereguk sake seperti lelaki. Ke mana saja perginya sake itu dalam tubuh mungil itu?
“Anda sebaiknya berhenti saja,” kata Oko pada Seijuro, “Entah kenapa, anak itu dapat minum semalam suntuk tanpa mabuk. Sebaiknya biarkan dia main shamisen saja.”
“Tapi ini benar-benar menyenangkan!” kata Seijuro yang kini betul-betul merasa senang.
Karena merasa suaranya sudah terdengar aneh, Toji bertanya, “Anda tak apa-apa? Tidak kebanyakan minum?”
“Tak apa-apa. Malam ini aku tidak pulang, Toji!”
“Bisa saja,” jawab Toji. “Anda dapat tinggal di sini selama Anda maubetul kan, Akemi?”
Toji mengedip pada Oko, kemudian menuntun Oko ke kamar lain, di mana ia mulai berbisik-bisik cepat. Ia mengatakan pada Oko bahwa kalau Tuan Muda sudah demikian bersemangat, berarti ia ingin tidur dengan Akemi. Akan susah jadinya kalau Akemi menolak. Tapi tentu saja perasaan seorang ibulah yang terpenting dalam hal-hal seperti itu-atau dengan kata lain, berapa bayarannya?
“Nah?” desak Toji mendadak.
Oko menempelkan jarinya ke pipi yang berbedak tebal itu, berpikir.
“Ya, ya, pikirlah!” desak Toji. Sambil semakin mendekati Oko, katanya, “Bukan pasangan yang jelek! Dia guru seni bela diri yang terkenal, dan keluarganya punya banyak uang. Ayahnya punya murid yang jumlahnya lebih banyak daripada murid siapa pun di negeri ini. Dan lagi, dia belum kawin. Dari segala segi, ini tawaran menarik.”
“Nah, aku juga pikir begitu, tapi…”
“Tak ada tapi-tapian. Pokoknya jadi! Kami berdua akan menginap disini. ”
Tak ada penerangan di kamar itu. Dengan seenaknya Toji meletakkan tangan ke bahu Oko. Justru pada waktu itu terdengar suara keras di kamar sebelah, di belakang.
“Apa itu?” tanya Toji. “Ada langganan lain?”
Oko mengangguk, kemudian meletakkan bibirnya yang basah ke telinga Toji, bisiknya, “Nanti.” Keduanya lalu mencoba bersikap biasa saja dan kembali ke kamar Seijuro, dan mendapati Seijuro seorang diri, tidur nyenyak.
Toji mengambil kamar sebelahnya, merebahkan diri di kasur jerami. Ia berbaring di sana sambil mengetuk¬ngetukkan jarinya ke tatami, menantikan Oko. Oko lama tidak juga muncul. Akhirnya pelupuk mata Toji menjadi berat dan berlayarlah ia ke alam mimpi. Sudah siang ketika ia bangun esok harinya, wajahnya masam.
Seijuro sudah bangun dan sedang minum di kamar yang menghadap sungai. Baik Oko maupun Akemi tampak cerah dan gembira, seolah-olah mereka telah lupa malam sebelumnya. Mereka sedang membujuk Seijuro agar mau berjanji.
“Jadi, Tuan akan ajak kami?”
“Baiklah, kita pergi. Siapkan beberapa kotak makan siang dan bawa juga sedikit sake.”
Mereka bicara tentang Kabuki Okuni yang sedang mengadakan pertunjukan di tepi sungai di Jalan Shijo. Kabuki adalah tarian jenis baru yang disertai kata-kata dan musik, yang sedang digemari orang di ibu kota. Diciptakan oleh seorang biarawati bernama Okuni di Kuil Izumo. Kepopulerannya menyebabkan banyak orang lain meniru. Di daerah ramai sepanjang sungai itu berdiri panggung berderet-deret. Di sana kelompok¬kelompok pemain wanita berlomba-lomba memikat penonton. Masing-masing berusaha mencapai taraf kepribadian sendiri dengan menambahkan tari-tarian dan lagu-lagu daerah yang istimewa ke dalam repertoarnya. Para aktris itu sebagian besar mulai sebagai wanita malam. Namun kini sesudah naik panggung, mereka biasa dipanggil untuk mengadakan pertunjukan di rumahrumah orang paling kaya di ibu kota. Banyak di antara mereka menggunakan nama pria, mengenakan pakaian pria, dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan yang menggetarkan sebagai prajurit yang gagah berani.
Seijuro duduk memandang ke luar pintu. Di bawah jembatan kecil di Jalan Sanjo perempuan-perempuan sedang mengelantang kain di sungai; pria-pria berkuda mondar-mandir di jembatan.
“Apa kedua orang itu belum juga siap?” tanyanya kesal. Sudah lewat tengah hari. Lebam karena minum dan lelah karena menanti, sudah tak ingin lagi ia melihat Kabuki.
Toji, yang merasa jengkel karena pengalaman malam sebelumnya, tidak bersemangat seperti biasanya. “Memang menarik membawa perempuan ke luar,” gerutunya, “tapi kenapa justru waktu kita sudah siap berangkat, tiba-tiba mereka mulai ribut soal apa rambutnya sudah benar atau obi-nya sudah lurus? Brengsek betul!”
Pikiran Seijuro melayang ke perguruannya. Ia seakan mendengar bunyi pedang kayu dan detak gagang¬gagang lembing. Apa kata para siswanya tentang ketidakhadirannya? Tidak sangsi lagi, pasti adiknya, Denshichiro, mendecap mengecamnya.
“Toji,” katanya, “Aku tidak betul-betul ingin membawa mereka itu melihat Kabuki. Mari kita pulang.”
“Sesudah Tuan berjanji?”
“Yaaa…”
“Mereka sudah begitu gembira! Mereka akan marah besar kalau kita ingkar janji. Saya akan menyuruh mereka buru-buru.”
Dari gang rumah, Toji melayangkan pandang ke kamar tempat pakaian para wanita itu berserakan. Alangkah herannya ia, karena kedua wanita itu tidak kelihatan.
“Ke mana pula mereka itu?” tanyanya tak habis pikir.
Di kamar sebelah pun mereka tak ada. Di sebelahnya lagi terdapat kamar kecil yang suram, tidak tembus matahari dan berbau apak kain seprai. Toji membuka pintu, disambut oleh raungan kemarahan, “Siapa itu?”
Melompat mundur, Toji menatap ke dalam kamar sempit yang gelap itu; kamar itu beralas tikar rombeng, lain sekali dengan kamar-kamar depan yang menyenangkan, seperti malam dengan siang bedanya. Seorang samurai jorok tergeletak di lantai, pedangnya terletak sembarangan di atas perutnya; pakaian dan penampilannya tak bisa disangsikan lagi menunjukkan bahwa ia salah seorang ronin yang sering kelihatan bergelandangan di jalan-jalan. Telapak kakinya yang kotor menghadap muka Toji. Ia tidak berusaha bangun; terbaring saja di situ setengah sadar.
Toji berkata, “Oh, maaf. Saya tidak tahu di sini ada tamu.”
“Aku bukan tamu!” pekik orang itu ke langit-langit, memancarkan bau sake. Toji tidak tahu siapa orang itu, dan juga tak ingin berurusan dengannya.
“Maaf, mengganggu,” katanya cepat, dan membalik pergi.
“Tunggu!” kata orang itu dengan kasar sambil bangkit sedikit. “Tutup pintu!”
Kaget oleh kekasaran itu, Toji pun melakukan apa yang diminta, dan pergi.
Begitu Toji pergi, muncullah Oko. Dandanannya habis-habisan, jelas ingin kelihatan sebagai nyonya besar. Seakan-akan sedang mengomeli anak kecil, ia berkata pada Matahachi, “Nah, marah apa lagi sekarang?” Akemi yang baru saja berdiri di belakang ibunya, bertanya, “Tak mau ikut kami?” “Ke mana?” “Lihat Kabuki Okuni.” Mulut Matahachi mencibir muak. “Suami macam apa yang mau jalan bersama lelaki lain yang sedang
mengejar-ngejar istrinya?” tanyanya pahit.
Oko merasa wajahnya bagai disiram air dingin. Matanya menyala marah, dan katanya, “Ini omongan apa? Apa maksudmu antara aku dan Toji ada apa-apa?” “Siapa bilang ada apa-apa?” “Kata-katamu itu yang bilang.” Matahachi tidak menjawab lagi. “Katanya kamu lelaki!” Walaupun Oko melontarkan kata-kata itu dengan penuh kejijikan, Matahachi tetap
diam dengan muka cemberut. “Tapi kau membuatku muak!” desisnya. “Kau selalu cemburu tanpa alasan!
Ayo, Akemi. Kita jangan buang-buang waktu untuk orang gila ini.” Matahachi mengulurkan tangan, mencekal kimono Oko. “Siapa yang kausebut orang gila? Apa maksudmu bicara begitu pada suamimu?”
Oko melepaskan diri darinya. “Kenapa tidak?” katanya kejam. “Kalau kau seorang suami, kenapa tidak bertindak seperti suami? Siapa menurutmu yang memberimu makan, gelandangan tak berguna?”
“Heh!” “Kau hampir tidak menghasilkan apa-apa sejak kita meninggalkan Provinsi Omi. Kau cuma menggantungkan diri padaku, minum sake dan malas-malasan. Mengeluh apa lagi?”
“Aku sudah bilang mau pergi dan kerja! Aku sudah bilang, menyeret batu pun aku mau buat dinding puri. Tapi itu tak cukup baik buatmu. Kaubilang tak bisa makan ini, tak bisa memakai itu, tak bisa tinggal di rumah kecil yang kotor-tak ada yang kausukai. Lalu tidak kaubolehkan aku melakukan kerja yang jujur, dan kau mulai membuka kedai minum yang busuk ini. Nah, tutup itu, ya, tutup itu!” pekiknya. Badannya pun mulai gemetar.
“Tutup apa?” “Tutup kedai minummu.” “Dan kalau kututup, mau makan apa besok?” “Aku bisa dapat cukup uang untuk hidup kita, biar dengan menyeret batu karang. Cukup untuk kita bertiga.” “Kalau ingin angkat batu atau potong kayu, kenapa tidak pergi saja? Sana, jadilah buruh, atau yang lain, tapi
kalau begitu, hidup sendiri saja! Susahnya, kau dilahirkan sebagai orang goblok, dan selamanya kau akan jadi orang goblok. Mestinya kau tetap tinggal di Mimasaka! Percayalah, aku tidak minta kau tinggal terus di sini. Kau bebas pergi, kapan saja!”
Selagi Matahachi berusaha menahan air mata kemarahan, Oko dan Akemi berpaling meninggalkannya. Tapi lama sesudah mereka tidak kelihatan, ia masih juga menatap pintu. Ketika Oko menyembunyikannya di rumahnya dekat Gunung Ibuki dulu itu, ia merasa beruntung telah menemukan orang yang akan mencintai dan mengurusnya. Tapi sekarang rasanya sama saja seperti ditangkap musuh. Mana yang lebih baik? Menjadi tawanan, atau menjadi piaraan seorang janda jalang, dan tidak lagi menjadi lelaki sejati? Apakah lebih buruk merana di dalam penjara daripada menderita di sini, dalam kegelapan, dan selalu menjadi sasaran hinaan perempuan pemberang? Dulu ia pernah punya harapan besar pada masa depan, namun telah dibiarkannya sundal berbedak dan bernafsu garang ini menurunkan derajatnya hingga sama tingkatannya dengan dia.
“Sundal!” Matahachi menggigil karena berang. “Anjing betina busuk!”
Air mata meluap langsung dari dasar hatinya. Kenapa, oh, kenapakah ia dulu tidak kembali ke Miyamoto? Kenapa ia tidak kembali kepada Otsu? Ibunya ada di Miyamoto. Saudara perempuannya juga, iparnya juga, Paman Gon juga. Mereka semua begitu baik padanya.
Lonceng di Shippoji tentunya berdentang hari ini. Seperti dentangnya pada hari-hari lain. Dan Sungai Aida menghilir menyusuri alurnya, sepertibiasa. Bunga-bunga berkembang di tepi sungai dan burung-burung erkicau menyambut datangnya musim semi.
“Sungguh tolol aku ini! Sungguh aku si tolol gila, goblok!” Matahachi memukul-mukul kepalanya dengan tinjunya.
Di luar, ibu dan anak perempuannya, disertai kedua tamu yang bermalam itu sudah berjalan sambil mengobrol dengan riangnya.
“Kelihatannya sudah seperti musim semi!”
“Orang bilang shogun sebentar lagi akan datang ke ibu kota. Kalau dia datang nanti, kalian berdua tentunya dapat uang banyak, ya?”
“Ah, tidak, saya yakin tidak.”
“Kenapa? Apa samurai dari Edo tak suka main?”
“Mereka terlalu kurang ajar.”
“Ibu, bukankah itu musik Kabuki? Aku mendengar suara giring-giring. Juga suling.”
“Coba dengar anak ini! Dia selalu seperti itu. Dia pikir dia sudah di tempat pertunjukan.”
“Tapi, Bu, aku sudah mendengarnya.”
“Sudahlah. Bawakan topi Tuan Muda ini.”
Langkah-langkah kaki dan suara-suara orang itu mengambang sampai Yomogi. Dengan mata masih merah karena marah, Matahachi mencuri pandang dari jendela pada keempat orang yang bahagia itu. Ia merasa pemandangan itu sangat menghinanya, karena itu ia sekali lagi menjatuhkan diri di tatami di kamar yang gelap itu sambil mengutuki dirinya.
“Apa kerjamu di sini? Apa tak ada lagi harga dirimu? Bagaimana mungkin kau membiarkan segalanya seperti itu? Idiot! Lakukanlah sesuatu!” Kata-kata itu ditujukan pada diri sendiri, ia begitu marah pada kelemahannya sendiri yang seperti pengecut itu.
“Dia bilang pergi. Baiklah, aku pergi!” demikian kilahnya. “Buat apa duduk di sini menggemerutukkan gigi. Umurmu baru dua puluh dua. Kau masih muda. Pergilah dan lakukan sesuatu sendiri.”
Ia merasa tak bisa tinggal lebih lama lagi dalam rumah kosong dan lengang itu, tapi entah kenapa, tak mau ia berangkat. Kepalanya sakit karena bingung. Ia sadar bahwa cara hidupnya beberapa tahun belakangan ini telah membuatnya kehilangan kemampuan berpikir dengan jelas. Bagaimana ia dapat menahan diri? Istrinya menghabiskan malam-malamnya menghibur lelaki lain, menjual kepada mereka pesona yang dahulu dicurahkan kepadanya. Malam ia tak dapat tidur, sedang di siang hari tak ada semangat untuk pergi. Tinggal diam di dalam kamar gelap ini, tak ada yang dapat dilakukannya kecuali minum.
Dan semua itu demi sundal tua itu! pikirnya. Ia pun muak dengan dirinya sendiri. Ia tahu bahwa jalan satu¬satunya untuk keluar dari hidup sekarat ini adalah meninggalkan segalanya dan kembali kepada aspirasi masa mudanya. Ia harus menemukan jalannya yang telah hilang.
Namun… namun…
Ada daya tarik ajaib yang mengikatnya. Jenis pesona jahat apakah yang mengikatnya di sini? Apakah perempuan itu setan yang menyamar? Perempuan itu bisa memakinya, menyuruhnya enyah, bersumpah bahwa ia cuma beban, tapi kemudian di tengah malam ia akan meleleh seperti madu dan mengatakan bahwa semua itu cuma gurauan dan ia sama sekali tidak bermaksud demikian. Lagi pula, sekalipun perempuan itu sudah hampir empat puluh tahun, bibirnya itu, oh… bibir merah cemerlang yang sama merangsangnya dengan bibir anaknya.
Namun ini belum cerita seluruhnya. Pada dasarnya Matahachi tak punya nyali untuk dilihat Oko dan Akemi bekerja sebagai buruh harian. Ia telah menjadi malas dan lembek; pemuda berpakaian sutra yang dari rasa saja dapat membedakan sake Nada dari bikinan setempat, berbeda sekali dengan Matahachi sederhana yang compang-camping, yang pernah ikut pertempuran di Sekigahara. Yang paling parah adalah bahwa hidupnya yang aneh dengan perempuan yang lebih tua itu telah merampas kebeliaannya. Dalam umur ia masih muda, tapi dalam semangat ia cabul dan pendengki, malas dan penggerutu.
“Tapi akan kulakukan!” janjinya. “Aku akan pergi sekarang!” Sesudah menjatuhkan pukulan kemarahan terakhir ke kepalanya, ia pun melompat bangkit, dan pekiknya, “Aku akan pergi dari sini hari ini juga!”
Ia mendengar sendiri suaranya tertahan karena menyadari bahwa tak ada orang lain yang akan menahannya pergi, dan tak ada sesungguhnya yang mengikatnya di rumah ini. Satu-satunya barang yang sungguh-sungguh miliknya dan tidak dapat ia tinggalkan adalah pedangnya, maka cepat-cepat ia selipkan pedang itu dalam obi-nya. Sambil menggigit bibir, ia berkata dengan penuh kepastian. “Biar bagaimana, aku seorang lelaki.”
Sebetulnya ia dapat menderap keluar lewat pintu depan, melambaikan pedang bagai seorang jenderal yang menang perang, tapi karena kebiasaan, ia sorongkan kaki ke sandalnya yang kotor dan keluar lewat pintu dapur.
Sejauh ini belum ada masalah. Ia sudah di luar rumah! Tapi mau apa sekarang? Kedua kaki itu berhenti. Ia berdiri tak bergerak-gerak dalam angin musim semi yang menyegarkan. Bukan cahaya menyilaukan yang menahannya. Persoalannya adalah, ke mana ia pergi?
Pada saat itulah terasa oleh Matahachi betapa dunia ini bagai lautan luas yang bergejolak, tiada pegangan tempat bergayut. Di luar Kyoto, penga-lamannya hanya meliputi kehidupan di kampung dan satu pertempuran. Selagi terombang-ambing oleh situasi, suatu pikiran lain mendadak datang dan membuatnya bergegas sepeti anak anjing, pulang kembali melalui pintu dapur.
“Aku butuh uang,” katanya pada diri sendiri. “Aku pasti akan butuh uang.”
Ia langsung menuju kamar Oko, digeledahnya kotak-kotak kosmetik, gagang cermin, peti laci, dan apa saja yang terpikir olehnya. Ia obrak-abrik tempat itu, tapi tak ada uang sama sekali. Tentu saja seharusnya ia sudah dapat mengira-ngira bahwa Oko bukanlah jenis perempuan yang tidak bakal mengambil tindakan berjaga-jaga terhadap hal-hal seperti ini.
Dengan kecewa Matahachi menjatuhkan diri ke atas pakaian yang masih tersebar di lantai. Bau Oko mengambang seperti kabut tebal di sekitar pakaian dalamnya yang terbuat dari sutra merah, di sekitar obi Nishijinnya, dan di sekitar kimononya yang celupan Momoyama. Terbayang olehnya, kini Oko sedang berada di lapangan pertunjukan di tepi sungai, menonton tari-tarian Kabuki di samping Toji. Ia pun membayangkan kulitnya yang putih dan wajahnya yang kenes merangsang.
“Sundal iblis!” teriaknya. Pikiran-pikiran pahit dan kejam bangkit langsung dari isi perutnya.
Kemudian, tanpa diduga-duga, timbul padanya kenangan pedih akan Otsu. Sesudah lama berpisah, barulah ia dapat memahami kemurnian dan bakti gadis ini, yang telah berjanji akan menantikannya. Dengan senang hati ia akan bersedia berlutut dan mengangkat tangan memohon di hadapannya jika kiranya gadis itu man memaafkannya. Tapi ia sudah putus dengan Otsu, menelantarkannya demikian rupa, hingga mustahil baginya untuk menemui gadis itu lagi.
“Semuanya gara-gara perempuan ini,” pikirnya sedih. Sekarang, ketika sudah terlambat, segalanya menjadi jelas baginya; mestinya ia tidak memberitahukan apa-apa tentang Otsu kepada Oko. Ketika Oko pertama kali mendengar tentang gadis itu, ia tersenyum kecil dan berpura-pura tidak acuh sama sekali, padahal sebetulnya ia sangat cemburu. Kemudian, apabila mereka bertengkar, ia selalu mengungkit soal itu dan mendesak agar Matahachi menulis surat untuk memutuskan pertunangannya. Dan ketika akhirnya Matahachi menyetujui dan melakukannya, perempuan itu secara tak tahu malu melampirkan satu surat dengan tulisannya sendiri yang jelas bergaya perempuan, dan tanpa perasaan sama sekali menyampaikan surat resmi itu melalui seorang pesuruh yang tidak dikenal.
“Lalu apa pikir Otsu tentang diriku?” rintih Matahachi dengan sedih. Bayangan wajah Otsu yang masih polos itu tergambar di depan matanyawajah yang penuh gugatan. Sekali lagi terbayang olehnya pegunungan dan sungai di Mimasaka. Ingin ia memanggil ibunya, sanak keluarganya. Mereka semua begitu baik. Tanah di sana pun kini agaknya hangat dan menyenangkan.
“Tak akan bisa lagi aku pulang!” pikirnya. “Aku sudah membuang semua itu untuk… untuk…” Kembali dilanda kemarahan, dikeluarkannya semua pakaian Oko dari peti-peti pakaian, dirobek-robeknya, kemudian serpihanserpihan dan sobekan-sobekan itu dihamburkannya di seluruh rumah.
Perlahan-lahan kemudian sadarlah ia bahwa ada orang memanggil dari pintu depan.
“Maafkan,” kata suara itu. “Saya dari Perguruan Yoshioka. Apakah Tuan Muda dan Toji ada di sini?”
“Bagaimana aku tahu?” jawab Matahachi pedas.
“Mereka tentunya di sini! Saya tahu, memang tidak pantas mengganggu mereka selagi sedang mencari kesenangan, tapi ada satu kejadian yang sangat penting. Ini menyangkut nama baik Keluarga Yoshioka.”
“Pergi sana! Jangan ganggu aku!”
“Tapi apa tak bisa setidak-tidaknya Anda menyampaikan berita ini pada mereka? Tolonglah katakan bahwa seorang pemain pedang bernama Miyamoto Musashi sudah datang di perguruan, dan yah, tak seorang pun dari kami dapat mengunggulinya. Dia menunggu Tuan Muda kembali dan menolak pergi sebelum mendapat kesempatan menghadapinya. Tolonglah sampaikan pada mereka supaya lekas-lekas pulang!”
“Miyamoto? Miyamoto?”
Roda Keberuntungan
HARI itu adalah hari aib yang tak terlupakan bagi Perguruan Yoshioka. Tak pernah sebelumnya pusat seni bela diri yang bernama besar ini menderita penghinaan yang begitu tandas.
Murid-murid yang biasanya bersemangat kini duduk berkeliling dalam keputusasaan yang mengenaskan; wajah mereka murung dan buku-buku jari mereka yang putih mencerminkan penderitaan dan frustrasi. Sebagian besar dari mereka ada di kamar depan yang berlantai kayu, sedangkan sebagian kecil di kamar samping. Hari sudah senja; biasanya mereka sudah berangkat pulang atau pergi minum. Tak seorang pun beranjak pergi. Senyap bagai kuburan. Suasana itu hanya dipecahkan oleh derit gerbang depan yang sesekali berbunyi.
“Diakah itu?”
“Apa Tuan Muda sudah kembali?”
“Belum.” Ini diucapkan oleh seorang lelaki yang sudah setengah sore itu bersandar putus asa pada tiang pintu masuk.
Dan setiap kali pula orang-orang itu lebih dalam lagi terbenam dalam rawa kemuraman. Lidah-lidah berdecap putus asa, dan pelupuk mereka melelehkan air mata pedih.
Dokter keluar dari kamar belakang dan berkata kepada orang yang bersandar di pintu masuk, “Saya tahu Seijuro tak ada di sini. Tapi apa Anda tidak tahu di mana dia?”
“Sedang dicari. Barangkali sebentar lagi kembali.” Dokter mendeham dan pergi.
Di depan perguruan itu, lilin altar pemujaan Hachiman dikitari lingkaran sinar yang melantunkan bencana.
Tak seorang pun akan membantah bahwa pendiri, dan guru pertama, Yoshioka Kempo, adalah orang yang jauh lebih besar daripada Seijuro atau adik lelakinya. Kempo memulai hidup hanya sebagai pedagang, seorang pencelup kain, tetapi dari tak henti-henti mengulang irama dan gerak pencelupan anti luntur, akhirnya ia menemukan cara baru memainkan pedang pendek. Sesudah mempelajari cara menggunakan tombak-kapak dari salah seorang prajurit-pendeta yang cakap di Kurama dan kemudian mendalami Delapan Seni Pedang Gaya Kyoto, ia pun menciptakan gaya yang sepenuhnya orisinal. Teknik pedang pendeknya kemudian dipergunakan oleh shogun-shogun Ashikaga yang mendatangkannya sebagai guru resmi. Kempo adalah seorang ahli besar, orang yang kearifannya setara dengan keterampilannya.
Sekalipun kedua anaknya, Seijuro dan Denshichiro, menerima latihan sekeras ayahnya, mereka telah mewarisi kekayaan yang besar dan kemasyhuran ayahnya, dan menurut pendapat beberapa orang itulah sebab dari kelemahan mereka. Seijuro biasa dipanggil “Tuan Muda”, tapi sebenarnya ia belum benar-benar mencapai taraf keterampilan yang dapat memikat banyak pengikut. Para siswa datang ke sekolah itu karena di bawah pimpinan Kempo, Gaya Yoshioka telah menjadi demikian termasyhur, hingga bisa masuk sekolah itu saja sudah berarti diakui oleh masyarakat sebagai prajurit terampil.
Sesudah runtuhnya ke-shogun-an Ashikaga tiga dasawarsa sebelum itu, Keluarga Yoshioka tidak lagi memperoleh tunjangan resmi, tetapi pada masa hidup Kempo yang hemat, keluarga itu sedikit demi sedikit telah berhasil memupuk kekayaan besar. Selain itu ia memiliki bangunan besar di Jalan Shijo, dengan siswa yang jumlahnya lebih besar daripada perguruan mana pun di Kyoto; Kyoto waktu itu adalah kota terbesar di negeri ini. Tetapi sebenarnya sekolah yang menduduki taraf puncak di bidang seni pedang itu tinggal namanya saja.
Dunia dl luar dinding perguruan yang putih besar ini telah berubah lebih dari yang disadari oleh kebanyakan orang di dalamnya. Bertahun-tahun mereka telah menepuk dada, bermalas-malasan, dan hanya bermain¬main, dan waktu pun melangkahi mereka. Hari ini mata mereka terbuka oleh kekalahan yang memalukan, setelah bertanding dengan seorang pemain pedang pedesaan yang tak dikenal.
Menjelang tengah hari, salah seorang pesuruh datang ke dojo untuk melaporkan bahwa seorang yang menamakan dirinya Musashi berdiri di pintu, mohon diizinkan masuk. Ketika ditanya macam apa orang itu, pesuruh menjawab bahwa orang itu seorang ronin, datang dari Miyamoto di Mimasaka, umur dua puluh satu atau dua puluh dua, kira-kira 1,83 meter tingginya, dan kelihatannya agak bodoh. Rambutnya yang tidak disisir setidak-tidaknya satu tahun diikat sembarangan saja dengan kain gombal yang kemerah-merahan, sedangkan pakaiannya begitu kotor, hingga susah ditentukan hitam atau cokelatkah warnanya, poloskah atau berpola kembang. Pesuruh merasa mencium bau orang itu, tapi mengakui bahwa mungkin juga ia keliru. Tamu itu menyandang kantong kulit beranyam yang biasa disebut orang tas belajar prajurit; ini barangkali berarti ia seorang shugyosha, salah seorang dari para samurai yang banyak jumlahnya waktu itu, yang kerjanya mengembara dan menghabiskan waktu di luar tidurnya untuk mempelajari seni pedang. Namun demikian, kesan umum yang didapat pesuruh itu adalah bahwa orang yang namanya Musashi itu jelas janggal hadir di Perguruan Yoshioka tersebut.
Kalau orang itu hanya minta makan, tidak masalah. Tapi ketika orang-orang mendengar bahwa pengganggu bulukan itu datang ke gerbang besar untuk menantang Yoshioka Seijuro yang termasyhur itu bertanding, mereka pun terbahak-bahak. Beberapa orang berpendapat lebih baik mengusirnya saja tanpa banyak ribut, sedang yang lain-lain mengatakan mereka harus melihat dulu, gaya apa yang dipakainya dan siapa nama gurunya.
Pesuruh, yang sama merasa geli seperti yang lain-lain, pergi dan kembali lagi dengan kabar bahwa tamu itu sewaktu masih kanak-kanak belajar menggunakan pentung dari ayahnya, dan kemudian memungut pelajaran dari prajurit mana saja yang lewat di kampungnya. Meninggalkan rumah ketika berumur tujuh belas, dan “karena alasan-alasan pribadi” ia pun menenggelamkan diri dalam mempelajari ilmu pengetahuan pada umur delapan belas, sembilan belas, dan dua puluh. Sepanjang tahun sebelum itu, ia hanya sendirian tinggal di pegunungan, melulu berguru pada pepohonan dan keheningan gunung. Oleh karena itu, tidak dapat ia menyebutkan suatu aliran khusus atau nama seorang guru. Tapi di masa depan ia berharap akan mempelajari ajaran-ajaran Kiichi Hogen, ahli hakikat Delapan Gaya Kyoto, dan akan berusaha meniru Yoshioka Kempo yang agung dengan menciptakan gayanya sendiri, yang menurut keputusannya akan dinamakannya Gaya Miyamoto. Memang ia memiliki banyak kekurangan, tapi itulah tujuannya, dan untuk itulah ia berhasrat bekerja dengan sepenuh hati dan jiwanya.
Pesuruh mengakui bahwa semua itu merupakan jawaban yang jujur dan tidak dibuat-buat, tetapi orang itu beraksen kampung dan hampir tiap kata ia ucapkan dengan menggagap. Pesuruh dengan senang hati menirukannya untuk para pendengarnya, dan mereka pun sekali lagi terpingkal-pingkal.
Orang itu tentunya sudah sinting. Menyatakan tujuannya menciptakan gaya sendiri benar-benar gila. Untuk memberikan sedikit ajaran kepada orang sombong itu, para siswa menyuruh pesuruh keluar lagi, kali ini dengan pertanyaan apakah tamu itu sudah menunjuk orang untuk mengambil mayatnya sesudah pertandingan nanti.
Musashi memberikan jawaban, “Kalau kebetulan saya terbunuh, tak ada bedanya, apakah Anda membuang tubuh saya ke Gunung Toribe atau melemparkannya ke Sungai Kamo bersama sampah. Baik untuk yang pertama maupun yang kedua, saya berjanji tak akan menuntut balas.”
Menurut pesuruh, caranya menjawab kali ini sangat jelas, tidak mengandung kekakuan seperti jawaban¬jawaban sebelumnya.
Sesudah ragu-ragu sebentar, akhirnya satu orang berkata, “Suruh dia masuk!”
Itulah awal mulanya; para siswa menyangka mereka akan berhasil menyayat pendatang baru itu sedikit, kemudian melemparkannya ke luar. Namun pada pertandingan pertama saja juara perguruanlah yang keluar sebagai pihak yang kalah. Tangannya putus. Hanya sedikit kulit yang masih menghubungkan pergelangan dengan tangan.
Satu demi satu yang lain-lain pun menerima tantangan orang asing itu, dan satu demi satu pula mereka kalah secara memalukan. Beberapa orang luka parah, dan pedang kayo Musashi bergelimang darah. Sesudah kekalahan kesekian kali, para siswa berubah jadi ingin membunuh; kalaupun mereka semua harus terbunuh, tak akan mereka membiarkan orang gila biadab ini pergi dalam keadaan hidup, membawa serta kehormatan Perguruan Yoshioka.
Musashi sendirilah yang mengakhiri pertumpahan darah itu. Sejak tantangannya diterima, tak ada rasa kuatir padanya tentang jatuhnya korban, tapi ia menyatakan, “Tak ada gunanya melanjutkan ini sebelum Seijuro kembali,” dan ia menolak untuk bertempur lagi. Karena tak ada pilihan lain, atas permintaannya sendiri ia dipersilakan masuk ke sebuah kamar untuk menunggu. Baru pada waktu itulah satu orang tersadar dan memanggil dokter.
Tak lama sesudah dokter pergi, suara-suara yang memekikkan nama dua orang yang terluka menyebabkan selusin orang masuk kamar belakang. Mereka mengerumuni kedua samurai itu dengan sikap tak percaya bercampur takjub; wajah mereka kelabu dan napas mereka tidak tetap. Kedua orang itu tewas.
Langkah-langkah kaki bergegas melintas dojo dan masuk ke kamar mati. Para siswa memberikan jalan bagi Seijuro dan Toji. Keduanya pucat, seakan-akan baru saja keluar dari air terjun yang dingin.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Toji. “Apa arti semua ini?” Nada bicaranya gusar seperti biasa.
Seorang samurai yang berlutut dengan wajah tercekam di camping bantal salah seorang kawannya yang mati melontarkan pandangan penuh tuduhan kepada Toji, dan katanya, “Kau yang mesti menjelaskan apa yang sedang terjadi. Kau yang membawa Tuan Muda minum-minum. Nab, kali ini kau sudah bertindak terlalu jauh.”
“Jaga lidahmu, atau kupotong nanti.”
“Ketika Tuan Kempo masih hidup, tak ada hari lewat tanpa dia ada di dojo”,
“Lantas mau apa? Tuan Muda ingin bersenang-senang sedikit, dan kami pergi ke Kabuki. Apa maksudmu bicara demikian di depannya? Kaupikir siapa kau ini?”
“Apa untuk melihat Kabuki saja dia mesti tinggal di luar sepanjang malam? Bisa-bisa Tuan Kempo bangkit dari kuburnya.”
“Cukup!” teriak Toji sambil menyerang orang itu.
Ketika yang lain-lain campur tangan pula dan mencoba memisahkan serta menenangkan kedua orang itu, satu suara berat karena beban sakit terdengar sedikit mengungguli suara percekcokan itu. “Kalau Tuan Muda sudah kembali, sudah waktunya menghentikan percekcokan. Terserah kepadanya untuk mengembalikan kehormatan perguruan. Ronin itu tidak boleh meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.”
Beberapa di antara yang luka menjerit dan memukul-mukul lantai. Tindakan itu merupakan celaan yang seterang-terangnya terhadap mereka yang belum menghadapi pedang Musashi.
Bagi samurai zaman itu, yang terpenting di dunia ini adalah kehormatan. Sebagai golongan, mereka benar¬benar saling berlomba mencari jalan untuk mati lebih dulu dalam mempertahankannya. Pemerintah sampai hari-hari terakhir terlampau sibuk dengan perang, hingga tak ada waktu untuk menyusun sistem administrasi yang memadai bagi suatu negeri yang damai, bahkan Kyoto pun hanya diatur dengan seperangkat peraturan yang longgar dan bersifat tambal sulam. Toh pentingnya kehormatan pribadi bagi golongan prajurit itu tetap dihargai, baik oleh kaum petani maupun orang-orang kota, dan ini besar artinya dalam menjamin ketenteraman. Pendapat umum mengenai mana tindakan terhormat dan mana yang tidak telah memungkinkan rakyat mengatur diri sendiri, sekalipun hanya dengan undangundang yang tidak memadai.
Sekalipun tidak terpelajar, orang-orang dari Perguruan Yoshioka sama sekali bukan orang-orang rendah yang tak kenal malu. Ketika mereka sadar kembali sesudah menderita guncangan kekalahan itu, hal pertama yang terpikir oleh mereka adalah kehormatan, yaitu kehormatan perguruan, kehormatan guru, kehormatan pribadi mereka sendiri.
Dengan menyingkirkan permusuhan perseorangan, sebagian besar dari mereka berkumpul di sekitar Seijuro, memperbincangkan apa yang harus diperbuat. Sayang sekali, kebetulan hari itu Seijuro sedang kehilangan semangat juangnya. Pada saat itu, ia yang seharusnya berada dalam keadaan prima, justru loyo, lemah, dan kehabisan tenaga.
“Di mana orang itu?” tanyanya seraya mengikatkan lengan kimononya dengan tali kulit.
“Dia di kamar kecil di samping kamar terima tamu,” kata seorang murid sambil menunjuk ke seberang kebun.
“Panggil dia!” perintah Seijuro. Mulutnya kering karena tegang. Ia pun duduk di tempat guru, sebuah mimbar kecil, dan bersiap-siap menerima salam dari Musashi. Dipilihnya salah satu pedang kayu yang disodorkan para muridnya, dan dipegangnya tegak di samping.
Tiga-empat orang menerima perintah dan mulai meninggalkan tempat, tetapi Toji dan Ryohei menyuruh mereka menanti.
Menyusullah bisik-bisik lama, jauh dari pendengaran Seijuro. Konsultasi diam-diam itu berpusat pada Toji dan murid-murid senior lain perguruan itu. Tak lama kemudian, para anggota keluarga dan beberapa orang lain menggabungkan diri, begitu banyak yang hadir di situ, hingga kerumunan itu terpecah dalam kelompok¬kelompok. Meski berlangsung seru, perdebatan dapat diselesaikan dalam waktu cukup singkat.
Sebagian besar tidak hanya memprihatinkan nasib perguruan, melainkan juga menyadari benar kekurangan Seijuro sebagai seorang pejuang, dan mereka pun menyimpulkan bahwa tidak bijaksana membiarkannya menghadapi Musashi satu lawan satu, waktu itu juga dan di tempat itu juga. Dua orang sudah tewas dan beberapa orang terluka. Kalau Seijuro pun menderita kekalahan, krisis yang mengancam perguruan akan berat luar biasa. Itu tindakan yang terlampau riskan.
Kebanyakan orang itu berpendapat, walaupun tidak diucapkan, bahwa jika waktu itu Denshichiro hadir, tidak banyak yang perlu dikuatirkan. Pada umumnya ada anggapan bahwa ia lebih cocok untuk melanjutkan kerja ayahnya, tapi karena ia anak kedua dan tidak mempunyai tanggung jawab serius, maka ia pun menjadi orang yang berwatak sangat santai. Pagi itu ia sudah meninggalkan rumah dengan teman-temannya ke Ise, dan bahkan tidak merasa perlu berpesan kapan akan pulang.
Toji mendekati Seijuro, dan katanya, “Kami sudah mencapai kesimpulan.”
Mendengar laporan yang disampaikan dengan bisikan itu, Seijuro tampak semakin berang, sampai akhirnya ia pun tersengal-sengal dan hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. “Mengakali dia?”
Toji mencoba meredakan dengan gerakan mata, tapi Seijuro tidak dapat diredakan. “Aku tak setuju dengan tindakan seperti itu! Itu pengecut. Bagaimana kalau sampai kedengaran orang bahwa Perguruan Yoshioka takut pada seorang prajurit tak dikenal, dan menyembunyikan diri, lalu menyergapnya?”
“Tenanglah,” Toji memohon, tapi Seijuro terus juga membangkang. Maka Toji pun mengungguli suaranya, dan katanya keras, “Serahkan pada kami. Kami yang akan mengurus.”
Namun Seijuro tak juga bisa menerima. “Apa menurutmu aku, Yoshioka Seijuro, akan kalah dengan si Musashi atau siapa pun namanya itu?”
“Oh, tidak, sama sekali tidak begitu,” kata Toji berbohong. “Cuma kami tak percaya Anda dapat memperoleh kehormatan dengan mengalahkan dia. Kedudukan Anda terlalu tinggi untuk menghadapi gelandangan kurang ajar seperti itu. Lagi pula, tidak ada alasan kenapa orang di luar rumah ini mesti tahu soal itu, bukan? Hanya satu yang penting, yaitu tidak membiarkan dia pergi dalam keadaan hidup.”
Belum selesai mereka beradu pendapat, jumlah orang yang berada di dalam ruangan sudah berkurang lebih dari setengahnya. Diam-diam, seperti kucing, mereka menghilang ke kebun, ke arah pintu belakang dan ke kamar-kamar dalam, dan secara hampir tidak kelihatan menghilang ke kegelapan.
“Tuan Muda, kita tak dapat menangguhkannya lagi,” kata Toji tegas, lalu memadamkan lampu. Ia pun melonggarkan pedang dalam sarungnya dan menaikkan lengan kimononya. Seijuro tetap duduk. Sekalipun dalam batas-batas tertentu ia puas karena tidak harus bertempur melawan orang asing itu, namun ia sama sekali tidak merasa senang. Menurut pengertiannya, dengan mengambil langkah itu, berarti para muridnya menilai rendah kemampuannya. Ia pun terkenang bagaimana ia telah mengabaikan latihan sejak meninggalnya ayahnya, dan ini membuatnya sangat sedih.
Rumah itu semakin dingin dan senyap seperti dasar sumur. Karena tak dapat duduk tenang, Seijuro pun bangkit dan berdiri dekat jendela. Lewat pintu-pintu kamar Musashi yang tertutup kertas ia dapat melihat cahaya lampu yang berkelap-kelip lembut. Itulah satu-satunya cahaya yang ada di sekitar tempat itu.
Banyak juga mata lain mengintip ke arah yang sama. Para penyerang meletakkan pedangnya di tanah di hadapan mereka, menahan napas dan mendengarkan baik-baik setiap bunyi yang dapat mengungkapkan kepada mereka sedang apakah Musashi.
Apa pun kekurangan Toji, ia telah memperoleh latihan sebagai seorang samurai. Mati-matian sekarang ia mencoba membayang-bayangkan apa yang mungkin diperbuat Musashi. “Dia sama sekali tak dikenal di ibu kota, tapi dia seorang pendekar hebat. Mungkinkah dia sekadar duduk diam di kamar itu? Pengepungan kami cukup hati-hati, tapi dia tentunya merasa bahwa orang banyak sedang mendesaknya sekarang. Setiap orang yang mencoba hidup sebagai prajurit pasti mengetahuinya; kalau tidak, dia sudah mati sekarang.
“Mm, barangkali dia sudah tertidur. Agaknya itulah yang terjadi. Memang sudah lama juga dia menanti.
“Di pihak lain, dia sudah membuktikan dirinya cerdik. Kemungkinan dia sedang berdiri di sana dalam keadaan siap tempur, membiarkan lampu menyala untuk membuat orang-orang ini kehilangan kewaspadaan dan tinggal menanti serangan pertama.
“Mestinya begitu. Betul begitu!”
Orang-orang itu menanti dengan gelisah, karena orang yang menjadi sasaran nafsu membunuh mereka juga sama inginnya membantai mereka. Mereka pun bertukar pandang, diam-diam saling menanyakan, siapa yang pertama-tama akan maju menyerbu dan mempertaruhkan nyawanya.
Akhirnya Toji yang licik dan persis berada di luar kamar Musashi, berseru, “Musashi! Maaf membiarkanmu lama menunggu! Boleh aku bertemu sebentar?”
Karena tak ada jawaban, Toji menyimpulkan bahwa Musashi memang sudah siap menanti serangan. Sambil bersumpah tak akan membiarkan Musashi meloloskan diri, Toji pun memberikan isyarat ke kanan dan ke kiri, kemudian menerjang ke arah pintu. Bagian bawah pintu bergeser sekitar dua kaki ke dalam kamar, terlepas dari lekuknya akibat hantaman itu. Mendengar bunyi itu, orang-orang yang seharusnya menyerbu ke dalam kamar secara tak sengaja mundur selangkah. Tapi dalam beberapa detik saja seseorang menyerukan serang, dan semua pintu lain dalam kamar itu pun gemerantang terbuka.
“Dia tak ada!”
“Kamar kosong!”
Suara-suara yang mencerminkan pulihnya keberanian pun terdengar menggerutu menyatakan tak percaya. Musashi masih duduk di sana sejenak sebelum itu, ketika seseorang membawakan lampu. Lampu masih menyala, bantalan yang tadi didudukinya masih di sana, anglo masih menyala dengan baik, dan masih ada cangkir teh yang belum disentuh. Tapi Musashi tak ada!
Satu orang berlari ke beranda, memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi sudah pergi. Dari. bawah beranda dan dari tempat-tempat gelap di kebun para murid dan pesuruh pun berkumpul, mengentakkan kaki dengan marah dan memaki-maki orang yang menjaga kamar yang kecil itu. Namun para penjaga tetap menyatakan bahwa Musashi tak mungkin pergi. Ia memang pergi ke kamar kecil kurang dari sejam sebelum itu, tapi segera kembali ke kamarnya lagi. Tak ada jalan baginya untuk pergi tanpa terlihat.
“Apa maksudmu dia tidak kelihatan, seperti angin?” satu orang bertanya dengan nada mencemooh.
Tepat waktu itu satu orang yang selama itu celingukan di kamar kecil berseru, “Dari sini dia pergi! Lihat, papan-papan lantai ini sudah lepas.” “Belum lama lampu itu tadi dirapikan. Tak mungkin dia sudah pergi jauh!” “Kejar dia!” Kalau Musashi memang melarikan diri, pasti dalam hatinya ia seorang pengecut! Jalan pikiran ini
mengobarkan kembali semangat para pengejarnya yang beberapa lama sebelumnya sudah sangat kehilangan semangat. Baru saja mereka berduyun-duyun keluar dari gerbang depan, belakang, dan samping, satu orang memekik, “Itu dia!”
Dekat gerbang belakang, satu sosok melejit keluar dari bayangan, menyeberang jalan, dan masuk lorong gelap di sisi lain. Sosok itu berlari seperti kelinci, melenceng ke satu sisi ketika hampir mencapai dinding di ujung lorong. Dua-tiga orang murid berhasil mengejarnya antara Kuyado dan puing-puing kebakaran Honnoji.
“Pengecut!” “Mau lari, ya?” “Sesudah tindakanmu hari ini?” Terdengar bunyi tonjokan dan tendangan keras, juga lolongan menantang. Orang yang terkepung itu
memperoleh kembali kekuatannya dan membalik menghadapi para penangkapnya. Dalam sekejap ketiga orang yang menjambak tengkuknya terjerembap ke tanah. Pedang orang itu sudah mau ditebaskan kepada mereka, ketika orang keempat datang berlari dan berseru, “Tunggu! Salah! Ini bukan orang yang kita kejar.”
Matahachi menurunkan pedangnya, dan orang-orang itu pun berdiri. “Hei, kau benar! Bukan Musashi!” Selagi mereka berdiri di sana dengan kebingungan, Toji sampai di tempat kejadian. “Sudah kalian tangkap?”
tanyanya. “Uh, orang lain-bukan orang yang bikin ribut itu.” Toji memperhatikan tangkapan itu dengan lebih saksama, dan katanya heran, “Ini orang yang kalian kejar?” “Ya. Kau kenal dia?” “Baru tadi siang aku melihatnya di Warung Teh Yomogi.” Sementara mereka memandangnya dengan diam dan curiga, Matahachi tenang-tenang merapikan
rambutnya yang kusut clan meratakan kimononya. “Apa dia pemilik Yornogi?” “Tidak, nyonya rumah mengatakan padaku bukan. Rupanya dia cuma semacam benalu.” “Kelihatannya memang mencurigakan. Apa kerjanya di dekat-dekat gerbang ini? Memata-matai?” Tapi Toji sudah mulai bergerak. “Kalau kita menghabiskan waktu dengan dial kita akan kehilangan Musashi.
Sekarang kita berpencar saja dan jalan. Paling tidak, kita bisa tahu di mana dia tinggal.” Terdengar suara-suara mengiakan, dan mereka pun berangkat.
Menghadapi parit Honnoji, Matahachi berdiri diam dengan kepala menunduk, sementara orang-orang itu lewat berlarian. Ketika orang terakhir lewat, ia pun berseru kepadanya.
Orang itu berhenti. “Ada apa?” tanyanya.
Matahachi mendekatinya, dan tanyanya, “Berapa umur orang yang namanya Musashi itu?”
“Mana aku tahu?”
“Apa kira-kira seumurku?”
“Kira-kira begitu. Ya.”
“Apa dia dari Desa Miyamoto di Provinsi Mimasaka?”
“Ya.”
“Kukira ‘Musashi’ itu cara lain untuk membaca dua huruf yang bisa dipakai menuliskan ‘Takezo’, kan?”
“Kenapa kau menanyakan sernua itu? Apa dia temanmu?”
“Ah, tidak. Aku cuma heran.”
“Nah, lain kali apa tidak lebih baik kau jauh-jauh saja dari tempat-tempat yang bukan tempatmu? Kalau tidak, kau bisa mendapat kesulitan besar hari-hari ini.” Sesudah menyampaikan peringatan itu, orang itu pun lari.
Matahachi lalu berjalan pelan-pelan di samping parit gelap itu, dan sekali-sekali berhenti untuk memandang bintang-bintang. Ia rupanya tidak mempunyai tujuan khusus.
“Pasti dialah itu!” demikian kesimpulannya. “Dia tentunya sudah mengubah namanya menjadi Musashi dan menjadi pemain pedang. Boleh jadi dia lain sekali dengan dahulu.” Maka disurukkannya tangannya ke dalam obi, dan mulailah ia menendang-nendang sebuah batu dengan jari sandalnya. Tiap kali menendang, ia pun merasa melihat wajah Takezo di hadapannya.
“Ini bukan waktu yang tepat,” gumamnya. “Aku akan malu kepadanya kalau dia melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku cukup punya harga diri dan takkan membiarkan dia memandang rendah kepadaku…. Tapi kalau gerombolan Yoshioka itu berhasil mengejarnya, kemungkinan mereka akan membunuhnya. Di mana dia berada kira-kira? Paling tidak, ingin aku memperingatkannya.”
Berhadapan dan Mundur
SEPANJANG jalan setapak berbatu yang menuju Kuil Kiyomizudera berdiri sederetan rumah kumuh dengan atap papan yang tersusun seperti gigi rusak, demikian tuanya hingga lumut sudah menumbuhi tepi-tepi atapnya. Di bawah sinar matahari siang yang panas, jalan itu semerbak oleh bau ikan asin yang dibakar di atas arang.
Sebuah piring melayang keluar dari pintu salah satu gubuk bobrok itu dan pecah berantakan di jalan. Seorang lelaki umur sekitar lima puluh tahun, yang agaknya seorang pekerja tangan, menyusul terhuyung ke luar. Sekejap kemudian menyusul pula istrinya yang bertelanjang kaki, rambutnya awut-awutan dan payudaranya tergantung-gantung seperti tetek sapi.
“Apa kaubilang, orang udik?” jeritnya serak. “Kau pergi meninggalkan istri dan anak kelaparan, lalu datang lagi merangkak seperti cacing!”
Dari dalam rumah terdengar suara anak-anak menangis, dan tidak jauh dari situ seekor anjing menggonggong. Perempuan itu akhirnya berhasil mengejar suaminya, menangkap gelung rambutnya, dan mulai memukulinya.
“Sekarang mau pergi ke mana kamu, orang sinting tua?”
Para tetangga bergegas datang dan mencoba melerai.
Musashi tersenyum ironis dan membalikkan badan menuju toko barang tembikar. Beberapa waktu sebelum pecahnya pertengkaran keluarga itu, ia sudah berdiri di luar, mengamati para pembuat tembikar dengan kegairahan kanak-kanaknya. Dua lelaki yang ada di dalam tidak menyadari kehadirannya. Karena mata mereka terpaku kepada pekerjaan, mereka seakan-akan sudah menyatu dengan tanah liat itu. Konsentrasi mereka sungguh bulat.
Musashi sebetulnya ingin mencoba bekerja dengan tanah liat itu. Sejak kecil ia menyukai pekerjaan tangan; menurut pendapatnya, paling tidak ia akan dapat membuat mangkuk teh sederhana. Namun justru pada waktu itu salah seorang tukang tembikar yang umurnya hampir enam puluh tahun mulai membuat mangkuk teh. Melihat betapa cekatan orang itu menggerakkan jari-jarinya clan memainkan kape-nya, Musashi pun sadar bahwa ia terlalu tinggi menilai kemampuannya sendiri. “Ternyata diperlukan banyak teknik untuk membuat barang sederhana itu saja,” demikian kagumnya.
Hari-hari itu sering kali ia merasa amat kagum pada kerja orang lain. Ia merasa menghargai teknik, seni, bahkan kemampuan melakukan tugas yang sederhana dengan baik, terutama jika itu adalah keterampilan yang tidak dikuasainya.
Di sebuah sudut toko itu, di sebuah meja panjang darurat yang terbuat dari papan pintu tua, berderet-deret piring, sloki sake, clan kendi. Barangbarang itu dijual untuk tanda mata dengan harga dua puluh atau tiga puluh sen saja kepada orang-orang yang pergi atau datang dari kuil. Sesuatu yang bertentangan sekali dengan kesungguh-an para tukang tembikar pada pekerjaan mereka adalah hina-dinanya pondok papan mereka. Terpikir oleh Musashi, apakah mereka selalu dapat makan cukup. Hidup ini agaknya tidak semudah kelihatannya.
Memikirkan keterampilan, konsentrasi, dan kesetiaan yang dicurahkan untuk membuat barang-barang semurah itu, Musashi pun merasa jalannya sendiri masih panjang, jika ia ingat bagaimana ia mencapai taraf kesempurnaan dalam seni pedang yang diinginkannya itu. Pikiran itu sungguh pikiran yang menyadarkan, karena dalam tiga minggu terakhir itu ia telah mengunjungi pusat-pusat latihan terkenal lain di Kyoto disamping Perguruan Yoshioka, dan sempat bertanya-tanya kepada dirinya apakah ia tidak terlampau kritis terhadap diri sendiri semenjak dikurung di Himeji dulu. Keinginannya semula adalah melihat Kyoto sebagai tempat penuh orang yang telah menguasai seni bela diri. Bukankah kota itu ibu kota kekaisaran dan dahulu menjadi pusat ke-shogun-an Ashikaga, dan sudah lama menjadi tempat berkumpulnya jenderal-jenderal ternama dan prajurit-prajurit legendaris? Namun selama berada di sana, belum pernah ia menemukan satu pun pusat latihan yang mengajarkan kepadanya sesuatu yang benar-benar pantas diberi ucapan terima kasih. Sebaliknya, hanya kekecewaan yang diperolehnya di setiap perguruan itu. Sekalipun selalu memenangkan pertandingan, tak dapat ia menetapkan apakah itu disebabkan ia yang bagus atau lawan¬lawannya yang jelek. Baik dalam hal yang pertama maupun kedua, kalau para samurai yang dijumpainya itu memang gambaran dari samurai masa kini, berarti negeri itu berada dalam keadaan memprihatinkan.
Tergugah oleh keberhasilannya, ia pun sampai kepada pemikiran untuk merasa bangga akan keahliannya. Tetapi sekarang, ingat akan bahaya puas diri, ia pun merasa bersalah dan patut dihukum. Dalam hati ia merasa sangat hormat kepada orang-orang tua bergelimang tanah liat yang sedang bekerja pada rodanya itu, dan mulailah ia mendaki lereng terjal Kiyomizudera.
Belum lagi jauh, terdengar suara memanggilnya dari bawah. “Hei, tuan yang di sana! Ronin!’
“Maksud Anda… saya?” tanya Musashi sambil menoleh.
Melihat pakaian katunnya yang berlapis, kakinya yang telanjang, dan tongkat yang dibawanya, orang itu adalah pemikul joli. Dari balik jenggotnya ia berkata, cukup sopan untuk orang yang kedudukannya serendah itu, “Tuan, apa nama Tuan Miyamoto?”
“Ya.”
“Terima kasih.” Orang itu pun membalik dan turun ke Bukit Chawan.
Musashi melihatnya memasuki rumah yang nampaknya warung teh. Sewaktu melewati daerah itu tadi, ia memang melihat satu rombongan besar kuli dan pemikul joli sedang berdiri di sana-sini di bawah sinar matahari. Tak dapat ia memperkirakan, siapa yang kini telah menyuruh salah seorang dari mereka itu untuk menanyakan namanya, tapi ia mengira, siapa pun yang telah menyuruh itu pasti akan segera datang menemuinya. Ia pun berdiri dulu di sana sebentar, tapi karena tak seorang pun muncul, ia kembali mendaki.
Di sepanjang jalan itu ia berhenti menjenguk kuil-kuil terkenal, dan di tiap kuil ia membungkukkan badan dan mengucapkan dua doa. Doa pertama: “Lindungilah kakak perempuanku dari bahaya.” Yang kedua: “Ujilah Musashi yang hina ini dengan kesulitan. Jadikanlah dia pemain pedang terbesar di negeri ini, atau biarlah dia mati.”
Sampai di tepi tebing karang ia jatuhkan topi anyaman yang dipakainya ke tanah dan duduk. Dari situ ia dapat memandang seluruh kota Kyoto. Sementara ia duduk merangkul lutut, bergejolaklah ambisi yang sederhana namun kuat dalam dadanya yang masih muda.
“Aku ingin menempuh hidup yang berarti. Aku mau menempuhnya, karena aku lahir sebagai manusia.”
Ia pernah membaca bahwa pada abad sepuluh, dua pemberontak bernama Taira no Masakado dan Fujiwara no Sumitomo yang sama-sama ambisius telah bergabung dan bersepakat, kalau menang perang, mereka akan membagi Jepang di antara mereka berdua. Sukar memastikan kebenaran cerita itu, tapi Musashi ingat, waktu itu ia berpendapat alangkah bodoh dan tidak realistis sekiranya mereka percaya bisa melaksanakan rencana gila-gilaan semacam itu. Namun sekarang ia merasa hal itu tidak lagi menggelikan. Impian yang dimilikinya lain jenisnya, tapi ada beberapa persamaan. Kalau orang muda tidak dapat menggantungkan cita-cita besar dalam jiwanya, siapa lagi yang dapat? Saat itu Musashi pun membayangkan bagaimana ia dapat menciptakan tempatnya sendiri di dunia ini.
Ia berpikir tentang Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi, tentang visi mereka untuk mempersatukan Jepang dan tentang banyak pertempuran yang telah mereka lakukan untuk mencapai tujuan itu. Tetapi jelas, jalan menuju kebesaran itu kini tidak lagi terletak dalam memenangkan perang. Sekarang rakyat hanya menginginkan perdamaian yang telah begitu lama mereka rindukan. Merenungkan perjuangan panjang yang harus ditempuh Tokugawa Ieyasu dalam mengubah keinginan itu menjadi kenyataan, Musashi pun sadar sekali lagi, betapa susahnya berpegang teguh pada cita-cita.
“Ini zaman baru,” pikirnya. “Sisa hidupku masih ada di hadapanku. Memang terlambat aku menempuh jalan yang dilalui Nobunaga atau Hideyoshi, tapi masih dapat aku memimpikan dunia yang harus kutaklukkan sendiri. Tak seorang pun dapat menghentikanku melakukan itu. Pemikul joli tadi pun mempunyai impiannya sendiri.”
Sesaat ia singkirkan gagasan-gagasan itu dari pikirannya dan mencoba meninjau keadaan dirinya secara objektif. Ia memiliki pedang, dan jalan Pedang adalah jalan yang telah dipilihnya. Kiranya bagus juga menjadi seorang Hideyoshi atau Ieyasu, tetapi zaman tidak lagi membutuhkan orang-orang dengan bakat seperti mereka. Ieyasu sudah mengatur segala hal; tidak lagi ada keperluan akan perang-perang berdarah. Di Kyoto yang terhampar di bawah sana kehidupan tidak lagi soal untung-untungan.
Bagi Musashi, yang penting sejak sekarang dan untuk seterusnya adalah pedangnya dan masyarakat sekitarnya, juga seni pedang yang dikuasainya dalam hubungan kehadirannya sebagai manusia. Pada saat memperoleh pemahaman mendalam itu, ia pun puas karena telah menemukan hubungan antara seni bela diri dan visinya mengenai kebesaran.
Sementara ia duduk tenggelam dalam pemikiran itu, wajah pemikul joli muncul kembali di bawah tebing karang. la menudingkan tongkat bambunya kepada Musashi, clan serunya, “Itu dia di sana!”
Musashi memandang ke bawah, ke arah kuli-kuli yang sedang bergerak ke sana kemari sambil berteriak¬teriak. Mereka mulai mendaki bukit menuju ke arahnya. Ia pun bangkit; sambil mencoba mengabaikan mereka, ia berjalan terus mendaki bukit. Tetapi tak lama kemudian ia melihat jalannya tercegat. Dengan bergandengan tangan dan mengacung-acungkan tongkat, sejumlah besar orang telah mengepungnya dari jauh. Ketika ia menoleh, tampak olehnya orang-orang di belakangnya itu berhenti. Seorang dari mereka menyeringai memperlihatkan giginya dan memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi rupanya “sedang memperhatikan tanda peringatan atau entah apa”.
Musashi yang kini berada di depan tangga Hongando memang sedang menengadah memperhatikan tanda peringatan yang sudah dimakan cuaca, yang tergantung pada blandar pintu masuk kuil. Ia merasa gelisah dan bertanya-tanya dalam hati apakah ia sebaiknya menakut-nakuti mereka dengan teriakan perang. Walaupun ia tahu dapat membereskan mereka dengan cepat, tak ada gunanya ribut dengan gerombolan pekerja kasar itu. Lagi pula, barangkali ada kekeliruan. Kalau demikian, lambat atau cepat mereka akan bubar. Ia pun berdiri saja di sana dengan sabar, sambil membaca dan membaca sekali lagi kata-kata pada tanda peringatan itu: “Kaul sejati”.
“Ini dia datang!” salah seorang kuli berteriak.
Mereka pun mulai bicara antara sesamanya dengan suara tertahan-tahan. Kesan Musashi adalah mereka sedang saling merangsang semangat. Pekarangan dalam gerbang barat kuil itu dengan segera penuh orang, dan sekarang para pendeta, peziarah, dan tukang jualan menajamkan mata untuk melihat apa yang sedang terjadi. Penuh rasa ingin tahu, mereka membentuk kelompok-kelompok di luar lingkaran kuli-kuli yang mengepung Musashi.
Dari arah Bukit Sannen kedengaran nyanyian berirama pengatur langkah oleh orang-orang yang membawa beban. Suara itu makin lama makin dekat, sampai akhirnya dua orang memasuki pekarangan kuil dengan menggendong seorang perempuan tua dan seorang samurai desa yang tampak agak lelah.
Dan punggung pengusungnya Osugi melambaikan tangan dengan gerakan cepat, dan katanya, “Di sini saja.” Si pengusung melipat kakinya dan Osugi pun melompat sigap ke tanah sambil mengucapkan terima kasih. Sembari menoleh kepada Paman Gon, ia berkata, “Kali ini kita takkan membiarkannya lepas, kan?” Pakaian dan sepatu kedua orang itu mengesankan seolah-olah mereka hendak menghabiskan sisa hidupnya dalam perjalanan.
“Mana dia?” seru Osugi.
Salah seorang kuli pikul menjawab, “Itu di sana,” dan menuding bangga ke arah kuil.
Paman Gon membasahi gagang pedangnya dengan ludah, dan kedua orang itu pun menerobos lingkaran manusia tersebut.
“Tenang saja,” salah seorang kuli pikul mengingatkan. “Orangnya tampak tangguh,” kata yang lain.
“Pastikan dulu apa Anda sudah betul-betul siap,” nasihat yang lain. Sementara para pekerja memberikan dorongan dan dukungan bagi Osugi, para penonton merasa cemas.
“Apa perempuan tua ini betul-betul mau menantang duel ronin itu?” “Kelihatannya begitu.”
“Tapi dia sudah begitu tua! Malah pengiringnya juga sudah goyah kakinya! Mestinya ada alasan kuat, mengapa mereka mencoba menghadapi orang yang begitu jauh lebih muda.”
“Tentulah sekitar permusuhan keluarga!”
“Lihat tuh! Dia memarahi lelaki tua itu. Ada memang nenek-nenek tua yang betul-betul gagah berani.”
Seorang kuli berlari datang membawa segayung air untuk Osugi. Sesudah minum seteguk besar, Osugi menyerahkan gayung itu kepada Paman Gon dan berkata tegas kepadanya, “Sekarang jaga jangan sampai kau bingung, sebab tak ada yang perlu dibingungkan. Takezo itu cuma manusia jerami. Bisa saja dia belajar sedikit cara memakai pedang, tapi tak mungkin dia belajar banyak. Tenang saja kamu!”
Untuk memelopori, ia pun langsung menuju tangga depan Hongando dan duduk di tangga, tak sampai sepuluh langkah dari Musashi. Tanpa memperhatikan Musashi atau orang banyak yang memandangnya, ia mengeluarka tasbihnya dan memejamkan mata, lalu mulai menggerak-gerakkan bibir. Diilhami oleh semangat keagamaannya, Paman Gon menangkupkan kedua tangannya dan berbuat demikian pula.
Pemandangan itu ternyata agak terlampau melodramatis, dan salah seorang penonton mulai tertawa terkekeh. Seketika itu juga salah seorang kuli memutar badan dan katanya menantang, “Siapa menganggap ini lucu? Ini bukan bahan tertawaan, orang sinting! Jauh-jauh perempuan tua ini datang dari Mimasaka untuk mencari manusia sampah yang melarikan istri anaknya. Saban hari selalu dia berdoa di kuil ini selama hampir dua bulan, dan akhirnya hari ini orang itu muncul.”
“Orang-orang samurai ini lain dengan kita,” kata kuli yang lain. “Pada umur seperti itu, perempuan tua ini mestinya dapat hidup senang di rumah, bermain dengan cucu-cucunya; tapi tidak, dia malah di sini menggantikan anaknya menuntut balas atas penghinaan terhadap keluarganya. Melulu karena itu saja patutlah dia kita hormati.”
Orang ketiga mengatakan, “Kita bukan membantu dia karena dia memberi kita uang. Dia punya semangat, sungguh! Sudah tua, tapi tidak takut berkelahi. Menurutku, kita mesti membantunya sedapat-dapatnya. Membantu pihak yang lemah itu benar! Kalau nanti dia kalah, mari kita hadapi sendiri ronin itu.”
“Kau benar! Tapi mari kita lakukan sekarang saja! Tak dapat kita berdiri saja di sini dan membiarkan dia terbunuh.”
Ketika orang banyak mengetahui sebab-sebab Osugi berada di situ, kegairahan pun meningkat. Beberapa penonton mulai mendorong kuli-kuli itu maju.
Osugi memasukkan tasbih ke dalam kimononya dan keheningan pun mencekam pekarangan kuil. “Takezo!” seru Osugi keras, sambil meletakkan tangan kirinya ke pedang pendek di pinggangnya.
Selama itu Musashi hanya berdiri tak bergerak. Bahkan ketika Osugi memanggil namanya pun ia berbuat seolah-olah tidak mendengarnya. Tak gentar oleh hal itu, Paman Gon yang berdiri di samping Osugi memilih saat itu untuk mengambil sikap menyerang, clan sambil mendongakkan kepala ke depan ia pun meneriakkan tantangan.
Sekali lagi Musahi tidak menjawab. Ia tak dapat menjawab. Betul-betul tak tahu ia bagaimana akan menjawab. Ia ingat peringatan Takuan di Himeji bahwa ia kemungkinan akan bertemu dengan Osugi. Sebetulnya ingin ia mengabaikan saja perempuan itu sama sekali, tapi ia sangat tersinggung oleh pembicaraan para kuli yang tersebar di tengah orang banyak itu. Lagi pula, sukarlah baginya mengekang kekesalan terhadap rasa benci yang disimpan keluarga Hon’iden terhadapnya selama ini. Seluruh perkara itu tidak lebih dari soal kecil Miyamoto, suatu salah paham yang dapat dengan mudah dijelaskan, jika saja Matahachi ada.
Namun demikian, ia sungguh bingung mengenai apa yang hendak diperbuat di sini, sekarang ini. Bagaimana kita mesti menjawab tantangan seorang perempuan tua yang sudah reyot dan seorang samurai yang sudah kisut wajahnya? Musashi tetap diam memandang, pikirannya serba ragu.
“Lihat bajingan itu! Dia takut!” seorang kuli berseru.
“Bersikaplah jantan! Beri kesempatan perempuan ini membunuhmu!” cemooh yang lain.
Tak satu orang pun tidak berada di pihak Osugi.
Perempuan itu mengedipkan mata dan menggelengkan kepala, kemudian memandang para pemikul dan mendecap merah. “Diam kalian! Kalian cuma saksi. Kalau kami berdua nanti terbunuh, kalian yang mengirim mayat kami kembali ke Miyamoto. Di luar itu aku tak butuh omongan kalian, juga bantuan kalian!” Sambil menarik pedang pendeknya setengah jalan dari sarungnya, ia pun bergerak beberapa langkah mendekati Musashi.
“Takezo!” katanya lagi. “Takezo itu selamanya namamu di kampung, jadi kenapa kamu tidak menjawab? Kudengar kau sudah mengambil nama baru yang bagus-Miyamoto Musashi, betul? Tapi bagiku tetap saja kamu Takezo! Ha, ha, ha!” Leher keriput itu menggetar selagi ia tertawa. Agaknya ia mau membunuh Musashi dengan kata-kata, sebelum pedang dihunus.
“Apa kaukira dapat mencegahku mencari jejakmu, hanya karena kau mengubah nama? Bodoh sekali! Dewa-dewa di langit sudah memimpinku menemukanmu, dan aku tahu dewa-dewa pasti berbuat begitu. Ayo sekarang berkelahi! Akan kita lihat, apa kubawa kepalamu pulang, atau kau berhasil lagi tetap hidup!”
Dengan suaranya yang sudah layu, Paman Gon pun mengeluarkan tantangannya sendiri, “Sudah empat tahun kau selalu meloloskan diri, dan kami selalu mencarimu selama ini. Sekarang doa kami di Kiyomizudera sudah memasukkanmu dalam genggaman kami. Memang aku sudah tua, tapi tak bakal aku kalah dengan orang macam kamu! Siap-siap saja kau mati!” Sambil menarik pedangnya ia pun berteriak kepada Osugi, “Minggir kau!”
Osugi menoleh kepadanya dengan marah, “Apa maksudmu, orang sinting tua? Kau sendiri yang menggigil!”
“Tidak apa! Bodisatwa kuil ini akan melindungi kita!”
“Betul, Paman Gon. Dan nenek moyang orang Hon’iden juga beserta kita! Tak ada yang perlu ditakutkan.”
“Takezo! Maju dan ayo berkelahi!” “Apa yang kau tunggu?” Musashi tidak beranjak. Ia berdiri saja seperti orang bisu-tuli, memandang dua orang tua itu dan pedang
mereka yang sudah terhunus. Osugi berteriak, “Ada apa, Takezo! Kau takut?” Ia pun maju dengan badan dimiringkan dan siap menyerang, tapi tiba-tiba ia terantuk batu dan jatuh ke
depan, mendarat tengkurap hampir di kaki Musashi. Orang banyak terkesiap, dan seseorang menjerit, “Bisa terbunuh dia!” “Cepat selamatkan dia!” Tetapi Paman Gon hanya menatap muka Musashi, terlalu takjub, hingga tak dapat bergerak. Kemudian perempuan tua itu mengejutkan semua orang, karena ia mencekal lagi pedangnya dan berjalan
kembali ke sisi Paman Gon, lalu kembali mengambil sikap menantang. “Kenapa kamu, orang udik?” teriak
Osugi. “Apa pedang di tanganmu itu cuma hiasan? Apa tak tahu kamu menggunakannya?” Wajah Musashi seperti topeng, tapi akhirnya ia pun berkata dengan suara mengguntur, “Aku tak dapat melakukannya.”
Mulailah ia berjalan ke arah mereka, dan Paman Gon dan Osugi pun seketika undur ke sisi masing-masing. “Ke-ke mana kamu pergi, Takezo?” “Tak bisa aku menggunakan pedangku.” “Berhenti! Kenapa tidak berhenti dan berkelahi?” “Sudah kukatakan! Tak bisa aku!” Ia berjalan terus ke depan, tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia langsung melintasi orang banyak, tanpa
sekali pun membelok. Begitu tersadar kembali, Osugi pun berteriak, “Dia lari! Jangan biarkan dia lolos!” Orang banyak pun sekarang bergerak mengepung Musashi, tapi ketika mereka kira telah mengimpitnya,
ternyata ia tidak lagi di sana. Bukan main bingungnya mereka. Mata mereka menyala keheranan, tapi
kemudian jadi tertegun. Mereka pun memecah diri menjadi kelompok-kelompok kecil dan terus juga hilir-mudik sampai matahari tenggelam, mencari dengan kalutnya di bawah lantai-lantai bangunan kuil dan di tengah hutan untuk menemukan mangsa mereka yang telah lenyap itu.
Kemudian, ketika orang pulang lewat lereng bukit-bukit Sannen dan Chawan yang gelap, seseorang bersumpah telah melihat Musashi melompat, ringan bagai kucing ke atas dinding setinggi hampir dua meter di gerbang barat dan menghilang.
Tak seorang pun percaya, terutama Osugi dan Paman Gon.
Peri Air
DI sebuah dusun sebelah barat laut Kyoto, dentam-dentam berat alu penumbuk padi menggetarkan bumi. Hujan salah musim menembus atap lalang. Tempat itu semacam tanah tak bertuan yang terletak antara kota dan daerah pertanian. Kemiskinannya demikian sarat, hingga waktu senja asap api dapur hanya mengepul dari beberapa rumah saja.
Sebuah topi anyaman tergantung di bawah tepian atap sebuah rumah kecil. Rumah itu bertuliskan huruf¬huruf tebal dan kasar, menyatakan rumah itu sebuah penginapan, walau dari jenis yang termurah. Musafir yang berhenti di situ hanya orang-orang melarat yang cuma menyewa lantai. Untuk sewa kasur jerami, mereka harus bayar lagi. Hanya sedikit yang dapat membeli kemewahan itu.
Di dapur yang kotor lantainya, di samping pintu masuk, seorang anak lelaki melongok dengan tangan bertumpu pada tatami kamar sebelah yang lebih tinggi letaknya. Di tengah kamar itu terdapat perapian yang hampir man.
“Halo!… Selamat malam!… Ada orang di sini?” Ia anak suruhan toko minuman, sebuah tempat kotor lain di
jalan itu. Melihat orangnya, suara anak itu terlalu keras kedengarannya. Umurnya. tak lebih dari sepuluh atau sebelas tahun. Rambutnya yang basah oleh hujan dan menjurai menutupi telinga membuat ia tampak tak lebih besar dari peri air dalam lukisan khayal. Pakaiannya pun sesuai untuk peran itu: kimono yang hanya sampai paha dengan lengan berbentuk tabung, dan seutas tali besar pengganti obi. Lumpur yang memercik tidak mengotori punggung ketika ia berlari dengan bakiaknya.
“Kamu itu, Jo?” seru pak tua pemilik penginapan dari kamar belakang. “Ya. Bapak mau menyuruh saya ambil sake?” “Tidak hari ini. Tamuku belum kembali. Aku belum butuh.” “Kalau dia kembali, tentunya dia perlu sake. Akan saya bawakan nanti, sejumlah biasanya.” “Kalau dia kembali, nanti aku ambil sendiri.” Enggan pergi tanpa membawa pesanan, anak itu pun bertanya, “Apa yang Bapak kerjakan?” “Aku lagi nulis surat; akan kukirimkan lewat kuda beban ke Kurama besok. Tapi ini sedikit sukar. Dan
punggungku pun sakit. Diamlah, jangan ganggu aku.” “Oh, lucu juga. Bapak sudah begitu tua, sampai sudah mulai bungkuk, tapi masih belum bisa menulis!” “Cukup! Kalau sampai kudengar kamu lancang lagi, kuambilkan pentung kayu api.” “Mau saya tuliskan?” “Sok bisa kamu!” “Bisa,” ucap anak itu sambil masuk kamar. la memandang surat itu dari atas bahu orang tua itu, dan
pecahlah tawanya. “Bapak mau nulis ‘kentang’, ya? Huruf yang Bapak tulis itu artinya ‘tongkat’.” “Diam!” “Saya akan diam, kalau Bapak suruh. Tapi tulisan Bapak itu salah. Bapak mau mengirim kentang atau
tongkat kepada teman-teman Bapak?” “Kentang.” Anak itu pun membaca sedikit lebih lama, kemudian katanya, “Ah, ini kurang baik. Tak ada yang dapat
menduga maksud surat ini, kecuali Bapak sendiri.” “Nah, kalau kamu memang pintar, coba kamu yang tulis.” “Baik. Sekarang katakan apa yang mau Bapak tuliskan.” Jotaro duduk dan mengambil kuas. “Keledai kikuk kamu!” ucap orang tua itu. “Kenapa Bapak sebut saya kikuk? Bapak sendiri yang tak bisa menulis!” “Hidungmu menetesi kertas.”
“Oh, maaf. Tapi Bapak boleh berikan ini pada saya untuk bayarannya.” Ia membuang ingusnya dengan kertas yang sudah kotor itu. “Sekarang, apa yang mau Bapak katakan?” Dengan pegangan kuas yang mantap, anak itu menulis dengan lancarnya apa-apa yang didiktekan orang tua itu.
Baru saja surat itu selesai ditulis, tamu pulang, dan begitu saja melemparkan karung arang yang baru
diambilnya di suatu tempat dan tadi dibawa di atas kepalanya. Musashi berhenti di pintu dan memeras air dari lengan bajunya, dan gerutunya, “Kukira inilah akhir musim bunga prem.” Lebih dari dua puluh hari Musashi berada di situ. Penginapan itu telah terasa seperti rumahnya. Ia memandang ke luar, ke arah pohon di dekat gerbang depan. Bunga-bunga mesh muda menyambutnya tiap pagi semenjak ia datang. Daun bunga jatuh berserakan di lumpur.
Ketika masuk dapur, ia heran melihat anak toko sake itu duduk akrab dengan pemilik penginapan. Karena ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan, diam-diam ia berdiri di belakang orang tua itu dan mengintip dari atas bahunya.
Jotaro menengadah ke wajah Musashi, kemudian buru-buru menyembunyikan kuas dan kertas di belakangnya. “Tidak boleh memata-matai orang macam itu,” keluhnya. “Lihat, dong,” kata Musashi mengganggu. “Jangan,” kata Jotaro menggeleng. “Ayolah tunjukkan,” kata Musashi. “Asal Kakak mau beli sake.” “Oh, jadi itu yang kamu mainkan, ya? Baik, aku beli.” “Lima gelas?’ “Tidak sebanyak itu yang kubutuhkan.” “Tiga gelas?” “Masih kebanyakan.” “Kalau begitu, berapa? Jangan kikir, ah!”
“Kikir? Kau tahu, aku cuma pemain pedang miskin. Kaukira aku banyak uang buat dihamburkan?” “Balk. Saya yang menakarnya sendiri nanti. Saya beri seharga uangmu. Tapi janji, Kakak mesti mendongengkan beberapa cerita.”
Tawar-menawar berakhir. Jotaro berkecipak dengan riangnya menempuh hujan.
Musashi memungut surat itu dan membacanya. Sesaat-dua saat kemudian ia menoleh kepada pemilik penginapan, dan tanyanya, “Betul-betul dia yang menulis ini?” “Ya. Mengagumkan, ya? Kelihatannya pintar sekali anak itu.” Sementara Musashi pergi ke sumur, mandi air dingin dan mengenakan pakaian kering, orang itu
menggantungkan kuali di atas api dan mengeluarkan acar serta mangkuk nasi. Musashi kembali dan duduk dekat perapian. “Apa pula kerja bajingan kecil itu?” gerutu pemilik penginapan. “Lama sekali dia ambil sake.” “Berapa umur anak itu?” “Sebelas, kalau tak salah. Pernah dikatakannya.” “Terlalu dewasa untuk anak seusianya, bukan?”
“Mm. Mungkin karena dia bekerja di toko sake ini sejak umur tujuh tahun. Di situ dia bertemu dengan segala macam orang-kusir kereta, pembuat kertas di ujung jalan sana, para musafir, dan siapa saja.” “Saya heran, bagaimana dia bisa menulis begitu baik.”
“Apa memang baik betul?” “Ya, tulisannya memang ada sifat kekanakannya, tapi ada juga-apa, ya, namanya-semacam sifat terus terang yang menggugah. Sekiranya saya sedang memikirkan seorang pemain pedang, bisa saya katakan tulisan itu memperlihatkan keluasan spiritual. Anak itu nantinya bisa jadi orang.”
“Maksud Anda?”
“Maksud saya, menjadi manusia sejati.”
“Oh?” Orang tua itu pun mengerutkan kening, mengangkat tutup kuali, dan meneruskan gerutuannya.
“Belum juga kembali. Saya berani bertaruh, dia lagi ngeluyur sekarang.” Baru saja ia hendak mengenakan sandal untuk pergi mengambil sake itu sendiri, Jotaro kembali. “Ke mana saja kamu?” tanyanya pada anak itu. “Kau bikin tamuku ini lama menunggu.” “Saya tak bisa apa-apa. Ada pembeli datang ke toko, mabuk sekali. Saya dipegangnya erat-erat, dan
ditanyai macam-macam.” “Pertanyaan apa?” “Dia tanya tentang Miyamoto Musashi.” “Dan kamu mengoceh, kan?” “Tak ada salahnya, kalaupun saya ngoceh. Semua orang di sini tahu apa yang terjadi di Kiyomizudera hari
itu. Perempuan sebelah rumah dan anak tukang pernis, keduanya ada di kuil hari itu. Mereka lihat sendiri kejadiannya.” “Tak usah lagi kamu bicara itu!” kata Musashi, hampir-hampir dengan nada memohon. Anak yang bermata tajam itu menaksir sikap Musashi, dan tanyanya,
“Boleh saya tinggal di sini sebentar dan bicara dengan Kakak?” Dan mulailah ia membasuh kaki dan bersiap-siap masuk kamar perapian. “Aku sih boleh saja, kalau majikanmu tidak keberatan.”
“Oh, dia tidak butuh saya sekarang.”
“Baiklah.”
“Akan saya panaskan sake Kakak. Saya mahir sekali soal itu.” Ia memasukkan guci sake ke dalam abu
hangat di sekitar api, dan tak lama kemudian ia pun menyatakan sudah siap. “Cepat, ya?” kata Musashi dengan nada menghargai. “Kakak senang sake?” “Ya.” “Tapi karena miskin, saya kira Kakak tak banyak minum, ya?” “Betul.” “Tadinya saya mengira orang yang pintar dalam seni bela diri dapat mengabdi tuan-tuan besar dengan gaji
besar. Seorang pengunjung toko pernah bilang pada saya, Tsukahara Bokuden selalu berkeliling dengan tujuh puluh atau delapan puluh pesuruh, dan mendapat penggantian kuda dan burung elang juga.”
“Itu betul.” “Dan saya mendengar prajurit kenamaan, bernama Yagyu, yang mengabdi Keluarga Tokugawa, mempunyai pendapatan lima puluh ribu gantang padi.”
“Itu betul juga.” “Kalau begitu, kenapa Kakak begitu miskin?” “Aku masih belajar.” “Mesti umur berapa dulu, sebelum Kakak punya banyak pengikut?” “Tak tahu aku, apa akan punya pengikut.” “Kenapa? Apa Kakak kurang pandai?” “Kamu sudah dengar apa yang dikatakan orang yang melihatku di kuil. Bagaimana juga kamu menilainya,
aku lari waktu itu.”
“Itulah yang dikatakan semua orang; kata mereka, shugyosha di penginapan itu—yaitu Kakak—orang lemah. Tapi sungguh jengkel saya mendengarkan mereka itu.” Bibir Jotaro mengatup menjadi garis lurus. “Ha, ha! Kenapa pula kamu risau? Mereka tidak bicara tentang dirimu.” “Yah, tapi saya kasihan pada Kakak. Kakak tahu, anak pembuat kertas, anak tukang kaleng, dan beberapa
pemuda itu kadang-kadang berkumpul di belakang toko pernis buat latihan main pedang. Kenapa Kakak
tidak berkelahi dengan salah seorang dari mereka dan mengalahkannya?” “Baiklah. Kalau itu yang kaukehendaki, akan kulakukan.” Musashi merasa sukar menolak apa saja yang diminta anak itu. Sebagian karena ia sendiri dalam banyak hal masih kanak-kanak dalam hatinya, dan karena itu bersimpati kepada Jotaro. Selamanya ia mencari, sebagian besar secara tak sadar, pengganti kasih sayang keluarga yang semenjak kanak-kanak tak pernah dimilikinya.
“Mari kita bicara soal lain saja,” katanya. “Di mana kamu lahir?” “Di Himeji.” “Oh, jadi kamu dari Harima.” “Ya, dan Kakak dari Mimasaka, ya? Ada orang mengatakan demikian.” “Betul. Apa kerja ayahmu?” “Dia dulu samurai. Samurai yang betul-betul setia pada kebaikan!” Semula Musashi tampak kaget, tapi baginya jawaban itu telah membikin jelas beberapa persoalan,
walaupun sama sekali bukan soal betapa baiknya anak itu menulis. Ia menanyakan nama ayah anak itu. “Namanya Aoki Tanzaemon. Dulu dia punya gaji dua ribu lima ratus gantang padi, tapi ketika saya umur tujuh tahun, dia tinggalkan kerjanya dan pergi ke Kyoto sebagai ronin. Sesudah semua uangnya habis, dia tinggalkan saya di toko sake itu dan pergi ke kuil untuk menjadi biarawan. Tapi saya tak man tinggal di toko
itu. Saya ingin menjadi samurai seperti ayah saya, dan saya ingin belajar main pedang seperti Kakak. Apa bukan jalan terbaik menjadi samurai?” Anak itu berhenti, kemudian melanjutkan dengan sungguh-sungguh. “Saya ingin menjadi pengikut Kakak—
keliling negeri, belajar dengan Kakak. Apa Kakak tak mau mengajak saya jadi murid?” Selesai mengungkapkan maksudnya itu, Jotaro pun memperlihatkan wajah yang jelas-jelas mencerminkan tekadnya untuk tidak mendapat jawaban tidak. Tentu saja ia tidak tahu bahwa orang tempatnya memohon
itu adalah orang yang telah menjadi sebab ayahnya mendapat kesulitan bertubi-tubi. Adapun Musashi, ia tak dapat menolak permintaan itu mentah-mentah. Namun yang benar-benar dipikirkannya bukan soal mengatakan ya atau tidak, melainkan tentang Aoki Tanzaemon dan nasibnya yang tidak beruntung. Dalam hal ini tak bisa tidak ia bersimpati pada orang itu. Jalan Samurai memang perjudian tanpa henti, dan seorang samurai harus siap sepanjang waktu untuk membunuh atau dibunuh. Memikirkan contoh perubahan hidup ini, Musashi menjadi sedih dan efek sake yang diminumnya lenyap secara tiba-tiba. Ia merasa kesepian.
Jotaro mendesak terus. Ketika pemilik penginapan mencoba menyuruhnya meninggalkan Musashi, ia menjawab secara kurang ajar, lalu melipatgandakan usahanya. Dipegangnya pergelangan tangan Musashi erat-erat, kemudian dipeluknya, dan akhirnya ia berurai air mata.
Karena tak melihat jalan lain, Musashi pun berkata, “Baiklah, baiklah, cukup. Kau boleh menjadi pengikutku, asal kau pergi dan bicara dulu dengan majikanmu.”
Karena akhirnya terpenuhi keinginannya, Jotaro lari menderap ke toko sake.
Pagi berikutnya Musashi bangun pagi-pagi, berpakaian, dan berkata kepada pemilik penginapan, “Tolong siapkan kotak makan siang untuk saya. Saya senang tinggal di sini beberapa minggu ini, tapi saya pikir saya harus terus pergi ke Nara sekarang.”
“Begitu cepat?” tanya pemilik penginapan yang tidak mengharapkan tamunya pergi begitu mendadak. “Apa karena anak itu terus mendesak Anda?”
“Oh, tidak, bukan salah dia. Saya memang sudah lama bermaksud pergi ke Nara-bertemu dengan pemain¬pemain tombak terkenal di Hozoin. Saya harap dia tidak terlalu menyulitkan Bapak, kalau dia tahu saya sudah pergi.”
“Jangan kuatir. Dia masih anak-anak. Dia akan menjerit dan memekik sebentar, kemudian akan melupakannya sama sekali.”
“Dan lagi, tak mungkin rasanya tukang sake itu akan mengizinkannya pergi,” kata Musashi ketika sudah turun ke jalan.
Badai sudah lewat, seakan-akan tersapu bersih, dan angin sepoi-sepoi mengelus kulit Musashi dengan lembut, berlainan sekali dengan angin ganas sehari sebelumnya.
Sungai Kamo naik, airnya berlumpur. Di salah satu ujung jembatan kayu di Jalan Sanjo, samurai memeriksa orang-orang yang datang dan pergi. Ketika Musashi bertanya kenapa ada inspeksi itu, ia mendapat jawaban, karena akan datang kunjungan shogun baru. Barisan depan kaum feodal berpengaruh dan juga feodal-feodal kecil sudah datang. Langkah-langkah sedang diambil untuk menyingkirkan samurai tak bertuan dan berbahaya ke luar kota. Musashi juga seorang ronin, tapi ia sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan ia dibolehkan lewat.
Pengalaman memaksanya memikirkan statusnya sendiri sebagai prajurit tak bertuan yang mengembara, tak terikat ikrar kepada Tokugawa ataupun para saingannya di Osaka. Ketika berangkat ke Sekigahara dan berpihak pada pasukan Osaka melawan kaum Tokugawa, itu soal warisan. Soalnya adalah kesetiaan ayahnya yang tidak pernah berubah semenjak ia mengabdi pada Yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Toyotomi Hideyoshi sudah meninggal dua tahun sebelum pertempuran. Para pendukungnya, yang setia kepada anaknya, membentuk fraksi Osaka. Di Miyamoto, Hideyoshi dianggap pahlawan terbesar. Musashi ingat betapa dahulu ia duduk di dekat perapian, mendengarkan cerita-cerita tentang kegagahan prajurit besar itu semasa ia kanak-kanak. Gambaran ini semakin terbentuk di masa remajanya dan terus merasuk dalam dirinya. Sekarang pun, apabila didesak untuk mengatakan pihak mana yang dipilihnya, barangkali ia akan mengatakan Osaka.
Sejak itu Musashi mulai paham, dan sekarang ia menyadari bahwa tindakan-tindakannya pada umur tujuh belas itu kurang pertimbangan dan tanpa hasil. Untuk orang yang hendak mengabdi kepada tuannya dengan setia, tidaklah cukup hanya dengan melompat membabi-buta ke tengah keributan dan mengacungkan lembing. Ia harus melewati jalan panjang menuju maut.
“Kalau seorang samurai mati sambil mengucapkan doa bagi kemenangan tuannya, berarti dia telah melakukan sesuatu yang indah dan bermakna,” demikian jalan pikiran Musashi sekarang. Tetapi pada waktu itu ia maupun Matahachi tidak memiliki rasa setia. Yang mereka hausi hanyalah kemasyhuran dan
kemuliaan, atau lebih tepat lagi, usaha memperoleh penghidupan tanpa pengorbanan.
Sungguh ganjil dulu mereka dapat berpikir seperti itu. Sesudah belajar dari Takuan bahwa hidup adalah permata yang harus ditimang-timang, Musashi sadar bahwa waktu itu mereka tidak hanya menyia-nyiakan, bahkan juga tanpa pikir panjang mengorbankan milik mereka yang paling berharga. Secara harafiah mereka mempertaruhkan segala yang dipunyai, dengan harapan akan memperoleh gaji tetap yang tak berarti sebagai samurai. Merenungkan masa lalu itu ia heran, bagaimana mungkin ia bertindak demikian tolol.
Musashi melihat bahwa kini ia sudah mendekati Daigo, bagian selatan kota. Karena keringatnya mengucur, ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat.
Dari jauh didengarnya suara berseru-seru, “Tunggu! Tunggu!” Ketika menatap jalan gunung yang curam itu, tampaklah olehnya sosok si peri air kecil Jotaro, yang sedang berlari sekuat-kuatnya. Pandangan mata anak itu menghunjam marah ke mata Musashi.
“Kakak bohong!” seru Jotaro. “Kenapa Kakak lakukan itu!” Napasnya megap-megap karena berlari dan wajahnya merah. Ia berbicara dengan sikap bermusuhan, meski kelihatan hampir menangis.
Musashi hampir tertawa melihat pakaiannya. Anak itu membuang pakaian kerja sehari sebelumnya, dan menggantinya dengan kimono biasa. Tapi kimono itu dua kali lebih kecil dari badannya, hingga roknya hampir tak sampai lututnya dan lengannya hanya sampai siku. Pada pinggangnya tergantung pedang kayu yang lebih panjang dari tinggi badannya, dan di punggungnya tergantung topi anyaman sebesar payung.
Selagi masih berseru-seru kepada Musashi karena sudah meninggalkannya, ia berurai air mata. Maka Musashi mendekapnya dan berusaha menyenangkan hatinya, tapi anak itu terus juga rnelolong. Agaknya karena merasa bahwa di pegunungan tak ada orang, ia dapat melepaskan perasaannya.
Akhirnya Musashi berkata, “Kau senang berlaku seperti bayi cengeng?”
“Saya tak peduli!” sedan Jotaro. “Kakak orang dewasa, tapi Kakak membohongi saya. Kakak bilang mau menerima saya jadi pengikut, tapi Kakak meninggalkan saya. Apa orang dewasa memang suka begitu?”
“Maafkan aku,” kata Musashi.
Permintaan maaf yang sederhana ini mengubah tangis anak itu menjadi rengekan.
“Diam sekarang,” kata Musashi. “Aku tidak bermaksud berbohong padamu, tapi kamu kan masih ada ayah, dan kamu punya majikan? Aku tak bisa membawamu, kecuali kalau majikanmu menyetujui. Kuminta kamu pergi bicara dengannya, bukan? Kurasa waktu itu dia tak akan setuju.”
“Kenapa Kakak tidak tunggu sampai mendapat jawabannya, paling tidak?”
“Itu sebabnya aku minta maaf padamu sekarang. Apa betul kamu membicarakannya dengan dia?”
“Ya.” Jotaro mengendalikan sedu-sedannya, kemudian ia tarik dua lembar daun dari sebuah pohon. Dengan daun itu ia membuang ingusnya.
“Dan apa katanya?”
“Dia bilang saya boleh pergi.”
“Lalu?”
“Dia bilang, tak ada prajurit terhormat atau perguruan yang mau menerima anak seperti saya. Tapi karena samurai di penginapan itu orang lemah, tentunya dia orang yang tepat untuk saya. Katanya, barangkali saja Kakak dapat memakai saya untuk membawakan barang, dan dia memberi saya pedang kayu ini sebagai hadiah perpisahan.”
Musashi tersenyum mendengar jalan pikiran orang itu.
“Sudah itu,” kata anak itu melanjutkan, “saya pergi ke penginapan. Orang tua itu tak ada, jadi saya pinjam saja topinya dari sangkutannya di bawah pinggiran atap.”
“Tapi itu kan papan nama tempat itu? Di situ tertulis ‘Penginapan’.”
“Ah, biar saja. Saya butuh topi, siapa tahu hujan.”
Jelaslah dari sikap Jotaro bahwa segala janji dan sumpah yang diperlukan telah dilaksanakan. Sekarang ia menjadi murid Musashi. Merasakan hal ini, Musashi terpaksa menerima kenyataan bahwa ia kurang-lebih sudah terikat pada anak itu. Tapi terpikir juga olehnya bahwa ini semua demi kebaikan. Memang, ketika ia merenungkan peranannya sendiri dalam peristiwa hilangnya status Tanzaemon, ia menyimpulkan bahwa barangkali ia mesti berterima kasih atas kesempatan yang diperolehnya untuk membentuk masa depan anak ini. Itulah agaknya yang harus dilakukannya.
Sesudah tenang dan tenteram, Jotaro tiba-tiba ingat akan sesuatu dan merogoh kimononya. “Saya hampir lupa. Ada sesuatu untuk Kakak. Ini dia.” ia mengeluarkan sepucuk surat.
Memandang surat itu dengan rasa ingin tahu, Musashi bertanya, “Di mana kamu mendapatkannya?”‘
“Kakak ingat, tadi malam saya bilang ada seorang ronin minum di toko, dan mengajukan banyak pertanyaan.”
“Ya.”
“Waktu saya pulang, dia masih ada di sana. Dia terus juga bertanya tentang Kakak. Dia tukang minum juga¬satu botol penuh sake diminumnya sendiri! Kemudian dia menulis surat ini dan minta saya memberikannya pada Kakak.”
Musashi menelengkan kepala keheranan, lalu membuka meterai surat tersebut. Mula-mula ia melihat bagian bawahnya, dan tahulah ia bahwa surat itu dari Matahachi yang memang dalam keadaan mabuk. Huruf¬hurufnya pun tampak agak mabuk. Membaca gulungan itu, Musashi tercengkeram nostalgia dan kesedihan menjadi satu. Tidak saja karena tulisan itu kalut, tapi juga karena pesan yang disampaikannya pun melantur dan tidak pasti.
Sejak meninggalkanmu di Gunung Ibuki, aku tak lupa desa kita. Dan tak lupa aku pada teman lamaku. Kebetulan kudengar namamu di Perguruan Yoshioka. Waktu itu aku bingung dan tak bisa memutuskan, apa aku harus menjumpaimu. Sekarang aku di toko sake. Aku banyak minum.
Sampai di situ maknanya cukup jelas, tapi mulai dari situ surat itu sukar diikuti maksudnya.
Semenjak berpisah denganmu, aku terkurung dalam sangkar nafsu, dan kemalasan memakan tulangku. Lima tahun lamanya aku menghabiskan waktu dalam keadaan setengah sadar, tanpa melakukan sesuatu. Di ibu kota, kau sekarang terkenal sebagai pemain pedang. Aku minum untukmu! Beberapa orang mengatakan Musashi pengecut, bisanya cuma lari. Beberapa lagi bilang kau pemain pedang yang tak ada tandingannya. Tak peduli aku mana yang benar. Aku cuma senang bahwa pedangmu sudah bikin orang ibu kota bicara tentangmu. Kau cakap. Kau mesti bisa menempuh jalanmu lewat pedang. Tapi kalau aku menoleh ke belakang, aku heran dengan diriku, seperti sekarang ini. Aku memang orang sinting! Bagaimana mungkin orang sial macam aku ini bertemu dengan teman bijaksana seperti kamu tanpa mati karena malu?
Tapi nanti dulu! Hidup ini panjang, dan terlalu dini sekarang untuk dikatakan apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tak ingin bertemu denganmu sekarang, tapi akan tiba waktunya, aku mau bertemu.
Aku berdoa untuk kesehatanmu.
Kemudian menyusul tambahan yang ditulis cepat bagai cakar ayam, yang isinya panjang-lebar, memberitakan kepadanya bahwa Perguruan Yoshioka memandang sangat serius kejadian yang baru lalu itu, dan bahwa mereka sedang mencarinya ke mana-mana; karena itu ia mesti hati-hati dengan tindakannya. Tambahan itu berakhir dengan: Kau tak boleh mati sekarang, karena kau baru mulai menciptakan nama. Kalau nanti aku pun sudah melakukan sesuatu untuk diriku, ingin aku bertemu denganmu dan bicara tentang masa lalu. Jagalah dirimu, tetaplah hidup, supaya kau bisa mengilhami diriku.
Tidak sangsi lagi Matahachi punya maksud baik, tapi ada sesuatu yang tak beres dengan sikapnya. Kenapa ia mesti menyanjung Musashi sedemikian rupa dan berikutnya bicara sedemikian rupa tentang kegagalan¬kegagalan sendiri? “Yah,” Musashi heran, “apa tak bisa dia sekadar menulis bahwa sudah lama waktu berlalu, dan kenapa kita tidak bertemu dan ngobrol sepuasnya?”
“Jo, apa kau menanyakan alamat orang ini?” “Tidak.” “Apa dia sering datang ke sana?” “Tidak, ini yang pertama kali.” Terpikir oleh Musashi bahwa kalau ia tahu di mana Matahachi tinggal, pasti ia akan kembali ke Kyoto
sekarang juga untuk bertemu dengannya. Ingin ia bicara dengan kawan masa kecilnya itu, mencoba menyadarkannya, membangkitkan kembali semangat yang pernah dimilikinya. Karena ia masih menganggap Matahachi sebagai temannya, ingin ia menariknya keluar dari suasana hatinya yang sekarang, yang jelas cenderung menghancurkan diri sendiri. Tentu saja ia juga ingin Matahachi menjelaskan kepada ibunya betapa salah perbuatan ibunya itu.
Kedua orang itu berjalan terus dalam diam. Mereka menuruni Gunung Daigo. Persimpangan Rokujizo sudah tampak di bawah mereka. Mendadak Musashi menoleh kepada anak itu, clan katanya, “Jo, aku mau minta tolong.” “Apa?” “Menyampaikan pesanku.” “Ke mana?” “Kyoto.” “Itu berarti balik kanan dan kembali ke tempat yang baru saja saya tinggalkan.” “Betul. Aku ingin kamu menyampaikan suratku kepada Perguruan Yoshioka di Jalan Shijo.” Dengan kecewa Jotaro menendang batu dengan jari kakinya.
“Tak mau, ya?” tanya Musashi sambil menatap anak itu. Jotaro menggelengkan kepala tak menentu. “Saya tidak keberatan, tapi apa Kakak menyuruh saya ini buat menyingkirkan saya?”
Kecurigaan anak itu membuat Musashi merasa bersalah, karena bukankah ia sendiri yang telah
menghilangkan kepercayaan itu pada orang dewasa? “Tidak!” katanya tegas. “Seorang samurai tidak berbohong. Maafkan aku atas kejadian pagi tadi. Itu cuma kesalahan.”
“Baik, saya pergi.” Mereka masuk warung teh di persimpangan yang dikenal dengan nama Rokuamida, memesan teh, dan makan siang. Kemudian Musashi menulis surat yang dialamatkan kepada Yoshioka Seijuro:
Saya mendapat kabar bahwa Anda dan murid-murid Anda sedang mencari saya. Sekarang saya berada di jalan raya Yamato, karena saya bermaksud mengadakan perjalanan keliling di kawasan Iga dan Ise sekitar setahun lamanya untuk melanjutkan pelajaran saya dalam ilmu pedang. Saya tak ingin mengubah rencana waktu ini, tapi karena saya sama kecewanya dengan Anda berhubung tidak dapat bertemu dengan Anda selama kunjungan saya ke perguruan Anda, maka ingin saya memberitahukan bahwa saya pasti akan kembali ke ibu kota pada bulan pertama atau kedua tahun depan. Dari sekarang sampai waktu itu saya berharap akan dapat memperbaiki teknik saya sebaik¬baiknya. Saya percaya Anda sendiri tak akan mengabaikan latihan Anda. Akan merupakan aib besar jika Perguruan Yoshioka Kempo yang sedang mekar itu harus menderita kekalahan kedua seperti kekalahan di waktu lalu. Sebagai penutup, saya sampaikan harapan penuh hormat agar Anda selalu dalam keadaan sehat walafiat.
Shimmen Miyamoto Musashi Masana.
Surat itu memang sopan, namun jelas nampak keyakinan Musashi pada diri sendiri. Sesudah mengubah alamat surat itu agar tidak hanya mencakup Seijuro saja, melainkan juga semua murid di sekolah itu, ia letakkan kuasnya dan ia serahkan surat itu kepada Jotaro.
“Apa bisa saya masukkan saja surat ini di perguruan itu, lalu pergi?” tanya anak itu.
“Tidak. Kamu mesti menyapa dulu di pintu depan, lalu menyerahkan surat itu langsung kepada pembantu di sana.” “Baik.” “Ada hal lain lagi yang harus kamu lakukan, tapi barangkali agak sukar.” “Apa?” “Apakah kamu dapat menemukan orang yang memberikan surat padamu itu? Namanya Hon’iden
Matahachi. Dia teman lamaku.” “Oh, itu sama sekali tidak sukar.” “Betul? Bagaimana caramu?” “Ah, saya tanyakan saja di semua toko minuman.” Musashi tertawa. “Boleh juga pikiranmu itu. Tapi menurut surat Matahachi itu, dia kenal orang di Perguruan
Yoshioka. Kupikir lebih cepat kalau tanya tentang dia di sana.” “Apa yang harus saya lakukan kalau sudah menemukan dia?” “Aku ingin kamu menyampaikan pesan. Katakan padanya, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru
nanti, tiap pagi aku akan ke jembatan besar di Jalan Gojo menantikan dia. Suruh dia datang menemuiku pada salah satu hari itu.” “Cuma itu?”
“Ya, tapi sampaikan juga kepadanya bahwa aku ingin sekali bertemu dengannya.” “Baik, saya mengerti. Lalu Kakak ada di mana, kalau saya kembali nanti?” “Kuterangkan sekarang. Kalau nanti aku sampai Nara, akan kuatur supaya kamu dapat mengetahui tempatku dengan bertanya di Hozoin. Hozoin adalah kuil terkenal karena permainan lembingnya.”
“Sungguh?”
“Ha, ha! Kamu masih curiga, ya? Jangan kuatir. Kalau aku tidak memenuhi janjiku kali ini, boleh kamu memotong kepalaku.” Musashi masih juga tertawa ketika meninggalkan warung teh. la berangkat menuju Nara, sedangkan Jotaro
ke arah yang berlawanan, ke arah Kyoto. Di persimpangan jalan itu bercampur aduk orang banyak yang mengenakan topi anyaman, burung layang¬layang, dan kuda-kuda meringkik. Sementara melintasi gerombolan orang banyak itu, Jotaro menoleh ke belakang dan melihat Musashi masih berdiri di tempat semula dan memperhatikannya. Mereka tersenyum dari jauh sebagai tanda perpisahan, lalu masing-masing menempuh jalannya sendiri.
bagian 5
Angin Musim Semi
DI tepi Sungai Takase, Akemi mencuci sepotong kain sambil menyanyikan lagu yang dipelajarinya di Kabuki Okuni. Setiap kali ia menarik kain berpola kembang itu, tercipta bayangan bunga ceri yang terbang berputar¬putar.
Angin cinta Menyentak-nyentak lengan kimonoku. Oh, lengan jadi terasa berat! Apakah angin cinta itu berat?
Jotaro berdiri di atas tanggul. Matanya yang lincah mengamati pemandangan, dan ia tersenyum ramah, dan
ia tersenyum ramah. “Bagus nyanyinya, Bi,” serunya. “Apa?” tanya Akemi. Ia memandang anak yang seperti orang cebol mengenakan pedang kayu panjang dan topi anyaman besar itu.
“Kamu siapa?” tanyanya. “Dan apa maksudmu memanggilku Bibi? Aku masih muda!”
“Baik, gadis manis! Bagaimana kalau begitu?”
“Diam kamu!” kata Akemi tertawa. “Kau masih terlalu kecil buat merayu. Lebih baik kau buang ingusmu.”
“Saya cuma mau tanya sedikit.”
“Oh, oh!” teriak Akemi ketakutan. “Kainku!”
“Sebentar saya ambilkan.”
Jotaro mengejar kain itu dari tepi sungai, kemudian memancingnya dari air dengan pedangnya. Paling tidak,
pedang ini bisa dipakai buat keadaan seperti ini, demikian pikirnya. Akemi mengucapkan terima kasih, lalu
bertanya, apa yang hendak ditanyakan Jotaro.
“Apa ada warung teh di sekitar sini yang namanya Yomogi?”
Oh, ya, itu rumahku, di sana itu.”
“Oh, senang sekali aku mendengarnya! Lama sekali aku mencarinya.”
“Kenapa? Kamu datang dari mana?”
“Dari jalan itu,” jawab Jotaro sambil menuding tak jelas.
“Dari mana itu kira-kira?”
Jotaro ragu-ragu. “Aku sendiri tidak begitu yakin.”
Akemi terkikik. “Tak apalah. Tapi kenapa kamu tertarik pada warung teh kami?” “Saya mencari orang yang namanya Hon’iden Matahachi. Orang Perguruan Yoshioka bilang, kalau saya pergi ke Yomogi, saya akan menemukannya.”
“Dia tidak di situ.”
“Bohong!”
“Tidak. Betul. Dulu dia memang tinggal dengan kami, tapi dia sudah pergi beberapa waktu lalu.”
“Ke mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Tapi orang serumahmu pasti ada yang tahu.”
“Tidak. Ibuku juga tidak tahu. Dia minggat.”
“Oh.” Anak itu memerosotkan badannya dan menatap air dengan gelisah. “Sekarang apa yang mesti
kulakukan?” keluhnya.
“Siapa yang menyuruhmu kemari?” “Guruku.” “Siapa gurumu?” “Namanya Miyamoto Musashi.” “Apa kamu membawa surat?” “Tidak,” kata Jotaro sambil menggeleng. “Bagus sekali kamu jadi suruhan! Tak tahu dari mana datang, dan tidak membawa surat pula.” “Tapi saya membawa pesan.” “Pesan apa itu? Barangkali orang itu tak akan kembali lagi, tapi kalau dia kembali akan kusampaikan
pesanmu itu.” “Saya kira tak boleh saya mengatakannya. Ya, kan?” “Jangan tanya aku. Putuskan olehmu sendiri.” “Kalau begitu, barangkali juga boleh. Dia bilang ingin sekali bertemu dengan Matahachi. Dia minta saya
menyampaikan pada Matahachi bahwa dia akan menanti di jembatan besar Jalan Gojo tiap pagi, dari hari
pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti. Matahachi mesti menjumpai dia di sana, di salah satu hari
itu.”
Akemi pecah ketawanya, tak dapat dikendalikan lagi. “Tak pernah aku mendengar pesan seperti itu! Jadi, maksudmu, sekarang dia mengirim pesan, minta Matahachi menjumpainya tahun depan? Gurumu itu mestinya sama anehnya dengan kamu! Ha, Ha!”
Sikap mencemooh tampak pada wajah Jotaro, dan bahunya tegang karena marah. “Apanya yang lucu?”
Akhirnya Akemi berhasil menghentikan tawanya. “Jadi, sekarang kamu marah, ya?”
“Tentu saja. Saya minta tolong dengan sopan, tapi kamu ketawa seperti orang gila.”
“Maaf, aku betul-betul minta maaf. Aku tak akan ketawa lagi. Dan kalau Matahachi kembali, akan
kusampaikan pesan itu kepadanya. “Janji?” “Ya, aku bersumpah.” Sambil menggigit bibir untuk menghindari senyum, Akemi bertanya, “Siapa namanya
tadi? Orang yang menyuruhmu menyampaikan pesan itu?” “Ingatanmu tidak begitu baik rupanya. Namanya Miyamoto Musashi.” “Bagaimana kamu menuliskan Musashi itu?” Jotaro mengambil bilah bambu, lalu mengguratkan dua huruf di
pasir. “Lho, itu huruf-huruf yang bunyinya Takezo!” ucap Akemi. “Namanya bukan Takezo, tapi Musashi.” “Ya, tapi bisa juga dibaca Takezo.” “Kamu keras kepala rupanya, ya?” decap Jotaro sambil melemparkan bilah bambu itu ke sungai. Akemi menatap tajam-tajam huruf-huruf di pasir itu, dan tenggelam dalam renungan. Akhirnya ia
menengadah memandang Jotaro, mengamat-amatinya dari kepala sampai jari kaki, lalu tanyanya dengan
suara lembut,
“Apa ini bukan Musashi dari daerah Yoshino di Mimasaka?”
“Ya. Saya dari Harima. Dia dari Kampung Miyamoto di Provinsi Mimasaka, tak jauh dari sana.”
“Apa orangnya tinggi, kelihatan jantan? Dan apa bagian atas kepalanya tidak dicukur?”
“Ya. Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku ingat dia pernah cerita, ketika masih kecil dia bisulan di puncak kepalanya. Kalau dia mencukurnya seperti biasa dilakukan samurai, akan kelihatan bekas lukanya yang buruk.”
“Pernah cerita? Kapan?”
“Oh, sudah lima tahun lalu.”
“Jadi, kamu sudah begitu lama kenal guru saya?”
Akemi tidak menjawab. Kenangan hari-hari itu membangkitkan kenikmatan di dalam hatinya, hingga bicara pun jadi sukar. Yakin dari berita kecil vang disampaikan anak itu bahwa Musashi adalah Takezo, ia jadi tercengkeram hasrat untuk bertemu Musashi kembali. Ia sudah melihat cara hidup ibunya, dan ia juga sudah melihat Matahachi semakin memburuk perkembangannya. Sejak semula ia lebih menyukai Takezo. Dan semenjak itu semakin yakin ia akan benarnya pilihan atas Takezo. Ia gembira karena masih sendiri. Takezo. Ia begitu lain dari Matahachi.
Sering kali ia mengambil sikap tidak menghanyutkan diri dengan para leaki yang selalu minum di warung tehnya. Ia mencemooh mereka dan terus berpegang teguh pada gambarannya tentang Takezo. Jauh di lubuk hatinya ia selalu bermimpi akan menemukan Takezo kembali. Takezo, hanya Takezo-lah kekasih di dalam hatinya, ketika ia menyanyikan lagu-lagu cinta untuk dirinya sendiri.
Karena tugasnya selesai, Jotaro berkata, “Nah, lebih baik saya pergi sekarang. Kalau kamu bertemu dengan Matahachi, betul-betullah sampaikan apa yang sudah saya katakan tadi.” Ia pergi, menderap sepanjang puncak tanggul sempit itu.
Kereta sapi itu penuh bermuatan karung-karung yang barangkali berisi betas, kacang merah, atau hasil bumi setempat yang lain. Di puncak tumpukan ada tulisan yang menyatakan bahwa barang itu sumbangan kaum Budhis yang setia untuk Kofukuji yang agung di Nara. Jotaro kenal kuil itu karena namanya identik dengan Nara.
Wajah Jotaro menyala menyatakan kegembiraan kanak-kanaknya. Dikejarnya kendaraan itu, lalu naiklah ia ke atasnya. Jika ia menghadap ke belakang, masih ada cukup ruangan untuk duduk. Dan sebagai tambahan kenikmatan, ada pula karung-karung buat bersandar.
Di kiri-kanan jalan, bukit-bukit landai terselimut barisan semak teh yang rapi. Pohon-pohon ceri mulai berbunga, dan para petani sudah membajak gerst-sejenis gandum. Mereka pasti berharap agar tahun itu ladang terhindar dari pijakan para serdadu dan kuda. Perempuan-perempuan berlutut di pinggir kali, mencuci sayur-sayuran. Jalan raya Yamato terasa damai.
“Untung sekali!” pikir Jotaro sambil bersandar dan bersantai. Karena enaknya tempat itu, ia selalu tergoda untuk tidur, tapi ia harus berpikir dua kali. Karena takut kereta akan sampai di Nara selagi ia masih tidur, maka ia merasa bersyukur setiap roda kereta menggilas batu dan berguncang. Itu membantu matanya tetap terbuka. Tak ada yang lebih menyenangkan baginya daripada berjalan terus seperti ini menuju tujuannya.
Di luar sebuah kampung, Jotaro dengan malas meraih dan memetik selembar daun dari pohon kamelia. Diletakkannya daun itu di atas lidahnya dan mulailah ia menyiulkan sebuah lagu.
Kusir kereta menoleh ke belakang, tapi tidak melihat apa-apa. Karena siulan terus juga berbunyi, ia menoleh ke kiri, kemudian ke kanan, dan berkali-kali lagi. Akhirnya dihentikannya kereta, dan pergilah ia memutar ke belakang. Melihat Jotaro, ia marah bukan kepalang. Pukulan tinju yang dijatuhkannya demikian keras, hingga anak itu berteriak kesakitan.
“Apa kerjamu di sini?” gertaknya.
“Tak apa-apa, kan?”
“Enak saja kau!” “Kenapa? Bapak kan tidak menariknya sendiri?” “Oh, bajingan kurang ajar kamu!” seru tukang kereta sambil melontarkan Joraro ke tanah, seperti bola.
Jotaro terpelanting dan kemudian terguling ke pangkal sebatang pohon. Kereta berjalan kembali, bunyi
rodanya gemeretak, seakan-akan menertawakannya. Ketika Jotaro sadar kembali, ia mulai mencari-cari dengan teliti di tanah sekitarnya. Ia sadar tabung bambu berisi jawaban dari Perguruan Yoshioka untuk Musashi hilang. Tadi barang itu Ia gantungkan di leher dengan seutas tali, tapi sekarang lenyap.
Ketika anak itu sangat kebingungan dan sedikit demi sedikit melebarkan wilayah pencariannya, seorang perempuan muda berpakaian perjalanan berhenti memperhatikannya; ia bertanya, “Kamu kehilangan sesuatu, ya?”
Jotaro memandang wajahnya yang sebagian tertutup topi bertepi lebar, mengangguk, dan kembali mencari. “Kamu kehilangan uang?” Karena terlampau asyik, Jotaro tidak begitu memperhatikan pertanyaan itu, dan hanya memperdengarkan
gerutuan tak senang.
“Apa tabung bambu yang panjangnya kira-kira satu kaki dan bertali?” Jotaro tersentak. “Ya! Bagaimana Kakak bisa tahu?” “Jadi, kamulah yang diteriak-teriaki kusir-kusir dekat Mampukuji tadi, karena mengganggu kuda mereka!” “Ah-h-h… ya ” “Waktu kamu ketakutan dan lari, tali itu tentunya putus. Tabung itu jatuh di jalan, dan samurai yang sedang
bicara dengan kusir-kusir tadi itu mengambilnya. Lebih baik kamu kembali menanyakan kepadanya.” “Betul begitu?” “Tentu.” “Terima kasih.” Tapi baru saja ia hendak berlari, perempuan muda itu memanggilnya. “Tunggu! Tak perlu kamu kembali ke
sana. Kulihat samurai itu berjalan kemari. Itu, yang memakai hakama lapangan.” Ia menuding orang itu. Jotaro berhenti dan menanti dengan mata terbuka lebar. Samurai itu seorang lelaki yang mengesankan, berumur sekitar empat puluh tahun. Segala sesuatu yang
ada padanya sedikit lebih besar dan yang biasa-tingginya, jenggotnya yang hitam legam, bahunya yang lebar, dadanya yang padat. la mengenakan kaus kaki kulit dan sandal jerami, dan apabila berjalan langkah¬langkahnya yang mantap seakan memadatkan tanah. Dari pandangan sekilas, Jotaro merasa pasti bahwa orang itu prajurit besar yang mengabdi kepada salah seorang daimyo yang sangat penting, dan ia takut menyapanya.
Untunglah samurai itu yang bicara dulu memanggilnya. “Apa bukan kamu anak nakal yang menjatuhkan tabung bambu ini di depan Mampukuji?” tanvanva. “Oh, betul! Tuan menemukannya!” “Apa tak bisa kamu mengucapkan terima kasih?” “Maaf. Terima kasih, Tuan!” “Aku yakin ada surat penting di dalamnya. Kalau tuanmu menyuruh kamu, jangan kamu berhenti sepanjang
jalan mengganggu kuda, membonceng-bonceng, atau bermalas-malas di pinggir jalan.” “Ya, Tuan. Apa Tuan melihat isinya?” “Sudah sewajarnya, kalau kita menemukan sesuatu, kita memeriksanya dan mengembalikannya kepada
pemiliknya, tapi aku tidak merusak meterai surat itu. Sekarang, sesudah barang itu di tanganmu lagi, coba
periksa dan lihat, apa masih baik keadaannya.” Jotaro membuka tutup tabung dan melihat ke dalamnya. Puas karena surat itu masih ada, digantungkannya tabung itu kembali ke lehernya, dan ia bersumpah tak akan melepaskannya untuk kedua kali.
Perempuan muda itu tampak sama puasnya dengan Jotaro.
“Baik sekali Tuan telah menemukan barang itu,” katanya kepada si samurai, untuk memperbaiki sikap Jotaro yang tidak mampu menyatakan terima kasih dengan baik. Samurai berjenggot itu mulai berjalan lagi bersama mereka berdua. “Apa anak itu bersamamu?” tanyanya
kepada perempuan itu. “Oh, tidak. Belum pernah saya bertemu dengan dia.” Samurai itu tertawa. “Kupikir tadi kamu dan dia pasangan yang agak aneh. Anak itu seperti setan kecil yang
lucu; apalagi ada kata ‘Penginapan’ pada topinya.”
“Barangkali kepolosan kanak-kanaknya itu yang membuat dia begitu menarik. Saya suka dia juga.” Sambil menoleh kepada Jotaro, ia bertanya, “Mau ke mana kamu?” Karena berjalan bersama kedua orang itu, semangat Jotaro naik lagi. “Saya akan pergi ke Nara, ke Kuil
Hozoin.” Sebuah benda panjang sempit yang terbungkus kain brokat emas dan tersimpan dalam obi gadis itu menarik perhatiannya. Sambil memperhatikannya, ia berkata, “Saya lihat Kakak membawa tabung surat juga. Hati-hati, jangan Kakak hilangkan.”
“Tabung surat? Apa maksudmu?” “Itu, dalam obi Kakak.” Gadis itu pun tertawa. “Ini bukan tabung surat, tolol! Ini suling.” “Suling?” Dengan mata menyala-nyala karena rasa ingin tahu, tanpa malu-malu Jotaro melongokkan kepala
ke pinggang gadis itu untuk memeriksa benda tersebut. Tiba-tiba suatu perasaan aneh datang kepadanya.
Ia mundur dan seperti mengamat-amati gadis itu. Anak-anak pun mempunyai selera terhadap kecantikan wanita, atau setidak-tidaknya mengerti secara naluriah, apakah wanita itu murni atau tidak. Jotaro terkesan sekali akan kecantikan gadis itu, dan ia menghargainya. Terasa olehnya sebagai keberuntungan tak terukir bahwa sekarang ia berjalan bersama orang yang begitu molek. Hatinya pun berdentum, dan ia merasa pusing.
“Oh. Suling… Apa Bibi bisa main suling?” tanyanya. Kemudian, karena ingat akan reaksi Akemi terhadap
kata “Bibi” itu, ia cepat-cepat mengubah pertanyaannya, “Siapa nama Kakak?” Gadis itu tertawa dan melemparkan pandangan senang kepada si samurai lewat kepala anak itu. Prajurit yang seperti beruang itu ikut tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang putih kuat di belakang jenggotnya.
“Kamu anak baik, kan? Kalau kamu ingin tahu nama orang lain, yang sopan adalah kamu menyebutkan dulu namamu.” “Nama saya Jotaro.”
Jawaban ini menimbulkan ketawa lebih banyak lagi. “Itu tidak adil!” teriak Jotaro. “Tuan menyuruh saya menyebutkan nama saya, tapi saya belum tahu nama Tuan. Siapa nama Tuan?”
“Namaku Shoda,” kata samurai itu. “Itu tentunya nama keluarga. Lalu nama Tuan yang lain apa?” “Terpaksa aku minta diizinkan hanya menyebut nama itu.” Dengan berani Jotaro menoleh kepada gadis itu, dan katanya, “Sekarang giliran Kakak. Kami sudah
menyebutkan nama kami. Kurang sopan kalau Kakak tidak menyebutkan nama Kakak.” “Nama saya Otsu.” “Otsu?” Jotaro mengulang. la kelihatan puas sebentar, tapi kemudian mengoceh lagi. “Kenapa ke mana¬
mana Kakak menyimpan suling dalam obi?” “Oh, aku butuh suling ini buat mencari makan.” “Jadi, Kakak ini pemain suling?” “Sebetulnya aku tidak yakin apa ada pemain suling profesional, tapi uang yang kudapat dengan main suling
ini bisa buat melakukan perjalanan-perjalanan jauh macam ini. Bolehlah kamu menyebut itu pekerjaanku.”
“Apa musik yang Kakak mainkan seperti musik yang sudah saya dengar di Gion dan Kuil Kamo? Musik
untuk tari-tarian suci?”
“Tidak.”
“Apa musik buat jenis tarian yang lain-misalnya Kabuki?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, musik jenis apa?”
“Oh, lagu-lagu biasa saja.”
Sementara itu si samurai bertanya-tanya dalam hati mengenai pedang kayu panjang milik Jotaro itu. “Apa
yang kamu pasang di pinggangmu itu?” tanyanya. “Apa Tuan tak kenal pedang kayu kalau Tuan melihatnya? Saya pikir Tuan ini samurai.” “Ya, aku memang samurai. Cuma aku heran melihat pedang begitu kamu bawa. Kenapa kamu
membawanya?” “Saya mau belajar ilmu pedang.” “Oh, jadi kamu belajar sekarang? Apa kamu sudah punya guru?” “Punya.” “Apa dia yang akan menerima surat itu?” „ Ya. ” “Kalau dia itu gurumu, tentunya dia ahli yang sejati.” “Dia sama sekali tidak sebaik itu.” “Apa maksudmu?” “Semua orang bilang dia lemah.” “Apa kamu tidak keberatan punya guru lemah?”
“Tidak. Saya juga tidak pandai main pedang, jadi tak ada bedanya.”
Samurai itu hampir tak dapat menahan rasa geli. Mulutnya menggetar, seakan hendak pecah menjadi senyuman, tetapi matanya tetap muram. “Apa kamu sudah mempelajari beberapa teknik?”
“Belum bisa dikatakan begitu. Saya belum lagi belajar apa-apa.”
Tawa samurai itu pun akhirnya pecah berderai-derai, “Bicara dengan kamu ini bikin jalan lebih pendek. Lalu, Nona sendiri man pergi ke mana?”
“Ke Nara, tapi tepatnya Nara bagian mana, saya belum tahu. Ada seorang ronin yang sudah sekitar satu tahun saya cari, dan karena menurut pendengaran saya banyak ronin berkumpul di Nara sekarang ini, saya punya rencana ke sana, walaupun saya akui, tidak banyak berita yang terdengar.”
Jembatan Uji mulai tampak. Di bawah tepi atap sebuah warung teh, seorang tua yang sangat sopan memegang sebuah ketel teh besar. Ia sedang melayani para langganan yang duduk berkeliling di bangku. Melihat Shoda, ia menyalaminya dengan hangat, “Senang sekali bertemu dengan anggota Keluarga Yagyu!” serunya. “Silakan masuk, silakan!”
“Kami mau istirahat sebentar di sini. Bisa sediakan kue manis buat anak ini?”
Jotaro tetap berdiri, sementara teman-temannya duduk. Baginya duduk dan beristirahat itu membosankan. Begitu kue datang, ia segera mengambilnya dan larilah ia ke bukit rendah di belakang warung teh.
Sambil menghirup teh, Otsu bertanya kepada orang tua itu. “Apa Nara masih jauh dari sini?”
“Masih. Orang yang cepat jalannya pun barangkali takkan sampai lebih jauh dari Kizu sebelum matahari terbenam. Anak perempuan seperti Anda mesti menginap di Taga atau Ide.”
Shoda pun segera menyambung. “Nona ini sudah beberapa bulan mencari seseorang. Tapi terpikir juga oleh saya, apa menurut Bapak cukup aman hari-hari ini, kalau seorang wanita muda mengadakan perjalanan sendiri ke Nara, sedangkan dia belum tahu akan menginap di mana?”
Mendengar pertanyaan itu, orang tua itu membelalakkan matanya. “Oh, bahkan bermaksud saja jangan!” katanya pasti. Sambil menoleh ke Otsu, ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, dlan katanya, “Lupakan keinginan itu sama sekali. Kalau Nona yakin ada teman untuk tinggal di sana, itu lain soal. Kalau tidak, Nara bisa jadi tempat yang sangat berbahaya.”
Pemilik warung menuangkan secangkir teh untuk diri sendiri, lalu bercerita kepada mereka mengenai apa yang diketahuinya tentang keadaan Nara. Rupanya kebanyakan orang mendapat kesan bahwa ibu kota lama itu tempat yang tenang, damai, di mana banyak kuil berwarna-warni dan rusarusa jinak-sebuah tempat yang tidak terganggu oleh perang atau kelaparan. Padahal kenyataannya kota itu tidak lagi seperti itu. Sesudah Pertempuran Sekigahara, tak tahulah orang, berapa banyak ronin dari pihak yang kalah telah datang bersembunyi di sana. Kebanyakan anggota partisan Osaka dari Tentara Barat dan Osaka, samurai-samurai yang kini tak punya penghasilan dan sedikit saja punya harapan akan memperoleh pekerjaan lain. Dengan semakin berkembangnya kekuasaan ke-shogun-an Tokugawa dari tahun ke tahun, disangsikan apakah para pelarian itu akan dapat lagi memperoleh penghidupan terang-terangan dengan pedangnya.
Menurut perkiraan kebanyakan orang, 120.000 atau 130.000 orang samurai kehilangan jabatannya. Sebagai pemenang, orang-orang Tokugawa menyita tanah-tanah milik yang seluruhnya menghasilkan 33 juta gantang padi tiap tahun. Walau jika dihitung juga tuan-tuan tanah feodal yang semenjak itu diizinkan menetap kembali dengan gaya yang lebih sederhana, maka setidak-tidaknya ada delapan puluh daimyo dengan penghasilan seluruhnya sekitar dua puluh juta gantang yang telah dicabut hak miliknya. Kalau dihitung untuk setiap lima ratus gantang padi ada tiga samurai yang telah dihentikan dari tempat kerjanya dan dipaksa bersembunyi di berbagai provinsi lain-terhitung keluarga dan pesuruhnya-maka jumlah mereka seluruhnya tidak akan kurang dari 100.000 orang.
Wilayah sekitar Nara dan Gunung Koya penuh kuil, karena itu sukar bagi angkatan bersenjata Tokugawa untuk mengadakan perondaan. Juga, karena merupakan tempat sembunyi yang ideal, para pelarian berbondongbondong bergerak ke sana.
“Misalnya,” kata orang tua itu, “Sanada Yukimura yang terkenal itu bersembunyi di Gunung Kudo, lalu Sengoku Soya kabarnya berada di luar Horyuji, dan Ban Dan’emon di Kofukuji. Banyak lagi yang dapat saya sebutkan.” Semua itu orang-orang yang punya nama, orang-orang yang akan dibunuh dengan seketika kalau mereka menunjukkan diri. Satu-satunya harapan mereka untuk masa depan adalah kalau perang pecah lagi.
Menurut pendapat orang tua itu, keadaan tidak begitu jelek kalau hanya para ronin terkenal itu yang menyembunyikan diri, karena mereka semua sedikit banyak punya prestise dan dapat hidup sendiri dengan keluarganya. Tetapi yang mempersulit keadaan adalah para samurai miskin yang berkeliaran di jalan-jalan belakang kota; keadaan mereka demikian sulit, hingga kalau bisa pedang pun akan mereka jual. Setengahnya lalu mulai berkelahi, berjudi, atau mengganggu ketenteraman, dengan harapan kerusakan yang mereka datangkan itu akan membuat angkatan bersenjata Osaka bangkit dan mengangkat senjata. Kota Nara yang dahulu tenang itu kini berubah menjadi sarang penjahat nekat. Untuk gadis manis seperti Otsu, pergi ke sana sama halnya dengan menuangkan minyak ke kimono dan menceburkan dirt ke dalam api. Tergerak oleh ceritanya sendiri, pemilik warung teh menutup ceritanya dengan minta amat sangat pada Otsu untuk mengubah maksudnya.
Otsu kini merasa ragu-ragu dan duduk diam sebentar. Kalau sekiranya ada sedikit saja petunjuk bahwa Musashi kemungkinan berada di Nara, tak akan ia berpikir panjang mengenai bahayanya. Tapi sayangnya la betul-betul tak punya alasan untuk terus. la sekadar berjalan ke arah Nara-tak ada bedanya dengan pengembaraannya ke berbagai tempat lain, semenjak Musashi meninggalkannya di Jembatan Himeji.
Melihat kebingungan pada wajahnya, Shoda berkata, “Tadi kaubilang namamu Otsu, bukan?”
“Ya.”
“Nah, Otsu, aku memang ragu-ragu mengatakan ini, tapi kenapa tidak kau batalkan saja maksudmu pergi ke Nara itu, dan sebagai gantinya kau pergi denganku ke tanah Koyagyu?” Karena merasa wajib memberikan keterangan lebih banyak tentang dirinya, dan meyakinkan Otsu bahwa maksudnya itu terhormat, ia melanjutkan, “Nama lengkapku Shoda Kizaemon, dan aku mengabdi kepada Keluarga Yagyu. Kebetulan tuanku yang sudah berumur delapan puluh tahun tidak lagi aktif. Dia menderita kebosanan luar biasa. Ketika kau berkata kau hidup dari main suling, terpikir olehku, akan senang sekali dia kalau kamu ada di dekatnya dan sekali-sekali main untuknya. Apa kau suka kerja begitu?”
Orang tua itu segera menimpali dengan pernyataan setuju. “Kamu lebih baik ikut dia,” desaknya. “Barangkali kamu tahu, yang dipertuan dari Koyagyu yang sudah tua itu adalah Yagyu Muneyoshi yang agung. Sesudah pensiun, ia memakai nama Sekishusai. Segera setelah ahli warisnya, Munenori, yaitu Yang Dipertuan dari Tajima, pulang dari Sekigahara, dia langsung dipanggil ke Edo dan ditunjuk menjadi instruktur dalam rumah tangga shogun. Tidak ada keluarga yang lebih besar di Jepang ini daripada Keluarga Yagyu. Diundang ke Koyagyu saja sudah merupakan kehormatan. Jangan sampai tidak diterima tawaran itu!”
Mendengar bahwa Kizaemon adalah pejabat dalam Keluarga Yagyu yang termasyhur itu, Otsu merasa beruntung, karena besar dugaannya, orang itu bukanlah samurai biasa. Namun ia merasa sukar menjawab tawaran itu.
Melihat Otsu masih juga diam, Kizaemon bertanya, “Tak suka kamu ke sana?”
“Bukan itu soalnya. Tak ada tawaran lain yang lebih baik dari itu. Cuma saya takut, nanti permainan saya tidak cukup baik untuk orang seperti Yagyu Muneyoshi.”
“Jangan panjang-panjang kamu memikirkan soal itu. Keluarga Yagyu itu lain sekali dengan daimyo lain. Khususnya Sekishusai, dia ahli upacara minum teh yang berselera sederhana, tenang. Dia akan lebih terganggu oleh sifat malu-malumu itu daripada bayanganmu bahwa kamu kurang terampil.”
Otsu sadar bahwa pergi ke Koyagyu lebih memberikan harapan, berapa pun kecilnya, daripada berkeliaran tanpa tujuan ke Nara. Sejak meninggalnya Yoshioka Kempo, Keluarga Yagyu dianggap banyak orang sebagai eksponen terbesar dalam seni perang di negeri ini. Dapat dipahami kalau para pemain pedang dari seluruh negeri akan datang ke pintu gerbangnya; di situ bahkan akan ada daftar tamu. Alangkah bahagianya kalau dalam daftar itu dapat ia temukan nama Miyamoto Musashi!
Terutama karena memikirkan kemungkinan itu, ia berkata riang, “Kalau menurut pendapat Tuan tak ada halangan apa-apa, saya mau ke sana.”
“Kamu mau? Bagus sekali! Terima kasih sekali…. Hmm, tapi aku ragu, apa seorang perempuan dapat jalan sejauh itu sebelum malam datang. Apa kamu bisa naik kuda?”
“Bisa.” Kizaemon membungkuk ke bawah tepi atap dan mengangkat tangan ke arah jembatan. Tukang kuda yang
menanti di sana datang berlari-lari membawa kuda; Kizaemon menyuruh Otsu naik ke atasnya, sedangkan ia sendiri berjalan di sampingnya. Jotaro melihat mereka dari bukit di belakang warung teh, dan serunya, “Apa sudah mau berangkat? “Ya, kami berangkat.” “Tunggu saya!” Mereka sudah setengah jalan menyeberang Jembatan Uji ketika Jotaro menyusul. Kizaemon bertanya
kepadanya, apa yang dilakukannya tadi, dan Jotaro menjawab bahwa di sebuah semak di bukit itu terdapat
banyak orang sedang main. la tidak tahu nama permainan itu, tapi kelihatannya menarik. Tukang kuda tertawa. “Itu ronin-ronin jembel yang sedang berjudi. Mereka tak punya cukup uang untuk makan, karena itu mereka memikat musafir untuk main dengan mereka dan mengakali segala milik mereka. Memalukan!”
“Oh, jadi mereka itu berjudi untuk mata pencaharian?” tanya Kizaemon. “Yang berjudi itu termasuk yang baik-baik,” jawab tukang kuda. “Banyak lagi lainnya yang menjadi tukang
culik dan peras. Mereka begitu kasar, sampai tak ada orang yang dapat berbuat sesuatu untuk menghentikan mereka.” “Kenapa Yang Dipertuan daerah ini tidak menangkap atau mengusir mereka?” “Jumlah mereka terlalu banyak-jauh lebih banyak daripada yang dapat dihadapi. Kalau semua ronin dari
Kawachi, Yamato, dan Kii bergabung jadi satu, mereka bisa lebih kuat daripada pasukan Yang Dipertuan sendiri.” “Saya dengar Koga juga penuh dengan mereka itu.”
“Ya. Mereka datang dari Tsutsui. Mereka bertekad bertahan terus sampai perang berikutnya.” “Bapak ini begitu terus bicaranya tentang ronin,” sela Jotaro, “tapi di antara mereka tentunya ada orang-orang yang baik.”
“Betul,” kata Kizaemon menyetujui. “Guru saya seorang ronin!” Kizaemon tertawa, dan katanya, “Maka itu kamu membela mereka. Cukup setia juga kamu…. Kaubilang
akan pergi ke Hozoin tadi, ya? Apa di sana gurumu tinggal?”
“Saya tidak tahu betul, tapi dia bilang, kalau saya pergi ke sana, orang akan menunjukkan pada saya, di mana dia.” “Apa gaya gurumu itu?” “Saya tidak tahu.” “Kamu muridnya, tapi kamu tak tahu gayanya?” “Tuan,” sela tukang kuda, “ilmu pedang itu sekarang cuma iseng-iseng. Semua orang mempelajarinya. Kita
dapat bertemu dengan lima atau sepuluh orang dari mereka yang berkeliaran di jalan ini setiap hari. Itu semua karena jauh lebih banyak ronin yang mengajar dibanding dahulu.” “Itu cuma sebagian sebabnya.” “Mereka tertarik, karena entah dari mana mereka itu mendengar, bahwa jika orang cakap bermain pedang,
daimyo akan berlomba-lomba menyewanya dengan bayaran empat atau lima ribu gantang setahun.”
“Jalan pintas untuk menjadi kaya, ya?”
“Tepat. Mengerikan kalau kita memikirkannya. Coba, anak sekecil ini pun sudah pegang pedang kayu. Barangkali dia mengira bahwa dia hanya harus belajar memukul orang dengan pedang itu untuk menjadi manusia sejati. Kita melihat banyak orang macam itu, dan sedihnya, akhir-akhirnya kebanyakan mereka itu akan kelaparan.”
Kemarahan Jotaro sekilas bangkit. “Apa ini? Coba, kalau berani mengatakan begitu!”
“Coba dengar! Masih seperti kutu membawa cungkil gigi, tapi sudah membayang-kan dirinya prajurit besar.”
Kizaemon tertawa. “Hei, Jotaro, jangan marah, nanti kamu kehilangan tabung bambu lagi.”
“Tidak lagi! Tak usah menguatirkan saya!”
Mereka berjalan terus. Jotaro merajuk diam. Yang lain-lain memandang matahari yang pelan-pelan tenggelam. Akhirnya mereka sampai di pangkalan perahu tambangan di Sungai Kizu.
“Di sini kita berpisah. Nah, sebentar lagi gelap, jadi lebih baik kamu buru-buru. Dan jangan buang waktu di jalan.”
“Otsu?” kata Jotaro, yang mengira Otsu akan pergi bersamanya.
“O ya, aku lupa bilang tadi,” kata Otsu. “Aku sudah memutuskan pergi dengan Tuan ini ke puri di Koyagyu.” Jotaro tampak terenyak. “Jaga baik-baik dirimu,” kata Otsu tersenyum.
“Mestinya sudah sejak tadi aku tahu bakal sendiri lagi.” Ia memungut sebuah batu dan dilemparkannya batu itu bersilantar di permukaan air.
“Tapi kita akan bertemu lagi hari-hari ini. Rumahmu jalanan, sedangkan aku sendiri banyak jalan.”
Jotaro kelihatan tak ingin bergerak. “Tapi siapa yang Kakak cari itu?” canyanya. “Orang macam apa?”
Tanpa menjawab, Otsu melambaikan selamat berpisah.
Jotaro berlari sepanjang tepi sungai, lalu melompat ke tengah perahu tambangan kecil. Ketika perahu yang menjadi merah warnanya oleh matahari petang itu sudah setengah jalan menyeberangi sungai, ia menoleh ke belakang. Masih dapat ia mengenali kuda Otsu dan Kizaemon di jalan Kuil Kasagi. Mereka berada di lembah, di sisi bagian sungai yang tiba-tiba menyempit, dan sedikit demi sedikit ditelan oleh awal bayang¬bayang gunung.
Hozoin
MURID seni bela diri umumnya mengenal Hozoin. Yang berani menganggap dirinya murid serius, tapi menganggap tempat itu sama saja seperti kuil-kuil yang lain, sudah cukup untuk dianggap penipu. Tempat itu juga terkenal di antara penduduk setempat, sekalipun aneh juga bahwa hanya sedikit orang yang kenal Gudang Shosoin yang justru lebih penting karena koleksi benda-benda seni kuno yang tak ternilai harganya.
Kuil itu terletak di Bukit Abura, di tengah hutan kriptomeria yang luas dan lebat. Pendeknya, itulah tempat tinggal jin-jin. Di sini pula terdapat sisa-sisa kebesaran zaman Nara-reruntuhan sebuah kuil, yaitu Kuil Ganrin’in, dan reruntuhan rumah mandi umum raksasa yang dibangun oleh Ratu Komyo untuk orang miskin. Tetapi sekarang yang tertinggal dari semua itu hanyalah serakan batu pondasi yang mengintip dari balik lumut dan rerumputan.
Musashi tidak mengalami kesulitan mencari arah Bukit Abura, tapi begitu sampai di sana ia berdiri memandang ke sekitar dengan kagumnya, karena di sana terdapat kuil-kuil lain yang bersarang di tengah hutan. Pohon-pohon kriptomeria telah menempuh musim dingin dengan selamat, dan kini bermandikan hujan awal musim semi. Warna daun-daunnya sedang gelap-gelapnya. Bersamaan dengan tibanya senja, di atas pepohonan itu tampak lekuk-lekuk feminin Gunung Kasuga. Gunung-gunung di kejauhan masih terang oleh sinar matahari.
Sekalipun di antara kuil-kuil itu tak ada yang mirip dengan yang dicarinya, Musashi mendatangi setiap gerbang untuk memeriksa papan namanya. Pikiran Musashi demikian penuh oleh Hozoin, hingga ketika ia melihat papan nama Kuil Ozoin, mula-mula ia salah baca, karena hanya huruf pertama, yaitu “0”, yang berlainan. Walaupun kemudian ia segera menyadari kesalahannya, pergi juga ia ke dalam untuk melihat. Ozoin rupanya milik Sekte Nichiren. Sepanjang pengetahuannya, Hozoin adalah kuil Zen yang tak ada hubungan-nya dengan Nichiren.
Selagi ia berdiri di sana, seorang biarawan muda yang baru kembali ke Ozoin melewatinya dan menatapnya penuh curiga.
Musashi melepas topi, dan katanya, “Boleh saya bertanya?”
“Tentang apa?”
“Kuil ini namanya Ozoin?”
“Ya, seperti yang tertulis di papan itu.”
“Kata orang, Hozoin ada di Bukit Abura. Betul?”
“Di belakang kuil ini. Anda mau ke sana buat bertanding?”
“Ya.”
“Kalau begitu dengarkan nasihat saya: Lupakan saja.”
“Kenapa?”
“Berbahaya. Saya bisa mengerti kalau orang yang dilahirkan pincang pergi ke situ untuk diluruskan kakinya, tapi saya tak melihat alasannya kalau orang yang anggota badannya baik dan lurus mesti pergi ke sana untuk dikutungi.”
Biarawan itu tegap tubuhnya, agak lain daripada biarawan Nichiren biasa. Menurut biarawan itu, jumlah calon prajurit telah mencapai angka yang oleh Hozoin pun sudah dianggap mengganggu. Kuil itu tempat suci untuk cahaya Hukum Sang Budha, seperti ditunjukkan oleh namanya. Perhatian utamanya terletak pada agama. Seni bela diri hanya sampingan, demikianlah kira-kira.
Kakuzenbo In’ei, kepala biara yang dulu, sering kali mengunjungi Yagyu Muneyoshi. Karena hubungannya dengan Muneyoshi dan dengan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise, teman Muneyoshi, kepala biara itu tertarik pada seni bela diri dan akhirnya mulai belajar ilmu pedang sebagai pelengah waktu. Lalu ia mengembangkan cara-cara baru dalam menggunakan lembing, dan sepengetahuan Musashi inilah yang menjadi cikal-bakal Gaya Hozoin yang sangat dihargai orang.
In’ei sekarang berumur delapan puluh empat tahun dan sudah sepenuhnya pikun. Ia hampir tidak pernah menjumpai siapa pun. Pada waktu menerima tamu pun ia sudah tidak dapat melakukan percakapan. Ia hanya duduk dan membuat gerakan-gerakan yang tak dapat dimengerti dengan mulutnya yang sudah ompong. Kelihatannya ia tidak dapat menangkap apa pun yang dikatakan orang kepadanya. Soal lembing sudah dilupakannya sama sekali.
“Jadi, begitulah,” simpul biarawan itu sesudah menjelaskan semuanya, “tak banyak faedahnya Anda pergi ke sana. Anda barangkali tak dapat bertemu dengan gurunya, dan kalaupun Anda bertemu dengannya, tak dapat Anda mempelajari sesuatu.” Sikap kasar orang itu menunjukkan bahwa ia ingin Musashi lekas pergi.
Walaupun sadar dianggap enteng oleh orang itu, Musashi mendesak terus. “Saya sudah mendengar tentang In’ei, dan saya tahu bahwa yang Anda katakan itu benar. Tapi saya mendengar juga bahwa seorang pendeta yang namanya Inshun telah mengambil alih kedudukannya dan menggantikannya. Orang bilang dia masih belajar, tapi dia sudah paham semua rahasia Gaya Hozoin. Menurut yang saya dengar, walaupun dia sudah punya banyak murid, tidak pernah dia menolak memberikan pelajaran pada siapa pun yang datang kepadanya.”
“Oh, Inshun,” kata biarawan itu dengan nada menghina. “Tak ada apa-apanya desas-desus itu. Inshun sebetulnya murid kepala biara Ozoin. Sesudah In’ei mulai memperlihatkan tanda-tanda ketuaan, kepala biara kami merasa sayang jika reputasi Hozoin tersia-sia begitu saja. Karena itu dia mengajarkan pada Inshun rahasia-rahasia permainan lembing yang pernah dia pelajari dari In’ei, dan kemudian dia atur pula agar Inshun menjadi kepala biara.”
“Oh, begitu,” kata Musashi.
“Tapi Anda masih juga ingin ke sana?”
“Yah, sudah sejauh ini saya pergi….”
“Tentu.”
“Tadi Anda bilang tempatnya di belakang ini. Lebih baik memutar ke kiri atau ke kanan?”
“Tak perlu memutar. Jauh lebih cepat jalan terus lewat kuil kami ini. Takkan salah lagi.”
Sesudah mengucapkan terima kasih kepadanya, Musashi berjalan melewati dapur kuil itu ke belakang pekarangan. Di situ terdapat gudang kayu, gudang empleng kacang, dan kebun sayur-sayuran yang luasnya sekitar satu ekar, mirip sekali dengan wilayah di sekitar rumah seorang petani kaya. Di sebelah kebun itu ia melihat Hozoin.
Selagi berjalan di tanah lunak di antara baris-baris lobak, rades, dan bawang, ia lihat di satu sisi seorang tua yang sedang mencangkuli sayursayuran. Sambil membungkuk mencangkul, ia memandang baik-baik lempengan cangkulnya. Yang kelihatan oleh Musashi pada orang itu hanyalah sepasang alisnya yang putih saiju. Kecuali dentang cangkul yang mengenai batu-batuan, keadaan betul-betul sepi.
Musashi menyimpulkan bahwa orang tua itu biarawan Ozoin. la hampir berbicara, tapi orang tua itu rupanya demikian tenggelam dalam pekerjaannya, hingga rasanya kurang sopan mengganggunya.
Namun ketika Musashi berlalu tanpa mengucapkan sesuatu, tiba-tiba sadarlah ia bahwa orang itu sedang menatap kakinya dari sudut matanya. Walaupun orang itu tidak bergerak ataupun berbicara, Musashi merasa diserang dengan kekuatan yang mengerikan-suatu kekuatan yang seperti kilat membelah awan. Ini bukan mimpi di siang bolong. Ia benar-benar merasakan kekuatan misterius itu menghunjam tubuhnya, dan ia meloncat ketakutan ke udara. Seluruh tubuhnya terasa panas, seolah-olah baru saja lolos dari pukulan pedang atau tombak yang mematikan.
Ketika ia menoleh, dilihatnya punggung yang bungkuk itu masih menghadapnya dan cangkul itu masih juga meneruskan iramanya yang tak terputus-putus. “Apa arti semua ini?” demikian ia terheran-heran, kagum oleh kekuatan yang baru saja menyerangnya.
Akhirnya sampailah ia di depan Hozoin, namun rasa ingin tahunya masih belum reda. Sambil menanti munculnya seorang pembantu, ia berpikir, “Inshun mestinya masih muda. Biarawan muda itu tadi mengatakan In’ei sudah pikun dan sudah lupa sama sekali akan tombak, tapi aku ingin tahu…” Kejadian di halaman itu masih terus menghantui pikirannya.
Ia berseru dua kali lagi, tapi jawaban satu-satunya yang diperolehnya adalah gema dari pepohonan di sekitar. Melihat ada sebuah gong besar di samping pintu masuk, ia memukulnya. Hampir seketika itu juga teriakan jawaban terdengar dari dalam kuil.
Seorang pendeta datang ke pintu. Orangnya besar dan berotot. Sekiranya ia salah seorang prajurit pendeta Gunung Hiei, pasti ia komandan batalion. Karena dari hari ke hari terbiasa menerima kunjungan orang-orang seperti Musashi, ia hanya melontarkan pandangan selintas, dan katanya, “Anda shugyosha?”
“Ya.”
“Ada keperluan apa ke sini?”
“Saya ingin bertemu dengan Guru.”
Pendeta itu berkata, “Silakan masuk,” dan memberikan isyarat ke kanan pintu masuk; maksudnya secara tak langsung adalah supaya Musashi membasuh kakinya dulu. Di situ terdapat sebuah tong penuh air yang disalurkan lewat pipa bambu. Di kanan-kirinya terdapat sekitar sepuluh pasang sandal yang usang dan kotor.
Musashi mengikuti pendeta itu menyusuri lorong yang lebar dan gelap, dan dipersilakan masuk ke kamar tunggu. Di situ ia diminta menanti. Bau dupa mengambang di udara. Lewat jendela ia dapat melihat daun¬daun lebar pohon pisang. Selain sikap kasar si raksasa yang telah mengantarnya masuk itu, menurut penglihatan Musashi tak ada suatu pun yang menunjukkan bahwa ada yang luar biasa di kuil yang satu ini.
Ketika muncul kembali, pendeta itu menyerahkan daftar tamu dan kotak tinta kepadanya. Katanya, “Silakan tulis nama Anda, di mana Anda pernah belajar, dan gaya apa yang Anda gunakan.” Bicaranya seolah-olah sedang mengajar seorang anak.
Judul buku tamu itu: “Daftar Orang-orang yang Mengunjungi Kuil Ini untuk Belajar Pramugara Hozoin.” Musashi membuka buku itu dan memperhatikan nama-nama di dalamnya. Masing-masing ditulis di bawah tanggal berkunjungnya seorang samurai atau murid. Menuruti gaya masukan yang terakhir, Musashi menuliskan keterangan yang diminta, tanpa menyebutkan nama gurunya.
Pendeta itu tentu saja sangat tertarik pada hal ini.
Jawaban Musashi sama dengan yang pernah diberikannya di Perguruan Yoshioka. la belajar menggunakan pentung dengan pimpinan ayahnya, “tapi tidak terlalu rajin mempelajarinya.” Karena ada maksud belajar dengan sungguh-sungguh, maka ia berguru pada segala yang ada di alam semesta ini, demikian juga contoh-contoh yang diberikan oleh para pendahulu di negeri ini. Ia menutupnya dengan mengatakan, “Saya masih dalam taraf belajar.”
“Mm. Anda barangkali sudah tahu, tapi semenjak zaman guru kami yang pertama, Hozoin terkenal di mana¬mana karena permainan tombaknya. Pertarungan di sini berlangsung kasar, dan tidak ada perkecualian. Sebelum Anda melanjutkan, barangkali lebih baik Anda membaca dulu apa yang tertulis di awal buku tamu itu.”
Musashi mengambil buku itu, membukanya, dan membaca persyaratan yang tadi ia lewati. Bunyinya: Karena saya datang kemari dengan tujuan belajar, maka saya membebaskan kuil dari segala tanggung jawab, manakala saya mendapat cedera badaniah ataupun terbunuh.
“Saya setuju,” kata Musashi sambil menyeringai sedikit—memang itu sudah sewajarnya bagi orang yang berniat menjadi prajurit.
“Baiklah. Silakan.”
Dojo itu besar sekali. Para biarawan tentunya telah mengorbankan sebuah ruangan kuliah atau bangunan besar lain untuk membuat dojo itu. Belum pernah Musashi melihat tiang-tiang yang demikian besar kelilingnya, dan ia juga melihat bekas-bekas cat, kertas emas, dan cat dasar Cina putih pada kerangka lubang angin. Semua itu hal-hal yang tidak biasa ditemukan dalam ruang latihan biasa.
Ia bukan tamu satu-satunya di situ. Lebih dari sepuluh calon prajurit duduk di kamar tunggu. Di situ ada juga murid pendeta yang sama jumlahnya. Disamping itu ada beberapa samurai yang hanya menjadi peninjau. Semuanya dengan saksama memperhatikan dua pemain tombak yang sedang melakukan latihan pertandingan. Tak seorang pun melontarkan pandangan kepada Musashi, ketika ia duduk di sebuah sudut.
Menurut papan pemberitahuan di dinding, jika seseorang ingin bertarung dengan tombak bertulang, tantangan akan diterima, tetapi para murid yang kini duduk di lantai itu hanya menggunakan tongkat latihan dari kayu ek panjang. Namun pukulan di sini bisa terasa sangat sakit, bahkan bisa juga mematikan.
Salah seorang yang berlatih terlontar ke udara dan berjalan terpincangpincang kembali ke tempat duduk. Kalah. Musashi melihat pahanya membengkak sampai sebesar batang pohon. Orang itu tak dapat lagi duduk, dan menjatuhkan diri dengan susah payah pada sebelah lututnya. Kakinya yang luka dijulurkannya ke depan.
“Berikutnya!” terdengar panggilan orang yang duduk di lantai, seorang pendeta yang sikapnya angkuh luar biasa. Lengan jubahnya diikatkan ke belakang, dan seluruh tubuhnya-kaki, tangan, bahu, dan bahkan dahinya seolah terdiri atas otot-otot menggelembung. Tongkat kayu ek yang dipegangnya tegak lurus itu panjangnya paling tidak sepuluh kaki.
Satu orang yang agaknya salah seorang dari yang datang hari itu menyam-butnya. la mengikat lengan kimononya dengan tali kulit dan berjalan menuju tempat latihan. Pendeta berdiri tak bergerak ketika si penantang pergi ke dinding, memilih tombak-kampak, dan datang menghadapinya. Mereka membungkuk seperti kebiasaan, tapi baru saja mereka selesai menghormat, si pendeta sudah memperdengarkan raungan anjing liar, dan bersamaan dengan itu ia menjatuhkan tongkatnya sekuat-kuatnya ke tengkorak si penantang.
“Berikutnya,” serunya, kembali pada posisi semula.
Selesai sudah. Penantangnya sudah kalah. Ia belum mati, tapi mengangkat kepala dari lantai pun ia sudah tak sanggup. Dua murid si pendeta keluar dan menyeretnya pergi pada lengan dan pinggang kimononya. Di lantai yang ditinggalkannya berceceran ludah bercampur darah.
“Berikutnya!” seru si pendeta lagi, tetap dengan wajah masam.
Semula Musashi mengira orang itu Inshun, guru generasi kedua, tapi orang-orang yang duduk di sekitarnya mengatakan bukan. Orang itu Agon, salah seorang murid senior yang dikenal sebagai “Tujuh Pilar Hozoin”. Mereka bilang Inshun sendiri tidak pernah bertarung, karena para penantang selalu dapat dijatuhkan oleh salah seorang dari mereka ini.
“Tidak ada lagi?” lenguh Agon yang memegang tombak latihannya mendatar.
Pramugara berotot itu pun mencocokkan daftar tamu dengan wajah orang-orang yang sedang menanti. Ia menunjuk seorang di antaranya.
“Tidak, jangan hari ini…. Saya datang lagi nanti.”
“Bagaimana kalau Anda?”
“Kalau Anda tidak keberatan.”
“Apa pula itu artinya?”
“Artinya, saya sedia bertarung.”
Semua mata menatap Musashi ketika ia bangkit. Agon yang congkak itu telah menyingkir dari lantai dan waktu itu sedang bercakap-cakap dan tertawa bersemangat dengan sekelompok pendeta, tapi ketika penantang baru muncul, pandangan bosan tampak kembali pada wajahnya. Katanya malas, “Gantikan saya.”
“Teruskan saja,” desak mereka. “Tinggal seorang lagi.”
Agon mengalah, lalu berjalan acuh tak acuh ke tengah lantai. Ia mencengkeram tongkat kayu hitam mengilat itu, yang agaknya sudah dikenalnya betul. Dengan cepat ia mengambil sikap menyerang, membelakangi Musashi, dan menyerang ke jurusan lain.
“Yah-h-h!” Sambil memekik seperti burung garuda yang sedang berang, ia menderas ke arah dinding belakang dan dengan bengis menghunjamkan tombaknya ke bagian dinding yang dipergunakan untuk berlatih. Papan-papan di situ baru saja diganti, tapi sekalipun kayu baru itu liar, lembing Agon yang tidak bermata logam itu langsung melesak tembus.
“Yow-w-w!” Pekik kemenangannya menggema seram di seluruh ruangan ketika ia mencabut tombaknya dan mulai menari, bukan berjalan, kembali mendekati Musashi. Uap mengepul dari tubuhnya yang terselimut Ia mengambil posisi agak jauh. Ia menatap penantang terakhir itu dengan galak. Musashi maju bersenjatakan pedang kayu. Ia berdiri diam, kelihatan sedikit heran.
“Siap!” teriak Agon.
Terdengar tawa kering di luar jendela. Satu suara mengatakan, “Agon, jangan tolol! Lihat, orang bebal, lihat! Bukan papan yang kamu hadapi.”
Tanpa mengendurkan sikapnya, Agon memandang ke jendela. “Siapa kamu?” lenguhnya.
Tawa itu terdengar terus, kemudian tampak di ambang jendela kepala mengilat dan sepasang alis seputih salju, seakan-akan keduanya itu digantungkan di sana oleh seorang pedagang barang antik.
“Tak baik buatmu, Agon. Kali ini tidak. Biarkan saja orang itu menanti sampai lusa, jika Inshun sudah kembali.”
Musashi yang juga menoleh ke jendela itu, melihat bahwa wajah di jendela itu wajah orang tua yang tadi dilihatnya ketika menuju Hozoin. Tapi baru saja ia sadar, kepala itu sudah lenyap.
Peringatan orang tua itu hanya berpengaruh pada genggaman senjata Agon yang agak mengendur, tapi begitu matanya bertatap pandang dengan mata Musashi, ia menyumpah ke arah jendela yang kini kosong dan melupakan nasihat yang diterimanya.
Sementara Agon mengetatkan genggaman tombaknya, Musashi bertanya untuk basa-basi, “Anda siap?”
Basa-basi ini malah membikin Agon meradang. Otot-ototnya seperti baja, dan bila ia melompat, lompatannya bukan main ringannya. Kelihatan seolah kedua kakinya berada di lantai dan di udara sekaligus, menggeletar seperti cahaya bulan di atas gelombang samudra.
Musashi berdiri diam sepenuhnya, atau begitulah kelihatannya. Tak ada yang aneh pada sikapnya. Ia memegang pedang lurus ke depan dengan kedua belah tangannya, tapi karena hadannya sedikit lebih kecil dari lawannya dan tidak begitu berotot, ia tampak hampir biasa saja. Perbedaan terbesar adalah pada matanya. Mata Musashi setajam mata burung, sedangkan biji matanya seperti batu koral terang bergurat darah.
Agon menggelengkan kepala, barangkali untuk mengibaskan keringat yang mengucur dari dahinya, barangkali untuk mengibaskan kata-kara peringatan orang tua itu. Apakah kata-kata itu masih menempel? Apakah ia mencoba membuangnya ke luar pikirannya? Apa pun alasannya, ia tampak terganggu sekali. Berulang-ulang ia mengganti posisi dalam usaha memancing Musashi, tetapi Musashi tetap tak bergerak.
Sergapan yang dilancarkan Agon diiringi pekik tajam. Dalam sedetik yang menentukan itu Musashi menangkis dan sekaligus melancarkan serangan balasan.
“Apa yang terjadi?”
Para rekan pendeta Agon bergegas maju ke depan dan mengerumuninya dalam bentuk lingkaran hitam. Dalam suasana kacau-balau itu, beberapa orang menginjak tombak latihan dan jatuh tertelungkup.
Seorang pendeta bangkit berdiri, tangan dan dadanya berlumuran darah, dan serunya, “Obat! Ambil obat! Cepat!”
“Kalian tidak membutuhkan obat lagi.” Itu ucapan orang tua yang masuk dari pintu depan dan cepat menilai keadaan. Wajahnya masam. “Kalau obat dapat menyelamatkannya, tidak akan aku mencoba menghentikannya tadi. Goblok!”
Tak seorang pun memperhatikan Musashi. Karena tak ada lagi yang bisa dikerjakannya, Musashi berjalan ke pintu depan dan mengenakan sandalnya. Orang tua itu mengikutinya.
“Hai!” katanya.
Sambil menoleh Musashi menjawab, “Ya?”
“Saya mau bicara sedikit dengan Anda. Masuklah lagi.”
Ia mengantar Musashi ke sebuah kamar di belakang ruangan latihan, sebuah sel sederhana persegi empat. Pintu merupakan satu-satunya jalan ke luar.
Sesudah mereka duduk, orang tua itu berkata, “Sebetulnya lebih layak kalau Kepala Biara datang menyambut Anda, tapi dia sedang dalam perjalanan, dan baru kembali dalam dua atau tiga hari ini. Jadi, saya bertindak atas namanya.”
“Oh, Bapak sungguh baik hati,” kata Musashi membungkukkan kepala. “Saya berterima kasih atas latihan baik yang saya terima hari ini, tapi saya minta maaf atas terjadinya musibah tadi….”
“Kenapa? Hal seperti itu memang kadang-kadang terjadi. Anda harus siap menerimanya sebelum Anda mulai bertarung. Tak usah itu menggelisahkan Anda.”
“Bagaimana luka Agon?” “Dia terbunuh seketika,” kata orang tua itu. Embusan napasnya terasa seperti angin dingin pada wajah Musashi.
“Dia mati?” Lalu kepada diri sendiri Musashi berkata, “Jadi, terjadi lagi sekarang.” Sekali lagi pedang kayunya membunuh orang. Ia memejamkan mata. Dalam hati ia menyerukan nama Sang Budha, seperti yang biasa dilakukannya dahulu dalam kejadian serupa.
“Anak muda!” “Ya, Pak.” “Apa namamu Miyamoto Musashi?” “Betul.” “Siapa gurumu belajar seni bela diri?” “Saya tak pernah punya guru dalam arti biasa. Ayah saya mengajari saya menggunakan pentung ketika
saya masih kecil. Sejak itu saya mengambil sejumlah pelajaran dari samurai yang lebih tua di berbagai provinsi. Saya juga menghabiskan sejumlah waktu mengitari pedesaan, belajar di gunung-gunung dan sungai-sungai. Saya menganggap semua itu guru juga.”
“Kamu rupanya memiliki sikap yang tepat. Tapi kamu begitu kuat! Terlalu amat kuat!”
Merasa sedang dipuji, wajah Musashi memerah, dan katanya, “Oh, tidak! Saya masih belum matang. Saya masih selalu berbuat kesalahan.” “Bukan itu yang kumaksud. Kekuatanmu itulah yang menjadi masalah. Kau mesti mengendalikannya, mesti
lebih lemah.” “Bagaimana?” tanya Musashi bingung. “Kau ingat, tadi kau lewat kebun sayur tempat aku bekerja?” “Ya.” “Ketika melihatku, kau melompat menyingkir, bukan?” “Ya.” “Kenapa begitu?” “Wah, saya bayangkan waktu itu Bapak bisa menggunakan cangkul Bapak sebagai senjata dan
menghantam kaki saya. Juga, walaupun perhatian Bapak kelihatannya terpusat ke tanah, seluruh tubuh saya terasa terpaku oleh pandangan Bapak. Saya merasa ada hawa pembunuhan dalam pandangan Bapak, seakan-akan Bapak sedang mencari tempat lemah dalam tubuh saya untuk diserang.”
Orang tua itu tertawa. “Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Kau masih lima puluh kaki jauhnya dariku, tapi sudah kutangkap apa yang dinamakan ‘hawa pembunuh’ itu di udara. Kurasakan itu di ujung cangkulku. Demikian kuat semangat juang dan ambisimu, sehingga muncul dalam setiap langkah yang kau ambil. Waktu itu aku merasa harus siap mempertahankan diri.
“Kalau yang lewat itu cuma salah seorang dari petani desa ini, aku sendiri tak akan lebih dari seorang tua yang sedang mengurus sayur-sayuran. Benar, kau merasakan sikap permusuhanku, tapi itu hanya pantulan sikapmu sendiri. ”
Jadi, Musashi benar, ketika ia menduga orang itu bukan orang biasa, sekalipun mereka belum bersapa kata. Sekarang ia merasakan pendeta itu guru, dan ia sendiri murid. Sikapnya kepada orang tua bungkuk itu menjadi hormat.
“Saya mengucapkan terima kasih atas pelajaran yang Bapak berikan. Boleh saya menanyakan nama Bapak dan kedudukan Bapak di kuil ini?”
“Oh, aku bukan dari Kuil Hozoin. Aku Kepala Biara Ozoin. Namaku Nikkan.”
“Oh.”
“Aku teman lama In’ei, dan karena dia mempelajari seni tombak, kuputuskan untuk belajar bersamanya. Tapi belakangan aku punya pikiran lain. Sekarang tidak pernah lagi kusentuh senjata itu.”
“Jadi, Inshun yang jadi kepala biara ini murid Bapak.”
“Ya, dapat dianggap demikian. Tapi kaum pendeta tidak seharusnya menggunakan senjata, dan rasanya sayang bahwa Hozoin jadi terkenal justru karena seni bela dirinya, bukan karena semangat keagamaannya. Namun ada yang merasa sayang sekali kalau Gaya Hozoin itu lenyap. Karena itu aku mengajarkannya kepada Inshun. Tak ada orang lain lagi yang kuajari.”
“Kalau demikian, saya ingin tahu, apakah Bapak mengizinkan saya tinggal di kuil Bapak sampai Inshun kembali?”
“Apa kau berniat menantangnya?”
“Yah, selama saya berada di sini, ingin saya melihat bagaimana guru terkemuka itu memainkan tombak.”
Nikkan menggeleng mencela.
“Itu buang-buang waktu. Tak ada yang bisa dipelajari di sini.”
“Apa betul demikian?”
“Sudah kaulihat seni tombak Hozoin tadi, ketika menghadapi Agon. Apa lagi yang perlu disaksikan? Kalau ingin belajar lebih banyak, perhatikan aku. Pandang mataku.”
Nikkan menaikkan bahunya, memajukan sedikit kepalanya, dan menatap Musashi. Matanya seolah-olah melompat dari ceruknya. Sementara Musashi ganti memandangnya, biji mata Nikkan bersinar, mula-mula dengan nyala warna merah merjan, lalu berangsur-angsur berubah menjadi biru langit yang bening. Cahaya mata itu membakar dan menumpulkan pikiran Musashi. Ia melengos. Tawa Nikkan pun berderai-derai seperti derak papan sekering tulang.
Ia baru mengendurkan pandangannya ketika seorang pendeta muda masuk dan berbisik kepadanya. “Bawa sini,” perintahnya.
Segera pendeta muda itu kembali membawa baki dan wadah nasi dari kayu yang bulat bentuknya. Nikkan menyendok nasi dari wadah itu dan memasukkannya ke dalam mangkuk, lalu memberikannya kepada Musashi.
“Kusuguhkan nasi, teh, dan acar. Sudah biasa bagi Hozoin menyuguhkannya pada semua orang yang datang kemari untuk belajar, karena itu tak usah merasa telah merepotkan. Mereka membuat acarnya sendiri yang disebut acar Hozoin, yaitu mentimun yang diisi kemangi dan cabe merah. Kau akan merasakannya enak juga.”
Sementara Musashi mengambil sumpit, ia merasa mata Nikkan yang tajam itu terarah lagi kepadanya. Tapi kali ini tak dapat ia menyatakan apakah daya tembus mata itu berasal dari dalam diri si pendeta, ataukah jawaban atas sesuatu yang ia keluarkan sendiri. Baru ia menggigit acar itu, ada perasaan mencengkamnya bahwa tinju Takuan hendak menghantamnya lagi, atau barangkali tombak di dekat ambang pintu itu yang hendak melayang ke arahnya.
Ketika ia sudah menghabiskan semangkuk nasi dengan teh dan dua acar, Nikkan bertanya, “Mau lagi?”
“Tidak, terima kasih. Sudah cukup banyak.”
“Bagaimana rasa acarnya?”
“Enak sekali, terima kasih.”
Sesudah pergi pun sengatan cabe merah di lidah itulah yang terutama mengingatkan Musashi kepada rasa acar itu. Dan itu tidak merupakan satusatunya sengatan yang dirasakannya, karena ia meninggalkan tempat itu dengan keyakinan bahwa bagaimanapun ia sudah kalah. “Aku kalah,” demikian gerutunya ketika ia berjalan pelan-pelan melintasi rumpun kriptomeria. “Aku sudah diungguli!” Dalam cahaya remang-remang terlihat olehnya bayang-bayang sekejap melintasi jalannya. Bayang-bayang segerombolan kecil rusa yang ketakutan oleh langkah kakinya.
“Kalau bicara soal kekuatan fisik, aku menang, tapi aku tinggalkan tempat itu dengan perasaan kalah. Kenapa? Apa aku menang secara lahir, hanya untuk kalah secara batin?”
Tiba-tiba, karena ingat Jotaro, ia memutar langkah kembali menuju Hozoin, di mana lampu-lampu masih menyala. Ia menyebutkan namanya dan pendeta yang berjaga di pintu melongokkan kepala, dan katanya sambil lalu, “Ada apa? Ada yang lupa?”
“Ya. Besok atau lusa akan datang satu orang mencari saya kemari. Kalau dia datang, saya mohon disampaikan kepadanya bahwa saya tinggal di daerah Kolam Sarusawa. Dia harus menanyakan saya di rumah-rumah penginapan yang ada di sana.”
“Baik.”
Karena jawaban itu acuh tak acuh, Musashi merasa perlu menambahkan, “Yang datang itu anak lelaki. Namanya Jotaro. Dia masih kecil, karena itu tolong disampaikan pesan ini baik-baik kepadanya.”
Musashi kembali menempuh jalan yang tadi ditempuhnya sambil menggerutu, “Ini bukti aku kalah. Aku bahkan lupa meninggalkan pesan untuk Jotaro. Aku dikalahkan oleh kepala biara tua itu!” Kekesalan Musashi berlanjut terus. Walaupun ia sudah menang melawan Agon, namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya, yaitu kementahan yang dirasakannya di hadapan Nikkan. Bagaimana mungkin ia menjadi pemain pedang besar, yang terbesar dari semuanya? Itulah persoalan yang terus merundungnya siang dan malam. Pertemuan hari ini telah membuatnya betul-betul murung.
Selama sekitar dua puluh tahun terakhir ini, wilayah antara Kolam Sarusawa dan bagian hilir Sungai Sai telah dibangun dengan mantapnya. Di sana sekarang terdapat bangunan campur aduk, rumah-rumah penginapan, dan toko-toko baru. Baru-baru ini Okubo Nagayasu datang memerintah kota itu atas nama Keluarga Tokugawa dan mendirikan kantor-kantor pemerintahan di dekat sana. Di tengah kota berdiri bangunan milik seorang Cina yang kabarnya adalah turunan Lin Ho-ching. Usahanya berjualan bakpau maju pesat, dan waktu itu sedang berlangsung perluasan tokonya ke arah Kolam Sarusawa.
Musashi berhenti di tengah hutan lampu di daerah paling ramai. Ia bingung di mana mesti tinggal. Ada banyak rumah penginapan di sana, tapi ia harus hati-hati mengeluarkan uang. Lagi pula ia ingin memilih tempat yang tidak terlampau jauh dari jalan yang banyak ditempuh orang, agar Jotaro dapat menemukannya dengan mudah.
Ia baru saja makan di kuil, tapi ketika tercium olehnya bau bakpau itu, ia merasa lapar lagi. Ia masuk toko itu, duduk dan memesan satu piring penuh. Ketika pesanan datang, ia melihat bahwa nama Lin dicetakkan di bagian bawah kue. Berlainan dengan acar pedas di Hozoin, rasa kue itu dapat dinikmatinya dengan senang.
Gadis yang menuangkan tehnya bertanya sopan, “Di mana Tuan mau menginap malam ini?”
Karena tidak kenal daerah itu, Musashi segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menjelaskan keadaan dirinya dan sekalian minta nasihatnya. Gadis itu mengatakan bahwa salah seorang sanak pemilik toko itu mempunyai rumah pondokan. Di situ Musashi akan diterima dengan senang hati. Tanpa menantikan jawaban Musashi lagi, gadis itu sudah menderap pergi. Ia kembali lagi bersama seorang wanita yang masih agak muda. Alisnya yang dicukur menunjukkan bahwa ia sudah menikah; agaknya ia istri pemilik toko.
Rumah pondokan itu terdapat di lorong yang tenang, tidak jauh dari restoran. Agaknya itu tempat tinggal biasa yang kadang-kadang menerima tamu. Si nyonya tak beralis itu mengantar Musashi, mengetuk pintu pelanpelan, kemudian menoleh kepada Musashi, dan katanya pelan, “Ini rumah kakak perempuan saya, jadi tak usah susah-susah memberi tip atau apa pun.”
Pelayan keluar dari rumah, dan kedua orang itu saling berbisik beberapa waktu lamanya. Pelayan merasa puas dan mengantar Musashi ke lantai kedua.
Kamar dan perlengkapan kamar itu terlalu baik untuk sebuah rumah penginapan biasa, hingga Musashi merasa sedikit kurang enak. Ia heran, kenapa rumah sebaik itu menerima tumpangan. Maka ia bertanya kepada pelayan, tapi yang ditanya hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Sesudah makan, Musashi mandi dan pergi tidur, tapi persoalan itu masih terus terpikir olehnya, sampai ketika ia hampir tertidur.
Pagi berikutnya ia mengatakan kepada pelayan itu, “Akan ada orang datang mencari saya. Apa keberatan kalau saya menginap sehari-dua hari sampai dia datang?”
“Tentu saja tidak,” jawab pelayan tanpa bertanya lagi kepada nyonya rumah, yang segera datang sendiri berkunjung.
Nyonya rumah itu wanita berpakaian apik berumur sekitar tiga puluh tahun, berkulit indah, dan lembut. Ketika Musashi mencoba memuaskan rasa ingin tahunya dan bertanya kenapa nyonya itu menerima orang menginap, ia menjawab sambil tertawa, “Kalau mau terus terang, saya janda-suami saya dulu aktor No, namanya Kanze. Saya takut kalau tak ada lelaki di rumah ini. Maklum, banyak ronin yang kurang berpendidikan di sekitar sini.” Ia selanjutnya menjelaskan bahwa jalan-jalan penuh toko minuman dan pelacur. Banyak di antara samurai miskin tidak cukup puas dengan barang-barang hiburan itu. Mereka memeras keterangan dari pemudapemuda setempat dan menyerang rumah-rumah yang tak ada lelakinya. Operasi ini mereka namakan “kunjungan pada para janda.”
“Dengan kata lain,” kata Musashi, “Nyonya menerima orang seperti saya ini supaya saya dapat bertindak selaku pengawal, betul?”
“Yah,” kata nyonya itu tersenyum, “seperti saya katakan tadi, di rumah ini tak ada lelaki. Saya harap Tuan dapat merasa bebas tinggal di sini, selama Tuan suka.”
“Saya mengerti sepenuhnya. Saya harap Nyonya merasa aman, selama saya di sini. Hanya ada satu hal yang saya minta. Saya menantikan seorang tamu, karena itu apakah Nyonya dapat memasang tanda yang memuat nama saya di luar gerbang sana?”
Janda itu sama sekali tidak keberatan mengumumkan kepada orang banyak, bahwa ada lelaki di rumahnya, maka dengan patuhnya ia menuliskan nama “Miyamoto Musashi” pada secarik kertas yang kemudian ditempelkannya di tiang gerbang.
Jotaro tidak muncul hari itu, tapi hari berikutnya Musashi menerima kunjungan rombongan tiga samurai. Ketiganya memaksa masuk, walaupun diprotes oleh pelayan. Mereka langsung naik dan masuk ke kamar Musashi. Musashi segera tahu bahwa mereka sebagian dari orang-orang yang hadir di Hozoin ketika la membunuh Agon. Duduk di lantai mengitarinya, seolah-olah mereka telah mengenalnya sepanjang hidupnya, mereka mencurahkan kata-kata jilatan.
“Tak pernah saya melihat yang seperti itu dalam hidup saya,” kata yang seorang. “Saya yakin belum pernah hal semacam itu terjadi di Hozoin. Bayangkan saja! Seorang tamu tak dikenal datang, dan begitu saja dia langsung melumpuhkan salah satu dari Tujuh Pilar. Dan bukan orang biasa yang dilumpuhkannya, tapi Agon yang mengerikan itu sendiri. Sekali bentak saja dia sudah muntah darah. Jarang ada pemandangan seperti itu!”
Yang lain melanjutkan dengan nada yang sama. “Semua orang yang kami kenal bicara tentang itu. Semua ronin bertanya-tanya, siapa orang yang namanya Miyamoto Musashi ini. Hari itu hari buruk buat nama baik Hozoin.”
“Ya, Anda tentu pemain pedang terbesar di negeri ini!”
“Dan masih begitu muda lagi!”
“Tak sangsi lagi. Dan Anda akan menjadi lebih baik lagi nantinya.”
“Kalau Anda tidak keberatan, saya ingin bertanya, kenapa dengan kecakapan Anda yang demikian Anda hanya jadi ronin? Suatu pemborosan bakat bahwa Anda tidak mengabdi kepada seorang daimyo!”
Mereka berhenti agak lama hanya waktu menghirup teh dan melahap kue dengan rakusnya, hingga remah¬remahnya berceceran ke pangkuan mereka dan ke lantai.
Malu mendapat pujian demikian melimpah, Musashi mengalihkan pandangan dari kanan ke kiri, dan sebaliknya. Untuk sementara ia mendengarkan saja dengan muka tenang, karena menurut pikirnya lambat atau cepat semangat mereka itu akan menurun. Tapi ketika mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda akan mengubah pokok pembicaraan, ia mengambil prakarsa dengan menanyakan nama mereka.
“O, maaf, nama saya Yamazoe Dampachi. Saya mengabdi kepada Yang Dipertuan Gamo,” kata yang pertama.
Orang yang di sebelahnya berkata, “Saya Otomo Banryu. Saya menguasai Gaya Bokuden, dan saya banyak punya rencana untuk masa depan.”
“Saya Yasukawa Yasubei,” kata orang ketiga sambil tertawa kecil. “Saya belum pernah jadi apa-apa kecuali ronin, seperti ayah saya.”
Musashi heran, kenapa mereka membuang waktu untuk omongan yang tak ada artinya itu. Jelaslah ia tidak akan mengetahui sesuatu kalau ia tidak bertanya, karena itu ketika pembicaraan berhenti lagi, ia berkata, “Saya kira Anda sekalian datang kemari karena ada urusan dengan saya.”
Mereka pura-pura terkejut mendengar apa yang dikemukakan Musashi, tapi segera mereka membenarkan bahwa mereka memang datang untuk apa yang mereka anggap sebagai misi yang sangat penting. Sambil maju cepat ke depan, Yasubei berkata, “Memang kami ada urusan dengan Anda. Begini, kami punya rencana mengadakan ‘hiburan’ umum di kaki Gunung Kasuga, dan kami ingin bicara dengan Anda soal itu. Ini bukan permainan atau hal lain serupa itu. Kami ingin mengadakan serangkaian pertandingan yang akan memberikan pelajaran pada rakyat tentang seni bela diri, dan sekaligus memberikan kesempatan pada mereka untuk bertaruh.”
Ia melanjutkan bahwa arena sudah didirikan, dan prospeknya kelihatannya baik sekali. Namun mereka merasa butuh orang lain, karena kalau hanya mereka bertiga, samurai yang betul-betul kuat kemungkinan akan datang dan mengalahkan mereka semua. Itu berarti uang yang mereka peroleh dengan susah payah akan hilang percuma. Mereka menyimpulkan, Musashi yang paling tepat bagi mereka. Kalau ia mau menggabungkan diri dengan mereka, mereka tidak hanya akan membagi dengannya keuntungan mereka, melainkan juga membayar makanan dan penginapan Musashi selama pertandingan berlangsung. Dengan cara itu, ia dapat dengan mudah memperoleh uang cepat, untuk perjalanannya yang akan datang.
Musashi senang juga mendengar bujukan mereka itu, tapi segera kemudian ia lelah, dan tukasnya, “Kalau itu yang Anda sekalian inginkan, tak ada yang mesti dibicarakan. Saya tidak tertarik.”
“Kenapa tidak?” tanya Dampachi. “Kenapa tidak tertarik?”
Watak muda Musashi meletus. “Saya bukan penjudi!” katanya berang. “Dan saya makan dengan sumpit, bukan dengan pedang saya!”
“Apa itu?” mereka bertiga memprotes, karena terhina oleh sindiran Musashi. “Apa maksud Anda dengan itu?”
“Jadi, kalian tak mengerti, orang-orang sinting? Saya ini samurai, dan saya bermaksud tetap menjadi samurai, biarpun saya akan kelaparan karena itu. Sekarang enyah dari sini!”
Mulut salah seorang dari orang-orang itu memerot menjadi mata kayu yang keji, sedangkan seorang lagi menjadi merah karena marah, dan serunya, “Kamu pasti akan menyesal!”
Mereka tahu benar bahwa mereka bertiga jadi satu pun bukan tandingan Musashi. Tapi untuk menyelamatkan muka, mereka tinggalkan tempat itu dengan ribut, memberengut, dan berusaha keras menimbulkan kesan bahwa urusan dengan Musashi belum selesai.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, bulan tampak putih dan sedikit berawan. Nyonya rumah yang masih muda berusaha menyuguhkan makanan yang enak dan sake yang baik mutunya kepada Musashi, karena ia merasa bebas dari kekuatiran selama Musashi diam di sana. Musashi makan di bawah bersama keluarga, dan dalam acara makan itu ia minum sampai setengah mabuk.
Kembali ke kamarnya, ia menggeletakkan diri di lantai. Segera kemudian pikirannya pun terhenti pada Nikkan.
“Sungguh memalukan,” katanya pada diri sendiri.
Musuh-musuh yang telah dikalahkannya, bahkan juga yang sampai terbunuh atau setengah terbunuh, selalu menghilang dari pikirannya seperti buih. Tapi ia tidak dapat melupakan siapa pun yang berhasil lebih baik daripada dirinya, atau dalam hal ini siapa pun yang rasanya mengunggulinya. Orang-orang seperti itu terus menetap dalam pikirannya seperti roh yang hidup, dan ia selalu berpikir kapan dapat mengalahkan mereka.
“Memalukan!” ulangnya.
Ia mencengkeram rambutnya dan memeras otak bagaimana caranya mengungguli Nikkan, bagaimana caranya menghadapi pandangan yang menakutkan itu tanpa mengelak. Dua hari lamanya persoalan itu menggerogotinya. Bukan ia ingin mencelakakan Nikkan, tapi ia sangat kecewa terhadap dirinya sendiri.
“Apa betul diriku kurang baik?” tanyanya sedih kepada diri sendiri. Karena selama ini belajar ilmu pedang tanpa guru, ia kurang bisa menilai kekuatannya sendiri secara objektif. Tak bisa tidak, ia ragu, seperti yang dipancarkan pendeta tua itu.
Nikkan mengatakan ia terlampau kuat, sehingga harus belajar menjadi lebih lemah. Inilah yang membuat pikirannya terus bekerja keras, karena ia tidak dapat menduga maknanya. Apakah kekuatan itu bukan dasar terpenting seorang prajurit? Apakah bukan itu yang membuat seorang prajurit unggul atas prajurit lain? Bagaimana bisa Nikkan menyebutnya sebagai suatu kekurangan?
“Barangkali,” pikir Musashi, “bangsat tua itu mempermainkan diriku. Barangkali dia memandang mudanya umurku, dan memilih bicara berteka-teki untuk membingungkan aku dan menyenangkan hatinya sendiri. Dan sesudah aku pergi, dia tertawa senang. Mungkin saja.”
Pada waktu-waktu seperti ini, Musashi bertanya-tanya apakah bijaksana membaca segala macam buku di Puri Himeji itu. Sebelum itu tak pernah ia susah-susah memikirkan persoalan, tapi sekarang, apabila sesuatu terjadi, tidak dapat ia beristirahat sebelum ditemukannya penjelasan yang memuaskan kecerdasannya. Dahulu ia hanya bertindak atas dasar naluri, sekarang ia harus memahami setiap hal-hal kecil, sebelum dapat menerimanya. Dan ini tidak hanya mengenai seni pedang, tapi juga mengenai cara memandang manusia dan masyarakat.
Benar, kenekatan di dalam dirinya sudah dijinakkan. Namun Nikkan mengatakan ia “terlalu kuat”. Musashi menyimpulkan bahwa yang dibicarakan Nikkan bukan kekuatan fisik, melainkan semangat juang liar yang menyertai kelahirannya. Apakah pendeta itu benar-benar dapat memahaminya, ataukah hanya menduga¬duga?
“Pengetahuan yang berasal dari buku itu tidak ada gunanya buat prajurit,” demikian ia meyakinkan dirinya kembali. “Kalau orang terlalu menggubris apa yang dipikirkan atau dilakukan orang lain, bisa lambat tindakannya. Sekiranya Nikkan sejenak saja menutup mata dan salah langkah, dia pasti ambruk dan jatuh berantakan!”
Bunyi langkah kaki di tangga mengganggu renungannya. Pembantu muncul diiringi Jotaro yang kulitnya jadi lebih hitam lagi oleh debu yang menempel pada badannya selama perjalanan, tapi rambutnya yang seperti rambut peri itu putih oleh debu. Musashi benar-benar senang mendapat hiburan dengan datangnya teman kecilnya itu. Ia menyambut si anak dengan tangan terbuka.
Anak itu menjatuhkan diri ke lantai dan langsung meluruskan kedua kakinya yang kotor. “Oh, capeknya!” keluhnya.
“Apa sulit menemukan aku?”
“Sulit! Hampir saya putus asa. Sudah di seluruh tempat saya mencari!”
“Apa kamu tidak bertanya di Hozoin?”
“Ya, tapi mereka bilang tidak kenal Kakak sama sekali.”
“Oh, mereka kenal betul!” Mata Musashi menyipit. “Bahkan khusus kukatakan pada mereka, kamu bisa menemukan aku dekat Kolam Sarusawa. Tapi baiklah, aku senang kamu sudah melakukan semua itu.”
“Ini jawaban dari Perguruan Yoshioka itu.” Jotaro menyerahkan tabung bambu itu kepada Musashi. “Saya tak dapat menemukan Hon’iden Matahachi, jadi saya minta orang di rumahnya menyampaikan pesan kepadanya.”
“Bagus. Sekarang pergi mandi sana. Nanti mereka kasih kamu makan di bawah.”
Musashi mengeluarkan surat itu dari tabungnya dan membacanya. Isinya menyatakan bahwa Seijuro mengharapkan berlangsungnya “pertandingan kedua”. Jika Musashi tidak muncul seperti dijanjikan tahun berikutnya, dapat disimpulkan bahwa ia sudah kehilangan nyali. Kalau itu terjadi, Seijuro pasti akan menjadikan Musashi bahan tertawaan di Kyoto. Omongan besar ini disampaikan dengan tulisan tangan kaku yang agaknya dibuat orang lain, bukan Seijuro.
Musashi merobek-robek surat itu menjadi sobekan-sobekan kecil dan membakarnya, maka remah-remah hangus itu pun berterbangan ke udara, seperti kupu-kupu hitam.
Seijuro bicara tentang “pertandingan”, padahal jelas yang terjadi akan lebih lagi. Yang akan terjadi adalah pertarungan sampai mati. Tahun depan, akibat surat yang menghina ini, siapakah di antara kedua jago itu yang akan menjadi abu?
Musashi menganggap sudah sewajarnya seorang prajurit harus puas dengan hidup dari hari ke hari, dan tak pernah tahu di waktu pagi apakah ia akan terus hidup menyaksikan jatuhnya malam. Namun demikian, agak resah juga ia memikirkan bahwa tahun yang akan datang kemungkinan ia akan benar-benar mati. Begitu banyak hal yang masih ingin ia lakukan. Pertama-tama ia menyimpan keinginan menyala-nyala untuk menjadi pemain pedang besar. Dan bukan itu saja. Sebegitu jauh, demikian pikirnya, ia belum melakukan satu pun dari hal-hal yang biasa dilakukan orang dalam perjalanan hidupnya.
Pada umurnya sekarang, sebetulnya terlalu pagi ia punya pikiran ingin memiliki pegawai sendiri dalam jumlah besar, yang akan menuntun kudakudanya atau membawa burung elangnya, seperti Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Ia ingin juga memiliki rumah yang pantas, dengan istri yang baik dan pelayan-pelayan setia. Ia ingin menjadi tuan yang baik dan menikmati kehangatan dan kesenangan hidup keluarga. Dan tentu saja, sebelum hidup menetap, diam-diam ingin juga ia mengalami percintaan menyala¬nyala. Selama beberapa tahun berpikir semata-mata tentang Jalan Samurai, ia tetap perjaka, dan itu bukan tidak wajar. Namun terpesona juga ia melihat sebagian wanita di jalan-jalan Kyoto dan Nara. Dan yang menyenangkannya itu bukan hanya nilai-nilai keindahan mereka; mereka juga menggetarkannya secara fisik.
Pikirannya pun melayang kepada Otsu. Sekalipun gadis itu sekarang merupakan makhluk masa lalu yang jauh, ia merasa sangat terikat kepadanya. Beberapa kali sudah, ketika ia kesepian atau sedang gundah, kenangan samar-samar saja tentang gadis itu sudah dapat menyegarkannya kembali.
Tak lama kemudian angan-angan itu buyar. Jotaro datang kembali, sudah mandi, kenyang, dan bangga karena sudah melaksanakan kewajiban dengan berhasil. Tak lama sesudah bersila dan mengatur tangan di pangkuan, ia pun menyerah kepada lelah. Segera saja ia tertidur dengan nyenyaknya, mulutnya ternganga. Musashi menidurkannya ke tempat tidur.
Pagi tiba. Anak itu bangun bersama burung layang-layang. Musashi pun bangun pagi, karena ia bermaksud meneruskan perjalanan.
Ketika ia sedang berpakaian, janda itu muncul, dan katanya dengan nada menyesali, “Anda rupanya buru¬buru akan pergi.” la membawa pakaian, yang kemudian diberikannya kepada Musashi. “Saya jahit pakaian ini untuk Anda sebagai hadiah perpisahan-sebuah kimono dengan jubah pendek. Tak tahulah saya, apa Anda menyukainya, tapi saya harap Anda memakainya.”
Musashi memandang heran. Pakaian itu terlalu mahal baginya, padahal ia tinggal di situ hanya selama dua hari. Ia mencoba menolaknya, tetapi janda itu berkeras. “Tidak, Anda mesti menerimanya. Dan lagi pakaian ini tidak begitu luar biasa. Saya banyak punya kimono lama dan pakaian No peninggalan suami saya. Barang-barang itu tak ada gunanya buat saya. Lebih baik kalau Anda memilikinya. Saya harap betul, Anda tidak menolak. Saya sudah mengubahnya, supaya cocok untuk Anda, jadi kalau Anda tidak menerimanya, akan sia-sia saja kerja saya.”
Ia pergi ke belakang Musashi dan mengangkat kimono itu supaya Musashi dapat memasukkan tangannya. Selagi mengenakan kimono itu, tahulah Musashi bahwa bahan sutranya dari mutu yang baik sekali, dan ia merasa lebih malu lagi dari sebelumnya. Jubah tak berlengan itu bagus sekali. Tentunya diimpor dari Cina. Kelimannya dari kain brokat emas, lapisannya dari kain krep sutra, dan tali pengikatnya terbuat dari kulit dicelup warna ungu.
“Kelihatan cocok sekali untuk Anda!” ucap janda itu.
Jotaro tampak iri, dan tiba-tiba katanya kepada janda itu, “Saya sendiri mau Ibu kasih apa?”
Janda itu tertawa. “Seharusnya kamu sudah senang mendapat kesempatan mengikuti tuanmu yang gagah.”
“Ah,” gerutu Jotaro, “siapa yang mau kimono lama?”
“Apa ada yang sungguh kamu inginkan?”
Anak itu lari ke dinding kamar tunggu dan mencopot topeng No dari sangkutannya, katanya, “Ya, ini!” Ia mendambakan barang itu sejak pertama kali mengamatinya malam sebelumnya, dan kini ia membelaikan topeng itu dengan mesranya ke pipi.
Musashi kagum akan selera bagus anak itu. Ia sendiri merasa topeng itu mengagumkan buatannya. Sukar diketahui siapa pembuatnya, tapi umurnya tentulah sudah dua atau tiga abad, dan jelas pernah dipakai dalam pertunjukan-pertunjukan No. Wajah yang diukir sangat halus itu wajah jin perempuan. Tetapi kalau biasanya topeng jenis ini dicat titik-titik warna biru mengerikan, maka topeng ini adalah wajah gadis cantik dan anggun.
Yang ganjil padanya hanyalah karena salah satu ujung mulutnya melengkung tajam ke atas, mengerikan sekali. Jelaslah bukan wajah khayalan yang diciptakan sang seniman, melainkan potret perempuan gila yang nyata dan hidup, yang cantik namun penuh pesona.
“Oh, itu tak boleh kamu miliki,” kata janda itu tegas, berusaha merebut topeng tersebut.
Jotaro menghindari jangkauan janda itu dan mengenakan topeng itu pada kepalanya dan menari sekeliling kamar sambil berseru-seru melawan, “Apa guna topeng ini buat Ibu? Sudah jadi milik saya sekarang. Akan saya ambil!”
Musashi berusaha juga menangkapnya, karena ia merasa kaget dan malu oleh kelakuan muridnya, tetapi Jotaro memasukkan topeng itu ke dalam kimononya, lalu turun tangga, dikejar janda itu. Janda itu memang tertawa, sama sekali tidak marah, tapi jelas kelihatan ia tidak ingin berpisah dengan topeng itu.
Sebentar kemudian Jotaro kembali naik tangga pelan-pelan. Musashi duduk menghadap pintu, siap mencacinya sehebat-hebatnya. Tapi ketika masuk, anak itu berteriak, “Booo!” dan menyorongkan topeng itu ke hadapannya. Musashi sangat terkejut; otot-ototnya menjadi tegang dan lututnya beralih-alih letak tanpa disadarinya.
Ia tidak tahu kenapa kelakar Jotaro menimbulkan akibat sedemikian padanya. Tapi ketika mengawasi topeng itu dalam cahaya remang-remang, mulailah ia memahaminya. Si pengukir telah memasukkan sesuatu yang sifatnya setani dalam ciptaannya. Senyuman bulan sabit yang disertai lengkungan ke atas pada bagian kiri wajah putih itu sungguh angker, mengandung setan.
“Kalau mau berangkat, mari kita berangkat,” kata Jotaro.
Tetap duduk, Musashi berkaca, “Kenapa belum kamu kembalikan topeng itu? Buat apa kamu barang macam itu?”
“Tapi dia bilang, boleh saya ambil! Dia berikan pada saya.”
“Bohong! Turun sana, dan kembalikan padanya.”
“Tapi dia sudah memberikannya pada saya! Waktu mau saya kembalikan, dia bilang, kalau saya memang ingin sekali, boleh saya memilikinya. Cuma dia pesan supaya saya merawatnya baik-baik. Tadi saya janji akan merawatnya.”
“Mau kuapakan kamu!” Musashi merasa malu, karena pertama ia menerima kimono itu, dan kemudian topeng yang agaknya sangat dihargai janda itu. Ingin ia berbuat sesuatu untuk membalasnya, tetapi janda itu rupaya tidak butuh uang-apalagi uang dalam jumlah kecil yang dapat disisihkan Musashi-sedangkan di antara miliknya yang tak seberapa itu tak ada yang sesuai untuk hadiah. Ia turun tangga untuk meminta maaf atas kekurangajaran Jotaro dan mencoba mengembalikan topeng itu.
Namun janda itu mengatakan, “Tidak. Makin saya timbang, makin terpikir oleh saya bahwa saya lebih bahagia tanpa topeng itu. Lagi pula dia ingin sekali memilikinya…. Tak usahlah begitu keras terhadap dia.”
Musashi menduga topeng itu memiliki makna tertentu bagi si janda, maka ia sekali lagi berusaha mengembalikannya, tetapi kali itu Jotaro sudah mengenakan sandal jeraminya dan sudah berada di luar, menanti dekat gerbang dengan pandangan puas. Karena sudah ingin pergi, Musashi mengalah pada kebaikan janda itu dan menerima hadiahnya. Kata janda muda itu, ia lebih berat melihat Musashi pergi daripada kehilangan topeng itu, dan beberapa kali ia minta kepada Musashi untuk datang kembali dan tinggal di sana, kapan saja ia berada di Nara.
Musashi sedang mengikatkan tali sandalnya ketika istri pembuat kue bakpau itu datang berlari-lari. “Oh,” kata nyonya itu kehabisan napas, “saya senang sekali Anda belum berangkat. Anda tak bisa pergi sekarang. Saya minta Anda balik ke atas. Mengerikan!” Suara perempuan itu gemetar, seakan-akan ada setan yang menakutkan hendak menyerangnya.
Musashi selesai mengikatkan sandalnya, dan tenang-tenang mengangkat kepala, “Ada apa? Apa yang mengerikan?”
“Pendeta-pendeta Hozoin mendengar bahwa Anda akan berangkat hari mi. Lebih dari sepuluh orang membawa tombak dan mengendap menanti Anda di Dataran Hannya.”
“Oh?”
“Ya, dan Kepala Biara, Inshun, ikut juga dengan mereka. Suami saya kenal salah seorang pendeta itu dan sudah bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi. Pendeta mengatakan orang yang tinggal di sini beberapa hari terakhir ini, yaitu orang yang namanya Miyamoto, akan meninggalkan Nara hari ini, dan para pendeta akan mencegatnya di jalan.”
Wajah perempuan itu mengerinyut takut. Ia berusaha meyakinkan Musashi bahwa meninggalkan Nara pagi itu sama saja dengan bunuh diri. Dengan sangat ia minta Musashi untuk menanti sampai malam berikutnya. Menurut pendapatnya, akan lebih aman kalau Musashi mencoba pergi diam-diam hari berikutnya.
“Ya,” kata Musashi datar. “Jadi, menurut Ibu, mereka bermaksud menemui saya di Dataran Hannya?”
“Saya tidak tahu pasti di mana, tapi mereka pergi ke jurusan itu. Beberapa penduduk mengatakan yang ikut tidak hanya pendeta. Mereka bilang banyak ronin ikut juga berkumpul. Katanya mereka akan menangkap Anda dan mengembalikan Anda ke Hozoin. Apa Anda bicara jelek tentang kuil itu, atau menghina mereka, entah bagaimana caranya?”
“Tidak.”
“Nah, mereka bilang, pendeta-pendeta itu naik darah karena Anda sudah menyewa orang untuk memasang banyak poster dengan sajak-sajak yang isinva menertawakan Hozoin. Menurut mereka, itu berarti Anda bergendang paha, karena sudah membunuh seorang dari mereka.”
“Saya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Semua itu kekeliruan.”
“Nah, kalau itu kekeliruan, tak perlu Anda pergi ke sana dan terbunuh karenanya.”
Dengan dahi bercucuran keringat Musashi memandang ke langit, merenung, dan teringatlah ia betapa marah ketiga ronin itu ketika ia menolak tawaran bisnis mereka. Barangkali merekalah sumber segalanya ini. Rasanya tidak mengherankan jika orang seperti mereka lalu memasang poster-poster yang sifatnya menghina dan kemudian menyebarkan kepada orang banyak bahwa dialah yang melakukan itu.
Mendadak sontak la berdiri. “Saya pergi sekarang,” katanya.
Ia menyandangkan tas perjalanannya ke punggung, mengambil topi anyaman, dan sambil menghadap kedua perempuan itu ia mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati mereka. Ketika ia berjalan menuju gerbang, janda itu mengikutinya sambil menangis dan memohon kepadanya agar tidak pergi.
“Kalau saya menginap semalam lagi,” jelasnya, “pasti akan timbul kesulitan di rumah Ibu. Saya tak ingin hal itu terjadi. Ibu sudah begitu baik pada saya.”
“Saya tak peduli,” desak janda itu. “Anda lebih aman di sini.”
“Tidak, saya pergi sekarang. Jo! Ucapkan terima kasih pada Ibu.”
Dengan patuhnya anak itu membungkuk dan melakukan hal yang disuruhkan kepadanya. Ia kelihatannya patah semangat, tapi bukan karena menyesal akan berangkat. Memang Jotaro belum betul-betul kenal Musashi. Di Kyoto ia mendengar bahwa tuannya itu lemah dan pengecut. Pikiran bahwa jago-jago tombak jahat Hozoin akan menyerang Musashi itulah yang sangat mematahkan semangatnya. Hatinya yang masih muda itu penuh kemurungan dan firasat.
bagian 6
Dataran Hannya
JOTARO berjalan sedih pelan-pelan di belakang gurunya, karena takut setiap langkah yang diambilnya akan semakin mendekatkan mereka kepada maut. Sebelum itu, di jalan yang lembap dan teduh di dekat Todaiji, sebutir embun yang menjatuhi kerahnya hampir saja membuatnya berteriak. Burung-burung gagak hitam yang dilihatnya sepanjang jalan ikut menimbulkan rasa ngeri padanya.
Nara sudah jauh mereka tinggalkan. Lewat baris-baris pohon kriptomeria di sepanjang jalan, mereka dapat melihat dataran yang melandai berombak-ombak menuju Bukit Hannya. Di sebelah kanan, mereka melihat puncak-puncak Gunung Mikasa. Di atasnya langit yang damai.
Bahwa ia dan Musashi sedang berjalan langsung menuju tempat pencegatan para jago tombak Hozoin baginya betul-betul tak masuk akal. Banyak tempat untuk bersembunyi kalau bermaksud demikian. Dapat saja mereka masuk salah satu kuil yang banyak jumlahnya di sepanjang jalan itu dan menanti kesempatan yang baik. Itu sudah tentu lebih masuk akal.
Ingin ia mengetahui, apakah Musashi bermaksud meminta maaf kepada para pendeta itu, sekalipun tak pernah ia berbuat salah kepada mereka. Jotaro sudah memutuskan, kalau Musashi minta maaf pada mereka, ia juga akan berbuat demikian. Sekarang bukan waktunya berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.
“Jotaro!”
Mendengar namanya dipanggil, anak itu terkejut. Alisnya naik ke atas dan tubuhnya jadi tegang. Karena merasa barangkali mukanya pucat akibat takut, dan karena tak ingin kelihatan kekanak-kanakan, ia menatapkan matanya dengan berani ke langit. Musashi memandang ke langit juga, dan anak itu merasa lebih kecil hati lagi.
Ketika Musashi melanjutkan bicaranya, kata-kata yang diucapkannya bernada gembira seperti biasanya. “Nyaman, bukan, Jo? Sepertinya kita sedang berjalan diiringi lagu burung bulbul.”
“Apa?” tanya anak itu kaget.
“Burung bulbul, kataku.”
“Oh, ya, burung bulbul. Ada beberapa ekor di sekitar tempat ini, kan?” Musashi dapat melihat dari pucatnya bibir anak itu bahwa ia sedih sekali. Ia merasa kasihan. Betapapun, bisa saja dalam beberapa menit lagi tiba-tiba anak itu menjadi sebatang kara di tempat yang asing. “Kita sudah dekat Bukit Hannya, ya?” kata Musashi.
“Betul.”
“Nah, lalu apa sekarang?”
Jataro tidak menjawab. Hanya nyanyian burung bulbul dingin saja yang terdengar oleh telinganya. Tak dapat ia mengusir firasat yang dirasakannya bahwa mereka berdua segera akan berpisah untuk selamanya. Mata yang pernah nyalang gembira ketika mengejuti Musashi dengan topeng itu kini tampak gelisah dan sedih.
“Lebih baik kau tinggal di sini,” kata Musashi. “Kalau kau jalan terus, kau bisa terluka. Tak ada alasan buatmu untuk membahayakan diri sendiri.”
Jotaro pun pecahlah tangisnya. Air mata meleleh di pipinya, seperti bendungan jebol. Punggung tangannya diusapkannya ke mata, dan bahunya menggeletar. Tangisnya ditambah pula dengan sentakan-sentakan kecil, seakan-akan ia sedang tersedak.
“Apa pula ini? Kaubilang mau belajar Jalan Samurai? Kalau nanti aku menerobos dan lari, kau mesti ikut lari ke jurusan yang sama. Kalau aku terbunuh, kau kembali ke toko sake di Kyoto. Tapi sekarang kau pergi ke bukit kecil di sana itu, dan perhatikan dari sana. Dari sana akan tampak segala yang terjadi.”
Sesudah mengusap air mata, Jotaro mencengkeram lengan kimono Musashi, dan ucapnya, “Ayo kita lari!”
“Bukan begitu cara samurai bicara! Kau mau jadi yang begitu, ya?”
“Saya takut! Saya tak mau mati!” Dengan tangan gemetar ia menariki lengan kimono Musashi agar kembali. “Pikirkan saya,” demikian ia memohon. “Ayolah pergi dari sini, mumpung masih bisa!”
“Kalau kamu bicara seperti itu, aku jadi ingin lari juga. Kamu tak punya orangtua yang akan mengurusmu, seperti aku ketika seumur kamu. Tapi…”
“Kalau begitu, ayolah. Apa yang kita tunggu?”
“Tidak!” Musashi membalikkan badan, dan sambil mengangkangkan kakinya ia menghadapi anak itu. “Aku samurai. Kamu anak samurai. Kita tak akan lari.”
Mendengar kepastian dalam nada Musashi itu, Jotaro menyerah dan duduk. Air mata kotor meleleh di pipinya ketika ia menghapus matanya yang merah bengkak dengan kedua tangannya.
“Jangan kuatir!” kata Musashi. “Aku tak mau kalah, aku harus menang! Segalanya akan beres nanti.”
Jotaro tidak sedikit pun senang mendengar kata-kata itu. Ia tak dapat percaya sepatah kata pun. Karena tahu bahwa para jago tombak Hozoin itu lebih dari sepuluh orang jumlahnya, ia sangsi apakah Musashi akan dapat mengalahkan mereka satu-satu, apalagi semuanya sekaligus. Apalagi Musashi terkenal sebagai orang lemah.
Musashi sendiri sudah mulai kehilangan kesabaran. Ia suka pada Jotaro dan kasihan kepadanya, tetapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan anak-anak. Para jago tombak sudah menanti dengan satu tujuan: membunuhnya. Ia harus siap menghadapi mereka. Jotaro merupakan gangguan baginya sekarang.
Suaranya pun jadi tajam. “Jangan nangis lagi! Kalau begitu kelakuanmu, tak bakal kamu jadi samurai. Kenapa kamu tidak kembali saja ke toko sake itu?” Dengan tegas dan agak keras ditolaknya anak itu.
Jotaro terkena batunya dan tiba-tiba berhenti menangis dan berdiri regak, mukanya kelihatan kaget. Dilihatnya gurunya berjalan terus menuju Bukit Hannya. Ia ingin memanggil, tapi dilawannya dorongan keinginan itu. Sebaliknya ia paksa dirinya tinggal diam beberapa menit lamanya. Kemudian ia berjongkok di bawah sebuah pohon tak jauh dari situ, menutup muka dengan tangan, dan menggeretakkan giginya.
Musashi tidak menoleh, walaupun sedu-sedan Jotaro menggema di telinganya. Ia merasa dapat melihat anak kecil yang malang dan ketakutan itu melalui tengkuknya, dan ia menyesali telah membawanya serta.
Melindungi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup beratnya; dalam keadaan belum matang seperti sekarang, ia hanya bisa mengandalkan diri kepada pedang dan tak tahu ia apa yang bakal terjadi esok-jadi, apa perlunya teman baginya?
Pohon-pohon mulai menjarang. Ia mendapati dirinya sudah berada di tengah dataran terbuka. Sebuah datarannya agak tinggi dan pegunungan di kejauhan sana. Di jalan yang memecah menuju Gunung Mikasa, seorang lelaki mengangkat tangan menyapanya.
“Hei, Musashi! Mau ke mana?” Musashi dapat mengenali orang yang datang ke arahnya itu. Dia Yamazoe Dampachi. Walaupun Musashi
segera merasa bahwa tujuan Dampachi adalah menjebaknya, namun ia menyambut juga dengan sungguh¬sungguh. Dampachi berkata, “Aku senang bertemu denganmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesali
urusan kemarin itu.” Nada bicaranya wrlalu sopan, dan selagi bicara jelas ia memperhatikan wajah Musashi
sebaik-baiknya. “Kuharap engkau bisa melupakannya. Semua itu kekeliruan.” Dampachi sendiri belum begitu tahu bagaimana harus bersikap terhadap Musashi. Ia memang sangat terkesan oleh apa yang disaksikannya di Hazoin. Ya, mengingat hal itu saja sudah membuat tulang punggungnya dingin. Tapi biar bagaimana, Musashi hanyalah seorang ronin provinsi yang tidak akan lebih dari dua puluh satu atau dua puluh dua tahun umurnya. Dan Dampachi masih jauh dari siap untuk mengakui bahwa orang seumur dan dengan status seperti Musashi itu dapat lebih baik dari dirinya.
“Mau ke mana?” tanyanya lagi. “Rencananya lewat Iga ke jalan raya Ise. Dan kau?” “Oh, ada pekerjaan di Tsukigase.” “Kalau tak salah, itu tidak jauh dari Lembah Yagyu?” “Tidak, tidak jauh.” “Di situlah kuil Yang Dipertuan Yagyu, kan?” “Ya, dekat Kuil Kasagidera. Engkau mesti pergi ke sana nanti. Yang Dipertuan Muneyoshi sekarang hidup
pensiun sebagai ahli upacara minum teh, dan anaknya Munenori ada di Edo, tapi kau mesti singgah di sana dan melihat keadaannya.”
“Tak yakin aku bahwa Yang Dipertuan Yagyu mau memberikan pelajaran kepada musafir seperti diriku.” “Ada kemungkinan. Tentu saja lebih baik kalau kau punya pengantar. Kebetulan aku kenal seorang tukang senjata di Tsukigase yang bekerja pada Keluarga Yagyu. Kalau kau suka, aku bisa tanya, apa dia mau memperkenalkanmu.”
Dataran itu menghampar luas beberapa mil jauhnya. Garis langit di sana-sini diselingi pohon kriptomeria tunggal atau pinus hitam Cina Namun di sana-sini dataran itu menaik lembut, dan jalan pun ikut naik dan turun. Di dekat kaki Bukit Hannya, Musashi melihat asap api berwarna cokelat mengepul di belakang sebuah bukit rendah.
“Apa itu?” tanyanya. “Apa yang apa?” “Asap di sana itu.” Selama itu Dampachi terus menempel di sisi kiri Musashi, dan ketika ia memandang wajah Musashi,
wajahnya sendiri mengeras. Musashi menuding, “Asap di sana itu mencurigakan,” katanya. “Apa menurutmu tidak begitu?” “Mencurigakan? Mencurigakan bagaimana?”
“Yah, mencurigakan, seperti pandangan matamu sekarang ini,” kata Musashi tajam. Sekonyong-konyong ia menyapukan jarinya ke tubuh Dampachi.
Bunyi orang bersuit melengking memecahkan kesunyian dataran itu. Dampachi tersengal-sengal terkena hantaman Musashi. Karena perhatiannya tertuju pada jari Musashi, ia tak sadar bahwa Musashi sudah menarik pedangnya. Tubuhnya melambung, melayang ke depan, dan mendarat dengan wajah ke bawah. Dampachi tak akan bangkit lagi.
Dari kejauhan terdengar teriakan tanda bahaya. Dua orang muncul di puncak bukit. Seorang memekik, lalu keduanya memutar badan dan angkat kaki, tangan diacung-acungkan di udara.
Pedang yang ditudingkan Musashi ke tanah berkilauan oleh sinar matahari. Darah segar menetes dari ujungnya. Ia berjalan langsung ke arah bukit itu. Sekalipun angin musim semi bertiup lembut ke kulitnya, Musashi merasa otot-ototnya menegang selagi mendaki. Dari puncak bukit ia melihat ke bawah, ke arah api yang menyala.
“Dia datang!” seru seorang dari kedua orang yang tadi lari menggabungkan diri dengan yang lain-lain. Semuanya ada sekitar tiga puluh orang. Musashi dapat mengenali pengikut Dampachi, yaitu Yasukawa Yasubei dan Otomo Banryu.
“Dia datang!” kata yang lain membeo.
Mereka tadi sedang bermalas-malasan di bawah sinar matahari. Sekarang semua bangkit berdiri. Setengahnya pendeta, dan setengahnya lagi ronin yang sukar dilukiskan. Ketika Musashi tampak, terdengar hiruk-pikuk hebat tanpa kata di tengah gerombolan itu. Mereka melihat pedang yang bernoda darah, dan tiba-tiba sadarlah mereka bahwa pertempuran sudah dimulai. Bukannya menantang Musashi, mereka malah cuma duduk-duduk mengitari api dan membiarkan Musashi yang menantang.
Yasukawa dan Otomo bicara cepat, menjelaskan dengan gerak-gerik cepat, bagaimana Yamazoe sudah terbantai. Ronin itu melolong berang, sementara para pendeta Hozoin menatap Musashi dengan pandangan mengancam. Mereka menyusun diri menghadapi pertempuran.
Semua pendeta itu membawa tombak. Dengan lengan baju hitam tersingsing mereka siap beraksi dengan tekad membalas kematian Agon dan memulihkan kehormatan kuil. Mereka tampak aneh, seperti setan¬setan neraka.
Para ronin membentuk setengah lingkaran, hingga mereka dapat menyaksikan pertunjukan itu dan sekaligus mencegah Musashi melarikan diri.
Namun tindakan jaga-jaga itu ternyata tidak perlu, karena Musashi tidak memperlihatkan tanda-tanda akan lari atau mengundurkan diri. Sebaliknya, ia berjalan mantap dan langsung ke arah mereka. Pelan-pelan, langkah demi langkah, ia maju, seakan-akan siap menerkam setiap saat.
Untuk sesaat berkecamuk kesunyian yang menyesakkan. Kedua belah pihak menyadari semakin mendekatnya maut. Wajah Musashi menjadi pucat pasi. Lewat matanya menyorot mata dewa pembalasan dendam, berkilat-kilat penuh kesengitan. Ia sedang memilih korbannya.
Baik kaum ronin maupun kaum pendeta tidak setegang Musashi. Jumlah mereka yang besar memberikan keyakinan, dan optimisme mereka tak tergoyahkan. Namun tak seorang pun ingin menjadi orang pertama yang diserang.
Seorang pendeta di ujung barisan memberikan isyarat, dan tanpa merusak formasi mereka menderas mengepung Musashi dari kanan.
“Musashi! Aku Inshun,” seru pendeta itu. “Aku diberitahu bahwa kau datang ketika aku sedang pergi, dan kau membunuh Agon. Lalu kau secara terbuka menghina kehormatan Hozoin. Kau mengejek kami dengan memasang poster-poster di seluruh kota. Benar?”
“Tidak!” seru Musashi. “Kalau kau memang pendeta, kau tidak boleh hanya percaya pada yang kau lihat dan kau dengar. Kau mesti menimbang segala sesuatu dengan pikiran dan jiwamu.”
Kata-kata itu seperti menuangkan minyak ke dalam nyala api. Tanpa menghiraukan pemimpinnya, para
pendeta mulai berteriak-teriak, menyatakan tak ada gunanya berbicara, dan sudah saatnya kini bertempur.
Mereka didukung penuh semangat oleh kaum ronin yang telah menyusun diri dalam formasi rapat di sebelah kiri Musashi. Sambil memekik-mekik, memaki-maki, dan mengayun-ayunkan pedang ke udara, mereka mendesak para pendeta untuk bertindak.
Karena yakin para ronin cuma bermulut besar dan tak berani berkelahi, Musashi tiba-tiba menghadap mereka dan berseru, “Baik! Siapa di antara kalian akan maju dahulu?”
Kecuali dua-tiga orang, mereka semua mundur selangkah, karena masingmasing yakin bahwa mata setan Musashi mengarah kepadanya. Dua-tiga orang yang berani itu bersiap dengan pedang diacungkan, seraya mengumandangkan tantangan.
Dalam sekejap mata Musashi sudah menerpa seorang di antaranya, seperti jago aduan. Terdengar bunyi seperti letupan sumbat botol, dan tanah pun merah oleh darah. Kemudian terdengar suara mengerikanbukan teriakan perang, bukan kutukan, tetapi lolongan yang benar-benar membekukan darah.
Pedang Musashi mendesing ke sana kemari di udara, sedangkan gaung di dalam tubuhnya sendiri menjadi petunjuk bahwa ia sedang bertumbukan dengan tulang manusia. Darah dan otak berpercikan dari pedangnya. Jari dan tangan berterbangan di udara.
Kaum ronin itu rupanya datang untuk menyaksikan penyembelihan besar-besaran, bukan untuk ambil bagian di dalamnya. Kelemahan mereka telah menyebabkan Musashi menyerang mereka lebih dahulu. Mula-mula sekali mereka merapatkan diri dengan cukup baik, karena menurut pikiran mereka para pendeta akan segera datang menyelamatkan. Tapi ternyata para pendeta itu hanya berdiri diam tak bergerak, sementara Musashi dengan cepat membantai lima atau enam ronin serta membikin kacau yang lain-lain. Tak lama kemudian mereka saling menyerang ke segala jurusan dan saling melukai.
Hampir sepanjang waktu itu Musashi tidak sadar benar, apa yang sedang diperbuatnya. Ia seperti kesurupan, dalam mimpi penuh pembunuhan, di mana tubuh dan jiwanya terpusat hanya pada pedangnya yang semeter panjangnya. Tak disadarinya bahwa seluruh pengalaman hidupnya-mulai dari pengetahuan yang ditempatkan kepadanya oleh ayahnya, sampai pada apa yang dipelajarinya di Sekigahara, teori-teori yang pernah didengarnya di berbagai perguruan seni pedang, serta pelajaran-pelajaran yang diberikan kepadanya oleh pegunungan dan pepohonan-semuanya itu serentak bermain dalam gerak cepat tubuhnya. Ia menjadi tiupan angin pusaran yang menerjang kawanan ronin, yang karena kebingungan menjadi sasaran empuk serangan pedangnya.
Singkatnya pertarungan dihitung salah seorang pendeta dengan tankan dan embusan napasnya. Pertarungan sudah selesai sebelum ia sempat mengambil napas kedua puluh.
Musashi basah kuyup oleh darah korbannya. Beberapa ronin yang masih tinggal pun bermandikan darah kental. Tanah, dan bahkan udara, penuh dengan darah. Seorang di antara mereka menjerit, dan ronin yang masih hidup bertebaran di mana-mana.
Sementara pertarungan berlangsung, Jotaro tenggelam dalam doa. Kedua tangannya terlipat di dada dan matanya tertengadah ke langit. Ia memohon, “Ya, Tuhan yang di surga, bantulah dia! Guruku di dataran sana tak berdaya, karena kalah jumlah. Dia lemah, tapi dia bukan orang jahat. Tolonglah dia!”
Walaupun Musashi memerintahkannya pergi, tak dapat ia pergi. Tempat yang akhirnya dipilihnya untuk duduk, dengan topinya dan topeng di sampingnya, adalah sebuah bukit kecil. Dari situ ia memperhatikan pemandangan di sekitar api di kejauhan itu.
“Hachiman! Kompira! Dewa Kuil Kasuga! Lihat! Guruku langsung menyongsong musuh. Oh, dewa-dewa langit, lindungilah dia. Saat ini dia bukan dirinya. Biasanya dia lunak dan lembut, tapi dia sedikit aneh sejak tadi pagi. Dia tentunya gila. Kalau tidak, tak akan dilayaninya orang sebanyak itu sekaligus! Oh, aku mohon, aku mohon, tolonglah dia!”
Sesudah berseru-seru kepada para dewa seratus kali atau lebih, ia lihat usahanya itu tak ada hasil, dan mulailah ia marah. Akhirnya ia berseru, “Apa sudah tak ada dewa di negeri ini? Apa akan kalian biarkan orangorang jahat menang, dan membiarkan orang baik terbunuh? Kalau memang begitu, semua yang selalu dikatakan orang padaku tentang benar dan salah itu bohong! Kalian tak bisa membiarkan dia terbunuh! Kalau kalian biarkan, akan kuludahi kalian!”
Ketika dilihatnya Musashi terkepung, doa-doanya pun berubah menjadi kutukan yang diarahkannya tidak hanya kepada musuh, tapi juga kepada dewa-dewa sendiri. Kemudian, ketika disadarinya bahwa darah yang tertumpah di dataran itu bukan darah gurunya, mendadak ia mengubah lagu. “Lihat! Guruku ternyata bukan orang lemah! Dia menghajar mereka!”
Itulah pertama kali Jotaro menyaksikan orang bertempur seperti binatang, sampai mati, dan itulah pertama kali ia melihat darah sebanyak itu. la merasa seolah berada di sana, di tengah kancah, dan dirinya cemar juga oleh darah mengental. Hatinya berubah jungkir balik, ia merasa ringan dan pening.
“Lihat dia! Dia bisa melawan! Bukan main serangan itu! Dan lihat pendeta-pendeta tolol itu, yang cuma berbaris seperti gerombolan gagak berkaok-kaok, tetapi takut maju!”
Tapi yang terakhir itu terlalu dini diucapkannya, karena ketika ia mengucapkan itu, para pendeta Hozoin mulai menyerbu Musashi.
“Oh, oh! Gawat kelihatannya. Mereka ramai-ramai menyerang dia. Musashi gawat sekarang!” Lupa akan segalanya, semata-mata karena kecemasannya, Jotaro meluncur seperti bola api ke tengah kancah bencana yang sedang menghampiri itu.
Kepala Biara, Inshun, memberikan perintah menyerang, dan sesaat kemudian para jago tombak itu segera beraksi, diiringi raungan gegap gempita. Senjata mereka yang berkilauan bersuit-suit di udara, sementara para pendeta berpencar seperti tawon yang menghambur dari sarangnya. Kepala mereka yang gundul itu membuat mereka tampak lebih barbar lagi.
Tombak yang mereka bawa berlain-lainan, dan lempeng tombaknya pun sangat berbeda-beda-yang lancip, yang berbentuk kerucut, yang papak, yang berbentuk silang, atau yang bengkok-tiap pendeta menggunakan jenis yang paling disukainya. Hari ini mereka mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana teknik-teknik yang mereka asah dalam latihan dapat mereka gunakan dalam perkelahian yang sebenarnya.
Sementara mereka maju menyebar, Musashi melompat mundur dan berdiri siap menantikan serangan muslihat. Letih dan sedikit pusing oleh pertarungan sebelumnya, dicengkeramnya gagang pedangnya erat¬erat. Gagang pedang itu lengket oleh darah kental, campuran darah dan keringat mengaburkan pandangannya, tapi ia bertekad untuk mati dengan cemerlang, kalau memang ia harus mati.
Tetapi sungguh ia heran, serangan itu tidak juga datang. Para pendeta bukannya melakukan serangan yang memang dinanti-nantikan itu ke arahnya, melainkan menyerang bekas sekutunya seperti anjing gila. Mereka mengejar para ronin yang telah melarikan diri dan menyerang mereka tanpa kenal ampun, sementara para ronin menjerit-jerit memprotes. Para ronin yang tak menduga itu sia-sia saja mencoba mengerahkan para jago tombak agar melawan Musashi. Mereka diiris, ditusuk, ditikam mulutnya, dibelah dua, atau dibantai, sampai tak seorang pun di antaranya tetap hidup. Pembunuhan besar-besaran itu betulbetul sempurna dan sekaligus menunjukkan sifat haus darah.
Musashi tak percaya akan matanya. Kenapa para pendeta itu menyerang pendukung mereka? Dan kenapa demikian kejam? Baru beberapa saat sebelumnya ia berkelahi seperti binatang liar. Sekarang hampir tak dapat ia menahan diri melihat kebuasan para pendeta itu dalam menyembelih ronin. Setelah sesaat lamanya berubah menjadi seekor binatang yang tak berpikiran, sekarang ia pulih kembali pada keadaannya yang biasa, setelah melihat orangorang lain mengalami perubahan juga. Pengalaman itu membuatnya sadar.
Kemudian sadarlah ia bahwa tangan dan kakinya ditarik-tarik orang. Dan ketika ia melihat ke bawah, tampak olehnya Jotaro sedang mengucurkan air mata puas. Dan untuk pertama kali waktu itu la merasa santai.
Setelah pertempuran berakhir, Kepala Biara mendekatinya, lalu berkata dengan sikap sopan dan mulia, “Tentu Anda Miyamoto. Suatu kehormatan bertemu dengan Anda.” Kepala Biara itu jangkung dan berwajah cerah. Musashi agak terpengaruh oleh kehadirannya, juga oleh sikapnya yang tenang. Dengan sedikit bingung ia hapus pedangnya dan la sarungkan, tapi sesaat lamanya tak dapat ia mengucapkan kata-kata.
“Izinkan saya memperkenalkan diri,” sambung pendeta itu. “Saya Inshun, Kepala Biara Hozoin.”
“Jadi, Andalah ahli tombak itu,” kata Musashi.
“Sayang saya tak ada ketika Anda mengunjungi kami baru-baru ini. Saya juga merasa malu bahwa murid saya, Agon, memperlihatkan perkelahian yang demikian jelek.”
Menyayangkan perbuatan Agon? Musashi merasa barangkali telinganya perlu dibersihkan. Ia tetap diam sesaat lamanya, karena sebelum ia dapat memutuskan cara yang cocok untuk menjawab nada sopan Inshun itu, ia harus menghapuskan dahulu kekacauan dalam pikirannya. Ia masih belum dapat mengerti kenapa para pendeta itu kemudian melawan para ronin tak dapat ia mencari jawaban yang masuk akal. Ia bahkan sedikit heran bahwa dirinya masih hidup.
“Ayolah,” kata kepala biara itu, “bersihkan sebagian darah itu. Anda butuh istirahat.” Inshun mengantarnya ke dekat api, sedangkan Jotaro menguntit di belakang.
Para pendeta menyobek-nyobek secarik kain katun lebar menjadi potongan-potongan kecil dan menghapus lembing mereka. Berangsur-angsur mereka semua berkumpul di sekitar api, duduk bersama Inshun dan Musashi, seolah-olah tak suatu pun yang aneh telah terjadi. Dan mereka mulai mengobrol.
“Lihat ke sana,” kata seseorang, menunjuk ke atas.
“Aaa, gagak-gagak sudah mencium bau darah. Sudah berkaok-kaok mencari mayat mereka.”
“Kenapa burung-burung itu tidak turun?”
“Mereka akan turun nanti, begitu kita pergi. Dan mereka akan berebutan melahap makanan besar itu.”
Olok-olok mengerikan itu berlangsung terus dengan nada santai serupa. Musashi memperoleh kesan bahwa ia tak akan mendapatkan keterangan apa pun, kecuali kalau ia bertanya. Ia memandang Inshun, dan katanya, “Tadi saya pikir Anda dan orang-orang Anda datang kemari untuk menyerang saya, dan saya sudah bertekad mengirim sebanyak-banyaknya dari antara Anda sekalian ke negeri orang mati. Tak mengerti saya, kenapa Anda sekalian memperlakukan saya seperti ini.”
Inshun tertawa. “Nab, kami memang tak perlu menganggap Anda sekutu, tapi tujuan kami yang sebenarnya hari ini adalah sedikit ‘bersih rumah’.”
“Anda namakan semua ini ‘bersih rumah’?”
“Betul,” kata Inshun sambil menuding ke arah kaki langit. “Tapi saya pikir lebih baik kita menanti dan mempersilakan Nikkan menjelaskan pada Anda. Saya yakin titik hitam di tepi dataran itu dia.”
Pada saat itu juga, di sisi lain dataran itu berkatalah seorang penunggang kuda kepada Nikkan, “Anda cepat sekali berjalan kalau melihat umur Anda.”
“Bukan saya yang cepat. Anda yang lambat.”
“Anda lebih gesit daripada kuda.”
“Kenapa tidak? Saya lelaki.”
Pendeta tua yang berjalan kaki sendiri itu melangkah menyamai para penunggang kuda yang sedang maju ke arah asap api. Kelima penunggang kuda itu pejabat.
Ketika rombongan itu mendekat, para pendeta saling berbisik, “Itu Guru Tua.” Mereka membenarkan, mundur mengambil jarak yang sesuai, dan membariskan diri dengan penuh upacara, seakan-akan menghadapi suatu acara suci, untuk menyambut Nikkan dan pengiringnya.
Yang pertama dikatakan Nikkan adalah, “Sudah kalian urus semuanya?”
Inshun membungkuk dan menjawab, “Seperti Bapak perintahkan.” Kemudian ia menoleh kepada para pejabat, “Terima kasih atas kedatangan Tuan-tuan.”
Para samurai melompat turun satu demi satu dari kuda. Pimpinan mereka menjawab, “Tak apa-apa. Terima kasih, Anda sekalian sudah melaksanakan kerja hebat…. Mari kita periksa, kawan-kawan.”
Para pejabat berjalan ke sana kemari memeriksa mayat-mayat dan membuat beberapa catatan. Kemudian pimpinannya kembali ke tempat berdirinya Inshun. “Akan kami kirim kemari orang dari kota untuk membersihkan semua ini. Anda sekalian boleh merasa bebas meninggalkan segalanya ini sebagaimana
adanya.” Dengan itu kelima orang tersebut menaiki kembali kuda mereka dan pergi.
Nikkan memberitahu para pendeta bahwa tenaga mereka tidak diperlukan lagi. Mereka membungkuk dan meninggalkan tempat itu diam-diam. Inshun mengucapkan selamat tinggal pada Nikkan dan Musashi, lalu meninggalkan tempat itu.
Begitu orang-orang itu berangkat, terdengarlah hiruk-pikuk besar. Burung-burung gagak turun, mengepak¬ngepakkan sayap dengan riangnya.
Sambil menggerutu karena bunyi ribut itu, Nikkan berjalan ke sisi Musashi, dan katanya ringan saja, “Maafkan kalau saya sudah melukai hati Anda beberapa hari lain.”
“Sama sekali tidak. Bapak sudah berbuat baik sekali. Sayalah yang harus berterima kasih.” Musashi berlutut dan membungkuk dalam-dalam di depan pendeta tua itu.
“Bangkitlah,” perintah Nikkan. “Padang ini bukan tempat untuk membungkuk.”
Musashi bangkit berdiri.
“Apakah pengalaman di sini memberikan pelajaran kepadamu?” tanya pendeta itu.
“Saya bahkan tidak begitu mengerti, apa yang sudah terjadi ini. Apa Bapak dapat menceritakannya pada saya?”
“Dengan senang hati,” jawab Nikkan. “Para pejabat yang baru pergi tadi itu bekerja di bawah Okubo Nagayasu yang baru-baru ini dikirim kemari untuk memerintah Nara. Mereka masih asing dengan daerah ini, dan para ronin mengambil keuntungan dari asingnya mereka itu dengan tempat inimencegati musafir yang tak berdosa, memeras, berjudi, melarikan perempuan, memasuki rumah-rumah janda-menimbulkan segala macam kesulitan. Pemerintah tak dapat mengendalikan mereka, tapi mereka sudah tahu bahwa ada sekitar lima belas pentolannya, termasuk Dampachi dan Yasukawa.
“Kau tahu Dampachi dan pengikutnya tak suka padamu. Karena takut menyerangmu sendiri, mereka membuat rencana yang menurut mereka jitu. Para pendeta Hozoin-lah yang berkelahi untuk mereka. Pernyataan-pernyataan fitnah tentang kuil yang dituduhkan padamu itu pekerjaan mereka. Begitulah juga poster-poster itu. Mereka berjanji segalanya akan dilaporkan padaku, agaknya dengan perkiraan aku bodoh.”
Mendengar itu Musashi tertawa.
“Maka kupertimbangkan hal itu sebentar,” kata Kepala Biara, “dan terpikir olehku, ini kesempatan ideal untuk mengadakan ‘bersih rumah’ di Nara. Kubicarakan rencana itu dengan Inshun. Dia setuju menjalankan, dan sekarang semua orang pun senang-para pendeta, para pejabat, juga burung-burung gagak itu. Ha, ha!”
Ada satu orang lagi yang senang bukan buatan. Cerita Nikkan itu telah menghapuskan sama sekali segala kesangsian dan rasa takut Jotaro, dan anak itu gembira luar biasa. Ia menyanyikan lagu populer karangannya sendiri, sambil menari-nari seperti burung yang mengepak-ngepakkan sayapnya:
Bersih rumah, oh, Bersih rumah!
Mendengar suaranya yang tak dibuat-buat ini, Musashi dan Nikkan menoleh memandangnya. Jotaro waktu itu mengenakan topengnya sambil tersenyum ajaib clan menudingkan pedang kayunya ke tubuh-tubuh yang berserakan. Sambil sekali-sekali melayangkan pukulan ke arah burung-burung, ia melanjutkan:
Ya, ya, burung gagak, Sekali-sekali Memang perlu bersih rumah Tidak hanya di Nara. Memang kebiasaan alam Membikin baru semuanya. Supaya musim semi dapat naik dari bumi. Kami bakar dedaunan. Kami bakar ladangan. Terkadang kami butuhkan salju turun. Terkadang kami butuhkan bersih rumah.
Wahai, kalian, burung gagak! Berpestalah! Dan memilihlah! Sop langsung dari ceruk mata. Juga sake merah pekat. Tapi jangan terlalu banyak. Sebab kalian bisa mabuk.
“Sini, Nak!” seru Nikkan tajam.
“Ya, Pak,” Jotaro berdiri diam memandang wajah Kepala Biara.
“Jangan seperti orang tolol. Ambilkan beberapa batu.”
“Macam ini?” tanya Jotaro, memungut sebuah batu yang terletak dekat kakinya dan mengacungkannya.
“Ya, macam itu. Ambil yang banyak!”
“Baik, Pak!”
Anak itu mengumpulkan batu-batu. Nikkan duduk dan menuliskan kata-kata Namu Myoho Renge-kyo, doa suci sekte Nichiren, pada tiap batu itu. Kemudian ia berikan batu-batu itu kembali pada anak itu dan ia perintahkan anak itu menyebarkannya di antara mayat-mayat. Sementara Jotaro melakukan suruhannya, Nikkan mengatupkan kedua tangannya dan menyanyikan bagian dari Sutra Bunga Teratai.
Selesai melakukan hal itu, ia menyatakan, “Doa itu akan melindungi mereka. Sekarang kalian berdua bisa jalan terus. Aku kembali ke Nara.” Dan sama mendadaknya dengan waktu ia datang, ia pun berangkat dengan kecepatan hebat, seperti kebiasaannya, sebelum Musashi sempat mengucapkan terima kasih atau membuat janji untuk bertemu lagi dengannya.
Sesaat Musashi hanya menatap tubuh yang makin menjauh itu, kemudian tiba-tiba ia melesat mengejarnya, “Bapak Pendeta!” panggilnya. “Apa tak ada yang Bapak lupakan?” Ia menepuk-nepuk pedangnya selagi mengatakan itu.
“Apa?” tanya Nikkan.
“Bapak belum memberikan petunjuk, dan karena tak ada jalan untuk mengetahui kapan kita akan bertemu lagi, saya akan senang jika mendapat sedikit nasihat dari Bapak.”
Mulut Kepala Biara yang tak bergigi itu memperdengarkan tawa terbahakbahak yang terkenal itu. “Jadi, kamu belum mengerti?” tanyanya. “Satu satunya yang harus kuajarkan padamu adalah kamu terlalu kuat. Kalau kamu terus juga membanggakan dirimu dengan kekuatanmu, kamu tak akan hidup sampai umur tiga puluh. Hari-hari ini mudah sekali kamu terbunuh. Pikirkan itu, dan putuskan sendiri bagaimana membawa diri nanti.”
Musashi diam.
“Kamu sudah melaksanakan sesuatu hari ini, tapi belum baik, sama sekali belum. Karena kamu masih muda, tak dapat aku menyatakan kamu benar, tapi suatu kesalahan besar kalau kamu menyangka Jalan Samurai itu hanya terdiri atas pameran kekuatan.
“Tapi aku sendiri cenderung memiliki kesalahan yang sama, karena itu aku tidak berhak bicara padamu tentang soal ini. Kamu mesti mempelajari jalan yang ditempuh oleh Yagyu Sekishusai dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Sekishusai dulu guruku, dan Yang Dipertuan Koizumi gurunya. Kalau kamu mencontoh mereka dan mencoba mengikuti jalan yang sudah mereka tempuh, kamu bisa mencapai kebenaran.”
Suara Nikkan tidak kedengaran lagi. Musashi, yang selama itu memandang ke tanah dan tenggelam dalam pemikiran, menengadah. Pendeta tua itu sudah menghilang.
Tanah Perdikan Koyagyu
LEMBAH Yagyu terletak di kaki Gunung Kasagi di sebelah timur Laut Nara. Di awal abad ketujuh belas, tempat itu merupakan wilayah kediaman masyarakat kecil yang sejahtera. Ia terlalu besar untuk dilukiskan sebagai kampung semata-mata, namun tidak cukup berpenduduk atau ramai untuk dapat disebut kota. Tentu saja ia dapat disebut Kampung Kasagi, tetapi penduduk tempat itu sendiri menyebutnya Kambe Demesne, sebuah nama yang diwarisi dari zaman tanah perdikan.
Di tengah masyarakat kecil itu berdiri Wisma Utama, sebuah puri yang menjadi lambang kemantapan pemerintah maupun pusat budaya daerah itu. Kubu-kubu batu, yang mengingatkan orang kepada benteng kuno, mengelilingi Wisma Utama. Rakyat wilayah itu, demikian juga nenek moyang Yang Dipertuan, hidup senang di sana semenjak abad kesepuluh. Penguasa yang sekarang seorang tuan tanah desa yang baik. Ia menyebarkan kebudayaan di antara rakyatnya, dan sepanjang waktu siap melindungi wilayahnya dengan taruhan nyawa. Namun, bersamaan dengan itu, secara hati-hati ia menghindari keterlibatan serius dalam perang dan permusuhan antara tuan-tuan feodal di daerah-daerah lain. Singkatnya tempat itu merupakan tanah perdikan yang damai dan diperintah dengan cara yang bagus.
Di sini orang tidak melihat tanda-tanda kekurangan atau kemerosotan moral yang ada hubungannya dengan samurai bebas. Wilayah ini sama sekali tidak mirip dengan Nara, di mana kuil-kuil kuno yang ternama dalam sejarah dan kesusastraan rakyat dibiarkan telantar. Unsur-unsur yang mengganggu tidak dibiarkan memasuki kehidupan masyarakat.
Lingkungan itu sendiri memang tak kenal keburukan. Gunung-gunung dalam jajaran Kasagi tidak kurang indahnya pada waktu senja dibandingkan pada waktu matahari terbit. Airnya murni dan bersih. Orang bilang air itu air ideal untuk membuat teh. Kembang prem Tsukigase tidak jauh turnbuhnya dari tempat itu, dan burung-burung bulbul menyanyi dari musim melelehnya salju sampai musim datangnya angin ribut berguntur. Suaranya sejernih kristal, seperti jernihnya air sungai gunung.
Seorang penyair pernah menuliskan bahwa di tempat lahirnya seorang pahlawan, pegunungan, dan sungai¬sungai biasanya segar dan jernih. Jika tak ada pahlawan dilahirkan di Lembah Yagyu, maka kata-kata penyair itu kosong saja kiranya. Tetapi tempat ini memang tempat kelahiran para pahlawan. Tak ada bukti yang lebih meyakinkan daripada para Yang Dipertuan Yagyu sendiri. Di rumah besar itu, para pegawai pun orang-orang bangsawan. Banyak di antara mereka yang asalnya petani, tapi kemudian jadi menonjol karena pertempuran, kemudian menjadi pembantu yang setia dan cakap.
Yagyu Muneyoshi Sekishusai yang kini mengundurkan diri itu berdiam di sebuah rumah pegunungan kecil, tak berapa jauh di belakang Wisma Utama. Ia tidak lagi memperlihatkan minat kepada pemerintahan setempat, dan tidak memedulikan pula siapa yang waktu itu memegang kekuasaan langsung. Ia punya sejumlah anak dan cucu yang terampil, juga pegawai-pegawai yang dapat dipercaya untuk membantu dan membimbing mereka. Selanjutnya ia dapat dengan bebas menganggap bahwa rakyat diperintah dengan sebaik-baiknya, sama dengan ketika ia yang mengurusnya.
Musashi datang ke daerah itu sekitar sepuluh hari sesudah terjadi pertempuran di Dataran Hannya. Di perjalanan ia telah menyaksikan barang-barang peninggalan zaman Kemmu. Ia menginap di penginapan setempat dengan maksud bersantai sementara, baik fisik maupun mental.
Dengan pakaian tidak resmi, pada suatu hari ia keluar berjalan-jalan dengan Jotaro. “Mengagumkan,” kata Musashi, sementara matanya mengembara memandang panenan di ladang dan para petani yang sedang bekerja. “Mengagumkan,” ulangnya beberapa kali.
Akhirnya Jotaro bertanya, “Apanya yang mengagumkan?” Baginya yang paling mengagumkan adalah kenapa Musashi berbicara sendiri.
“Sejak meninggalkan Mimasaka, aku sudah mengunjungi Provinsi Settsu, Kawachi dan Izumi, Kyoto dan Nara, dan belum pernah aku melihat tempat seperti ini.”
“Lalu kenapa? Apanya yang lain?”
“Pertama, di pegunungan ini banyak terdapat pohon.”
Jotaro tertawa. “Pohon? Di mana-mana ada pohon. Betul, kan?”
“Ya, tapi di sini lain. Semua pohon di Yagyu ini tua. Ini berarti tidak pernah terjadi perang di sini, tidak ada pasukan musuh yang membakar atau menebangi hutan. Itu berarti juga tidak pernah terjadi kelaparan, setidak-tidaknya untuk waktu yang sangat lama.”
“Hanya itu?”
“Tidak. Ladang di sini juga hijau, dan gandum yang baru tumbuh itu diinjak-injak bawahnya baik-baik untuk menguatkan akarnya dan membikin baik tumbuhnya. Dan dengar itu! Apa tidak kau dengar bunyi roda pemintalan? Bunyi itu seperti berasal dari tiap rumah. Dan apa tidak kau lihat bahwa kalau musafir lewat dengan pakaian yang baik, para petani tidak melihatnya dengan perasaan iri?”
“Ada lagi?”
“Seperti kaulihat, banyak gadis muda kerja di ladang. Ini berarti daerah ini makmur, dan hidup di sini normal. Anak-anak tumbuh sehat, orang tua diperlakukan cukup hormat, sedang pemuda dan pemudi tidak pergi ke tempat-tempat lain untuk mencari hidup yang tak menentu. Aku berani bertaruh yang dipertuan daerah ini kaya, sedangkan pedang dan senapan dalam gudang senjata tetap tergosok dan berada dalam keadaan sebaik-baiknya.”
“Rasanya tak ada yang istimewa,” keluh Jotaro.
“Betul, kukira kau tak akan tertarik.”
“Dan lagi, Kakak datang kemari bukan untuk mengagumi pemandangan. Kakak mau melawan samurai dalam Keluarga Yagyu, kan?”
“Berkelahi itu bukan satu-satunya dalam Seni Perang. Orang-orang yang berpikir demikian dan sudah puas hanya karena bisa makan dan punya tempat untuk tidur, sebenarnya cuma gelandangan. Seorang pelajar yang serius jauh lebih berkepentingan melatih pikirannya dan mendisiplinkan semangatnya daripada sekadar mengembangkan keterampilan perang. Ia harus mempelajari segala macam hal—geografi, irigasi, perasaan rakyat, tingkah laku dan adat kebiasaan mereka, hubungan mereka dengan yang dipertuan di wilayah mereka. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam purl, tidak hanya yang terjadi di luarnya. Pokoknya, dia ingin pergi ke semua tempat yang dapat didatanginya clan mempelajari segala yang dapat dipelajarinya.”
Musashi sadar bahwa kuliah ini barangkali hanya sedikit artinya bagi Jotaro, tapi ia merasa perlu bersikap jujur kepada anak itu, dan tidak hanya memberikan jawaban setengah-setengah. Ia tidak memperlihatkan ketidaksabaran mendengar banyaknya pertanyaan anak itu, maka selagi mereka berjalan itu ia terus memberikan jawaban-jawaban yang mengandung pemikiran dan serius.
Sesudah mereka melihat apa-apa yang bisa dilihat di bagian luar Puri Koyagyu, demikian Wisma Utama itu biasanya disebut orang, dan sesudah melihat dengan saksama segala sesuatu di sekitar lembah itu, mereka pulang ke penginapan.
Di tempat itu hanya terdapat sebuah penginapan, tapi penginapan itu besar. Jalan di situ bagian dari jalan raya Iga, dan banyak di antara orangorang yang berziarah ke Kuil Joruriji atau Kasagidera itu menginap di situ. Pada malam hari, sepuluh atau dua belas kuda beban selalu siap tertambat di pohon dekat pintu masuk atau di bawah tepi atap depan.
Pembantu yang mengikuti mereka ke kamar bertanya, “Sudah jalan-jalan, ya?” Kalau tidak melihat obi merahnya, orang bisa menyangkanya anak lelaki, karena ia mengenakan celana pendaki gunung. Tanpa menantikan jawaban lagi ia mengatakan, “Kalau mau, sekarang bisa terus mandi.”
Musashi berangkat ke kamar mandi, sedangkan Jotaro yang merasa mendapat teman baru yang seumur dengannya lalu bertanya, “Siapa namamu?”
“Tidak tahu aku,” jawab gadis itu. “Gila kamu, tidak tahu nama sendiri.”
“Kocha.”
“Lucu nama itu,” Jotaro tertawa.
“Apanya yang lucu?” tanya Kocha sambil meninju Jotaro.
“Dia pukul aku!” pekik Jotaro.
Dari pakaian yang terlipat di lantai kamar tamu, Musashi mengetahui bahwa di bak mandi ada orang-orang lain. Ia menanggalkan pakaiannya dan membuka pintu masuk kamar mandi yang beruap. Ada tiga orang sedang berbicara dengan riangnya, tapi ketika melihat tubuh Musashi yang berotot, mereka berhenti bicara, seakan-akan ada unsur asing telah menyerobot ke tengah mereka.
Musashi masuk ke dalam bak mandi umum itu sambil melenguh nikmat. Tubuh yang tingginya 180-an sentimeter itu menyebabkan air panas melimpah. Entah karena apa, hal itu mengejutkan ketiga orang lainnya. Seorang di antaranya langsung menatap Musashi, yang waktu itu sudah menyandarkan kepala ke tepi kolam dan menutup mata.
Berangsur-angsur mereka menyambung kembali percakapan yang terputus. Mereka membasuh diri di luar kolam. Kulit punggung mereka putih dan otot-otot mereka lentur. Agaknya mereka orang kota, karena cara bicaranya halus dan berbau kota.
“Siapa namanya-samurai dari Keluarga Yagyu itu?”
“Kalau tak salah, dia menyebut nama Shoda Kizaemon.”
“Kalau Yang Dipertuan Yagyu mengirim pegawai untuk menyampaikan penolakan bertanding, tentunya dia tidak sebaik yang dikatakan orang.”
“Menurut Shoda, Sekishusai sudah mengundurkan diri dan tak pernah lagi bertarung. Bagaimana pendapatmu, betul demikian, atau cuma mengarang-ngarang?”
“Ah, kupikir tidak betul. Yang jauh lebih mungkin adalah ketika dia mendengar anak kedua Keluarga Yoshioka menantangnya, dia memutuskan untuk tidak ambil risiko”.
“Setidak-tidaknya dia cukup bijaksana dengan mengirim buah dan mengatakan dia berharap kita dapat menikmati persinggahan kita di sini.”
Yoshioka? Musashi mengangkat kepala dan membuka mata. Ia sudah mendengar bahwa Denshichiro sedang mengadakan perjalanan ke Ise sewaktu ia singgah di Perguruan Yoshioka. Karenanya Musashi menyimpulkan ketiga orang itu sedang dalam perjalanan pulang ke Kyoto. Salah seorang dari mereka tentunya Denshichiro. Yang manakah?
“Aku kurang beruntung dengan acara mandi rupanya,” pikir Musashi sedih. “Pertama, dulu Osugi menjebakku dengan mandi, dan sekarang, tanpa pakaian sama sekali, aku bertemu dengan salah seorang Yoshioka. Dia tentu sudah mendengar tentang apa yang terjadi di perguruannya. Kalau dia tahu namaku Miyamoto, pasti dia keluar dari pintu itu dan kembali seketika dengan pedang.”
Tapi ketiga orang itu tidak memperhatikannya. Dari percakapan mereka diketahui, begitu tiba, mereka mengirim surat pada Keluarga Yagyu. Agaknya Sekishusai pernah punya hubungan dengan Yoshioka Kempo, dulu, ketika Kempo menjadi guru para shogun. Tak sangsi lagi, justru karena ini Sekishusai tidak membiarkan anak Kempo pergi tanpa menjawab suratnya, dan karena itu pula ia mengirimkan Shoda untuk melakukan kunjungan kehormatan ke penginapan.
Mengomentari sikap Sekishusai itu, pemuda-pemuda kota tersebut mengatakan bahwa Sekishusai “bijaksana”, bahwa ia memutuskan untuk “tidak ambil risiko”, dan bahwa ia tidak mungkin “sebaik yang dikatakan orang”. Mereka rupanya puas sekali dengan diri mereka, tapi menurut Musashi mereka itu lucu. Berlawanan dengan apa yang sudah ia lihat di Puri Koyagyu dan keadaan penduduk daerah yang membikin iri hati itu, mereka bertiga rasanya tidak memiliki apa pun selain kefasihan bicara.
Hal itu mengingatkannya pada pepatah katak di dasar sumur, yang tak dapat melihat apa yang terjadi di dunia luar. Kadang-kadang ia merasa pepatah itu dapat berlaku sebaliknya. Anak-anak muda manja dari Kyoto ini punya kesempatan melihat apa yang terjadi di pusat segala sesuatu dan mengetahui apa yang terjadi di mana-mana. Tetapi yang terjadi pada mereka adalah: selagi mereka mengawasi lautan terbuka luas, di tempat lain, di dasar sumur yang dalam, ada seekor katak yang dengan mantap tumbuh makin lama makin besar clan kuat. Di sini, di Koyagyu, jauh dari pusat politik dan ekonomi negeri, para samurai tegap berpuluh-puluh tahun lamanya menempuh kehidupan pedesaan yang sehat dengan mempertahankan nilai¬nilai kuno, memperbaiki segi-segi mereka yang lemah dan semakin kukuh kelebihannya. ‘
Bersama dengan berlalunya waktu, Koyagyu menghasilkan Yagyu Muneyoshi, seorang guru besar dalam seni bela diri, dan anaknya Yang Dipertuan Munenori dari Tajima, yang kegagahannya diakui oleh Ieyasu sendiri. Ada juga anak-anak Muneyoshi yang lebih tua, Gorozaemon dan Toshikatsu, yang terkenal di seluruh negeri karena keberaniannya, dan cucunya Hyogo Toshitoshi yang prestasi-prestasi luar biasanya menyebabkan ia dapat menduduki jabatan yang besar gajinya di bawah Jenderal Kato Kiyomasa dari Higo yang termasyhur. Dalam hal kemasyhuran dan nama baik, Keluarga Yagyu belum setara Keluarga Yoshioka. Tetapi dalam hal kecakapan, perbedaan itu hanyalah masa lalu. Denshichiro dan teman¬temannya buta karena keangkuhan sendiri. Namun demikian, Musashi merasa sedikit kasihan pada mereka.
Ia pindah ke sudut tempat disalurkannya air ke dalam kamar itu. Ditanggalkannya ikat kepalanya, kemudian diambilnya segenggam tanah liat, dan mulailah ia menggosok kulit kepalanya. Itulah pertama kali selama berminggu-minggu ia bermewah-mewah dengan pencuci rambut yang baik.
Sementara itu, orang-orang Kyoto itu menyelesaikan mandi. “Uh, enak.” “Memang enak. Bagaimana kalau kita panggil gadis-gadis buat menuangkan sake kita?” “Gagasan bagus! Bagus, bagus!” Ketiga orang itu selesai mengeringkan dirt dan pergi. Sesudah mandi, membasuh badan sepenuhnya, dan
mengguyur badan lagi dengan air panas, Musashi mengeringkan badan, mengikat rambut, dan kembali ke kamarnya. Di sana ia temukan Kocha yang tampak seperti anak lelaki itu sedang menangis. “Kenapa kamu?” “Anak lelaki Tuan itu. Coba lihat, dia pukul saya!” “Ah, bohong!” teriak Jotaro marah, dari sudut yang lain. Musashi baru akan memakinya, Jotaro sudah memprotes, “Si tolol ini bilang Kakak lemah.” “Itu tak benar. Saya tidak bilang begitu.”
“Kamu bilang!” “Tuan, saya tidak bilang Tuan atau yang lain itu lemah. Anak bandel ini tadi membual bahwa Tuan pemain pedang terbesar di negeri ini, karena Tuan sudah membunuh berlusin-lusin ronin di Dataran Hannya, tapi saya katakan, di Jepang tak ada yang lebih baik bermain pedang daripada yang dipertuan daerah ini, lalu dia mulai menampar pipi saya.”
Musashi tertawa. “Oh, begitu. Memang tak boleh dia melakukan itu, dan aku akan memarahinya. Kuharap kamu memaafkan kami. Jo!” katanya keras. “Ya, Kak,” kata anak itu, yang masih juga mendongkol. “Pergi mandi sana!” “Saya tak suka mandi!” “Aku juga tak suka,” kata Musashi bohong. “Tapi kamu begitu berkeringat, sampai bau.”
“Saya akan mandi di sungai besok pagi.” Anak itu jadi semakin keras kepala, sesudah makin terbiasa dengan Musashi, tapi Musashi tidak begitu keberatan. Bahkan ia menyukai watak Jotaro itu. Akhirnya anak itu tidak jadi mandi.
Tak lama kemudian Kocha membawakan makan malam dengan baki. Mereka makan tanpa bicara. Jotaro
dan pelayan saling pandang, sementara gadis itu menyediakan makanan. Musashi sibuk memikirkan maksud pribadinya untuk menemui Sekishusai. Melihat kedudukannya yang rendah, barangkali usaha ini terlalu berlebihan, tapi kemungkinan, ya, kemungkinan saja, hal itu bisa.
“Kalau aku beradu senjata dengan seseorang,” pikir Musashi, “haruslah dengan orang yang kuat. Ada manfaatnya membahayakan hidup ini, untuk melihat apakah aku dapat mengalahkan Yagyu yang bernama
besar itu. Tak ada gunanya mengikuti Jalan Pedang jika aku tak punya keberanian mencoba.”
Musashi sadar bahwa kebanyakan orang akan langsung menertawakannya, karena ia punya pikiran seperti itu. Walaupun bukan salah seorang daimyo penting, Yagyu pemilik puri. Anaknya dinas di istana shogun, dan seluruh keluarganya mendalami tradisi kelas prajurit. Di zaman baru yang sedang terbit ini, merekalah yang mengendarai puncak waktu.
“Ini merupakan ujian sejati,” pikir Musashi yang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan, sekalipun ia sedang makan nasi.
Bunga Peoni
KEMULIAAN orang tua itu tumbuh bersama berlalunya waktu, hingga sekarang ia tak lain dari menyerupai derek megah. Sementara itu, ia mempertahankan penampilan dan tingkah laku samurai berpendidikan baik. Giginya masih lengkap dan matanya tajam luar biasa. “Aku akan hidup sampai seratus tahun,” demikian sering kali ia meyakinkan semua orang.
Sekishusai sendiri percaya benar akan hal ini. “Keluarga Yagyu selamanya berumur panjang,” demikian ia suka mengatakan. “Yang mati umur dua puluhan dan tiga puluhan biasanya terbunuh dalam pertempuran. Lainnya hidup sampai melebihi enam puluh tahun.” Di antara peperangan yang tak terhitung jumlahnya, ia ambil bagian dalam beberapa perang besar, termasuk pemberontakan Miyoshi dan pertempuran¬pertempuran yang menandai bangkit dan jatuhnya Keluarga Matsunaga dan Oda.
Sungguhpun misalnya Sekishusai tidak dilahirkan dalam keluarga seperti itu, jalan hidup dan terutama sikapnya setelah ia mencapai umur tua menyebabkan orang percaya bahwa ia akan dapat hidup sampai seratus tahun. Pada umur empat puluh tujuh, karena alasan-alasan pribadi ia memutuskan untuk meninggalkan peperangan. Semenjak itu belum ada yang dapat mengubah tekadnya. Ia menulikan telinga terhadap desakan shogun Ashikaga Yoshiaki, maupun permohonan yang berulang-ulang dari Nobunaga dan Hideyoshi untuk menggabungkan diri dengan mereka. Sekalipun ia hidup hampir dalam bayangan Kyoto dan Osaka, namun ia menolak untuk terlibat dalam pertempuran yang sering terjadi pada pusat-pusat kekuasaan dan intrik itu. Ia lebih suka tinggal di Yagyu, seperti beruang di dalam gua, dan ia merawat tanahnya yang berpenghasilan lima belas ribu gantang itu demikian rupa hingga nanti ia dapat menyerahkannya pada keturunannya dalam keadaan baik. Sekishusai pernah mengatakan, “Aku sudah berbuat sebaik-baiknya dengan berkukuh pada tanah ini. Pada zaman tidak menentu ini, ketika para pemimpin bangkit dan jatuh begitu cepat, hampir tak dapat dipercaya bahwa puri kecil ini berhasil tetap tegak secara lengkap.”
Ini tidak dibesar-besarkan. Sekiranya ia dulu membantu Yoshiaki, ia mungkin menjadi korban Nobunaga, dan sekiranya ia dulu membantu Nobunaga, kemungkinan ia bertabrakan dengan Hideyoshi. Sekiranya ia menerima perlindungan Hideyoshi, hak miliknya mungkin dicabut oleh Ieyasu sesudah Pertempuran Sekigahara.
Ketajaman pandangannya yang dikagumi orang banyak itu memang merupakan satu faktor kelebihan, tetapi untuk dapat tetap tegak dalam zaman yang demikian bergolak, Sekishusai harus memiliki kekuatan dalam yang tidak dimiliki oleh samurai biasa pada zamannya. Mereka semua cenderung berpihak pada seseorang di suatu hari dan secara tak kenal malu meninggalkannya pada hari berikutnya, demi kepentingannya sendiri tanpa memikirkan kesopanan ataupun ketulusan—atau bahkan membantai sanak saudara sendiri yang mencampuri ambisi pribadi.
“Aku tak dapat berbuat seperti itu,” ujar Sekishusai dengan sederhananya. Dan apa yang dikatakannya itu benar. Namun ia belum meninggalkan Seni Perang itu sendiri. Dalam ceruk kamar duduknya tergantung sajak yang ditulisnya sendiri. Bunyinya:
Tak ada padaku cara cerdik
Buat menempuh hidup.
Aku hanya mengandalkan diri
Pada Seni perang.
Itu perlindungan terakhirku.
Ketika diundang Ieyasu untuk mengunjungi Kyoto, mau tak mau Sekishusai merasa harus menerimanya dan keluar dari keterpencilan tenteram yang berpuluh tahun lamanya itu untuk melakukan kunjungan pertama ke istana shogun. Ia membawa serta anaknya yang kelima, Munenori, yang berumur dua puluh empat tahun, dan cucunya Hyogo yang waktu itu baru berumur enam belas. Ieyasu tidak hanya membenarkan prajurit tua yang patut dimuliakan itu dalam hal pemilikan tanah, tetapi memintanya menjadi guru dalam seni perang bagi Keluarga Tokugawa. Sekishusai menolak kehormatan itu dengan alasan umur, dan minta Munenori ditunjuk menggantikannya. Ieyasu setuju.
Warisan yang dibawa Munenori ke Edo itu lebih dari sekadar kecakapan hebat dalam seni bela diri, karena ayahnya juga menurunkan pengetahuan taraf tinggi dalam Seni Perang, yang memungkinkan seorang pemimpin memerintah dengan bijaksana.
Menurut Sekishusai, Seni Perang memang alat untuk memerintah rakyat, tetapi ia pun alat untuk mengendalikan diri. Ini dipelajarinya dari Yang Dipertuan Koizumi, yang sering dinamakan dewa pelindung rumah tangga Yagyu. Surat keterangan yang diberikan kepadanya oleh Yang Dipertuan Koizumi untuk membuktikan penguasaannya atas ilmu pedang Gaya Shinkage, selalu disimpan di sebuah rak kamar Sekishusai bersama empat jilid buku pegangan teknik militer yang dihadiahkan kepadanya oleh Yang Dipertuan. Pada ulang tahun meninggalnya Yang Dipertuan Koizumi, Sekishusai tak pernah lupa menghaturkan persembahan makanan bagi semua harta milik yang sangat berharga itu.
Di samping gambaran tentang teknik-teknik pedang tersembunyi Gaya Shinkage, buku pegangan itu berisi gambar-gambar ilustrasi, semuanya hasil tangan Yang Dipertuan Koizumi sendiri. Bahkan dalam masa pensiunnya pun, Sekishusai senang membuka-buka gulungan itu dan memeriksa isinya. Tidak henti¬hentinya ia merasa kagum dapat menemukan betapa terampil gurunya memainkan kuas. Gambar-gambar itu menunjukkan orang-orang yang sedang bertarung dan bermain pedang dalam segala posisi dan langkah yang mungkin. Apabila Sekishusai memandang gambar-gambar itu, ia merasa para pemain pedang itu turun dari langit dan bergabung dengannya di rumah pegunungan yang kecil itu.
Yang Dipertuan Koizumi pertama kali datang ke Puri Koyagyu ketika Sekishusai berumur tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan tahun dan masih meluap-luap ambisi militernya. Yang Dipertuan bersama dua kemenakannya, Hikida Bungoro dan Suzuki Ihaku waktu itu sedang mengembara mencari ahli seni perang, dan pada suatu hari ia tiba di Hozoin. Itulah zaman ketika In’ei sering kali berkunjung ke Puri Koyagyu, dan In’ei pun menyampaikan pada Sekishusai tentang tamu itu. Itulah permulaan hubungan mereka.
Sekishusai dan Koizumi melakukan pertandingan tiga hari berturut-turut. Dalam pertandingan pertama Koizumi menyebutkan di mana ia akan menyerang, dan mulailah ia bertanding tepat sesuai yang dikatakannya.
Hari kedua terjadi hal yang sama. Karena harga dirinya terluka, pada hari ketiga Sekishusai memusatkan usahanya pada cara baru.
Melihat langkah baru itu, Koizumi hanya mengatakan, “Oh, itu tak bisa. Kalau Anda melakukan itu, saya akan melakukan ini.” Tanpa berpanjang-panjang lagi ia pun menyerang dan mengalahkan Sekishusai untuk ketiga kalinya. Sejak hari itu Sekishusai meninggalkan pendekatan congkak atas ilmu pedang. Kemudian diingatnya bahwa pada kesempatan itulah pertama kali ia melihat Seni Perang sejati.
Atas desakan kuat Sekishusai, Yang Dipertuan Koizumi tinggal di Koyagyu selama enam bulan, dan selama itu Sekishusai belajar sepenuh hati bak seorang yang baru mulai. Ketika akhirnya mereka berpisah, Yang Dipertuan Koizumi mengatakan, “Jalan ilmu pedang saya masih belum sempurna. Anda masih muda, dan Anda mesti mencoba mengusahakannya sampai sempurna.” Kemudian ia memberi Sekishusai sebuah teka¬teki Zen: “Apakah artinya main pedang tanpa pedang?”
Bertahun-tahun lamanya Sekishusai merenungkannya, meninjaunya dari segala penjuru, dan akhirnya sampai pada jawaban yang memuaskan dirinya.
Ketika Yang Dipertuan Koizumi datang lagi berkunjung, Sekishusai menyambutnya dengan mata jernih tak terusik, dan menyarankan agar mereka bertanding. Yang Dipertuan memperhatikannya dengan saksama sesaat lamanya, kemudian katanya, “Jangan, akan sia-sia saja. Anda sudah menemukan kebenaran.”
Kemudian ia menghadiahi Sekishusai surat keterangan dan buku pegangan empat jilid itu. Dengan ini lahirlah Gaya Yagyu. Pada gilirannya hal itu melahirkan cara hidup damai Sekishusai di umur tuanya.
Sekishusai tinggal di rumah pegunungan karena ia tidak lagi menyukai puri yang mencolok dengan segala hiasannya yang rumit itu. Sekalipun ia mencintai hidup mengasingkan diri menurut ajaran Tao, namun ia senang mendapat teman gadis yang dibawa Shoda Kizaemon untuk bermain suling baginya, karena gadis itu penuh perhatian, sopan, dan tidak pernah mengganggu. Tidak hanya dalam permainan suling ia amat menyenangkan, gadis itu juga menambahkan sentuhan kemudaan dan kewanitaan yang menyenangkan bagi rumah tangganya. Sekali-sekali gadis itu mengatakan hendak pergi dari situ, tetapi ia selalu memintanya tinggal sedikit lebih lama.
Sambil mengatur letak terakhir bunga peoni tunggal yang dimasukkannya dalam jambangan buatan Iga, Sekishusai bertanya kepada Otsu, “Bagaimana pendapatmu? Apa susunan bungaku cukup hidup?”
Otsu yang berdiri di belakang orang tua itu berkata, “Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga.”
“Sama sekali tidak. Aku bukan bangsawan Kyoto, dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru.”
“Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar.”
“Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang.” Otsu tampak terkejut. “Apa betul Bapak menyusun bunga seperti menggunakan pedang?”
“Ya, Mengerti tidak, semua itu cuma soal semangat. Aku tidak menggunakan peraturan-misalnya bagaimana memilih bunga-bunga itu dengan ujung jari atau mencekiknya di leher. Soalnya cuma bagaimana menunjukkan semangat sewajarnya-bagaimana membuatnya tampak hidup, sama seperti waktu dipetik. Lihat itu! Bungaku sama sekali tidak mati.”
Otsu merasa orang tua yang cermat ini telah mengajarkan banyak hal yang perlu ia ketahui, dan karena semua itu hanya diawali oleh pertemuan kebetulan saja di jalan raya, ia merasa sangat beruntung. “Akan kuajarkan padamu upacara minum teh,” demikian katanya. Atau, “Bisa kau membuat sajak Jepang? Kalau bisa, coba ajarkan padaku gaya sajak istana. Man’yoshu memang bagus dan apik, tapi hidup di tempat terpencil ini, aku lebih suka mendengar sajak-sajak sederhana tentang alam.”
Sebagai gantinya, gadis itu melakukan hal-hal kecil baginya, yang tak terpikirkan oleh orang lain. Misalnya ia senang sekali ketika gadis itu membuatkannya topi kain kecil seperti yang biasa dipakai tukang teh. Kini hampir sepanjang waktu ia mengenakan topi itu dan sangat menghargainya, seakan-akan tak ada barang yang lebih dari itu di mana pun. Permainan suling gadis itu pun sangat menyenangkan hatinya. Pada malam-malam terang bulan, bunyi sulingnya yang indah mengalun itu sering kali terdengar sampai ke puri.
Selagi Sekishusai dan Otsu bicara tentang susunan bunga, diam-diam Kizaemon datang di pintu masuk rumah pegunungan itu dan memanggil Otsu. Otsu keluar dan mempersilakan Kizaemon masuk, tapi Kizaemon ragu-ragu.
“Tolong sampaikan kepada Yang Dipertuan, aku baru saja kembali dari menjalankan perintah,” katanya.
Otsu tertawa. “Oh, ini namanya terbalik.”
“Kenapa?”
“Tuan kan abdi utama di sini. Saya cuma orang luar yang diundang bermain suling. Tuan jauh lebih dekat kepada beliau daripada saya. Apa tidak lebih baik Tuan menghadap langsung kepada beliau daripada lewat saya?”
“Kukira pendapatmu itu betul, tapi di rumah kecil ini kamu orang khusus. Sudahlah, sampaikan kepada beliau.” Kizaemon senang dengan perubahan yang terjadi di situ. Ia melihat Otsu sangat disukai tuannya.
Hampir seketika itu juga Otsu kembali untuk mengatakan bahwa Sekishusai minta Kizaemon masuk. Kizaemon mendapati orang tua itu di kamar teh, mengenakan topi kain buatan Otsu.
“Jadi, kamu sudah kembali?” tanya Sekishusai.
“Ya. Saya sudah mendatangi mereka dan menyampaikan surat dan buah itu kepada mereka, seperti Tuan perintahkan.
“Apa mereka sudah pergi?”
“Belum. Begitu saya kembali di sini, seorang utusan datang dari penginapan, membawa surat. Isinya, karena mereka telah datang di Yagyu ini, tak hendak mereka pergi sebelum melihat dojo. Kalau mungkin, mereka akan datang besok. Mereka juga mengatakan ingin bertemu dengan Tuan dan menyatakan hormat mereka.”
“Lancang benar orang tak tahu adat itu! Kenapa pula mereka begitu mengganggu?” Sekishusai tampak jengkel sekali. “Apa sudah kamu jelaskan bahwa Munenori ada di Edo, Hyogo di Kumamoto, dan tidak ada orang sama sekali di sini?”
“Sudah.”
“Aku benci orang seperti itu. Sudah kukirim orang, menyatakan tak bisa menerima mereka, mereka tetap saja memaksa.”
“Saya tak tahu apa…”
“Tampaknya anak-anak Yoshioka itu memang tak becus seperti yang dikatakan orang.”
“Yang ada di Wataya itu Denshichiro. Bagi saya dia memang tidak mengesankan.”
“Oh, aku heran kalau dia mengesankan. Ayahnya memang orang yang punya watak. Ketika aku pergi ke Kyoto bersama Yang Dipertuan Koizumi, kami bertemu dia dua-tiga kali dan minum sake bersama-sama. Kelihatannya keluarga itu merosot terus sejak itu. Orang muda itu rupanya menyangka karena dia anak Kempo, dia punya hak untuk tidak ditolak masuk sini, karena itu dia mendesakkan terus tantangannya. Dari sudut pandang kita, tak ada artinya menerima tantangannya, kemudian membiarkannya pergi membawa kekalahan.”
“Denshichiro ini rupanya terlalu percaya diri. Kalau dia memang ingin sekali datang, barangkali saya sendiri yang akan melayani.”
“Tidak, berpikir seperti itu saja pun jangan. Anak-anak orang terkenal itu biasanya terlalu tinggi menilai dirinya. Lagi pula, mereka itu cenderung mencoba dan memutar balik segala sesuatu untuk keuntungan sendiri. Kalau kamu hendak mengalahkannya, kamu mesti mengerti bahwa dia pasti akan mencoba menghancurkan nama baik kita di Kyoto. Tentang diriku, tak ada persoalan, tapi tak ingin aku membebani Munenori atau Hyogo dengan hal seperti itu.”
“Kalau begitu, apa yang hendak kita lakukan?”
“Yang terbaik adalah kalau kita mencoba meredakan hatinya dan membuatnya merasa bahwa dia diperlakukan sesuai perlakuan terhadap anak satu keluarga besar. Barangkali keliru mengirim orang lelaki untuk bertemu dengannya.” Sambil mengalihkan pandangan kepada Otsu, ia melanjutkan, “Kupikir perempuan lebih baik. Otsu kemungkinan orang yang tepat untuk itu.”
“Baik,” kata Otsu. “Apa saya mesti pergi sekarang?”
“Tidak, tak usah buru-buru. Besok pagi saja.”
Sekishusai cepat menulis sepucuk surat sederhana, seperti surat yang ditulis seorang ahli upacara minum teh, dan menyerahkannya kepada Otsu, disertai sekuntum bunga peoni seperti yang ia susun dalam jambangan. “Berikan ini padanya, dan katakan kamu datang mewakili aku karena aku sedang pilek. Mari kita lihat apa jawabnya.”
Pagi berikutnya Otsu mengenakan kerudung panjang. Walaupun kerudung sudah tidak model lagi di Kyoto, bahkan juga di lapisan masyarakat yang lebih tinggi, namun perempuan-perempuan kelas atas dan menengah di daerah masih menghargainya.
Di kandang kuda yang terletak di pekarangan luar puri itu, Otsu meminjam kuda.
Tukang kuda yang sedang sibuk bersih-bersih bertanya, “Oh, kamu pergi, ya?”
“Ya, saya harus pergi ke Wataya, disuruh Tuan.”
“Saya temani?”
“Tak usah.”
‘Tak apa-apa?”
‘Tentu saja tidak. Saya suka kuda. Kuda-kuda yang dulu biasa saya naiki di Mimasaka masih liar, atau hampir-hampir liar.”
Ketika Otsu berkuda, kerudung cokelatnya yang kemerahan mengapung wrtiup angin di belakangnya. Ia dapat mengendarai kuda dengan baik; dengan sebelah tangan ia memegang surat dan bunga peoni yang sudah sedikit layu, dan dengan tangan lain mengendalikan kuda dengan terampilnya. Para petani dan pekerja di ladang melambaikan tangan kepadanya, karena dalam waktu yang singkat di sana itu Otsu sudah cukup dikenal oleh rakyat setempat. Memang, hubungan mereka dengan Sekishusai jauh lebih bersahabat daripada yang biasa terjadi antara tuan tanah dan para petani. Para petani di situ semuanya tahu bahwa seorang perempuan muda yang cantik datang untuk bermain suling bagi tuannya. Kekaguman serta rasa hormat kepadanya pun menjalar kepada Otsu.
Sesampai di Wataya, Otsu turun dan menambatkan kudanya ke pohon di halaman.
“Selamat datang!” kata Kocha menyambutnya. “Mau menginap?”
“Tidak, saya datang dari Puri Koyagyu membawa surat untuk Yoshioka Denshichiro. Dia masih di sini, bukan?”
“Silakan tunggu sebentar.”
Dalam waktu singkat selama ditinggalkan Kocha itu, Otsu telah membikin suasana jadi sedikit hiruk di antara para musafir, yang waktu itu sibuk mengenakan legging dan sandal serta mengikatkan bawaannya ke punggung.
“Siapa itu?” tanya seorang.
“Menurutmu siapa yang akan dia temui?”
Kecantikan Otsu, dan keelokannya yang anggun dan jarang ditemui orang di pedesaan, membuat para tamu yang hendak pergi berbisik-bisik dan menatapnya dengan penuh perhatian, sampai kemudian ia mengikuti Kocha dan menghilang dari pandangan.
Denshichiro dan teman-temannya baru saja bangun, karena malam harinya mereka minum sampai larut. Ketika disampaikan kepada mereka bahwa seorang utusan telah datang dari puri, mereka menyangka utusan itu adalah orang yang datang hari sebelumnya. Melihat Otsu membawa bunga peoni putih, mereka pun terkejut.
“Oh, maaf. Kamarnya berantakan.”
Dengan wajah amat menyesal mereka meluruskan kimono dan duduk baik-baik, bersimpuh sedikit kaku.
“Silakan masuk, silakan masuk.”
“Saya datang kemari diutus oleh Yang Dipertuan Puri Koyagyu,” kata Otsu sederhana, sambil meletakkan surat dan bunga peoni itu di hadapan Denshichiro. “Saya persilakan membaca surat ini sekarang juga.”
“Ah, ya.., ini suratnya? Ya, saya baca.”
Ia membaca gulungan yang tidak lebih dari sekaki panjangnya itu. Surat ditulis dengan tinta tipis dan menyebarkan sedikit bau teh. Bunyinya: Maafkan saya, karena telah mengirimkan salam lewat surat dan bukannya menjumpai Anda sendiri, tapi sayang sekali saya sedang sedikit pilek. Saya pikir sekuntum bunga peoni yang putih bersih akan lebih menyenangkan bagi Anda daripada hidung ingusan seorang tua. Saya kirimkan bunga ini lewat tangan sekuntum bunga pula, dengan harapan bahwa Anda akan menerima maaf saya. Tubuh saya yang sudah sangat tua ini kini berada di luar kehidupan sehari-hari. Saya sangsi akan memperlihatkan muka. Mudah-mudahan Anda dapat tersenyum maklum kepada orang tua ini.
Denshichiro mendengus jijik dan menggulung surat itu. “Hanya ini?” tanyanya.
“Tidak, beliau juga mengatakan, meskipun ingin minum teh dengan Anda, beliau ragu-ragu mengundang Anda datang ke rumah, karena tak ada orang lain di sana kecuali prajurit-prajurit yang tak kenal enaknya teh. Karena Munenori berada di Edo, beliau merasa suguhan teh akan terasa kasar, sehingga bisa menimbulkan tawa di bibir orang-orang ibu kota kekaisaran. Beliau minta saya menyampaikan maaf kepada Anda, dan menyampaikan kepada Anda pula bahwa beliau berharap bertemu dengan Anda pada kesempatan lain nanti.”
“Ha, ha!” ucap Denshichiro seraya memperlihatkan wajah curiga. “Kalau benar penangkapan saya, Sekishusai mengira yang kami inginkan adalah menyaksikan indahnya upacara minum teh. Terus terang saja, karena kami berasal dari keluarga samurai, kami tak tahu apa-apa tentang teh. Maksud kami sebenarnya adalah menanyakan secara pribadi kesehatan Sekishusai dan membujuk beliau untuk memberikan pelajaran ilmu pedang pada kami.”
“Beliau mengerti benar soal itu, tentu saja. Tapi beliau sekarang sedang menghabiskan umur tuanya dengan menyendiri, dan kini beliau punya kebiasaan mengungkapkan banyak buah pikirannya dengan istilah-istilah upacara minum teh.”
Dengan sikap muak yang tampak jelas sekali, Denshichiro menjawab, “Yah, beliau tidak memberikan pada kami pilihan lain kecuali menerima. Tolong sampaikan pada beliau, bahwa kalau kami datang lagi nanti, kami ingin bertemu dengan beliau.” Dan dikembalikannya bunga peoni itu kepada Otsu.
“Anda tak suka ini? Beliau merasa bunga ini akan menggembirakan dalam perjalanan. Beliau mengatakan Anda dapat menggantungkannya di sudut joli Anda, atau kalau Anda naik kuda, menggantungkannya di sadel.”
“Beliau maksudkan ini sebagai tanda mata?” Denshichiro menundukkan mata seakan-akan terhina, kemudian dengan wajah masam ia berkata, “Aneh! Sampaikan pada beliau, kami punya peoni sendiri di Kyoto!”
Kalau memang demikian perasaannya, tak ada gunanya mendesaknya menerima hadiah itu, demikian kesimpulan Otsu. Dengan janji akan menyampaikan pesan itu, Otsu meninggalkan tempat itu dengan berat, seberat kalau ia mesti membuka perban dari luka yang terbuka. Karena marah, tuan-tuan rumah itu hampir tidak melihat kepergian Otsu.
Begitu sampai di lorong rumah, Otsu tertawa pelan sendiri. Dipandangnya lantai hitam mengkilat yang menuju kamar tinggal Musashi, lalu ia membelok ke jurusan lain.
Kocha keluar dari kamar Musashi dan berlari mengejarnya.
“Mau pulang?” tanyanya.
“Ya, sudah selesai urusan saya.”
“Oh, cepat sekali, ya?” Melihat tangan Otsu, ia bertanya, “Apa itu bunga peoni? Saya baru tahu ada yang putih warnanya.”
“Ya. Ini dari halaman puri. Boleh ambil kalau kamu suka.”
”Oh, mau,” kata Kocha sambil mengulurkan tangan.
Sesudah berpisah dengan Otsu, Kocha pergi ke petak pembantu dan memperlihatkan bunga itu pada semua orang di sana. Karena tak seorang pun mengaguminya, dengan kecewa ia kembali ke kamar Musashi.
Musashi duduk di jendela sambil bertopang dagu. Ia memandang ke arah puri dan berpikir keras tentang tujuannya: bagaimana caranya agar, pertama, ia dapat bertemu dengan Sekishusai, dan kedua, mengalahkannya dengan pedang.
“Tuan suka bunga?” tanya Kocha ketika masuk.
“Bunga?” Dan ditunjukkannya bunga peoni itu. “Hmm, bagus ini.” “Tuan suka?” “Ya.” “Ini namanya peoni, peoni putih.” “Betul? Kenapa tidak kamu masukkan jambangan di sana itu?” “Saya tak bisa menyusun bunga. Tuan saja yang menyusun.” “Tidak, kamu saja. Lebih baik menyusunnya tanpa berpikir bagaimana jadinya.” “Baik, saya akan ambil air,” kata Kocha sambil membawa jambangan itu keluar. Secara kebetulan mata Musashi tertuju pada pangkal batang peoni yang terpapas. Kepalanya miring
terkejut, walaupun belum dapat ia memastikan apa gerangan yang memikat perhatiannya itu. Minat yang hanya sambil lalu itu telah berubah menjadi pemikiran asyik ketika Kocha kembali. Kocha
meletakkan jambangan dalam ceruk kamar dan mencoba memasukkan bunga itu ke dalamnya, tapi kurang berhasil. “Batangnya terlalu panjang,” kata Musashi. “Bawa kemari, biar kupotong. Nanti kalau kamu dirikan, akan
tampak pantas. Kocha membawa bunga itu dan menyampaikannya kepada Musashi. Belum lagi sadar akan apa yang terjadi, ia sudah melepaskan bunga itu dan mencucurkan air mata. Sungguh ajaib, karena dalam sekejap mata Musashi sudah menghunus pedang pendeknya, memekik keras, memotong pangkal bunga yang ada di antara kedua tangan Kocha, dan memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya. Bagi Kocha, kilas
baja dan bunyi pedang yang mendetak masuk kembali ke dalam sarungnya itu seakan-akan terjadi serentak. Tanpa mencoba menghibur gadis yang ketakutan itu, Musashi memungut potongan batang bunga yang
telah diirisnya dan mulai membandingkan ujungnya dengan ujung yang lain. Ia tampak tenggelam
sepenuhnya di situ. Akhirnya, ketika melihat gadis yang kebingungan itu, ia minta maaf dan membelai-belai
kepalanya.
Selesai membujuk gadis itu agar tidak menangis lagi, ia bertanya, “Kamu tahu, siapa yang memotong bunga
ini?”
“Tidak. Bunga ini pemberian orang.”
“Siapa yang memberi?”
“Orang dari puri.”
“Salah seorang samurai itu?”
“Tidak, seorang perempuan muda.”
“Mm. Lalu kamu pikir bunga itu dari puri?”
“Ya, dia yang mengatakan.” “Maaf aku sudah bikin kamu takut tadi. Kalau kubelikan kamu kue nanti, mau kamu memaafkan aku? Biar bagaimana, bunga sudah bisa disusun sekarang. Coba masukkan dalam jambangan.”
“Begini?”
“Ya, bagus itu.”
Sebenarnya Kocha menyukai Musashi, tapi kilasan pedangnya itu membikin tubuhnya dingin sampai ke tulang sumsum. Ia meninggalkan kamar itu dan tak ingin kembali sampai tugas benar-benar memaksanya.
Musashi jauh lebih terpesona oleh potongan batang bunga yang delapan inci panjangnya itu daripada oleh bunga di ceruk kamar. Ia yakin potongan yang pertama tidak dibuat dengan gunting atau pisau. Batang bunga peoni itu lentur dan luwes, maka potongan itu hanya mungkin dilakukan dengan pedang, dan hanya hantaman yang sangat mantap saja dapat membuat irisan yang demikian bersih. Siapa pun yang telah melakukannya, bukanlah orang biasa. Sekalipun ia sendiri baru saja mencoba meniru potongan itu dengan pedangnya, waktu kedua ujung potongan itu dibandingkan, segera ia sadar bahwa potongan yang dilakukannya masih kalah jauh. Perbedaannya seperti patung Budha hasil ukiran ahli dan patung buatan tukang kebanyakan saja.
Ia bertanya pada diri sendiri, apa gerangan makna yang tersembunyi di situ. “Jika seorang samurai yang bekerja di kebun puri dapat melakukan potongan seperti itu, maka taraf Keluarga Yagyu tentunya lebih tinggi lagi daripada yang kuduga.”
Dan tiba-tiba saja keyakinan dirinya buyar. “Aku sama sekali belum siap.”
Namun selangkah demi selangkah ia pulih kembali dari perasaan itu. “Bagaimanapun, orang-orang Yagyu itu lawan yang layak. Kalaupun aku kalah nanti, aku dapat menjatuhkan diri ke kaki mereka dan menerima kekalahan dengan keanggunan. Aku toh sudah memutuskan bersedia menghadapi apa pun, termasuk mati.” Sementara duduk memanas-manaskan keberaniannya, ia merasa dirinya jadi tambah bersemangat.
Tapi bagaimana ia bisa melakukannya? Biarpun seorang siswa sudah datang di ambang pintunya dan memperkenalkan diri baik-baik, belum tentu Sekishusai setuju bertanding. Pemilik penginapan itu cukup banyak bercerita. Dan karena Munenori maupun Hyogo tak ada di rumah, tak ada lagi yang mesti ditantang kecuali Sekishusai sendiri.
Sekali lagi ia mencoba mencari jalan untuk memperoleh izin masuk purl. Pandangan matanya kembali ke bunga di dalam ceruk kamar. Mulailah terbentuk di hadapan matanya bayangan seseorang, karena secara tak sadar ia diingatkan oleh bunga itu. Memandang wajah Otsu dalam mata pikirannya itu menenangkan semangatnya dan menyejukkan sarafnya.
Otsu sendiri sedang dalam perjalanan pulang ke Puri Koyagyu, ketika tiba-tiba didengarnya pekikan parau di belakangnya. Ia menoleh, dan kelihatan olehnya seorang anak muncul dari rumpun pohon di kaki sebuah batu karang. Anak itu jelas datang untuk menemui Otsu, tapi karena anak-anak di wilayah itu terlampau pemalu untuk menyapa seorang perempuan muda seperti dirinya, maka Otsu sengaja menghentikan kudanya, sekadar untuk memenuhi keingintahuannya.
Jotaro telanjang bulat. Rambutnya basah dan pakaiannya digulung bulat terkepit di ketiaknya. Tanpa malu, walaupun telanjang, ia berkata, “Anda kan Kakak yang main suling itu. Apa Kakak masih tinggal di sini?” Ia memandang kuda Otsu dengan sikap tak suka, kemudian langsung memandang Otsu.
“Kamu!” seru Otsu, sebelum akhirnya memalingkan muka karena malu. “Anak kecil yang menangis di jalan raya Yamato itu.”
“Menangis? Saya tidak menangis!”
“Ya sudahlah. Sudah berapa lama kamu di sini?”
“Baru kemarin datang.”
“Sendiri?”
“Tidak, dengan guru saya.”
“O ya, betul. Kamu bilang sedang belajar seni pedang, kan? Lalu kenapa pakaianmu kamu tanggalkan?”
“Mana mungkin saya terjun ke sungai dengan pakaian lengkap?”
“Sungai? Tapi air sungai tentunya sedang membeku sekarang. Orang di sini bisa tertawa mendengar orang berenang musim begini.” “Bukan berenang; saya mandi. Guru saya bilang, keringat saya bau, karena itu saya ke sungai.” Otsu mendecap. “Di mana kamu tinggal?” “Di Wataya.” “Lho, aku baru dari sana.” “Sayang sekali Kakak tidak bertemu kami. Bagaimana kalau kembali lagi dengan saya sekarang?” “Tak bisa sekarang. Aku sedang disuruh.” “Kalau begitu, selamat berpisah!” kata Jotaro dan terus membalik untuk pergi. “Jotaro, datanglah ke tempatku di puri sekali-sekali.”
“Apa boleh saya datang?” Baru saja Otsu mengucapkan kata-kata itu, ia sudah menyayangkannya, tapi katanya, “Ya, boleh, tapi jangan sampai kamu tampil seperti sekarang ini.
“Oh, kalau begitu pendapat Kakak, tak mau saya ke sana. Saya tak suka tempat-tempat yang orangnya
cerewet.” Otsu merasa lega. Senyuman masih tampak pada wajahnya ketika ia mengendarai kudanya melewati gerbang puri. Sesudah mengembalikan kudanya ke kandang, ia pergi melapor ke Sekishusai.
Sekishusai tertawa, katanya, “Jadi, mereka marah! Bagus! Biar mereka marah. Tak ada yang bisa mereka perbuat dengan itu.” Sejenak kemudian, seakan-akan teringat sesuatu, ia bertanya, “Apa bunga peoni itu kamu buang?”
Otsu menjelaskan bahwa bunga itu telah ia berikan kepada pembantu di penginapan, dan Sekishusai mengangguk setuju. “Apa anak Yoshioka itu memegang bunga itu dan melihatnya?” tanyanya. “Ya. Ketika dia membaca surat itu.” “Lalu?” “Dia cuma mengembalikannya pada saya.” “Dia tidak melihat batangnya?” “Setahu saya tidak.” “Dia tidak memeriksanya atau mengatakan sesuatu tentangnya?”
“Tidak.” “Kalau begitu, memang sudah benar aku menolak bertemu dengan dia. Tak ada gunanya dia ditemui. Jadi, Keluarga Yoshioka itu boleh dikatakan sudah berakhir dengan matinya Kempo.”
Dojo Yagyu dapat dengan tepat dilukiskan: megah. Dojo itu terletak di pekarangan luar puri, dan dibangun kembali kira-kira waktu Sekishusai berumur empat puluh tahun. Balok kekar yang dipergunakan untuk membangunnya memberikan kesan tak terhancurkan. Kilau kayu yang terbentuk bertahun-tahun lamanya itu mencerminkan kekerasan orangorang yang telah memperoleh latihan di situ. Bangunan itu pun cukup luas untuk dipakai sebagai barak para samurai di masa perang.
“Yang enteng! Bukan dengan ujung pedang! Dengan tekad, dengan tekad!” demikian Shoda Kizaemon meraungkan perintah-perintah marah kcpada dua pemain pedang yang bercita-cita tinggi. Shoda Kizaemon duduk di podium yang ditinggikan sedikit dan mengenakan jubah dalam dan hakama. “Sekali lagi! Tadi itu salah sama sekali!”
Sasaran cacian Kizaemon itu dua samurai Yagyu, yang sekalipun sudah setengah sadar dan mandi keringat, namun terus juga beradu. Langkahhngkah diambil, senjata disiapkan, dan keduanya bertemu lagi seperti api dengan api.
“A-o-o-oh!”
“Y-a-a-ah!”
Di Yagyu, para pemula tidak diizinkan menggunakan pedang kayu. Sebagai gantinya, mereka menggunakan tongkat yang dibuat khusus untuk Gaya Shinkage. Tongkat itu berupa kantong kulit panjang tipis yang diisi belahan-belahan bambu. Sebetulnya benda itu tongkat kulit tak bergagang dan tak berpelindung tangan. Tongkat ini kurang berbahaya dibandingkan dengan pedang kayu, namun masih dapat menghilangkan telinga atau mengubah hidung menjadi buah delima. Tidak ada batasan mengenai bagian tubuh mana yang dapat diserang oleh petarung. Merobohkan lawan dengan memukul kakinya mendatar diperbolehkan, dan tidak ada peraturan yang melarang melabrak orang yang sudah jatuh.
“Ya, terus begitu! Terus macam itu! Sama dengan yang tadi!” demikian Kizaemon mendorong para siswanya.
Kebiasaan yang berlaku di sini adalah tidak membiarkan orang meninggalkan tempat sebelum la hampir roboh. Para pemula diajar sangat keras, tidak pernah dipuji, dan dijadikan sasaran caci-maki yang tidak sedikit. Karena itu, rata-rata samurai tahu bahwa bekerja pada Keluarga Yagyu bukanlah sesuatu yang mesti diterima enteng. Para pendatang baru jarang bertahan lama, dan orang-orang yang kini bekerja pada Yagyu adalah hasil saringan yang sangat cermat. Prajurit biasa dan tukang kuda pun orang-orang yang sudah lanjut dalam mempelajari seni pedang.
Tak perlu disebutkan lagi, Shoda Kizaemon adalah pemain pedang yang sudah jadi dan telah menguasai Gaya Shinkage pada umur sangat muda. Di bawah pengawasan Sekishusai sendiri ia kemudian mempelajari rahasia-rahasia Gaya Yagyu. Semua itu ditambahnya dengan beberapa teknik pribadinya sendiri, dan kini ia dapat bicara dengan bangga tentang “Gaya Shoda Sejati”.
Pelatih kuda Yagyu, Kimura Sukekuro, juga seorang ahli seperti halnya Murata Yozo, yang walaupun dipekerjakan sebagai penjaga gudang, kabarnya lawan tangguh Hyogo. Debuchi Magobei, seorang pejabat lain yang relatif tak penting, mempelajari seni pedang sejak kanak-kanak dan dapat menggunakan sebuah senjata yang perkasa. Yang Dipertuan Echizen telah mencoba membujuk Debuchi untuk bekerja padanya, dan Keluarga Tokugawa dari Kii telah mencoba memikat Murata pergi dari situ, namun kedua orang itu memilih tinggal di Yagyu, meskipun keuntungan materilnya lebih kecil.
Keluarga Yagyu yang kini mencapai puncak peruntungan itu sudah menghasilkan jajaran pemain pedang besar yang kelihatannya tanpa henti. Lagi pula, para samurai Yagyu belum diakui sebagai pemain pedang sebelum mereka membuktikan kesanggupannya menempuh cara hidup yang tak kenal ampun.
“Hei, yang di sana itu!” seru Kizaemon pada seorang pengawal yang lewat di luar. Ia rupanya terkejut melihat Jotaro yang berjalan mengikuti samurai.
“Halo!” seru Jotaro dengan seramah-ramahnya.
“Apa kerjamu dalam puri ini?” tanya Kizaemon tajam.
“Orang di pintu gerbang yang membawa saya masuk,” jawab Jotaro sesuai dengan kenyataannya.
“Betul begitu?” Kemudian kepada pengawal, Kizaemon bertanya, “Kenapa kamu bawa dia kemari?”
“Dia bilang mau bertemu Tuan.”
“Maksudmu, kamu bawa anak ini kemari atas kehendak dia sendiri? Hei, Nak!”
“Ya, Tuan.”
“Ini bukan tempat main. Pergi kamu dari sini.” “Tapi saya datang bukan buat bermain. Saya bawa surat dari guru saya.” “Dari gurumu? Kamu pernah bilang, dia murid yang mengembara itu, kan?” “Silakan Tuan lihat suratnya.” “Tak perlu.” “Kenapa? Apa Tuan tak bisa baca?” Kizaemon mendengus. “Nah, kalau Tuan bisa baca, silakan baca.” “Oh, anak bandel yang pintar sekali kamu. Sebabnya aku tak perlu membaca surat itu, karena aku sudah
tahu isinya.” “Biar begitu, apa tidak lebih sopan kalau membacanya?” “Murid di tempat ini meruap seperti nyamuk dan belatung. Kalau kusediakan waktu buat berlaku sopan pada
mereka semua, takkan dapat aku melakukan yang lain. Tapi aku kasihan padamu, karena itu akan kusebutkan padamu apa isi surat itu. Baik? Isinya, penulis ingin diizinkan melihat dojo yang sangat indah di sini, ingin walaupun hanya sesaat bersenang-senang di bawah bayangan guru terbesar di negeri ini, dan untuk kepentingan semua pengikut yang akan menempuh Jalan Pedang, dia akan sangat berterima kasih mendapat pelajaran di sini. Kukira itulah kira-kira isi surat itu.”
Mata Jotaro membundar. “Apa itu isi surat ini?” “Ya. jadi tak perlu aku membacanya, kan? Biar begitu, jangan sampai dikarakan Keluarga Yagyu dengan darah dingin menolak orang-orang yang datang bertamu kepada mereka.” Ia berhenti bicara, kemudian melanjutkan, seakan-akan sudah terlatih mengucapkan pidatonya. “Minta kepada penjaga di sana supaya menjelaskan padamu semuanya. Kalau murid datang ke rumah ini. dia masuk lewat gerbang utama, lalu terus ke gerbang tengah yang di sebelah kanannya ada bangunan yang namanya Shin’indo. Ada papan nama tergantung di bangunan itu. Kalau murid itu minta kepada pengurus di sana, dia bebas untuk beristirahat sebentar, dan di sana ada tempat untuk menginap semalam-dua malam. Kalau dia pergi, dia
mendapat sedikit uang untuk bantuan dalam perjalanan. Sekarang, yang mesti kamu lakukan adalah memberikan surat itu kepada pengurus di Shin’indo-mengerti?” “Tidak!” kata Jotaro. la menggelengkan kepala dan mengangkat bahu kanannya sedikit. “Coba Tuan
dengar!” “Ha?’ “Tuan tak boleh menilai orang lain dari penampilannya. Saya bukan anak pengemis!” “Kuakui kamu punya kecakapan menggunakan kata-kata.” “Kenapa tidak Tuan lihat surat ini? Mungkin isinya lain sekali dari yang Tuan duga. Lalu apa yang akan Tuan
lakukan nanti? Apa akan Tuan suruh saya memotong kepala Tuan?” “Tunggu dulu!” Kizaemon tertawa. Wajah dan mulutnya yang merah di balik jenggotnya yang seperti paku itu tampak seperti bagian dalam buah berangan yang sudah pecah. “Tidak, kamu tak dapat memotong kepalaku.”
“Nah, kalau begitu Tuan lihatlah surat ini.” “Coba sini.” “Untuk apa?” Jotaro pun merasa menyesal telah melangkah demikian jauh.
“Aku kagum dengan tekadmu untuk tidak membiarkan pesan gurumu tak disampaikan. Aku akan membacanya.”
“Kenapa pula tidak? Tuan pejabat paling tinggi dalam Keluarga Yagyu, kan?”
“Kamu pintar sekali menggunakan lidahmu. Kita harapkan, kamu dapat berbuat sama dengan pedangmu, kalau kamu besar nanti.” Kizaemon melepaskan meterai surat itu, dan dengan diam ia baca pesan Musashi. Selagi membaca, wajahnya menjadi sunguh-sungguh. Selesai membaca ia bertanya, “Apa kamu bawa yang lain disamping surat ini?”
“Oh, ya, saya lupa! Saya mesti menyampaikan ini juga.” Jotaro cepat-cepat mengeluarkan batang peoni dari dalam kimononya.
Tanpa mengatakan sesuatu, Kizaemon memeriksa kedua ujung batang itu. Wajahnya tampak agak heran. Ia tidak sepenuhnya dapat memahami makna surat Musashi.
Surat itu menjelaskan bahwa pelayan penginapan telah memberikan kepadanya sekuntum bunga yang katanya berasal dari puri, dan ketika ia memeriksa batang bunga itu, ia melihat bahwa potongan bunga itu dibuat oleh “orang yang bukan orang biasa”. Surat menyatakan lagi: Sesudah memasukkan bunga itu ke dalam jambangan, saya merasa mendapatkan suatu semangat khusus darinya, dan saya merasa harus menemukan orang yang telah melakukan pemotongan itu. Persoalan ini bisa saja kelihatan remeh, tapi kalau Tuan tidak berkeberatan menyampaikan kepada saya, siapakah di antara anggota rumah tangga Tuan yang sudah melakukannya, saya akan sangat berterima kasih kalau Tuan mengirimkan balasannya lewat anak yang membawa surat int.
Hanya itu-tak ada disebutkan bahwa si penulis seorang murid, dan tak ada permintaan untuk bertanding.
“Aneh juga tulisan ini,” pikir Kizaemon. Sekali lagi ia memandang batang peoni itu, dan sekali lagi ia memeriksa kedua ujungnya baik-baik, namun ia tak dapat membedakan apakah ujung yang satu berlainan dengan ujung yang lain.
“Murata!” panggilnya. “Coba lihat ini. Apa bisa kamu melihat beda antara potongan di kedua ujung batang ini? Apa barangkali yang satu tampak lebih tajam?”
Murata Yozo mengamat-amati batang bunga itu, tapi la terpaksa mengaku tidak melihat beda kedua potongan itu.
“Mari kita perlihatkan kepada Kimura.”
Mereka pergi ke kantor di belakang bangunan itu dan mengajukan soal itu kepada rekan mereka di sana, yang sementara itu sama kagumnya dengan mereka. Debuchi yang kebetulan ada di kamar itu mengatakan, “Ini salah satu bunga yang dipotong oleh Yang Dipertuan sendiri kemarin dulu. Apa engkau tidak bersama beliau waktu itu, Shoda?”
“Tidak, aku memang melihat beliau mengatur bunga. Tapi aku tidak melihat beliau memotongnya.”
“Nah, ini satu dari dua bunga yang beliau potong. Beliau masukkan yang satu ke jambangan di kamar beliau, dan yang lain beliau suruh Otsu bawa ke Yoshioka bersama surat.”
“Ya, aku ingat,” kata Kizaemon, ketika ia mulai membaca surat Musashi lagi. Tiba-tiba ia menengadah dengan mata kaget. “Surat ini ditandatangani oleh ‘Shimmen Musashi’,” katanya. “Apa menurutmu Musashi yang sudah membantu para pendeta Hozoin membunuh semua jembel di Dataran Hannya itu? Tentunya dia!”
Debuchi dan Murata berganti-ganti mengambil surat itu dan membacanya kembali. “Tulisannya memang berwatak,” kata Debuchi.
“Ya,” gumam Murata. “Kelihatannya dia luar biasa.”
“Kalau apa yang dinyatakan surat itu benar,” kata Kizaemon, “dan dia betul-betul dapat menyatakan bahwa batang ini sudah dipotong oleh seorang ahli, tentunya dia mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui. Guru Tua itu yang memotongnya sendiri, dan rupanya hal ini cukup jelas bagi orang yang matanya memang benar-benar dapat melihat.”
Kata Debuchi, “Hm. Ingin aku bertemu dengannya…. Dengan begitu kita dapat mengecek soal itu, dan kita dapat juga meminta dia menceritakan peristiwa yang terjadi di Dataran Hannya.” Namun Debuchi tak hendak melibatkan dirinya seorang, melainkan menanyakan pendapat Kimura. Kimura menyatakan bahwa karena mereka tidak pernah menerima shugyosha, maka tidak dapat mereka menerimanya sebagai tamu di ruangan praktek, namun tak ada alasan kenapa mereka tak dapat mengundangnya makan atau menikmati sake di Shin’indo. Bunga-bunga iris sudah berkembang di sana, katanya, dan bunga-bunga azalea liar mulai berkembang. Mereka bisa mengadakan pesta kecil dan bicara tentang seni pedang dan hal-hal lain seperti itu. Kemungkinan besar Musashi dengan senang hati datang, dan Yang Dipertuan pasti tidak keberatan kalau beliau mendengar tentangnya.
Kizaemon menepuk lututnya, dan katanya, “Saran yang baik sekali.”
“Jadi, pesta buat kita juga,” sambung Murata. “Mari kita kirimkan jawaban sekarang juga.”
Selagi duduk menulis jawaban, Kizaemon berkata, “Anak itu ada di luar. Suruh dia masuk.”
Beberapa menit sebelumnya Jotaro memang sudah menguap dan menggerutu. “Lamanya mereka itu.” Sementara itu, seekor anjing hitam besar mencium baunya dan datang mengendusnya. Merasa mendapat teman baru, Jotaro bicara dengan anjing itu dan menarik telinganya supaya maju mendekat.
“Ayo kita bergulat,” desaknya, kemudian merangkum anjing itu dan melemparkannya. Anjing suka dengan permainan itu. Jotaro menangkapnya lagi dan melemparkannya dua-tiga kali lagi.
Kemudian, sambil memegang kedua rahang anjing itu, Jotaro berkata, “Nah, menyalak sekarang!”
Perbuatan itu membuat si anjing marah. Sambil melepaskan diri ia gigit tepian kimono Jotaro dan ia tarik sekuat-kuatnya.
Kim giliran Jotaro yang jadi marah. “Kamu kira apa aku ini? Tidak boleh kamu lakukan itu!” serunya.
Ia menarik pedang kayunya dan mengancamnya ke kepala anjing. Anjing menganggapnya sungguh¬sungguh dan mulai menyalak keras-keras, hingga menarik perhatian para pengawal. Sambil mengutuk, Jotaro menebaskan pedangnya ke kepala anjing. Kedengaran seperti pedang itu menghantam karang. Anjing meloncat ke punggung anak itu, menggigit obi-nya, dan menjatuhkan Jotaro ke tanah. Belum lagi Jotaro sempat berdiri, anjing itu sudah menyerangnya lagi, dan Jotaro dengan bingung mencoba melindungi wajahnya dengan kedua belah tangannya.
Ia mencoba meloloskan diri, tapi anjing itu terus menempelnya. Gema salaknya memantul-mantul melintasi pegunungan. Darah mulai mengalir dari antara jari-jari yang menutup muka Jotaro, dan segera kemudian lolongan kesakitan anak itu sudah mengalahkan lolongan si anjing.
bagian 7
Pembalasan Jotaro
KEMBALI di penginapan, Jotaro duduk di depan Musashi dengan wajah puas. Ia melaporkan sudah melaksanakan tugasnya. Beberapa goresan menyilangi muka anak itu, sedang hidungnya tampak seperti buah arbei masak. Tak sangsi lagi, ia pasti kesakitan, tapi karena ia tidak memberikan penjelasan, Musashi tidak mengajukan pertanyaan.
“Ini jawaban mereka,” kata Jotaro sambil menyerahkan kepada Musashi surat Shoda Kizaemon serta menambahkan beberapa patah kata tentang pertemuannya dengan samurai itu. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa tentang anjing itu. Sementara ia bicara, luka-lukanya mulai berdarah lagi.
“Cukup sekian saja?” tanyanya.
“Ya, sekian saja. Terima kasih.”
Musashi membuka surat Kizaemon, dan Jotaro menutup mukanya dengan tangan dan buru-buru meninggalkan kamar. Kocha memburunya dan mem perhatikan goresan-goresan di wajahnya dengan
pandangan kuatir. “Kenapa mukamu itu?” tanyanya. “Seekor anjing menyerangku.” “Anjing siapa?” “Salah satu anjing di puri.” “Oh, apa bukan anjing Kishu yang besar hitam itu? Dia memang jahat. Aku yakin, biarpun kamu kuat, takkan
dapat kamu menandinginya. Oh, dia sudah menggigit tukang-tukang rampas sampai mati!” Walaupun hubungan mereka berdua tidak begitu balk, Kocha mengantar Jotaro ke kali dan menyuruhnya membasuh wajahnya. Kemudian ia pergi mengambil salep dan mengoleskannya ke wajah Jotaro. Jotaro
bersikap sopan. Sesudah gadis itu selesai menolongnya, Jotaro membungkukan badan berulang-ulang untuk mengucapkan terima kasih. “Hentikan angguk-angguk itu. Kamu kan lelaki, dan perbuatan itu lucu kelihatannya.” “Tapi aku menghargai sekali jasamu.” “Biar kita banyak berkelahi, tapi aku suka kamu,” kata gadis itu mengaku. “Aku suka kamu juga.” “Betul?” Bagian-bagian wajah Jotaro yang tidak terkena salep berubah menjadi merah tua, dan pipi Kocha jadi
manyala. Tak seorang pun kelihatan. Matahari bersinar lewat kembang persik merah muda. “Tuanmu barangkali akan segera pergi, ya?” tanyanya dengan nada kecewa. “Kami masih akan tinggal di sini sebentar,” jawab Jotaro, berusaha meyakinkan Kocha. “Aku ingin kamu bisa tinggal di sini setahun atau dua tahun.” Keduanya lalu masuk gubuk tempat menyimpan makanan kuda, dan di sana mereka berbaring telentang di
atas jerami. Tangan mereka bersentuhan, dan rasa hangat menyengat tubuh Jotaro. Tanpa peringatan lagi
ia menarik tangan Kocha dan menggigit jarinya.
“Ohh!”
“Sakit ya? Maaf.”
“Tak apa-apa. Gigit sekali lagi.”
“Kamu tidak keberatan?”
“Tidak, tidak, terus gigit lagi! Gigit lebih keras!” Jotaro memenuhi permintaannya dan menyentak-nyentak jari-jari gadis itu seperti anak anjing. Jerami berhamburan menutupi kepala mereka, dan tak lama kemudian mereka sudah saling peluk, tanpa ada maksud lain, ketika ayah Kocha datang mencari anaknya. Ngeri melihat pemandangan itu, ekspresinya berubah keras, seperti wajah orang bijaksana dalam agama Kong-Hu-Cu.
“He, geblek, apa yang kalian lakukan ini? Kalian ini masih anak-anak!” Diseretnya mereka keluar pada
tengkuknya, dan diberinya Kocha beberapa pukulan keras di pantat. Seterusnya hari itu Musashi sedikit sekali bicara dengan orang lain. Ia duduk saja dengan tangan terlipat dan berpikir.
Sekali, di tengah malam, Jotaro terbangun, dan dengan mengangkat kepala sedikit ia mencuri pandang pada tuannya. Musashi berbaring di tempat tidur dengan mata terbuka lebar, menatap langit-langit dengan pemusatan penuh.
Hari berikutnya pun Musashi tetap menyendiri. Jotaro ketakutan. Kemungkinan gurunya sudah mendengar tentang bagaimana ia main dengan Kocha di dalam gubuk. Namun Musashi tidak mengatakan apa-apa. Sorenya Musashi menyuruh anak itu minta kuitansi mereka dan bersiap-siap berangkat, dan juru tulis datang membawanya. Ketika ditanya apakah ia menghendaki makan malam, ia menjawab tidak.
Sambil berdiri menganggur di sudut kamar, Kocha bertanya, “Tuan tak akan pulang tidur malam ini?”
“Tidak. Terima kasih, Kocha, atas pelayanan yang balk. Aku yakin kami sudah banyak mengganggu. Selamat tinggal.” rom “Jaga diri Tuan baik-baik,” kata Kocha. Ia menutupkan tangannya ke muka, menyembunyikan air matanya. Di pintu gerbang, kepala penginapan dan dua pelayan lain berbaris mengantar mereka. Sangat aneh bagi
mereka bahwa kedua tamu itu berangkat tepat sebelum matahari tenggelam. Sesudah berjalan sebentar, Musashi menoleh mencari Jotaro. Karena tidak melihat anak itu, ia kembali ke
penginapan. Anak itu berada di bawah gudang, sedang mengucapkan selamat berpisah pada Kocha. Melihat Musashi mendekat, mereka cepat-cepat saling memisahkan diri. “Selamat jalan,” kata Kocha. “Selamat tinggal,” seru Jotaro sambil berlari ke sisi Musashi. Walaupun takut kepada mata Musashi, anak itu
tak dapat tidak mencuri pandangnya ke belakang, sampai penginapan tidak kelihatan lagi.
Lampu-lampu mulai bermunculan dalam lembah itu. Musashi berjalan terus tanpa berkata-kata dan tidak sekali pun menoleh ke belakang. Jotaro mengikuti dengan murung. Beberapa waktu kemudian Musashi bertanya, “Apa kita belum sampai?” “Di mana?” “Di gerbang utama Puri Koyagyu.” “Apa kita pergi ke puri itu?” “Ya.” “Apa kita akan menginap di sana malam ini?” “Tak tahu aku. Itu tergantung perkembangan nanti.” “Itu. Itu gerbangnya.” Musashi berhenti dan berdiri di depan gerbang, kedua kakinya dirapatkan. Di atas benteng yang ditumbuhi
lumut, pohon-pohon besar memperdengarkan bunyi desir. Seberkas cahaya tunggal menyorot dari sebuah
jendela persegi. Musashi berseru, dan seorang pengawal muncul. Sambil menyerahkan surat dari Shoda Kizaemon ia berkata, “Nama saya Musashi, dan saya datang kemari atas undangan Shoda. Minta tolong disampaikan kepadanya, saya sudah datang.”
Pengawal itu memang sudah menantinya. “Mereka sedang menanti Anda,” katanya sambil memberikan
isyarat kepada Musashi untuk mengikutinya. Disamping fungsi-fungsi lainnya, Shin’indo merupakan tempat bagi para pemuda puri untuk mempelajari agama Kong-Hu-Cu. Tempat itu juga menjadi perpustakaan tanah perdikan tersebut. Kamar-kamar di sepanjang lorong yang menuju belakang bangunan itu semuanya didereti rak-rak buku. Sekalipun Keluarga Yagyu termasyhur berkat kecakapan militernya, namun Musashi dapat melihat bahwa puri itu menekankan sekali pendidikan. Segala sesuatu dalam puri kelihatan diliputi sejarah.
Dan segala sesuatu kelihatan terurus baik, kalau dinilai dari kerapian jalan dari gerbang sampai Shin’indo, sikap sopan santun pengawalnya, dan pemberian lampu yang cermat, damai, di sekitar menara utama.
Pada waktu memasuki sebuah rumah untuk pertama kali, kadang-kadang seorang tamu merasa sudah kenal baik dengan tempat itu dan para penghuninya. Musashi mendapat kesan itu sekarang, ketika ia duduk di lantai kayu dalam kamar besar yang ditunjukkan kepadanya oleh pengawal. Pengawal menyerahkan kepadanya bantalan bundar keras dari jerami, yang diterimanya dengan ucapan terima kasih, kemudian meninggalkannya sendiri. Di perjalanan, Jotaro ditinggalkan di kamar tunggu pembantu.
Pengawal kembali beberapa menit kemudian, dan mengatakan kepada Musashi bahwa tuan rumah akan segera datang.
Musashi menggeser bantal bundar itu ke sebuah sudut dan bersandar pada tiang. Dari cahaya lampu rendah yang bersinar ke halaman ia dapat melihat lilitan tanaman wisteria yang sedang berkembang, berwarna putih dan lembayung muda. Bau wisteria yang manis itu mengambang di udara. la kaget mendengar dengkung katak. Dengkung pertama tahun itu.
Air terdengar berkericik di suatu tempat di halaman. Sungai agaknya mengalir di bawah bangunan. Sesudah ia duduk tenang, terdengar olehnya bunyi air mengalir di bawah dirinya. Namun tak lama kemudian terasa olehnya bahwa bunyi itu datang dari langit-langit, dari dinding, bahkan dari lampu. Ia merasa sejuk dan santai. Namun jauh di dalam dirinya menindih suatu perasaan gelisah yang tak dapat ditekan. Itulah semangat juang yang tak terpuaskan, yang mengalir dalam nadinya, sekalipun dalam suasana setenang itu. Dari bantalan pada tiang itu ia memandang ke sekeliling dengan hati bertanya-tanya.
“Siapakah Yagyu itu?” tanyanya dengan mata menantang. “Dia pemain pedang, dan aku pun pemain pedang. Dalam hal ini kami sama. Tapi malam ini aku akan maju selangkah ke depan dan meninggalkan Yagyu di belakang.”
“Maaf, kami membiarkan Anda menanti.”
Shoda Kizaemon masuk ke kamar bersama Kimura, Debuchi, dan Murata.
“Selamat datang di Koyagyu,” kata Kizaemon hangat.
Sesudah ketiga orang lain memperkenalkan diri, para pelayan mendatangkan berbaki-baki sake dan penganan. Sake di situ merupakan hasil rebusan sendiri, pekat, agak seperti sirup, dan dihidangkan dalam mangkukmangkuk besar gaya lama yang tinggi pegangannya.
“Di desa ini,” kata Kizaemon, “tak banyak yang dapat kami suguhkan, tapi kami harap Anda kerasan.”
Dengan penuh kehangatan, yang lain-lain pun mendorongnya untuk merasa senang dan tidak berkukuh pada upacara. Sesudah diajak, Musashi pun mau menerima sedikit sake, sekalipun ia tidak suka benar minuman itu. Bukannya ia membenci sake, melainkan karena ia masih terlalu muda untuk dapat menghargai kehalusan rasanya. Sake malam itu cukup lezat, tapi tidak begitu lekas mendatangkan akibat kepadanya.
“Kelihatannya Anda biasa juga minum,” kata Kimura Sukekuro, dan menawarkan untuk mengisi lagi mangkuknya. “Omong-omong, saya mendengar bahwa peoni yang Anda tanyakan kemarin dipotong sendiri oleh Yang Dipertuan puri ini.”
Musashi menepuk lututnya. “Memang sudah saya duga!” serunya. “Potongan itu bagus sekali!”
Kimura mendekat. “Yang ingin saya ketahui adalah, bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa potongan batang lunak dan kecil itu dibuat oleh guru pemain pedang. Kami semua terkesan oleh kemampuan Anda melihatnva.”
Karena belum tahu benar ke mana arah pembicaraan itu, Musashi berkata, sekadar memenangkan waktu, “Begitu, ya? Betul?”
“Ya, tak salah lagi!” kata Kizaemon, Debuchi, dan Murata hampir bersamaan.
“Kami sendiri tidak melihat ada hal khusus di situ,” kata Kizaemon. “Dan kami sampai pada kesimpulan bahwa dibutuhkan seorang jenius untuk mengenali jenius yang lain. Kami berpendapat akan sangat membantu pendidikan kami di masa depan kalau Anda dapat menjelaskannya pada kami.”
Sesudah menghirup sake lagi, Musashi berkata, “Ah, tak ada yang khusus di sini-itu cuma terkaan yang mengena.”
“Ayolah, jangan merendahkan diri.”
“Saya bukan merendahkan diri. Saya cuma merasa begitu sesudah melihat potongan batang itu.”
“Merasa bagaimana?”
Keempat siswa senior Keluarga Yagyu itu mencoba menganalisis Musashi sebagai seorang manusia dan sekaligus mengujinya, seperti yang akan mereka lakukan juga terhadap orang asing lain. Mereka sudah mengamati fisiknya, mengagumi pembawaannya, dan ekspresi matanya. Tetapi cara Musashi memegang mangkuk sake dan sumpit itu bagaimanapun menunjukkan bahwa ia berpendidikan kampung, dan ini membuat mereka cenderung mengguruinya. Baru menghabiskan tiga atau empat mangkuk sake saja, wajah Musashi sudah jadi merah tembaga. Karena malu, dua-tiga kali ia menyentuh dahi dan pipinya. Sikap kekanak-kanakan ini membuat mereka tertawa.
“Tentang perasaan Anda itu,” ulang Kizaemon, “apa tidak bisa Anda menceritakannya lebih banyak? Anda tahu gedung Shin’indo ini dibangun dengan sengaja untuk kediaman Yang Dipertuan Koizumi dari Ise, kalau beliau sedang berkunjung. Ini gedung penting dalam sejarah seni pedang. Tempat yang cocok bagi kami untuk mendengar kuliah dari Anda malam ini.”
Karena sadar bahwa memprotes sanjungan itu tak akan dapat meloloskan dirinya, Musashi memutuskan untuk mencebur sekalian.
“Kalau kita merasakan sesuatu, itu artinya kita merasakannya,” katanya. “Betul-betul tak ada cara lain untuk menjelaskannya. Kalau Anda sekalian menghendaki saya memperlihatkan apa yang saya maksudkan itu, terpaksa Anda sekalian mencabut pedang dan menghadapi saya dalam pertarungan. Tak ada cara lain.”
Asap lampu naik, sehitam tinta cumi-cumi, ke udara malam yang tenang itu. Dengkung katak terdengar lagi.
Kizaemon dan Debuchi, yang tertua di antara mereka, saling pandang dan tertawa. Sekalipun Musashi berbicara tenang, pernyataannya tentang keharusan mengujinya tidak dapat disangkal lagi merupakan tantangan, dan mereka memang menganggapnya demikian.
Tanpa menanggapi tantangan itu, mereka berbicara tentang pedang, kemudian tentang Zen, tentang peristiwa-peristiwa di provinsi-provinsi lain, tentang Pertempuran Sekigahara. Kizaemon, Debuchi, dan Kimura telah ambil bagian dalam pertempuran berdarah itu. Bagi Musashi, yang dalam pertempuran berdarah itu berada di pihak lawan, cerita-cerita mereka terdengar bagai kebenaran yang pahit. Tuan rumah tampaknya sangat menikmati percakapan itu, sedangkan Musashi merasa sangat terpesona mendengarkannya.
Namun demikian, ia sadar bahwa waktu berlalu dengan cepat, dan dalam hati ia tahu, kalau malam ini ia tidak bertemu dengan Sekishusai, ia tak akan bertemu dengannya untuk selamanya.
Kizaemon mengatakan sudah waktunya menghidangkan makanan terakhir, yaitu gerst campur nasi. Sake pun diundurkan.
“Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?” pikir Musashi. Semakin lama semakin jelas baginya bahwa ia mungkin terpaksa harus menggunakan akal licik. Haruskah ia menyodok salah seorang dari tuan rumah itu supaya naik darah? Itu sukar kalau ia sendiri tidak sedang marah, karena itu dengan sengaja ia beberapa kali mengatakan tidak sependapat dengan apa yang mereka katakan, dan bicara dengan cara kasar dan kurang ajar. Mendengar itu, Shoda dan Debuchi memilih tertawa. Tak seorang pun dari keempat orang itu mau kena provokasi untuk melakukan sesuatu yang kurang pikir.
Maka akhirnya Musashi pun nekat. Ia tak dapat menerima kalau ia harus meninggalkan tempat itu tanpa melaksanakan maksudnya. Untuk memperoleh mahkota, ia menghendaki bintang kemenangan yang cemerlang, dan untuk sejarah, ia ingin orang mengetahui bahwa Musashi pernah berkunjung ke tempat itu, sudah pergi, dan sudah meninggalkan tanda pada Keluarga Yagyu. Dengan pedangnya sendiri ia ingin membuat Sekishusai, bapak agung seni perang yang disebut “naga kuno” itu, bertekuk lutut.
Apakah mereka sudah mengenalinya sepenuhnya? Baru saja ia memikirkan hal itu, tiba-tiba jalan peristiwa membelok tak terduga-duga.
“Kalian dengar?” tanya Kimura.
Murata keluar ke beranda, kemudian ketika masuk kamar kembali, katanva, “Taro menyalak-biasanya tidak begitu salaknya. Saya pikir ada yang tak beres.”
Taro anjing yang bermasalah dengan Jotaro. Tak bisa dibantah bahwa salak anjing yang sepertinya datang dari lingkaran kedua puri itu sangat mengerikan. Kedengarannya terlalu keras dan mengerikan, kalau berasal hanya dari seekor anjing saja.
Debuchi berkata, “Lebih baik saya lihat. Maafkan saya, Musashi, pesta ini terganggu. Tapi barangkali ini penting. Silakan terus tanpa saya.”
Baru saja ia pergi, Murata dan Kimura minta mengundurkan diri juga dan dengan sopan minta maaf kepada Musashi.
Salak anjing itu jadi semakin mendesak. Ia rupanya berusaha memberikan peringatan tentang adanya bahaya. Kalau salah satu anjing puri berbuat demikian, hampir merupakan tanda pasti bahwa sedang terjadi sesuatu yang tak menguntungkan. Memang kedamaian yang dinikmati negeri itu belumlah mantap sehingga seorang daimyo dapat mengendurkan kewaspadaannya terhadap tanah-tanah perdikan yang berdekatan. Masih ada prajurit-prajurit rusak yang suka melongok-longok untuk memuaskan ambisinya sendiri, juga mata-mata yang bergelandangan mencari sasaran empuk dan mudah dijadikan mangsa.
Kizaemon tampak sangat terganggu. Ia terus menatap cahaya lampu kecil yang tak menyenangkan, seolah¬olah sedang menghitung gema suara yang tak wajar.
Akhirnya terdengar raungan panjang dan sedih. Kizaemon berkomat-kamit dan memandang Musashi.
“Mati dia,” kata Musashi.
“Ya, dia dibunuh.” Tak lagi dapat menahan diri, Kizaemon pun bangkit. “Saya tak bisa mengerti.”
Ia berangkat, tapi Musashi menghentikannya, katanya, “Tunggu. Apa Jotaro, anak yang datang dengan saya itu, masih di kamar tunggu?”
Mereka pun menujukan pertanyaan itu kepada samurai muda di depan Shin’indo. Sesudah mencari-cari, samurai mengatakan bahwa anak itu tak ditemukan di mana pun.
Musashi menunjukkan wajah prihatin. Sambil menoleh pada Kizaemon, ia berkata, “Saya pikir, saya tahu apa yang sudah terjadi. Boleh saya pergi bersama Anda?”
“Tentu.”
Sekitar tiga ratus meter dari dojo telah berkumpul sejumlah orang, dan beberapa obor dinyalakan. Di samping Murata, Debuchi, dan Kimura, ada sejumlah prajurit biasa dan pengawal, membentuk lingkaran hitam, semuanya berbicara dan berteriak-teriak.
Dari pinggir luar lingkaran itu Musashi mengintip ke tempat terbuka di tengah. Maka hatinya pun serasa terbang. Tepat seperti yang ditakutkannya, Jotaro ada di sana, berlumuran darah dan tampak seperti anak setantangannya memegang pedang kayu, giginya mengatup erat, dan bahunya naik-turun akibat napasnya yang berat.
Di sampingnya terbaring Taro, giginya menyeringai, kakinya terjulur. Matanya yang tak melihat lagi memantulkan cahaya obor. Darah mengucur dari mulutnya.
“Ini anjing Yang Dipertuan,” kata seseorang sedih.
Seorang samurai mendekati Jotaro dan pekiknya, “Bajingan kecil kamu! Apa yang kau lakukan? Kau yang membunuh anjing ini?” Orang itu mengangkat tangannya dan menampar dengan berang, tapi dapat dielakkan Jotaro.
Sambil membidangkan bahunya, Jotaro berseru menantang, “Ya, saya yang melakukan!”
“Kamu mengaku?”
“Ada sebabnya!”
“Ha!”
“Saya cuma membalas dendam.”
“Apa?” Semua orang heran mendengar jawaban Jotaro. Dan semuanya marah. Taro binatang kesayangan Yang Dipertuan Munenori dari Tajima. Bukan hanya itu, ia keturunan ras dari Raiko, anjing betina milik Yang Dipertuan Yorinori dari Kishu yang sangat disayanginya. Yang Dipertuan Yorinori secara pribadi memberikan anak anjing itu kepada Munenori, dan Munenori merawatnya sendiri. Pembantaian binatang itu sudah pasti akan diperiksa dengan tuntas, dan nasib dua orang samurai yang telah dibayar untuk mengurus anjing itu sekarang dalam bahaya.
Yang berhadapan dengan Jotaro itu seorang dari kedua samurai tersebut.
“Tutup mulut!” serunya sambil melayangkan tinjunya ke kepala Jotaro. Kali ini Jotaro tidak menghindar pada waktunya. Pukulan mendarat di sekitar telinganya.
Jotaro mengangkat tangan meraba lukanya. “Apa pula ini?” jeritnya.
“Kamu sudah membunuh anjing Tuan. Jadi, kamu tidak keberatan kalau aku memukul kamu juga sampai mati, kan? Dan memang itu yang akan kulakukan.”
“Saya cuma membalas apa yang sudah dia perbuat. Kenapa saya dihukum? Orang dewasa mesti tahu, itu tidak betul!”
Menurut pandangan Jotaro, ia cuma membela kehormatannya dan membahayakan hidupnya dalam melakukan hal itu, karena luka yang kelihatan adalah aib besar bagi seorang samurai. Untuk membela harga diri, tidak ada pilihan lain kecuali membunuh anjing itu. Memang, bagaimanapun ia mengharapkan dipuji atas perbuatannya yang berani itu. Ia telah bertahan dan bertekad tidak akan mundur.
“Tutup mulutmu yang kurang ajar itu!” raung perawat anjing. “Aku tak peduli, biar kamu anak kecil, kamu sudah cukup besar untuk dapat membedakan anjing dan manusia. Macam apa pula itu—membalas dendam kepada binatang yang bodoh!”
Ia mencengkeram kerah Jotaro, memandang orang banyak untuk meminta persetujuan, dan menyatakan bahwa ia wajib menghukum pembunuh anjing itu. Orang banyak mengangguk diam sebagai pernyataan setuju. Keempat orang yang belum lama sebelumnya menjamu Musashi itu tampak sedih, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa.
“Menyalaklah, Nak! Menyalak seperti anjing!” perawat anjing itu berteriak. Lalu ia ayunkan Jotaro berputar¬putar pada kerahnya dan dengan pandangan muram ia jatuhkan Jotaro ke tanah. Kemudian ia ambil tongkat kayu ek dan ia hantamkan kuat-kuat ke tubuh anak itu.
“Kamu membunuh anjing itu, penjahat kecil. Sekarang datang giliranmu! Berdiri kamu, supaya dapat aku membunuhmu! Menyalaklah! Gigit aku!”
Jotaro mengatupkan giginya erat-erat, kemudian menopang dirinya dengan sebelah tangan dan berjuang menegakkan diri sambil memegang pedang kayunya. Air mukanya tidak meninggalkan ciri peri air, dan ekspresi wajahnya pun tetap saja ekspresi kanak-kanak, tapi lolongan yang keluar dari tenggorokannya terdengar sangat liar mengerikan.
Apabila seorang dewasa marah, sering ia menyesal di kemudian hari, tapi apabila kemarahan anak-anak sudah bangkit, ibunya sendiri yang melahirkannya ke dunia pun tak dapat menenteramkannya.
“Bunuh aku!” jeritnya. “Ayo, bunuh aku!”
“Nah, matilah kamu!” pekik perawat anjing mengamuk. Ia pun memukul.
Pukulannya bisa membunuh anak itu jika mengena, tapi pukulan itu tidak mengena. Bunyi berderak tajam bergema di telinga orang-orang yang berdiri menonton, dan pedang kayu Jotaro terbang ke udara. Tanpa pikir lagi ia menangkis pukulan perawat anjing itu.
Tanpa senjata ia menutup mata dan secara membuta menyerang tubuh bagian depan musuh itu dan menguncikan gigi ke obi-nya. Dengan anggapan bahwa hidup itu berharga, ia mencakar selangkangan si perawat anjing dengan kukunya, sedangkan si perawat anjing dengan sia-sia mengayun-ayunkan tongkatnya.
Musashi tetap diam, tangannya dilipatkan dan wajahnya tidak mengungkapkan sesuatu, namun pada waktu itu muncullah tongkat kayu ek lain. Orang kedua menderap ke tengah lingkaran dan sudah hendak memverang Jotaro dari belakang. Musashi bertindak. Tangannya turun, dan dalam sekejap ia sudah menerobos dinding manusia yang kokoh itu dan meloncat ke tengah medan.
“Pengecut!” pekiknya kepada orang kedua itu.
Sebuah tongkat kayu ek dan dua kaki itu membentuk sebuah relung di udara, dan mendarat jadi onggokan sekitar empat meter jauhnya.
Musashi memekik, “Dan sekarang giliranmu, setan kecil!” Ia mencengkeram obi Jotaro dengan kedua tangan, ia angkat anak itu ke atas kepala dan ia biarkan terus di sana. Sambil menoleh kepada perawat anjing yang waktu itu kembali menggenggam tongkatnya, ia mengatakan, “Saya sudah melihat semua ini dari permulaan, dan saya pikir Anda keliru menindaknya. Anak ini pembantu saya, dan kalau Anda mau memeriksa dia, Anda mesti memeriksa saya juga.”
Dengan nada berapi-api, perawat anjing menjawab, “Baik. Kami periksa kalian berdua!”
“Bagus! Kami berdua akan menghadapi Anda. Nah, ini anaknya!”
Ia melemparkan Jotaro langsung kepada orang itu. Orang banyak pun menggagap kaget dan mundur selangkah. Apa orang itu sudah gila? Siapa pernah mendengar ada orang menggunakan manusia sebagai senjata pelawan manusia lain?
Perawat anjing memandang bengong ketika Jotaro melayang di udara dan membentur dadanya. Orang itu langsung rebah ke belakang, seolah-olah penopang yang mengganjalnya tiba-tiba diambil. Sukar dikatakan, apakah kepalanya yang telah membentur batu karang, atau tulang iganya yang patah, tapi ia menghantam tanah diiringi suara lolongan, dan langsung muntah darah. Jotaro melentingkan diri dari dada orang itu, berjungkir balik di udara, dan berguling seperti bola ke tempat yang jauhnya dua puluh atau tiga puluh kaki dari situ.
“Kalian lihat?” pekik satu orang.
“Siapa pula ronin gila ini?”
Perkelahian kini tidak lagi hanya melibatkan perawat anjing, samurai-samurai lain mulai memaki-maki Musashi. Kebanyakan mereka sudah tidak sadar bahwa Musashi tamu yang diundang, dan beberapa orang menyarankan untuk membunuhnya seketika itu juga dan di tempat itu juga.
“Nah,” kata Musashi, “dengarkan, hai, kalian semua!”
Mereka menatapnya dengan saksama ketika ia mengambil pedang kayu Jotaro dan menghadapi mereka dengan wajah memberengut menakutkan.
“Kejahatan anak ini adalah kejahatan tuannya. Dan kami berdua siap membayarnya. Tapi pertama-tama, izinkan saya mengatakan ini: kami tidak bermaksud membiarkan diri kami dibunuh seperti anjing. Kami siap menghadapi kalian.”
Jadi, ia bukannya mengakui kejahatannya dan menerima hukuman, melainkan menantang mereka! Kalau pada waktu itu Musashi minta maaf untuk Jotaro dan bicara membelanya, kalau sekiranya ia mau sedikit saja berusaha meredakan perasaan para samurai Yagyu yang sedang kacau itu, maka seluruh kejadian itu akan berlalu dengan damai. Tetapi sikap Musashi mencegah terjadinya hal itu. Ia rupanya sudah bertekad menciptakan gangguan yang lebih besar lagi.
Shoda, Kimura, Debuchi, dan Murata semuanya mengerutkan kening, tak habis-habis heran mereka. Orang sinting macam apakah yang telah mereka undang datang ke puri itu? Mereka menyesal bahwa Musashi tidak berakal sehat, dan berangsur-angsur mereka pun mengitari orang banyak itu, dengan mata menatap tajam kepada Musashi.
Orang banyak itu sudah menggelegak darahnya, kini ditambah lagi dengan tantangan Musashi.
“Dengarkan dia itu! Dia orang di luar hukum!”
“Dia mata-mata! Ikat dia!”
“Tidak, potong saja dia!”
“Jangan biarkan dia lari!”
Untuk sesaat lamanya tampak seolah Musashi dan Jotaro yang sudah kembali ke sisinya itu akan ditelan oleh lautan pedang, tetapi saat itu juga terdengar teriakan berwibawa. “Tunggu!”
Itulah suara Kizaemon, yang bersama Debuchi dan Murata berusaha mengendalikan orang banyak itu.
“Orang itu rupanya sudah merencanakan semua ini,” kata Kizaemon. “Kalau kalian membiarkan dia menyesatkan kalian, dan kalian terluka atau terbunuh, kita terpaksa mempertanggungjawabkannya kepada Yang Dipertuan. Anjing itu memang penting, tapi tidak sepenting hidup manusia. Kami berempat akan mengambil alih tanggung jawab ini. Yakinlah bahwa tak ada hal buruk akan menimpa kalian, kalau nanti kami mengambil tindakan. Sekarang tenanglah, dan pulanglah.”
Dengan enggan orang-orang itu bubar, meninggalkan keempat orang yang telah menjamu Musashi di Shin’indo itu. Sekarang persoalannya bukanlah tamu dengan tuan rumah, tetapi persoalan orang di luar hukum dengan para hakimnya.
“Musashi,” kata Kizaemon, “maaf terpaksa saya sampaikan kepada Anda bahwa rencana Anda telah gagal. Saya kira ada orang yang menugaskan Anda memata-matai Puri Koyagyu ini atau sekadar menimbulkan kerusuhan, tapi saya kira rencana itu tidak berhasil.”
Sementara mereka berempat mengepung Musashi, Musashi sadar bahwa tak ada di antara mereka yang bukan ahli pedang. Ia berdiri diam sambil menopangkan tangan ke bahu Jotaro. Dalam keadaan terkepung demikian, tidak akan dapat ia meloloskan diri, biarpun misalnya ia memiliki sayap.
“Musashi!” panggil Debuchi sambil mencabut sedikit pedangnya dari sarungnya. “Anda gagal. Yang pantas untuk Anda adalah bunuh diri. Anda mungkin seorang bajingan, tapi Anda sudah memperlihatkan keberanian luar biasa dengan datang di puri ini hanya berteman anak itu. Kita sudah berpesta bersama dalam suasana bersahabat, sekarang kami akan menanti, sementara Anda menyiapkan diri melakukan harakiri. Kalau Anda siap, Anda dapat membuktikan bahwa Anda seorang samurai sejati!”
Itu merupakan pemecahan ideal kiranya. Mereka tidak berkonsultasi dengan Sekishusai, dan jika Musashi mati sekarang, seluruh kejadian akan dikubur bersama badan Musashi.
Tetapi Musashi punya pikiran lain. “Anda mengira saya akan membunuh diri sendiri? Oh, itu keterlaluan! Saya tidak bermaksud untuk mati, tidak untuk waktu lama.” Dan bahunya pun berguncang karena tertawa.
“Baiklah,” kata Debuchi. Nadanya tenang, tetapi maknanya jelas seperti kristal. “Kami sudah mencoba memperlakukan Anda dengan pantas, tapi Anda justru mengambil keuntungan dari kami.”
Kimura menyela, katanya, “Tak ada gunanya bicara lagi!”
Ia pergi ke belakang Musashi dan mendorongnya. “Jalan!” perintahnya.
“Jalan ke mana?”
“Ke sel!”
Musashi mengangguk dan mulai berjalan, tetapi ke arah yang dipilihnya sendiri, langsung menuju menara utama.
“Ke mana jalanmu ini?” teriak Kimura sambil melompat ke depan Musashi clan merentangkan tangan untuk menghalanginya.
“Ini bukan jalan ke sel. Sel ada di belakangmu. Balik!” “Tidak!” teriak Musashi. Ia menunduk memandang Jotaro yang masih bergayut di sisinya. Disuruhnya Jotaro pergi duduk di bawah pohon pinus di halaman, di depan menara utama. Tanah di sekitar pohon-pohon pinus itu ditimbuni pasir putih yang digaruk baik-baik.
Jotaro melejit dari bawah lengan kimono Musashi dan bersembunyi di balik pohon. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah yang hendak diperbuat Musashi. Kenangan tentang keberanian gurunya di Dataran Hannya datang kembali padanya, dan tubuhnya membengkak karena gembira.
Kizaemon dan Debuchi mengambil posisi di kedua sisi Musashi clan mencoba menariknya ke belakang dengan menarik lengannya, tapi Musashi tak beranjak. “Ayo!” “Aku tak akan pergi!” “Kau mau melawan?”
“Betul!” Kimura kehilangan kesabaran dan mulai menarik pedangnya, tetapi temannya yang lebih senior, Kizaemon dan Debuchi, memerintahkannya untuk menahan diri.
“Apa pula ini? Mau ke mana kamu?” “Mau bertemu Yagyu Sekishusai.” “Apa?” Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa pemuda tak waras itu punya maksud yang demikian tak masuk
akal. “Dan apa yang akan kaulakukan, kalau sudah bertemu dengan beliau?” tanya Kizaemon. “Aku seorang pemuda, dan aku sedang belajar seni perang. Salah satu tujuanku dalam hidup ini adalah
menerima pelajaran dari guru Gaya Yagyu.” “Kalau itu yang kauinginkan, kenapa kau tidak minta?” “Bukankah Sekishusai tak pernah bertemu dengan siapa pun, dan tak pernah memberikan pelajaran kepada
murid prajurit?” “Betul.” “Kalau begitu, apa lagi yang bisa kuperbuat selain menantangnya? Memang aku sadar bahwa kalaupun aku
menantangnya, barangkali dia menolak meninggalkan istirahatnya. Karena itu, sebagai gantinya aku menantang seluruh puri ini untuk bertempur.”
“Bertempur?” kata keempat orang itu bersama-sama. Dengan lengan masih dipegang oleh Kizaemon dan Debuchi, Musashi menengadah ke langit. Terdengar bunyi mengepak ketika seekor rajawali terbang ke arah mereka dari balik awan hitam yang menyelimuti Gunung Kasagi. Seperti kain kafan raksasa, bayangan burung itu menutupi bintangbintang dari pandangan mata, sebelum ia meluncur dengan ributnya dan turun ke atap gudang beras.
Bagi keempat pegawai itu, kata “bertempur” terdengar begitu melodramatis hingga patut ditertawakan, tetapi bagi Musashi kata itu cukup memadai untuk mengungkapkan pengertiannya mengenai apa yang bakal terjadi. Yang dibicarakannya bukan hanya pertandingan pedang yang harus diselesaikan dengan keterampilan teknik semata-mata. Yang dimaksudkan olehnya adalah perang total, di mana kedua pihak yang berperang memusatkan segenap jiwa dan kecakapannya dan nasib mereka ditentukan. Pertempuran antara dua tentara bisa saja lain bentuknya, tapi hakikatnya sama saja. Pertempuran sekarang ini sederhana saja. Satu orang lawan satu puri. Tekad Musashi dalam hal ini kelihatan dengan jelas dari teguhnya tumitnya menghunjam ke bumi. Tekad baja inilah yang membuat kata “bertempur” itu wajar diucapkan bibirnya.
Keempat orang itu merenungi wajah Musashi dan sekali lagi bertanyatanya, apakah Musashi masih memiliki akal sehat, biarpun sedikit.
Akhirnya Kimura menerima tantangan itu. Sambil menendang sandal jeraminya ke udara dan menyingsingkan hakama-nya ia berkata, “Bagus! Tak ada yang lebih kusukai daripada pertempuran! Tak dapat aku menyuguhkan dentam genderang atau dengung gong, tapi aku dapat menyuguhkan perkelahian. Shoda, Debuchi, dorong dia kemari.” Kimura-lah yang pertama kali tadi menyarankan agar mereka menghukum Musashi, tapi kemudian ia mengendalikan diri dan berusaha bersabar. Sekarang ia sudah kehilangan kesabaran.
“Ayo dorong!” desaknya. “Biar aku yang membereskannya!”
Saat itu juga Kizaemon dan Debuchi menolakkan Musashi ke depan. Musashi terhuyung empat atau lima langkah ke arah Kimura. Kimura undur selangkah, mengangkat siku ke depan wajahnya, dan sambil menarik napas cepat ia menebaskan pedang ke arah sosok Musashi yang sedang terhuyung-huyung. Terdengar bunyi serupa bunyi pasir yang aneh ketika pedang itu mendesah di udara.
Saar itu juga terdengar pekikan, bukan dart Musashi, melainkan dari Jotaro yang waktu itu meloncat keluar dari tempatnya di belakang pohon pinus. Segengggam pasir yang dilemparkannya itulah sumber dari bunyi aneh itu.
Karena sadar bahwa Kimura menaksir jarak untuk dapat menebas dengan efektif, maka Musashi dengan sengaja menambah kecepatan langkahnya yang terhuyung itu, dan pada saat jatuhnya tebasan itu ia menjadi jauh lebih dekat kepada Kimura daripada yang diduga oleh Kimura. Pedang tidak menyentuh apa pun kecuali udara dan pasir.
Kedua pihak dengan cepat melompat mundur, dipisahkan oleh jarak tiga atau empat langkah. Di sana mereka berdiri, saling tatap penuh ancaman, dalam kediaman penuh ketegangan.
“Oh, ini pantas untuk ditonton,” kata Kizaemon pelan.
Debuchi dan Murata tidak berada dalam wilayah pertempuran, tapi keduanya mengambil posisi baru dan menyiapkan langkah bertahan. Dan apa yang mereka lihat sampai sedemikian jauh, nyatalah bahwa Musashi seorang pejuang terampil. Caranya mengelak dan menyusun kembali posisi sudah meyakinkan mereka bahwa ia lawan setanding Kimura.
Pedang Kimura ditempatkan sedikit lebih rendah dari dadanya. Ia berdiri tak bergerak. Musashi sama diamnya, tangannya memegang gagang pedang, bahu kanan maju ke depan dan sikunya di atas. Matanya seperti dua batu putih yang digosok di tengah wajah yang kabur.
Untuk sesaat yang terjadi adalah pertempuran saraf. Tapi sebelum salah satu pihak bergerak, kegelapan sekitar Kimura seperti goyah, berubah, namun sukar dilukiskan. Segera kemudian jelaslah bahwa ia bernapas lebih cepat dan lebih gelisah daripada Musashi.
Bunyi gerutu pelan yang hampir tak terdengar dikeluarkan oleh Debuchi. Ia tahu sekarang bahwa apa yang dimulai sebagai sesuatu yang agak tak berarti itu akan berubah menjadi bencana besar. Ia yakin Kizaemon dan Murata pun mengerti hat ini. Tidak mudah mengakhiri semua itu.
Hasil pertarungan antara Musashi clan Kimura kini boleh dikatakan telah ditentukan, kecuali kalau langkah¬langkah istimewa diambil. Walau enggan melakukan sesuatu yang dapat dinilai sebagai sikap pengecut, tapi mereka terpaksa bertindak untuk mencegah terjadinya bencana. Pemecahan terbaik adalah melepaskan diri mereka dari si penyerbu yang aneh dan tak punya keseimbangan ini secepat mungkin dan mencegah agar diri mereka tidak mendapat luka secara sia-sia. Di sini tidak diperlukan tukar kata. Mereka dapat saling berhubungan dengan baik sekali lewat mata.
Secara serentak mereka bertiga mengepung Musashi. Pada detik yang sama, pedang Musashi mengoyak udara seperti desing tali busur, dan pekik mengguntur memenuhi ruangan kosong. Pekik pertempuran itu tidak hanya keluar dari mulutnya, tapi dari seluruh tubuhnya, sedangkan dentang-dentang lonceng kuil yang tiba-tiba terdengar menggemakannya ke segala penjuru. Dari arah keempat lawannya yang tersusun di kedua sisinya, di depan dan di belakangnya, terdengar bunyi mereguk dan mendesis.
Musashi merasa benar-benar hidup. Darahnya terasa seperti mau meletus dari setiap pori-porinya, tapi kepalanya sendiri sedingin es. Inikah bunga seroja yang menyala, seperti dikatakan oleh orang-orang Budha? Yaitu panas yang teramat sangat bergabung dengan dingin yang teramat sangat, sintesa nyala api dan air?
Tak ada lagi pasir dihamburkan ke udara. Jotaro sudah menghilang. Angin bersiul turun dari puncak Gunung Kasagi; pedang-pedang yang digenggam erat berkilau bercahaya.
Satu lawan empat. Namun Musashi merasa tidak berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Ia sadar terjadinya pembengkakan pada urat-urat nadinya. Pada saat-saat seperti itu, kata orang pikiran tentang mati akan mendesakkan diri ke dalam otak, tapi pada Musashi tak ada sedikit pun pikiran tentang maut. Namun bersamaan dengan itu ia pun tidak merasa yakin akan mampu menang.
Angin terasa seperti bertiup melintasi kepalanya, menyejukkan otaknya, membikin terang pandangannya, sekalipun tubuhnya jadi bertambah pekat dan titik-titik keringat berminyak berkilau-kilau di dahinya.
Terdengar gemeresik pelan. Seperti sungut kumbang, pedang Musashi menyampaikan kepadanya bahwa orang yang di sebelah kin telah menggerakkan sebelah kakinya seinci dua inci. Ia pun melakukan penyesuaian dalam meletakkan senjatanya, dan sang musuh yang juga tanggap itu pun tidak membuat gerakan lebih lanjut untuk menyerang. Kelima orang itu membentuk tablo yang seakan-akan statis.
Musashi sadar bahwa makin lama hal ini berlangsung, makin kurang menguntungkan keadaan baginya. Ingin ia sebenarnyar agar lawan-lawannya bukan mengepungnya, tetapi menyebar dalam garis lurus-agar dapat dihadapinya satu per satu-tetapi ia tidak berhadapan dengan orang-orang amatir sekarang ini. Kenyataannya, sebelum salah seorang dari mereka mengubah kedudukan atas kehendak sendiri, tak dapat ia membuat gerakan. Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah menanti, dan berharap bahwa pada akhirnya salah seorang dari mereka akan mengambil langkah sementara yang keliru dan memberikan peluang kepadanya.
Lawan-lawan Musashi sebetulnya sedikit saja merasa enak memiliki keunggulan jumlah itu. Mereka tahu bahwa apabila seorang dari mereka memperlihatkan tanda sekecil apa pun bahwa mereka mengendurkan sikap, Musashi akan menyerang. Mereka mengerti bahwa Musashi bukanlah jenis orang yang biasa dijumpai di dunia ini.
Kizaemon pun tidak dapat membuat gerakan. “Aneh sekali orang ini!” pikirnya.
Pedang, manusia, tanah, dan langit-semuanya seperti sudah membeku jadi padat. Tetapi justru pada waktu itu ke tengah kediaman tersebut mengalun bunyi yang sama sekali tak diduga-duga, yaitu bunyi alunan suling yang ditiup angin.
Begitu nadanya menyerobot ke dalam telinga Musashi, ia lupa akan dirinya, lupa akan musuh, lupa akan hidup dan man. Jauh di dasar hatinya ia mengenali bunyi ini. Bunyi inilah yang telah memikatnya keluar dari persembunyian di Gunung Takateru dulu-bunyi yang telah menjatuhkannya ke tangan Takuan. Itulah suling Otsu, dan Otsu-lah yang memainkannya.
Batinnya menjadi lumpuh. Dari luar, perubahan itu hampir tidak dapat dilihat, tapi itu sudah cukup. Dengan memperdengarkan teriakan perang yang keluar dari pinggangnya, Kimura menerjang ke depan, lengan pedangnya seakan-akan menjelma enam atau tujuh kaki panjangnya.
Otot-otot Musashi menegang, dan darah seakan-akan menderas di dalam dirinya, menjurus kepada perdarahan. Ia yakin telah terluka. Lengan kimono kirinya tersobek dari bahu sampai pergelangan tangan, dan lengannya yang tiba-tiba kelihatan itu membuatnya menyangka bahwa ia terluka.
Untuk sesaat ia kehilangan penguasaan diri, dan ia pun menjerit menyerukan nama dewa perang. Ia melompat, tiba-tiba berpaling, dan melihat Kimura sudah menghuyung ke tempat tadi ia berdiri.
“Musashi!” seru Debuchi Magobei.
“Kau ini lebih pintar bicara daripada berkelahi!” ejek Murata ketika ia dan Kizaemon berusaha menghadang Musashi.
Tetapi Musashi waktu itu juga menendang tanah sekuat-kuatnya dan melompat demikian tinggi, hingga mengenai cabang-cabang bawah pepohonan pinus. Kemudian ia melompat berulang-ulang lagi, lenyap ke dalam gelap, dan tidak menoleh-noleh lagi.
“Pengecut!”
“Musashi!”
“Ayo berkelahi seperti lelaki!”
Ketika Musashi sampai di tepi parit sekitar kuil dalam, terdengar gemeretak rerantingan, tapi sudah itu diam. Satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah alunan suara suling yang manis di kejauhan.
Burung-Burung Bulbul
TIDAK mungkinlah untuk mengetahui berapa lama air hujan yang ada di dasar parit yang dalamnya tiga puluh kaki itu dapat menggenang. Musashi menyuruk ke dalam pagar di dekat puncak parit clan meluncur cepat setengah jalan turun, lalu berhenti dan melemparkan sebuah batu. Karena tidak mendengar kecipak air, ia meloncat ke dasar pant, dan di situ ia berbaring telentang di rumput, tanpa membuat bunyi apa pun.
Sebentar kemudian tulang-tulang iganya sudah berhenti naik-turun clan detak nadinya kembali normal. Ketika keringat sudah menyejuk, ia mulai bernapas teratur kembali.
“Tak mungkin Otsu ada di Koyagyu ini!” katanya pada diri sendiri. “Telingaku tentunya salah…. Meskipun begitu, bukan tak mungkin juga dia di sini. Mungkin juga dia.”
Sambil berdebat dengan dirinya, ia membayangkan mata Otsu di tengah bintang-bintang di atasnya, dan segera kemudian ia terbawa hanyut oleh kenangan: Otsu di celah perbatasan Mimasaka-Harima, mengatakan tidak dapat hidup tanpa dirinya dan tak ada lelaki lain baginya di dunia ini. Kemudian di Jembatan Hanada di Himeji, gadis itu mengatakan kepadanya telah menantinya hampir seribu hari, dan akan menanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi-sampai ia tua dan putih rambutnya. Lalu minta dibawa serta, dan menyatakan bahwa ia dapat menahan kesukaran apa pun.
Perbuatan Musashi lari dari Himeji itu merupakan pengkhianatan. Oh, tentunya sesudah peristiwa itu gadis itu sangat membencinya! Oh, tentunya ia menggigit bibir dan mengutuk sifat lelaki yang tak dapat diduga¬duga itu.
“Maafkan aku!” Kata-kata yang diukirnya di pagar jembatan itu kini keluar dari bibirnya. Air mata meleleh dari sudut-sudut matanya.
Terkejut ia mendengar teriakan dari puncak parit. Kedengarannya seperti, “Tak ada dia di sini.” Tiga atau empat obor kayu pinus menyala di antara pepohonan, kemudian menghilang. Mereka tidak mengetahui tempatnya.
Ia jadi kecewa melihat dirinya menangis. “Apa yang kubutuhkan dari seorang perempuan?” katanya mengolok-olok dirinya, sambil menghapus mata dengan tangannya. Ia bangkit berdiri dan menengadah memandang sosok hitam Puri Koyagyu.
“Mereka sebut aku pengecut, dan katanya aku tak dapat berkelahi seperti lelaki! Tapi aku belum lagi menyerah, sama sekali belum menyerah! Aku tidak melarikan diri. Aku cuma melakukan gerak mundur taktis.”
Hampir satu jam berlalu. Ia mulai berjalan pelan-pelan sepanjang dasar parit itu. “Bagaimanapun, tak ada gunanya bertempur dengan keempat orang itu. Bukan itu sasaranku. Kalau aku bertemu dengan Sekishusai sendiri, di situlah pertempuran dimulai.”
Ia berhenti dan mulai mengumpulkan ranting-ranting jatuhan yang kemudian ia patah-patahkan menjadi bilah-bilah pendek dengan lututnya. Satu demi satu bilah-bilah itu ia masukkan ke celah-celah dinding batu
dan ia gunakan sebagai tempat menapak, lalu memanjat ke luar parit.
Tak ia dengar lagi bunyi suling. Sesaat ia mendapat perasaan samar-samar bahwa Jotaro memanggilnya, tapi ketika ia berhenti dan mendengarkan lebih saksama, ternyata tidak ada sesuatu pun yang terdengar. Sebetulnya ia tidak begitu gundah memikirkan anak itu. Anak itu dapat menjaga dirinya. Barangkali ia kini sudah bermil-mil jauhnya. Tidak adanya obor lagi menunjukkan bahwa pencarian sudah dihentikan, setidaknya untuk malam itu.
Keinginan untuk menemukan dan mengalahkan Sekishusai sekali lagi menjadi nafsu yang mengendalikan semuanya, menjadi hantu utama yang terbentuk akibat hasratnya yang mahahebat untuk mendapat pengakuan dan kehormatan.
Ia sudah mendengar dari pemilik penginapan itu bahwa Sekishusai mundur bukan ke salah satu lingkaran puri, melainkan ke satu tempat terpencil di wilayah luar. Musashi berjalan terus menembus hutan dan lembah. Kadang-kadang ia merasa sudah tersesat di luar wilayah puri, tapi kemudian potongan pant, dinding batu, atau lumbung padi meyakinkannya kembali bahwa ia masih ada di dalam.
Sepanjang malam ia mencari, dipaksa oleh dorongan setani. ia bermaksud, kalau nanti menemukan rumah pegunungan itu, akan menerobos masuk sambil mengucapkan tantangannya. Tapi ketika jam demi jam berlalu, mau rasanya ia melihat hantu dalam bentuk Sekishusai.
Hari sudah mendekati fajar ketika ia berada di gerbang belakang puri. Di sebelah sana menjulang tebing, dan di atas tebing itu Gunung Kasagi. Ketika ia sudah hampir menjerit karena frustrasi, ia kembali mengayun langkah ke arah selatan. Akhirnya, di kaki lereng yang menjurus ke bagian tenggara purl, pepohonan yang bagus bentuknya dan rumput yang terawat balk pun menyatakan kepadanya bahwa ia telah menemukan tempat memencilkan diri itu. Terkaannya segera dibenarkan oleh sebuah gerbang beratap lalang dengan gaya yang disukai ahli upacara minum teh besar Sen no Rikyu. Di dalam sana ia melihat rumpun bambu yang terselimut kabut pagi.
Ketika mengintip lewat celah di pintu gerbang, ia melihat jalan itu berkelok-kelok melintasi rumpun pohon, mendaki bukit, seperti yang terdapat di tempat-tempat penganut Budha Zen menyendiri di pegunungan. Sesaat ia tergiur untuk melompati pagar, tetapi ia masih menahan diri. Ada sesuatu pada lingkungan itu yang menghambatnya berbuat demikian. Apakah karena perawatan penuh cinta yang telah diberikan pada daerah itu, ataukah karena ia melihat daun-daun bunga putih di tanah? Apa pun alasannya, kepekaan penghuni tempat itu menembusnya hingga gejolak perasaan Musashi mereda. Tetapi tiba-tiba terpikir olehnya penampilannya sendiri. Tentunya ia tampak seperti orang gelandangan sekarang, dengan rambut awut-awutan dan kimono berantakan.
“Tak perlu buru-buru,” katanya pada diri sendiri, karena ia sekarang sadar bahwa tenaganya sudah habis. Ia mesti menguasai diri terlebih dahulu, sebelum menampilkan diri kepada tuan di dalam itu.
“Lambat atau cepat,” pikirnya, “pasti seseorang datang ke gerbang ini. Dan itulah waktunya. Kalau dia masih menolak menemuiku sebagai murid pengembara, akan kupergunakan pendekatan lain.” Ia duduk di bawah tepi atap gerbang, bersandar ke tiang, dan jatuh tertidur.
Bintang-bintang sedang memudar dan bunga-bunga aster putih berayunayun, ketika sebutir embun besar jatuh dengan dinginnya ke lehernya dan membangunkannya. Cahaya siang datang, dan ketika ia menggerakkan badan dari tidurnya, kepalanya dibasuh oleh angin pagi dan nyanyian burung bulbul. Tak ada lagi kelelahan yang tersisa ia merasa lahir kembali.
Ketika ia menggosok-gosok matanya dan menengadah, tampak olehnya matahari merah cemerlang naik di atas pegunungan. Ia bangkit. Panas matahari telah menghidupkan kembali semangatnya, dan tenaga yang tertimbun di dalam anggota badannya menghendaki kegiatan. Sambil meregangkan badan, ia berkata lirih, “Hari inilah harinya.”
Ia lapar, dan entah kenapa ia teringat pada Jotaro. Barangkali ia telah memperlakukan anak itu terlalu kasar malam sebelumnya, tapi itu gerakan yang sudah diperhitungkannya, dan bagian dari latihan anak itu. Sekali lagi Musashi merasa yakin bahwa di mana pun Jotaro waktu itu, ia tidak berada dalam bahaya.
Ia mendengarkan suara sungai kecil yang mengalir menuruni sisi gunung, mengambil jalan memutar dalam pagar, mengitari rumpun bambu, dan kemudian muncul dari bawah pagar dalam perjalanan menuju wilayah puri bawah. Musashi membasuh wajah dan minum sekenyang-kenyangnya untuk ganti makan pagi. Air itu bagus, ya, bagus sekali, hingga Musashi membayangkan bahwa mungkin itulah alasan utama Sekishusai memilih tempat ini untuk mengundurkan diri dari dunia. Namun karena ia tak tahu apa-apa tentang seni upacara minum teh, tak terbayang olehnya bahwa air semurni itulah yang menjadi cita-cita setiap ahli upacara minum teh.
Ia basuh handuk tangannya di dalam sungai, dan sesudah menggosok tengkuk seluruhnya, ia membersihkan kotoran kukunya. Kemudian ia rapikan rambut dengan belati yang melekat pada pedangnya. Karena Sekishusai tidak hanya pemilik Gaya Yagyu, tetapi juga salah satu orang besar di negeri itu, Musashi bermaksud menampilkan diri sebaik-baiknya. Ia sendiri tidak lebih dari seorang prajurit tak bernama. Ia berbeda dari Sekishusai, seperti berbedanya bintang yang terkecil dengan bulan.
Ia menepuk-nepuk rambutnya dan meluruskan kerahnya, dan ia merasa mantap dalam hati. Pikirannya terang; ia bertekad mengetuk pintu gerbang itu sebagai tamu yang sah.
Rumah itu cukup jauh letaknya di atas bukit. Karena itu kemungkinan ketukan biasa tidak akan terdengar. Maka dicarinya alat pengetuk, kalau ada, dan terlihatlah olehnya sepasang tanda peringatan di kedua sisi gerbang. Keduanya ditulis dengan indah, dan tulisan yang berupa ukiran itu diisi dengan tanah liat kebiruan yang tampaknya seperti lapisan perunggu. Di sebelah kanan tertulis:
Janganlah curiga, hai para penulis,
Akan dia yang menyukai purinya tertutup.
Dan di sebelah kiri:
Takkan kautemukan pemain pedang di sini, Hanya burung-burung bulbul muda di ladang.
Sajak itu ditujukan kepada para “penulis”, maksudnya para pejabat puri, namun maknanya lebih dalam dari itu. Orang tua itu menutup gerbangnya tidak hanya bagi para murid yang mengembara, tetapi juga bagi semua peristiwa dunia ini, bagi segala kemuliaan ataupun kesengsaraannya. Ia sudah meninggalkan sama sekali hasrat dunia, baik itu hasratnya sendiri maupun hasrat orang lain.
“Aku masih muda,” pikir Musashi. “Terlalu muda! Orang ini ada di luar jangkauanku sama sekali.”
Keinginan untuk mengetuk gerbang pun menguap. Ya, pikiran untuk menyerobot masuk mendatangi pertapa kuno itu kini terasa liar, dan ia merasa sangat malu terhadap diri sendiri.
Hanya bunga dan burung, angin dan bulan, yang akan memasuki gerbang ini. Sekishusai bukan lagi pemain pedang terbesar di negeri ini, bukan lagi penguasa tanah perdikan, tetapi orang yang telah kembali kepada alam, yang menolak kesia-siaan hidup manusia. Mengganggu rumah tangganya akan merupakan pelanggaran besar. Dan kehormatan apakah, dan jasa apakah, yang mungkin diperoleh dari mengalahkan orang yang sudah tidak menghargai kehormatan dan jasa?
“Bagus juga aku membaca ini,” kata Musashi pada diri sendiri. “Kalau tidak, aku akan menjadikan diriku orang yang setolol-tololnya!”
Bersama dengan semakin tingginya matahari di langit, nyanyian burung bulbul mereda. Dari kejauhan di atas bukit terdengar bunyi langkah-langkah cepat. Agaknya karena takut mendengar bunyi ribut itu, sekelompok burung kecil mengangkasa. Musashi mengintip lewat gerbang, siapakah yang datang itu.
Ternyata Otsu.
Jadi, suling gadis itulah yang telah didengarnya! Haruskah ia menanti dan kemudian menjumpainya? Atau pergi saja? “Aku ingin bicara dengannya,” pikirnya. “Aku harus!”
Keragu-raguan mencengkamnya. Jantungnya berdebar-debar dan keyakinan dirinya terbang.
Otsu berlari turun, hingga jaraknya tinggal beberapa meter saja dari tempatnya berdiri. Kemudian Otsu berhenti dan membalik, serta memperdengarkan teriakan terkejut.
“Kukira tadi dia ada di belakangku,” gumamnya sambil menoleh ke sekitar. Kemudian ia berlari kembali ke atas bukit, dan serunya, “Jotaro! Di mana kamu?”
Mendengar suaranya, Musashi menjadi merah mukanya karena malu, dan mulailah ia berkeringat. Ia
merasa muak karena telah kehilangan keyakinan. Tak dapat ia bergerak dari tempat sembunyinya di dalam
bayangan pepohonan itu. Beberapa waktu kemudian Otsu memanggil kembali, dan kali ini terdengar balasannya. “Saya di sini! Di mana Kakak?” seru Jotaro dari bagian atas rumpun.
“Di sini!” jawab Otsu. “Aku kan sudah bilang tadi, jangan pergi ke manamana.” Jotaro datang berlari-lari mendekati Otsu. “Oh, jadi Kakak di sini, ya?” serunya. “Kan sudah kubilang kau ikut aku.” “Saya juga sudah ikut, tapi kemudian saya lihat ayam pegar, jadi saya mengejarnya.” “Mana bisa begitu, mengejar ayam pegar! Apa kamu lupa, mesti mencari orang penting pagi ini?” “Ah, tapi saya tidak kuatir dengan dia. Dia bukan orang yang gampang terluka.” “Kedengarannya lain dengan kejadian tadi malam itu: kamu datang lari-lari ke kamarku dan langsung mau
nangis saja.”
“Ah, tidak betul, saya bukan mau menangis. Cuma semuanya itu begitu cepat, sampai tak tahu saya, apa yang mesti saya lakukan.” “Aku juga begitu, terutama sesudah kamu menyebut nama gurumu itu.” “Tapi bagaimana Kakak bisa kenal dengan Musashi?” “Kami datang dari desa yang sama.” “Cuma itu?” “Tentu saja cuma itu.” “Lucu. Saya tak mengerti, kenapa pula Kakak mesti menangis hanya karena ada orang sedesa datang ke
sini.” “Tapi apa aku menangis lama?” “Bagaimana bisa Kakak ingat semua yang saya lakukan, kalau Kakak tak bisa ingat apa yang Kakak
lakukan sendiri? Tapi biar bagaimana, saya kira, saya cukup gentar juga. Kalau soalnya cuma empat orang biasa lawan guru saya, saya tak akan kuatir. Tapi kabarnya mereka semua itu jagoan. Ketika mendengar suling itu, saya pun ingat Kakak ada di puri ini, karena itu saya pikir kalau saya dapat minta maaf kepada Yang Dipertuan…”
“Kalau kamu memang mendengarku main suling, Musashi tentunya mendengar juga. Bahkan dia mungkin
tahu yang main itu aku.” Suara Otsu menjadi lunak. “Aku sedang memikirkan dia ketika aku main itu.” “Saya tak melihat apa pentingnya itu. Cuma, dari bunyi suling itu saya dapat mengira-ngira di mana Kakak berada.”
“Tapi sungguh pertunjukan besar yang kamu lakukan-menyerbu rumah orang dan menjerit-jerit tentang
‘pertempuran’ yang sedang terjadi. Yang Dipertuan jadi terkejut juga.” “Tapi dia orang baik. Ketika saya katakan padanya saya sudah membunuh Taro, dia tidak mengamuk seperti yang lain-lain.”
Tiba-tiba, karena sadar sedang membuang-buang waktu, Otsu bergegas pergi ke gerbang. “Kita bisa bicara lagi nanti,” katanya. “Sekarang ada yang lebih penting dilakukan. Kita mesti mencari Musashi. Sekishusai malahan sudah melanggar peraturannya sendiri. Katanya dia mau menemui orang yang sudah melakukan apa yang kamu katakan itu.”
Otsu tampak benar-benar riang, seperti bunga. Dalam matahari terang awal musim panas itu pipinya bersinar seperti buah masak. Ia mencium daun-daun muda, dan ia merasa kesegaran dedaunan itu mengisi paruparunya.
Musashi yang sedang bersembunyi di antara pepohonan memperhatikannya baik-baik clan mengagumi kesehatan tubuhnya. Otsu yang ia lihat sekarang ini lain sekali dengan gadis yang duduk patah hati di beranda Kuil Shippoji dan memandang dunia luar dengan mata kosong. Perbedaannya adalah karena waktu itu Otsu tak punya orang yang dicintai. Atau setidak-tidaknya, cinta yang dirasakannya waktu itu hanyalah samar-samar dan sukar dipegang. Waktu itu ia masih anak-anak yang sentimental, yang sadar benar akan keyatimannya dan merasa agak benci dengan kenyataan itu.
Sesudah mengenal Musashi dan mengaguminya, lahirlah cinta yang kini menetap di dalam dirinya dan memberikan arti pada hidupnya. Sepanjang tahun yang dihabiskannya untuk mengembara mencari Musashi, tubuh dai pikirannya membentuk keberanian untuk menghadapi apa pun.
Musashi cepat menangkap daya hidup Otsu yang baru dan membuatnya bertambah cantik itu, dan ingin ia membawa gadis itu ke suatu tempat, di mana mereka dapat berduaan saja, dan menceritakan semua kepadanya Betapa ia merindukan Otsu secara fisik. Ia ingin mengungkapkan bahwa jauh di dalam hatinya yang terbuat dari baja itu terdapat kelemahan. Ia ingin menarik kembali kata-kata yang diukirkannya di Jembatan Hanada itu. Kalau tidak ada orang yang tahu, ia dapat menunjukkan kepada Otst bahwa ia pun dapat bersikap mesra. Ia akan menyatakan kepada Otsu. Ia dapat mendekapnya, membelaikan pipinya ke pipi Otsu, mencurahkan air mata yang ingin ia tangiskan. Sekarang ia cukup kuat untuk mengaku bahwa semua perasaannya itu nyata.
Hal-hal yang dikatakan Otsu kepadanya di masa lampau kini kembal mengiang di telinganya, dan ia melihat betapa kejam dan buruknya ia menolak cinta yang sederhana dan terus terang seperti yang diungkapkan Otsu.
Ia memang merasa sengsara, namun ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak dapat menyerah kepada segala perasaan itu, sesuatu yang menyatakan kepadanya bahwa itu salah. Dirinya terpecah menjadi dua: pertama, yang berseru kepada Otsu, dan kedua yang mengatakan kepadanya bahwa ia orang tolol. Ia tak bisa mengatakan, manakah dirinya yang sebenarnya Seraya memperhatikan dari balik pohon dan tenggelam dalam keraguan itu ia seperti melihat dua jalan di hadapanya, satu jalan terang, dan yang lain jalan gelap.
Karena tak tahu adanya Musashi, Otsu berjalan beberapa langkah meninggalkan gerbang. Dan ketika menoleh ke belakang, ia melihat Jotaro membungkuk mengambil sesuatu.
“Jotaro, apa yang kamu lakukan itu? Ayo cepat!”
“Tunggu!” seru Jotaro riang. “Lihat ini!”
“Ah, itu kan cuma gombal tua yang kotor! Buat apa itu?”
“Ini milik Musashi.” .
“Milik Musashi?” ucap Otsu sambil berlari kembali mendapatkan Jotaro.
“Ya, ini miliknya,” jawab Jotaro seraya membeberkan handuk tangan itu untuk dilihat Otsu.
“Saya ingat ini. Ini dari rumah janda tempat kami menginap di Nara Lihat ini: ada gambar daun mapel celupan di sini, dan ada huruf yang bunyinya ‘Lin’. Ini nama pemilik restoran bakpau di sana.”
“Apa menurutmu Musashi ada di sini?” teriak Otsu sambil memandang bingung ke sekitarnya.
Jotaro berdiri tegak sampai hampir setinggi gadis itu, dan dengan sekuat suaranya ia memekik, “Sensei!”
Di tengah rumpun terdengar bunyi gemeresik. Tersengal Otsu memutai badan dan melejit ke arah pepohonan, diikuti anak itu.
“Ke mana Kakak pergi?” tanya Jotaro.
“Musashi baru saja lari!”
“Ke mana?”
“Ke situ.”
“Saya tak melihat dia.”
“Di rumpun pohon sana itu!”
Otsu melihat sosok tubuh Musashi, tetapi kegembiraan sekilas yang dirasakannya segera digantikan oleh keprihatinan, karena Musashi dengan cepat meningkatkan jarak yang memisahkan mereka. Otsu berlari mengejar dengan sekuat kakinya. Jotaro berlari mengikutinya, walau tidak yakin benar bahwa Otsu melihat Musashi.
“Kakak keliru!” pekik Jotaro. “Barangkali orang lain. Kenapa Musashi mesti lari?”
“Coba lihat itu!”
“Ke mana?”
“Ke sana!” Ia mengambil napas dalam-dalam, dan sambil mengerahkan suara sekuat-kuatnya ia menjerit, “Musashi!!” Tapi baru saja teriakan kalut itu keluar dari bibirnya, ia terhuyung jatuh. Jotaro menolongnya berdiri, tapi ia berteriak, “Kenapa kamu tidak memanggilnya juga? Panggil dia! Panggil dia!”
Jotaro bukannya melakukan yang disuruhkan Otsu, melainkan kelu karena terkejut, dan menatap wajah Otsu. Sudah pernah ia melihat wajah itu, dengan matanya yang merah, alis yang seperti jarum, serta hidung dan rahang yang seperti lilin. Itulah muka topeng! Topeng perempuan gila yang diberikan kepadanya oleh janda di Nara itu. Pada mulut Otsu tidak ada bengkokan aneh ke atas, tapi di luar itu keduanya serupa. Jotaro cepat menarik tangannya dan undur dengan ketakutan.
Otsu terus mencelanya. “Kita tak boleh menyerah! Dia tak akan kembali lagi kalau kita biarkan dia pergi sekarang! Panggil dia! Suruh dia kembali!”
Ada sesuatu yang menolak dalam diri Jotaro, tapi pandangan wajah Otsu menyatakan kepadanya, tak ada gunanya berdebat dengannya. Maka mereka berlari kembali, dan ia mulai berteriak juga sekuat-kuatnya.
Di sebelah hutan terdapat bukit rendah, dan sepanjang kaki bukit itu menghampar jalan belakang dari Tsukigase ke Iga. “Itu Musashi!” teriak Jotaro. Sampai di jalan tersebut, anak itu dapat dengan jelas melihat gurunya, tetapi Musashi sudah terlalu jauh di depan mereka, hingga tak dapat mendengar teriakan mereka.
Otsu dan Jotaro berlari sekuat kaki mereka sambil berteriak-teriak sampai parau. Jeritan mereka menggema melintasi peladangan. Di ujung lembah mereka tidak melihat Musashi lagi, karena ia lari langsung masuk kaki perbukitan yang berhutan lebat.
Mereka berhenti dan berdiri di sana, sedih, seperti anak-anak telantar. Awan putih menghampar kosong di atas mereka, sementara gemericik sungai menambah kesepian mereka.
“Dia sudah gila! Dia tak berakal! Bagaimana mungkin dia meninggalkan saya seperti ini?” teriak Jotaro sambil mengentak-entakkan kakinya.
Otsu bersandar ke pohon berangan besar, dan air matanya mengucur sejadi-jadinya. Cintanya yang besar pada Musashi tak mampu menahan kepergian Musashi—walaupun untuk cinta itu ia bersedia mengorbankan segalanya. Ia heran, merasa kehilangan, dan marah. Ia tahu, apa tujuan hidup Musashi dan kenapa Musashi menghindari dirinya. Ia sudah tahu itu, sejak pengalaman di Jembatan Hanada. Namun ia tak bisa mengerti, kenapa Musashi menganggapnya penghalang antara dirinya dan cita-citanya. Kenapa tekadnya itu mesti dilemahkan oleh kehadirannya?
Ataukah itu cuma alasan? Apakah alasan sebenarnya karena Musashi tidak cukup mencintainya? Itulah yang barangkali lebih masuk akal. Namun… namun… Otsu mulai memahami Musashi ketika melihatnya terikat di pohon di Shippoji itu. Ia tak percaya bahwa Musashi orang yang bisa berbohong kepada perempuan. Kalau Musashi tak ada minat kepadanya, ia akan mengatakannya demikian, tapi kenyataannya di Jembatan Hanada Musashi mengatakan senang sekali kepadanya. Ia mengingat kembali katakata Musashi dengan sedihnya.
Sebagai anak yatim, sikap dingin tertentu mencegah dirinya mempercayai banyak orang, tapi sekali ia percaya pada seseorang, ia akan mempercayainya sepenuhnya. Pada waktu ini ia merasa tidak ada orang lain kecuali Musashi yang patut dibela atau diandalkannya. Pengkhianatan Matahachi telah mengajarkan kepadanya betapa seorang gadis harus berhati-hati dalam menilai lelaki. Tetapi Musashi bukanlah Matahachi. Ia telah memutuskan akan hidup untuk Musashi, apa pun yang terjadi, dan ia telah membulatkan tekad untuk tidak menyesal berbuat demikian.
Tapi kenapa Musashi tak dapat mengucapkan kata-kata, biarpun hanya sepatah? Ini sungguh terlalu berat untuk ditanggung. Daun-daun pohon berangan bergetar, seakan-akan pohon itu sendiri mengerti dan bersimpati.
Semakin marah, semakin ia tenggelam dalam cinta pada Musashi. Apakah itu nasib atau bukan, tidak dapat Ia mengatakannya, tetapi semangatnya yang dirobek-robek kesedihan menunjukkan bahwa tidak ada hidup sejati baginya di luar Musashi.
Jotaro memandang ke jalan, dan ucapnya, “Nah, ini datang seorang pendeta.” Otsu tidak memperhatikannya.
Dengan semakin dekatnya siang, langit di atas berubah menjadi biru tua, transparan. Biarawan yang menuruni lereng di kejauhan itu tampak seperti turun dari atas awan dan tak ada hubungan apa pun dengan bumi ini. Ketika mendekati pohon berangan itu, ia memandangnya dan melihat Otsu.
“Lho, ada apa ini?” katanya. Mendengar suaranya, Otsu menengadah.
Dengan matanya yang bengkak dan lebar karena kagum ia berseru, “Takuan!” Dalam keadaannya sekarang ini, ia melihat Takuan Soho sebagai penyelamat. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ia tidak sedang bermimpi.
Sekalipun melihat Takuan merupakan guncangan bagi Otsu, namun bagi Takuan menemukan Otsu tidak lebih daripada pembenaran atas sesuatu yang telah ia curigai. Kedatangannya bukan kebetulan, dan bukan pula keajaiban.
Takuan sudah lama menjalin hubungan persahabatan dengan Keluarga Yagyu. Perkenalannya dengan mereka bermula ketika ia masih seorang biarawan muda di Kuil Sangen’in, Daitokuji. Kewajibannya mencakup pembersihan dapur dan pembuatan empleng kacang.
Pada masa itu, Sangen’in yang dikenal dengan nama “Sektor Utara” Daitokuji termasyhur sebagai tempat berkumpul para samurai “luar biasa”, artinya samurai yang mencurahkan perhatiannya kepada pemikiran filsafat tentang makna hidup dan mati, yaitu orang-orang yang merasakan perlunya mempelajari peristiwa¬peristiwa kejiwaan maupun keterampilan teknik dalam seni perang. Kaum samurai yang bergerombol di sana lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan kaum biarawan Zen, dan salah satu hasilnya adalah kuil itu jadi dikenal sebagai wilayah pembibitan pemberontakan.
Di antara samurai yang sering datang ke sana adalah Suzuki Ihaku, saudara lelaki Yang Dipertuan Koizumi dari Ise, Yagyu Gorozaemon, ahli waris Keluarga Yagyu, dan saudara lelaki Gorozaemon, yaitu Munenori. Munenori cepat menyukai Takuan, dan keduanya bersahabat semenjak itu. Sesudah beberapa kali mengadakan kunjungan ke Puri Koyagyu, Takuan berjumpa dengan Sekishusai dan menaruh rasa hormat yang besar kepada orang tua itu. Sekishusai pun menyukai biarawan muda ini, yang baginya mengesankan, karena memiliki banyak harapan di masa depan.
Baru-baru ini Takuan singgah beberapa waktu lamanya di Kuil Nansoji di Provinsi Izumi, dan dari sana ia mengirimkan surat menanyakan kesehatan Sekishusai dan Munenori. Dan ia telah menerima jawaban panjang dari Sekishusai, yang di antaranya berbunyi:
Saya sangat beruntung akhir-akhir ini. Munenori sudah mendapat kedudukan dalam Keluarga Tokugawa di Edo, dan cucu saya yang telah meninggalkan pekerjaannya pada Yang Dipertuan Kato dari Higo, dan pergi belajar sendiri, banyak mendapat kemajuan. Saya sendiri sekarang memiliki tenaga seorang gadis muda dan cantik, yang tidak hanya dapat bermain suling dengan baik, tetapi juga berbicara dengan saya, dan bersama-sama kami menyiapkan teh, menyusun bunga, dan mengarang sajak. la menjadi kegembiraan dalam umur tua saya, menjadi bunga yang berkembang di rumah, yang kalau tidak berkat dirinya akan merupakan gubuk tua yang dingin dan layu. Karena ia mengatakan datang dari Mimasaka yang berdekatan dengan tempat kelahiran Anda dan dibesarkan di kuil yang bernama Shippoji, saya pikir Anda dan dia banyak memiliki persamaan. Menyenangkan luar biasa minum sake malam hari dengan iringan suling yang baik permainannya, dan karena Anda demikian dekat dengan tempat ini, saya harap Anda datang dan menikmati santapan ini bersama saya.
Dalam keadaan bagaimanapun, sangat sukar bagi Takuan menolak andangan ini, tetapi dugaannya bahwa gadis yang dilukiskan dalam surat itu adalah Otsu, membuatnya bersungguh-sungguh menerimanya.
Ketika mereka bertiga berjalan menuju rumah Sekishusai, Takuan mengajukan banyak pertanyaan pada Otsu, dan Otsu menjawabnya tanpa bertele-tele. Ia menyampaikan kepada Takuan apa yang dilakukannya semenjak wrakhir kali mereka bertemu di Himeji dahulu, lalu apa yang telah terjadi pagi itu, dan akhirnya bagaimana perasaannya terhadap Musashi.
Takuan mendengarkan cerita Otsu yang menyedihkan itu sambil mengangguk-angguk sabar. Ketika Otsu selesai bercerita, ia mengatakan, “Kukira kaum perempuan mampu memilih jalan hidup yang mustahil bagi kaum lelaki. Menurut penangkapanku, kau menghendaki aku memberikan nasihat padamu tentang jalan yang harus kautempuh di masa depan.”
“Oh, tidak.”
“Nah…. ”
“Saya sudah memutuskan apa yang akan saya perbuat.”
Takuan memperhatikan dengan saksama. Otsu sudah berhenti berjalan dan kini memandang tanah. Ia kelihatan berada dalam lembah keputusasaan, namun ada suatu kekuatan dalam nada bicaranya, yang memaksa Takuan melakukan penilaian kembali.
“Sekiranya saya punya keraguan, sekiranya saya bermaksud menyerah,” kata Otsu, “barangkali tak akan saya meninggalkan Shippoji. Saya masih bertekad menemui Musashi. Satu-satunya pertanyaan dalam pikiran saya adalah, apakah hal ini akan menimbulkan kesulitan baginya, dan apakah kalau saya terus hidup akan mendatangkan ketidakbahagiaan padanya. Kalau memang demikian, saya harus melakukan sesuatu untuknya.”
“Dan apa itu artinya?”
“Tak dapat saya mengatakannya pada Bapak.”
“Hati-hatilah, Otsu!”
“Terhadap apa?”
‘Di bawah matahari yang terang riang ini dewa maut sedang menariknarikmu. ”
“Sava… saya tak mengerti apa yang Bapak maksudkan.”
“Kukira memang tak akan kamu mengerti, tapi itu karena dewa maut ncminjamkan tenaga kepadamu. Tolol kamu, Otsu, kalau kau mau mati, khususnva demi hal yang tak lebih dari cinta yang bertepuk sebelah rangan.” kata Takuan tertawa.
Otsu menjadi marah kembali. Pikirnya, tak ada bedanya ini dengan udara kosong, karena Takuan tidak pernah jatuh cinta. Tak mungkin bagi orang yang tidak pernah jatuh cinta memahami apa yang dirasakannya. Baginya, mencoba menjelaskan perasaannya kepada Takuan sama saja dengan Takuan mencoba menjelaskan Budhisme Zen kepada orang pandir. Tapi seperti halnya terdapat kebenaran dalam Zen, entah yang pandir dapat memahaminya atau tidak, ada orang-orang yang bersedia mati demi cinta, entah Takuan dapat memahaminya atau tidak. Setidak-tidaknya bagi perempuan, cinta itu satu hal yang jauh lebih serius daripada teka-teki sulit seorang pendeta Zen. Bagi seorang yang dibuai oleh cinta yang bermakna hidup atau mati, tidak ada bedanya bunyi tepukan sebelah tangan. Sambil menggigit bibir, Otsu bersumpah tak akan mengatakan apa-apa lagi.
Takuan menjadi sungguh-sungguh. “Kau mestinya dilahirkan sebagai laki-laki, Otsu. Seorang lelaki yang memiliki kemauan seperti yang kaumiliki ini pasti dapat melaksanakan sesuatu demi kebaikan negeri.”
“Jadi, apakah salah, seorang perempuan seperti saya ini hidup? Karena akan mendatangkan kerugian pada Musashi?”
“Jangan putar balikkan apa-apa yang kukatakan. Aku tidak bicara soal itu. Betapapun kamu mencintainya,
dia masih lari, bukan? Dan aku berani mengatakan kamu tak akan dapat menangkapnya.” “Saya lakukan ini bukan karena saya senang melakukannya. Saya tak bisa berbuat lain. Saya mencintainya!”
“Coba, belum lama aku tidak melihatmu, dan melihatmu lagi kamu sudah berbuat seperti semua perempuan
lain.” “Oh, jadi Bapak tidak lihat, ya? Baiklah, tak usah kita bicara lagi. Pendeta cemerlang seperti Bapak tak akan dapat memahami perasaan perempuan!”
“Tak bisa aku menjawab ini. Memang benar, perempuan bagiku merupakan teka-teki.” Otsu melengos, dan katanya, “Ayo pergi, Jotaro.” Takuan berdiri memperhatikan, sedangkan Otsu dan Jotaro menuruni jalan samping. Diiringi kerjapan
alisnya yang sedih, biarawan itu sampai pada kesimpulan bahwa tak ada lagi yang dapat dilakukannya. Maka serunya kepada Otsu, “Apa kamu takkan mengucapkan selamat tinggal pada Sekishusai, sebelum pergi menuruti kehendak hati?”
“Saya akan mengucapkan selamat tinggal dalam hati. Beliau tahu, saya tak pernah bermaksud tinggal lama di sini.” “Jadi, kamu tak akan mempertimbangkannya kembali?”
“Mempertimbangkan apa?” “Tinggal di Pegunungan Mimasaka itu indah, tapi di sini juga indah. Di sini damai dan tenang, dan hidup di sini sederhana. Daripada melihat kamu pergi memasuki dunia biasa dengan segala kesengsaraan dan kesulitannya, aku lebih suka melihatmu hidup dalam kedamaian, di tengah pegunungan dan sungai-sungai ini, seperti juga burung-burung bulbul yang kita dengar sedang menyanyi itu.”
“Ha, ha! Terima kasih banyak, Pak!” Takuan mengeluh, karena sadar bahwa ia tidak berdaya menghadapi perempuan muda yang berkemauan
keras ini, yang demikian bertekad pergi membuta menempuh jalan yang telah dipilihnya. “Kamu boleh tertawa, Otsu, tapi jalan yang hendak kamu tempuh itu jalan kegelapan.” “Kegelapan?” “Kamu dibesarkan di dalam kuil. Kamu mesti tahu, bahwa jalan kegelapan dan keinginan itu hanya menjurus
pada kekecewaan dan kesengsaraan. Kekecewaan dan kesengsaraan yang tak bisa diselamatkan lagi.” “Tidak pernah ada jalan terang bagi saya, tidak ada, sejak saya lahir.” “Ah, ada, ada!” Takuan memasukkan tetesan daya terakhir ke dalam permohonan-nya, dan ia dekati gadis
itu dan ia pegang tangannya. Ia ingin sekali agar gadis itu mempercayainya. “Aku akan bicara dengan Sekishusai tentang itu,” demikian ditawarkannya. “Tentang bagaimana kamu bisa hidup dan bahagia. Kamu bisa mendapatkan suami yang baik di Koyagyu, memiliki anak-anak, dan
melakukan hal-hal yang juga dilakukan perempuan lain. Kamu akan membuat tempat ini lebih baik. Dan itu akan membuatmu lebih bahagia.” “Saya mengerti, Bapak berusaha membantu, tapi…” “Cobalah! Kuminta kamu mencoba!” Sambil menarik tangan gadis itu, ia memandang Jotaro, dan katanya, “Kamu juga, Nak!” Jotaro menggelengkan kepala dengan tegas. “Saya tidak. Saya akan mengikuti guru saya.”
“Nah, lakukanlah apa yang kamu suka, tapi setidak-tidaknya kembalilah ke puri mengucapkan selamat tinggal pada Sekishusai.”
“Oh, saya lupa!” kata Jotaro terengah. “Topeng saya tertinggal di sana. Akan saya ambil dulu.” Ia segera berlari, tak peduli dengan jalan kegelapan dan jalan terang itu.
Otsu berdiam diri di persimpangan. Takuan diam, dan kembali menjadi teman lama yang pernah dikenalnya. Takuan sudah mengingatkannya akan bahaya yang mengintai dalam hidup yang hendak ditempuhnya dan mencoba meyakinkannya bahwa ada jalan lain untuk menemukan kebahagiaan. Tapi Otsu tetap tak tergoyahkan.
Kemudian Jotaro kembali berlari-lari mengenakan topeng. Takuan mengerut melihatnya, dan secara naluriah merasa bahwa itulah wajah masa depan Otsu, wajah yang akan ia saksikan sesudah Otsu menanggung derita dalam perjalanan panjangnya menelusuri jalan kegelapan.
“Saya pergi sekarang,” kata Otsu, dan melangkah meninggalkan Takuan. Jotaro bergayut pada lengan kimononya, katanya, “Ya, ayo pergi! Sekarang!”
Takuan menengadahkan mata ke awan-awan putih, meratapi kegagalannya. “Tak ada lagi yang dapat kuperbuat,” katanya. “Sang Budha sendiri pun berputus asa menyelamatkan perempuan.”
“Selamat tinggal, Pak,” kata Otsu. “Saya nyatakan hormat kepada Sekishusai di sini, tapi saya mohon Bapak menyampaikan terima kasih saya dan ucapan selamat berpisah kepada beliau.”
“Oh, aku bahkan mulai berpikir sekarang bahwa pendeta-pendeta adalah orang gila. Ke mana saja mereka pergi, mereka bertemu dengan orang-orang yang berduyun-duyun menuju neraka.” Takuan mengangkat kedua tangannya, menjatuhkannya, dan katanya dengan sangat khidmat, “Otsu, kalau kau nanti mulai tenggelam dalam Enam Jalan Jahat atau Tiga Persimpangan, sebutlah namaku. Pikirkan diriku, dan panggillah namaku! Sementara ini, yang bisa kukatakan cuma, pergilah sejauh kau bisa, dan cobalah berhati-hati!”
MUSASHI
karya : EIJI YOSHIKAWA
Buku 3 : API
bagian 8
Sasaki Kojiro
TEPAT di selatan Kyoto, Sungai Yodo melingkar mengelilingi sebuah bukit bernama Momoyama (daerah Puri Fushimi), kemudian mengalir terus melintasi Dataran Yamashiro ke arah benteng Puri Osaka, sekitar 20 mil ke sebelah barat daya. Sebagian karena hubungan air yang langsung ini, setiap gejolak politik di daerah Kyoto segera menimbulkan gemanya di Osaka. Sedangkan di Fushimi setiap patah kata yang diucapkan oleh seorang samurai Osaka, apalagi seorang jenderal Osaka, dianggap orang sebagai isyarat masa depan.
Di sekitar Momoyama sedang terjadi pergolakan, karena Tokugawa Ieyasu memutuskan mengubah cara hidup yang telah berkembang di zaman Hideyoshi. Puri Osaka yang dihuni oleh Hideyori dan ibunya, Yodogimi, masih terus berusaha bergayut pada sisa kekuasaan yang sudah pudar, tepat seperti matahari yang sedang terbenam berteguh pada keindahannya yang perlahan menghilang. Kekuasaan yang sebenarnya berada di Fushimi, yang dipilih Ieyasu sebagai tempat tinggalnya selama perjalanan-perjalanan jauhnya ke daerah Kansai. Perbenturan antara yang lama dan yang baru tampak di mana-mana. Itu kelihatan dari perahu-perahu yang hilir-mudik di sungai, dan tingkah laku orang-orang di jalan raya, dari lagu-lagu rakyat, dan dari wajah para samurai telantar yang mencari pekerjaan.
Puri Fushimi sedang dibetulkan. Batu-batu karang yang dimuntahkan dari perahu-perahu ke tepi sungai benar-benar menggunung. Kebanyakan batu itu besar, luasnya paling sedikit dua meter persegi dan tingginya sekitar satu meter. Batu-batu itu mendesis-desis terkena sinar matahari yang mendidih. Walaupun waktu itu musim gugur menurut kalender, panas yang membakar mengingatkan orang pada hari-hari terpanas setelah musim hujan di awal musim panas.
Pohon-pohon liu di dekat jembatan berkilauan putih. Seekor jangkrik melesat berkelok-kelok dari sungai ke sebuah rumah kecil di dekat tepi sungai. Atap-atap rumah di desa itu berwarna abu-abu kering, berdebu, kehilangan warna lembut cahaya lenteranya di waktu senja. Dalam panasnya tengah hari, dua pekerja yang beruntung mendapat istirahat setengah jam dari kerja yang mematahkan tulang punggung itu berbaring telentang di permukaan sebuah batu besar yang lebar, sambil mengobrol tentang soal yang sedang menjadi buah bibir setiap orang.
“Kau pikir akan ada perang lagi?”
“Kenapa tidak? Rasanya tak ada orang yang cukup kuat untuk memegang kontrol.”
“Kupikir kau benar. Jenderal-jenderal Osaka tampaknya sedang mengumpulkan semua ronin yang dapat mereka temukan.”
“Memang kupikir begitu. Barangkali tak boleh aku bicara keras-keras, tapi kudengar Keluarga Tokugawa sedang membeli senapan dan amunisi kapal-kapal asing.”
“Kalau begitu, kenapa Ieyasu mengawinkan cucu perempuannya, Senhime, dengan Hideyori?”
“Mana aku tahu? Apa pun yang dia lakukan, kita boleh bertaruh, pasti ada alasannya. Orang-orang biasa macam kita ini tak mungkin tahu, apa yang ada dalam pikiran Ieyasu.”
Lalat-lalat merubung kedua orang itu. Segerombolan lain merubung dua ekor sapi jantan tak jauh dari situ. Kedua ekor binatang itu masih terpasang pada gerobak balok yang kosong, bermalas-malasan di bawah sinar matahari, diam, tenang, dan berliur mulutnya.
Alasan sebenarnya kenapa kuil itu diperbaiki tidak diketahui oleh pekerja rendahan, yang mengira Ieyasu akan tinggal di situ. Padahal perbaikan itu merupakan satu tahap saja dalam program pembangunan besar¬besaran, suatu bagian penting dari rencana pemerintahan Tokugawa. Kerja pembangunan besar-besaran dilaksanakan juga di Edo, Nagoya, Suruga, Hikone, Otsu, dan selusin kota kuil yang lain lagi. Tujuannya sebagian besar bersifat politik. Salah satu cara Ieyasu untuk mengendalikan para daimyo adalah memerintahkan mereka menangani proyek bangunan. Karena tak ada yang cukup kuat untuk menolak, cara ini membuat tuan-tuan feodal yang bersahabat terlampau sibuk untuk melunak, sekaligus memaksa para daimyo yang melawan Ieyasu di Sekigahara berpisah dengan sebagian besar penghasilan mereka. Tujuan lain pemerintah adalah memperoleh dukungan rakyat banyak, yang secara langsung atau tidak mendapat keuntungan juga dari pekerjaan umum yang besar itu.
Di Fushimi saja, hampir seribu pekerja dikerahkan memperluas gerigi batu di atas benteng. Akibatnya kota di sekitar kuil tiba-tiba dibanjiri para penjaja, pelacur, dan lalat langau—lambang-lambang kemakmuran. Masyarakat luas gembira dengan masa baik yang didatangkan Ieyasu, dan para pedagang mengkhayal bahwa di atas ini semua akan ada kesempatan buat terjadinya perang lagi—yang akan lebih menguntungkan. Barang-barang berlalu lintas dengan sibuknya, bahkan sekarang pun kebanyakan barangbarang itu berupa perbekalan militer. Sesudah menghitung dengan sipoa kolektifnya, para pengusaha besar menyimpulkan bahwa perbekalan militerlah yang paling menguntungkan.
Penduduk kota dengan cepat melupakan hari-hari yang tenang pada masa kekuasaan Hideyoshi. Sebagai gantinya, mereka berspekulasi tentang apa yang mungkin diperoleh di hari-hari mendatang. Bagi mereka tidak banyak bedanya siapa yang berkuasa. Selama mereka dapat memenuhi kebutuhan remehnya, tak ada alasan untuk mengeluh. Dalam hal ini pun Ieyasu tidak mengecewakan mereka, karena ia dapat menghamburkan uang seperti menyebarkan gula-gula kepada anak-anak. Memang bukan uangnya sendiri, melainkan uang orang-orang yang bisa menjadi musuhnya.
Dalam pertanian pun ia memperkenalkan sistem pengendalian baru. Tokoh-tokoh setempat tidak lagi diizinkan memerintah semaunya atau mengerahkan petani semaunya untuk kerja luar. Dari sekarang, para petani harus diperbolehkan menggarap tanahnya—dengan sedikit sekali mengerjakan yang lain. Mereka harus dibuat masa bodoh terhadap politik dan diajar mengandalkan diri pada kekuasaan yang ada.
Penguasa yang berbudi, menurut jalan pikiran Ieyasu, adalah orang yang tidak membiarkan para penggarap tanah mati kelaparan, sekaligus menjaga agar mereka tidak naik melebihi statusnya. Dengan kebijaksanaan inilah ia bermaksud mengabadikan kekuasaan Tokugawa. Baik orang kota, petani, maupun daimyo tidak sadar bahwa mereka dengan hati-hati sedang dijalinkan ke dalam sistem feodal yang akhirnya akan mengikat kaki dan tangan mereka. Tak seorang pun berpikir tentang apa yang bakal terjadi lima ratus tahun lagi. Tak seorang pun, kecuali Ieyasu.
Para pekerja di Puri Fushimi itu pun tidak memikirkan hari esok. Mereka hanya memiliki harapan sederhana. Yaitu sekadar melewati hari itu, makin cepat makin baik. Sekalipun mereka berbicara tentang perang dan tentang kapan perang bisa meletus, namun rencana-rencana besar untuk menjaga perdamaian dan meningkatkan kemakmuran tidak berhubungan sama sekali dengan mereka. Apa pun yang terjadi, tak mungkinlah keadaan mereka lebih buruk dari yang sekarang.
“Semangka? Ya, siapa beli semangka?” seru seorang anak perempuan petani yang setiap hari, di waktu seperti itu, biasa berkeliling. Begitu muncul, ia pun berhasil menjual semangka pada beberapa lelaki yang sedang mengadu mata uang di bawah bayangan batu besar. Dengan riangnya ia beralih dari satu gerombolan ke gerombolan lain sambil berseru, “Siapa lagi?”
“Kamu gila, ya? Kaukira kami punya uang buat semangka?”
“Sini! Saya sih mau saja—kalau tanpa bayar.”
Kecewa karena keberuntungan awalnya terhenti, gadis itu mendekati seorang pekerja muda. yang sedang duduk di antara dua batu besar. Ia bersandar pada batu yang satu, dan kakinya menyandar pada batu lain, sedangkan tangannya merangkul lutut. “Semangka?” tanya gadis itu, walaupun tidak begitu menaruh harapan.
Pekerja itu kurus, matanya cekung, sedangkan kulitnya merah sehat terbakar matahari. Bayangan kelelahan menyamarkan usia mudanya. Namun demikian, teman-teman dekatnya masih mengenalnya. Dialah Hon’iden Matahachi. Dengan lesu ia menghitung beberapa keping mata uang kotor dalam telapak tangannya, lalu memberikannya kepada gadis itu.
Ketika ia menyandarkan diri kembali ke batu, kepalanya merunduk murung. Gerakan kecil itu saja sudah membuatnya kehabisan tenaga. Merasa mual, ia mencondongkan badan ke samping dan mulai meludah ke rumput. Sedikit pun tak ada lagi tenaganya untuk mengambil kembali semangka yang terjatuh dari pangkuannya. Dengan jemu ia memandang semangka itu, sedangkan matanya yang hitam tidak memperlihatkan tanda-tanda kekuatan ataupun harapan.
“Babi!” gumamnya lemah. Yang dimaksudkannya adalah orang-orang yang hendak dibalasnya: Oko, si Wajah Berpupur, dan Takezo, pemilik pedang kayu. Kekeliruannya yang pertama adalah pergi ke Sekigahara. Yang kedua, tunduk kepada janda yang menggairahkan itu. Sampailah ia pada keyakinan bahwa sekiranya bukan karena kedua peristiwa itu, ia sudah ada di rumahnya di Miyamoto sekarang, menjadi kepala Keluarga Hon’iden, menjadi suami seorang istri yang cantik, dan membikin iri seluruh kampung.
“Kukira Otsu pasti membenciku sekarang…. Apa gerangan yang sedang dia lakukan?” Dalam keadaan sekarang, kadang-kadang memikirkan bekas tunangannya itu merupakan hiburannya satu-satunya. Ketika sifat Oko yang sebenarnya akhirnya ia pahami, mulailah ia merindukan Otsu kembali. Dan semenjak ia berakal sehat, dan membebaskan diri dari Warung Teh Yomogi, semakin sering ia memikirkan Otsu.
Pada malam keberangkatannya, ia mengetahui bahwa Miyamoto Musashi yang meraih reputasi sebagai pemain pedang di ibu kota itu ternyata teman lamanya, Takezo. Guncangan keras ini segera disusul gelombang cemburu hebat.
Karena ingat akan Otsu, ia sudah berhenti minum, dan mencoba menanggalkan sifat malas dan kebiasaan buruknya. Tetapi mulanya ia tidak dapat menemukan pekerjaan yang cocok. Disumpahinya dirinya sendiri karena selama lima tahun tidak mengikuti arus perubahan, sementara selama itu seorang perempuan yang lebih tua menanggung hidupnya. Untuk sesaat kelihatan olehnya seolah sudah terlambat untuk mengadakan perubahan.
“Belum terlambat!” demikiari ia meyakinkan dirinya. “Umurku baru dua puluh dua. Aku dapat melakukan apa saja kalau aku mencoba!” Setiap orang bisa saja mengalami perasaan seperti itu, tapi dalam hal Matahachi, itu berarti menutup mata, meloncati jurang lima tahun lamanya, dan menjual tenaga sebagai buruh harian di Fushimi.
Di situ ia bekerja keras, membudakkan diri dengan tekun dari hari ke hari, sementara matahari menyengatnya dari musim panas sampai musim gugur. Agak bangga juga ia dapat bertahan di situ.
“Akan kutunjukkan pada semua orang!” demikian pikirnya, sekalipun sedang mau muntah. “Tak ada alasan, kenapa aku tak dapat memperoleh nama untuk diriku. Aku dapat melakukan apa saja yang dilakukan Takezo! Aku dapat melakukan lebih dari itu, dan akan kulakukan. Lalu aku akan melakukan pembalasan, biarpun sudah mengalami peristiwa dengan Oko. Yang kubutuhkan sekarang cuma sepuluh tahun.”
Sepuluh tahun? Ia berhenti untuk menghitung, berapa sudah umur Otsu waktu itu. Tiga puluh satu! Apakah Otsu akan tetap sendiri, dan menunggunya selama itu? Sedikit kemungkinannya. Matahachi tak tahu sama sekali tentang apa yang belum lama itu terjadi di Mimasaka. Tak dapat ia mengetahui bahwa khayalannya kosong. Tapi sepuluh tahun—tak mungkin! Tak akan lebih dari lima atau enam tahun! Dalam jangka waktu itu ia sudah mencapai sukses. Pada waktu itu ia akan kembali ke kampung, meminta maaf kepada Otsu, dan membujuknya untuk kawin. “Itulah satu-satunya cara!” ucapnya. “Lima tahun, atau paling banyak enam tahun.” Ia menatap semangka itu, dan kilas cahaya tampak kembali pada matanya.
Justru pada waktu itu salah seorang teman kerjanya berdiri di seberang batu besar di depannya. Sambil menopangkan siku ke puncak batu besar lebar itu, teman itu berseru, “Hei, Matahachi, apa yang kau gumamkan sendiri? Mukamu kelihatan hijau. Apa semangka itu busuk?”
Matahachi terpaksa menampakkan senyuman lemah, namun sekali lagi ia terserang gelombang pusing. Air liur keluar dari mulutnya ketika ia mengguncang-guncangkan kepalanya. “Ini bukan apa-apa, bukan apa¬apa!” Sengal-nya. “Kukira terlalu banyak aku terkena panas matahari. Biar aku beristirahat di sini sekitar sejam.”
Para penghela batu besar yang tegap-tegap itu mencemoohkan kelunglaiannya, walaupun dengan cara baik-baik saja. Salah seorang bertanya, “Kenapa kamu beli semangka kalau kamu tak bisa makan semangka?”
“Aku beli ini untuk kalian semua,” jawab Matahachi. “Kukira itulah yang baik, karena aku tak bisa mengerjakan bagian kerjaku.”
“Oh, bagus juga. Hei, kawan-kawan! Makan ini, Matahachi yang bayar.”
Buruh-buruh pun memecahkan semangka itu di sudut batu dan menyerbu-nya seperti semut, membagi-bagi daging buah yang merah, manis menetes-netes itu. Begitu semangka habis, seseorang melompat ke atas batu dan pekiknya, “Kembali kerja, hei, kalian!”
Samurai yang bertugas keluar dari sebuah gubuk memegang cambuk. Bau keringatnya menyebar ke atas tanah. Segera kemudian terdengar lagu kerja para penghela batu di medan kerja itu, ketika sebuah batu raksasa dipindahkan dengan pengumpil-pengumpil besar ke atas gelindingan dan diseret dengan tali-tali setebal lengan. Batu itu maju dengan berat dan lambat, seperti gunung yang bergeser.
Dengan ramainya pembangunan puri, lagu-lagu berirama ini pun berkembang biak. Sekalipun kata-katanya jarang dituliskan, tidak kurang dari Yang Dipertuan Hachisuka dari Awa, yang bertanggung jawab atas pembangunan Puri Nagoya, telah mencatat beberapa syairnya dalam sebuah surat. Yang Dipertuan, yang tentunya tak ada kesempatan biarpun cuma menyentuh bahan-bahan bangunan, jelas telah mengetahui syair-syair itu dari sebuah pesta. Karangan sederhana seperti di bawah ini menjadi semacam mode di tengah masyarakat, juga di antara para pekerja.
Dari Awataguchi kita menariknya Menyeretnya batu demi batu-demi batu. Buat Tuan Yang Mulia, Yang Dipertuan Togoro. Ei, sa, ei, sa… Tarik ya! Seret ya! Tarik ya! Seret ya! Tuan kita bicara, Kaki tangan kita gemetar. Tapi kita setia padanya-sampai mati.
Penulisnya berkomentar, “Semua orang, tua-muda, menyanyikan lagu ini, karena lagu ini bagian dari dunia mengambang yang kita tinggali!”
Kaum buruh di Fushimi tidak sadar akan gema sosial lagu-lagu ini, namun lagu-lagu mereka benar-benar mencerminkan semangat zaman. Lagu-lagu populer pada zaman merosotnya ke-shogun-an Ashikaga pada umumnya bersifat dekaden dan kebanyakan dinyanyikan secara pribadi, tetapi pada tahun-tahun makmur kekuasaan Hideyoshi, lagu-lagu bahagia dan gembira sering terdengar di tempat umum. Kemudian hari, ketika kerasnya kekuasaan Ieyasu mulai terasa, nada-nada itu kehilangan sebagian semangat gembiranya. Ketika kekuasaan Tokugawa menjadi lebih kuat, nyanyian yang spontan sifatnya cenderung memberikan tempat kepada musik yang digubah oleh para musisi yang mengabdi kepada para shogun.
Matahachi meletakkan kepalanya ke tangan. Kepala itu demam oleh suhu tinggi, dan nyanyian dengan kata¬kata “tarik-ya” itu mendengung, mengiang di telinganya, seperti segerombolan lebah. Dalam keadaan seorang diri, kini ia menjadi murung.
“Tapi apa gunanya,” rintihnya. “Lima tahun. Umpamanya aku kerja keras, apa untungnya itu untukku? Aku kerja sehari penuh, yang kudapat cuma cukup buat makan sehari. Kalau tidak kerja, aku tidak makan.”
Waktu itu dirasanya ada orang berdiri di dekatnya, dan ia menengadah. Tampak olehnya seorang pemuda jangkung. Kepalanya tertutup topi anyaman kasar dalam-dalam, dan di pinggangnya tergantung satu bungkusan seperti yang biasa dibawa oleh shugyosha. Sebuah emblem dalam bentuk kipas bertulang baja yang setengah terbuka, menghiasi bagian depan topinya. Ia sedang memandang kerangka bangunan dengan penuh renungan dan sedang menaksir medannya.
Sesudah beberapa waktu, ia pun mendudukkan diri di samping sebuah batu yang lebar rata. Tinggi batu itu tepat sekali untuk meja tulis. Ditiupnya pasir di atas batu itu, termasuk juga iringan semut yang sedang berbaris di situ, kemudian sambil menopangkan kepala ke batu dengan sikunya, ia kembali mengamati baik¬baik lingkungan sekitar. Sekalipun panas matahari menyengat langsung wajahnya, ia tetap tak bergerak, dan kelihatannya tak mempan oleh panas yang tak menyenangkan itu. Ia tidak melihat Matahachi yang waktu itu masih terlalu merana untuk peduli, apakah ada orang atau tidak di dekatnya. Orang lain tidak ada artinya sama sekali baginya. Ia duduk membelakangi pendatang itu dan sekali-sekali muntah.
Segera kemudian samurai itu tahu bahwa Matahachi sedang muntah.
“Hei,” katanya. “Kenapa kamu?”
“Panas ini,” jawab Matahachi.
“Kau sedang kurang sehat rupanya.”
“Sebetulnya lebih baik dari biasanya, tapi saya pusing.”
“Mau obat?” kata samurai itu sambil membuka kotak obat yang dipernis hitam dan menumpahkan pil-pil merah ke telapak tangannya. Ia mendekat dan memasukkan obat itu ke mulut Matahachi. “Sebentar lagi kau sembuh,” katanya.
“Terima kasih.”
“Apa kau mau istirahat lebih lama di sini?”
“Ya.”
“Kalau begitu, aku mau minta tolong. Kasih tahu aku kalau nanti ada orang dating lemparkan saja kerikil atau yang lain.”
Ia kembali ke batunya sendiri, duduk di situ, dan mengeluarkan kuas dari kantong tulisnya dan buku tulis dari kimononya. Ia buka alas di atas batu itu, dan mulailah ia menggambar. Di bawah tepi topinya, matanya bergerak ke sana kemari dari puri ke lingkungan terdekatnya, termasuk juga menara utama, benteng, pegunungan di latar belakang, sungai, dan kali-kali kecil.
Tepat sebelum Pertempuran Sekigahara, puri ini diserang oleh kesatuankesatuan Tentara Barat, dan dua pekarangannya, juga sebagian paritnya, menderita kerusakan besar. Sekarang benteng ini tidak hanya dibangun kembali, melainkan juga diperkuat, sehingga akan mengalahkan Benteng Hideyori di Osaka.
Calon prajurit itu membuat sketsa sepintas-lintas secara cepat, namun dengan perincian luas mengenai seluruh puri, dan pada halaman kedua ia mulai membuat diagram jalan-jalan dari belakang.
“Uh-Oh!” ujar Matahachi pelan. Entah dari mana datangnya, tapi tibatiba saja muncul inspektur proyek, yang kemudian berdiri di belakang pembuat sketsa itu, berpakaian setengah zirah dan mengenakan sandal jerami. Orang itu berdiri diam, seakan-akan menanti dilihat orang. Matahachi merasa bersalah karena tidak melihat pada waktunya, supaya dapat memberikan peringatan. Kini sudah terlambat.
Segera kemudian calon prajurit itu mengangkat tangan untuk mengusir lalat dari kerahnya yang berkeringat, dan waktu itulah tampak olehnya si pengganggu itu. Ia menengadah dengan mata terkejut, dan si inspektur menatap kembali dengan marahnya sebentar, kemudian mengulurkan tangan ke arah gambar. Calon prajurit itu menangkap pergelangan tangannya dan bangkit berdiri.
“Apa yang kamu lakukan ini?” serunya. Inspektur mengambil buku tulis itu dan mengacungkannya tinggi-tinggi. “Aku mau lihat dulu,” salaknya. “Kau tak punya hak.” “Ini tugasku!” “Mengganggu urusan orang lain itu tugasmu?” “Kenapa? Apa tak boleh aku melihat?” “Orang bebal macam kamu tak bakal mengerti.” “Kupikir lebih baik aku menyimpannya.” “He, jangan, jangan!” teriak calon prajurit itu hendak merebut buku tulisnya. Kedua orang itu tarik-menarik,
dan buku tulis sobek menjadi dua. “Awas kamu!” seru si inspektur. “Lebih baik kamu memberi penjelasan baik-baik. Atau kuadukan kau.” “Apa dasarnya? Apa kamu perwira?” “Betul.” “Apa kelompokmu? Siapa komandanmu?” “Bukan urusanmu. Tapi kau boleh tahu, aku punya perintah untuk menyelidiki siapa saja di tempat ini yang
kelihatan mencurigakan. Siapa kasih kamu izin membuat sketsa?”
“Lho, aku sedang membuat telaah tentang puri-puri dan ciri-ciri geografisnya buat rujukan masa depan. Apa salahnya?” “Tempat ini penuh mata-mata musuh. Mereka semua mengajukan alasan macam itu. Tak peduli siapa
kamu. Kamu mesti menjawab beberapa pertanyaan. Ayo sini ikut aku!” “Jadi, kau menuduhku penjahat?” “Tutup mulutmu dan ikut aku.” “Oh, pegawai-pegawai bejat! Terlalu biasa kalian menakut-nakuti orang banyak, tiap kali kalian membuka
mulut besar itu!” “Diam kamu! Ayo ikut!” “Jangan kau coba-coba denganku!” Calon prajurit itu tetap tak mau menyerah. Nadi-nadi di dahinya menggelembung marah. Inspektur itu menjatuhkan belahan buku tulis tersebut,
menginjaknya, dan menarik lembing kapaknya. Si calon prajurit melompat mundur selangkah, memperbaiki kedudukannya. “Kalau kamu tak mau ikut dengan sukarela, terpaksa aku mengikat dan menyeret-mu,” kata si inspektur.
Belum lagi kata-kata itu selesai diucapkan, lawannya sudah beraksi. Sambil melolong keras ditangkapnya leher inspektur itu dengan sebelah tangan, dan dengan tangan lain dicengkeramnya ujung bawah baju zirahnya, kemudian dibantingnya ke sebuah batu besar.
“Orang udik tak berguna!” jeritnya, tapi kata-kata itu kurang cepat waktunya untuk didengar si inspektur, karena kepala si inspektur sudah menganga di atas batu, seperti semangka. Matahachi berteriak ngeri sambil menutup muka dengan tangan untuk melindungi diri dari gumpalan-gumpalan benda encer merah yang melayang ke arahnya.
Sementara itu, si calon prajurit cepat kembali kepada sikap tenang sepenuhnya.
Matahachi sungguh terpesona. Mungkinkah orang itu sudah terbiasa mem-bunuh dengan cara brutal seperti itu? Ataukah sifat darah dingin itu sekadar akibat ledakan kemarahan? Karena gentar yang sehebat¬hebatnya, Matahachi mulai mengucurkan keringat. Menurut terkaannya, orang itu belum lagi berumur tiga puluh. Wajahnya yang kurus dan terbakar matahari itu bopeng, dan kelihatannya tidak berdagu. Barangkali karena bekas luka pedang yang dalam dan mencekung aneh bentuknya.
Calon prajurit itu tidak terburu-buru melarikan diri. Ia mengumpulkan dahulu bagian-bagian buku tulisnya yang robek-robek. Kemudian ia menoleh ke sekitar tenang-tenang, untuk mencari topinya yang terbang ketika ia melaksanakan lemparan hebat tadi. Sesudah ditemukannya topi itu, ia mengenakannya dengan hati-hati di kepala, dan sekali lagi menyembunyikan mukanya yang mengerikan itu dari pandangan mata. Kemudian pergilah ia dengan langkah cepat dan semakin cepat, sampai akhirnya seolah-olah ia terbang bersama angin.
Seluruh peristiwa itu terjadi demikian cepat, hingga tak seorang pun dari beratus-ratus buruh yang ada di sekitar tempat itu, ataupun orang-orang yang mengawasi pekerjaan mereka, sempat melihatnya. Para pekerja melanjutkan kerja keras seperti lebah, sementara para pengawas yang bersenjatakan cambuk dan lembing kapak meneriakkan perintah-perintah ke punggung mereka yang berkeringat.
Namun ada sepasang mata khusus yang menyaksikan semua itu. Mata pengawas umum para tukang kayu dan pembelah kayu yang berdiri di puncak perancah tinggi, yang memungkinkannya meninjau seluruh wilayah tersebut. Melihat calon prajurit itu melarikan diri, ia meneriakkan perintah, dan sekelompok serdadu, yang semula minum teh di bawah perancah, segera bergerak.
“Ada apa?”
“Perkelahian lagi?”
Yang lain-lain mendengar seruan untuk memegang senjata, dan segera kemudian berkepul debu kuning di dekat gerbang kayu benteng yang memisahkan wilayah pembangunan dengan kampung. Teriakan-teriakan marah mengudara dari kerumunan orang banyak.
“Ada mata-mata! Mata-mata dari Osaka!”
“Tak mau juga mereka itu belajar.”
“Bunuh dia! Bunuh dia!”
Para penghela batu, pengangkut tanah, dan lain-lainnya berteriak-teriak seakan-akan “mata-mata” itu musuh pribadinya, dan menyerbu ke arah samurai tak berdagu itu. Samurai itu berlari di belakang kereta sapi yang sedang keluar dari gerbang, dan mencoba menyelinap, tapi seorang penjaga melihatnya dan menjegalnya dengan tongkat berpaku.
Dari atas perancah pengawas terdengar teriakan, “Jangan lepaskan dia!”
Tanpa ragu-ragu lagi orang banyak itu menyerang si pelaku kejahatan, yang terus melawan seperti binatang kena perangkap. Ia merebut tongkat dari tangan penjaga, lalu menyerang si penjaga, dan dengan ujung senjata itu ia banting si penjaga dengan kepala di bawah. Setelah menjatuhkan empat atau lima orang lagi dengan cara seperti itu, ia menarik pedang besarnya dan mengambil sikap menyerang. Orang-orang yang hendak menangkapnya undur ketakutan, tapi ketika ia bersiap-siap menerobos lingkaran yang mengepungnya, hujan batu menimpanya dari segala jurusan.
Orang banyak melampiaskan kemarahan sepuas-puasnya. Sikap mereka lebih kejam lagi, karena rasa benci yang dalam terhadap semua shugyosha. Seperti umumnya orang kebanyakan, kaum buruh ini menganggap samurai pengembara tak berguna, tidak produktif, dan sombong.
“Hei, jangan seperti orang kasar bodoh!” teriak samurai yang sudah terkepung itu, mencoba menyuruh orang-orang itu berpikir dan menahan diri. Ia memang melawan mereka, tapi agaknya ia lebih suka mengumpat para penyerangnya daripada menghindari batu-batu yang dilontarkan kepadanya. Tidak sedikit para penonton yang tidak bersalah ikut terluka dalam perkelahian itu.
Kemudian dalam sekejap segalanya berlalu. Teriakan mereda, dan kaum buruh mulai kembali ke tempat kerja masing-masing. Dalam lima menit saja wilayah pembangunan yang luas itu kembali seperti keadaan semula, seakan-akan tak ada yang telah terjadi. Bunga-bunga api yang berterbangan dari berbagai alat pemotong, ringkik kuda yang sudah setengah kacau karena panas matahari, dan panas yang menumpulkan pikiran-semuanya kembali biasa.
Dua pengawal berdiri di samping tubuh yang jatuh itu, yang telah diikat dengan tali rami besar. “Sudah sembilan puluh persen mati,” kata salah seorang pengawal, “jadi bisa kita tinggalkan dia di sini sampai hakim datang.” Ia memandang ke sekitar, dan terlihatlah olehnya Matahachi. “He, kamu! Jaga orang ini. Biar dia mati, tak apa-apa.”
Matahachi mendengar kata-kata itu, tapi kepalanya tidak dapat menangkap maksudnya atau makna peristiwa yang baru saja disaksikannya. Semua itu seperti mimpi buruk yang tampak oleh mata, terdengar oleh telinga, tapi tak dimengerti oleh otaknya.
“Hidup ini begini rapuh,” pikirnya. “Beberapa menit yang lalu dia masih sibuk membuat sketsa. Sekarang dia sekarat. Padahal dia belum lagi tua.”
Ia merasa kasihan kepada samurai tak berdagu itu. Kepalanya tergeletak miring di tanah, hitam oleh kotoran dan darah kental, dan mukanya masih memperlihatkan kemarahan. Tali itu mengikatkannya pada sebuah batu besar. Matahachi merasa heran, kenapa para pengawal mengambil tindakan berjaga-jaga demikian rupa, padahal orang itu sudah sedemikian dekat dengan maut, hingga mengeluarkan suara pun tak bisa. Barangkali juga ia sudah mati. Sebelah kakinya menyembul aneh dari tengah sobekan panjang hakama¬nya, sedangkan tulang keringnya yang putih menyembul dari tengah daging yang merah tua. Darah merembes dari kulit kepalanya, dan tawon-tawon mulai terbang di sekitar rambutnya yang kusut. Semut¬semut sudah hampir menutup kedua tangan dan kakinya.
“Orang sial,” pikir Matahachi. “Kalau dia belajar sungguh-sungguh, pasti dia mempunyai ambisi besar dalam hidup. Ingin tahu juga, dari mana dia datang… dan apa orangtuanya masih hidup.”
Matahachi tercengkam oleh kesangsian aneh. Apakah ia benar-benar meratapi nasib orang itu, ataukah ia prihatin dengan kekaburan masa depannya sendiri? “Untuk orang yang mempunyai ambisi,” demikian pikirnya, “mestinya ada cara yang lebih baik untuk maju.”
Waktu itu adalah abad yang memacu harapan orang muda, yang mendorong mereka untuk mendambakan suatu impian, melecut mereka untuk memperbaiki statusnya dalam hidup. Ya, abad ketika orang seperti Matahachi pun dapat berkhayal akan bangkit dari ketiadaan dan menjadi penguasa sebuah puri. Seorang prajurit yang berbakat sederhana dapat mencapai sukses hanya dengan mengadakan perjalanan dari kuil satu ke kuil lain, dan hidup dari kedermawanan para pendeta. Kalau beruntung, ia dapat diambil oleh salah seorang bangsawan daerah, dan jika lebih beruntung lagi ia dapat menerima penghasilan tetap dari seorang daimyo.
Namun, dari semua pemuda yang mulai dengan harapan-harapan tinggi itu, hanya satu dalam seribu yang benar-benar mengakhiri usahanya dengan menemukan kedudukan dengan pendapatan memadai. Selebihnya harus merasa puas dengan kepuasan yang dapat mereka peroleh dari pengetahuan bahwa cita¬cita mereka sukar dan berbahaya.
Sementara Matahachi merenungkan samurai yang terbaring di depannya itu, seluruh jalan pikirannya mulai dirasa betul-betul bodoh olehnya. Ke manakah arah jalan yang ditempuh Musashi? Keinginan Matahachi untuk menyamai atau melebihi temannya semasa kanak-kanak memang belum mereda, tetapi melihat prajurit yang berlumur darah itu, Jalan Pedang pun jadi tampak sia-sia dan tolol.
Kengerian tiba-tiba menyadarkannya bahwa prajurit di depannya itu bergerak, dan urutan pikirannya pun tiba-tiba berhenti. Tangan orang itu menjulur seperti sirip penyu dan mencakar tanah. Dengan lemah ia mengangkat tubuhnya, menegakkan kepala, dan menarik tali tegang-tegang.
Hampir Matahachi tak percaya dengan matanya. Orang itu bergerak sedikit demi sedikit di tanah, menyeret batu karang seberat hampir dua ratus kilogram yang menjadi tambatan tali pengikatnya. Satu kaki, dua kaki—sungguh suatu peragaan kekuatan seorang manusia super! Tak seorang pun manusia berotot atau tukang hela batu yang dapat melakukan itu, sekalipun banyak orang menyombongkan diri memiliki kekuatan setara sepuluh atau dua puluh orang. Samurai yang terbaring di ambang kematian itu telah dikuasai oleh suatu kekuatan setani yang memungkinkan-nya jauh melebihi kekuatan manusia biasa.
Bunyi menggelegak terdengar dari tenggorokan orang sekarat itu. Ia mencoba mati-matian untuk berbicara, tetapi lidahnya sudah menjadi hitam dan kering, hingga tak mungkin baginya membentuk kata-kata. Napasnya terdengar sebagai desisan yang merongga terputus-putus. Matanya yang menonjol dari ceruknya memandang dengan nada memohon kepada Matahachi.
“To-lo-lo-ng…”
Sedikit demi sedikit mengertilah Matahachi bahwa orang itu mengatakan “tolong”. Kemudian terdengar bunyi lain yang tak jelas ucapannya, dan Matahachi menangkapnya sebagai ucapan “saya minta”. Namun mata orang itulah yang terutama berbicara. Di situlah terletak akhir air matanya dan kepastian mautnya. Kepalanya jatuh ke belakang dan napasnya berhenti. Maka lebih banyak lagi semut keluar dari dalam rumput untuk menjelajahi rambut yang memutih oleh debu itu. Sebagian di antaranya bahkan masuk ke dalam lubang hidungnya yang sudah tersumbat keringan darah, dan tampaklah oleh Matahachi, kulit di bawah kerah kimononya sudah berwarna biru kehitaman.
Apakah yang diinginkan orang itu darinya? Matahachi merasa dikejar-kejar oleh pikiran bahwa kini ia menanggung kewajiban. Samurai itu sudah mendatanginya ketika ia sakit, dan telah menunjukkan kebaikan hatinya dengan memberikan obat kepadanya. Kenapa nasib telah membutakan mata Matahachi, sedangkan seharusnya ia mengingat-kan orang itu akan datangnya sang inspektur? Apakah memang sudah ditakdirkan itu terjadi?
Matahachi mencoba-coba meraba bungkusan kain dalam obi orang mati itu. Isinya pastilah dapat mengungkapkan siapa orang itu dan dari mana ia datang. Matahachi menduga bahwa permintaan orang itu di waktu sekarat adalah agar tanda mata yang ada padanya disampaikan pada keluarganya.
Maka diambilnya bungkusan itu dan dimasukkannya cepat-cepat ke dalam kimononya sendiri.
Lalu ia bersoal-jawab dengan dirinya sendiri, apakah akan memotong sedikit rambut orang itu untuk disampaikan kepada ibunya, tapi ketika sedang menatap wajah yang mengerikan itu, ia dengar langkah¬langkah kaki mendekat. Ditengoknya dari balik sebuah batu, dan tampak olehnya seorang samurai datang untuk mengambil mayat itu. Kalau tertangkap menyimpan milik orang mati itu, pasti ia mengalami kesulitan hebat. Maka ia mengendap rendah-rendah dan menyelinap dari bayangan batu yang satu ke bayangan batu yang lain dan meninggalkan tempat itu seperti seekor tikus ladang.
Dua jam kemudian ia tiba di toko manisan tempat ia tinggal. Istri pemilik toko sedang berada di samping rumah, membasuh diri dengan air tempayan. Mendengar Matahachi ada di dalam rumah, ia memperlihatkan sebagian kulitnya yang putih dari balik pintu samping, dan serunya, “Kamu itu, Matahachi?”
Matahachi menjawab dengan gerutuan keras, kemudian masuk cepat ke kamarnya sendiri dan mengambil kimono dan pedang dari lemari, kemudian ia ikatkan handuk yang sudah digulung di sekitar kepalanya dan bersiapsiap mengenakan sandal lagi.
“Apa tidak gelap di situ?” seru perempuan itu.
“Tidak, saya bisa lihat dengan jelas.”
“Akan saya bawakan lampu.”
“Tak perlu. Saya akan pergi.”
“Apa tidak mandi? ”
“Tidak. Nanti saja.”
Ia bergegas keluar menuju ladang dan cepat menghindar dari rumah jembel itu. Beberapa menit kemudian ia menoleh ke belakang, dan terlihat olehnya sekelompok samurai datang dari seberang padang miskantus. Tak sangsi lagi mereka datang dari puri. Mereka memasuki toko manisan itu dari depan dan belakang.
“Hampir saja aku celaka,” pikirnya. “Tapi aku tidak mencuri sesuatu. Aku cuma mengambilnya untuk disimpan. Aku harus melakukannya. Dia minta betul aku melakukannya.”
Menurut jalan pikirannya, selama ia mengakui barang-barang itu bukan miliknya, ia tidak merasa melakukan kejahatan. Tapi bersamaan dengan itu ia pun sadar bahwa ia tidak dapat lagi memperlihatkan diri di wilayah pembangunan itu.
Bunga miskantus tegak setinggi bahunya, dan tabir kabut petang mengambang di atasnya. Tak seorang pun dapat melihatnya dari kejauhan. Mudahlah ia menyelinap pergi dari situ. Tapi ke mana ia harus pergi? Suatu pilihan yang sukar. Lebih-lebih karena ia yakin benar bahwa keberuntungan terletak di satu jurusan dan nasib malang di jurusan lain.
Osaka? Kyoto? Nagoya? Edo? Ia tak punya seorang pun teman di tempat-tempat itu. Rasanya ingin ia melempar dadu untuk memutuskan ke mana akan pergi. Seperti halnya pada Matahachi, pada dadu semua adalah kemungkinan. Kalau angin bertiup, angin akan membawanya berembus.
Ia merasa makin jauh ia berjalan, makin dalam ia masuk ke rumpun miskantus. Serangga mendengung¬dengung di sekitarnya, dan kabut yang turun melembapkan pakaiannya. Tepi pakaiannya yang basah melibat kakinya. Biji-biji rumput menempel ke lengan kimononya. Tulang keringnya gatal. Ingatan mengenai rasa muak yang dialaminya tengah hari itu kini hilang, tapi sekarang ia lapar bukan kepalang. Segera sesudah merasa jauh dari jangkauan para pengejarnya, ia pun mulai merasa sengsara karena harus berjalan.
Karena ingin menemukan tempat berbaring dan beristirahat, ia terus berjalan menempuh panjangnya ladang itu, dan di seberang sana tampak atap sebuah rumah. Ketika ia sudah lebih dekat, tampak bahwa pagar dan pintu gerbang rumah itu miring, agaknya dirusak badai yang belum lama menimpa. Atap rumah itu pun membutuhkan perbaikan. Namun rumah itu tadinya tentu milik satu keluarga berada, karena ada keanggunan tertentu, walaupun sudah layu. Ia membayangkan seorang wanita istana cantik, duduk di kereta bertabir mewah yang sedang mendekati rumah itu dengan langkah megah.
Ketika melintas gerbang yang tampak murung itu, tampak olehnya rumah utama dan rumah kecil yang terpisah itu sudah hampir terkubur rumput liar. Pemandangan di situ mengingatkannya pada sebagian sajak penyair Saigyo yang pernah ia pelajari di masa kanak-kanak:
Saya dengar ada kenalan saya tinggal di Fushimi, dan saya pergi berkunjung kepadanya, tetapi halamannya demikian tertutup semak! Saya bahkan tak dapat melihat jalannya. Sementara serangga-serangga menyanyi, saya pun menggubah sajak ini:
Menerobos rumput liar, Kusembunyikan rasa senduku Dalam lipatan lengan kimonoku. Di halaman penuh embun Serangga yang hina pun berlagu.
Hati Matahachi jadi menggigil. Ia meringkuk di dekat rumah itu sambil membisikkan kata-kata yang sudah lama dilupakannya itu.
Baru saja ia akan menyimpulkan rumah itu kosong, seberkas cahaya merah muncul dari dalam. Segera kemudian ia dengar ratapan merana shakuhachi, suling bambu yang biasa dimainkan pendeta pengemis apabila sedang mengemis di jalan-jalan. Ketika menengok ke dalam, didapatinya si pemain memang anggota kelas itu. Orang itu duduk di samping perapian. Api yang baru dinyalakannya bertambah terang, dan bayangan dirinya di dinding makin besar. Ia memainkan lagu sedih, ratapan tunggal mengenai kesendirian dan sendunya musim gugur, yang hanya dimaksud untuk telinga sendiri. Orang itu bermain sederhana saja, tanpa banyak kembang, hingga Matahachi mendapat kesan bahwa ia cuma menaruh sedikit rasa bangga pada permainannya sendiri.
Ketika lagu berhenti, pendeta itu mengeluh dalam dan mulai meratap.
“Orang bilang, kalau kita berumur empat puluh tahun, kita bebas dari godaan. Tapi cobalah lihat diriku ini!
Empat puluh tujuh ketika kuhancurkan nama baik keluargaku. Empat puluh tujuh tahun! Dan masih saja aku tergoda angan-angan buruk dan kehilangan semuanya-pendapatan, kedudukan, nama baik. Bukan hanya itu. Telah kubiarkan anak lelakiku satusatunya mengurus diri sendiri di dunia yang brengsek ini…. Untuk apa? Cinta buta?
“Memalukan—tak dapat lagi aku menghadapi arwah istriku, juga anak lelakiku, di mana pun ia berada. Ha! Kalau orang berbicara bahwa kita menjadi bijaksana sesudah umur empat puluh, mestinya yang dibicarakan itu orang-orang besar, bukan orang-orang tolol seperti aku ini. Daripada menganggap diri bijaksana karena usia, lebih baik aku harus lebih berhati-hati. Sungguh gila tidak berhati-hati, kalau soalnya menyangkut perempuan.”
Sambil menegakkan shakuhachi di depannya dan mengganjalkan kedua tangan pada pipinya, ia meneruskan, “Ketika urusan dengan Otsu itu terjadi, tak seorang pun mau memaafkan aku lagi. Sudah terlambat, terlambat.”
Matahachi merangkak masuk kamar sebelah. Ia mendengarkan, tetapi jijik dengan apa yang dilihatnya. Pipi pendeta itu cekung, bahunya kelihatan lancip seperti bahu anjing liar, dan rambutnya tidak mengilat. Matahachi meringkuk diam-diam. Dalam cahaya api yang mengejap-ngejap, sosok tubuh orang itu menimbulkan khayalan tentang setan-setan malam.
“Oh, apa yang harus kuperbuat?” rintih pendeta itu lagi sambil mengangkat matanya yang cekung ke langit¬langit. Kimononya polos dan kumal, tetapi ia mengenakan juga baju jubah hitam, yang menunjukkan bahwa ia pengikut guru Zen Cina, P’u-hua. Tikar buluh tempat ia duduk, yang digulungnya dan dibawanya ke mana saja ia pergi itu, barangkali satusatunya harta rumah tangganya-tempat tidurnya, tabirnya, dan dalam cuaca buruk, juga atapnya.
Pendeta itu memungut shakuhachi-nya dan berjalan dengan lesu ke luar rumah. Matahachi seperti melihat ada kumis menyerabut di bawah hidungnya yang kurus. “Sungguh orang aneh!” pikirnya. “Dia belum lagi tua, tapi berdirinya sudah begitu goyah.” Karena dikiranya orang itu kurang waras, Matahachi merasa sedikit kasihan kepadanya.
Karena tiupan angin malam, nyala api dari ranting-ranting patah mulai membakar lantai. Matahachi masuk kamar kosong itu, menemukan kendi air, dan menuangkan isinya ke api. Sambil melakukan itu terpikir olehnya, alangkah cerobohnya pendeta itu.
Tak apa-apa kalau yang terbakar habis cuma rumah tua yang kosong itu. tapi bagaimana kalau yang terbakar itu kuil kuno dari zaman Asuka atau Kamakura? Matahachi merasakan gejolak kemarahan yang jarang terjadi padanya. “Justru karena orang-orang seperti dia itu kuil-kuil kuno di Nara dan Gunung Koya begitu sering hancur,” pikirnya. “Pendeta-pendeta pengembara yang gila ini tak punya harta milik, tak punya keluarga. Mereka tak pernah berpikir, betapa besarnya bahaya api. Mereka bisa saja menyalakan api di ruang besar sebuah biara tua, di dekat lukisan dinding, hanya untuk menghangatkan bangkainya sendiri yang tak ada manfaatnya bagi siapa pun.
“Tapi ini ada yang menarik,” gumamnya sambil menolehkan matanya ke arah ceruk kamar. Bukan pola anggun kamar ataupun sisa-sisa jambangan berharga yang memikat perhatiannya, melainkan sebuah kuali logam yang sudah hitam dan sebuah guci sake bermulut sumbing di sebelahnya. Di dalam kuali itu ada sedikit bubur nasi, dan ketika ia mengguncangkan guci itu, terdengar dari dalamnya suara gemericik gembira. Ia tersenyum lebar, merasa bersyukur atas nasib baiknya, namun kurang pikir tentang hak milik orang lain, seperti yang biasa terjadi pada orang lapar mana pun.
Cepat ia mengosongkan sake itu dengan beberapa tegukan panjang, kemudian mengosongkan isi kuali nasi dan mengucapkan selamat kepada dirt sendiri karena perutnya sudah kenyang.
Sambil mengangguk-angguk mengantuk di samping perapian, ia mendengar dengung serangga yang seperti hujan datang dari ladang gelap di luar—tidak hanya dari ladang, melainkan juga dari dinding, langit¬langit, dan tikar tatami yang membusuk.
Tepat sebelum berlayar ke alam tidur, teringat olehnya bungkusan yang diambil-nya dari prajurit yang sekarat tadi. Ia bangun dan membukanya. Bungkusan itu berupa kain krep kotor yang dicelup dengan celupan kayu sappan merah tua. Isinya pakaian dalam yang sudah dicuci bersih, serta barang-barang yang biasa dibawa musafir. Ketika pakaian dibuka, ditemukannya sebuah benda yang ukuran dan bentuknya seperti gulungan surat, terbungkus dengan amat hati-hati dalam kertas minyak. Terdapat juga sebuah pundi¬pundi yang seketika jatuh dari lipatan kain dengan denting nyaring. Pundi-pundi itu terbuat dari kulit bercelup warna lembayung. Isinya emas dan perak dalam jumlah demikian banyak, hingga tangan Matahachi gemetar ketakutan. “Ini uang orang lain, bukan uangku,” demikian ia mengingatkan dirinya.
Ketika dibukanya kertas minyak yang membungkus barang yang panjang, tampak sebuah gulungan dililitkan pada sebuah gelindingan dengan kain brokat emas di ujungnya. Segera ia merasa bahwa gulungan itu mengandung rahasia penting. Dengan rasa ingin tahu yang besar diletakkannya gulungan itu di hadapannya, dan pelan-pelan dibukanya. Bunyinya,
SERTIFIKAT
Dengan sumpah suci saya bersumpah telah menurunkan kepada Sasaki Kojiro tujuh metoda rahasia seni pedang Gaya Chujo berikut ini:
Secara terang-terangan – gaya kilat, gaya roda, gaya bulat, gaya perahu mengapung. Secara rahasia – Berlian, Olah Batin, Tak Terhingga. Dikeluarkan di Kampung Jokyoji, Usaka Demesne, Provinsi Echizen, pada bari… bulan…
Kinemaki Jisai, murid Toda Seigen
Di atas secarik kertas yang agaknya ditambahkan kemudian, terdapat sebuah sajak.
Bulan yang memancarkan sinar Ke air yang tiada Dalam sumur yang belum digali Menghasilkan manusia Tanpa bayangan ataupun bentuk
Matahachi sadar bahwa ia memegang sertifikat yang diberikan kepada seorang murid yang telah mempelajari segala yang diajarkan gurunya, tetapi nama Kanemaki Jisai itu tak ada artinya sama sekali baginya. Ia pasti akan dapat mengenali nama Ito Yagoro, yang dengan nama Ittosai telah menciptakan gaya main pedang yang terkenal dan sangat dikagumi, tapi ia tidak tahu bahwa Jisai guru Ito. Ia pun tidak tahu bahwa Jisai seorang samurai yang baik sekali wataknya, yang telah menguasai Gaya Toda Seigen sejati dan telah mengundurkan diri ke sebuah kampung terpencil untuk menghabiskan masa tuanya sebagai orang tak dikenal, dan sesudah itu menurunkan Metoda Seigen hanya kepada beberapa murid pilihan.
Matahachi membaca kembali nama pertama itu. “Sasaki Kojiro ini pasti samurai yang terbunuh di Fushimi hari ini,” pikirnya. “Dia tentunya pemain pedang mahir yang patut mendapat hadiah surat keterangan untuk Gaya Chujo, apa pun macamnya gaya itu. Sungguh sayang dia mesti mati! Tapi aku jadi yakin sekarang. Betul sekali dugaanku. Dia tentunya ingin aku menyampaikan ini pada seseorang, barangkali orang yang berasal dari tempat kelahirannya.”
Macahachi membacakan doa pendek kepada sang Budha untuk Sasaki Kojiro, kemudian berjanji pada diri sendiri bahwa bagaimanapun ia akan melaksanakan misinya yang baru ini.
Untuk menghilangkan rasa dingin, ia menghidupkan api kembali, kemudian membaringkan diri di dekat perapian. Segera ia jatuh tertidur.
Dari kejauhan terdengar bunyi shakuhachi pendeta tua itu. Lagu sedih yang agaknya mencari-cari sesuatu dan menyeru pada seseorang terus mendayu-dayu, sementara gelombang pedih mengalun di atas desir ladang.
bagian 9
Berkumpul kembali di Osaka
LADANG itu diselimuti kabut kelabu, dan udara dingin pagi hari mengisyaratkan musim gugur sudah benar¬benar dimulai. Bajing-bajing berkeliaran di mana-mana, dan di dapur tak berpintu pada rumah tak berpenghuni itu jejak-jejak rubah yang masih baru simpang siur di lantai.
Pendeta pengemis yang kembali dengan terhuyung-huyung sebelum matahari terbit membaringkan diri karena lelah di lantai kamar sepen. Tangannya masih menggenggam shakuhachi. Kimono dan jubahnya yang kotor basah oleh embun, dan di sana-sini dikotori rumput yang menempel selagi ia mengembara seperti orang hilang melewati malam. Ketika ia membuka matanya dan duduk, hidungnya mengerut, lubang hidung dan matanya membuka lebar, dan berguncanglah tubuhnya oleh bersin hebat. Namun ia tidak berusaha menghapus ingus yang mengucur dari hidung ke kumisnya yang tipis.
Ia duduk di sana beberapa menit, sebelum akhirnya teringat bahwa ia masih menyimpan sedikit sake sisa malam sebelumnya. Sambil menggumam sendiri ia berjalan menyusuri gang panjang ke kamar perapian di bagian belakang rumah itu. Di siang hari terdapat lebih banyak kamar di rumah itu daripada yang kelihatan waktu malam hari, tapi pendeta itu dapat menemukan jalannya tanpa kesulitan. Tetapi alangkah heran ia, karena guci sake sudah tidak ada di tempat-nya.
Sebagai gantinya ada seorang asing di dekat perapian, kepalanya berbantalkan satu lengan dan air liur menetes dari mulutnya. Ia tidur nyenyak. Maka jelaslah ke mana larinya sake itu.
Tentu saja bukan hanya sake yang hilang. Setelah pemeriksaan cepat, terbukti tak sedikit pun tertinggal bubur beras yang maksudnya untuk sarapan. Pendeta itu merah padam oleh amarah; tanpa sake ia masih tak apa-apa, tetapi nasi adalah soal hidup dan mati. Sambil memekik seru ditendangnya si penidur itu sekuat-kuatnya, tapi Matahachi hanya berkomat-kamit sambil mengantuk, kemudian menarik tangan dari bawah badannya dan dengan malas mengangkat kepala.
“Kamu… kamu…!” gagap pendeta itu dan menendang sekali lagi.
“Apa pula ini?” teriak Matahachi. Urat-urat nadi menggelembung pada wajahnya yang mengantuk itu ketika ia melompat berdiri. “Jangan menendang macam itu!”
“Oh, tendangan saja belum cukup! Siapa bilang kamu boleh masuk rumah ini dan mencuri nasi dan sake¬ku?”
“Oh, jadi nasi dan sake itu punyamu?”
“Tentu saja punyaku!”
“Maaf.”
“Maaf? Apa gunanya itu buatku?”
“Saya minta maaf.”
“Kamu mesti berbuat lebih dari itu!”
“Apa yang mesti saya lakukan?”
“Kembalikan nasi dan sake itu!”
“Ah! Dua-duanya sudah dalam perut saya dan sudah memperpanjang hidup saya satu malam. Tak bisa saya mengembalikannya sekarang!”
“Tapi aku mesti hidup juga, kan? Paling banyak yang kudapat dari keliling-keliling main musik di pintu gerbang orang banyak itu cuma sedikit beras atau beberapa tetes sake. Dungu kamu! Kaukira aku bisa berdiri saja diam-diam dan membiarkanmu mencuri makananku? Kuminta kembalikan barang itu!” Nada yang dipergunakannya mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal itu penuh paksaan, dan suaranya bagi Matahachi terdengar seperti suara setan lapar yang langsung datang dari neraka.
“Janganlah begitu kikir,” kata Matahachi dengan sikap meremehkan. “Buat apa pula mesti jengkel hanya karena sedikit nasi dan kurang dari setengah guci sake kelas tiga.”
“Keledai kamu! Mungkin kamu menampik nasi sisa, tapi buatku itu makanan sehari-hidup sehari!” Pendeta itu menggeram dan mencengkeram pergelangan tangan Matahachi. “Takkan kulepaskan kamu begitu saja!”
“Jangan seperti orang sinting begitu!” bentak Matahachi. Ditariknya lengan-nya keras-keras sampai lepas dari cengkeraman, dan dicengkeramnya rambut orang tua yang sudah jarang itu, lain ia coba melontarkan orang itu dengan sentakan cepat. Tapi alangkah terkejutnya ia karena tubuh yang kelaparan itu tidak beranjak. Pendeta itu mencengkeram erat leher Matahachi dan tak hendak melepaskannya.
“Bajingan kamu!” salak Matahachi sambil menaksir kekuatan lawannya.
Tapi sudah terlambat. Pendeta itu menghujamkan kakinya mantap-mantap ke lantai, dan dengan sekali tolak saja Matahachi pun terguling. Suatu gerakan cekatan, dengan menggunakan kekuatan Matahachi sendiri. Dan Matahachi pun terus berguling, sampai akhirnya berdebam menghantam dinding plester di sisi luar kamar sebelah. Karena tiang-tiang dan galar-galar sudah lapuk, sebagian besar dinding itu runtuh menghujani Matahachi dengan kotoran. Sambil meludah semulut penuh Matahachi bangkit berdiri, menghunus pedang, dan menyerang orang tua itu.
Si pendeta sudah siap menangkis serangan dengan shakuhachi-nya, tetapi belum-belum ia sudah tersengal-sengal mencari udara.
“Nah. lihat sekarang akibat ulahmu sendiri!” pekik Matahachi sambil mengayun pedang. Ayunan pedang tidak mengenai sasaran, tapi terus juga ia mengayun tanpa kenal ampun dan tidak memberikan kesempatan kepada pendeta itu untuk memperoleh papas kembali. Muka orang tua itu tampak seperti hantu. Berkali-kali ia melompat mundur. Lompatan itu tidak melenting. dan ia rupanya sudah hampir pingsan. Setiap kali ia mengelak, terdengar teriakan sedih, seperti rengek orang yang sedang sekarat. Namun karena ia terus¬menerus beralih kedudukan, maka tak mungkin Matahachi menebaskan pedangnya.
Akhirnya Matahachi celaka oleh kecerobohannya sendiri. Ketika pendeta itu melompat ke kebun, Matahachi mengikutinya dengan membabi-buta, namun begitu kakinya menginjak lantai beranda yang lapuk, papan¬papan berderak dan patah. Matahachi jatuh telentang, sebelah kakinya terayun-ayun masuk ke sebuah lubang.
Si pendeta melompat menyerang. Ditangkapnya bagian depan kimono Matahachi dan dipukulinya kepala Matahachi, pelipis dan tubuhnya-mana raja yang dapat dikenai shakuhachi-nya. Dan setiap kali menghantam, ia menggeram keras. Karena sebelah kakinya terjerat, Matahachi tak berdaya. Kepalanya tampak membengkak sampai sebesar tong, tapi beruntunglah ia karena pada detik itu keping-keping emas dan perak mulai berjatuhan dari kimononya. Setiap jatuhnya pukulan diikuti bunyi gemerincing mata uang yang jatuh ke lantai.
“Apa itu?” seru si pendeta tersengal-sengal, lalu melepaskan korbannya. Matahachi segera membebaskan kakinya dan melompat meloloskan diri, tapi waktu itu orang tua itu sudah tidak marah lagi. Biarpun tinjunya sakit dan napasnya sesak, tak dapat ia tidak menatap uang itu dengan heran.
Sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut, Matahachi berseru, “Lihat tidak, orang tua sinting? Tak perlu kamu naik darah cuma karena nasi dan sake sedikit saja. Uang bisa kubuang-buang! Ambillah kalau kau mau! Tapi sebagai gantinya kau mesti menerima kembali pukulan yang sudah kauberikan padaku. Keluarkan kepalamu yang tolol itu, dan akan kubayar kamu dengan bunganya untuk ganti nasi dan minumanmu itu!”
Si pendeta bukannya menjawab cacian itu, melainkan meletakkan wajahnya ke lantai dan mulai menangis. Kemarahan Matahachi mereda sedikit, tapi katanya berbisa, “Coba lihat dirimu itu! Begitu melihat uang, terus saja berantakan.”
“Oh, sungguh memalukan diriku!” lolong sang pendeta. “Kenapa aku jadi begini tolol!” Seperti halnya kekuatan yang baru saja dipakainya untuk berkelahi, sikap mencela diri sendiri itu lebih hebat daripada yang dimiliki kebanyakan orang. “Sungguh aku keledai!” sambungnya. “Apa belum juga sadar aku akan diriku? Pada umur ini? Juga sesudah terbuang dari masyarakat dan tenggelam sedalam-dalamnya?”
Ia menoleh ke tiang hitam di sampingnya, dan mulailah ia membenturbenturkan kepalanya pada tiang itu. Rintihnya, “Kenapa aku memainkan shakuhachi ini? Apa untuk mengusir khayalanku, kebodohanku, kegairahanku, sikapku yang mementingkan diri sendiri, dan nafsu-nafsu jahatku lewat kelima lubangnya? Bagaimana mungkin aku mengizinkan diriku terlibat dalam pertarungan hidup-mati hanya demi secuil makanan dan minuman? Dan dengan orang yang pantas menjadi anakku pula?”
Belum pernah Matahachi melihat orang seperti ini. Orang tua itu menangis beberapa waktu lamanya, kemudian membenturkan kepala lagi ke tiang. Ia rupanya bermaksud menghantamkan dahinya sampai belah menjadi dua. Sampai sedemikian jauh, hukuman yang dijatuhkannya pada diri sendiri lebih banyak
jumlahnya daripada pukulan yang dijatuhkannya kepada Matahachi. Sebentar kemudian darah mulai
mengalir dari keningnya. Matahachi merasa berkewajiban mencegahnya menyiksa diri lebih lanjut. “Hai! katanya, “Hentikan! Apa-apaan kamu ini.”
“Biarkan aku sendiri,” pinta si pendeta. “Tapi ada apa kau ini?” “Tak ada apa-apa.” “Pasti ada. Apa kau sakit?” “Tidak.” “Kalau begitu apa?” “Aku muak dengan diriku. Aku mau memukul badanku yang jahat ini sampai mati dan menyuruh burung¬
burung gagak memakannya, tapi tak mau aku mati seperti orang bebal yang bodoh. Aku ingin kuat dan jujur seperti orang lain, sebelum aku membuang daging ini. Kehilangan kendali diri telah membuat diriku marah. Kupikir kau dapat menamakan ini penyakit.”
Karena merasa kasihan kepadanya, Matahachi memungut uang yang jatuh itu dan mencoba memasukkan sebagian ke tangan si pendeta. “Sebagian karena kesalahanku,” katanya dengan nada minta maaf. “Kuberikan ini padamu, dan barangkali kamu akan memaafkan aku.”
“Aku tak ingin!” teriak pendeta sambil cepat menarik tangannya. “Aku tak perlu uang. Aku tak perlu uang, kataku!” Meskipun sebelum itu telah meledak kemarahannya gara-gara secuil bubur nasi, sekarang ia pandang uang itu dengan penuh kejijikan. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan hebat, ia membalikkan badan dan masih terus berlutut.
“Aneh juga kau ini,” kata Matahachi. “Kukira tidak.” “Tapi kau berbuat aneh.” “Tak usahlah kamu kuatir.” “Kau rupanya dari provinsi barat, ya? Kentara dari tekanan katamu.” “Kukira begitu. Aku lahir di Himeji.” “Betul? Aku dari sana juga—Mimasaka.” “Mimasaka?” ulang si pendeta sambil menatap Matahachi. “Di mana di Mimasaka? ” “Kampung Yoshino. Tepatnya Miyamoto.” Orang tua itu tampak santai. Sambil menundukkan diri di beranda, katanya tenang, “Miyamoto? Oh, itu
nama yang membawa kenang-kenangan. Pernah aku bertugas jaga di Benteng Hinagura. Aku kenal betul daerah itu.”
“Kalau begitu, Anda pernah jadi samurai di tanah perdikan Himeji?” “Ya. Kukira sekarang tampangku sudah tak pantas lagi, tapi waktu itu aku menjadi semacam prajurit. Namaku Aoki Tan…”
Sampai di situ mendadak ia berhenti, kemudian tiba-tiba pula melanjutkan. “Ah, itu tidak betul. Aku cuma mengarang-ngarang. Lupakan bahwa aku pernah mengatakan sesuatu.” Ia berdiri, katanya, “Aku akan pergi ke kota, main shakuhachi, dan mencari sesuap nasi.” Sampai di situ ia membalikkan badan dan berjalan cepat menuju ladang miskantus.
Sesudah orang tua itu pergi, mulailah Matahachi berpikir-pikir, apakah benar sikapnya menawarkan uang yang berasal dari pundi-pundi samurai yang telah mati kepada pendeta itu? Tapi segera kemudian ia sudah dapat memecahkan dilema itu dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa mungkin tak ada salahnya meminjam uang itu sedikit, asalkan tidak banyak. “Kalau kusampaikan uang itu ke rumah orang yang mati itu seperti dimintanya,” demikian pikirnya, “aku pasti membutuhkan biaya, dan pilihan apa lagi yang ada padaku, kalau bukan mengambilnya dari kantong yang kubawa ini?” Sikap membenarkan diri sendiri yang sederhana itu demikian menyenangkan, hingga semenjak hari itu mulailah ia menggunakan uang itu sedikit demi sedikit.
Tinggallah kini persoalan surat keterangan Sasaki Kojiro. Orang itu agaknya ronin, tapi tak mungkinkah misalnya ia bekerja pada seorang daimyo? Matahachi tidak menemukan jawaban atas soal dari manakah asal orang itu. Karena itu pula ia tak tahu ke mana harus membawa surat itu. Satu-satunya harapan, demikian diputuskannya, adalah menemukan guru pedang Kanemaki Jisai, yang pasti tahu segala sesuatu tentang Sasaki.
Dalam perjalanan dari Fushimi ke Osaka, di tiap warung teh, rumah makan, dan rumah penginapan, Matahachi bertanya apakah ada yang mengetahui tentang Jisai. Semua jawaban yang diperolehnya negatif. Bahkan tambahan keterangan bahwa Jisai murid yang diakui Toda Seigen tidak mendatangkan tanggapan.
Akhirnya seorang samurai yang kebetulan dikenalnya di jalan memberikan titik terang. “Saya pernah mendengar tentang Jisai, tapi kalau dia masih hidup, pasti dia sudah sangat tua. Ada yang bilang dia pergi ke timur dan menjadi pertapa di sebuah desa di Kozuke atau di tempat lain lagi. Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang dia, Anda mesti pergi ke Puri Osaka dan bicara dengan orang yang namanya Tomita Mondonosho.”
Mondonosho agaknya salah seorang guru Hideyori dalam seni perang, dan orang yang memberikan keterangan kepada Matahachi merasa cukup yakin bahwa orang itu keluarga yang sama dengan Seigen.
Walaupun kecewa karena tidak terangnya petunjuk yang pertama didapatnya itu, Matahachi memutuskan untuk mengikutinya. Setibanya di Osaka, ia menyewa kamar di sebuah rumah penginapan murah di salah satu jalan ramai, dan segera sesudah beres ia bertanya pada pemilik rumah penginapan, apakah orang itu tahu orang yang bernama Tomita Mondonosho di Puri Osaka.
“Ya, saya sudah pernah mendengar nama itu,” jawab pemilik rumah penginapan. “Saya percaya dia cucu Toda Seigen. Dia bukan instruktur pribadi Yang Dipertuan Hideyori, tapi dia memang mengajarkan ilmu pedang pada sejumlah samurai di puri itu. Atau setidaknya pernah mengajarkannya. Saya pikir, boleh jadi dia sudah kembali ke Echizen beberapa tahun yang lalu. Ya, itulah yang dia lakukan.
“Anda bisa pergi ke Echizen dan mencari dia di sana, tapi tidak ada jaminan apakah dia masih ada di sana. Daripada mengadakan perjalanan begitu jauh hanya berpegangan dugaan, apa tidak lebih mudah menjumpai Ito Ittosai? Saya agak yakin dia mempelajari Gaya Chujo pada Jisai, sebelum mengembangkan gaya sendiri.”
Saran pemilik rumah penginapan itu tampaknya masuk akal, tapi ketika Matahachi mulai mencari Ittosai, ia menemukan dirinya berada di jalan buntu lain lagi. Sejauh yang dapat diketahuinya, orang itu sampai baru¬baru ini masih tinggal di sebuah gubuk kecil di Shirakawa di sebelah timur Kyoto, tapi sekarang sudah tidak tinggal lagi di sana, dan beberapa waktu lamanya sudah tidak kelihatan lagi di Kyoto atau Osaka.
Tak lama kemudian tekad Matahachi pun merosot, dan ia bermaksud meninggalkan seluruh urusan itu. Kesibukan dan kegairahan kota itu menyulut kembali ambisinya dan menggelitik jiwa mudanya. Di sebuah kota yang terbuka lebar seperti ini, kenapa pula ia menghabiskan waktu dengan mencari keluarga orang mati? Banyak hal dapat dilakukan di sini. Orang mencari para pemuda seperti dirinya. Di Puri Fushimi, para pejabat secara tulus-ikhlas melaksanakan kebijaksanaan pemerintah Tokugawa. Namun di sini para jenderal yang menguasai Puri Osaka mencari ronin untuk dijadikan tentara. Tentu saja tidak secara terang-terangan, namun cukup terbuka, hingga sudah umum diketahui ronin lebih diterima dan dapat hidup lebih baik di sini daripada di kota puri mana pun di negeri ini.
Desas-desus sembarangan beredar di antara penduduk kota. Dikatakan misalnya, Hideyori diam-diam menyediakan dana untuk para daimyo pelarian seperti Goto Matabei, Sanada Yukimura, Akashi Kamon, dan bahkan Chosokabe Morichika yang berbahaya, yang sekarang tinggal di sebuah rumah sewaan di jalan sempit di luar kota.
Sekalipun masih muda, Chosokabe telah mencukur kepalanya seperti pendeta Budha dan mengubah namanya menjadi Ichimusai “Manusia dengan impian tunggal”. Ini suatu pernyataan bahwa peristiwa dunia yang mengambang ini tidak lagi menjadi perhatiannya, dan secara pura-pura ia menghabiskan waktu dengan tingkah laku sembrono yang perlente. Namun umum diketahui bahwa ada tujuh atau delapan ratus ronin bekerja padanya, semuanya teguh dalam keyakinan bahwa apabila tiba saatnva, ia akan bangkit membela nama baik mendiang Hideyoshi yang pernah bersikap dermawan kepadanya. Didesas-desuskan bahwa biaya hidupnya, termasuk gaji untuk para ronin-nya, semua keluar dari kantong pribadi Hideyori.
Dua bulan lamanya Matahachi berkeliaran di Osaka, dan makin lama ia makin yakin bahwa inilah tempat baginya. Di sinilah ia akan meraih kesempatan menuju sukses. Untuk pertama kalinya selama bertahun¬tahun ia merasa seberani dan setak-kenal-takut seperti ketika berangkat perang dulu. la merasa sehat dan hidup kembali, tak gentar oleh semakin menipisnya uang samurai yang sudah mati itu, karena ia percaya bahwa akhirnya nasib baik telah beralih kepadanya. Setiap hari baru adalah kebahagiaan, kegembiraan. Ia yakin bahwa ia akan terantuk pada sebuah batu dan muncul bertimbun uang. Keberuntungan sedang mencarinya.
Pakaian baru! Itulah yang dia perlukan. Ia pun membeli pakaian lengkap yang baru, dan dengan hati-hati memilih bahan yang cocok untuk cuaca di musim dingin yang sudah mendekat. Kemudian, karena menurut anggapannya hidup di sebuah rumah penginapan terlampau mahal, ia menyewa sebuah kamar kecil milik seorang tukang sadel di sekitar Parit Junkei dan mulai makan di luar. Ia melihat apa yang ingin dilihatnya, dan pulang apabila ingin pulang. Sering ia pergi sepanjang malam, apabila semangat menghendakinya. Sambil hidup bersenang-senang, ia terus mencari seorang teman, seorang penghubung yang akan mengantarkannya ke kedudukan dengan gaji besar pada seorang daimyo besar.
Sebetulnya Matahachi perlu mengendalikan diri untuk tetap hidup dalam batas-batas kemampuannya. Tetapi ia merasa sudah berlaku lebih baik daripada kapan pun sebelumnya. Berulang-ulang ia merasa tergugah oleh cerita tentang samurai ini atau itu yang belum lama masih menyeret kotoran dari wilayah pembangunan, namun sekarang sudah tampak mengendarai kuda dengan megahnya, melintasi kota bersama dua puluh pegawai dan seekor kuda cadangan.
Pada waktu lain ia merasakan sisa-sisa patah had yang dialaminya. “Dunia ini dinding batu,” demikian pikirnya. “Dan batu-batu itu sudah disusun demikian rapat, hingga tak ada satu pun celah yang dapat dilewatinya.” Namun kekecewaan ini selalu menyingkir. “Apa yang kubicarakan ini? Memang begitulah kelihatannya, kalau kita masih belum mendapat kesempatan. Selamanya sukar masuknya, tapi sekali kutemukan peluang…”
Ketika ia bertanya kepada pembuat sadel apakah ia tahu kedudukan seperti itu, tukang sadel menjawab dengan penuh optimisme, “Kamu muda dan kuat. Kalau kamu mengajukan permohonan di puri, pasti kamu mendapat tempat.”
Tetapi menemukan pekerjaan yang tepat tidaklah semudah itu. Bulan terakhir tahun itu Matahachi masih juga menganggur, sedang uangnya tinggal separuh.
Di bawah sinar matahari musim dingin pada bulan yang paling sibuk tahun itu, mengherankan juga gerombolan orang yang berbondong-bondong menelusuri jalan tampak tidak terburu-buru. Di pusat kota ada bidangbidang tanah kosong, dan pagi-pagi benar rumput di situ putih oleh embun beku. Semakin siang jalan-jalan semakin berlumpur, dan suasana musim dingin terusir oleh suara para pedagang yang menjajakan barang dagangannya diiringi suara gong bertalu-talu dan genderang berdentumdentum. Tujuh atau delapan kios yang dikelilingi tikar jerami lusuh, untuk mencegah orang luar menengok ke dalam, berusaha memikat orang banyak dengan bendera-bendera kertas dan lembing yang dihias aneka warna bulu untuk mereklamekan pertunjukan yang sedang diadakan di dalam. Tukang-tukang teriak berlomba dengan suara lantang memikat orang lewat yang iseng untuk memasuki teater mereka yang rapuh.
Bau kecap murah mengambang di udara. Lelaki-lelaki dengan kaki berbulu dan mulut penuh makanan meringkik seperti kuda di toko-toko, dan waktu senja wanita-wanita berbaju lengan panjang dan berbedak tersenyum-senyum tolol seperti biri-biri, berjalan bergerombol-gerombol sambil mengunyah penganan kacang panggang.
Pada suatu petang terjadi perkelahian antara para pembeli sebuah warung sake yang menempatkan beberapa bangku di tepi jalan. Belum lagi dapat dikatakan siapa yang menang, orang-orang yang berkelahi itu sudah balik kanan dan angkat kaki, meninggalkan jejak tetesan darah.
“Terima kasih, Tuan,” kata penjual sake kepada Matahachi. Berkat penampilan Matahachi yang menyilaukan, orang-orang kota yang sedang berkelahi itu melarikan diri. “Kalau Tuan tak ada di sini, pasti mereka sudah bikin pecah semua pinggan saya.” Orang itu membungkuk beberapa kali, kemudian menghidangkan satu guci sake lagi pada Matahachi. Menurutnya sake itu sudah dihangatkan sampai pada suhu yang tepat. Ia menghidangkan juga sejumlah makanan kecil sebagai tanda penghargaan.
Matahachi merasa puas dengan dirinya. Percekcokan meletus antara dua pekerja, dan ketika ia memandang marah kepada mereka dan mengancam akan membunuh keduanya kalau mereka menimbulkan kerusuhan di kios itu, mereka melarikan diri.
“Banyak sekali orang sekitar sini, ya?” ucapnya bersahabat.
“Ini akhir tahun, Tuan. Mereka tinggal sebentar di sini, kemudian pergi lagi. Tapi ada saja yang datang lagi.”
“Bagus sekali cuaca bertahan begini.”
Wajah Matahachi merah oleh minuman. Ketika mengangkat mangkuk, ingatlah ia akan sumpahnya untuk berhenti minum sebelum ia pergi bekerja di Fushimi, dan samar-samar sadarlah ia betapa ia mulai minum lagi. “Ah, tapi apa salahnya?” pikirnya. “Kalau orang lelaki tak boleh minum sekali-sekali…”
“Satu lagi, kawan,” katanya keras.
Orang yang duduk diam di bangku di samping Matahachi juga seorang ronin. Pedangnya yang panjang dan pendek tampak mengesankan. Orangorang kota cenderung menyingkir, sekalipun ia tidak mengenakan jubah penutup kimono; sekitar leher kimono itu sangat kotor.
“Hei, bawakan juga aku satu, dan cepat!” serunya. Sambil mengganjalkan kaki kanan ke lutut kirinya, ia memperhatikan Matahachi dari bawah ke atas. Ketika matanya sampai pada wajah Matahachi, ia pun tersenyum, katanya, “Halo.”
“Halo,” kata Matahachi. “Boleh coba ini punyaku, sementara menunggu punyamu dihangatkan.”
“Terima kasih,” kata orang itu sambil mengangkat mangkuk. “Sungguh memalu-kan menjadi pemabuk, ya? Kulihat kamu duduk di sini menghadapi sake. Bau harumnya mengambang di udara dan menarik-narikku kemari, sepertinya lengan bajuku ini yang ditariknya.” Ia mengosongkan isi mangkuknva sekali teguk.
Matahachi suka melihat gayanya. Orang itu kelihatan bersahabat, dan ada sesuatu yang memikat dalam dirinya. Ia biasa minum juga. Beberapa menit kemudian ia sudah menenggak lima guci, sedangkan Matahachi baru menghabiskan satu guci. Dan orang itu masih juga sadar.
“Berapa banyak biasanya kau minum?” tanya Matahachi.
“Ah, tak tahulah aku,” jawab orang itu asal saja. “Sepuluh atau dua belas guci, kalau sedang mau.”
Akhirnya mulailah mereka bicara tentang situasi politik, dan sebentar kemudian ronin itu mengangkat bahu, dan katanya, “Siapa pula Ieyasu itu? Omong kosong saja kalau dia bisa mengabaikan tuntutan Hideyori dan ke sana kemari menyebut dirinya ‘Maharaja Agung’. Tanpa Honda Masazumi dan beberapa pendukung lamanya yang lain, apanya yang tinggal? Cuma darah dingin, kelicikan, dan sedikit saja kemampuan politik—maksudku yang dipunyainya itu cuma bakat politik tertentu, yang biasanya tak ada pada orang-orang militer.
“Secara pribadi aku mengharap Ishida Mitsunari yang menang di Sekigahara, tapi dia terlalu berjiwa besar untuk mengorganisir para daimyo, sedangkan statusnya tidak cukup tinggi.” Sesudah menyatakan penilaiannya itu, tiba-tiba la bertanya, “Kalau nanti Osaka bentrok dengan Edo lagi, pihak mana yang akan kaupilih?”
Disertai sikap ragu-ragu, Matahachi menjawab, “Osaka.”
“Bagus!” Orang itu berdiri memegang guci sake. “Engkau seorang dari kami. Mari kita minum! Dari daerah mana… oh, tapi kukira tak boleh aku menanyakan itu, sebelum aku memberitahukan siapa diriku. Namaku Akakabe Yasoma. Aku dari Gamo. Barangkali kau pernah mendengar tentang Ban Dan’emon? Aku sahabatnya. Kami akan berkumpul lagi harihari ini. Aku juga teman Susukida Hayato Kanesuke, jenderal ternama dari Puri Osaka. Kami pernah mengadakan perjalanan bersama ketika dia masih menjadi ronin. Aku juga pernah bertemu dengan Ono Shurinosuke tiga atau empat kali, tapi menurutku dia terlalu murung,
walaupun dia memang memiliki lebih banyak pengaruh politik daripada Kanesuke.”
Ia mundur, diam sebentar, karena agaknya menimbang kembali apakah ia berbicara terlalu banyak,
kemudian tanyanya, “Kau sendiri siapa?” Matahachi memang tidak mempercayai segala yang dikatakan orang itu, namun ia merasa bahwa untuk sementara ia dipaksa kalah pengaruh.
“Apa kau tahu Toda Seigen?” tanyanya. “Orang yang menemukan Gaya Tomita?” “Aku pernah mendengar nama itu.” “Nah, guruku pertapa Kanemaki Jisai yang agung dan tak mementingkan diri sendiri, yang telah menerima
Gaya Tomita sejati dari Seigen dan kemudian mengem-bangkan Gaya Chujo.” “Kalau begitu, kau ini tentunya pemain pedang tulen.” “Betul,” jawab Matahachi. Dan ia mulai menikmati permainan itu. “Percaya tidak,” kata Yasoma, “sebetulnya aku sudah dari tadi menyangka begitu. Tubuhmu tampak
terdisiplin, dan terasa ada kemampuan padamu. Siapa namamu waktu kau mendapat latihan di bawah
pimpinan Jisai? Maksudku, kalau pantas aku menanyakan hal ini.” “Namaku Sasaki Kojiro,” kata Matahachi dengan wajah sungguh-sungguh. “Ito Yagoro, pencipta Gaya Itto, adalah murid senior dari sekolah yang sama itu.”
“Apa betul begitu?” kata Yasoma heran.
Untuk sesaat yang penuh kegelisahan, Matahachi terpikir akan menarik kembali segala keterangannya itu, tapi sudah terlambat. Yasoma sudah berlutut di tanah dan membungkuk dalam. Tak ada lagi jalan kembali. “Maafkan saya,” katanya beberapa kali. “Saya sudah sering mendengar Sasaki Kojiro pemain pedang yang
baik sekali, dan saya harus minta maaf karena tadi tidak berbicara lebih sopan. Tapi saya memang tak bisa
tahu tadi, siapa sesungguhnya Anda.” Matahachi lega luar biasa. Sekiranya Yasoma kebetulan teman atau kenalan Kojiro, ia terpaksa berkelahi demi hidupnya.
“Tak perlu engkau membungkuk seperti itu,” kata Matahachi dengan murah hati. “Kalau kau berkeras mengambil sikap resmi, tak akan dapat kita bicara sebagai teman.”
“Tapi Anda tentunya tersinggung oleh bualan saya tadi itu.” “Kenapa? Aku tak punya status dan kedudukan khusus. Aku cuma pemuda yang tak banyak kenal dengan dunia ini.”
“Ya, tapi Anda pemain pedang besar. Sudah banyak kali saya mendengar nama Anda. Sekarang, sesudah saya pikirkan lagi, jelaslah buat saya, Andalah Sasaki Kojiro.” Ia memandang Matahachi baik-baik. “Tapi saya pikir tidak betul kalau Anda tak punya kedudukan resmi.”
Matahachi menjawab polos, “Yah, aku telah membaktikan diriku dengan tulus ikhlas kepada pedangku, hingga tak banyak waktuku untuk bersahabat dengan orang banyak.”
“Oh, begitu. Apakah itu berarti Anda tidak berminat menemukan kedudukan yang baik?” “Tidak, aku selalu berpikir bahwa pada suatu hari aku akan terpaksa mencari seorang tuan untuk kuabdi. Tapi sekarang belum sampai aku pada ritik itu.”
“Oh, soal itu gampang sekali. Anda punya nama baik yang didukung pedang, dan itulah yang membuat Anda berbeda. Tentu saja, kalau Anda tetap diam, berapa banyak pun bakat yang Anda punyai, tak seorang pun akan mencari Anda. Cobalah pikir, saya bahkan tak tahu siapa Anda, sebelum Anda menyatakan pada saya. Saya betul-betul terkejut.”
Yasoma berhenti, kemudian katanya, “Sekiranya Anda menghendaki saya membantu, saya akan senang melakukannya. Terus terang, saya sudah minta teman saya, Susukida Kanesuke, mencarikan kedudukan buat saya juga. Saya ingin dimasukkan Puri Osaka, biarpun barangkali gajinya tidak banyak. Saya yakin Kanesuke akan senang merekomendasikan orang seperti Anda kepada pihak berwenang di sana. Kalau Anda suka, dengan senang hati saya akan bicara dengannya.”
Sementara Yasoma bertambah gembira dengan prospek-prospek yang dihadapinya, Matahachi sendiri tak dapat menghindari perasaan bahwa ia telah tercebur langsung ke dalam suatu kancah, dan tidak akan mudah ia keluar dari sana. Ia memang ingin sekali mendapat pekerjaan, tapi ia takut membuat kesalahan kalau membawakan diri sebagal Sasaki Kojiro. Sebaliknya, kalau ia mengatakan bahwa ia Hon’iden Matahachi, seorang samurai kampungan dari Mimasaka, Yasoma tak akan menawarkan bantuan kepadanya. Barangkali Yasoma akan memandang rendah kepadanya. Tak bisa dihindari nama Sasaki Kojiro telah menimbulkan kesan kuat.
Tapi…. adakah sesuatu yang benar-benar perlu dikuatirkan? Kojiro yang sebenarnya sudah mati, dan Matahachi satu-satunya orang yang mengetahui hal itu, karena ia yang menyimpan surat keterangan yang merupakan satu-satunva pengenal orang yang telah mati itu. Tanpa surat keterangan itu tidak ada jalan bagi penguasa untuk mengetahui siapakah si ronin itu. Dan kecil kemungkinan mereka akan bersusah payah melakukan penyelidikan. Lagi pula, siapakah orang itu, kalau bukan seorang “mata-mata” yang telah dilempari batu sampai matt? Maka, sementara Matahachi sedikit-sedikit meyakinkan dirinya bahwa rahasianya itu tidak akan diketahui orang, terbentuklah dengan pasti rencana berani dalam kepalanya: ia akan menjadi Sasaki Kojiro. Semenjak saat ini.
“Mana rekeningnya,” serunya sambil mengeluarkan beberapa mata uang dari pundi-pundinya.
Matahachi bangkit akan meninggalkan tempat itu, dan Yasoma jadi bingung, ujarnya, “Bagaimana dengan usul saya itu?”
“Oh,” jawab Matahachi, “aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau bicara dengan temanmu itu atas namaku, tapi kita tak dapat membicarakan soal macam itu di sini. Mari kita pergi ke tempat lain yang tenang, di mana kita dapat tinggal berdua saja.”
“Oh, tentu, tentu,” kata Yasoma yang kelihatan lega sekali. Agaknya menurutnya wajar sekali, kalau Matahachi membayar rekeningnya juga.
Segera kemudian mereka sudah berada di sebuah daerah lain, beberapa jauh dari jalan-jalan utama itu.
Matahachi semula bermaksud membawa teman yang baru ditemukannya itu ke sebuah tempat minum yang mentereng, tapi Yasoma menyarankan untuk pergi ke tempat lain yang lebih murah dan lebih menarik. Sambil menyanyikan puji-pujian pada daerah lampu merah, ia membawa Matahachi ke daerah yang supaya enak disebut Kota Pendeta Wanita. Kata orang, dan ini cuma sedikit saja dibesar-besarkan, di sana terdapat seribu rumah hiburan dengan perdagangan yang demikian berkembang, hingga dalam satu malam saja dihabiskan seratus barel minyak lampu. Matahachi semula sedikit enggan, tapi segera ia tertarik oleh kegembiraan suasana di situ.
Tidak jauh dari sana terdapat parit kuil yang biasa dialiri air banjiran dari teluk. Kalau orang memperhatikan dengan saksama, terlihat kutu ikan dan kepiting sungai yang merayap ke sana kemari di bawah jendela¬jendela menonjol dan lentera-lentera merah. Matahachi memang memperhatikan baik-baik, dan akhirnya ia pun merasa sedikit kurang enak, karena keduanya itu mengingatkannya pada kalajengking pembawa maut.
Daerah itu sebagian besar dihuni oleh perempuan yang tebal pupurnya. Di antara mereka sekali-sekali memang tampak wajah yang manis, tapi yang terbanyak kelihatan sudah berumur lebih dari empat puluh tahun. Perempuanperempuan ini biasa mengarungi jalan-jalan, yang meskipun dengan mata muram, kepala terbungkus kain penolak dingin, dan gigi yang sudah hitam, tetap mencoba dengan lesunya menggelitik hati lelaki yang berkumpul di sana.
“Banyak juga mereka,” kata Matahachi mengeluh.
“Sudah saya katakan tadi,” jawab Yasoma, bersusah payah membela para wanita itu. “Dan mereka ini lebih baik daripada pelayan warung teh atau gadis penyanyi di rumah sebelah yang kemungkinan mengawani Anda.
Orang cenderung menolak gagasan tentang penjualan seks, tapi kalau kita lewatkan satu malam di musim dingin dengan seorang dari mereka dan bicara dengannya tentang keluarganya dan sebagainya, kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa dia sama seperti wanita lain. Dan mereka tak dapat betul¬betul dipersalahkan karena sudah menjadi sundal.
“Sebagian dari mereka pernah menjadi gundik shogun, dan banyak di antaranya yang ayahnya pernah menjadi pegawai daimyo yang sudah kehilangan kekuasaan. Ini terjadi pada abad-abad ketika Taira jatuh ke tangan Minamoto. Jadi, Anda akan melihat bahwa di dalam selokan dunia yang mengambang ini, banyak di antara sampah itu terdiri atas bunga-bunga yang sudah gugur.”
Mereka masuk sebuah rumah, dan Matahachi menyerahkan segalanya kepada Yasoma yang kelihatannya berpengalaman. Ia tahu bagaimana memesan sake dan menghadapi gadis-gadis. Ia betul-betul tanpa cela. Matahachi merasa pengalaman itu sangat menyenang-kan.
Mereka menginap di sana, namun pada tengah hari berikutnya Yasoma belum juga memperlihatkan kelelahan. Matahachi merasa dalam batas-batas tertentu ia telah mendapat ganti dari perlakuan terhadapnya ketika ia digusur ke kamar belakang di Yomogi itu. Tetapi ia mulai merasa lunglai.
Akhirnya ia mengaku sudah cukup banyak minum. Katanya, “Aku tak mau lagi minum. Ayo kita pergi.”
Tapi Yasoma tak hendak pergi. “Tinggallah dengan saya sampai malam,” katanya.
“Ada apa?”
“Saya punya janji menemui Susukida Kanesuke. Terlalu pagi sekarang ini, kalau kita pergi ke rumahnya, dan lagi tak bisa saya membicarakan keadaan Anda sebelum saya mendapat gagasan yang lebih baik tentang apa yang Anda kehendaki.”
“Aku tak akan minta upah terlalu besar sebagai permulaan.”
“Tak ada alasan menjual diri terlalu murah bagi Anda. Seorang samurai sekaliber Anda ini dapat menerima jumlah berapa saja yang Anda sebut. Kalau Anda mengatakan bersedia menerima kedudukan seperti dulu, berarti Anda merendahkan diri sendiri. Bagaimana kalau saya katakan kepadanya bahwa Anda menginginkan upah dua ribu lima ratus gantang? Seorang samurai yang yakin dirinya baik, selalu dibayar dan diperlakukan lebih baik. Anda tak boleh memberikan kesan bahwa Anda puas dengan jumlah berapapun.”
Sementara malam datang, jalan-jalan yang terletak di dalam bayangan besar Puri Osaka itu cepat menjadi gelap. Sesudah meninggalkan bordil itu, Matahachi dan Yasoma pergi melintasi kota, menuju salah satu wilayah pemukiman samurai yang lebih eksklusif. Mereka berdiri membelakangi parit, sementara angin dingin terusir akibat sake yang telah mereka masukkan he dalam tubuh sepanjang hari itu.
“Di sana rumah Susukida,” kata Yasoma.
“Yang gerbangnya pakai atap kurung itu?”
“Bukan, rumah sudut di sampingnya itu.”
“Hmm, besar, ya?”
“Kanesuke sudah dapat nama. Sebelum umur sekitar tiga puluh, tak seorang pun pernah mendengar tentangnya, tapi sekarang…”
Matahachi berpura-pura tidak mencurahkan perhatian pada apa yang dikatakan Yasoma. Bukannya ia tidak percaya. Sebaliknya, ia sudah demikian bulat mempercayai Yasoma, hingga ia tidak lagi mengajukan pertanyaan tentang apa yang dikatakan orang itu. Namun ia merasa harus tetap acuh tak acuh. Sementara memandang rumah-rumah semayam para daimyo yang mengitari purl besar itu, semangat mudanya yang mentah berkata, “Aku pun akan tinggal di tempat seperti itu—tak lama lagi.”
“Sekarang,” kata Yasoma, “saya akan bertemu dengan Kanesuke dan bicara dengannya supaya dia mempekerjakan Anda. Tapi sebelum itu, bagaimana dengan soal uang?”
“Oh, tentu,” kata Matahachi, sadar bahwa suap memang umum. Ketika mengeluarkan pundi-pundi dari dadanya, tahulah ia bahwa isinya sudah susut sampai sekitar sepertiga dari jumlah semula. Sambil
mengeluarkan seluruh isinya, ia berkata, “Hanya ini yang kupunyai. Apa ini cukup?”
“Oh, tentu, cukup sekali.” “Apa tak perlu kau membungkusnya?” “Tidak, tidak. Kanesuke bukan satu-satunya orang di tempat ini yang menerima bayaran karena mencarikan
kedudukan untuk seseorang. Semua orang melakukannya, dan sangat terbuka. Tak perlu malu.” Matahachi mengambil kembali sebagian kecil dari uang tunai itu, tapi sesudah menyerahkan selebihnya,
mulailah ia merasa tidak tenang. Ketika Yasoma pergi, ia mengikuti beberapa langkah. “Usahakan sebaik¬baiknya,” mohonnya. “Jangan kuatir. Kalau kelihatannya ada kesulitan, saya cuma harus menyimpan kembali uang ini dan
mengembalikannya pada Anda. Dia bukan satu-satunya orang berpengaruh di Osaka. Dengan mudah saya dapat minta bantuan pada Ono atau Goto. Saya punya banyak koneksi.”
“Kapan aku mendapat jawaban?” “Kita lihat nanti. Anda bisa menanti saya, tapi tentunya Anda tak hendak berdiri berangin-angin di sini, kan? Nanti orang-orang bisa curiga Anda akan melakukan sesuatu yang buruk. Mari kita ketemu lagi besok.”
“Di mana?” “Datanglah ke tempat kosong, tempat orang mengadakan pertunjukan-pertunjukan tambahan itu.” “Baik.” “Yang paling baik kalau Anda menanti di warung sake tempat kita pertama kali bertemu.” Sesudah menetapkan waktu pertemuan, Yasoma melambaikan tangan dan berjalan gagah melintasi
gerbang rumah persemayaman itu sambil mengayunkan bahunya, tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan. Karena sudah terkesan, Matahachi merasa Yasoma tentunya sudah mengenal Kanesuke semenjak zaman ia kurang makmur. Keyakinan betul-betul sudah melingkupinya. Malam itu ia bermimpi tentang masa depannya yang menyenangkan.
Pada waktu yang ditentukan, Matahachi berjalan melintasi udara beku yang sedang mencair di tempat terbuka itu. Seperti hari sebelumnya, angin terasa dingin dan banyak orang di sana. Ia menanti sampai matahari terbenam, tapi tak melihat tanda-tanda Akakabe Yasoma.
Hari sesudahnya Matahachi pergi lagi ke sana. “Tentunya ada yang menahannya,” pikirnya bermurah hati, sambil menatap wajah orang banyak berlalu. “Dia pasti datang hari ini.” Tapi sekali lagi matahari tenggelam. Yasoma tetap tak tampak.
Hari ketiga, Matahachi mengatakan pada si penjual sake dengan agak malu, “Saya di sini lagi.” ‘Anda menanti seseorang?” “Ya, saya berjanji bertemu dengan orang yang namanya Akakabe Yasoma. Saya jumpa dengan dia hari itu.”
Matahachi lalu menjelaskan keadaannya sejelas-jelasnya.
“Si bajingan itu?” sengal penjual sake. “Jadi, dia mengatakan pada Anda akan mencarikan kedudukan yang baik dan kemudian mencuri uang Anda?” “Dia bukan mencurinya. Saya berikan uang kepadanya untuk diberikan kepada orang yang namanya
Susukida Kanesuke. Saya menunggu dia di sini untuk mengetahui hasilnya.”
“Sungguh malang Anda! Anda bisa menunggu seratus tahun, tapi saya berani mengatakan, Anda tak akan melihatnya lagi.” “A-apa? Kenapa Anda berkata begitu?” “Oh, dia itu bajingan yang terkenal jahat! Daerah ini penuh benalu macam dia. Kalau mereka melihat orang
yang tampak sedikit polos, mereka pun menerkamnya. Tadinya saya mau memperingatkan Anda, tapi tak ingin saya ikut campur. Saya pikir Anda akan tahu dari cara dia memandang dan bertindak, macam apa wataknya. Sekarang Anda sudah telanjur kehilangan uang. Sayang sekali!”
Orang itu bersimpati sekali pada Matahachi. Ia mencoba meyakinkan Matahachi bahwa tidak memalukan ditipu pencuri-pencuri yang beroperasi di sana. Namun sesungguhnya bukan rasa malu itu yang mengganggu Matahachi, melainkan kenyataan bahwa uangnya hilang, dan beserta uang itu hilang pula harapan-harapannya yang besar; itulah yang membuat darahnya mendidih. Ia memandang putus asa kepada orang banyak yang bergerak di sekitarnya.
“Saya sangsi apakah akan ada gunanya,” kata penjual sake, “tapi Anda bisa mencoba bertanya di sana, di kios tukang sulap. Orang-orang jembel di tempat ini sering berkumpul di belakang sana untuk berjudi. Kalau Yasoma mendapat uang, kemungkinan dia akan mencoba menggandakannya.”
“Terima kasih,” kata Matahachi sambil melompat bersemangat. “Yang mana kios tukang sulap itu?”
Rumah yang dituding orang itu dikelilingi pagar bambu runcing. Di depan, orang berkaok-kaok untuk menarik pengunjung, dan bendera-bendera yang terpasang di dekat gerbang kayu mengumumkan nama¬nama beberapa artis sulap terkenal. Dari balik tirai dan lembar-lembar tikar jerami yang mengitari pagar terdengar bunyi musik aneh bercampur suara para tukang sulap yang keras dan cepat, serta tepuk tangan para penonton.
Matahachi berjalan menikung ke belakang, dan di sana menemukan gerbang lain. Ketika ia melongok ke
dalam, seorang pengintai bertanya kepadanya, “Anda kemari mau berjudi?” Ia mengangguk, dan orang itu membiarkannya masuk. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang dikelilingi tenda, tapi terbuka atapnya.
Sekitar dua puluh orang yang semuanya dari jenis tak pernah puas, duduk melingkar bermain. Semua mata menoleh kepada Matahachi, dan satu orang diam-diam menyedia-kan ruang kepadanya untuk duduk.
“Apa Akakabe Yasoma ada di sini?” tanya Matahachi. “Yasoma?” ulang seorang penjudi dengan nada heran. “Aku jadi sadar, dia tidak di sini akhir-akhir ini. Kenapa?”
“Apa menurut Anda dia akan datang?” “Mana aku tahu? Silakan duduk, dan main.” “Saya datang bukan untuk main.” “Apa kerjamu di sini kalau tak mau main?” “Aku mencari Yasoma. Maaf mengganggu.” “Kenapa tak mau cari di tempat lain lagi?” “Aku sudah minta maaf tadi,” kata Matahachi sambil lekas-lekas keluar. “Berhenti!” perintah seorang dari para penjudi seraya berdiri dan meng-ikutinya. “Tak bisa kamu pergi hanya
dengan bilang minta maaf. Biar kamu tidak main, kamu mesti bayar buat tempat duduk.” “Aku tak punya uang.” “Tak ada uang! Begitu, ya? Jadi, cuma tunggu kesempatan menyikat uang, ya? Pencuri terkutuk.” “Aku bukan pencuri! Tak boleh kamu menyebut begitu!” Matahachi mendorongkan gagang pedangnya ke
depan, tapi perbuatan itu hanya membuat girang si penjudi. “Goblok!” salaknya. “Kalau ancaman dari orang-orang macam kau bisa bikin aku takut, tak mungkin aku tinggal hidup di Osaka sehari saja. Gunakan pedangmu kalau kau berani!”
“Kuperingatkan kau, aku bicara sungguh-sungguh!”
“Oh, kau bicara sungguh-sungguh, ya?”
“Apa kau tahu siapa aku?”
“Kenapa pula mesti tahu?”
“Aku Sasaki Kojiro, pengganti Toda Seigen dari Kampung Jokyoji di Echizen. Dia yang menciptakan Gaya Tomita.” Matahachi menyatakan hal itu dengan penuh kebanggaan, dan menduga bahwa pengumuman itu saja akan membuat orang melarikan diri. Tapi ternyata tidak. Penjudi itu meludah dan kembali masuk kalangan.
“Hei, dengar kalian semua! Orang ini baru saja menyebut dirinya dengan nama yang hebat. Kelihatannya mau mencabut pedang lawan kita. Mari kita lihat kecakapannya main pedang. Mestinya menyenangkan juga.”
Melihat orang itu sedang lengah, Matahachi tiba-tiba menarik pedangnya, menyabetkannya melintang pantatnya.
Orang itu melompat tegak ke udara. “Anak anjing!” jeritnya.
Matahachi menyelam ke tengah orang banyak. Dengan jalan menyuruk aari kawanan orang satu ke kawanan lain ia bisa bersembunyi, tapi setiap muka yang dilihatnya tampak sebagai muka salah seorang penjudi. Karena menurut pendapatnya ia tidak dapat menyembunyikan diri selamanya seperti itu, maka ia menoleh ke sekitar untuk mencari tempat berlindung yang lebih mantap.
Tepat di depannya tergantung tirai bergambar macan besar pada pagar aambunya. Pada pintu gerbang terdapat juga panji-panji dengan gambar acmbing bercabang dua dan kepala bermata ular, dan seorang tukang teriak berdiri di atas kotak kosong sambil berseru-seru parau, “Saksikan macan! Silakan masuk dan saksikan macan! Adakan perjalanan sejauh seribu mil! Macan ini, saudara-saudara, ditangkap sendiri oleh jenderal besar Kato Kiyomasa di Korea. Jangan lewatkan macan ini!” Seruan yang diucapkannya itu terdengar ingar-bingar, berirama.
Matahachi melontarkan sebentuk mata uang dan langsung menerobos pintu masuk. Karena merasa relatif aman, ia melihat ke sana kemari, mencari binatang itu. Di ujung tenda itu terpentang kulit macan besar, seperti cucian yang sedang dikeringkan pada papan kayu. Para penonton menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar. Mereka tidak merasa kecewa bahwa makhluk itu ternyata tidak utuh dan tidak pula hidup.
“Jadi, inilah yang dinamakan macan itu,” kata satu orang.
“Besar, ya?” kagum yang lain.
Matahachi berdiri agak di sisi kulit macan itu, dan tiba-tiba terpandang olehnya seorang lelaki tua dan seorang perempuan. Mendengar suara percakapan mereka, telinganya pun tegak tak percaya.
“Paman Gon,” kata perempuan itu, “macan itu mati, kan?”
Samurai tua itu menjulurkan tangan ke atas pagar bambu dan meraba kulit itu, lalu jawabnya murung, “Tentu saja mati. Ini cuma kulitnya.”
“Tapi orang di luar itu bicaranya seolah-olah macan itu masih hidup.”
“Itulah barangkali yang namanya tukang bual,” kata lelaki itu sambil tertawa kecil.
Osugi tidak gampang saja menerima hal itu. Sambil memonyongkan mulutnya ia memprotes, “Jangan seperti orang tolol! Kalau macan ini bukan macan betulan, tanda di luar mesti mengatakan begitu juga. Kalau yang akan kulihat cuma kulit macan, lebih baik aku melihat gambar. Ayo kita ambil uang kita kembali.”
“Jangan bikin ribut, Nek. Orang menertawakan kamu nanti.”
“Biar. Aku tak senang. Kalau kau tak mau pergi, aku akan pergi sendiri.” Ketika ia mulai berjalan kembali
melalui para penonton lain, Matahachi merunduk, tapi terlambat. Paman Gon sudah melihatnya. “Hei, Matahachi! Kamu, ya?” serunya. Osugi yang sudah tidak begitu awas matanya itu menggagap, “A-apa katamu, Paman Gon?” “Apa kau tidak lihat? Matahachi berdiri di belakangmu itu!” “Tak mungkin!” “Dia di sana tadi, tapi dia lari.” “Di mana? Ke mana?” Keduanya berlari keluar dari gerbang kayu, ke tengah orang banyak yang sudah bermandikan cahaya
petang berwarna-warni. Matahachi terus bertumbuk-tumbuk orang, tapi selalu dapat membebaskan diri kembali dan berlari terus.
“Tunggu, Nak, tunggu!” teriak Osugi. Matahachi menoleh ke belakang dan melihat ibunya mengejarnya seperti perempuan gila. Paman Gon pun melambai-lambaikan tangan dengan hebatnya.
“Matahachi!” teriaknya. “Kenapa kau lari? Kau kenapa? Matahachi! Matahachi!”
Karena merasa tak dapat lagi menangkapnya, Osugi menjulurkan lehernya yang keriput itu ke depan, dan dengan sekuat paru-paru ia pun menjerit, “Berhenti, pencuri! Perampok! Tangkap dia!” Seketika itu juga orang-orang di sekitarnya mengambil alih pengejaran, dan orang-orang yang di depan
segera menyerang Matahachi dengan tongkat bambu. “Tahan dia di sana!” “Bajingan!” “Hajar dulu!” Orang banyak berhasil mengepung Matahachi, dan beberapa orang malahan sudah meludahinya. Osugi
tiba bersama Paman Gon, cepat menguasai keadaan dan balik mendamprat para penyerang Matahachi. Sambil mengusir mereka, ia pegang gagang pedang pendeknya serta menyeringaikan giginya. “Apa yang kalian lakukan ini?” teriaknya. “Kenapa kalian serang orang ini?” “Dia pencuri!” “Dia bukan pencuri! Dia anakku.”
“Anakmu?” “Ya, dia anakku, anak seorang samurai, dan kalian tak punya hak memukulnya. Kalian hanya orang kota kebanyakan. Kalau kalian sentuh dia lagi, akan ku… akan kuhadapi kalian semua!”
“Kau berkelakar, ya? Siapa yang teriak ‘pencuri’ semenit lalu?”
“Memang aku, itu tak kusangkal. Aku seorang ibu yang setia, dan kupikir, kalau aku berteriak ‘pencuri’, anakku akan berhenti lari. Tapi siapa yang menyuruh kalian, orang-orang bebal, memukulnya? Itu tak patut!” Heran melihat perubahan haluan yang sekonyong-konyong ini, orang banvak itu pelan-pelan bubar. Mereka
kagum akan keberanian perempuan itu. Osugi mencekal kerah anaknya yang tak patut itu dan menyeretnya
ke pekarangan kuil tak jauh dari sana. Beberapa menit lamanya Paman Gon hanya berdiri memandang dari gerbang kuil itu, tapi kemudian ia mendekati mereka dan katanya, “Nek, jangan perlakukan Matahachi seperti kanak-kanak lagi.” Ia mencoba
menarik tangan Osugi dari kerah Matahachi, tapi perempuan tua itu menepiskannya dengan kasar.
“Jangan kamu ikut campur! Dia anakku, dan aku akan menghukumnya dengan hukuman yang menurutku cocok, tanpa bantuanmu. Kau diam saja dan urusi urusanmu sendiri!… Matahachi, anak yang tak tahu diuntung… Akan kuperlihatkan padamu!”
Orang mengatakan makin tua seseorang makin sederhana dan makin langsung sikapnya. Melihat tindakan Osugi itu, orang tak bisa berbuat lain daripada menyetujui pendapat itu. Kalau ibu-ibu lain tentunya sudah menangis karena gembira, maka Osugi mendidih darahnya karena berang.
Ia membanting Matahachi ke tanah dan membenturkan kepalanya ke sana. “Gagasan apa itu! Lari dari ibu sendiri! Kau bukan lahir dari selangkangan pohon, orang kampung! Kau anakku!” Dan mulailah ia menampar anaknya, seakan-akan Matahachi masih anak-anak. “Tak terpikir olehku bahwa kau masih hidup, tapi ternyata di Osaka ini kau bergelandangan! Memalukan! Manusia tak tahu malu, manusia sampah…. Kenapa kau tidak pulang menyatakan hormat kepada leluhur sebagaimana mestinya? Kenapa kau tak mau menunjukkan muka, biar cuma sekali, kepada ibumu yang sudah tua? Apa kau tidak tahu, semua sanak keluarga kuatir dengan dirimu?”
“Ibu,” mohon Matahachi seperti bayi. “Maafkan aku. Maafkan aku, Bu! Aku minta maaf. Aku tahu yang kulakukan ini salah. Justru karena tahu sudah menelantarkan Ibu, maka tak dapat aku pulang. Aku bukan bermaksud lari dari Ibu. Aku begitu kaget melihat Ibu, dan tanpa pikir lagi aku lari. Aku malu dengan cara hidupku, sampai aku tak dapat menghadapi Ibu dan Paman Gon.” Ia menutup wajahnya dengan tangan.
Hidung Osugi mengerut dan ia mulai menangis, tapi hampir seketika itu juga ia menghentikan tangisnya. Terlalu bangga ia akan dirinya untuk memperlihatkan kelemahannya dan ia memperbaharui serangannya. Katanya mengejek, “Kalau kau begitu malu dengan dirimu sendiri dan merasa sudah mempermalukan leluhurmu, tentunya kau sudah berbuat tak baik selama ini.
Karena tak dapat lagi menahan diri, Paman Gon memohon, “Cukuplah itu. Kalau kauteruskan juga, pasti akan rusak tabiat anak ini.”
“Sudah kubilang simpan nasihatmu itu untuk diri sendiri. Kau ini lelaki; tak boleh kau bersikap begitu lunak. Sebagai ibunya, aku harus sekeras ayahnya, seandainya dia masih hidup. Aku akan menghukumnya, dan aku belum lagi selesai!… Matahachi! Duduk kamu yang tegak! Pandang mukaku.”
Ia duduk resmi di tanah dan menunjuk tempat yang harus diduduki Matahachi.
“Baik, Bu,” kata Matahachi menurut. la mengangkat bahunya yang terkena kotoran, dan berlutut. Ia memang takut kepada ibunya. Ibunya dapat kadang-kadang memanjakan, tapi sikapnya yang selalu siap mengungkit persoalan tentang kewajiban terhadap leluhur itu membuat Matahachi tak betah.
“Betul-betul kularang kamu menyembunyikan apa pun,” kata Osugi. “Sekarang apa persisnya yang telah kaukerjakan sejak lari ke Sekigahara? Jelaskan dan jangan berhenti sampai aku sudah mendengar semua yang ingin kudengarkan.”
“Jangan kuatir, aku takkan menyembunyikan apa pun,” Matahachi memulai. Ia sudah kehilangan keinginan untuk melawan. Tepat seperti yang dikatakannya, ia muntahkan seluruh ceritanya sampai sekecil-kecilnya: tentang bagaimana ia meloloskan diri dari Sekigahara, bersembunyi di Ibuki, tersangkut dengan Oko, dan hidup darinya—sekalipun ia membencinyabeberapa tahun lamanya. Juga tentang bagai-mana ia kini menyesali dengan setulus-tulusnya apa yang telah ia lakukan. Semua itu meringankan dirinya, seperti melepas empedu dari dalam perut, dan ia merasa jauh lebih ringan sesudah melakukan pengakuan itu.
“Hmm…,” gumam Paman Gon berkali-kali.
Osugi mendecapkan lidahnya, katanya, “Sungguh aku terguncang oleh kelakuan-mu. Dan apa yang kaulakukan sekarang? Kelihatannya kau dapat pakaian bagus. Apa kau sudah mendapat kedudukan yang cukup upahnya?”
“Ya,” kata Matahachi. Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkan lebih dahulu, kemudian ia terburu¬buru membetulkannya. “Maksudku, tidak, aku tak punya kedudukan.”
“Kalau begitu, dari mana kau mendapat uang buat hidup?”
“Pedangku—aku mengajar main pedang.” Ada nada kebenaran dalam cara ia mengatakannya dan hal itu menimbulkan akibat yang memang dikehendaki.
“Betul begitu?” tanya Osugi penuh minat. Untuk pertama kali, cahaya kegembiraan muncul pada wajah Osugi. “Main pedang, ya? Tidak heran kalau anakku menyediakan waktu buat menyempurnakan kecakapannya main pedang—meskipun menempuh hidup seperti sekarang ini. Kaudengar, Paman Gon! Biar bagaimana, dia anakku.”
Paman Gon mengangguk bersemangat. Ia merasa bersyukur melihat semangat perempuan tua itu naik lagi. “Sudah sewajarnya kalau kita mengetahui ini,” katanya. “Itu menunjukkan bahwa dia memang menyimpan darah leluhur Hon’iden dalam nadinya. Tak ada salahnya dia tersesat sebentar. Jelas sekarang, dia punya semangat yang benar!”
“Matahachi,” kata Osugi.
“Ya, Bu.”
“Di daerah ini, di bawah pimpinan siapa kau belajar ilmu pedang?”
“Kanemaki Jisai.”
“Betul? Dia termasyhur.” Osugi memperlihatkan wajah bahagia. Karena ingin lebih menggembirakan ibunya lagi, Matahachi mengeluarkan sertifikat dan membuka gulungannya, tapi ia menutup nama Sasaki itu dengan jempolnya.
“Bu, lihat ini,” katanya.
“Coba kulihat,” kata Osugi. Ia hendak mengambil gulungan itu, tapi Matahachi mencekamnya.
“Bu, lihat, tak perlu Ibu kuatir denganku.”
Osugi mengangguk. “Ya, ini betul-betul bagus. Lihat ini, Paman Gon. Apa ini tidak hebat? Aku selamanya berpendapat, juga waktu dia masih bayi, dia lebih cerdas dan lebih mampu daripada Takezo dan anak-anak lelaki lain.” Demikian gembira perempuan itu, hingga sementara berbicara ia mulai meludah-ludah.
Tapi justru pada waktu itu tangan Matahachi terpeleset, dan nama pada gulungan itu jadi kelihatan.
“Tunggu sebentar,” kata Osugi. “Kenapa ‘Sasaki Kojiro’?”
“Oh, itu? Itu nama perang.”
“Nama perang? Buat apa kamu memerlukan itu? Apa Hon’iden Matahachi tidak cukup untukmu?”
“Ya, bagus!” jawab Matahachi sesudah berpikir cepat. “Tapi sesudah kutimbang-timbang, kuputuskan untuk tidak menggunakan nama sendiri. Karena masa laluku memalukan, aku takut mengaibkan leluhurku.”
“Oh, begitu. Kukira jalan pikiran yang baik. Kau tidak tahu apa pun tentang apa yang sudah terjadi di kampung, karena itu aku akan bercerita. Sekarang perhatikan. Ini penting.”
Osugi dengan bersemangat mulai memberikan uraian tentang peristiwa yang telah terjadi di Miyamoto. Ia memilih kata-kata yang diperhitungkannya dapat memacu Matahachi untuk beraksi. Ia menjelaskan bagaimana Keluarga Hon’iden dihinakan, bagaimana ia dan Paman Gon bertahun-tahun lamanya mencari Otsu dan Takezo. Ia coba untuk bersikap tidak emosional, tapi bagaimanapun terbawa juga ia oleh ceritanya sendiri. Matanya basah dan suaranya menjadi berat.
Matahachi mendengarkan dengan kepala tertunduk, dan ia terpukau oleh gamblangnya cerita ibunya. Pada waktu-waktu seperti ini, ia merasa mudah menjadi anak yang baik dan penurut. Tapi kalau yang menjadi perhatian utama ibunya adalah kehormatan keluarga dan semangat samurai, Matahachi sendiri tergerak sedalam-dalamnya oleh hal lain: kalau benar yang dikatakan oleh ibunya, Otsu tidak mencintainya lagi. Inilah untuk pertama kalinya ia mendengarnya. “Apa benar begitu?” tanyanya.
Melihat warna wajah Matahachi berubah, Osugi mengambil kesimpulan yang keliru bahwa kuliahnya tentang kehormatan dan semangat itu sudah mencapai hasil. “Kalau kaupikir itu bohong,” katanya, “tanya Paman Gon. Perempuan jalang itu sudah meninggalkanmu dan lari bersama Takezo. Dengan kata lain, kau bisa mengatakan, karena tahu kau tak akan kembali beberapa lama, maka Takezo memikat Otsu untuk pergi dengannya. Apa tidak betul begitu, Paman Gon?”
“Ya. Ketika Takezo diikat di atas pohon itu, dia mendapat pertolongan dari Otsu untuk melarikan diri, dan
keduanya lalu lari sama-sama. Semua orang mengatakan antara mereka sudah terjadi sesuatu.” Kata-kata itu menimbulkan akibat paling buruk pada Matahachi, dan timbul reaksi baru terhadap kawan masa kecilnya itu.
Menyadari hal tersebut, ibunya mengipasi bunga api itu, “Kaulihat sekarang, Matahachi! Kau mengerti, kenapa Paman Gon dan Ibu meninggalkan kampung? Kami mau membalas dendam pada mereka. Sebelum aku membunuh mereka, aku tak dapat memperlihatkan muka lagi di kampung atau berdiri di depan tanda peringatan leluhur kita.”
“Aku mengerti.” “Jadi, kau mengerti. Kecuali kita sudah membalas dendam, kau pun tak dapat kembali ke Miyamoto?” “Aku tak akan kembali. Aku tak akan pernah kembali.” “Bukan itu soalnya. Kau mesti membunuh kedua orang itu. Mereka musuh bebuyutan kita.” “Ya, kukira begitu.” “Kedengarannya kau tidak begitu bersemangat. Ada apa? Apa kau tidak merasa cukup kuat untuk
membunuh Takezo?” “Tentu saja cukup kuat,” protes Matahachi. Paman Gon buka suara. “Jangan kuatir, Matahachi. Aku akan selalu di samping-mu.” “Dan ibumu yang sudah tua ini pun demikian,” tambah Osugi. “Mari kita bawa kepala mereka pulang ke
kampung sebagai tanda mata buat orang banyak. Apa itu bukan gagasan yang baik, Nak? Kalau itu kita lakukan, kau dapat jalan terus dan mencari istri, dan menetap. Kau membersihkan dirimu sebagai seorang samurai, dan juga mendapat nama baik. Tak ada nama yang lebih baik di seluruh daerah Yoshino daripada Hon’ iden, dan kau akan membuktikan itu pada setiap orang, tak sangsi lagi. Bisa kau melakukan itu, Matahachi? Mau kau melakukannya?”
“Ya, Bu.” “Itu namanya anak baik. Paman Gon, jangan berdiri saja di situ, ucapkan selamat pada anak ini. Dia sudah
bersumpah akan membalas dendam kepada Takezo dan Otsu.” Begitulah, akhirnya ia kelihatan puas, dan mulailah ia bangkit dari tanah dengan susah payah. “Oh, sakit rasanya!” teriaknya. “Ada apa?” tanya Paman Gon. “Tanah ini dingin sekali. Perut dan pinggulku sakit.” “Wah, kurang baik itu. Apa wasirmu kumat lagi?” Untuk menunjukkan bakti seorang anak, Matahachi mengatakan, “Naiklah ke punggungku, Ibu.” “Oh, kau mau menggendongku? Senang sekali aku!” Sambil memegang bahu anaknya, Osugi menangis
karena gembira. “Sudah berapa tahun lewat, ya? Lihat, Paman Gon, Matahachi menggendongku.”
Ketika air mata jatuh ke leher Matahachi, Matahachi merasakan kegembiraan yang aneh. “Paman Gon, di mana kalian tinggal?” tanyanya. “Kita mesti mencari rumah penginapan sekarang. Di mana saja bisa. Man kita mencarinya.”
“Baik.” Sementara berjalan, Matahachi melambung-lambungkan sedikit ibunya di punggungnya. “Ringan, Bu! Ringan sekali! Jauh lebih ringan daripada batu!”
bagian 10
Pemuda Tampan
PULAU Awaji yang bermandikan matahari menghilang di kejauhan, berangsur-angsur digelapkan oleh kabut sore musim dingin. Kepak-kepak layar besar di tengah angin menenggelamkan bunyi ombak. Kapal yang beberapa kali sebulan berlayar antara Osaka dan Provinsi Awa di Shikoku itu sedang menyeberangi Laut Pedalaman dalam perjalanan ke Osaka. Sekalipun muatannya sebagian besar terdiri atas kertas dan bahan celup indigo, baunya yang khas menunjukkan bahwa ia membawa barang selundupan berupa tembakau. Pemerintah Tokugawa melarang rakyat mengisap, mencium, atau menguyahnya. Terdapat juga sejumlah penumpang di kapal itu. Sebagian besar pedagang yang sedang pulang atau untuk berdagang akhir tahun di Osaka.
“Bagaimana kabarnya? Saya berani bertaruh, banyak juga untungnya.”
“Sama sekali tidak! Tiap orang bilang semua sedang menanjak di Sakai, tapi saya tak melihat buktinya.”
“Saya dengar kurang tenaga kerja di sana. Saya dengar mereka butuh pandai meriam.”
Percakapan di tengah kelompok lain adalah tentang bidang serupa.
“Saya sendiri mensuplai perlengkapan perang-tiang bendera, pakaian zirah, macam itulah. Tapi jumlahnya tak seberapa sekarang.”
“Begitu, ya?”
“Ya, saya kira sekarang samurai-samurai itu tahu bagaimana berhitung.”
“Ha, ha!”
“Dulu kalau penjarah pulang membawa rampasan, kita celup kembali atau cetak kembali barang-barang itu dan kita jual kembali kepada tentara. Kemudian, habis pertempuran berikutnya, barang itu akan kembali lagi, dan kita dapat mendandaninya dan menjualnya lagi.”
Seorang lelaki memandang ke arah samudera dan memuji-muji kekayaan negeri-negeri di seberang. “Tak dapat lagi kita mendapat uang di dalam negeri. Kalau ingin benar-benar untung, kita mesti melakukan apa yang dilakukan oleh Naya ‘Luzon’ Sukezaemon atau Chaya Sukejiro. Masukilah perdagangan luar negeri. Memang riskan, tapi kalau kita beruntung, betulbetul tidak percuma.”
“Ah,° kata orang yang lain, “biarpun keadaan kita tidak begitu baik hari-hari mi, dari pandangan samurai, kita masih beruntung. Kebanyakan mereka tidak kenal makanan yang baik. Kita bicara tentang kemewahan yang dapat dinikmati para daimyo, tapi cepat atau lambat mereka terpaksa mengenakan perlengkapan kulit dan bajanya, lalu terbunuh. Saya kasihan pada mereka. Begitu sibuk mereka memikirkan kehormatan dan tata krama prajurit, sampai tidak dapat lagi bersantai dan menikmati hidup.”
“Apa tidak benar begitu? Kita mengeluh tentang masa yang buruk dan semua yang lain, padahal satu¬satunya kemungkinan sekarang ini adalah menjadi saudagar.”
“Anda benar. Setidaknya kita masih dapat melakukan apa yang kita inginkan.”
“Yang mesti kita lakukan cuma berpura-pura membungkuk kepada samurai, dan sedikit uang cukuplah buat sebagian besar mereka itu.”
“Kalau kita mau hidup di dunia ini, perlu juga kita bersenang-senang.”
“Memang begitu juga pendapat saya. Kadang-kadang ingin saya bertanya kepada samurai, apa yang mereka peroleh dari hidup ini.”
Permadani wol yang dihamparkan untuk duduk kelompok orang ini barang impor. Ini bukti bahwa mereka lebih kaya daripada penduduk lain. Sesudah kematian Hideyoshi, kemewahan zaman Momoyama sebagian besar telah beralih ke tangan para saudagar, bukan ke tangan samurai. Dan pada waktu waktu itu orang-orang kota yang kaya itu kota yang kaya adalah orang-orang yang memiliki perangkat minum sake yang anggun dan peralatan perjalanan yang indah dan mahal. Bahkan seorang pedagang kecil pun biasanya lebih kaya daripada seorang samurai yang upahnya lima ribu gantang padi setahun, padahal jumlah itu sudah dianggap pendapatan besar oleh kebanyakan samurai.
“Tak banyak yang bisa dilakukan dalam perjalanan-perjalanan begini, ya?”
“Memang tak banyak. Mari kita main kartu kecil-kecilan buat menghabiskan waktu.”
“Boleh.”
Tirai pun digantungkan, nyonya-nyonya dan pembantunya membawakan sake, dan orang-orang mulai main umsummo, sebuah permainan yang belum lama diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Portugis, dengan taruhan yang sukar dipercaya. Emas yang ada di meja sesungguhnya dapat menyelamatkan banyak desa dari bencana kelaparan, tetapi oleh para penjudi dilemparkan saja ke sana kemari seperti kerikil.
Di antara para penumpang terdapat beberapa orang yang bisa saja ditanya oleh para saudagar kaya itu, apa yang mereka peroleh dari hidup ini—seorang pendeta pengembara, beberapa ronin, seorang pendeta Kong Hu Cu, dan beberapa prajurit profesional. Kebanyakan mereka duduk di samping barang bawaan mereka dan memandang laut dengan sikap tak senang, menyaksikan awal permainan kartu yang penuh lagak itu.
Seorang pemuda memangku sesuatu yang bulat bentuknya, berbulu lebat, dan berkali-kali menyuruhnya, “Duduk yang tenang!”
“Bagus sekali monyet kecil Anda itu. Apa dia terlatih?” tanya penumpang lain.
“Ya.”
“Kalau begitu, sudah lama juga Anda miliki?”
“Tidak, saya menemukannya belum lama ini di pegunungan antara Tosa dan Awa.”
“Jadi, Anda menangkapnya sendiri?”
“Ya, tapi monyet-monyet yang lebih tua hampir saja merobek-robek saya, sebelum saya berhasil lari.”
Sambil berbicara, pemuda itu terus sibuk menangkapi kutu binatang itu. Kalaupun tidak membawa monyet, pemuda itu pasti memikat perhatian orang, karena baik kimono maupun jubah merah pendek di atas kimononya itu betul-betul menarik perhatian. Rambut bagian depannya tidak bercukur, dan gelung rambutnya terikat pita ungu yang lain dari yang lain. Pakaiannya menunjukkan bahwa ia masih kanak-kanak, tapi sekarang ini tak semudah dulu menyebut umur seseorang dari pakaiannya. Dengan naiknya Hideyoshi, pakaian pada umumnya telah lebih berwarna-warni. Tidak aneh lagi bahwa lelaki yang sudah berumur sekitar dua puluh lima tahun terus mengenakan pakaian seperti anak-anak umur lima belas atau enam belas tahun, dan membiarkan rambut di ubun-ubunnya tidak dipotong.
Kulit pemuda itu bercahaya penuh kebeliaan, bibirnya merah sehat, dan matanya terang. Di lain pihak, tubuhnya kokoh kekar dan kekerasan yang dewasa memancar dari alisnya yang lebat dan lengkungan ke atas di kedua sudut matanya.
“Kenapa pula kau ini menggeliat-geliat saja?” katanya tak sabaran sambil mengetuk-ngetuk tajam kepala monyet itu. Sikap polos yang diperlihatkannya waktu la mencari kutu binatang itu menambah kesan umur mudanya.
Status sosial pemuda itu juga sukar dipastikan. Karena sedang dalam perjalanan, ia mengenakan sandal jerami dan kaus kulit seperti yang dipakai semua orang. Jadi, dari situ tak dapat diambil sesuatu kesimpulan, dan ia kelihatan betul-betul kerasan di tengah pendeta pengembara, pemain boneka, para samurai compang-camping, dan para petani yang tak bercukur di kapal itu. Dengan mudah ia dapat diduga sebagai seorang ronin, namun ada sesuatu yang mengisyaratkan bahwa ia memiliki status lebih tinggi, yaitu senjata yang disandangnya di punggung dengan tali kulit. Senjata itu berupa pedang pertempuran yang panjang lurus, besar, dan buatannya amat indah. Hampir tiap orang yang berbicara dengan pemuda itu memuji bagusnya buatan pedang tersebut.
Gion Toji yang berdiri beberapa jauh dari situ pun terkesan oleh senjata itu. Sementara menguap dan berpikir bahwa di Kyoto pun tidak sering terlihat pedang yang demikian tinggi mutunya, ia semakin ingin tahu latar belakang pemiliknya.
Toji merasa bosan. Perjalanan yang telah empat belas hari itu sungguh menjengkelkan, melelahkan, dan lagi tak ada buahnya. Ia sudah rindu sekali berada lagi di tengah orang-orang yang dikenalnya. “Ingin tahu juga aku, apa pembawa surat itu tiba pada waktunya,” renungnya. “Kalau tiba pada waktunya, dia pasti menjemputku di dermaga Osaka.” Ia mencoba mengingat-ingat wajah Oko, untuk meringankan beban kebosanan yang dialaminya.
Alasan di balik perjalanannya itu adalah keadaan keuangan Keluarga Yoshioka yang goyah, akibat cara hidup Seijuro yang melebihi kemampuan. Keuarga itu tidak lagi kaya. Rumah di Jalan Shijo sudah digadaikan, dan sudah dalam bahaya disita oleh para saudagar kreditor. Yang lebih memburukkan keadaan adalah tunggakan-tunggakan akhir tahun yang sudah tak terhitung jumlahnya. Biarpun semua milik keluarga dijual, tidak akan tersedia cukup dana untuk menutup rekening yang sudah menimbun. Menghadapi keadaan ini, satu-satunya komentar Seijuro hanyalah, “Bagaimana ini bisa terjadi?”
Karena merasa dialah yang mendorong keroyalan tuan muda itu, Toji mengatakan bahwa persoalan itu mesti ia yang menangani. Ia berjanji, entah dengan cara bagaimana akan membereskan soal-soal itu.
Dengan mengerahkan otaknya, sampailah ia pada gagasan untuk membangun sekolah baru dan lebih besar di tanah kosong dekat Nishinotoin. Di situ jumlah siswa yang jauh lebih besar akan dapat ditampung. Menurutnya, sekarang ini bukan zamannya lagi untuk bersikap eksklusif. Dengan adanya segala macam orang yang berhasrat belajar seni perang dan para daimyo yang menginginkan sekali prajurit terlatih, maka sekolah yang lebih besar dan menghasilkan sejumlah besar pemain pedang terlatih akan memuaskan kepentingan semua pihak. Makin lama memikirkan hal itu, makin hanyut ia dalam pemikiran bahwa kewajiban suci sekolah itulah untuk mengajarkan Gaya Kempo kepada sebanyak mungkin orang.
Seijuro menulis surat edaran untuk maksud itu, dan dengan senjata itu Toji berangkat mengusahakan bantuan dari bekas-bekas siswa sekolah di daerah barat Honshu, Kyushu, dan Shikoku. Memang di berbagai wilayah feodal banyak orang pernah belajar di bawah pimpinan Kempo, dan sebagian besar dari mereka sekarang menjadi samurai dengan kedudukan yang membuat orang iri. Namun ternyata, walaupun Toji sungguh tulus dalam permohonannya, tidak banyak di antara mereka yang bersedia memberikan sokongan berarti atau berjanji akan memberikan uang sesuai dengan maklumat pendek itu. Sering benar jawabannya berbunyi, “Akan saya tulis nanti pada Anda soal ini”, “Akan kita tinjau hal ini nanti, kalau saya berada di Kyoto lagi”, atau lain lagi, yang bersifat sama juga, menghindar. Sokongan yang dibawa pulang Toji hanya sebagian kecil saja dari jumlah yang sebelumnya dibayangkannya.
Sebenarnya rumah tangga yang dalam bahaya itu bukanlah rumah tangga Toji sendiri, dan wajah yang muncul dalam pikirannya sekarang pun bukan wajah Seijuro, melainkan wajah Oko. Namun bahkan wajah Oko pun hanya dapat sekilas saja mengalihkan perhatiannya. Segera kemudian ia sudah seperti duduk di bara hangat kembali. Ia iri pada pemuda yang sedang mencari kutu monyetnya itu. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghabis-kan waktu. Toji mendekat dan mencoba membuka percakapan.
“Halo, orang muda. Ke Osaka, ya?”
Tanpa mengangkat kepala, pemuda itu membuka matanya sedikit dan katanya, “Ya.”
“Apa keluargamu tinggal di sana?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, tentunya kau dari Awa.”
“Tidak, tidak juga dari sana.” Kata-kata itu diucapkannya dengan sikap pasti.
Toji jadi terdiam untuk beberapa waktu, tapi kemudian mencoba lagi. “Pedangmu luar biasa kelihatannya,” katanya.
Agaknya, karena senang senjatanya dipuji, si pemuda memperbaiki posisi duduknya menghadapi Toji dan menjawab ramah, “Ya, pedang ini sudah lama menjadi milik keluarga saya. Ini pedang pertempuran, tapi saya bermaksud mencari pandai pedang yang baik di Osaka untuk menyetelnya kembali, supaya mudah saya menariknya dari pinggang.”
“Terlalu panjang, ya?”
“Tak tahulah. Panjangnya cuma semeter.”
“Panjang sekali.”
Sambil senyum si pemuda menjawab yakin, “Siapa saja harus dapat menggunakan pedang sepanjang ini.”
“Memang pedang dapat dipakai, biar panjangnya semeter atau bahkan lebih,” kata Toji mencela. “Tapi cuma orang ahli yang dapat memakainya dengan mudah. Saya lihat sekarang banyak orang terhuyung-huyung memakai pedang yang amat besar. Memang tampak mengesankan, tapi kalau sudah terdesak, mereka balik kanan dan lari. Gaya apa yang kaupelajari?” Dalam hal yang berkenaan dengan permainan pedang, Toji tak dapat menyembunyikan perasaannya bahwa ia lebih unggul daripada anak ini.
Pemuda itu melontarkan pandangan penuh tanya ke wajah Toji yang tampak puas diri, dan jawabnya, “Gaya Tomita.”
“Tapi Gaya Tomita itu untuk pedang yang lebih pendek daripada pedang itu,” kata Toji dengan gaya berwibawa.
“Oh, kalau saya mempelajari Gaya Tomita, tidak berarti saya harus mengguna-kan pedang pendek. Saya tak suka meniru. Guru saya menggunakan pedang pendek, jadi saya putuskan menggunakan pedang panjang. Dan itu menyebabkan saya dikeluarkan dari sekolah.”
“Orang-orang muda seperti kalian rupanya bangga dengan sifat memberontak. Apa yang terjadi sesudah itu?”
“Saya tinggalkan Desa Jokyoji di Echizen, dan pergi menemui Kanemaki Jisai. Dia juga sudah meninggalkan Gaya Tomita, dan mengembangkan Gaya Chujo. Dia bersimpati pada saya, menerima saya sebagai muridnya, dan sesudah empat tahun saya belajar di bawah pimpinannya, dia mengatakan saya bisa jalan sendiri.”
“Guru-guru desa memang semuanya gampang saja mengeluarkan sertifikat.”
“Oh, Jisai tidak. Dia tidak seperti itu. Nyatanya, satu-satunya orang yang pernah diberinya sertifikat cuma Ito Yagoro Ittosai. Setelah saya memutuskan untuk jadi orang kedua yang secara resmi diberi sertifikat, saya betul-betul kerja keras. Tapi belum saya berhasil, tiba-tiba saya dipanggil pulang karena ibu saya akan meninggal.”
“Di mana rumahmu?”
“Iwakuni, di Provinsi Suo. Sesudah pulang itu, tiap hari saya latihan di sekitar Jembatan Kintai dengan menebasi sayap burung layang-layang dan menetaki cabang pohon liu. Dengan itu saya mengembangkan teknik sendiri. Sebelum ibu saya meninggal, beliau memberikan pedang ini dan minta saya menjaganya betul, karena pedang ini buatan Nagamitsu.”
“Nagamitsu? Ah, masa?”
“Memang tak ada tanda tangannya pada ujungnya, tapi selamanya pedang ini dianggap buatannya. Di tempat asal saya, ini pedang terkenal. Orang menamakannya Galah Pengering.” Walaupun sebelumnya pemuda itu pendiam, namun dalam masalah yang disukainya ia dapat berbicara berpanjang-panjang, bahkan dengan sukarela ia memberikan keterangan. Sekali mulai, ia terus mengoceh, dengan sedikit saja memperhatikan reaksi pendengarnya. Dari situ, dan dari ceritanya tentang pengalaman-pengalamannya di masa lalu, tampak bahwa wataknya lebih kuat daripada yang bisa disimpulkan melalui seleranya berpakaian.
Pada suatu ketika, pemuda itu berhenti bicara sesaat lamanya. Matanya mendung dan merenung. “Ketika saya berada di Suo itu,” gumamnya, “Jisai jatuh sakit. Ketika mendengar kabar itu dari Kusanagi Tenki, saya betul-betul sedih dan menangis. Tenki sudah belajar di sekolah itu lama sebelum saya, dan dia masih di sana ketika guru terbaring sakit di tempat tidur. Tenki kemenakannya, tapi Jisai mempertimbangkan pun tidak untuk memberikan sertifikat kepadanya. Sebaliknya, dia mengatakan pada kemenakannya itu akan memberikan sertifikat pada saya bersama buku metoda-metoda rahasia yang dimilikinya. Dia tidak hanya menginginkan saya menerimanya, melainkan juga berharap bertemu dengan saya dan memberikannya langsung pada saya.” Mata orang muda itu pun basah oleh kenangannya.
Toji sama sekali tidak terkesan oleh pemuda tampan yang emosional itu, tapi berbicara dengannya lebih baik daripada sendirian dan merasa bosan. “Oh, begitu,” katanya, berpura-pura menaruh minat besar. “Jadi, dia meninggal waktu engkau tak ada di tempat?”
“Ingin sekali saya pergi mendapatkannya begitu saya mendengar tentang sakitnya, tapi dia ada di Kozuke, beratus mil jauhnya dari Suo. Lagi pula. akhirnya ibu saya meninggal kira-kira pada waktu yang bersamaan, jadi tak mungkin saya berada di sampingnya sampai akhir hayatnya.”
Awan-awan menyembunyikan matahari, membuat seluruh langit berwarna keabu-abuan. Kapal mulai oleng, dan buih air terbang ke kapal lewat bibir kapal.
Pemuda itu melanjutkan cerita sentimentalnya, yang intinya adalah bahwa ia telah menutup tempat semayam keluarganya di Suo, dan melalui suratmenyurat ia mempersiapkan diri bertemu dengan temannya Tenki pada musim semi, ketika siang dan malam sama lamanya. Kurang kemungkinannya bahwa Jisai yang tidak memiliki sanak dekat itu meninggalkan banyak kekayaan, tapi ia mempercayakan kepada Tenki sejumlah uang untuk orang muda itu, bersama sertifikat dan buku rahasia tersebut. Sebelum mereka berjumpa pada hari yang telah ditentukan di Gunung Horaiji di Provinsi Mikawa, di tengah jalan antara Kozuke dan Awa, Tenki diperkirakan sedang mengadakan perjalanan keliling untuk belajar. Orang muda itu sendiri berencana menghabiskan waktu di Kyoto untuk belajar dan melihat-lihat.
Selesai dengan ceritanya, ia menoleh kepada Toji dan tanyanya, “Anda dari Osaka?”
“Tidak, saya dari Kyoto.”
Sejenak mereka berdua terdiam, terbawa oleh bunyi ombak dan layar.
“Jadi, kau punya rencana memasuki dunia ini lewat seni bela diri?” kata Toji. Pertanyaan itu sendiri cukup polos, namun pandangan mata Toji memperlihat-kan sikap meninggikan diri, mendekati sikap merendahkan. Sudah lama ia muak dengan pemain-pemain pedang muda sesat yang berkeliaran ke sana kemari membualkan sertifikat dan buku-buku rahasianya. Ia berpendapat tak mungkin ada sedemikian banyak ahli pedang yang mengembara berkeliling. Bukanlah ia sendiri hampir dua puluh tahun lamanya di Perguruan Yoshioka, dan bukankah ia masih seorang murid, sekalipun murid yang mempunyai banyak hak istimewa?
Pemuda itu beralih tempat duduk dan memandang dengan saksama ke arah air yang kelabu. “Kyoto?” gumamnya, kemudian menoleh lagi pada Toji, dan katanya, “Saya dengar ada orang yang namanya Yoshioka Seijuro di sana, anak tertua Yoshioka Kempo. Apakah dia masih aktif?”
Toji jadi ingin sedikit mempermainkannya. “Ya,” jawabnya singkat. “Perguruan Yoshioka kelihatannya sekarang berkembang pesat. Sudah pernah engkau mengunjungi tempat itu?”
“Tidak, tapi kalau nanti sampai Kyoto, saya ingin bertanding dengan Seijuro, untuk melihat sampai seberapa kebolehannya.”
Toji batuk-batuk untuk menekan tawanya. Cepat sekali ia membenci keyakinan diri orang muda yang kurang ajar itu. Tentu saja orang muda itu tidak mengetahui kedudukannya di perguruan tersebut. Kalau ia tahu, tak sangsi lagi ia pasti menyesali apa yang baru dikatakannya. Dengan wajah memerot dan nada menghinakan, Toji bertanya, “Dan kukira engkau menduga dapat pergi tanpa cedera?”
“Kenapa tidak?” tukas balik pemuda itu. Sekarang dialah yang ingin tertawa, dan tertawalah ia. “Yoshioka memiliki rumah besar dan banyak nama baik, jadi menurut bayangan saya Kempo tentunya seorang pemain pedang besar. Tapi kata orang tak seorang pun dari anak-anaknya bisa menyamai tarafnya.”
“Bagaimana kau bisa demikian yakin, sebelum kau betul-betul berjumpa dengan mereka?”
“Itulah yang dikatakan oleh samurai dari provinsi-provinsi lain. Saya tak percaya dengan segala yang saya dengar, tapi hampir setiap orang rupanya menduga Keluarga Yoshioka akan berakhir dengan Seijuro dan Denshichiro.”
Toji ingin sekali menyuruh pemuda itu menjaga lidahnya. Untuk sesaat bahkan terpikir olehnya akan membuka identitasnya, tapi menggawatkan keadaan pada taraf itu akan membuatnya tampak sebagai pihak yang kalah. Maka dengan seboleh-bolehnya menahan diri ia menjawab, “Rupanya sekarang provinsi¬provinsi penuh orang yang serbatahu, maka aku tak heran kalau Keluarga Yoshioka disepelekan. Tapi cobalah engkau bercerita lebih banyak tentang dirimu. Tadi kau mengatakan sudah menemukan cara membunuh burung layang-layang pada sayapnya?”
“Ya, saya tadi mengatakannya.”
“Dan kau melakukannya dengan pedang panjang besar itu?”
“Betul.”
“Nah, kalau kau dapat melakukan itu, tentunya tak sukar bagimu menetak salah seekor camar laut yang menukik ke kapal ini.”
Pemuda itu tidak segera memberikan jawaban. Mendadak sontak terpikir olehnya bahwa Toji punya maksud tak baik terhadapnya. Sambil menatap bibir Toji yang cemberut, katanya, “Saya dapat melakukannya, tapi saya pikir itu perbuatan bodoh.”
“Nah,” kata Toji dengan nada bergaya, “jika kau demikian hebat hingga dapat meremehkan Keluarga Yoshioka sebelum kau sendiri ke sana…”
“Oh, jadi saya sudah bikin kesal Anda, ya?”
“Tidak, sama sekali tidak,” kata Toji. “Tapi tak seorang pun di Kyoto suka mendengar Perguruan Yoshioka disepelekan.”
“Ha! Tapi saya bukannya menyampaikan pikiran saya sendiri tadi itu. Saya hanya mengulangi apa yang saya dengar.”
“Orang muda!” kata Toji tajam.
“Apa?”
“Apa kau tahu artinya ‘samurai setengah matang’? Demi masa depanmu, kuperingatkan kau. Kalau kau meremehkan orang lain, tidak bakal engkau sampai ke mana-mana. Kau membual tentang menetak burung layanglayang dan bicara tentang sertifikat Gaya Chujo, tapi lebih baik kau ingat bahwa tidak semua orang itu bodoh. Lebih baik kau melihat dulu baik-baik siapa yang kauajak bicara, sebelum kau membanggakan diri.”
“Anda pikir kata-kata saya itu cuma bualan?”
“Ya, betul.” Toji mendekat sambil membusungkan dadanya. “Tak seorang pun keberatan mendengar seorang muda membanggakan kemampuannya, tapi jangan-lah sampai keterlaluan.”
Dan ketika orang muda itu tidak mengatakan sesuatu, Toji melanjutkan, “Dari permulaan tadi aku sudah mendengar kau membangga-banggakan diri, dan aku tidak keberatan. Tapi masalahnya adalah aku Gion Toji, murid utama Yoshioka Seijuro. Kalau sekali lagi kau mengeluarkan ucapan yang menghina Keluarga Yoshioka, terpaksa aku bertindak!”
Waktu itu mereka sudah menarik perhatian penumpang-penumpang lain. Toji yang telah menyatakan namanya dan mengagungkan statusnya berjalan dengan gayanya ke buritan kapal, menggeram tentang kekurangajaran para pemuda zaman sekarang. Pemuda itu mengikutinya tanpa mengatakan sesuatu, sedang-kan para penumpang ternganga dari jarak yang aman.
Toji sama sekali tidak merasa senang dengan keadaan itu. Oko menantinya apabila kapal masuk dermaga nanti, dan jika sekarang ia terlibat dalam perkelahian, ia akan mengalami kesulitan dengan para pejabat kemudian. Maka dengan menampakkan diri sesantai mungkin ia menelekan sikunya ke susuran kapal dan memandang penuh perhatian ke pusaran biru hitam yang terbentuk di bawah kemudi.
Pemuda itu menepuk punggungnya pelan. “Tuan,” katanya dengan suara tenang yang tidak
mengungkapkan kemarahan ataupun kebencian. Toji tidak menjawab. “Tuan,” ulang orang muda itu. Tak dapat lagi menahan sikap masa bodohnya, Toji bertanya, “Apa maumu?” “Tuan sudah menyebut saya seorang pembual di depan banyak orang yang tak dikenal, sedangkan saya
punya kehormatan yang harus saya junjung. Saya merasa terpaksa melakukan apa yang sudah Tuan tantangkan pada saya untuk saya lakukan beberapa menit lalu, dan saya ingin Tuan menjadi saksinya.”
“Apa yang kutantangkan untuk kaulakukan?” “Tidak mungkin Tuan sudah lupa. Tuan tertawa ketika saya katakan saya dapat menetak sayap burung layang-layang, dan mendesak saya menebas burung camar.”
“Hmm, jadi aku tadi usul begitu, ya?” “Jika saya tebas seekor, apa itu akan meyakinkan Tuan bahwa saya tidak hanya omong?” “Ya… ya, pasti.” “Baiklah, akan saya lakukan.” “Bagus sekali!” Toji tertawa mengejek. “Tapi jangan lupa, jika kau melakukan ini cuma demi kebanggaan
dan kau gagal, kau akan benar-benar menjadi tertawaan.” “Akan saya terima kemungkinan itu.” “Aku tak punya maksud mencegahmu.” “Tapi Tuan mau jadi saksi?” “Oh, dengan senang hati.” Pemuda itu mengambil posisi di atas lempeng timah di tengah dek belakang dan menggerakkan tangan ke
pedangnya. Sambil melakukan itu, ia memanggil nama Toji. Toji menatap ingin tahu, dan bertanya apa yang dikehendaki pemuda itu. Dengan sikap sangat sungguh-sungguh pemuda itu berkata, “Suruh burung camar terbang turun di depan saya. Saya siap menebas burung-burung itu, berapa saja jumlahnya.”
Toil tiba-tiba menyadari persamaan antara apa yang sedang terjadi itu dengan jalan cerita sebuah cerita lucu yang menurut kata orang diciptakan oleh pendeta Ikkyu. Pemuda itu berhasil menganggapnya seekor keledai. Dengan marah ia berseru, “Omong kosong apa pula ini? Kalau orang bisa membuat camar terbang di depannya, tentu saja dapat dia menebasnya.”
“Laut menghampar beratus mil jauhnya, sedangkan pedang saya hanya satu meter panjangnya. Kalau
burung-burung itu tidak mendekat, mana bisa sava menebasnya?” Sambil maju beberapa langkah, Toji berkata senang, “Itu namanya Cuma mau mencoba menyelamatkan diri. Kalau tak bisa membunuh camar laut lewat sayap-sayapnya, katakan saja tak bisa, dan mintalah maaf.”
“Oh, kalau saya bermaksud melakukan itu, tak akan saya berdiri menanti di sini. Kalau burung-burung itu tidak mendekat, akan saya tebas yang lain buat Tuan.” “Seperti misalnya…?” “Cobalah maju lima langkah lagi. Akan saya tunjukkan pada Tuan.”
Toji datang mendekat sambil menggeram, “Apa maksudmu sekarang?” “Saya cuma ingin Tuan mengizinkan saya memanfaatkan kepala Tuankepala yang sudah Tuan pakai mendesak saya membuktikan bahwa saya bukan hanya membanggakan diri. Kalau Tuan pikir lebih masuk akal saya memenggal kepala itu daripada membunuh camar laut yang tak bersalah.”
“Apa kau sudah gila?” teriak Toji. Secara refleks kepala Toji merunduk, karena justru pada saat itu pemuda itu mencabut pedang dari sarungnya dan mengayunkannya. Gerakan itu demikian cepat, hingga pedang yang panjangnya satu meter itu rasanya tak lebih besar dari sebuah jarum.
“A-a-apa?” teriak Toji sambil terhuyung ke belakang dan memegang kerahnya. Untunglah kepalanya masih ada, dan sejauh yang ia ketahui, ia sama sekali tidak cedera.
“Mengerti sekarang?” tanya pemuda itu sambil membalik, dan pergi di antara tumpukan bagasi. Toji jadi merah padam karena malu. Ketika ia memandang ke bawah, ke arah bagian dek yang diterangi matahari, ia lihat sebuah benda yang tampak aneh, seperti sebuah sikat kecil. Suatu pikiran mengerikan bersarang di kepalanya, dan is meletakkan tangan ke atas kepalanya. Gelungan rambutnya sudah hilang! Gelungan yang sangat dibanggakannya-kebanggaan tiap samurai! Dengan wajah mengerikan ia menyapukan tangan ke atas kepalanya, dan ternyata pita yang mengikat rambutnya di belakang kepala sudah lepas. Rambut yang tadi terikat pita itu memburai di seluruh permukaan kepalanya.
“Bajingan!” Kemarahan yang tidak tanggung-tanggung melanda hatinya. Tahulah ia sekarang, pemuda itu tidak berbohong atau menyuarakan bualan kosong. Ia memang masih muda, tapi ia pemain pedang menakjubkan. Toji kagum bahwa orang yang masih begitu muda dapat begitu hebat, tapi hormat yang dirasakannya itu satu hal, sedangkan kemarahan dalam hatinya hal lain lagi.
Ketika mengangkat kepala dan melihat ke arah haluan, ia lihat pemuda itu sudah kembali ke tempat duduknya semula dan sedang mencari-cari sesuatu di dek. Jelas ia sedang lengah, dan Toji merasa bahwa kesempatan untuk membalas dendam tiba. Sambil meludahi gagang pedang ia cengkeram gagang itu erat¬erat, dan ia menyelinap ke belakang penyiksanya. Ia tidak yakin apakah sasarannya cukup baik untuk memotong gelung rambut orang itu saja tanpa mesh mengikutsertakan kepalanya, tapi ia tak peduli. Dengan tubuh membengkak merah dan napas berat ia menabahkan diri untuk menyerang.
Tapi justru pada waktu itu timbul keributan di antara para saudagar yang sedang bermain kartu. “Apa pula ini? Kartunya tak cukup!” “Ke mana perginya?” “Lihat sana!” “Aku sudah lihat.” Ketika mereka sedang berteriak-teriak dan mengibas-ngibaskan permadani, seorang di antaranya kebetulan
memandang ke atas. “Di atas itu! Monyet itu yang mengambilnya!” Senang dengan hiburan yang lain daripada yang lain itu, para penumpang lain semuanya memandang
monyet yang waktu itu bertengger di puncak bang yang tingginya sepuluh meter. “Ha, ha!” tawa seseorang. “Bukan main monyet itu—mencuri kartu, ya, mencuri kartu.” “Nah, dia menguyahnya sekarang.” “Bukan, sepertinya dia sedang membagikannya.” Selembar kartu melayang turun. Salah seorang saudagar mengambilnya, dan katanya, “Mestinya dia masih
menyimpan tiga atau empat lembar lagi.” “Mesti ada yang naik mengambil kartu itu! Tak bisa kita main tanpa yang itu.” “Tak seorang pun mau memanjat.” “Bagaimana kalau Kapten sendiri?” “Saya pikir dia dapat, kalau dia memang mau.”
“Mari kita tawarkan uang kepadanya. Pasti dia mau.”
Kapten mendengar usul itu, setuju menerimanya, dan mengambil uang itu, tapi agaknya ia merasa bahwa sebagai pemimpin di kapal itu pertamatama ia harus menentukan tanggung jawab atas kejadian tersebut. Berdiri di atas tumpukan muatan, ia berseru kepada para penumpang. “Milik siapa monyet itu? Saya persilakan pemiliknya maju ke muka.”
Tak seorang pun menjawab, tapi sejumlah orang yang mengetahui bahwa monyet itu milik si pemuda tampan menjeling penuh harap kepadanya. Kapten sendiri mengetahui, maka naiklah darahnya melihat pemuda itu tidak menjawab. Sambil meninggikan lagi suaranya, katanya, “Apa pemiliknya tak ada di sini?… Kalau tak ada yang memiliki monyet itu, saya akan mengambilnya, tapi saya tak ingin ada keluhan nantinya.”
Pemilik monyet bersandar pada sebuah muatan dan sedang berpikir keras. Beberapa penumpang mulai berbisik-bisik dengan sikap tak senang. Kapten memandang benci pada pemuda itu. Para pemain kartu menggerutu dengki, dan sebagian lagi mulai bertanya apakah orang itu bisu-tuli atau sekadar kurang ajar. Namun pemuda itu hanya sedikit mengubah kedudukannva ke sisi dan berbuat seolah-olah tak suatu pun terjadi.
Kapten berbicara lagi. “Rupanya monyet hidup di laut dan di darat. Seperti kita lihat, seekor di antaranya sudah datang ke tempat kita. Karena dia tak bertuan, saya kira kita dapat melakukan apa saja yang kita kehendaki. Para penumpang, jadilah saksi saya! Sebagai kapten, saya sudah mengimbau pemiliknya untuk menyatakan diri, tapi dia tak mau. Kalau nanti dia mengeluh menyatakan tidak mendengar saya, saya minta saudara-saudara berdiri di pihak saya!”
“Kami menjadi saksi Kapten!” teriak para saudagar yang waktu itu sudah hampir naik pitam.
Kapten menghilang turun dan masuk palka. Ketika muncul kembali, ia sudah memegang senapan dengan sumbu lambat yang sudah dinyalakan. Tapi ada keraguan dalam hati siapa pun bahwa Kapten siap menggunakanmya. Wajah orang-orang dialihkan dari Kapten ke pemilik monyet.
Monyet itu sedang menyenang-nyenangkan diri sepenuhnya. Di atas sana ira bermain dengan kartu itu dan melakukan segala yang dapat dilakukannya untuk menjengkelkan orang-orang di atas dek. Tiba-tiba ia memperlihatkan giginva, berceloteh, dan berlari ke ujung palang tiang, tapi sesudah sampai di sana rupanya tak tahu ia apa yang hendak dilakukannya.
Kapten mengangkat senapan dan membidik. Tapi, sementara salah seorang saudagar menarik lengan baju Kapten dan mendesaknya untuk menembak, pemilik monyet berseru, “Stop, Kapten!”
Kali ini giliran Kapten berpura-pura tidak mendengar. Ia menekan pelatuk, para penumpang menunduk sambil menutup telinga dengan tangan, dan senapan meletus dengan suara berdentam. Tetapi tembakan itu melenceng jauh. Pada detik terakhir, orang muda itu mendorong laras senapan dari kedudukannya.
Sambil memekik berang, Kapten mencekal dada orang muda itu. Untuk sesaat ia seperti hampir tergantung¬gantung, karena sekalipun bertubuh kuat, ia pendek dibandingkan dengan pemuda tampan itu.
“Apa pula Tuan ini?” pekik si orang muda. “Tuan mau menembak monyet yang tak bersalah dengan mainan Tuan itu?”
“Betul.”
“Tapi perbuatan itu tidak begitu baik, kan?”
“Saya sudah memberikan peringatan yang perlu!”
“Bagaimana Tuan melakukannya?”
“Apa kau tak punya mata dan telinga?”
“Diam! Saya penumpang di kapal ini. Dan lagi saya seorang samurai. Apa Tuan kira saya mau menjawab kalau cuma seorang kapten kapal berdiri di depan para penumpang kapal, lalu melenguh-lenguh seakan¬akan dia majikan atau guru mereka?”
“Jangan kurang ajar kamu! Aku sudah mengulang peringatan tiga kali. Kau pasti mendengar. Biarpun kau tak suka dengan caraku bicara, kau toh dapat memperlihatkan iktikad baik pada orang-orang yang merasa terganggu oleh monyetmu?”
“Orang-orang mana? Yang Tuan maksud gerombolan pedagang yang sedang berjudi di belakang tirai itu?”
“Jangan omong besar kamu! Mereka membayar tiga kali lipat dari yang lain.” ‘
“Itu sama sekali tak mengubah diri mereka-saudagar-saudagar yang rendah kelasnya dan tak kenal tanggung jawab, yang melempar-lemparkan emas di depan semua orang, minum sake, dan berbuat seolah¬olah pemilik kapal. Saya sudah memperhatikan mereka, dan saya tak suka sama sekali pada mereka. Bagaimana kalau monyet itu betul-betul lari membawa kartu mereka? Saya tidak menyuruh berbuat demikian. Dia cuma menirukan apa yang mereka lakukan. Tak ada alasan saya untuk minta maaf!”
Orang muda itu memandang tajam-tajam kepada para saudagar kaya dan menujukan tawanya yang keras mencemooh ke arah mereka.
Kerang Pelipur Lara
PETANG hari, waktu kapal memasuki pelabuhan Kizugawa, disambut bau ikan yang meliputi segalanya. Lampu-lampu kemerahan berkelap-kelip di pantai dan ombak berdebur terus-menerus di latar belakang. Sedikit demi sedikit jarak antara suara-suara yang datang dari kapal dan suara-suara dari pantai memadu. Disertai kecipak air berwarna putih, jangkar pun dijatuhkan; tali-tali dilontarkan dan tangga diturunkan pada tempatnya.
Teriakan-teriakan bersemangat riuh bunyinya memenuhi udara.
“Apa putra pendeta Biara Sumiyoshi ada di kapal?”
“Apa ada pembawa surat?”
“Guru! Kami ada di sini, di sini!”
Seperti ombak, lentera-lentera kertas bertuliskan nama-nama berbagai penginapan melintasi dermaga menuju kapal, sementara para pencari pelanggan berlomba-lomba melakukan pekerjaannya.
“Siapa ke penginapan Kashiwaya!”
Orang muda tadi menerobos orang banyak dengan monyet bertengger di bahunya.
“Ke tempat kami, Tuan-tanpa bayar buat monyet.”
“Tempat kami tepat di depan Biara Sumiyoshi yang cukup besar untuk peziarah. Tuan bisa dapat kamar yang indah, dengan pemandangan yang indah juga!”
Tak seorang pun datang menjemput pemuda itu. Ia berjalan langsung dari dermaga, tanpa memperhatikan para pencari pelanggan ataupun yang lainnya.
“Dia pikir siapa dirinya?” geram seorang penumpang. “Cuma karena tahu sedikit main pedang!”
“Oh, kalau aku bukan cuma rakyat biasa, tak bakal bisa dia pergi tanpa perkelahian.”
“Tenanglah! Biar saja prajurit-prajurit itu menyangka mereka lebih baik daripada siapa pun. Selama dapat bergaya seperti raja, mereka bahagia. Tugas kita sebagai rakyat adalah membiarkan mereka mengambil bunga, sedangkan kita mengambil buahnya. Buat apa uring-uringan karena kejadian kecil hari ini?” Sambil bercakap-cakap seperti ini, para saudagar tetap mengurus agar barang mereka yang bergunung-gunung dihimpun dengan tertib, kemudian diturunkan, untuk akhirnya dijemput oleh kelompok manusia, lentera, dan kendaraan. Tak seorang pun dari mereka yang tidak segera dikelilingi beberapa perempuan yang penuh hasrat membantu.
Orang terakhir yang meninggalkan kapal adalah Gion Toji. Wajahnya mengungkapkan perasaan yang betul-betul tak enak. Tak pernah dalam hidupnya ia mengalami hari yang lebih tidak menyenangkan daripada hari itu. Kepalanya terbungkus kerudung untuk menyembunyikan gelungan yang hilang dengan cara sangat memalukan itu, tapi kain itu tak dapat menyembunyikan alisnya yang turun dan bibirnya yang cemberut.
“Toji! Aku di sini!” seru Oko. Sekalipun kepalanya juga terbungkus kerudung, wajah Oko terkena tiupan angin dingin selama menanti tadi, dan kerut-merutnya menampakkan diri dari balik pupur yang dimaksud untuk menyembunyikannya.
“Oko! Jadi, kau datang juga.” “Itu yang kauharapkan, bukan? Kau menulis, minta aku menunggumu di sini, kan?” “Ya, tapi kupikir surat itu tidak sampai pada waktunya.” “Ada yang tidak beres? Kau tampak bingung.” “Tak apa-apa. Cuma sedikit mabuk laut. Ayo kita pergi ke Sumiyoshi, mencari penginapan yang baik.” “Jalan sini. Ada joliku menunggu.” “Terima kasih. Apa kau sudah pesan kamar buat kita?” “Ya. Semua orang menunggu di penginapan.” Pandangan cemas melintasi wajah Toji. “Semua orang? Apa maksudmu? Kupikir cuma kita berdua yang
akan menghabiskan hari-hari menyenangkan di satu tempat yang tenang. Kalau banyak orang di sana, aku
tidak pergi.” Ia menolak naik joli, dan berjalan marah lebih dulu. Ketika Oko mencoba menjelaskan, ia menukasnya telak dan menyebutnya goblok. Segala kemarahan yang telah bertumpuk dalam dirinya di kapal kini meledak.
“Aku akan tinggal sendiri di mana saja!” lenguhnya. “Suruh joli itu pergi! Bagaimana mungkin kau begitu bodoh? Kau ini sama sekali tak mengerti diriku.” Ia merenggutkan lengan kimononya dari Oko dan bergegas pergi.
Waktu itu mereka berada di pasar ikan, di samping daerah pelabuhan. Semua toko sudah tutup, dan sisik¬sisik ikan yang bertebaran di jalan berkelipan seperti kerang-kerangan perak kecil. Karena di sana betul¬betul tidak ada orang, maka Oko memeluk Toji, mencoba meredakar. kemarahannya.
“Lepaskan!” pekik Toji. “Kalau kau pergi sendiri, orang-orang akan mengira ada sesuatu.” “Biar mereka mengira semaunya!” “Oh, jangan bicara seperti itu!” mohon Oko. Pipinya yang sejuk menempel pada pipi Toji. Bau pupur dan
rambutnya yang manis menyusupi diri Toji, dan berangsur-angsur kemarahan dan rasa frustrasinya mereda. “Aku mohon,” pinta Oko. “Ini cuma karena aku begitu kecewa,” kata Toji. “Aku tahu, tapi kita masih akan punya kesempatan lain untuk bersama-sama.” “Tapi dua-tiga hari ini—aku betul-betul mengharapkannya.” “Aku mengerti.” “Kalau kau mengerti, kenapa kauseret ikut orang-orang itu? Itu karena perasaanmu terhadapku lain dengan
perasaanku terhadapmu!” “Sekarang kau mulai soal itu lagi,” kata Oko mencela sambil menatap ke depan, dan tampak seakan air matanya akan mengalir. Tapi ia bukannya menangis, melainkan mencoba sekali lagi memaksa Toji
mendengarkan penjelasannya. Ketika pembawa surat datang membawa surat Toji, tentu saja ia berencana untuk datang ke Osaka sendirian, tapi dasar nasib, malam itu juga Seijuro datang di Yomogi bersama enam atau tujuh orang muridnya, dan Akemi membocorkan pada mereka bahwa Toji akan datang. Seketika itu juga orang-orang itu memutuskan akan mengantar Oko ke Osaka dan minta Akemi datang bersama mereka. Akhirnya rombongan yang menginap di penginapan Sumiyoshi itu berjumlah sepuluh orang.
Toji terpaksa membenarkan bahwa dalam keadaan seperti itu tak banyak yang dapat diperbuat Oko, namun perasaan murungnya tidak juga membaik. Hari itu jelas bukan hari baik baginya, dan ia yakin bakal datang yang lebih buruk lagi. Satu hal, pertanyaan pertama yang akan dilontarkan kepadanya adalah tentang hasil kampanye keliling yang telah dilakukannya, dan ia merasa benci karena harus menyampaikan berita buruk pada mereka. Tapi yang jauh lebih ia takuti adalah bahwa ia terpaksa melepaskan kerudung dari kepalanya. Bagaimana mungkin ia memberikan penjelasan tentang hilangnya gelungan itu? Akhirnya ia menyadari bahwa tak ada jalan keluar, dan menyerahlah ia kepada nasib.
“Baiklah, baiklah,” katanya, “aku pergi denganmu. Suruh joli itu kemari.”
“Oh, aku sungguh bahagia!” seru Oko, lalu kembali ke dermaga.
Di rumah penginapan, Seijuro dan lain-lainnya sudah mandi, mengenakan kimono berlapis katun nyaman yang disediakan rumah penginapan, dan duduk menanti kembalinya Toji dan Oko. Beberapa waktu kemudian, ketika kedua orang itu tidak juga muncul, satu orang berkata, “Cepat atau lambat mereka berdua akan datang. Tak ada alasan untuk duduk di sini berpangku tangan.”
Konsekuensi wajar dari pernyataan ini adalah pesanan sake. Semula mereka minum hanya untuk menghabiskan waktu, tapi segera kemudian kaki mereka mulai membujur dengan nikmatnya, dan mangkuk¬mangkuk sake bergerak mondar-mandir lebih cepat. Tak lama kemudian, mereka semua sudah kurang-lebih melupakan Toji dan Oko.
“Apa tak ada gadis-gadis penyanyi di Sumiyoshi ini?”
“Ide bagus! Apa salahnya kalau kita panggil tiga atau empat gadis manis?”
Seijuro tampak ragu-ragu, tapi kemudian satu orang menyarankan agar ia dan Akemi mengundurkan diri ke kamar lain, di mana suasananya lebih tenang. Tindakan yang tidak terlalu halus untuk menyingkirkannya itu mendatangkan senyum sayu di wajahnya, tapi bagaimanapun ia senang juga meninggalkan tempat itu. Akan jauh lebih menyenangkan berada sendirian dalam kamar dengan Akemi dan kotatsu hangat, daripada minum dengan gerombolan orang kasar ini.
Segera sesudah ia keluar dari ruangan, pesta pun dimulai dengan sesungguhnya, dan tak lama kemudian beberapa gadis penyanyi dari kelas yang oleh penduduk setempat dikenal sebagai “kebanggaan Tosamagawa” muncul di kebun di luar kamar. Suling dan shamisen yang mereka bawa sudah tua, bermutu rendah, dan sudah aus karena sering dipakai.
“Kenapa Tuan-tuan begini ribut?” tanya seorang di antara perempuan itu lancang. “Tuan-tuan datang kemari untuk minum atau bercekcok?”
Orang yang menganggap dirinya pimpinan menyahut, “Jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tolol. Tak ada orang mengeluarkan uang untuk berkelahi! Kami panggil kalian kemari supaya kami dapat minum dan bersenang-senang.”
“Nah,” kata gadis itu dengan bijaksana, “saya senang mendengar itu, tapi saya harap betul Tuan-tuan sedikit tenang.”
“Oh, kalau itu yang kaukehendaki, bagus! Mari kita nyanyikan lagu-lagu.”
Untuk menghormati hadirnya wanita di tempat itu, beberapa tulang kering yang berambut pun ditarik masuk ke balik ujung kimono, dan beberapa tubuh yang menggeletak menegakkan diri. Musik dimulai, semangat meningkat, dan pesta berkembang pesat. Pesta sedang berjalan sehebat-hebatnya ketika seorang gadis muda masuk memberitahukan bahwa orang lelaki yang tiba dengan kapal dari Shikoku itu telah datang dengan temannya.
“Apa katanya? Ada orang datang?”
“Ya, dia bilang orang yang namanya Toji datang.” “Hebat! Bagus sekali! Toji tua yang baik itu datang… Siapa itu Toji?” Masuknya Toji dengan Oko sama sekali tidak mengganggu acara itu, bahkan sesungguhnya mereka berdua
diabaikan. Setelah dibuat berpikir bahwa mereka semua berkumpul demi meyakinkan Toji bahwa semua itu
diadakan untuk dia, Toji jadi muak. Ia panggil kembali gadis yang mengantar mereka dan minta dibawa ke kamar Seijuro. Tapi ketika mereka sedang masuk ke gang, si biang keladi vang berbau sake datang terhuyung-huyung dan merangkulkan tangannya ke leher Toji.
“Hei, Toji!” katanya dengan nada malas. “Baru kembali? Kau tentunya bersenang-senang dengan Oko entah
di mana, selagi kami duduk menunggu di sini. Itu mestinya tak boleh kamu lakukan!” Toji mencoba melepaskan orang itu dari dirinya, tapi sia-sia. Orang itu menariknya ke dalam kamar, dan Toji meronta-ronta. Dalam perjalanan, orang itu menginjak sebuah-dua buah baki, menendang beberapa guci sake, kemudian jatuh ke lantai bersama Toji pula.
“Kerudungku!” sengal Toji. Tangannya cepat memegang kepalanya, tapi terlambat. Sambil jatuh, si biang keladi telah menyambar kerudung itu dan kini ia menggenggamnya. Semua mata memandang langsung ke tempat bekas gelungan Toji, diiringi napas tersengal bersama.
“Apa yang terjadi dengan kepalamu?” “Ha, ha, ha! Cukuran baru rupanya!” “Di mana kaudapatkan itu?” Wajah Toji menjadi merah padam. Sambil memungut kerudungnya dan mengembalikannya ke tempatnya, ia
menggagap, “Ah, tak apa-apa. Aku punya bisul.” Tanpa kecuali, semua orang tertawa terbahak-bahak. “Dia bawa pulang bisul untuk oleh-oleh!” “Tutup tempat yang busuk itu!” “Jangan cuma bicara. Tunjukkan pada kami!” Dari lelucon ringan itu jelaslah bahwa tak seorang pun percaya pada Toji, tapi pesta berjalan terus, dan tak
seorang pun bicara lagi tentang gelungan itu. Pagi berikutnya persoalan sudah lain sama sekali. Pukul sepuluh, kelompok yang sama sudah berkumpul di pantai di belakang rumah penginapan, dalam keadaan sudah tidak mabuk dan tenggelam dalam
pembicaraan yang sangat serius. Mereka duduk melingkar, sebagian dengan dada dibidangkan, sebagian lagi dengan tangan disilangkan, tapi semuanya tampak muram. “Dari segi mana pun, buruk keadaannya.” “Tapi persoalannya, apakah benar begitu?” “Aku mendengar dengan telingaku sendiri. Apa kau mau menyebutku pembohong?” “Kita tak dapat membiarkan hal itu berlalu tanpa melakukan sesuatu. Kehormatan Perguruan Yoshioka
sedang dipertaruhkan. Kita harus bertindak!” “Tentu saja, tapi apa tindakan kita?” “Nah, sekarang ini masih belum terlambat. Kita harus menemukan orang yang membawa monyet itu dan
memotong gelungannya. Kita harus menunjukkan kepadanya bahwa bukan hanya kebanggaan Gion Toji yang tersangkut di sini. Ini persoalan yang menyangkut martabat seluruh Perguruan Yoshioka! Ada yang keberatan?” Biang keladi yang mabuk semalam itu kini menjadi letnan yang gagah berani, yang mendorong orang-orangnya memasuki pertempuran.
Ketika terbangun pagi itu, mereka memesan air hangat untuk mandi, untuk menghilangkan sisa mabuk mereka. Dan ketika mereka berada di tempat mandi, seorang saudagar masuk. Tanpa mengetahui siapa mereka, ia bercerita tentang apa yang telah terjadi di kapal. Ia sampaikan pada mereka cerita lucu tentang pemotongan gelungan itu dan ia akhiri ceritanya dengan mengatakan, “Samurai yang kehilangan rambutnya itu menyatakan diri sebagai murid terkemuka Keluarga Yoshioka di Kyoto. Pendapat saya, kalau memang benar demikian, keadaan Keluarga Yoshioka itu tentunya lebih buruk lagi dari yang dapat dibayangkan orang.”
Murid-murid Yoshioka cepat bebas dari mabuknya dan pergi mencari murid senior yang sulit diatur itu, untuk ditanyai tentang kejadian tersebut. Tapi segera mereka temukan bahwa Toji sudah bangun lebih pagi, berbicara sepatah dua patah kata dengan Seijuro, kemudian langsung berangkat dengan Oko ke Kyoto sesudah makan pagi. Hal ini membenarkan tepatnya cerita itu, namun daripada mengejar Toji si pengecut, mereka memutuskan lebih masuk akal menemukan pemuda tak dikenal yang membawa monyet itu dan membersihkan nama baik Yoshioka.
Dalam sidang perang di tepi pantai itu mereka menyepakati sebuah rencana, lalu bangkit berdiri, mengibaskan pasir yang menempel di kimono, dan mulai beraksi.
Tidak jauh dari sana, Akemi yang bertelanjang kaki bermain di tepi air, memunguti kerang laut satu demi satu, tapi langsung membuangnya kembali. Sekalipun waktu itu musim dingin, matahari bersinar hangat dan bau laut memancar dari built ombak yang menghampar seperti rantai bunga mawar putih sejauh-jauh mata memandang.
Dengan mata terbuka lebar karena heran, Akemi memandang orangorang Yoshioka berlari ke arah yang berbeda-beda itu, sementara ujung sarung pedang mereka mendongak-dongak ke udara. Ketika orang terakhir melewatinya, ia berseru, “Ke mana kalian semua ini pergi?”
“Oh, kamu?” kata orang itu. “Bagaimana kalau kau ikut mencari denganku? Setiap orang mendapat bagian wilayah untuk diliput.”
“Apa yang kalian cari?”
“Seorang samurai muda dengan jambul panjang. Dia membawa monyet.”
“Apa yang dilakukannya?”
“Sesuatu yang akan membikin malu nama Tuan Muda, kecuali kalau kami bertindak cepat.”
Ia menyampaikan pada Akemi apa yang telah terjadi. Namun ia gagal membangkitkan minat Akemi setitik pun.
“Kalian ini selalu saja mencari perkelahian!” kata Akemi dengan nada tidak sependapat.
“Bukannya kami suka berkelahi, tapi kalau kita biarkan dia lolos, dia dapat mendatangkan aib bagi perguruan yang menjadi pusat terbesar seni bela diri di negeri ini.”
“Dan bagaimana kalau benar begitu?”
“Kamu gila, ya?”
“Kalian orang-orang lelaki ini menghabiskan waktu dengan mengejar hal-hal paling tolol.”
“Hah?” Dan dengan mata menyipit ia memandang Akemi curiga. “Dan apa yang kamu lakukan di sini selama ini?”
“Aku?” Akemi menjatuhkan pandangan matanya ke pasir indah di sekitar kakinya, dan katanya, “Aku mencari kerang laut.”
“Buat apa mencarinya? Ada berjuta-juta kerang di seluruh tempat ini. Contoh yang tepat buatmu. Perempuan biasa menghamburkan waktu dengan cara-cara yang lebih gila daripada lelaki.”
“Tapi aku mencari jenis kerang yang sangat khusus. Namanya pelipur lara.”
“Oh? Dan apa betul ada kerang macam itu?”
“Ada! Tapi orang bilang kita hanya dapat menemukannya di sini, di pantai Sumiyoshi.”
“Aku berani bertaruh tak ada barang macam itu!”
“Ada! Kalau kamu tak percaya, ayo pergi denganku. Akan kutunjukkan nanti.”
Ditariknya pemuda yang enggan itu ke barisan pohon pinus, dan ia tunjuk sebuah batu berukiran sebuah sajak kuno.
Sekiranya kupunya waktu, Akan kutemukan ia di pantai Sumiyosbi. Orang bilang akan sampai ke sana Kerang penyebabnya Lupa akan cinta
Dengan bangga Akemi berkata, “Lihat! Bukti apa lagi yang kamu perlukan?”
“Ah, itu kan cuma dongeng, salah satu kebohongan tak berguna yang disampaikan dengan puisi.”
-Tapi di Sumiyoshi ada juga bunga yang bikin kita lupa, dan juga air.”
“Nah, jika misalnya memang ada, keajaiban apa yang akan kaudapat?”
“Mudah sekali. Kalau kita masukkan satu ke dalam obi atau lengan baju kita, kita dapat melupakan segalanya.”
Samurai itu tertawa. “Jadi, maksudmu kamu mau lebih lalai daripada sekarang”
“Ya. Aku ingin melupakan semuanya. Ada beberapa hal yang tak dapat kulupakan, karena itu aku merasa tidak bahagia siang hari dan berbaring dengan mata melotot malam hari. Karena itulah aku mencarinya. Bagaimana kalau kamu tinggal saja di sini, membantu mencari?”
“Ah, ini bukan waktu untuk mainan anak-anak!” kata samurai itu mencela, kemudian tiba-tiba ia ingat akan kewajibannya, dan ia pun melesat sekencang-kencangnya.
Apabila sedang sedih, Akemi sering mengira bahwa persoalan yang dihadapinya akan terpecahkan jika saja ia dapat melupakan masa lalu dan menikmati masa kini. Pada waktu ini ia sedang merangkul lutut, dan merasa bimbang apakah akan berpegang teguh pada sejumlah kenangan yang didambakannya, ataukah pada keinginan untuk melontarkan kenangan itu ke laut. Jika sekiranya memang ada yang namanya kerang pelipur lara itu, demikian diputuskannya, bukan ia yang akan membawanya, melainkan akan diselipkannya ke dalam lengan baju Seijuro. Ia mengeluh, dan membayangkan alangkah baiknya hidup ini, kalau saja Seijuro melupakan segala yang menyangkut dirinya.
Ingatan akan Seijuro itu saja membuat hatinya dingin. Ia cenderung yakin bahwa Seijuro ada di dunia ini semata-mata untuk meruntuhkan masa mudanya. Ketika Seijuro mendesaknya dengan pertanyaan¬pertanyaan cinta bercampur bujukan, ia menghibur diri dengan memikirkan Musashi. Tapi kenangan tentang Musashi yang sekali-sekali menjadi pelariannya sering juga menjadi sumber kesengsaraannya, karena kenangan itu membuatnya ingin lari dan meloloskan diri ke dunia impian. Ia ragu-ragu akan menyerahkan diri seluruhnya kepada khayal, karena tahu besar kemungkinan Musashi telah sama sekali melupakannya.
“Oh, alangkah baiknya kalau ada cara yang dapat kupakai untuk menghapus wajahnya itu dari pikiranku!” pikirnya.
Air Laut Pedalaman yang biru tiba-tiba tampak begitu memikat. Dan memandang laut itu, ia jadi ketakutan. Alangkah mudahnya berlari langsung masuk ke dalamnya, dan menghilang.
Ibu Akemi sama sekali tak mengira bahwa Akemi menyimpan pikiranpikiran putus asa semacam itu, apalagi Seijuro. Semua orang di sekitarnya menganggap Akemi sangat bahagia, barangkali sedikit sembrono, tapi bagaimanapun masih kuncup yang belum berkembang, hingga belum dapat barangkali ia menerima cinta seorang lelaki.
Bagi Akemi, ibunya dan orang-orang lelaki yang datang ke warung teh itu sesuatu yang berada di luar dirinya. Pada waktu mereka hadir, ia tertawa berkelakar, menggemerincingkan giring-giringnya, dan mencibir bila perlu. Tapi bila sendirian, desah-desahnya muram dan gelap.
Pikiran-pikiran Akemi terganggu oleh datangnya seorang pembantu rumah penginapan. Melihat ia berada di dekat prasasti batu, pembantu datang berlari, dan katanya, “Oh, di mana Nona tadi? Tuan Muda memanggil¬manggil Nona, dan beliau kuatir sekali.”
Di rumah penginapan, Akemi menjumpai Seijuro sendirian menghangatkan kedua tangannya di bawah selimut merah yang menutup kotatsu. Kamar dalam keadaan tenang. Di halaman, angin lembut gemeresik lewat pohon-pohon pinus yang layu.
“Kau keluar dalam udara dingin begini?” tanya Seijuro. “Apa maksudmu? Rasanya tidak dingin. Di pantai matahari terang.” “Apa yang kaulakukan di sana?” “Mencari kerang laut.” “Kau ini macam anak kecil.” “Aku memang anak kecil.” “Berapa kaukira umurmu pada hari ulang tahun yang akan datang?” “Tak ada artinya. Aku masih anak kecil. Apa salahnya?” “Banyak salahnya. Kau mesti memikirkan rencana-rencana ibumu untukm u..” “Ibuku? Dia tidak memikirkan aku. Dia sendiri yakin, dia masih muda.” “Coba duduk sini.” “Aku tak mau. Nanti aku kepanasan. Ingat tidak, aku masih muda.” “Akemi!” Seijuro menangkap pergelangan tangannya dan menariknya ke dirinya. “Tak ada orang lain di sini
hari ini. Ibumu cukup bijaksana dengan kembali ke Kyoto.”
Akemi memandang mata Seijuro yang menyala, dan tubuhnya pun menegang. Secara tak sadar ia mundur, tapi Seijuro memegang pergelangan tangannya erat-erat. “Kenapa mau lari?” tanya Seijuro menuduh. “Aku tak mau lari.” “Tak ada orang lain sekarang di sim. Ini kesempatan baik, bukan, Akemi?” “Kesempatan apa?” “Jangan keras kepala begitu! Sudah hampir setahun kita saling bertemu. Kau tahu perasaanku padamu.
Oko sudah lama memberi izin. Dia bilang, kau tak mau menyerah karena caraku yang salah. Jadi, hari ini
mari kita…” “Berhenti! Lepaskan tanganku! Lepaskan, kataku!” Tiba-tiba Akemi membung-kuk dan merendahkan kepala dengan malunya.
“Jadi, biar bagaimana kamu tak mau?” “Berhenti! Lepaskan!”
Sekalipun tangan Akemi sudah merah oleh cengkeramannya, Seijuro tetap tak mau melepaskannya. Tak
mungkin gadis itu cukup kuat melawan teknik-teknik militer Delapan Perguruan Kyoto. Hari ini Seijuro lain dari biasanya. Sering ia mencari kesenangan dan hiburan dengan sake, tapi hari ini ia tak minum apa pun. “Kenapa kauperlakukan aku seperti ini, Akemi? Kau mau menghina aku?”
“Tak mau aku bicara tentang itu! Kalau tidak kaulepaskan, aku menjerit!”
“Menjeritlah. Tak ada yang akan mendengarmu. Rumah besar terlalu jauh dari sini, dan lagi, aku sudah bilang pada mereka supaya kita jangan diganggu.” “Aku mau pergi dari sini.” “Takkan kubiarkan.” “Tubuhku bukan milikmu!” “Oh, jadi begitu perasaanmu? Lebih baik kautanyakan soal itu pada ibumu! Sudah cukup banyak aku
membayar.”
“Oh, ibuku mungkin sudah menjualku, tapi aku belum menjual diriku! Lebih-lebih pada lelaki yang kupandang rendah, lebih dari maut sendiri!” “Apa?” pekik Seijuro sambil melontarkan selimut merah ke atas kepala Akemi. Akemi menjerit sekuat paru-parunya. “Menjeritlah, anak anjing! Jeritkan semua yang kaumau! Tak seorang pun akan datang.” Di atas shoji, sinar matahari pucat berbaur dengan bayangan resah pohon-pohon pinus, seakan-akan tak
sesuatu pun terjadi. Di luar, segalanya tenang kecuali pukulan ombak di kejauhan dan cicit burung-burung. Diam yang dalam mengiringi raungan Akemi yang teredam. Beberapa waktu kemudian, dengan wajah pucat
seperti mayat, Seijuro muncul di lorong luar, tangan kanannya memegang tangan kiri yang baret-baret berdarah. Tak lama sesudah itu pintu terbuka lagi dengan suara berdentam, dan Akemi muncul. Seijuro yang
tangannya kini berbungkus handuk berseru kaget dan bergerak seakan hendak menghentikannya, tapi tidak
cukup cepat. Gadis yang sudah setengah gila itu melarikan diri secepat kilat. Wajah Seijuro mengerut gundah, tapi ia tidak mengejar Akemi, sementara Akemi menyeberang halaman dan masuk bagian lain rumah penginapan. Tak lama kemudian senyuman tipis jahat tersungging di bibirnya. Senyuman kepuasan yang amat sangat.
bagian 11
Berlalunya Seorang Pahlawan
“Paman Gon!” ” Apa? ” “Paman capek?” “Ya, sedikit.” “Kupikir begitu. Aku sendiri hampir mogok, tapi biara ini bagus sekali gedung-gedungnya, ya? Hei, apa ini
bukan pohon jeruk yang disebut pohon rahasia Wakamiya Hachiman itu?”
“Rupanya.”
Barangkali inilah barang pertama dari delapan puluh kapal upeti yang disampaikan Raja Silla kepada Maharani Jingu, ketika maharani itu menaklukkan Korea.”
“Lihat kandang kuda-kuda suci itu! Apa bukan binatang yang elok itu? Pasti dia dapat nomor satu dalam pacuan kuda tahunan di Kamo.”
“Maksudmu yang putih itu?”
“Ya. Hmm, apa bunyi papan nama itu?”
“Katanya, air rebusan kacang yang dicampur makanan kuda kalau diminum bisa menghentikan teriakan dan kerotan gigi malam hari. Apa kau mau sedikit?”
Paman Gon tertawa. “Jangan berbuat tolol macam itu!” Dan sambil menoleh ia bertanya, “Apa yang terjadi dengan Matahachi?”
“Rupanya ngeluyur.”
“Oh, itu dia, istirahat dekat panggung tarian suci.”
Wanita tua itu mengangkat tangan memanggil anaknya. “Kalau kita lewat jalan itu, kita dapat melihat Tori Agung yang asli, tapi mari kita pergi ke Lentera Tinggi.”
Matahachi mengikuti dari belakang dengan malasnya. Semenjak ibunya menangkapnya di Osaka, ia selalu bersama mereka-jalan, jalan, dan sekali lagi jalan. Kesabarannya mulai menipis. Lima atau sepuluh hari melihat-lihat pemandangan mungkin bagus dan baik-baik saja, tapi ia takut memikirkan harus menyertai mereka membalas dendam. Sudah dicobanya meyakinkan mereka, bahwa berjalan bersama-sama seperti itu merupakan cara yang buruk. Lebih baik ia pergi mencari Musashi sendirian. Tapi ibunya tak hendak mendengarkan.
“Sebentar lagi Tahun baru,” ujarnya. “Dan Ibu ingin kau menyambutnya bersama Ibu. Sudah lama kita tidak bersama-sama merayakan Tahun Baru, dan ini barangkali kesempatan kita yang terakhir.”
Walaupun Matahachi tahu tak dapat menolak ibunya, ia telah membulatkan hati untuk meninggalkan mereka beberapa hari sesudah hari pertama Tahun Baru. Osugi dan Paman Gon barangkali kuatir takkan lama lagi hidup, karena itu mereka demikian tenggelam dalam agama, dan sedapat-dapatnya berhenti di setiap biara dan kuil dengan meninggalkan persembahan dan mengajukan permohonan panjang-panjang kepada para dewa dan Budha. Hampir seluruh hari ini mereka habiskan di Biara Sumiyoshi.
Matahachi sudah kalut oleh rasa bosan, ia berjalan menyeret kaki dan cemberut.
“Apa kamu tak bisa jalan lebih cepat?” tanya Osugi marah.
Langkah Matahachi tidak berubah. Ia jengkel sekali pada ibunya, sama seperti jengkel ibunya kepadanya, dan gerutunya, “Ibu ini terus saja menyuruhku cepat dan tunggu! Cepat dan tunggu, cepat dan tunggu!”
“Apa yang mesti Ibu lakukan pada anak lelaki macam kamu? Orang datang ke biara, sudah sewajarnya kalau dia berhenti dan berdoa kepada dewa-dewa. Belum pernah Ibu lihat kamu membungkuk kepada satu dewa atau Budha pun. Ingat-ingatlah kata-kata Ibu ini, kamu akan menyesal nanti. Kecuali itu, kalau kamu mau berdoa bersama kami, takkan lama kamu menunggu.”
“Menjengkelkan!” geram Matahachi.
“Siapa yang menjengkelkan?” teriak Osugi berang.
Dua-tiga hari pertama segalanya semanis madu antara mereka, tapi begitu Matahachi sudah terbiasa dengan ibunya lagi, mulailah ia tersinggung oleh segala yang dilakukan dan dikatakan ibunya. Ia memperolok-olok Osugi setiap kali ada kesempatan. Apabila malam tiba dan mereka kembali ke rumah penginapan, Osugi menyuruh Matahachi duduk di depannya dan kemudian mengkhotbahinya, yang membuat Matahachi jadi lebih murung lagi.
“Bukan main pasangan ini!” keluh Paman Gon sendiri, sambil mencari-cari cara untuk meredakan kekesalan perempuan tua itu dan mengembalikan sedikit ketenangan pada wajah kemenakannya yang cemberut. Karena dirasanya akan terdengar khotbah lagi, ia bergerak memintasinya. “Oh,” serunya riang. “Rasanya aku mencium bau enak! Orang menjual remis panggang di warung teh tepi pantai itu. Mari kita ke sana makan remis.”
Baik ibu maupun anak tidak memperlihatkan kegairahan, tapi Paman Gon berhasil membawa mereka ke warung tepi laut yang dipasangi kerai gelagah tipis itu. Sementara kedua orang itu duduk seenak-enaknya di bangku luar, Paman Gon masuk dan keluar lagi membawa sake.
Sambil menawarkan mangkuk pada Osugi, katanya ramah, “Ini akan membikin Matahachi riang sedikit. Barangkali kau sedikit terlalu keras kepadanya.”
Osugi memalingkan muka, tukasnya, “Aku tak ingin minum apa-apa.”
Terjerat oleh sarang labah-labahnya sendiri, Paman Gon menawarkan mangkuk pada Matahachi. Matahachi masih marah-marah, dan segera mengosongkan tiga guci sake secepat-cepatnya, karena tahu benar hal itu akan membuat ibunya pucat kelabu. Ketika ia meminta guci keempat kepada Paman Gon, Osugi sampai pada batas kesabarannya.
“Sudah cukup kamu minum!” omelnya. “Ini bukan piknik, dan kita rancang kemari bukan untuk mabuk! Kamu juga jaga dirimu, Paman Gon! kamu lebih tua daripada Matahachi, mestinya tahu.”
Paman Gon menjadi malu, seolah-olah ia sendiri yang minum, dan mencoba menyembunyikan wajahnya dengan menggosokkan tangan ke wajah itu. “Ya, kau benar,” katanya menurut. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan pergi beberapa langkah jauhnya.
Lalu semuanya terjadi dengan sangat seru. Matahachi sudah menyinggung sedalam-dalamnya cinta dan keprihatinan ibunya, rasa cinta yang dahsyat, walau rapuh. Osugi tak peduli lagi apakah harus menanti sampai mereka kembali ke rumah penginapan. Dimarahinya Matahachi dengan garang, tak peduli apakah orang lain mendengar atau tidak. Matahachi menatapnya dengan pandangan ingkar yang muram, sampai ibunya selesai.
“Baik,” katanya. “Jadi, Ibu sudah menyimpulkan, aku orang dusun yang tak tahu terima kasih dan tak punya rasa hormat diri, kan? Betul?”
“Betul! Apa yang sudah kamu lakukan sampai sekarang, yang menunjukkan kamu punya rasa bangga atau hormat diri?”
“Ibu, aku bukan orang tak berharga seperti yang Ibu pikir, tapi Ibu takkan tahu soal itu.”
“Oh, jadi Ibu tak bisa tahu? Coba dengar, Matahachi, tak seorang pun yang lebih mengenal anak daripada orangtuanya, dan kupikir hari kelahiranmu itulah hari buruk buat Keluarga Hon’iden!”
“Lebih baik Ibu tunggu dan lihat! Aku masih muda. Suatu hari nanti, kalau Ibu sudah mati dan dikubur, Ibu akan menyesal sudah mengatakan itu.”
“Ha! Kuharap memang demikian, tapi aku sangsi apa akan bisa terjadi meski seratus tahun lagi. Sungguh menyedihkan, kalau dipikir-pikir.”
“Kalau Ibu sedih sekali punya anak seperti aku, tak banyak lagi gunanya aku ada di sini. Aku pergi!” Mendidih karena marah, ia bangkit berdiri dan berjalan pergi dengan langkah-langkah panjang dan mantap.
Karena terkejut, perempuan tua itu mencoba memanggilnya kembali dengan suara bergetar memilukan. Tapi Matahachi tak menghiraukannya.
Paman Gon yang sebetulnya dapat berlari dan mencoba menghentikannya hanya berdiri memandang tajam ke laut, agaknya kepalanya disibukkan oleh pikiran-pikiran lain.
Osugi berdiri, kemudian duduk kembali. “Jangan mencoba menghentikannya,” katanya sia-sia kepada Paman Gon. “Tak ada gunanya.”
Paman Gon menoleh kepadanya, tapi bukan menjawab, melainkan mengatakan, “Gadis di sana itu aneh sekali gerak-geriknya. Tunggu di sini sebentar!” Belum habis kata-kata itu diucapkan, ia sudah melemparkan capingnya ke bawah tepi atap warung dan berlari secepat anak panah ke air.
“Goblok!!” teriak Osugi. “Ke mana kamu pergi? Matahachi…” Ia mengejar Paman Gon, tapi sekitar dua puluh meter dari warung itu kakinya terantuk gumpalan rumput laut dan ia jatuh tertelungkup. Sambil menggerutu marah ia bangun, wajah dan bahunya penuh dengan pasir. Ketika terlihat kembali Paman Gon, kedua matanya melotot seperti cermin.
“Hei, orang tua goblok! Ke mana kamu pergi? Sudah kehilangan akal, ya?” jeritnya. Ia begitu kalang kabut, hingga tampaknya ia sendiri sudah gila. Ia lari kencang-kencang mengikuti Paman Gon, namun terlambat. Paman Gon sudah masuk air sampai setinggi lutut, dan terus ke tengah.
Kelihatan la sudah hampir kesurupan, terselimut buih putih. Lebih jauh lagi di tengah laut kelihatan seorang gadis muda yang mati-matian berusaha masuk ke air dalam. Ketika Paman Gon pertama kali melihatnya, gadis itu masih berdiri dalam bayangan pohon-pohon pinus, memandang kosong ke laut, tapi kemudian tiba¬tiba ia berlari menyeberang pasir dan masuk air, sementara rambutnya yang hitam berkibar di belakangnya. Air kini sudah sampai pinggangnya, dan dengan cepat ia mendekati titik terjal di dasar laut.
Sambil mendekatinya, Paman Gon berseru-seru kalut, tapi gadis itu terus dengan tekadnya. Tiba-tiba tubuhnya menghilang diiringi bunyi aneh, meninggal-kan pusaran di permukaan.
“Anak gila!” teriak Paman Gon. “Sudah nekat bunuh diri, ya?” Ia sendiri tenggelam ke bawah permukaan air, gelagapan.
Osugi berlari ke sana kemari di tepian. Ketika dilihatnya kedua orang itu tenggelam, jeritannya berubah menjadi seruan-seruan lantang minta tolong.
Sambil melambai-lambaikan tangan, berlari, dan jatuh-bangun ia memerintahkan orang-orang di pantai untuk menolong, seakan-akan merekalah penyebab terjadinya kecelakaan. “Selamatkan mereka, goblok! Cepat, kalau tidak mereka tenggelam.”
Beberapa menit kemudian, beberapa nelayan membawa tubuh mereka dan meletakkannya di atas pasir.
“Bunuh diri karena cinta?” tanya seorang.
“Kau berkelakar?” kata yang lain tertawa.
Paman Gon berhasil mencekal obi gadis itu dan masih menggenggamnya, tapi baik ia maupun gadis itu sudah tidak bernapas lagi. Gadis itu menampilkan wajah aneh, karena sekalipun rambutnya kusut dan kacau, pupur dan lipstiknya tidak terhapus, dan ia tampak seakan masih hidup. Bahkan dengan giginya yang masih menggigit bibir bawah itu, mulutnya yang ungu seperti menampakan gerak tawa.
“Saya pernah melihat gadis ini,” seseorang berkata.
“Apa bukan dia yang cari kerang di pantai belum lama ini?”
“Ya, betul! Dia tinggal di penginapan sana itu.”
Dari arah rumah penginapan ada empat atau lima orang yang datang mendekat. Di antara mereka Seijuro yang dengan napas sesak menerobos kerumunan orang banyak itu.
“Akemi!” teriaknya. Wajahnya menjadi pucat, tapi ia berdiri saja.
“Apa bisa kita selamatkan dia?”
“Tidak bisa, kalau Tuan cuma berdiri melongo.”
Para nelayan melepaskan cekalan Paman Gon, meletakkan kedua tubuh itu berdampingan. Mereka mulai menampar-nampar punggung kedua orang itu dan menekan-nekan perutnya. Akemi cepat sekali kembali bernapas. Karena ingin sekali menghindari tatapan mata para penonton, Seijuro menyuruh orang-orang dari rumah penginapan membawa Akemi pulang.
“Paman Gon! Paman Gon!” panggil Osugi dengan mulut di telinga orang tua itu, berurai air mata. Akemi dapat kembali hidup karena ia masih muda, tapi Paman Gon… Ia tidak hanya tua, tapi ia pun telah minum sake cukup banyak sebelum menyelamatkan gadis itu. Napasnya terhenti untuk selamanya. Seberapa banyak pun usaha Osugi tak akan dapat membukakan matanya kembali.
Para nelayan menyerah, “Orang tua itu telah pergi.”
Osugi berhenti menangis cukup lama untuk berpaling kepada mereka, seakan-akan mereka musuh, bukan orang-orang yang telah membantu. “Apa maksud kalian? Kenapa dia mesti mati, sedangkan gadis muda itu dapat selamat?” Sikapnya menunjukkan seakan ia siap menyerang mereka secara fisik. Ditepiskannya orang-orang itu, dan katanya mantap, “Akan kuhidupkan dia kembali! Akan kutunjukkan pada kalian.”
Dan mulailah ia mencoba membangunkan Paman Gon dengan segala cara yang dapat dipergunakannya. Tekadnya itu menimbulkan air mata orang-orang yang menyaksikannya. Beberapa orang itu tinggal membantunya. Namun ia bukannya menghargai bantuan mereka, malahan memerintah mereka melakukan ini-itu seperti tenaga sewaan. Ia mengeluh bahwa mereka tidak menekan dengan cara yang benar, bahwa yang mereka lakukan takkkan ada hasilnya, ia memerintah mereka membuat api, dan ia menyuruh mereka pergi mencari obat. Apa pun yang ia lakukan, ia kerjakan dengan air muka semasam-masamnya.
Bagi orang-orang di pantai itu, ia bukan sanak ataupun teman, melainkan sekadar orang asing, karena itu akhirnya orang yang paling bersimpati kepadanya pun menjadi marah.
“Siapa sih perempuan tua jelek ini?” geram satu orang.
“Hm! Tak tahu bedanya orang pingsan dan orang mati. Kalau dia bisa menghidupkannya lagi, biar saja.”
Tak lama kemudian, tinggallah Osugi sendirian dengan mayat itu. Di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti, kabut bangkit dari laut, dan yang tertinggal dari hari itu hanyalah barisan awan jingga di dekat kaki langit. Osugi membuat api dan duduk di dekatnya, memeluk tubuh Paman Gon erat-erat.
“Paman Gon. Oh, Paman Gon!” lolongnya.
Ombak laut menggelap. Ia mencoba dan mencoba lagi mengembalikan kehangatan tubuh yang telah mati itu. Pandangan wajahnya menunjukkan betapa ia berharap sebentar lagi Paman Gon membuka mulut dan bicara dengannya. Ia kunyah beberapa pil dari kotak obat dalam obi-nya dan ia pindahkan kunyahan itu ke mulut Paman Gon. Ia peluk Paman Gon dan ia guncang-guncangkan.
“Buka matamu, Paman Gon!” mohonnya. “Katakan sesuatu! Tak bisa kau pergi meninggalkan aku sendirian. Kita masih belum membunuh Musashi atau menghukum Otsu yang bejat itu.”
Di dalam rumah penginapan, Akemi terbaring dalam tidur yang resah. Ketika Seijuro mencoba membetulkan letak kepalanya yang demam itu di atas bantal, ia menggumam mengigau. Untuk sesaat Seijuro duduk di sampingnya, diam seribu bahasa, wajahnya lebih pucat daripada wajah Akemi. Ketika mengetahui penderitaan yang telah ditimpakannya kepada gadis itu, ia pun menderita.
Ia sendiri yang dengan nafsu binatangnya memangsa gadis itu dan memuaskan birahinya. Sekarang ia duduk murung dan kaku, prihatin dengan denyut nadi dan napas gadis itu, dan berdoa semoga hidup yang untuk beberapa waktu lamanya meninggalkan gadis itu bisa dipulihkan kembali. Dalam satu hari yang singkat saja ia sekaligus menjadi binatang dan manusia yang berperasaan belas kasihan. Tetapi bagi Seijuro yang cenderung kepada ekstremitas, tingkah lakunya itu tidak terasa tidak konsisten.
Matanya sedih dan sikap mulutnya rendah hati. Ia menatap Akemi dan berbisik, “Cobalah tenang, Akemi. Bukan cuma diriku seorang. Kebanyakan lelaki memang begitu…. Kau segera akan mengerti, walaupun kau tentunya dikejutkan oleh kekerasan cintaku.” Sukarlah ditentukan, apakah kata-kata ini benar-benar ditujukan kepada gadis itu ataukah dimaksudkan untuk menenang-kan dirinya sendiri. Tapi ia terus juga menyuarakan perasaan itu berulang-ulang.
Kegelapan dalam kamar itu pekat seperti tinta. Shoji yang tertutup kertas meredam bunyi angin dan ombak.
Akemi bergerak, kedua tangannya yang putih menyelinap keluar dari bawah selimut. Ketika Seijuro mencoba membetulkan letak selimut itu, Akemi meng-gumam, “Tanggal berapa ini?”
“Apa?”
“Berapa… berapa hari lagi… Tahun Baru?”
“Tinggal tujuh hari lagi. Kau pasti sembuh sebelum waktu itu, dan kita akan kembali ke Kyoto.” Direndahkannya wajahnya ke Akemi, tapi Akemi menolak-nya dengan telapak tangan. “Berhenti! Pergi! Aku tak suka padamu.” Seijuro menarik diri, tapi kata-kata setengah gila menyembur dari bibir Akemi. “Orang tolol! Binatang!” Seijuro tinggal diam. “Kau binatang. Aku tak… aku tak ingin melihatmu.”
“Maafkan aku, Akemi, maafkan!” “Pergi dari sini! Jangan bicara padaku.” Tangan Akemi melambai-lambai kacau dalam kegelapan. Seijuro menelan ludah dengan sedih, tapi terus juga me-mandanginya.
“Tanggal… tanggal berapa?” Kali ini Seijuro tak menjawab. “Apa ini belum Tahun Baru?… Antara Tahun Baru dan tanggal tujuh…. Tiap hari…. Dia bilang akan ada di
jembatan…. Kabar dari Musashi…. Tiap hari…. Jembatan Jalan Gojo…. Tak lama lagi Tahun Baru…. Aku mesti kembali ke Kyoto…. Kalau aku pergi ke jembatan itu, dia akan ada di sana.” “Musashi?” tanya Seijuro heran. Gadis yang sedang mengigau itu terdiam.
“Apa Musashi ini … Miyamoto Musashi?” Seijuro menatap wajah Akemi, tapi Akemi tidak mengatakan apa-apa lagi. Kelopak matanya yang biru menutup. Ia tidur lelap.
Daun-daun pinus kering mengetuk-ngetuk shoji. Seekor kuda meringkik. Cahaya muncul di seberang
penyekat, dan suara seorang pelayan terdengar mengatakan, “Tuan Muda ada di sini.” Buru-buru Seijuro masuk kamar sebelah, dengan hati-hati menutup pintu di belakangnya. “Siapa?” tanyanya. “Aku di sini.”
“Ueda Ryohei,” terdengar jawabannya. Ryohei masuk dan duduk, masih dalam pakaian perjalanan lengkap
dan penuh debu. Selagi mereka bertukar salam, Seijuro bertanya dalam hati, apa gerangan yang menyebabkan orang itu datang. Karena seperti halnya Toji, Ryohei salah seorang siswa senior yang diperlukan di rumah, maka Seijuro takkan membawanya dalam perjalanan mendadak.
“Kenapa datang kemari? Ada yang terjadi sepeninggalku?” tanya Seijuro. “Ya, dan saya harus minta Anda segera kembali.” “Ada apa?” Ketika Ryohei memasukkan kedua tangannya ke dalam kimono dan meraba-raba, suara Akemi terdengar
dari kamar sebelah. “Aku tak suka padamu!… Binatang!… Pergi!” Kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu penuh nada takut. Siapa pun akan mengira ia sedang terjaga dan dalam bahaya besar. Dengan terkejut Ryohei bertanya, “Siapa itu?” “Oh, itu? Akemi jatuh sakit ketika pulang. Dia demam, sekali-sekali dia sedikit mengigau.”
“Itu Akemi?”
“Ya, tapi tak apalah. Aku ingin mendengar kenapa kau datang.”
Dari kantong perut di bawah kimononya akhirnya Ryohei mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada Seijuro. “Ini,” katanya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, kemudian mendekatkan lampu yang telah ditinggalkan oleh pelayan itu ke sisi Seijuro. “Hmm. Dari Miyamoto Musashi.”
“Ya!” kata Ryohei tegas.
“Kau sudah membukanya?”
“Ya. Saya sudah membicarakannya dengan yang lain-lain, dan kami memutus-kan bahwa kemungkinan surat ini penting, karena itu kami membuka dan mem-bacanya.”
Seijuro bukannya membaca sendiri isi surat itu, melainkan bertanya sedikit ragu, “Apa katanya?” Walau tak seorang pun berani menyebutkan persoalan kepadanya, namun di balik pikiran Seijuro sudah lama bersarang wujud Musashi. Walau demikian, ia sudah hampir meyakinkan dirinya bahwa ia tak akan bertemu lagi dengan orang itu. Surat yang tiba-tiba datang, tepat sesudah Akemi menyebut nama Musashi itu, membuat tulang punggung Seijuro panas dingin.
Ryohei menggigit bibir, marah. “Akhirnya datang juga dia. Ketika dia pergi dengan omongan besar musim semi lalu, saya yakin dia takkan menjejakkan kaki lagi di Kyoto, tapi… coba Tuan bayangkan kesombongannya! Teruslah baca surat itu! Isinya tantangan, dan dia punya nyali pula menunjukkan tantangan pada seluruh Keluarga Yoshioka, dan menandatanganinya hanya dengan namanya sendiri. Dia pikir dia dapat menghadapi kita semua sendirian!”
Musashi tidak menuliskan alamat untuk balasan surat, dan dalam surat pun tak ada isyarat tentang tempat ia berada. Tapi ia tidak melupakan janji yang telah ia tulis kepada Seijuro dan murid-muridnya, dan dengan surat kedua ini dadu telah dilemparkan. Ia mengumumkan perang pada Keluarga Yoshioka. Pertempuran akan terjadi, dan ini akan merupakan pertempuran habis-habisan-pertempuran di mana para samurai akan bertarung sampai mati untuk menjaga kehormatan dan memurnikan keterampilan mereka dengan pedang. Musashi mempertaruhkan hidupnya dan menantang Perguruan Yoshioka untuk melakukan hal yang sama. Apabila tiba waktunya, kata-kata dan keterampilan teknik yang mahir pun akan sedikit saja artinya.
Sumber bahaya terbesar adalah bahwa Seijuro masih belum memahami kenyataan ini. Ia tidak melihat bahwa hari perhitungan sudah tiba, dan bahwa sekarang bukanlah saat untuk membuang-buang waktu dengan kesenangan-kesenangan kosong.
Ketika surat itu tiba di Kyoto, di antara murid yang lebih teguh ada perasaan muak terhadap cara hidup Tuan Muda yang tidak berdisiplin itu. Mereka menggerutu marah karena ia tidak hadir justru pada saat yang demikian menentukan. Mereka gusar oleh penghinaan yang dilontarkan oleh ronin tunggal ini, dan menyesal bahwa Kempo tidak lagi hidup. Sesudah banyak membincang-kannya, mereka sepakat untuk menyampaikan keadaan itu kepada Seijuro dan memutuskan bahwa Seijuro mesti segera kembali ke Kyoto. Namun ketika surat sudah disampaikan sekarang, ternyata Seijuro hanya meletakkannya di pangkuan dan tak bergerak membukanya.
Dengan perasaan jengkel yang tampak jelas, Ryohei bertanya, “Apa Anda tak merasa perlu membacanya?”
“Apa? Oh, ini?” tanya Seijuro kosong. Ia membuka gulungan surat itu dan membacanya. Jari-jarinya mulai menggeletar tak terkendalikan lagi, suatu tanda ketidakmantapan yang disebabkan bukan oleh bahasa dan nada keras tantangan Musashi, melainkan oleh perasaan lemah dan perasaan rendah pada dirinya sendiri. Kata-kata penolakan kasar Akemi menghancurkan harga dirinya sebagai samurai. Belum pernah ia merasa demikian tanpa daya. Surat Musashi sederhana dan langsung,
Apakah Anda dalam keadaan baik semenjak terakhir kali saya menyurati Anda. Sesuai dengan janji saya terdahulu, kini saya menulis untuk menanyakan di mana, pada hari apa, dan pada jam berapa kita akan bertemu. Saya tak punya pilihan khusus, dan saya bersedia melaksanakan pertandingan yang telah kita janjikan pada waktu dan tempat yang Anda tentukan. Saya mohon Anda memancangkan jawaban Anda di jembatan Jalan Gojo, sebelum hari ketujuh Tahun Baru. Saya percaya Anda telah menggosok ilmu pedang Anda sebagaimana biasa. Saya sendiri merasa bahwa sampai batas-batas tertentu telah mencapai perbaikan.
Shimmen Miyamota Musashi.
Seijuro menjejalkan surat itu ke dalam kimononya, dan berdirl.
“Aku akan kembali ke Kyoto sekarang,” katanya.
Kata-kata ini diucapkannya lebih karena perasaan sudah demikian kalut, hingga ia tidak dapat lagi tinggal di tempat itu lebih lama; jadi, bukan karena ketabahan. Ia harus pergi dan segera mungkin melupakan seluruh hari mengerikan itu.
Disertai suasana hiruk-pikuk, pemilik rumah penginapan dipanggil dan diminta mengurus Akemi, suatu tugas yang diterimanya dengan perasaan enggan, sekalipun menerima uang Seijuro.
“Akan kupakai kudamu,” kata Seijuro pada Ryohei. Dan seperti seorang bandit yang sedang melarikan diri, ia melompat ke pelana dan melarikan kuda itu kencang-kencang melintasi baris-baris pohon gelap, meninggalkan Ryohei yang mengikutinya dengan berlari setengah mati.
Galah Pengering
“PEMUDA yang membawa monyet? Ya, dia memang kemari belum lama ini.”
“Apa Anda lihat, ke mana perginya?”
“Ke sana, ke arah Jembatan Nojin. Tapi dia tidak menyeberangi jembatan-sepertinya dia masuk bengkel pandai pedang.”
Setelah berunding sebentar, murid-murid Yoshioka berangkat beramai-ramai, membuat orang yang memberikan keterangan itu menganga heran menyaksikan segala keributan tersebut.
Walaupun waktu itu sudah lewat saat tutup bagi toko-toko sepanjang Parit Timur, toko pedang masih buka. Seorang dari orang-orang itu masuk, mengadakan pembicaraan dengan magang toko, kemudian keluar sambil berseru, “Temma! Dia menuju Temma!” Dan ke sanalah mereka berduyunduyun.
Magang mengatakan bahwa ketika ia baru akan menutup daun jendela menjelang malam, seorang samurai berjambul panjang menurunkan monyet di dekat pintu depan, duduk di bangku dan minta bertemu dengan pandai pedang. Ketika kepadanya disampaikan bahwa pandai pedang sedang pergi, samurai itu mengatakan ingin menajamkan pedangnya, tapi pedang itu terlampau berharga untuk dipercayakan kepada orang lain di luar ahli pedang sendiri. Ia lalu mendesak minta melihat contoh-contoh karya pedang.
Magang dengan sopan memperlihatkan kepadanya beberapa bilah pedang, tapi sesudah mengamati, yang diperlihatkan samurai itu tak lebih dari sikap muak. “Rupanya Anda sekalian di sini cuma mengerjakan senjata-senjata biasa,” katanya kering. “Saya tidak yakin apakah akan menyerahkan pedang saya pada Anda. Pedang saya terlampau bagus, karya seorang pandai pedang Bizen. Namanya Galah Pengering. Lihat? Sempurna sekali.” Ia mengangkat pedangnya, dan jelas dengan perasaan bangga.
Tertarik akan bualan orang muda itu, si magang bergumam mengatakan bahwa satu-satunya ciri menonjol pedang itu adalah bentuknya yang panjang dan lurus. Samurai itu jelas sekali tersinggung karenanya, dan mendadak berdiri dan minta keterangan tentang bagaimana pergi ke pangkalan kapal tambangan Temma Kyoto.
“Akan saya rawatkan pedang saya di Kyoto,” tukasnya. “Semua pandai pedang Osaka yang sudah saya kunjungi rupanya hanya mengurusi barang rombengan prajurit biasa. Maaf, telah mengganggu.”
Ia berangkat dengan pandangan dingin.
Cerita magang itu semakin membikin berang mereka. Itu bukti baru mengenai apa yang mereka anggap kecongkakan luar biasa orang muda itu. Jelas bagi mereka, pengalaman memotong gelungan Gion Toji membikin si pembual itu lebih congkak daripada sebelumnya.
“Itu pasti orang yang kita cari!”
“Jadi, sudah kita temukan sekarang. Tertangkap dia sekarang.”
Orang-orang itu melanjutkan pengejaran tanpa satu kali pun berhenti untuk beristirahat, sekalipun matahari mulai terbenam. Mendekati dermaga Temma, seorang dari mereka berseru, “Ketinggalan kita!” Yang dimaksud adalah kapal terakhir hari itu.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa kaupikir kita sudah ketinggalan?” tanya yang lain.
“Tidak lihat, ya? Di sana itu,” kata orang yang pertama tadi, menuding dermaga. “Warung-warung teh sudah menumpuk bangkunya. Kapal tentunya sudah berangkat.”
Untuk sesaat mereka semua berdiri terpaku, kehilangan semangat. Kemudian, ketika mereka bertanya lagi pada orang lain, ternyata samurai itu memang sudah naik kapal terakhir. Mereka juga mendapat keterangan, kapal itu baru saja berangkat dan untuk beberapa lama tidak akan berhenti di perhentian berikut, Toyosaki. Kapal-kapal yang berjalan mudik ke Kyoto umumnya pelan. Maka mereka punya waktu banyak untuk menyusul kapal tambangan itu di Toyosaki, walaupun tanpa bergegas.
Tahu akan hal ini, mereka memanfaatkan waktu dengan minum teh, makan kue betas, dan sedikit gula-gula murahan, sebelum berangkat dengan langkah cepat menempuh jalan sepanjang tepi sungai. Di hadapan sana, sungai tampak bagai seekor ular perak yang melenggok-lenggok ke kejauhan. Sungai Nakatsu dan Temma bergabung menjadi satu membentuk Sungai Yodo, di dekat percabangan ini cahaya berkelap-kelip di tengah sungai.
“Itu kapalnya!” seru seseorang.
Ketujuh orang itu bangkit semangatnya, dan segera mereka lupa akan udara dingin yang menembus kulit. Di ladang-ladang telanjang di tepi jalan, rumput merang kering yang tertutup embun beku berkilauan seperti pedang-pedang baja ramping. Angin seolah bermuatan es.
Ketika jarak antara mereka dan cahaya mengapung itu memendek, mereka dapat melihat kapal itu dengan sangat jelas. Tanpa pikir lagi, seorang dari mereka berteriak, “Hei, yang di sana itu! Kurangi kecepatan!”
“Kenapa?” terdengar balasan dari geladak.
Jengkel karena perhatian orang jadi tertuju pada mereka, teman-temannya mengumpat orang yang besar mulut itu. Namun kapal berhenti juga di perhentian berikut. Sungguh suatu kebodohan besar, lebih dulu memberikan peringatan. Karena sudah telanjur, semua sependapat bahwa langkah terbaik adalah menuntut penumpang itu seketika itu juga.
“Dia hanya sendirian. Jika kita tidak menantangnya sekarang juga, dia bisa curiga, melompat ke air, dan menyelamatkan diri.”
Sambil berjalan mengikuti jalan kapal, sekali lagi mereka berseru pada orang-orang yang ada di atas kapal. Sebuah suara berwibawa, yang tak sangsi lagi suara Kapten, meminta keterangan apa yang mereka kehendaki.
“Rapatkan kapal ke tepi!”
“Apa? Apa kalian gila?” terdengar jawabannya, disertai tawa parau.
“Pinggirkan di sini!”
“Mustahil”
“Kalau begitu, kami tunggu Anda di perhentian berikut. Kami urusan dengan orang muda yang ada di kapal Anda. Pakai jambul bawa monyet. Katakan padanya, kalau dia punya hormat, dia mesti menampakkan diri. Dan kalau Anda membiarkan dia pergi, akan kami seret kalian semua ke darat.”
“Kapten, jangan jawab mereka!” mohon seorang penumpang.
“Apa pun yang mereka katakan, abaikan saja,” yang lain menasihati. “Mari jalan terus ke Moriguchi. Di sana ada pengawal.”
Kebanyakan penumpang berkumpul-kumpul ketakutan dan berbicara dengan suara ditekan. Orang yang berbicara dengan bebasnya kepada para samurai di pantai beberapa waktu lalu kini berdiri diam. Baginya dan bagi orang-orang lain, keselamatan mereka tergantung pada jarak antara kapal dan tepi sungai.
Ketujuh orang itu tetap berada dekat kapal dengan lengan baju disingsingkan dan tangan dilekatkan ke pedang. Sekali mereka berhenti mendengarkan, agaknya mengharapkan jawaban atas tantangan mereka, tapi mereka tak men-dengar sesuatu.
“Apa Anda tuli?” teriak seorang dari mereka. “Kami minta Anda menyampaikan kepada pembual muda itu supaya datang ke susuran.”
“Maksud Anda, saya?” teriak sebuah suara dari kapal.
“Itu dia di sana, kurang ajar seperti biasanya!”
Orang-orang itu menudingkan jari dan memandang ke kapal, sedangkan celoteh pelan para penumpang semakin hiruk-pikuk. Mereka itu setiap saat dapat melompat ke geladak.
Orang muda berpedang panjang itu berdiri tegap di lambung kapal, giginya berkilauan seperti mutiara putih oleh pantulan sinar bulan. “Di kapal tak ada orang lain yang bawa monyet, jadi saya kira sayalah yang Anda cari. Siapa kalian, bromocorah malang? Gerombolan aktor lapar?”
Ketika adu teriak semakin menghebat, kapal mendekati tanggul Kema yang memiliki tiang-tiang tambatan dan juga gudang. Ketujuh orang itu berlari maju untuk mengepung tempat mendarat, tapi belum lagi mereka sampai di sana, kapal sudah berhenti di tengah sungai dan mulai berputar beberapa kali.
Wajah orang-orang Yoshioka jadi pucat kelabu. “Apa yang kaulakukan?”
“Kalian tak bisa tinggal di situ selamanya!”
“Sini kamu, atau kami akan datang ke situ.”
Ancaman-ancaman terus berlangsung, sampai akhirnya haluan kapal mulai bergerak ke tepi. Sebuah suara meraung di udara dingin, “Tutup mulut, orang-orang goblok! Kami akan mendarat! Lebih baik siapkan diri kalian untuk mempertahankan diri.”
Walaupun dicegah oleh penumpang-penumpang lain, orang muda itu tetap merebut galah orang kapal dan mendaratkan kapal tambangan itu. Ketujuh samurai segera berkerumun sekitar tempat yang akan disentuh haluan kapal, sementara tubuh yang menggerakkan kapal dengan galah itu semakin dekat dengan mereka. Tiba-tiba kecepatan kapal meningkat, dan orang muda itu menyerang mereka sebelum mereka mengetahuinya. Lunas kapal mencakar dasar sungai dan mereka undur serentak. Pada waktu itulah sebuah benda hitam bulat melayang melintasi gelagah dan menempelkan diri ke leher seorang di antara mereka. Sebelum mereka menyadari bahwa benda itu hanya seekor monyet, secara naluriah mereka semua mencabut pedang dan membabatkan ke udara kosong di sekitar mereka. Untuk menyembunyikan rasa malu, mereka saling meneriakkan perintah mendesak.
Dengan harapan akan terhindar dari keributan, para penumpang menggerombol di sebuah sudut kapal. Aniaya yang diderita ketujuh orang di tepi sungai itu membesarkan hati mereka, sekalipun agak menimbulkan tanda tanya, tapi tak seorang pun berani bicara. Kemudian secara serentak semua kepala menoleh diiringi suara menggagap. Orang muda itu menancapkan galahnya ke dalam sungai dan melompat melintasi rumput mendoang, gerakannya lebih ringan daripada monyet tadi.
Kejadian ini lebih mengacaukan lagi. Tanpa sempat menyusun diri kembali, orang-orang Yoshioka segera menyerang musuh mereka dalam satu barisan. Serangan demikian justru memberikan kedudukan menguntungkan bagi si orang muda untuk bertahan.
Orang pertama sudah maju terlampau jauh untuk dapat mundur kembali, dan barulah ia menyadari kebodohan langkahnya. Pada saat itu segala keterampilan perang yang pernah dipelajarinya tak ada gunanya. Yang dapat diperbuatnya hanyalah memeringiskan gigi dan secara ngawur mengayun-ayunkan pedang di depan dirinya.
Sadar akan keuntungan psikologis yang dimilikinya, sosok pemuda tampan itu seakan tampak makin besar. Tangan kanannya di belakang mernegang gagang pedang, dan sikunya mencongak di atas bahunya.
°Oh, jadi kalian dari Perguruan Yoshioka? Bagus. Saya memang merasa seperti sudah kenal kalian. Seorang dari kalian sudah berkenan mengizinkan saya memotong gelungannya. Rupanya itu tak cukup buat kalian. Apa kalian semua datang buat potong rambut? Kalau memang begitu, saya yakin dapat membantu kalian. Kebetulan sebentar lagi saya mesti menajamkan pedang ini, jadi sebaik-nya saya manfaatkan kesempatan ini.”
Ketika kata-kata itu berakhir, Galah Pengering pun membelah udara, dan kemudian membelah tubuh pemain pedang terdekat yang merunduk.
Melihat kawannya terbantai demikian mudah, lumpuhlah otak mereka. Satu demi satu mereka mundur saling tunjang, seperti bola-bola yang saling ber-tumbukan. Dan mengambil keuntungan dari kedudukan mereka yang porak-poranda itu, si penyerang pun mengayunkan pedang ke samping, ke arah orang berikutnya, dan menjatuhkan pukulan demikian mantap hingga orang itu terjungkal ke rumput mendoang diiringi suara jeritan.
Orang muda itu membelalakkan mata kepada lima orang sisanya, yang sementara itu menyusun diri di sekitarnya bagai daun bunga. Mereka saling meyakinkan bahwa taktik mereka kali itu cukup aman, dan keyakinan mereka pulih, sampai-sampai berani mengejek orang muda itu lagi. Namun kali ini kata-kata mereka gemetar dan palsu.
Akhirnya, disertai teriakan keras, seorang dari mereka meloncat ke depan dan mengayunkan pedangnya. Ia yakin telah melakukan penebasan. Padahal ujung pedangnya masih dua kaki penuh jaraknya dari sasaran, dan kemudian mengakhiri gerak lengkungnya di sebuah batu karang dengan suara berdentang. Orang itu jatuh ke depan. Tubuhnya terbuka lebar untuk serangan.
Orang muda itu bukannya membantai mangsa yang demikian mudahnya. Ia melompat ke samping dan mengayunkan pedang ke arah orang berikut. Jeritan perang masih mendering di udara, tapi ketiga orang lain sudah angkat kaki seribu.
Dengan wajah kejam, orang muda itu berdiri memegang pedang dengan kedua tangannya. “Pengecut!” pekiknya. “Kembali ke sini dan ayo berkelahi! Apa ini Gaya Yoshioka yang kalian banggakan itu? Menantang seseorang, lalu melarikan diri? Tidak heran, Perguruan Yoshioka menjadi bahan tertawaan.”
Bagi samurai mana pun yang punya harga diri, penghinaan seperti itu lebih buruk daripada diludahi, tetapi bekas-bekas pengejar orang muda itu sudah terlampau sibuk berlari dan tidak memperhatikannya.
Justru pada waktu itu dari sekitar tanggul terdengar dering giring-giring kuda. Sungai dan embun beku di ladang memantulkan cukup banyak cahaya bagi pemuda itu untuk melihat sosok tubuh di punggung kuda dan sosok tubuh lain berlari-lari di belakangnya. Sekalipun napas beku mengepulngepul dari lubang hidungnya, mereka kelihatan tidak memperhatikan dinginnya udara dan terus melaju ke depan. Ketiga samurai yang melarikan diri hampir saja bertumbukan dengan kuda, ketika penunggang kuda itu mendadak sontak mengekang kudanya.
Kenal akan ketiga orang itu, Seijuro memberengut berang. “Apa yang kalian lakukan di sini?” salaknya. “Ke mana kalian lari?”
“Oh… oh, Tuan Muda!” seorang dari mereka menggagap.
Ueda Ryohei yang muncul dari balik kuda itu menyerang mereka. “Apa artinya ini? Kalian mestinya mengawal Tuan Muda, gerombolan tolol! Rupanya kalian terlalu sibuk ribut sesudah minum lagi, ya?”
Ketiga orang itu dengan marah memuntahkan cerita tentang bagaimana mereka mempertahankan kehormatan Perguruan Yoshioka dan gurunya, dan betapa mereka mengalami kegagalan berhadapan dengan samurai muda yang seperti setan itu. Jadi, mereka bukannya berkelahi karena mabuk.
“Lihat itu!” teriak seorang dari mereka. “Dia datang kemari.”
Mata-mata yang ketakutan memperhatikan musuh yang mendekat.
“Diam kalian!” perintah Ryohei dengan suara muak. “Terlalu banyak kalian bicara. Bagus sekali kalian melindungi kehormatan perguruan. Tak bakal kita bisa menebus dengan perbuatan macam itu. Minggir semua! Aku yang akan menghadapinya sendiri.” Ia mengambil jurus menantang, dan menanti.
Pemuda itu menuju ke arah mereka. “Berhenti kalian, dan ayo berkelahi!” teriaknya. “Apa lari itu seni bela diri Yoshioka? Secara pribadi tak ingin saya membunuh kalian, tapi Galah Pengering saya masih haus. Karena kalian pengecut, paling sedikit yang dapat kalian lakukan adalah meninggalkan kepala kalian.” Ia lari menyusur tanggul dengan langkah-langkah besar dan yakin, dan kelihatan akan melompati kepala Ryohei yang waktu itu sudah meludah ke tangan dan menggenggam kembali pedangnya penuh kemantapan.
Pada saat itulah pemuda itu terbang, sedangkan Ryohei mengeluarkan teriakan yang memekakkan telinga, mengangkat pedang ke atas jubah warna emas pemuda itu dan menebaskannya dengan ganas, tapi gagal.
Pemuda itu mendadak menghentikan gerakan, menoleh, dan teriaknya. “Apa ini? Orang baru?”
Ryohei terhuyung ke depan, terbawa oleh kecepatan ayunannya, dan pemuda itu menyapunya tanpa ampun lagi. Sepanjang hidupnya belum pernah Ryohei menyaksikan pukulan yang demikian hebat. Ia memang berhasil mengelakkan-nya pada waktunya, tapi terjungkal juga ia ke sawah. Untung baginya, karena tanggul itu cukup rendah dan sawah itu membeku. tapi ketika jatuh ia kehilangan senjatanya, dan dengan itu keyakinannya pula.
Ketika ia merangkak kembali ke atas, pemuda itu sedang bergerak dengan kekuatan dan kecepatan seekor macan yang sedang marah, memporak-porandakan ketiga murid itu dengan kilasan pedangnya dan sedang mendekati Seijuro.
Seijuro belum lagi merasa ngeri. Menurut pikirannya, segalanya akan berlalu sebelum ia sendiri terlibat. Tapi sekarang bahaya menyerang langsung dirimya dalam bentuk pedang yang tamak.
Terdorong oleh suatu ilham yang tiba-tiba datang, ia berteriak, “Ganryu! Tunggu!” ia lepaskan sebelah kakinya dari sanggurdi, ia naikkan ke pelana, dan berdirilah ia lurus-lurus. Kuda melompat ke depan, ke arah kepala pemuda itu, sedangkan Seijuro terbang ke belakang, mendarat dengan kedua kakinya sekitar tiga langkah jauhnya.
“Bukan main!” teriak orang muda itu kagum sekali, lalu mendekati Seijuro. “Biarpun kau musuhku, perbuatan tadi betul-betul bagus! Kau tentunya Seijuro sendiri. Jaga dirimu!”
Mata pedang panjang itu menjadi perwujudan semangat juang. Ia semakin mendekati Seijuro, namun sekalipun memiliki kelemahan-kelemahan, Seijuro adalah anak Kempo. Ia dapat menghadapi bahaya itu dengan tenang.
Kepada pemuda itu ia berkata yakin, “Kau Sasaki Kojiro dari Iwakuni. Benar seperti dugaanmu, aku Yoshioka Seijuro. Tak ada keinginanku berkelahi denganmu. Kalau benar-benar perlu, kita dapat mengundurkannya pada waktu lain. Sekarang ini aku cuma ingin mengetahui, apa sebab semua ini. Singkirkan pedangmu.”
Ketika Seijuro menyebutnya Ganryu, pemuda itu jelas tidak mendengarnya. Tapi sekarang, disebut Sasaki Kojiro itu ia pun terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu siapa aku?” tanyanya.
Seijuro menampar paha. “Aku tahu! Aku cuma menduga, tapi dugaanku betul!” Kemudian ia maju ke depan, dan katanya, “Senang sekali bertemu denganmu. Aku sudah banyak mendengar tentangmu.”
“Dari siapa?” tanya Kojiro.
“Dari teman seniormu, Ito Yagoro.”
“Oh, jadi kau ini temannya?”
“Ya. Sampai musim gugur lalu dia memiliki tempat pertapaan di Bukit Kagura di Shirakawa, dan aku sering mengunjunginya di sana. Dia beberapa kali juga berkunjung ke rumahku.”
Kojiro tersenyum. “Kalau begitu, ini tampaknya bukan pertemuan yang pertama lagi, ya?”
“Tidak. Ittosai agak sering menyebutmu. Dia mengatakan ada satu orang dari Iwakuni bernama Sasaki yang sudah mempelajari gaya Toda Seigen, dan kemudian belajar di bawah pimpinan Kanemaki Jisai. Dia mengatakan padaku, Sasaki murid termuda di perguruan Jisai, tapi suatu hari nanti akan menjadi satu¬satunya pemain pedang yang dapat menantang Ittosai.”
“Tapi aku masih belum mengerti, bagaimana bisa Anda mengetahui ini begitu cepat.”
“Nah, Anda muda dan cocok dengan gambaran itu. Melihat Anda mengguna-kan pedang panjang itu, aku ingat Anda disebut juga Ganryu—’Pohon Dedalu di Tepi Sungai’. Aku lalu mendapat firasat, tentu Anda-lah itu, dan aku benar.”
Sementara Kojiro mencecap gembira, matanya menoleh memandang pedangnya yang masih berdarah, yang mengingatkan kepadanya bahwa telah terjadi perkelahian, dan itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mereka akan menyelesaikan urusan itu. Namun nyatanya ia dan Seijuro telah bertemu demikian baik, hingga saling pengertian pun segera tercapai, dan beberapa menit kemudian mereka sudah berjalan bahu-membahu seperti sahabat lama. Di belakang mereka berjalan Ryohei dan tiga murid yang kesal hati. Rombongan kecil itu berjalan menuju Kyoto.
Kojiro berkata, “Dari semula aku tak mengerti, gara-gara apa perkelahian itu tadi. Aku tak punya soal dengan mereka.”
Pikiran Seijuro tertuju kepada tingkah laku Gion Toji baru-baru itu. “Aku muak dengan Toji,” katanya. “Kalau aku kembali nanti, akan kupanggil dia supaya bercerita. Kuharap Anda tidak menganggap aku dendam terhadap Anda. Aku betul-betul malu melihat orang-orang perguruanku kurang baik disiplinnya.”
“Nah, Anda sudah lihat sendiri, orang macam apa aku ini,” jawab Kojiro. “Bicaraku terlalu besar, dan aku selalu siap berkelahi dengan siapa saja. Murid-murid Anda bukan satu-satunya orang yang mesti dipersalahkan. Bahkan kukira Anda mesti memberikan pujian pada mereka karena telah berusaha mempertahankan nama baik perguruan. Sayang mereka itu tidak seberapa sebagai pejuang, tapi setidak¬tidaknya mereka sudah mencoba. Aku sedikit kasihan pada mereka.”
“Aku yang mesti dipersalahkan,” kata Seijuro polos. Wajahnya menampakkan rasa sakit yang sebenar¬benarnya.
“Mari kita lupakan semuanya.”
“Tak ada yang lebih menyenangkan bagiku.”
Bersatunya kedua orang itu mendatangkan kelegaan pada yang lain-lain. Siapa menyangka bahwa anak lelaki yang tampan dan tumbuh lebih besar dari seharusnya ini Sasaki Kojiro yang besar, yang oleh Ittosai dipuji-puji? (“Keajaiban Iwakuni”, begitulah yang dikatakannya). Tidak mengherankan kalau karena ketidaktahuannya, Toji tergoda untuk mempermainkannya sedikit. Dan tidak mengherankan bahwa akhirnya ia sendiri yang jadi tampak konyol.
Ryohei dan ketiga orang temannya menggigil kalau ingat betapa mereka hampir kena berondong Galah Pengering. Kini mata mereka telah terbuka. Melihat bidangnya bahu dan tegapnya punggung Kojiro itu mereka heran, bagaimana mungkin mereka telah berlaku demikian bodoh dengan menyepelekannya.
Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di tempat perhentian kapal. Mayat-mayat sudah membeku, dan ketiga orang itu ditugaskan menguburnya, sedangkan Ryohei pergi mencari kuda. Kojiro pergi bersiul-siul memanggil monyetnya. Tiba-tiba monyet itu muncul entah dari mana dan melompat ke bahu tuannya.
Seijuro tidak hanya mendesak Kojiro datang ke perguruannya di Jalan Shijo dan tinggal di sana sejenak, tapi juga menawarkan kudanya. Kojiro menolak.
“Kurang baik,” katanya. Sikap hormatnya tidak seperti biasa. “Aku cuma seorang ronin muda, sedangkan Anda guru sebuah perguruan besar, putra seorang terhormat, pemimpin beratus-ratus pengikut.” Sambil memegang kendali, ia melanjutkan, “Silakan, Andalah yang naik. Aku memegang kendali ini saja. Lebih mudah jalan begini. Kalau memang tidak keberatan, aku menerima tawaran Anda tinggal dengan Anda sebentar di Kyoto.”
Dengan sikap sopan santun yang sama, Seijuro berkata, “Nah, kalau begitu, aku naik sekarang, dan kalau kaki Anda lelah nanti, kita dapat bertukar tempat.”
Seijuro merasa ada baiknya pemain pedang seperti Sasaki Kojiro itu berada di sampingnya, pada saat ia terpaksa bertarung dengan Miyamoto Musashi pada permulaan Tahun Baru.
Gunung Rajawali
PADA tahun 1550-an dan 1560-an, pemain-pemain pedang besar yang paling terkenal di Jepang Timur adalah Tsukahara Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise, sedangkan saingannya di Honshu Tengah adalah Yoshioka Kempo dari Kyoto dan Yagyu Muneyoshi dari Yamato. Disamping itu ada Yang Dipertuan Kitabatake Tomonori dari Kuwana. seorang guru seni bela diri dan gubernur terkemuka. Lama sesudah ia meninggal, orang Kuwana masih berbicara tentang dirinya dengan rasa cinta, karena bagi mereka ia melambangkan hakikat pemerintahan yang baik dan kemakmuran.
Ketika Kitabatake masih belajar di bawah pimpinan Bokuden, yang terakhir ini menurunkan kepadanya Ilmu Pedang Tertinggi, yaitu rahasia tertinggi di antara jurus-jurus rahasia miliknya. Anak Bokuden, Tsukuhara Hikoshiro, mewarisi nama dan tanah milik ayahnya, tapi tidak mendapat warisan jurus rahasia itu. Itulah sebabnya mengapa Gaya Bokuden bukannya menyebar di timur, di mana Hikoshiro bergiat, melainkan di daerah Kuwana, di mana Kitabatake memerintah.
Konon, sesudah meninggalnya Bokuden, Hikoshiro datang ke Kuwana untuk mencoba memperdayakan Kitabatake agar membukakan jurus rahasia itu. “Ayah saya,” demikian kabarnya ia mengatakan, “dahulu mengajarkannya pada saya, dan saya diberitahu bahwa dia mengajarkannya juga pada Anda. Belakangan ini saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah yang diajarkan pada kita itu bukan barang yang sama. Karena rahasia-rahasia tertinggi dalam aliran kita jadi kepentingan bersama, apakah tidak sebaiknya kita membandingkan apa yang telah kita pelajari?”
Kitabatake segera menyadari maksud kurang baik pewaris Bokuden itu. namun ia cepat menyetujui memberikan demonstrasi. Rahasia yang diketahui Hikoshiro waktu itu hanyalah bentuk luar Ilmu Pedang Tertinggi, dan bukan rahasia yang paling dalam. Maka Kitabatake tetap merupakan satu-satunya guru Gaya Bokuden sejati, dan untuk mempelajarinya para murid harus pergi ke Kuwana. Di sebelah timur, Hikoshiro menurunkan kulit kosong lancung keterampilan ayahnya sebagai ajaran yang asli: suatu bentuk tanpa inti.
Atau demikianlah setidak-tidaknya cerita yang disampaikan pada setiap musafir yang kebetulan menginjakkan kaki di daerah Kuwana. Bukan cerita yang jelek, karena cerita-cerita seperti itu memang beredar, dan karena didasarkan pada fakta, maka cerita itu lebih dapat diterima dan kurang ngawur dibandingkan lautan cerita rakyat setempat yang disampaikan orang untuk menegaskan kembali keunikan kota-kota dan provinsi-provinsi yang mereka cintai.
Musashi yang sedang menuruni Gunung Tarusaka dalam perjalanan dari kota Kuwana mendengar cerita itu dari tukang kudanya. Ia mengangguk, dan katanya sopan, “Betul begitu? Menarik sekali!” Waktu itu pertengahan bulan terakhir. Sekalipun iklim Ise relatif hangat, namun angin yang berembus dari Teluk Nako dingin menggigit.
Ia hanya mengenakan kimono tipis. Pakaian dalamnya dari katun dan jubah tak berlengan. Berarti pakaian yang terlalu tipis untuk ukuran mana pun. Dan lagi jelas tampak kotor. Wajahnya bukan lagi berwarna perunggu, melainkan hitam terbakar matahari. Di atas kepalanya yang termakan cuaca, topi anyamannya yang sudah aus dan berumbai tampak berlebihan. Sekiranya ia membuang barang itu di jalan, tak seorang pun akan bersusah payah memungutnya. Rambutnya yang sudah berhari-hari tak dicuci, diikat ke belakang, tapi tetap masih seperti sarang burung. Apa pun yang dilakukannya selama enam bulan terakhir itu, menyebabkan kulitnya tampak seperti kulit yang tersamak baik. Matanya bersinar seperti mutiara putih di tengah lingkungannya yang segelap arang.
Tukang kuda sudah kuatir semenjak membawa penunggang kuda yang acak-acakan itu. Ia sangsi apakah akan menerima upah, dan yakin tak akan mendapat muatan pulang dari tempat jauh di tengah pegunungan itu.
“Tuan,” katanya agak takut-takut.
“Mm?”
“Kita akan sampai Yokkaichi sebelum tengah hari, dan sampai Kameyama petang hari. Sebelum sampai Desa Ujii, hari pasti sudah tengah malam.”
“Mm.”
“Tak apa-apa?”
“Mm.” Musashi waktu itu lebih tertarik pada pemandangan teluk daripada berbicara, hingga tukang kuda itu tidak memperoleh jawaban lebih dari anggukan kepala dan kata “Mm” yang tak berisi pendapat itu.
Tukang kuda mencoba lagi. “Ujii tak lebih dari dukuh kecil sekitar delapan mil masuk pegunungan dari punggung Gunung Suzuka. Bagaimana ceritanya sampai Tuan pergi ke tempat macam itu?”
“Saya pergi untuk menemui seseorang.”
“Tak ada siapa-siapa di sana, kecuali petani dan penebang kayu.”
“Di Kuwana saya dengar ada satu orang yang pandai sekali main rantaipeluru-sabit.”
“Saya kira Shishido.”
“Itu dia. Namanya Shishido apa?”
“Shishido Baiken.”
“Ya.”
“Dia pandai besi, biasa bikin sabit besar. Saya ingat pernah mendengar dia mahir sekali bikin senjata itu. Apa Tuan belajar seni bela diri?”
“Mm.”
“Oh, kalau begitu, daripada menemui Baiken, saya sarankan Tuan pergi ke Matsuzaka. Beberapa pemain pedang terbaik Provinsi Ise tinggal di sana.”
“Siapa misalnya?”
“Misalnya, Mikogami Tanzen.”
Musashi mengangguk. “Ya, saya pernah dengar.” Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, dan ini memberikan kesan bahwa ia kenal betul kemampuan-kemampuan besar Mikogami.
Sampai kota kecil Yokkaichi, ia berjalan terpincang-pincang kesakitan menuju sebuah warung, dan di situ ia memesan makan siang dan duduk makan. Kura-kura sebelah kakinya terbalut, karena telapak kakinya luka bernanah. Itulah sebabnya ia memilih menyewa kuda dan bukan berjalan. Walaupun biasanya ia selalu berhati-hati dengan tubuhnya, beberapa hari sebelumnya, di kota pelabuhan ramai Narumi terinjak olehnya papan berpaku. Kakinya yang merah bengkak itu tampak seperti kesemek asin, dan sejak kemarin ia demam.
Menurut jalan pikirannya, ia bertempur dengan sebuah paku, dan paku itu menang. Sebagai murid bela diri, ia merasa malu membiarkan dirinya kena paku tanpa sadar. “Apa tak ada jalan buat melawan musuh macam itu?” tanyanya beberapa kali kepada dirinya. “Paku itu mencongak ke atas dan kelihatan jelas. Aku menginjaknya karena aku setengah tertidur-tidak, aku buta, karena semangatku belum lagi aktif di seluruh tubuhku. Lebih dan itu, aku membiarkan paku itu menembus dalam, dan ini terbukti gerak reflekku lamban. Sekiranya aku menguasai sepenuhnya diriku, pasti aku sudah melihat paku itu begitu sandalku menyentuhnya.”
Persoalan yang dihadapinya adalah ketidakmatangan, demikian kesimpulannya. Tubuhnya dan pedangnya masih belum menjadi satu. Sekalipun kedua tangannya jadi semakin kuat dari hari ke hari, semangatnya dan bagian lain tubuhnya tidak selaras. Dalam kerangka pikiran yang mengecam diri pribadi ini, hal itu terasa olehnya sebagai kelainan yang melumpuhkan.
Namun demikian, ia tidak merasa membuang-buang waktu saja enam bulan lalu itu. Sesudah melarikan diri dari Yagyu, pertama-tama ia pergi ke Iga, kemudian ke jalan raya Omi, lalu menjelajahi Provinsi Mino dan Owari. Di setiap kota, di setiap ngarai gunung, ia berusaha menguasai Jalan Pedang yang sejati. Kadang¬kadang ia merasa sudah mencapainya, tapi rahasianya tetap saja sukar ditangkap; sesuatu yang tak dapat ditemukan tersembunyi di kota ataupun di ngarai.
Tak ingat lagi ia, dengan berapa banyak prajurit ia telah berbentrokan. Jumlahnya berlusin-lusin dan semuanya pemain pedang yang terlatih baik dan dari kelas tinggi. Tidak sukar menemukan pemain-pemain pedang cakap. Yang sukar ditemukan adalah manusia sejati. Dunia ini memang penuh orang, bahkan terlalu penuh, tapi menemukan seorang manusia sejati tidaklah mudah. Selama perjalanannya, Musashi menjadi yakin akan hal itu, seyakin-yakinnya, sampai terasa menyakitkan dan semangatnya mengendur. Namun demikian, pikirannya selalu kembali kepada Takuan, karena tak sangsi lagi dialah pribadi yang otentik, yang unik.
“Kukira aku beruntung,” pikir Musashi. “Setidaknya aku beruntung telah mengenal seorang manusia sejati. Aku harus membuat pengalaman mengenal dia itu membuahkan sesuatu.”
Manakala Musashi memikirkan Takuan, sejenis rasa nyeri menyebar dari pergelangan tangannya ke seluruh tubuhnya. Perasaan itu aneh, suatu kenangan psikologis akan saat ia terikat erat pada cabang pohon kriptomeria, “Tunggulah!” sumpah Musashi. “Sebentar lagi akan kuikat Takuan di pohon itu juga, dan aku akan duduk di tanah, mengkhotbahkan jalan hidup sejati kepadanya!” Bukannya ia benci kepada Takuan atau punya hasrat membalas dendam. Ia cuma ingin menunjukkan bahwa taraf yang dapat dicapai seseorang melalui Jalan Pedang lebih tinggi daripada yang dapat dicapai dengan mempraktekkan Zen. Musashi tersenyum memikirkan kemungkinan bahwa pada suatu hari nanti ia akan ganti menguasai biarawan eksentrik itu.
Tentu saja bisa terjadi bahwa segala sesuatu tidak berlangsung tepat seperti yang direncanakan, tapi sekiranya ia memang mendapat kemajuan besar, dan sekiranya pada akhirnya ia dapat mengikat Takuan di atas pohon dan menguliahinya, apa yang dapat dikatakan oleh Takuan? Sudah pasti ia akan berteriak girang dan menyatakan, “Bagus sekali! Aku bahagia sekarang.”
Tapi tidak, Takuan tak akan pernah bersikap langsung macam itu. Sebagai Takuan, ia akan tertawa dan katanya, “Bodoh kamu! Kau makin maju, tapi masih bodoh!”
Bagaimana persisnya kata-kata tidaklah menjadi persoalan benar. Persoalannya Musashi merasa, walaupun aneh, bahwa menghantam kepala Takuan dengan keunggulan pribadinya merupakan suatu keharusan, semacam utang terhadap biarawan itu. Khayalan itu cukup polos. Musashi telah menempuh jalannya sendiri, dan dari hari kehari ia menemukan betapa paniang dan sukarnya jalan menuju kemanusiaan sejati. Kalau sisi praktis dirinya mengingatkan ia betapa Takuan sudah jauh lebih lanjut menempuh jalan itu dibandingkan dengannya, maka khayalan itu pun lenyap.
Lebih mengguncangkan lagi apabila ia memikirkan betapa mentah dan tak layak dirinya dibandingkan dengan Sekhishusai. Memikirkan guru Yagyu tua itu membuatnya sinting dan sekaligus sedih. ia menjadi sadar sesadar-sadarnya akan ketidakmampuannya bicara tentang Jalan Kesempurnaan, tentang Seni Bela Diri atau yang lain lagi dengan penuh keyakinan.
Pada waktu-waktu seperti ini, dunia yang pernah dikiranya penuh orang bodoh itu kelihatannya besar menakutkan. Dan Musashi berkata pada diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah soal logika. Pedang bukan logika. Yang penting bukan bicara atau berspekulasi, melainkan beraksi. Mungkin saja ada orang-orang lain yang sekarang ini jauh lebih besar daripadanya, tapi ia pun bisa menjadi besar!
Apabila kesangsian terhadap diri sendiri sudah mengancam akan menenggelamkannya, maka Musashi biasa langsung pergi ke pegunungan dan hidup dengan dirinya dalam kesendirian itu. Gaya hidupnya di sana tampak jelas dari penampilannya ketika kembali ke peradaban-pipinya secekung pipi rusa, tubuhnya penuh cakaran dan luka memar, rambutnya kering dan kaku karena berjam-jam tersiram air terjun dingin. Ia jadi demikian kotor akibat tidur di tanah, sehingga giginya yang putih seakan-akan tidak berasal dari dunia. Namun semua itu hanyalah permukaan semata. Di dalam, ia menyala penuh keyakinan, hampir-hampir keangkuhan. dan meledak-ledak dengan hasrat menjumpai lawan yang berarti. Dan pencarian ujian atas keberanian inilah yang selalu membawanya turun dari pegunungan.
Ia dalam perjalanannya sekarang karena ingin tahu apakah ahli rantaipeluru-sabit Kuwana itu memang cakap. Dalam sepuluh hari yang masih tersisa sebelum ia memenuhi janjinya di Kyoto, masih ada waktu untuk melihat apakah Shishido Baiken sungguh seorang manusia sejati, ataukah sekadar cacing pemakan nasi juga, yang demikian banyaknya menghuni bumi ini?
Larut malam barulah ia sampai di tujuannya, jauh di pegunungan itu. Sesudah mengucapkan terima kasih, dikatakannya bahwa tukang kuda itu bebas untuk pergi, tapi karena sudah larut, si tukang kuda lebih suka mengawani Musashi ke rumah yang dicarinya dan menginap di bawah tepi atap. Esok harinya ia akan dapat turun dari Celah Suzuka, dan jika beruntung ia dapat mengambil penumpang kembali di jalan. Bagaimanapun, cuaca waktu itu terlalu dingin dan gelap untuk mencoba kembali sebelum matahari terbit.
Musashi sependapat dengannya. Mereka berada di sebuah lembah yang tertutup tiga sisinya. Jalan mana pun terpaksa mendaki pegunungan yang tertimbun salju setinggi lutut. “Kalau begitu,” kata Musashi, “ayolah ikut saya.”
“Ke rumah Shishido Baiken?”
“Ya..”
“Terima kasih, Tuan. Mari kita lihat, apa kita dapat menemukannya.”
Karena Baiken membuka bengkel, siapa pun di antara petani setempal dapat mengantar mereka ke rumahnya, tapi pada waktu malam seperti itu seluruh desa sedang tidur. Satu-satunya tanda kehidupan adalah bunyi godam yang secara teratur menghantam blok. Sesudah berjalan melintas, udara dingin mendekati bunyi itu, akhirnya mereka melihat cahaya.
Ternyata itu rumah pandai besi. Di depan terdapat timbunan logam tua: dan sisi bawah ujung atap hitam oleh asap. Atas perintah Musashi, tukang kuda membuka pintu dan masuk. Api menyala di dapur api dan seorang perempuan yang membelakangi api sedang menumbuk-numbuk kain.
“Selamat malam, Nyonya! Oh! Nyonya ada api. Bagus sekali!” Tukang kuda langsung menuju dapur api itu.
Perempuan itu terlompat karena tukang kuda yang mendadak masuk itu, dan menghentikan pekerjaannya. “Siapa pula ini?” tanyanya.
“Tunggu sebentar, saya jelaskan,” kata tukang kuda sambil memanaskan kedua tangannya. “Saya membawa seseorang dari jauh untuk bertemu dengan suami Nyonya. Kami baru saja sampai. Saya tukang kuda dari Kuwana.”
“Ya, tapi…” Perempuan itu memandang masam ke arah Musashi. Kerutan keningnya jelas menunjukkan bahwa ia sudah lebih dari cukup menjumpai shugyosha dan sudah tahu bagaimana menghadapi mereka. Dengan nada angkuh ia berkata kepada Musashi, seperti kepada anak kecil, “Tutup pintu! Bayiku bisa masuk angin kalau udara dingin itu masuk.”
Musashi membungkuk dan mematuhi perintah itu. Kemudian ia duduk di atas tunggul pohon di samping dapur api dan mengamati sekitarnyadari daerah penuangan best yang menghitam sampai ruangan tempat tinggal yang berkamar tiga. Pada sebuah papan yang dipakukan ke dinding tergantung sekitar sepuluh senjata rantai-peluru-sabit. Ia perkirakan itulah senjatanya, karena terus terang saja, ia belum pernah melihatnya. Alasannya yang lain mengadakan perjalanan kemari adalah karena ia berpendapat seorang murid semacam dirinya haruslah berkenalan dengan segala jenis senjata. Maka berkilau-kilaulah matanya karena rasa ingin tahu.
Perempuan yang umurnya sekitar tiga puluh tahun dan agak manis itu meletakkan palunya dan kembali ke daerah tempat tinggal. Musashi mengira ia akan membawakan teh, tapi ternyata ia pergi ke tikar tempat tidur seorang bayi, lalu mengangkat anak itu dan menyusuinya.
Kepada Musashi ia berkata, “Kukira kau ini samurai muda lain lagi yang datang kemari buat dibikin berlumuran darah oleh suamiku. Kalau betul begitu, kamu beruntung. Suamiku sedang pergi, jadi kamu tak perlu kuatir cerbunuh.” Ia tertawa riang.
Musashi tidak tertawa. Ia jengkel sekali. Ia datang ke desa terpencil ini bukan untuk dipermainkan oleh seorang perempuan. Menurut renungannya, semua perempuan cenderung keterlaluan melebihkan status suaminya. Perempuan ini lebih gawat daripada kebanyakan istri. Ia rupanya mengira suaminya orang terhebat di bumi ini.
Karena tak ingin melukai perasaannya, Musashi berkata, “Saya kecewa suami Nyonya tidak ada. Ke mana dia pergi?”
“Ke rumah Arakida.”
“Di mana itu?”
“Ha, ha! Kamu sudah datang di Ise, tapi belum tahu Keluarga Arakida?”
Waktu itu bayi di dadanya mulai rewel, dan tanpa menghiraukan, tamunya, perempuan itu menyanyikan lagu buaian dalam logat setempat.
Tidurlah, tidurlah Bayi tidur sungguh manis. Bayi jaga dan nangis, itu nakal Dan bikin ibunya nangis juga.
Karena menurut pikirannya, setidak-tidaknya ia bisa mempelajari sesuatu dari memperhatikan senjata¬senjata pandai besi itu, Musashi bertanya, “Apa ini senjata yang digunakan begitu fasihnya oleh suami Nyonya?”
Perempuan itu menggerutu, dan ketika Musashi minta dibolehkan memeriksanya, ia mengangguk, dan menggerutu lagi.
Musashi menurunkan satu senjata dari sangkutannya. “Jadi, inilah macamnya,” katanya, setengah pada diri sendiri. “Saya dengar orang banyak menggunakannya sekarang ini.” Senjata di tangannya itu terdiri atas satu batang logam yang panjangnya 60 cm (yang dengan mudah dapat disimpan di dalam obi). Ujungnya memakai cincin tempat menyangkutkan rantai. Di ujung lain rantai itu terdapat peluru logam yang berat, yang cukup kokoh untuk memecahkan tengkorak manusia. Di lekuk yang dalam pada salah satu sisi batang logam itu tampak punggung pisau. Ketika ia menarik benda itu dengan kukunya, benda itu melenting ke samping, seperti mata sabit. Dengan senjata itu, tidaklah sukar memotong kepala lawan.
“Kukira begini memegangnya,” kata Musashi seraya memegang sabit itu dengan tangan kiri dan rantai dengan tangan kanan. Sambil membayangkan seorang musuh di hadapannya, ia mengambil jurus dan menimbang-nimbang gerakan yang diperlukannya.
Perempuan itu mengalihkan matanya dari tempat tidur bayinya unruk memperhatikan, dan umpatnya, “Bukan begitu! Salah sekali!” Sambil menjejalkan buah dadanya kembali ke dalam kimononya, ia mendekat ke tempat Musashi berdiri. “Kalau kamu memegangnya begitu, orang yang bersenjata pedang bisa menebasmu tanpa kesulitan sama sekali. Pegang begini.”
Ia merebut senjata itu dari tangan Musashi dan memperlihatkan padanya bagaimana cara berdiri. Musashi tak suka melihat seorang perempuan mengambil jurus tempur dengan senjata yang demikian brutal. la memandang dengan mulut menganga. Ketika menyusui bayinya tadi, perempuan itu tampak betul-betul seperti sapi, tapi sekarang sesudah siap tempur ia tampak gagah, bermartabat, dan, ya, bahkan cantik. Sementara memperhatikan, Musashi melihat bahwa pada pedang berwarna biru kehitaman seperti punggung ikan makerel itu terdapat tulisan yang bunyinya, “Gaya Shishido Yaegaki”.
Perempuan itu mengambil jurus tersebut hanya sesaat. “Yah, kira-kira seperti itulah,” katanya sambil melipatkan kembali pisau itu ke dalam gagangnya dan menggantungkan senjata itu ke sangkutannya.
Musashi ingin melihatnya menggunakan alat itu lagi, tapi perempuan itu jelas tak punya keinginan melakukannya. Sesudah membersihkan dinding, ia kembali sibuk dengan pekerjaan di dekat bak cuci. Ia mencuci pecah belah atau bersiap memasak sesuatu.
“Kalau perempuan ini dapat mengambil jurus demikian mengesankan,” pikir Musashi, “suaminya tentunya benar-benar patut dilihat.” Maka hampir tak sabar lagi ia ingin menjumpai Baiken, dan pelan-pelan ia bertanya kepada tukang kuda mengenai Keluarga Arakida. Sambil bersandar ke dinding dan menghangatkan diri pada panas api, tukang kuda menyatakan dengan suara gumam bahwa mereka itu keluarga yang ditugaskan mengawal Biara Ise.
Kalau ini benar, demikian pikir Musashi, tak akan sukar menemukan tempat mereka itu. Ia mengambil keputusan untuk mencarinya, lalu melingkarkan diri di tikar dekat api dan tidur.
Pagi-pagi, magang pandai besi itu bangun dan membuka luar bengkel. Musashi bangun juga dan minta kepada tukang kuda agar membawanya ke Yamada, kota terdekat dengan Biara Ise. Puas karena telah dibayar hari sebelumnya, tukang kuda segera menyetujui.
Petang hari mereka sudah sampai di jalan panjang berapit pohon yang menuju biara itu. Warung-warung teh di situ tampak sangat sepi, bahkan juga untuk musim dingin. Hanya sedikit orang berjalan, dan jalan itu sendiri dalam keadaan buruk. Sejumlah pohon yang tumbang oleh badai musim gugur masih menggeletak di tempat tumbangnya.
Dari rumah penginapan di Yamada, Musashi mengirim seorang pesuruh untuk bertanya ke rumah Arakida, apakah Shishido Baiken tinggal di sana. Jawaban yang datang menyatakan bahwa tentunya telah terjadi kekeliruan. Tak seorang pun yang namanya demikian ada di sana. Karena kecewa, Musashi mengalihkan perhatian kepada kakinya yang luka, yang dalam semalam itu sudah sangat membengkak.
Ia gusar karena tinggal beberapa hari lagi waktu yang tersisa baginya untuk berada di Kyoto. Dalam surat tantangan yang dikirimkannya kepada Sekolah Yoshioka dari Nagoya, ia menyerahkan pada mereka untuk memilih salah satu hari dalam minggu pertama Tahun Baru. Ia tak dapat menolak sekarang dengan alasan kaki sakit. Disamping itu, ia berjanji menjumpai Matahachi di jembatan Jalan Gojo.
Sepanjang hari berikutnya ia gunakan untuk menerapkan obat yang pernah didengarnya. Ampas tahu ia masukkan dalam kantong kain, ia peras sampai keluar airnya, dan ia rendam kakinya dalam air itu. Namun tak ada perbaikan. Bahkan lebih buruk lagi bahwa bau tahu itu memualkan. Sibuk mengurusi kakinya, ia mengeluh atas kebodohannya telah menyeleweng pergi ke Ise. Mestinya ia langsung ke Kyoto.
Malam itu kakinya ia bungkus di bawah selimut. Demamnya menanjak dan rasa nyerinya tak tertahankan lagi. Pagi berikutnya dengan putus asa ia cobakan resep-resep lain, termasuk mengoleskan obat seperti minyak pemberian pemilik rumah penginapan. Orang itu berani bersumpah bahwa keluarganya telah menggunakannya beberapa generasi. Namun bengkak tidak juga surut. Kakinya tampak seperti gumpalan tahu besar membengkak. dan rasanya sudah seberat balok kayu.
Pengalaman itu menyebabkan ia berpikir. Tidak pernah dalam hidupnya ia terbaring tiga hari lamanya. Selain bisul yang pernah dipunyainya di kepala semasa kanak-kanak, menurut ingatannya tak pernah ia sakit.
“Sakit adalah sejenis musuh yang paling jahat,” demikian pikirnya. “Namun tak berdaya aku dalam genggamannya.” Sampai sekarang ia menduga musuh-musuhnya akan selalu datang dari luar, maka kenyataan bahwa ia dibikin lumpuh oleh musuh dari dalam, baginya sungguh baru dan memaksanya untuk berpikir.
“Tinggal berapa hari lagi tahun ini?” demikian ia bertanya-tanya. “Tak bisa aku hanya tinggal di sini membuang-buang waktu!” Dalam keadaan terbaring dengan perasaan jengkel itu, tulang-tulang rusuknya terasa seperti menekan jantungnya dan dadanya terasa mengerut. ia tendang selimut dari kakinya yang bengkak. “Kalau menendang ini saja aku tak dapat, bagaimana bisa aku mengalahkan seluruh Keluarga Yoshioka?”
Ia membayangkan akan menghimpit dan mencekik setan di dalam dirinya. Ia memaksa dirinya duduk bersimpuh dalam gaya resmi. Sakit rasanya, sakit sekali. Hampir-hampir pingsan. Ia menghadap jendela, tapi dengan menutup mata.
Cukup lama waktu berlalu, sebelum akhirnya warna merah pada wajahnya mulai berkurang dan kepalanya mendingin sedikit. Ia bertanya pada diri sendiri, apakah setan akan menyerah pada kegigihannya yang pantang menyerah itu.
Ketika membuka mata, tampaklah di hadapannya hutan sekitar Biara Ise. Di seberang pepohonan terlihat olehnya Gunung Mai, dan sedikit ke timur Gunung Asama. Menjulang di atas pegunungan di antara kedua gunung itu tampak sebuah puncak yang menatap dengan pandangan merendahkan kepada gunung-gunung di sekitarnya, dan menatap pula kepada Musash dengan kurang ajarnya.
“Itu burung rajawali,” pikir Musashi, tanpa mengetahui bahwa namanva memang Gunung Rajawali. Penampilan puncak gunung yang congkak itu menyinggung perasaannya. Gayanya yang sombong itu mengejeknya, hingga semangat juangnya sekali lagi tergelitik. Maka terpikirlah olehnya Yagyu Sekishusai, pemain pedang tua yang mirip dengan puncak angkuh ini. Lama-kelamaan mulai kelihatan olehnya bahwa puncak itu memang Sekishusai yang sedang memandang kepadanya dan atas awan-awan, menertawakan kelemahan dan kekerdilannya.
Selagi memandang gunung itu, untuk sementara ia lupa akan kakinya, tapi segera kemudian rasa nyeri mendesak kembali ke dalam kesadarannya. Sekiranya ia hantamkan kakinya ke api bengkel pandai besi itu, pasti tak terasa sakit lagi, demikian pikirnya sedih. Tanpa dikehendakinya, ia tarik kaki yang besar bulat itu dari bawah dirinya dan ia tatap. Tak hendak ia menerima kenyataan bahwa kaki itu benar-benar sebagian dari dirinya.
Dengan suara keras ia panggil pesuruh. Ketika tidak cepat muncul, ia pukul tatami dengan tinjunya. “Di mana saja semua orang ini?” pekiknya. “Aku mau pergi dari sini! Mana rekening! Sediakan makanan-nasi gorengdan bawakan aku tiga pasang sandal jerami yang berat!”
Sebentar kemudian ia sudah ada di jalan, terpincang-pincang melewati lapangan pasar. Di situlah tentunya dilahirkan prajurit terkenal Tairo no Tadakiyo, pahlawan “Cerita Perang Hogen”. Tapi sekarang sedikit saja yang mengingatkan orang bahwa tempat itu tempat lahir para pahlawan. Sekarang rempat itu lebih mirip bordil terbuka yang didereti warung-warung teh dan dikerumuni perempuan. Lebih banyak perempuan penggoda berdiri di sepanjang jalan itu daripada pohon. Mereka memanggil-maggil orang lewat dan mencekal lengan baju calon-calon korban yang lewat, sambil mencumbu, membujuk, dan menggoda. Untuk sampai ke biara itu, Musashi betul-betul harus berjuang melintasi mereka sambil merengut dan menghindari pandangan mereka yang tak sopan itu.
“Kenapa kakimu?”
“Apa mau saya obati?”
“Sini, biar saya gosoki!”
Mereka menarik-narik pakaiannya, mencengkeram tangannya, menggenggam tangannya.
“Lelaki tampan takkan sampai ke mana-mana dengan mengerutkan dahi macam itu!”
Musashi menjadi merah mukanya dan menghuyungkan diri dengan membuta. Sama sekali tak bisa ia bertahan terhadap serangan macam itu, dan ia minta maaf pada sebagian dan mereka, dan dengan sopan menyatakan menyesal pada yang lain. Semua itu hanya membikin perempuan-perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh. Ketika seorang dari mereka mengatakan bahwa Musashi “semungil anak macan tutul!”, serangan tangan-tangan putih itu menjadi gencar. Akhirnya ia tak peduli lagi dengan segala macam topeng harga diri, dan ia pun lari, bahkan ia tak mau berhenti memungut topinya ketika topi itu terlepas dari kepalanya. Maka suara-suara mengikik mengikutinya di antara pepohonan di luar kota itu.
Tidak mungkin bagi Musashi mengabaikan perempuan. Rangsangan yang ditimbulkan oleh tangan-tangan yang mencakar-cakar itu lama baru bisa reda. Ingatan tentang bau bedak putih yang tajam tentu saja sudah dapat membuat detak nadinya menggebu, dan usaha mental macam apa pun darinya takkan dapat menenangkannya. Itu ancaman yang lebih besar dibandingkan dengan musuh yang berdiri dengan pedang terhunus di hadapannya. Betul-betul ia tak tahu bagaimana mengatasinya. Belakangan, apabila tubuhnya menyala oleh birahi, sepanjang malam ia gelisah. Bahkan Otsu yang polos itu pun kadang-kadang menjadi khayalnya yang penuh nafsu.
Hari ini kakinya memaksanya melepaskan pikiran tentang perempuan, tapi melarikan diri dari mereka dalam keadaan hampir tak dapat berjalan itu sama saja dengan menyeberangi kancah logam cair panas. Setiap langkah yang diambilnya berarti tikaman derita di kepala, yang berasal dari telapak kaki. Bibirnya memerah, tangannya jadi selengket madu, dan bau rambutnya menyengat karena keringat. Mengangkat kaki yang luka itu saja menghabiskan seluruh tenaga yang dapat ia kerahkan. Kadang-kadang ia merasa seolah tubuhnya tiba-tiba akan pecah berantakan. Bukannya ia berkhayal. Ia sudah tahu ketika meninggalkan rumah penginapan itu bahwa ini akan merupakan siksaan baginya, dan ia bermaksud mengatasinya. Bagaimanapun ia sudah berhasil tetap mengendalikan diri, walaupun tiap kali menyeret kaki sial itu ia mengutuk pelan.
Menyeberangi Sungai Isuzu dan memasuki pekarangan biara itu mendatangkan perubahan suasana yang menyenangkan. Ia merasakan suasana suci dalam tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, bahkan juga dalam suara burung-burung. Apakah itu, pada hakikatnya, tak dapat ia mengatakan, tapi ia ada di sana.
Ia rebah di akar sebatang pohon kriptomeria besar, sambil merintih pelan kesakitan dan memegangi kaki dengan kedua tangannya. Lama ia duduk di sana tak bergerak-gerak, seperti batu karang. Tubuhnya menyala demam, sekalipun kulitnya tersengat oleh angin dingin.
Kenapakah ia tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melarikan diri dari rumah penginapan itu? Orang normal mana pun akan tetap tinggal di sana tenang-tenang, sampai kakinya terobati. Apakah itu tidak kekanak¬kanakan. bahkan bodoh, bahwa seorang dewasa membiarkan dirinya dikuasai ketidaksabaran?
Namun bukan ketidaksabaran itu semata-mata yang menggerakkannya. Yang menggerakkannya adalah kebutuhan spiritual, dan kebutuhan yang sangat dalam. Kendati dilanda nyeri dan derita fisik, semangat Musashi pekat dan berdetak penuh daya hidup. Ia angkatkan kepala, dan dengan mata nyalang ia pandang kehampaan di sekitarnya.
Lewat rintihan pohon-pohon besar yang suram dan tak henti-hentinya terdengar di hutan suci itu telinga Musashi menangkap bunyi lain. Tidak berapa jauh, entah di mana, seruling dan buluh menyuarakan musik kuno, musik persembahan bagi para dewa, sementara suara anak-anak yang halus menvanyikan doa suci. Tertarik oleh bunyi damai ini Musashi mencoba berdiri. Sambil menggigit bibir ia memaksakan diri berdiri, walau tubuhnya yang enggan itu menolak setiap gerak. Sesudah mencapai dinding tanah gedung biara, diraihnya dinding itu dengan kedua tangan dan berusaha merayap dengan gerakan kepiting yang kaku.
Musik itu berasal dari bangunan yang agak lebih jauh letaknya. Seberkas cahaya bersinar lewat jendelanya yang berkisi-kisi. Wisma Para Perawan ini dihuni gadis-gadis muda yang mengabdi kepada dewa-dewa. Di sini mereka berlatih memainkan alat-alat musik kuno dan belajar menarikan tari-tarian suci yang diciptakan berabad-abad sebelumnya.
Musashi mendekati pintu belakang bangunan itu. Ia berhenti dan memandang ke dalam, tapi tak melihat seorang pun. Merasa lega karena tidak harus memberikan keterangan tentang dirinya, ia melepaskan pedang dan bungkusan dari punggungnya. Semua itu diikat bersama dan digantungkannya pada sangkutan di dinding dalam. Dalam keadaan tanpa beban itu ia letakkan kedua tangannya di pinggul dan ia berjalan terpincang-pincang kembali ke Sungai Isuzu.
Kira-kira sejam kemudian, bertelanjang bulat, ia pecahkan es di permukaan sungai dan ia ceburkan dirinya ke air dingin itu. Di sana ia diam, berkecipak, dan membasuh badan, mencelupkan kepala dan memurnikan diri. Untung tak seorang pun ada di sekitar. Pendeta yang lewat bisa-bisa menduga ia sudah gila dan mengusirnya.
Menurut legenda Ise, seorang pemanah bernama Nikki Yoshinaga dahulu kala menyerang dan menduduki sebagian wilayah Biara Ise. Merasa sudah mantap, ia memancing di Sungai Isuzu yang suci dan menggunakan burung elang pemburu untuk menangkap burung-burung kecil di hutan suci itu. Karena melakukan penjarahan yang melanggar kesucian ini, demikian kata legenda itu, ia menjadi gila sama sekali. Musashi yang berbuat seperti orang itu dapat dengan mudah dikira hantu orang gila itu.
Ketika akhirnya ia melompat ke atas batu, ia dapat melakukan lompatan itu dengan ringannya, seperti seekor burung kecil. Sementara ia mengeringkan diri dan mengenakan pakaian, helai rambut di sepanjang dahinya kaku menjadi kerat-kerat es.
Bagi Musashi, mencemplungkan diri ke sungai suci itu penting. Kalau tubuhnya tak dapat menahan dingin, bagaimana mungkin ia bertahan terhadap halangan-halangan yang lebih mengancam hidup? Dan pada saat ini persoalannya bukanlah kemungkinan masa depan yang abstrak, melainkan kemungkinan menghadapi Yoshioka Seijuro yang sangat nyata, beserta seluruh pengikutnya. Mereka akan mengerahkan setiap daya yang ada pada mereka terhadapnya. Mereka harus berbuat demikian untuk menyelamatkan muka. Mereka tahu bahwa mereka tak punya pilihan lain kecual membunuhnya, dan Musashi tahu bahwa untuk menyelamatkan nyawanya ia harus menggunakan muslihat.
Menghadapi kemungkinan seperti ini, samurai pada umumnya pasti akan bicara tentang “berkelahi dengan segala tenaga” atau “siap menghadapi maut”, tapi menurut jalan pikiran Musashi semua itu omong kosong belaka. Memenangkan perkelahian hidup atau mati dengan segala kekuatan tidaklah lebih dari naluri binatang. Lagi pula, walau tidak kehilangan keseimbangan menghadapi mati merupakan keadaan mental yang tinggi tarafnya, sesungguhnya tidaklah begitu sukar menghadapi maut, kalau ia sudah tahu bahwa la harus mati.
Musashi tidak takut mati, tapi tujuannya memang mutlak, bukan sekadar hidup, dan ia mencoba membangun keyakinan untuk berbuat demikian. Biarlah orang lain gugur secara heroik, kalau itu cocok buat mereka. Musashi hanya mau membereskan pertempuran dengan kemenangan heroik.
Kyoto tidak jauh, tidak lebih dari tujuh puluh atau delapan puluh mil. Kalau ia dapat menjaga langkah, ia bisa sampai di sana dalam tiga hari. Namun waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan diri secara spiritual tidaklah dapat ditakar. Apakah secara mental ia sudah siap? Apakah pikiran dan semangatnya sudah benar¬benar satu?
Musashi belum dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini secara positif. Ia merasa bahwa jauh di dalam dirinya terdapat kelemahan, yaitu karena ia tahu dirinya belum matang. ia sadar, dan itu mengecewakannya, bahwa ia belum mencapai taraf pikiran seorang guru sejati, bahwa ia masih jauh dari seorang manusia yang lengkap dan sempurna. Apabila ia membandingkan dirinya dengan Nikkan atau Sekishusai atau Takuan, tak dapat ia mengelak dari kebenaran sederhana ini: ia masih hijau! Analisis yang dilakukannya sendiri atas kemampuan dan sifat-sifat dirinya tidak hanya mengungkapkan kelemahan di beberapa bidang, melainkan juga kekurangan dalam bidang-bidang lain.
Tubuhnya bergetar ketika ia memekik, “Aku harus menang, aku harus menang!” Sambil berjalan terpincang¬pincang memudiki Sungai Isuzu, ia memekik lagi agar semua pohon di hutan suci itu mendengar, “Aku harus menang!” Ia melintasi air terjun yang tenang dan beku, dan seperti manusia primitif ia merangkak ke atas batu-batu besar dan bersusah payah menerobos semak-semak rimbun di ngarai yang dalam, yang sebelumnya tak banyak ditempuh orang.
Wajahnya semerah wajah setan. Hanya dengan mengerahkan segala tenaga, baru ia dapat maju selangkah, itu pun dengan bergayut pada batu dan tumbuhan menjalar.
Di seberang tempat bernama Ichinose terdapat jurang yang panjangnya lima atau enam ratus meter, penuh dengan tebing terjal dan riam, hingga ikan forsel pun tak dapat melintasinya. Di ujungnya menjulang tebing yang hampir terjal. Orang bilang hanya monyet dan peri dapat memanjatnva.
Musashi memandang batu karang itu, dan katanya tanpa khayal, “Ini dia jalan ke Gunung Rajawali.”
Ia gembira melihat tak ada rintangan tak tertembus di sini. Berpegangan pada tumbuhan menjalar yang kuat, ia mulai mendaki permukaan batu karang, setengah memanjat setengah berayun, seolah disangga oleh suatu gaya berat terbalik.
Sesampainya di puncak karang meledaklah pekik kemenangan darinya. Dari sana terlihat olehnya aliran sungai yang putih dan pesisir perak sepanjang pantai Futamigaura. Dan di hadapannya, di seberang belukar jarang yang berselimut kabut malam, tampak olehnva kaki Gunung Rajawali.
Gunung itu Sekishusai. Dulu ia tertawa ketika Musashi terbaring di tempat tidur, dan kini puncaknya melanjutkan ejekan itu. Maka semangat Musashi yang tak kenal menyerah betul-betul tersengat oleh keunggulan Sekishusai. Serangan itu menindasnya, menyeretnya mundur.
Berangsur-angsur terbentuklah tujuan dalam dirinya: mendaki sampai puncak dan melampiaskan dendam, menginjak-injak seenaknya kepala Sekishusai, untuk menunjukkan kepadanya bahwa Musashi dapat dan harus menang.
Majulah ia menentang perlawanan rumput liar, pohon, es—musuh-musuh yang mencoba mati-matian menyeretnya mundur. Setiap langkah, setiap napas, merupakan tantangan. Darahnya yang belum lama ini kedinginan kini mendidih dan tubuhnya mengepul ketika keringat yang keluar dari pori-porinya berjumpa dengan udara dingin. Musashi memeluk permukaan puncak yang merah warnanya itu sambil mencari-cari pijakan kaki. Setiap kali ia merasa sudah ada pijakan itu, batu-batu kecil menghujan, menimpa belukar di bawah. Seratus kaki, dua ratus, tiga ratus—ia kini di tengah awan-awan. Apabila awan-awan itu bersibak, dari bawah ia tampak seperti tergantung di awang-awang tanpa berat. Puncak gunung menatap dingin kepadanya.
Kini, setelah dekat ke puncak tertinggi, ia pegang teguh hidupnya tercinta. Satu saja gerakan keliru akan membuatnya melayang ke riam karang dan batu-batu besar. Napasnya terengah-engah, mendesir-desir, bahkan ia melahap udara dengan pori-porinya. Demikian pekat tegangan yang dialaminya, hingga jantungnya serasa akan naik dan meledak dari mulutnya. la hanya dapat memanjat beberapa kaki, lalu berhenti, beberapa kaki, lalu berhenti lagi.
Seluruh dunia terhampar di bawahnya: hutan besar yang memagari tempat suci, jalur putih yang tentunya sungai, Gunung Asama, Gunung Mae, kampung nelayan Toba, dan lautan terbuka luas. “Hampir sampai,” pikirnya. “Sedikit lagi!”
“Sedikit lagi.” Alangkah mudah dikatakan, tapi alangkah sukar dicapai! Karena “sedikit lagi” itulah yang membedakan pedang kemenangan dengan pedang yang kalah.
Karena bau keringat, ia mulai samar-samar merasa sedang bersarang di dada ibunya. Permukaan gunung yang kasar mulai terasa seperti kulit ibunya, dan ia jadi ingin sekali tidur. Tapi justru pada waktu itu sebutir batu di bawah ibu jari kakinya terlepas dan membuatnya sadar kembali. Ia mencari-cari pijakan lain.
“Ini dia! Hampir sampai!” Dengan kaki-tangan kejang dan sakit, kembali ia mencakar gunung itu. Kalau tubuh dan daya kemauannya melemah, demikian dikatakannya kepada dirinya, maka sebagai pemain pedang pasti pada suatu hari ia akan terbunuh. Di sinilah pertandingan akan ditentukan, dan Musashi tahu itu.
“Ini untukmu, Sekishusai! Untukmu, bajingan!” Dengan segala daya yang ada padanya ia kutuki raksasa¬raksasa yang dihormatinya, para superman yang telah menyebabkannya datang kemari, para superman yang harus dan akan ditaklukkannya. “Satu untukmu, Nikkan! Dan untukmu, Takuan!”
Ia panjati kepala berhala-berhala itu, ia injak-injak dan ia tunjukkan pada mereka siapa yang terbaik di antara mereka. ia dan gunung itu kini satu, tapi seolah-olah heran melihat mahluk ini mencakarnya, gunung itu menggertak dan meludahkan longsoran batu kerikil dan pasir. Napas Musashi terhenti, seakan seseorang menepukkan tangan ke mukanya. Sementara ia bergayut pada batu karang itu, angin berembus, mengancam meniupnya bersama batu karang dan segalanya.
Kemudian tiba-tiba ia sudah tengkurap, matanya terpejam tak berani bergerak. Tapi dalam hatinya ia menyanyikan lagu kegembiraan meluap. Dan setelah meluruskan badan, ia memandang ke segala jurusan, dan cahaya fajar tiba-tiba tampak di tengah lautan awan putih di bawahnya.
“Berhasil! Aku menang!”
Begitu ia sadar telah mencapai puncak, begitu daya kemauannya yang sudah menegang itu mendetak seperti tali busur. Angin di puncak tertinggi menghujani punggungnya dengan pasir dan batu. Di sinilah, di perbatasan antara langit dan bumi, Musashi merasa bahwa kegembiraan yang tak terlukiskan membengkak memenuhi seluruh dirinya. Tubuhnya yang basah kuyup oleh keringat kini tersatukan dengan permukaan gunung. Semangat manusia dan gunung kini sedang melaksanakan karya cipta yang agung di keluasan alam tak terbatas di waktu fajar. Dan dalam selimut kegembiraan meluap yang surgawi itu, tidurlah ia dengan damai.
Ketika akhirnya ia mengangkat kepala, pikirannya pun semurni dan sejernih kristal. Mendadak ia ingin melompat dan melejit ke sana kemari seperti ikan mino di sungai.
“Tak ada apa pun lagi di atasku!” teriaknya. “Aku sekarang berdiri di atas kepala rajawali!”
Matahari pagi yang baru muncul menyinarkan cahaya kemerahan kepadanya dan kepada gunung itu, sementara ia merentangkan tangannya yang berotot dan liar ke langit. Ia pandang kakinya yang terhujam teguh ke puncak tertinggi, dan waktu itu tampak olehnya seolah seember penuh nanah kekuningan merembes dari kakinya yang cedera. Di tengah kemurnian angkasa yang mengitarinya, membubunglah napas kemanusiaan—napas manis kegelapan yang telah terhalau.
bagian 12
Ngengat di Musim Dingin
TIAP hari, sesudah menyelesaikan kewajiban di biara, para gadis yang hidup di Wisma Perawan dengan buku di tangan pergi ke ruang belajar di rumah Arakida. Di sana mereka belajar tata bahasa dan berlatih menulis sajak. Untuk menarikan tari-tarian keagamaan, mereka mengenakan kimono sutra putih dengan celana bertepi lebar merah tua yang disebut hakama. Tapi sekarang mereka berkimono lengan pendek dan berhakama katun putih, yang biasa mereka kenakan pada waktu belajar atau melakukan pekerjaan rumah tangga.
Sekelompok gadis menghambur keluar dari pintu belakang, dan tiba-tiba seorang di antaranya berseru, “Apa itu?” dan menuding bungkusan serta pedang yang terikat di sana, yang pada malam sebelumnya digantungkan Musashi.
“Punya siapa itu menurutmu?”
“Mestinya punya samurai.”
“Sudah pasti.”
“Tidak, bisa juga pencuri yang meninggalkannya di sini.”
Mereka berpandangan dan menahan napas, seakan-akan menemukan begal itu sendiri yang berikat kepala kulit dan sedang tidur slang. “Barangkali kita mesti memberitahu Otsu,” saran seorang di antaranya, dan dengan persetujuan bersama mereka berlari kembali ke asrama dan berseru dari bawah susuran tangga di luar kamar Otsu.
“Sensei! Sensei! Ada yang aneh di bawah sini. Coba lihat sini!”
Otsu meletakkan kuas tulisnya di meja dan menjulurkan kepala ke luar jendela. “Ada apa?” tanyanya.
“Ada pencuri meninggalkan pedang dan bungkusan. Keduanya di sana, tergantung di dinding belakang.”
“Ha? Lebih baik itu kalian bawa ke rumah Arakida.”
“Ah, jangan! Kami takut memegangnya.”
“Itu namanya ribut tak keruan saja. Ayo belajar sana, dan jangan buangbuang waktu lagi.”
Begitu Otsu turun dari kamarnya, gadis-gadis itu sudah pergi. Yang tinggal di asrama itu hanyalah perempuan tua juru masak dan seorang gadis yang sakit. “Barang-barang siapa yang tergantung di sini ini?” tanya Otsu kepada juru masak.
Juru masak tentu saja tidak tahu.
“Biar kubawa ke rumah Arakida,” kata Otsu. Ketika ia turun membawa bungkusan dan pedang itu, hampir saja barang-barang itu terjatuh karena beratnya. Mengangkat barang itu ia merasa heran, bagaimana kaum pria biasa berjalan membawa beban seberat itu.
Otsu dan Jotaro datang ke tempat itu dua bulan sebelumnya, sesudah mondar-mandir di Jalan Iga, Omi, dan Mino mencari Musashi. Sesampai di Ise, mereka putuskan untuk menetap selama menanti musim dingin, karena akan sukar berjalan menerobos pegunungan selagi ada salju. Semula Otsu memberikan pelajaran suling di daerah Toba, tapi kemudian ia menarik minat kepala Keluarga Arakida, yang sebagai pemimpin upacara resmi menduduki tempat kedua sesudah pendeta kepala.
Ketika Arakida meminta Otsu datang ke biara untuk mengajar gadis-gadis itu, ia pun menerima, bukan karena ingin mengajar, melainkan karena berminat mempelajari musik kuno, musik suci. Juga, kedamaian hutan tempat suci itu telah mengimbaunya; dan lagi ia ingin tinggal beberapa waktu lamanya bersama gadis¬gadis di tempat suci itu, yang umurnya sekurang-kurangnya tiga betas atau empat betas tahun, dan sebanyak-banyaknya sekitar dua puluh.
Jotaro sebetulnya menjadi penghalang Otsu menerima jabatan itu, karena ada larangan menerima lelaki tinggal di asrama anak-anak perempuan, sekalipun umurnya masih muda. Akhirnya keputusan yang mereka ambil adalah, slang hari Jotaro menyapu pekarangan suci dan malam hari menginap di gudang kayu Keluarga Arakida.
Ketika Otsu melintasi halaman biara, angin yang menakutkan dan lain dari biasanya bersiul di antara pepohonan yang tak berdaun. Seberkas asap naik dari sebuah belukar di kejauhan. Terpikir oleh Otsu, barangkali Jotaro di sana sedang menyapu pekarangan dengan sapu bambunya. Ia berhenti dan tersenyum, ia merasa senang bahwa Jotaro yang wataknya sukar diubah, hari-hari itu patuh sekali dan dengan penuh tanggung jawab menyesuaikan diri dengan pekerjaan, justru pada umur ketika anak-anak lelaki hanya senang bermain dan menyenang-nyenangkan diri.
Bunyi gemeretak keras yang didengarnya itu mirip bunyi cabang pohon yang patah. Bunyi itu terdengar lagi, dan sambil mencengkeram barang bawaannya, Otsu berlari menyusuri jalan setapak melintas belukar, panggilnya,
“Jotaro! Jo-o-ota-ro-o-o!”
“Ya-a-a?” terdengar jawaban gagah. Sebentar saja Otsu sudah mendengar langkah Jotaro. Tapi ketika anak itu sudah berhenti di depannya, ia hanya mengatakan, “Oh, kakak ini tadi.”
“Kupikir kau sedang kerja tadi,” kata Otsu tajam. “Apa kerjamu dengan pedang kayu itu? Dan pakai pakaian kerja putih lagi.”
“Aku sedang latihan. Latihan dengan pohon-pohon.”
“Tak ada orang yang keberatan dengan latihanmu, tapi bukan di sini Jotaro. Apa kau sudah lupa, di mana kau sekarang? Halaman ini lambang kedamaian dan kemurnian. Ini wilayah suci, suci buat dewi leluhur kita semua. Lihat ke sana itu, bahwa di sini dilarang merusak pohon-pohonan, melukai, atau membunuh binatang? Memalukan kalau orang yang bekerja di sini mematahkan cabang-cabang pohon dengan pedang kayu.”
“Ah, sudah tahu aku semua itu,” gerutu Jotaro dengan wajah jengkel.
“Kalau sudah tahu, kenapa kaulakukan? Kalau Pak Arakida menangkap basah kamu, pasti kita mendapat kesulitan!”
“Menurutku, tak ada salahnya mematahkan dahan yang sudah mati. Tak ada salahnya kalau memang sudah mati, kan?”
“Itu kalau tidak di sini!”
“Itu yang Kakak ketahui! Coba sekarang aku mau tanya.”
“Tanya apa?”
“Kalau kebun ini begitu penting, kenapa orang tidak merawatnya lebih baik?”
“Memang sayang sekali mereka tidak merawatnya baik-baik. Membiarkannya rusak seperti ini sama saja dengan membiarkan rumput liar tumbuh dalam jiwa.”
“Tidak begitu jelek kalau cuma rumput liar, tapi lihat pohon-pohon itu. Pohon-pohon yang disambar petir itu dibiarkan saja mati, dan pohon-pohon yang dirobohkan badai bergeletakan saja seperti waktu robohnya. Di mana-mana begitu. Burung-burung mematuki atap bangunan sampai bocor. Dan tak ada orang memperbaiki lentera kalau rusak.
“Bagaimana bisa Kakak mengatakan tempat ini penting? Coba, apa puri di Osaka itu tidak putih menyilaukan kalau kita lihat dari Samudra di Settsu? Apa Tokugawa Ieyasu tidak membangun purl-puri yang lebih megah di Fushimi dan selusin tempat lain? Apa rumah-rumah baru daimyo dan saudagar-saudagar kaya di Kyoto dan Osaka tidak mengilat karena perhiasan emasnya? Apa ahli-ahli upacara teh Rikyu dan Kobori Enshu tidak mengatakan bahwa secercah kotoran di halaman warung teh bisa merusak aroma teh?
“Kebun ini sedang runtuh. Coba, yang kerja di sini cuma aku dan tiga atau empat lelaki tua! Padahal, coba lihat berapa luasnya?”
“Jotaro!” kata Otsu, memegang dagu Jotaro dan mengangkat wajahnya. “Yang kaukatakan itu cuma jiplakan kuliah Pak Arakida.”
“Oh, jadi Kakak mendengar kuliah itu juga?”
“Tentu saja,” kata Otsu menyela.
“Wah, kalau begitu aku tak pernah bisa menang.”
“Membeokan apa yang dikatakan Pak Arakida tak ada artinya buatku. Aku tak setuju dengan cara itu, biarpun yang dikatakannya itu benar.”
“Dia memang benar. Waktu aku mendengarkan dia bicara, aku jadi berpikir, apa Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu itu betul-betul orang besar. Aku tahu mereka tentunya orang penting, tapi apa indahnya menguasai negeri kalau menurut kita, kitalah satu-satunya orang yang berarti.”
“Tapi Nobunaga dan Hideyoshi itu tak seburuk orang-orang lain. Paling tidak, mereka sudah memperbaiki istana kaisar di Kyoto dan mencoba mem-bahagiakan rakyat. Biarpun seandainya mereka melakukan hal¬hal itu hanya untuk membenarkan tindakannya sendiri terhadap dirt sendiri dan orang-orang lain, mereka tetap patut mendapat pujian. Shogun-shogun Ashikaga jauh lebih buruk.”
“Bagaimana buruknya?”
“Kau pernah mendengar tentang Perang Onin, kan?” ,
“Hm.”
“Ke-shogun-an Ashikaga begitu tidak cakap, sampai terus-menerus terjadi perang. Para prajurit selamanya saling perang untuk memperebutkan lebih banyak wilayah. Rakyat biasa tidak mendapatkan kedamaian sedikit pun, dan tak seorang pun punya perhatian sungguh-sungguh terhadap negeri secara keseluruhan.”
“Maksud Kakak pertempuran yang terkenal antara Keluarga Yaman dan Kosokawa?”
“Ya…. Waktu itulah, lebih seratus tahun lalu, Arakida Ujitsune menjadi pendeta kepala Tempat Suci Ise, dan uang tak cukup untuk melanjutkan upacara-upacara kuno dan ritus-ritus suci. Dua puluh tujuh kali Ujitsune mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah untuk membetulkan bangunan-bangunan suci, tapi istana kaisar terlalu miskin, ke-shogun-an terlalu lemah, dan para prajurit begitu sibuk dengan pertumpahan darah, sampai mereka tak peduli dengan apa yang terjadi. Walaupun demikian, Ujitsune pergi berkeliling juga memperjuangkan cita-citanya, sampai akhirnya berhasil mendirikan tempat suci baru.
“Ini cerita sedih, bukan? Tapi kalau kita pikirkan, waktu sudah dewasa orang suka lupa bahwa mereka berutang sumber hidup kepada leluhurnya, sama seperti kita semua berutang hidup kepada Dewi Ise.”
Puas karena sudah mendapat pidato panjang berapi-api dari Otsu, Jotaro melompat ke udara sambil tertawa dan bertepuk tangan. “Sekarang siapa yang membeo Pak Arakida? Kakak pikir aku belum pernah mendengar itu sebelumnya, kan?”
“Anak bandel kau ini!” ujar Otsu sambil tertawa sendiri. Ingin sebetulnya ia menampar Jotaro, tapi bungkusan yang dibawanya menghalanginya.
Maka sambil terus tersenyum ia tatap saja anak lelaki itu. Waktu itulah Jotaro melihat bungkusan yang lain dari yang lain.
“Punya siapa itu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.
“Jangan sentuh! Tak tahu kita punya siapa ini.”
“Ah, aku kan tak akan bikin rusak! Aku cuma mau lihat. Berani sumpah, ini mesti berat. Pedang panjang ini besar sekali, ya?” Dan air liur Jotaro mengucur.
“Sensei” Seorang di antara gadis tempat suci datang berlari-lari, berdetap-detap bunyi sandal jeraminya. “Pak Arakida memanggil Sensei.” Hampir tanpa berhenti, gadis itu memutar badan dan berlari kembali.
Jotaro menoleh ke sekitar dengan terheran-heran. Matahari musim dingin bersinar melalui pohon-pohon, dan ranting-ranting berayun-ayun seperti ombak kecil. Mata Jotaro memandang seolah melihat hantu di antara bercak-bercak cahaya matahari.
“Ada apa?” tanya Otsu. “Apa yang kamu perhatikan?”
“Ah, tak apa-apa,” jawab anak itu kesal sambil menggigit jari telunjuknya. “Waktu gadis itu memanggil ‘guru’, sesaat kupikir yang dia maksud guruku.”
Otsu tiba-tiba merasa sedih dan sedikit kesal. Walaupun pernyataan Jotaro itu diucapkan dengan penuh kepolosan, kenapa pula ia menyinggung Musashi?
Sekalipun sudah mendapat nasihat Takuan, ia tak pernah bisa mengusir rasa rindu kepada Musashi dari hatinya. Takuan orang yang begitu tanpa perasaan. Dalam hal tertentu, Otsu kasihan pada biarawan itu dan pada ketidaktahuannya akan makna cinta.
Cinta itu seperti sakit gigi. Ketika Otsu sedang sibuk, perasaan cinta itu tidak mengganggu, tapi apabila kenangan mendatanginya, ia tercengkam oleh keinginan yang amat sangat untuk menyusuri jalan-jalan raya lagi, mencari dan menemukannya, meletakkan kepala ke dadanya dan mengucurkan air mata bahagia.
Tanpa mengatakan sesuatu, ia berjalan. Di manakah dia? Dari segala kesedihan yang mungkin merundung mahluk hidup, yang paling menggerek, paling celaka, dan yang paling menyengsarakan pastilah tak adanya kemampuan untuk memandang orang yang dirindukan. Dan dengan air mata meleleh di pipi ia berjalan terus.
Pedang berat dan perabot usang itu tak berarti apa-apa baginya. Bagaimana mungkin ia memimpikan membawa barang-barang milik Musashi?
Karena merasa telah berbuat salah, Jotaro ikut saja dengan sedih, agak jauh di belakang. Baru ketika Otsu membelok masuk gerbang rumah Arakida, ia berlari mendekati Otsu, dan tanyanya, “Kakak marah, ya? Karena kata-kataku?”
“Oh, tidak, tak apa-apa.”
“Maaf, Kak. Betul-betul aku minta maaf.”
“Ini bukan salahmu. Aku cuma merasa sedikit sedih. Tapi jangan kuatir. Aku mau tahu, apa yang dikehendaki Pak Arakida. Kembalilah kau bekerja.”
Arakida Ujitomi menyebut tempat tinggalnya Wisma Belajar. Ia mengubah sebagian rumah itu menjadi sekolah, tidak hanya untuk gadis-gadis biara, melainkan juga untuk empat puluh atau lima puluh anak lain dari tiga daerah yang termasuk daerah Biara Ise. Ia coba memberikan kepada orang-orang muda itu sejenis pendidikan yang sekarang tidak terlalu populer: mempelajari sejarah Jepang Kuno yang di kota-kota besar dianggap tidak relevan. Sejarah awal negeri ini berhubungan erat sekali dengan Biara Ise dan tanah¬tanahnya, padahal sekarang zaman orang banyak cenderung menganggap nasib bangsa ini adalah nasib kelas prajurit, sehingga apa yang terjadi di masa lalu yang jauh itu tak banyak berarti. Ujitomi berjuang seorang diri menanamkan benih-benih kebudayaan yang lebih awal dan lebih tradisional di antara orang-orang muda daerah biara itu. Kalau orang lain mungkin menyatakan bahwa daerah-daerah provinsi tak ada sangkut pautnya dengan nasib bangsa, Ujitomi memiliki pandangan lain. Kalau ia dapat mengajar anak-anak setempat mengenai masa lalu, maka menurut pikirannya barangkali semangat masa lampau itu pada suatu hari akan tumbuh subur seperti pohon besar di hutan suci.
Dengan penuh keuletan dan pengabdian, tiap hari ia bicara pada anakanak itu tentang karya-karya klasik Tionghoa dan Catatan Tentang Hal-hal Kuno, sejarah tentang Jepang. Ia berharap anak-anak didiknya akhirnya akan menghargai buku-buku itu. Ia melakukan hal tersebut lebih dari sepuluh tahun lamanya. Menurutnya, Hideyoshi boleh memegang kendali negeri dan menyatakan diri dengan wali, Tokugawa Ieyasu boleh menjadi shogun “penakluk orang barbar” yang mahakuasa, tapi seperti halnya orangtuanya, anak¬anak muda tidak boleh salah membedakan bintang keberuntungan seorang pahlawan militer dengan matahari yang indah. Kalau ia bekerja keras dengan sabar, orang-orang muda nantinya akan mengerti bahwa Dewi Matahari yang agunglah yang menjadi lambang cita-cita bangsa, bukan prajurit diktator yang tak tahu adat.
Arakida keluar dari ruang belajarnya yang luas dengan wajah sedikit berkeringat. Ketika anak-anak sudah menghambur keluar seperti kawanan lebah dan melejit cepat ke rumah masing-masing, seorang gadis biara menyampaikan kepadanya bahwa Otsu sedang menanti. Sedikit bingung, Arakida berkata, “Betul. Aku kan memanggil tadi. Sudah lupa sama sekali. Di mana dia?”
Otsu berada di luar. Sudah beberapa waktu ia berdiri di situ, mendengarkan pelajaran Arakida.
“Saya di sini,” serunya. “Bapak memanggil saya?”
“Saya minta maaf terpaksa membiarkan engkau menunggu. Silakan masuk.”
Ia mengantar Otsu masuk kamar belajar pribadinya, tapi sebelum duduk ia menuding barang-barang yang dibawa Otsu dan bertanya apakah itu. Otsu menjelaskan bagaimana ia sampai mendapat barng-barang itu. Arakida melirik, dan kemudian dengan curiga memperhatikan kedua pedang itu. “Pemuda biasa takkan datang kemari membawa barang-barang seperti itu,” katanya. “Dan malam kemarin barang itu belum ada di sana. Tengah malam tentunya orang datang masuk pekarangan.”
Kemudian dengan wajah tak senang ia menggerutu, “Ini barangkali kelakar samurai. Aku tak suka.”
“Oh? Apa menurut pendapat Bapak seorang lelaki telah masuk Wisma Perawan?”
“Ya, tentu. Dan justru itu yang ingin kukemukakan padamu.”
“Apa ini ada hubungannya dengan saya?”
“Nah, aku tak ingin engkau tersinggung tentang ini, tapi soalnya begini. Seorang samurai menegurku karena memasukkan engkau ke asrama perawan—perawan suci. Dia bilang, untuk kebaikanku sendiri, dia memperingatkan diriku.”
“Apa saya sudah melakukan sesuatu yang berakibat buruk pada Bapak?”
“Tak ada yang mengecewakanku. Cuma inilah… yah, kau tahu sendiri bagaimana omongan orang. Sekarang kau jangan marah, biar bagaimana, kau memang bukan lagi benar-benar perawan. Kau sudah ke sana kemari dengan lelaki, dan orang mengatakan menyimpan perempuan yang bukan perawan bersama¬sama gadis-gadis di Wisma Perawan itu bisa menodai tempat suci.” Sekalipun nada bicara Arakida biasa saja, namun air mata marah membanjiri mata Otsu. Benar ia banyak mengadakan perjalanan ke mana¬mana, benar ia terbiasa menjumpai orang banyak, benar ia mengembara dalam hidup ini membawa serta cinta lamanya; karena itu barangkali sudah sewajarnya orang menganggapnya perempuan duniawi. Namun sungguh merupakan pengalaman meremukkan hati dituduh tidak suci, padahal kenyataannya ia masih suci.
Arakida rupanya tidak terlalu mementingkan soal itu. Ia cuma terganggu bahwa orang membicarakan yang bukan-bukan, dan karena waktu itu akhir tahun “dan lain sebagainya itu”, demikianlah dikatakannya, maka ia bertanya apakah Otsu berkenan menghentikan pelajaran suling itu dengan meninggalkan Wisma Perawan.
Otsu cepat menyetujui, bukan sebagai pengakuan kesalahan, melainkan karena ia memang tak punya rencana tinggal terus di situ dan tak ingin menimbulkan kesulitan, terutama bagi Pak Arakida. Sekalipun ia benci kebohongan desas-desus itu, ia cepat mengucapkan terima kasih atas kebaikan Arakida selama ia tinggal di sana, dan menyatakan bahwa ia akan pergi hari itu juga.
“Oh, tak perlu secepat itu sebetulnya,” Arakida berusaha meyakinkan Otsu, sambil menjangkau rak buku kecil dan mengeluarkan sejumlah uang yang dibungkus kertas.
Jotaro yang tadi mengikuti Otsu memilih saat itu untuk menjengukkan kepalanya dari beranda, dan bisiknya, “Kalau Kakak pergi, aku ikut. Kebetulan aku sudah jemu menyapu kebun tua mereka ini.”
“Ini ada hadiah kecil,” kata Arakida. “Tak banyak, tapi terimalah, dan gunakanlah untuk perjalanan.” Ia mengulurkan bungkusan yang berisi beberapa keping mata uang emas.
Otsu menolak menyentuhnya. Dengan wajah terkejut ia menyatakan pada Arakida bahwa ia tak pantas mendapat bayaran, hanya karena memberikan pelajaran suling kepada anak-anak gadis itu. Yang lebih tepat, dialah yang mesti membayar untuk makanan dan penginapannya.
“Tidak,” jawab Arakida. “Tak mungkin aku menerima uang darimu, tapi aku ingin minta pertolonganmu, kalau kebetulan engkau pergi ke Kyoto. Jadi, bolehlah engkau menganggap uang ini sebagai bayaran atas jasamu.”
“Dengan senang hati saya melakukan permintaan Bapak itu, tapi kebaikan Bapak sendiri sudah merupakan bayaran buat saya.”
Arakida menoleh kepada Jotaro, katanya, “Bagaimana kalau uang ini kuberikan saja pada anak ini? Dia dapat membelikan apa-apa buat kalian berdua di perjalanan.”
“Terima kasih,” kata Jotaro yang cepat mengulurkan tangannya untuk menerima bungkusan itu. Tapi sesudah berpikir lagi ia memandang Otsu, katanya, “Boleh, kan?”
Karena sudah dipojokkan, Otsu akhirnya menyetujui dan mengucapkan terima kasih kepada Arakida.
“Pertolongan yang kuminta padamu,” kata Arakida, “adalah menyampaikan bingkisan kepada Yang Dipertuan Karasumaru Mitsuhiro yang tinggal di Horikawa, Kyoto,” Sambil berkata demikian, ia mengambil dua gulungan dari rak yang sudah goyang di dinding. “Yang Dipertuan Karasumaru minta padaku dua tahun lalu untuk melukis ini. Akhirnya lukisan-lukisan ini selesai. Beliau ada rencana menulis komentar yang cocok dengan lukisan ini dan menghadiahkannya pada Kaisar. Itu sebabnya aku tak ingin mempercayakan-nya kepada pembawa surat biasa atau orang istana. Apa engkau bersedia membawanya dan menjaga supaya lukisan-lukisan ini tak kena air atau minyak di jalan?”
Ini tugas yang tak terduga-duga pentingnya, dan semula Otsu ragu-ragu menerimanya. Tapi kurang pantas kalau ia menolaknya, dan sejenak kemudian ia menyatakan setuju. Kemudian Arakida mengeluarkan kotak dan kertas minyak, tapi sebelum membungkus dan memeterai gulungan itu, katanya, “Tapi barangkali ada baiknya kutunjukkan dulu padamu lukisan ini.” Ia duduk dan mulai membuka lukisan itu di lantai di hadapannya. Ia kelihatan bangga akan karyanya, dan ia sendiri ingin melayangkan pandangan terakhir sebelum berpisah dengan karya itu.
Otsu tersengal melihat keindahan gulungan itu, sedangkan mata Jotaro melebar ketika ia membungkuk memperhatikannya lebih saksama. Karena komentar untuk lukisan itu belum lagi ditulis, mereka tidak mengetahui cerita apa yang dilukiskan di situ, tapi ketika Arakida membuka gulungan itu adegan demi adegan, mereka saksikan di hadapan mereka gambaran kehidupan istana kekaisaran kuno dalam coretan kasar dan warna-warna indah serta sentuhan-sentuhan bubuk emas. Lukisan itu dibuat dengan Gaya Tosa dan bersumber pada seni Jepang klasik.
Walaupun Jotaro tak pernah mendapat pelajaran seni, terpukau juga ia oleh apa yang dilihatnya. “Lihat apinya itu,” ujarnya. “Kelihatan seperti menyala betulan, ya?”
“Jangan sentuh,” tegur Otsu. “Lihat saja.”
Selagi mereka menatapkan mata dengan penuh kekaguman, seorang pesuruh masuk, siap menyampaikan sesuatu kepada Arakida dengan suara pelan sekali; Arakida mengangguk, dan jawabnya, “Ya-ya…. Kukira boleh. Tapi sebaiknya suruh orang itu membuat surat tanda terima.” Dan ia menyerahkan bungkusan dan dua bilah pedang yang tadi dibawa Otsu.
Mendengar guru suling mereka akan pergi, gadis-gadis Wisma Perawan pun jadi sedih. Selama dua bulan Otsu tinggal bersama mereka, mereka telah menganggapnya sebagai kakak sendiri, karena itu mereka tampak murung ketika berkumpul mengerumuni Otsu.
“Apa betul?”
“Sensei betul akan pergi?”
“Sensei takkan kembali lagi?”
Dari seberang asrama, Jotaro berteriak, “Aku sudah siap. Apa lagi yang ditunggu?” Ia sudah menanggalkan jubah putih dan kembali mengenakan kimono pendek yang biasa, dengan pedang kayu di pinggang. Kotak yang terbungkus kain berisi gulungan disandang melintang di punggung.
Dari jendela, Otsu balas berteriak, “Ah, cepat sekali!”
“Aku selalu cepat!” jawab Jotaro pedas. “Belum juga Kakak siap? Kenapa ya, perempuan begitu lama kalau berpakaian dan berkemas?” Waktu itu ia berjemur di pekarangan sambil menguap. Tapi memang dasar tidak sabaran, sebentar kemudian ia sudah bosan. “Apa belum juga siap?” serunya lagi.
“Sebentar lagi slap,” jawab Otsu. Sebetulnya ia sudah selesai berkemas, tapi gadis-gadis itu tak hendak melepaskannya. Dalam usahanya meloloskan diri, ia berkata menghibur gadis-gadis itu, “Tak usah sedih. Saya akan datang berkunjung hari-hari ini. Sementara itu, jaga diri kalian baik-baik.” Tak enak juga ia bahwa yang dikatakannya itu tidak benar, karena melihat keadaannya kecil kemungkinannya ia akan kembali lagi.
Barangkali gadis-gadis itu pun menerkanya demikian. Beberapa di antara mereka menangis. Akhirnya seorang dari mereka mengusulkan agar mereka semua mengantar Otsu sampai jembatan suci di seberang Sungai Isuzu. Mereka mengerumuninya dan mengantarnya ke luar. Di sana Jotaro tidak segera tampak, karena itu mereka corongkan tangan di mulut dan mereka panggil namanya, namun tak ada jawaban. Otsu sudah hafal dengan cara-cara Jotaro; tanpa perasaan kuatir ia berkata, “Barangkali dia capek menunggu, dan dia jalan duluan.”
“Anak brengsek!” ucap seorang gadis.
Seorang lagi tiba-tiba memandang Otsu, dan tanyanya, “Apa dia anak Sensei?”
“Anakku? Bagaimana kamu bisa berpikir begitu? Tahun depan aku belum lagi dua puluh satu. Apa tampangku begitu tua dan pantas punya anak sebesar itu?”
“Tidak, tapi ada yang bilang, dia anak Sensei.”
Ingat akan percakapannya dengan Arakida, wajah Otsu memerah, tapi kemudian ia menghibur diri dengan pendapat bahwa yang dikatakan orang lain tak berarti, selama Musashi setia kepadanya.
Pada waktu itu Jotaro datang berlari-lari mendapatkan mereka. “Hei, ada apa sih sebetulnya?” katanya memberengut. “Tadi Kakak suruh aku menunggu berabad-abad, tapi sekarang Kakak berangkat tanpa aku!”
“Tapi tadi kamu tak ada di tempat!” ujar Otsu.
“Tapi mestinya Kakak bisa mencariku, kan? Tadi kulihat di jalan raya Toba sana itu ada orang yang mirip guruku. Aku lari buat melihatnya, apa betul dia.”
“Orang yang seperti Musashi?”
“Ya, tapi ternyata bukan dia. Aku mendekati sampai barisan pohon itu dan melihat orang itu baik-baik dari belakang, tapi tak mungkin orang itu Musashi, karena dia pincang.”
Selamanya seperti itu saja, kalau Otsu dan Jotaro mengadakan perjalanan. Tak ada hari tanpa menyaksikan cahaya harapan, yang disusul kekecewaan. Ke mana pun mereka pergi, mereka melihat orang yang mengingatkan keduanya kepada Musashi-orang yang lewat jendela, samurai di perahu yang baru saja berangkat, ronin yang menunggang kuda, musafir yang samar-samar kelihatan dalam joli. Dengan harapan menjulang tinggi, mereka mengejar untuk memastikannya, tapi akhirnya hanya saling pandang dengan sedih. Hal seperti ini sering terjadi berlusin-lusin kali.
Karena itulah sekarang Otsu tidak sekesal biasanya, sekalipun Jotaro sendiri patah hati. Sambil menertawakan kejadian itu, katanya, “Sayang sekali kau keliru, tapi jangan lalu uring-uringan karena aku jalan dulu. Kupikir aku akan menjumpaimu di jembatan. Tahu tidak, orang bilang, kalau kita memulai perjalanan dengan kesal, kita akan marah terus sepanjang jalan. Nah, tenanglah sekarang.”
Walaupun kelihatan puas, Jotaro masih juga melengos dan melontarkan pandangan kasar kepada gadis¬gadis yang berarak-arak di belakang.
“Apa saja kerja mereka ini di sini? Apa akan pergi dengan kita?”
“Tentu saja tidak. Mereka cuma sayang melihat aku pergi, jadi baik sekali mereka mengawani kita sampai jembatan.”
“Oh, betapa baiknya mereka,” kata Jotaro, meniru gaya kata-kata Otsu. Tingkah Jotaro membuat semuanya tertawa terpingkal-pingkal. Kini, sesudah Jotaro menggabungkan diri dengan rombongan, kesedihan karena perpisahan menjadi surut, dan gadis-gadis itu pulih kembali semangatnya.
“Sensei,” panggil seorang di antaranya, “keliru, itu bukan jalan ke jembatan.”
“Aku tahu,” kata Otsu tenang. Ia memang membelok ke Gerbang Tamagushi untuk menyatakan hormat ke kuil pusat. Sambil menangkupkan tangan satu kali, ia menundukkan kepala ke arah tempat suci itu dan beberapa saat lamanya mengambil sikap berdoa diam.
“Oh, begitu!” gumam Jotaro. “Dia pikir tak boleh meninggalkan tempat ini tanpa ucapan selamat berpisah kepada dewi.” Ia puas melihat dari kejauhan, tapi gadis-gadis itu menyodok punggungnya dan bertanya kepadanya kenapa ia tidak mencontoh yang dilakukan Otsu.
“Aku?” tanya anak itu tak percaya. “Aku tak ingin membungkuk pada tempat suci tua mana pun.”
“Tak boleh kau bicara begitu. Kau bisa kena hukum suatu hari nanti.”
“Tolol rasanya membungkuk macam itu.”
“Apanya yang tolol, menunjukkan hormat kepada Dewi Matahari? Dia tak seperti dewa-dewa kecil yang dipuja orang di kota-kota itu.” “Aku tak tahu!” “Nah, kalau begitu kenapa kau tidak menyatakan hormat?” “Sebab aku tak mau.” “Tidak percaya, ya?”
“Diam, kalian semua perempuan sinting!” “Aduh, aduh!” seru gadis-gadis itu serentak, kaget oleh kekasaran Jotaro. “Jahat sekali!” ujar salah seorang gadis.
Waktu itu Otsu sudah selesai sembahyang dan datang kembali ke dekat mereka. “Apa yang terjadi?”
tanyanya “Kalian kelihatan kesal.” Salah seorang gadis mengungkapkan, “Dia sebut kami perempuan sinting. cuma karena kami menyuruhnya membungkuk kepada dewi.”
“Kau tahu itu tidak baik, Jotaro,” tegur Otsu. “Betul-betul kau mesti berdoa.” “Buat apa?” “Apa kau sendiri tak pernah cerita? Waktu Musashi akan dibunuh pendeta-pendeta dari Hozoin itu kau
mengangkat tanganmu dan berdoa sekeras-kerasnya! Kenapa di sini tak bisa kamu berdoa?” “Tapi… mereka semua melihat.” “Baiklah, kami akan membalikkan badan, supaya tidak melihat kamu.” Mereka pun membelakanginya, tapi Otsu mencuri pandang kepadanya. Jotaro berlari ke arah Gerbang
Tamagushi. Sampai di sana ia menghadap tempat suci, dan dengan cara yang sangat kekanak-kanakan ia membungkuk dalam-dalam secepat kilat.
Kincir Mainan
MUSASHI duduk di beranda sempit sebuah warung makanan laut yang menghadap ke laut. Keistimewaan warung itu adalah siput laut yang dihidangkan mendidih bersama kerangnya. Dua perempuan penyelam dengan keranjang berisi kerang sorban yang baru saja ditangkap dan seorang tukang perahu berdiri dekat beranda. Tukang perahu itu menawarkan tamasya perahu ke pulau-pulau lepas pantai, sedangkan kedua perempuan mencoba membujuknya membeli siput laut.
Musashi sedang sibuk menanggalkan perban bernanah dari kakinya. Sesudah menderita demikian hebat akibat luka itu, hampir tak dapat ia percaya bahwa demam maupun bengkaknya akhirnya lenyap. Kaki itu kembali pada ukuran semula. Sekalipun kulitnya menjadi putih dan mengerut, sedikit saja ia merasa sakit.
Dengan lambaian tangan diusirnya tukang perahu dan penyelam, lalu ia menurunkan kakinya yang rawan itu ke pasir dan berjalanlah ia ke pesisir untuk membasuhnya. Kembali di beranda, ia nantikan gadis warung yang telah ia suruh membelikan kaus kulit dan sandal baru. Waktu gadis itu kembali, dikenakannya keduanya, lalu ia mulai melangkah dengan hati-hati. Jalannya masih sedikit pincang, tapi tak lagi seperti sebelumnya.
Orang tua yang memasak siput memandangnya. “Tukang tambangan menanyakan Tuan. Apa bukan Tuan yang punya rencana menyeberang ke Ominato?”
“Ya. Saya kira ada perahu yang jalan teratur dari sini ke Tsu.”
“Memang ada, dan ada juga perahu-perahu ke Yokkaichi dan Kuwana.” “Tinggal berapa hari lagi akhir tahun
ini?” Orang tua itu tertawa. “Sungguh iri saya pada Tuan,” katanya. “Jelas Tuan tak punya kewajiban bayar utang akhir tahun. Hari ini tanggal dua puluh empat.”
“Betul? Saya kira sudah lebih kemudian.” “Senang sekali jadi orang muda!” Musashi lari berderap ke pangkalan perahu tambang. Ingin sekali ia terus berlari, makin lama makin jauh,
dan makin lama makin cepat. Peralihan dari sakit menjadi sehat itu meningkatkan semangatnya, tapi yang
menjadikannya jauh lebih bahagia adalah pengalaman spiritual yang telah didapatnya pagi itu. Perahu tambang sudah penuh, tapi ia masih mendapat tempat. Di seberang teluk, di Ominato, ia berpindah ke perahu yang lebih besar, yang menuju Owari. Layar-layar menangkap angin, dan perahu meluncur di permukaan Teluk Ise yang seperti kaca itu. Musashi berdiri berdesakan dengan penumpang-penumpang lain dan memandang tenang ke seberang air di sebelah kiri-ke arah pasar lama, jalan raya Yamada, dan Matsuzaka. Kalau ia pergi ke Matsuzaka, mungkin ia mendapat kesempatan bertemu dengan pemain pedang Mikogami Tenzen yang luar biasa itu. Tapi tidak. terlalu cepat untuk itu. Dan seperti direncanakannya, ia turun di Tsu.
Begitu meninggalkan perahu, ia perhatikan ada seorang lelaki berjalan di depannya, membawa pentung pendek di pinggang. Pentung itu berlilit rantai dan di ujung rantai terdapat peluru. Orang itu mengenakan juga pedang pendek bersarung kulit. Kelihatannya umurnya empat puluh dua atau empat puluh tiga tahun. Wajahnya gelap seperti Musashi dan bopeng-bopeng, sedangkan rambutnya yang kemerahan digelung ke belakang.
Kalau bukan karena anak lelaki yang mengikutinya, orang itu bisa disangka bromocorah. Pipi anak itu hitam oleh jelaga dan ia membawa palu godam. Jelas ia magang pandai besi. “Tunggu sebentar, Pak!” “Ayolah jalan terus!” “Palu saya ketinggalan di perahu.” “Ketinggalan alat yang jadi penghidupanmu, ya?” “Akan saya ambil sekarang.” “Dan kukira itu bikin kamu bangga, ya? Lain kali, kalau kamu lupa lagi, kupecahkan tengkorakmu.” “Pak…,” mohon anak itu. “Diam!” “Apa tak bisa kita bermalam di Tsu?” “Masih terang sekarang ini. Kita bisa sampai rumah sebelum malam tiba.” “Tapi ingin rasanya berhenti. Perjalanan begini harusnya dinikmati.”
“Jangan omong kosong!” Jalan masuk kota itu diapit barisan toko cindera mata dan penuh pencari pelanggan rumah penginapan, seperti halnya kota-kota pelabuhan lain. Si magang sekali lagi kehilangan penglihatan atas tuannya dan dengan cemas mencari-carinya di tengah orang banyak, sampai akhirnya orang itu muncul dari sebuah toko mainan, membawa sebuah kincir mainan yang bem,arna-warni.
“Iwa!” serunya memanggil anak itu. °Ya, Pak.”
“Bawa ini. Dan hati-hati, jangan sampai pecah! Simpan dalam kerahmu.”
“Hadiah buat bayi Bapak?”
‘”Mm,” gumam orang itu. Sesudah beberapa hari pergi melaksanakan tugas, orang itu ingin memandang anaknya menyeringai girang waktu ia menyerahkan barang itu.
Jadinya seolah kedua orang itu menuntun arah jalan Musashi. Setiap kali ia hendak membelok, mereka membelok juga di depannya. Terpikir oleh Musashi, barangkali pandai besi itu Shishido Baiken, namun ia tak bisa memperoleh kepastian, karena itu ia gunakan akal kecil untuk mendapat kepastian. Ia berpura-pura tidak memperhatikan mereka, dan berjalan di depan mereka sebentar, kemudian melambatkan jalan lagi sambil mendengarkan percakapan mereka. Kedua orang itu melintasi kota puri, kemudian ke jalan gunung yang menuju Suzuka. Agaknya jalan yang akan ditempuh Baiken pulang ke rumahnya. Kalau digabungkan dengan potongan-potongan percakapan yang kebetulan didengarnya, Musashi menyimpulkan orang itu memang Baiken.
Sebetulnya Musashi bermaksud langsung pergi ke Kyoto, tapi pertemuan yang kebetulan ini demikian menggodanya. Ia mendekat, dan katanya dengan nada ramah, “Kembali ke Umehata?”
Tapi jawaban orang itu kaku, “Ya, ke Umehata. Kenapa?”
“Dari tadi saya bertanya dalam hati, apakah Bapak ini Shishido Baiken.” “Memang. Dan Anda siapa?”
“Nama saya Miyamoto Musashi. Saya calon prajurit. Belum lama saya ke rumah Anda di Ujii dan bertemu dengan istri Anda. Rupanya nasib mempertemukan kita di sini.”
“Oh, begitu?” kata Baiken. Dengan wajah yang tiba-tiba menyatakan paham, ia bertanya, “Apa engkau yang tinggal di penginapan Yamada dan ingin bertarung denganku?”
“Bagaimana Anda bisa dengar itu?”
“Kau menyuruh orang ke rumah Arakida untuk mencariku, kan?”
“Ya.”
°Waktu itu aku sedang melakukan tugas untuk Arakida, tapi aku tidak tinggal di rumahnya. Kupinjam tempat kerja di desa. Itu pekerjaan yang tak bisa dilakukan orang lain, kecuali aku.”
“Oh, begitu. Saya dengar Anda ahli rantai-peluru-sabit.”
“Ha, ha! Tapi katamu tadi sudah ketemu istriku?”
“Ya. Dan dia mendemonstrasikan satu jurus Yaegaki pada saya.”
“Nah, itu mestinya cukup buatmu. Tak ada alasan buat mengikutiku. Tentu saja aku dapat memperlihatkan lebih banyak lagi daripada yang diperlihatkan istriku, tapi begitu engkau melihatnya, begitu engkau sampai di jalan ke dunia lain.”
Bagi Musashi, istri orang ini sudah berkesan amat sok menguasai, tapi orang ini sendiri benar-benar angkuh. Musashi cukup yakin bahwa dari apa yang dilihatnya ia sudah dapat mengukur kemampuan orang ini, namun ia mengingatkan diri untuk tidak terburu-buru. Takuan telah mengajarkan kepadanya pelajaran pertama dalam hidup ini, yaitu bahwa di dunia ini terdapat orang-orang yang kemungkinan lebih baik dari diri kita. Pelajaran ini diperkuat oleh pengalaman-pengalamannya di Hozoin dan Puri Koyagyu. Sebelum ia membiarkan rasa bangga dan keyakinan mengkhianatinya dan menyebabkannya menyepelekan lawan, ia ingin mengukur lawan itu dari segala segi. Sementara meletakkan landasan bagi dirinya, ia akan tetap bersikap ramah, sekalipun kadang-kadang hal itu bisa memberikan kesan pengecut atau tunduk kepada musuh.
Menjawab ucapan Baiken yang merendahkan itu, dengan sikap hormat yang sesuai dengan umurnya ia berkata, “Oh, begitu. Saya memang sudah banyak belajar dari istri Anda, tapi karena saya sudah beruntung bertemu dengan Anda, saya akan berterima kasih kalau Anda mau lebih banyak menerangkan senjata yang Anda pergunakan.”
“Kalau yang engkau inginkan itu bicara, baik. Apa kau punya rencana menginap di penginapan dekat
perbatasan?” “Itulah yang tadinya saya maksudkan, kecuali kalau Anda berkenan menerima saya menginap semalam lagi.”
“Kau boleh tinggal, kalau kau bersedia tidur di bengkel bersama Iwa. Tapi aku bukan pengusaha
penginapan, dan kami tak punya tilam ekstra.” Senja hari mereka sampai di kaki Gunung Suzuka. Desa kecil yang dipayungi awan merah itu tampak setenang danau. Iwa berlari mendahului untuk menyampaikan kedatangan mereka, dan ketika mereka tiba di rumah itu, istri Baiken menanti di bawah ujung atap, menggendong bayinya yang memegang kincir mainan.
“Lihat, lihat, lihat!” dekut perempuan itu. “Bapak pergi, dan sekarang Bapak pulang. Lihat, itu dia.” Dalam sekejap mata saja si bapak sudah tidak lagi menjadi contoh keangkuhan; ia memperlihatkan senyum
kebapakan. “Ini, Nak, ini Bapak,” celotehnya sambil mengangkat sebelah tangan dan menari-narikan jari¬jarinya. Suami-istri itu menghilang ke dalam dan duduk, hanya bicara tentang bayi dan soal-soal rumah tangga,
tanpa memperhatikan Musashi.
Akhirnya, ketika makan malam siap, Baiken ingat akan tamunya. “Oh ya, kasih orang itu makan,” katanya kepada istrinya. Musashi duduk di ruang bengkel yang berlantai tanah, menghangatkan diri di dekat api. la bahkan tidak
melepas sandalnya. “Baru kemarin dia dari sini. Bermalam,” jawab perempuan itu cemberut. Ia menghangatkan sake di perapian dengan suaminya. “Orang muda,” panggil Baiken. “Apa kau minum
sake?” “Saya bukan tak suka sake.” “Nah, minum semangkuk.” “Terima kasih.” Musashi mendekat ke ambang pintu kamar perapian serta menerima mangkuk berisi
minuman dan menghirupnya. Asam rasanya. Selesai meneguk, ia kembalikan mangkuk itu kepada Baiken, katanya, “Mari saya tuangkan buat Anda.” “Tak usah, sudah ada.” Ia memandang Musashi sesaat, dan bertanya, “Berapa umurmu?” “Dua puluh dua.” “Asal dari mana?”
“Mimasaka.” Mata Baiken yang semula mengembara ke jurusan lain kini berayun kembali kepada Musashi dan mengamat-amatinya kembali dari kepala sampai jari kaki.
“Nanti dulu, apa yang barusan kaukatakan? Namamu… siapa namamu tadi?” “Miyamoto Musashi” “Bagaimana engkau menuliskan Musashi?” “Ditulis sama dengan Takezo.” Istri orang itu masuk dan meletakkan sup, acar, supit, dan mangkuk nasi di tikar jerami di depan Musashi.
“Makanlah!” katanya tanpa basa-basi.
“Terima kasih,” jawab Musashi. Baiken menanti beberapa tarikan napas, kemudian katanya, seolah pada diri sendiri, “Panas rasanya
sekarang, sake itu!” Sambil menuangkan semangkuk lagi untuk Musashi, ia bertanya biasa saja, “Artinya namamu Takezo waktu engkau muda?” “Ya.” “Apa engkau masih bernama begitu waktu umur sekitar tujuh belas?” “Ya.” “Waktu umurmu sekitar itu, apa kebetulan engkau tidak berada di pertempuran Sekigahara, dengan anak
lain seumurmu?” Kini Musashi yang mendapat giliran terkejut. “Bagaimana Anda bisa tahu?” tanyanya pelan. “Oh, aku tahu banyak hal. Aku di Sekigahara juga waktu itu.” Mendengar ini, Musashi merasa lebih senang
pada orang itu. Baiken sendiri tiba-tiba kelihatan lebih akrab.
“Kupikir aku pernah melihatmu, entah di mana,” kata pandai besi itu. “Mestinya kita sudah berjumpa di pertempuran itu.” “Apakah Anda pernah di kamp Ukita juga?” “Aku tinggal di Yasugawa waktu itu, dan aku pergi perang dengan rombongan samurai dari sana. Kami ada
di garis depan waktu itu.” “Oh, begitu? Kalau begitu, barangkali kita pernah bertemu.” “Lalu apa yang terjadi dengan temanmu itu?” “Saya tak pernah lihat dia lagi sejak itu.” “Sejak pertempuran itu?” “Tidak tepat sejak itu. Kami tinggal sementara waktu di sebuah rumah di Ibuki, menunggu sembuhnya luka¬
luka, dan berpisah di situ. Itulah penghabisan kali saya melihatnya.”
Baiken memberitahu istrinya bahwa sake mereka habis. Istri Baiken sudah di tempat tidur dengan bayinya,
“Tak ada lagi yang lain,” jawabnya.
“Aku minta lagi. Sekarang!”
“Kenapa mesti minum begitu banyak malam ini?”
“Percakapan kami menarik. Aku perlu sake lagi.”
“Tapi sake tak ada lagi.”
“Iwa!” panggil Baiken lewat papan rapuh di sudut bengkel.
“Ada apa, Pak?” tanya anak itu. Ia membuka pintu dan memperlihatkan wajahnya sambil membungkuk,
karena rendahnya ambang pintu. “Pergi ke rumah Onosaku, pinjam sebotol sake.” Musashi sudah cukup minum. “Kalau Anda tidak keberatan, saya akan makan,” katanya sambil memungut
supitnya. “Tidak, tidak, tunggu,” kata Baiken dan cepat menangkap pergelangan Musashi. “Ini bukan waktu makan.
Aku sudah mintakan sake, jadi minumlah sedikit lagi.”
“Kalau sake itu buat saya, lebih baik tak usah. Rasanya saya tak bisa minum lagi.”
“Ah, ayolah,” desak Baiken. “Katamu kau ingin dengar lebih banyak tentang rantai-peluru-sabit. Akan kuceritakan semuanya sekarang, tapi mari minum sedikit selagi bicara.”
Ketika Iwa kembali membawa sake, Baiken menuangkannya sebagian ke guci pemanas dan meletakkannya di atas api, lalu bicara panjang-lebar tentang rantai-peluru-sabit serta cara-cara penggunaannya yang terbaik dalam pertempuran yang sebenar-benarnya. Ia berkata, “Berlainan dengan pedang. senjata itu tidak memberikan kesempatan kepada musuh untuk mempertahankan diri. Juga, sebelum menyerang langsung, ada kemungkinan merebut senjata musuh dengan rantai. Rantai dilontarkan dengan terampil, disentakkan tajam, dan musuh tak berpedang lagi.”
Masih dalam keadaan duduk, Baiken mendemonstrasikan satu jurus. “Lihat, kita pegang sabit dengan tangan kiri dan bola dengan tangan kanan. Kalau musuh mendatangi kita, kita hadapi dia dengan mata sabit. kemudian kita hembalangkan bola ke mukanya. Itu satu cara.”
Sambil mengubah kedudukan, ia meneruskan, “Kalau ada jarak antara kita dan musuh, kita sabet senjatanya dengan rantai. Tak peduli macam apa senjata itu—pedang, lembing, tongkat kayu, atau apa pun.”
Baiken terus bercerita pada Musashi tentang cara-cara melemparkan peluru, tentang sepuluh atau lebih cerita turun-temurun mengenai senjata ini, tentang miripnya rantai itu dengan ular, tentang kemungkinan menciptakan khayal penglihatan orang dengan mengubah gerakan rantai dan sabit, hingga pertahanan musuh akhirnya akan merugikan dirinya sendiri, juga tentang semua cara rahasia dalam menggunakan senjata itu.
Musashi betul-betul terpesona. Mendengar orang berbicara seperti ini, ia selalu mendengarkan dengan seluruh tubuhnya. Ia ingin menyerap segala seluk-beluknya.
Rantai. Sabit. Dua belah tangan….
Sementara ia mendengarkan, benih-benih pikiran lain terbentuk dalam kepalanya. “Pedang dapat dipergunakan dengan satu tangan, sedangkan manusia punya dua tangan…”
Botol sake yang kedua pun kosong. Baiken sudah cukup banyak minum, dan mendesak Musashi minum lagi. Musashi sendiri sudah jauh melewati batas kemampuannya dan sudah lebih mabuk dari yang pernah dialaminya.
“Bangun!” seru Baiken kepada istrinya. “Biar tamu kita tidur di sini. Kau dan aku tidur di kamar belakang. Siapkan tempat tidur di sana.”
Perempuan itu tak beranjak dari tempatnya.
“Bangun!” seru Baiken lebih keras. “Tamu kita sudah capek. Biar dia tidur sekarang.”
Kaki sang istri sudah enak dan hangat sekarang. Bangun pasti tak menyenangkan.
“Kaubilang dia dapat tidur di bengkel dengan Iwa,” gumamnya.
“Jangan membantah. Kerjakan yang kusuruh!”
Perempuan itu bangkit dengan gusar dan berangkat ke kamar belakang. Baiken mengambil bayinya yang tidur, dan katanya, “Selimutnya sudah tua, tapi api di ada dekatmu. Kalau kau haus, ada air panas di atas api buat bikin teh. Tidurlah. Tidur yang enak.” Ia sendiri pergi ke kamar belakang.
Ketika perempuan itu datang kembali untuk mengganti bantal, kemurungan wajahnya sudah hilang. “Suami saya juga sudah mabuk sekali,” katanya, “dan barangkali capek karena perjalanan. Dia bilang mau tidur sampai siang, karena itu tidurlah yang enak, selama kau mau. Besok saya sediakan sarapan yang enak dan panas.”
“Terima kasih.” Musashi tak dapat menjawab. Ia sudah tak sabar lagi untuk melepaskan kaus kulit dan jubahnya. “Terima kasih banvak.”
Ia menyelam ke dalam selimut yang masih hangat, tapi tubuhnya sendiri lebih panas lagi akibat minuman itu.
Istri Baiken berdiri di pintu mengawasinya, kemudian diam-diam meniup lilin, dan katanya, “Selamat malam.”
Kepala Musashi terasa seperti dilingkari ikat baja yang ketat, pelipisnya berdentam-dentam sakit. Ia bertanya pada diri sendiri, kenapa minum jauh lebih banyak dari biasanya. Perasaannya dahsyat, tapi ia tak dapat tidak memikirkan Baiken. Kenapakah pandai besi yang semula tampak hampir tidak sopan itu tiba-tiba jadi bersahabat dan memintakan sake lagi? Kenapakah istrinya yang tak enak sikapnya itu menjadi manis dan tiba-tiba mau membantu? Kenapa mereka memberikan tempat tidur yang hangat ini?
Semua itu seperti tak terjelaskan, tapi sebelum Musashi dapat memecahkan misteri itu, rasa kantuk sudah menguasainya. Ia menutup mata, menarik napas dalam, dan menaikkan selimut. Cuma dahinya yang tetap terbuka, diterangi bunga-bunga api yang sekali-sekali melenting dari perapian. Segera kemudian terdengar tarikan napasnya yang dalam dan teratur.
Istri Baiken mengundurkan diri diam-diam ke kamar belakang, langkah kakinya yang ringan dan lengket menyeberang tatami.
Musashi bermimpi, atau lebih tepat dikatakan melihat sebagian mimpi yang terus berulang-ulang. Kenangan masa kecil melompat-lompat dalam otaknya seperti seekor serangga, kelihatannya seperti mencoba menuliskan sesuatu dengan huruf-huruf cahaya. Dan ia mendengar kata-kata nyanyian menidurkan bayi.
Tidurlah, tidurlah. Bayi tidur itu manis…
Serasa ia kembali berada di Mimasaka, mendengarkan lagu menidurkan bayi yang dinyanyikan istri pandai besi dalam dialek Ise. Ia sendiri bayi yang digendong seorang perempuan berkulit kuning berumur sekitar tiga puluh tahun… ibunya… Perempuan itu tentunya ibunya. Di dada ibunya ia menengadah ke wajah putih itu.
“… nakal, dan bikin ibunya menangis juga….” Sambil mengayunayunkannya dalam gendongan, ibunya menyanyi lembut. Wajahnya yang tirus terawat baik tampak sedikit kebiruan, seperti kembang buah pir. Tampak sebuah tembok, sebuah tembok batu panjang yang ditumbuhi tumbuhan menjalar. Dan sebuah tembok tanah yang dipayungi dahandahan yang menggelap ketika malam mendatang. Cahaya lampu bersirur dari rumah itu. Air mata berkilauan di pipi ibunya. Dan si bayi memandang kagum air mata itu.
“Pergi! Pulang sana ke rumahmu!”
Suara itu suara Munisai yang menakutkan, yang berasal dari dalam rumah. Dan itu suatu perintah. Ibu Musashi bangkit pelan-pelan, lalu ia menyusuri tanggul batu yang panjang. Sambil menangis ia berlari masuk sungai dan berjalan terus ke tengah.
Karena tak dapat bicara, bayi itu menggeliat dalam pelukan ibunya, mencoba mengatakan bahaya yang menghadang. Tapi semakin bayi itu bertingkah, semakin ketat ibunya memeluknya. Pipinya yang basah disapukan ke pipi bayi itu. “Takezo,” katanya, “kau anak ayahmu, atau ibumu?”
Munisai memekik dari tepi sungai. Ibunya tenggelam ke dasar sungai Bayinya dilontarkan ke tepi yang berkerikil, dan di situ ia tergeletak melolong sekuat paru-parunya, di tengah bunga mawar yang sedang berkembang.
Musashi membuka mata. Ketika ia mulai tertidur lagi, seorang perempuan-ibunyakah? atau perempuan lain lagi? mengganggu tidurnya dan membangunkannya lagi. Musashi tak dapat mengingat wajah ibunya. Sering ia memikirkan ibunya, tapi tak dapat menggambarkan wajahnya. Apabila ia melihat ibu lain, terpikir olehnya, barangkali ibunya seperti ibu itu. “Ada apa malam ini?” pikirnya.
Sake itu telah hilang pengaruhnya. Ia membuka mata dan memandang ke langit-langit. Di tengah hitamnya jelaga terlihat cahaya kemerahan, pantulan bara di perapian. Pandangan matanya berhenti pada kincir mainan yang tergantung pada langit-langit di atasnya. Ia merasa juga bau ibu dan anak itu masih menempel pada seprai. Dengan rasa nostalgia samar-samar ia terus berbaring setengah tidur, menatap kincir mainan itu.
Kincir mainan mulai berputar pelan-pelan. Tak ada yang aneh di situ, memang ia dibuat supaya berputar. Tapi… tapi itu kalau ada angin! Maka Musashi bangun dan menajamkan pendengaran baik-baik. Terdengar bunyi pintu yang ditutupkan pelan-pelan. Kincir mainan berhenti berputar.
Diam-diam Musashi meletakkan kembali kepalanya ke bantal dan mencoba menduga apa yang sedang terjadi di rumah itu. Ia laksana seekor serangga di bawah selembar daun, yang mencoba meramalkan cuaca di atasmya. Seluruh tubuhnya sudah terbiasa dengan perubahan sekecil apa pun di sekitarnya, dan sarafnya yang peka betul-betul tegang. Musashi tahu, hidupnva dalam bahaya, tapi dari mana?
“Apa ini sarang penyamun?” begitu mula-mula ia bertanya pada diri sendiri. Tapi tidak. Kalau mereka pencuri betul, tentunya mereka tahu ia tak punya apa-apa.
“Apa dia dendam padaku?” Itu pun rasanya tidak tepat. Musashi merasa pasti, belum pernah ia melihat Baiken sebelumnya.
Walaupun tak dapat menggambarkan sebabnya, kulit dan tulangnya dapat merasakan bahwa seseorang atau sesuatu sedang mengancam hidupnya tahu bahwa apa pun bentuknya, ancaman itu sangat dekat. Ia harus memutuskan dengan cepat, apakah akan berbaring menunggu datangnya bahaya, ataukah meloloskan diri sebelum tiba waktunya.
Ia ulurkan tangannya ke atas ambang pintu bengkel untuk mencari sandalnya. Ia selipkan mula-mula sebelah sandal, dan kemudian sandal yang lain ke bawah seprai, ke bagian kaki tempat tidur.
Kincir mainan itu mulai berputar lagi. Dalam cahava api ia berputar seperti bunga yang terkena sihir. Langkah-langkah kaki terdengar lirih, baik di dalam maupun di luar rumah, ketika Musashi pelan-pelan menggulung tilam menjadi bentuk tubuh manusia.
Di bawah tirai pendek di pintu muncul sepasang mata milik orang yang sedang merangkak masuk dengan pedang terhunus. Seorang lagi yang membawa lembing dan bergayut erat pada dinding mengendap ke bagian kaki tempat tidur. Kedua orang itu menatap seprai tempat tidur dan mendengarkan napas orang yang sedang tidur. Kemudian, seperti gumpalan asap, orang ketiga melompat masuk. Orang itu Baiken sendiri yang memegang sabit dengan tangan kiri dan peluru dengan tangan kanan.
Ketiga mata orang itu bertemu, dan mereka mempersamakan napas. Orang yang berada di bagian kepala tempat tidur menendang bantal ke udara, sedangkan yang di bagian kaki melompat masuk bengkel dan membidikkan lembingnya ke benda terbaring itu.
Dengan sabit di belakang tubuhnya, Baiken berseru, “Bangun, Musashi!”
Tak ada jawaban atau gerakan datang dari tilam. Orang yang memegang lembing menyingkapkan seprai. “Dia tak ada,” serunya.
Baiken melontarkan pandangan bingung ke kamar, dan terpandang olehnya kincir mainan berputar cepat. “Ada pintu terbuka!” pekiknya.
Segera seorang lagi berseru marah. Pintu bengkel yang menghadap jalan setapak yang menuju ke belakang rumah terbuka sekitar tiga kali lebarnva. dan angin tajam bertiup ke dalam.
“Dia keluar dari sini!”
“Apa kerja orang-orang tolol itu!” jerit Baiken sambil berlari ke luar. Dari bawah ujung atap dan bayangan bermunculan sosok-sosok tubuh hitam. “Beres, Pak?” tanya satu suara rendah bergairah.
Baiken menatap berang. “Apa maksudmu, goblok? Menurutmu, kenapa kau kusuruh jaga di sini? Dia lari! Pasti dia lewat sini tadi.”
“Lari? Bagaimana dia bisa lari?”
“Pakai tanya lagi? Keledai kepala besar!” Baiken kembali masuk rumah dan berjalan mondar-mandir dengan bingung. “Cuma ada dua jalan yang mungkin dia ambil: ke jalan raya Tsu. Mana pun yang dia tempuh, dia pasti belum jauh. Kejar dia!”
“Lewat jalan mana, menurut Bapak?”
“Aku ke Suzuka. Kamu tutup jalan bawah itu!”
Orang-orang yang ada di dalam bergabung dengan orang-orang yang ada di luar, menjadi rombongan campuran terdiri atas sekitar sepuluh orang. semuanya bersenjata. Seorang di antaranya yang membawa bedil tampak seperti pemburu lainnya, yang membawa pedang pendek barangkali pembelah kayu.
Ketika berpisah, Baiken berseru, “Kalau kau temukan dia tembakkan bedil, dan semua kumpul.”
Mereka berangkat cepat-cepat, tapi sekitar satu jam kemudian mereka kembali satu-satu dengan wajah murung, berceloteh antara sesamanya dengan kesal. Mereka mengira akan mendapat makian pemimpinnya, tapi sampai di rumah mereka dapati Baiken duduk di lantai bengkel dengan mata tertunduk tanpa cahaya.
Ketika mereka mencoba menggembirakan hatinya, Baiken berkata, “Tak ada gunanya menangisinya sekarang.” Untuk mencoba melampiaskan kemurkaannya, ia ambil sepotong kayu arang dan ia patahkan kayu itu dengan lututnya.
“Ambil sake! Aku mau minum.” Ia nyalakan api itu kembali dan ia masukkan lagi ranting-ranting kayu api.
Sambil mencoba menenangkan bayinya, istri Baiken mengingatkan suaminya bahwa sake tak ada lagi. Seorang dari orang-orang itu dengan sukarela men-datangkan sake dari rumahnya, dan ia lakukan itu dengan cepat. Segera kemudian minuman itu sudah panas, dan mangkuk-mangkuk diedarkan.
Percakapan hanya terjadi di sana-sini dan kedengaran murung.
“Bikin aku gila.”
“Bajingan kecil busuk.”
“Dia punya jimat! Pasti.”
“Tak usah kuatir soal itu, Pak. Bapak sudah lakukan semua yang mungkin. Orang-orang di luar inilah tadi yang gagal dalam tugas.”
Orang-orang yang dimaksud itu meminta maaf dengan wajah malu. Mereka mencoba membuat Baiken mabuk, supaya mau pergi tidur, tapi Baiken hanya duduk memberengut karena pahitnya sake, tidak menegur siapa pun atas kegagalan itu.
Akhirnya ia berkata, “Mestinya tak usah aku membesarkan soal dengan mengerahkan begitu banyak bantuan dari kalian. Mestinya aku dapat menanganinya sendiri, tapi tadinya kupikir aku mesti hati-hati. Dia sudah membunuh saudaraku, sedangkan Tsujikaze Temma itu bukan pejuang kecil.”
“Apa ronin itu betul-betul anak yang sembunyi di rumah Oko empat tahun yang lalu?”
“Mestinya begitu. Jisim saudarakulah yang membawanya kemari, aku yakin. Semula tak pernah terpikir olehku, tapi kemudian dia mengatakan pernah di Sekigahara, dan namanya waktu itu Takezo. Melihat umurnya dan macamnya, memang dia yang membunuh saudaraku. Pasti dialah itu.”
“Lebih baik Bapak tidak memikirkannya lagi malam ini. Berbaringlah dan tidurlah.”
Mereka semua membantunya ke tempat tidur. Beberapa orang memungut bantal yang tadi ditendang dan meletakkannya di bawah kepalanya. Begitu mata Baiken tertutup, kemurkaan yang memenuhi dirinya diganti oleh dengkur keras.
Orang-orang saling mengangguk dan mengundurkan diri, bubar ke tengah kabut pagi buta. Mereka semua orang-orang jembel—anak buah bromocorah seperti Tsujikaze Temma dari Ibuki dan Tsujikaze Kohei dari Yasugama, yang sekarang menyebut dirinya Shishido Baiken. Bisa juga mereka itu sekadar begundal di anak tangga terbawah dalam masyarakat bebas. Karena desakan waktu yang sedang mengalami perubahan, mereka menjadi petani, tukang, atau pemburu, tapi masih punya gigi yang siap dipakai menggigit orang baik-baik, kapan saja ada kesempatan.
Yang terdengar di rumah itu kini hanya bunyi penghuni yang tidur dan gerekan tikus ladang.
Di sudut gang yang menghubungkan ruang kerja dengan dapur, di samping tungku tanah besar, berdiri setumpuk kayu bakar. Di atasnya tergantung sebuah payung dan mantel-mantel jerami yang berat. Di dalam bayangan antara tungku dan dinding, salah satu mantel hujan itu bergerak, pelan dan lirih mengingsut ke dinding, sampai akhirnya tergantung pada paku.
Tubuh manusia yang seperti asap itu tiba-tiba seperti muncul dari dinding. Musashi muncul dari dinding. Musashi tak satu langkah pun meninggalkan rumah itu. Sesudah menyelinap dari bawah seprai tadi ia membuka pintu luar dan mencampurkan diri dengan kayu api, dan menutup dirinya dengan mantel hujan.
Kini ia berjalan pelan-pelan melintasi bengkel dan memandang Baiken.
Amandelnya bengkak, pikir Musashi, karena dengkur Baiken bukan main kerasnya. Keadaan itu terasa lucu olehnya, dan ia menyeringai.
Ia berdiri di sana sejenak, berpikir. Praktis ia sudah memenangkan pertarungan dengan Baiken. Suatu kemenangan telak. Namun orang yang terbaring itu saudara Tsujikaze Temma dan sudah mencoba membunuhnya untuk menyenang-kan roh saudaranya yang telah mati—suatu sentimen yang mengagumkan untuk seorang bromocorah.
Mestikah Musashi membunuhnya? Kalau Musashi membiarkannya hidup, ia akan terus mencari kesempatan melaksanakan balas dendam. Jalan yang aman, tidak sangsi lagi, adalah menyingkirkannya sekarang juga. Tapi persoalan yang masih harus dijawab adalah, apakah orang itu pantas dibunuh.
Musashi berpikir keras sejenak, sebelum akhirnya menemukan pemecahan yang kelihatannya paling tepat. Ia pergi ke dinding dekat kaki Baiken dan mengambil salah satu senjata pandai besi itu. Sambil mengeluarkan mata sabit dari lekuknya, ia mengamati wajah orang yang sedang tidur itu. Kemudian dibungkuskannya secarik kertas lembap di sekitar mata sabit itu melintang di leher Baiken, dan ia undur mengagumi hasil karyanya.
Kincir mainan itu tidur juga. Sekiranya tak ada kertas pembungkus itu, demikian pikir Musashi, kincir itu bisa terbangun pagi harinya dan berputar kencang menyaksikan kepala tuannya terjatuh dari bantal.
Ketika Musashi membunuh Tsujikaze Temma dulu, ia punya alasan untuk melakukannya, lagi pula waktu itu darahnya masih mendidih oleh demam pertempuran. Namun kini tak ada satu pun manfaat yang bisa ia peroleh dari mengambil nyawa pandai besi itu. Lagi pula, siapa tahu, kalau ia membunuh orang itu, anaknya yang masih kecil nantinya akan menghabiskan hidupnya untuk berusaha membalas dendam kepada pembunuh ayahnya.
Malam itu berkali-kali Musashi memikirkan ayah dan ibunya sendiri. Ia merasa sedikit iri berdiri di dekat keluarga yang sedang tidur ini, dan samar-samar tercium olehnya bau manis susu ibu. Ia bahkan merasa enggan meninggalkan tempat itu.
Dalam hatinya ia berkata pada mereka, “Saya minta maaf telah mengganggu kalian. Tidurlah yang nyenyak.” Pelan-pelan ia membuka pintu luar dan pergi.
bagian 13
Kuda Terbang
OTSU dan Jotaro tiba di perbatasan larut malam, menginap di sebuah rumah penginapan, kemudian melanjutkan perjalanan lagi sebelum kabut pagi menghilang. Dari Gunung Fudesute mereka berjalan ke Yonkenjaya. Di situ untuk pertama kali mereka merasakan hangatnya matahari terbit yang menyinari punggung.
“Bukan main indahnya!” ujar Otsu. Ia berhenti melihat bulatan emas besar itu. Ia tampak penuh harapan dan keriangan. Itulah saat indah ketika semua benda bernyawa, bahkan juga tumbuhan dan binatang, merasa puas dan bangga karena hidup di dunia ini.
Jotaro berkata senang, “Kita berdua yang pertama di jalan ini. Tak ada orang di depan kita.”
“Kedengarannya bangga betul kamu. Apa artinya?” “Oh, banyak artinya.” “Apa menurutmu jalan ini lalu jadi lebih pendek?” “Oh, bukan. Senang rasanya menjadi orang pertama, biar cuma pertama di jalan. Mesti Kakak akui, itu lebih
baik daripada berjalan di belakang joli atau kuda.” “Memang betul.” “Kalau tak ada orang lain di jalan yang kujalani, aku merasa jalan itu milikku.” “Kalau begitu, kenapa tidak kamu umpamakan dirimu seorang samurai besar yang sedang menunggang
kuda dan memeriksa tanahmu yang luas? Aku akan jadi pembantumu.” Otsu memungut sebatang bambu,
dan sambil mengayun-ayunkan bambu itu dengan khidmat ia berseru-seru dengan nada sama, “Semua
membungkuk! Semua membungkuk kepada Yang Dipertuan!”
Seorang lelaki memandang bertanya-tanya dari bawah ujung atap warung teh. Tertangkap basah sedang
bermain seperti anak-anak, wajah Otsu memerah dan ia berjalan terus secepat-cepatnya. “Oh, jangan begitu,” protes Jotaro. “Tak boleh kamu lari dari tuanmu. Kalau lari, terpaksa aku membunuhmu!”
“Aku tak mau main lagi, ah!”
“Lho, kan Kakak yang main tadi, bukan aku?”
“Ya, tapi kamu yang mulai. Lihat itu! Orang di warung teh itu memandang kita terus. Pasti dikiranya kita
sinting.” “Mari kita kembali ke sana.” “Buat apa?” “Aku lapar.” “Sudah lapar?” “Apa tak bisa kita makan separuh kue nasi yang buat makan siang?” “Sabar. Kita belum lagi tiga kilometer. Kalau kubiarkan bisa-bisa kamu makan lima kali sehari.” “Mungkin. Tapi Kakak tak pernah lihat aku naik joli atau menaiki kuda seperti Kakak.” “Ah, itu kan cuma tadi malam, dan cuma karena sudah gelap dan kita mesti buru-buru. Kalau begitu
pendapatmu, aku akan jalan sepanjang hari im. “Hari ini giliranku naik kuda.” “Anak-anak tak perlu naik kuda.” “Tapi aku ingin naik kuda. Apa tak bisa? Bisa, kan?” “Barangkali, tapi hari ini saja.” “Kulihat ada kuda terikat di warung teh itu. Kita dapat menyewanya.” “Jangan, sekarang masih terlalu pagi.” “Kalau begitu, Kakak bohong tadi bilang aku boleh naik kuda!” “Aku tidak bohong, tapi kamu kan belum capek? Menyewa kuda itu membuang-buang uang saja.”
“Kakak kan tahu betul, aku tak pernah capek. Aku tak akan capek, biar kita jalan seratus hari atau seribu lima ratus kilo. Kalau mesti tunggu sampai lelah, tak bakal aku naik kuda. Ayolah, mari kita sewa kuda sekarang, mumpung tak ada orang di depan kita. Ini lebih aman daripada kalau jalan ramai. Ayolah!”
Karena merasa bahwa kalau terus begitu mereka akan kehilangan waktu yang sudah mereka hemat dengan berangkat pagi-pagi, maka Otsu menyetujui. Begitu Jotaro merasa Otsu mengangguk setuju, ia berlari kembali ke warung teh ia memang tidak menantikan anggukan Otsu.
Walaupun di sekitar itu terdapat empat warung teh, seperti ditunjukkan oleh nama Yonkenjaya itu, warung¬warung itu terletak di berbagai tempat yang berlainan di lereng Gunung Fudesute dan Kutsutake. Adapun warung yang baru mereka lewati itulah satu-satunya yang tampak oleh mereka.
Jotaro berlari menjumpai pemilik warung, kemudian berhenti tiba-tiba, serunya, “Hei, siapa di situ? Aku mau
kuda! Keluarkan satu buatku!” Orang tua itu sedang menurunkan daun jendela. Teriakan bernafsu anak itu mengejutkannya dan membangunkannya. Dengan muka masam ia menggerutu, “Apa saja ini! Buat apa memekik sekeras itu!”
“Aku perlu kuda. Minta disiapkan sekarang juga. Berapa sampai Minakuchi? Kalau tak begitu mahal, bisa diteruskan sampai Kusatsu.” “Tapi kamu ini anak siapa?” “Aku anak ibuku dan ayahku,” jawab Jotaro kurang ajar. “Kupikir turunan liar dewa badai.” “Kamu ini dewa badainya. Tampangmu gila macam guntur.” “Bandel!”
“Mana kudanya!” “Oh, kau pikir kuda itu buat disewakan? Kuda itu tidak disewakan. Maka aku kuatir tidak mendapat kehormatan meminjamkannya kepada Tuan.”
Dan untuk mengimbangi nada bicara orang itu, Jotaro menyahut, “Oh, jadi aku tak akan mendapat
kehormatan menyewanya?” “Lancang kamu, ya?” teriak orang itu sambil mengambil ranting menyala dari api di bawah tungku dan melemparkannya kepada anak itu. Ranting iru tidak mengenai Jotaro, tapi menimpa kuda tua yang tertambat di bawah ujung atap. Sambil meringkik membelah udara, kuda itu mundur .ian membenturkan punggungnya ke tiang.
Bajingan!” jerit si pemilik. Ia melompat keluar dari warung sambil memuntahkan sumpah serapah dan berlari
mendapatkan binatang itu. Selagi ia melepaskan tali dan menuntun kuda itu ke pekarangan samping, Jotaro mulai lagi. “Pinjamkan dia untuk aku.”
“Tidak bisa.” “Kenapa tak bisa?” “Tak ada tukang yang membawanya.” Otsu memihak Jotaro dan menyarankan, kalau tak ada tukang kuda ia dapat membayar uang di muka dan
mengirimkan kuda pulang kembali dari Minakuchi bersama musafir yang pergi ke sini. Sikap Otsu yang memohon itu melunakkan si orang tua, dan ia mengambil keputusan bahwa ia dapat mempercayai Otsu. Sambil menyerahkan tali kepada Otsu, karanva, “Kalau begitu, bisa kaubawa dia ke Minakuchi, atau juga ke Kusatsu, kalau kau mau. Cuma permintaanku, kirim dia kembali.”
Ketika mereka akan berangkat, ujar Jotaro marah, “Apa pendapat Kakak tentang dia? Dia perlakukan aku
seperti keledai, tapi begitu dia lihat wajah manis….”
“Hati-hati kamu, kalau bicara tentang orang tua itu. Kudanya ini mendengarkan. Dia bisa marah dan melemparkanmu.” “Apa menurut Kakak, kuda tua lemah kaki ini bisa mengalahkan aku?” “Kamu kan belum bisa naik kuda?” “Siapa bilang tak bisa?” “Lalu macam apa pula ini, naik dari belakang?” “Ah. tolong dong!” “Brengsek!” Otsu memegang ketiak Jotaro dan menaikkannya ke punggung binatang itu. Jotaro memandang megah ke sekitar, ke dunia di bawahnya. “Kakak jalan di depan, dong,” katanya. “Dudukmu belum benar.” “Jangan kuatir. Soal itu beres.” “Baiklah, tapi kamu menyesal nanti.” Sambil memegang tali kekang dengan satu tangan, Otsu melambaikan
ucapan selamat berpisah kepada pemilik kuda dengan tangan satunya, lalu keduanya berangkat.
Belum lagi seratus langkah, mereka sudah mendengar pekik keras dari tengah kabut di belakang mereka, diiringi langkah kaki berlari. “Siapa itu kira-kira?” tanya Jotaro. “Apa kita yang dipanggilnya?” tanya Otsu. Mereka menghentikan kuda itu dan menoleh. Di tengah kabut putih mengasap itu terbentuk bayangan
orang. Semula mereka hanya dapat menangkap garis bentuknya saja, kemudian warnanya, tapi segera kemudian orang itu sudah cukup dekat, hingga mereka dapat mengira-ngirakan penampilannya dan umurnya. Hawa setani mengitari tubuhnya, seakan-akan orang itu diikuti angin pusaran yang sedang mengamuk. Orang itu cepat mendekat ke samping Otsu, berhenti, dan dengan gerakan cepat merebut tali kekang dari tangan Otsu.
“Turun!” perintahnya sambil menatap Jotaro.
Kuda itu berlari kecil mundur. Sambil mencekal bulu tengkuknya, Jotaro memekik, “Hei, mana boleh begitu! Aku yang menyewa kuda ini, bukan kamu!” Orang itu mendengus, menoleh kepada Otsu, katanya, “Perempuan!” “Ya?” kata Otsu lirih. “Namaku Shishido Baiken. Aku tinggal di Desa Ujii di pegunungan. sebelah sana perbatasan. Aku sedang
mengejar orang yang namanya Miyamoto Musashi. Dia lewat jalan ini sebelum fajar tadi. Barangkali dia lewat beberapa jam lalu, jadi aku mesti jalan cepat kalau mau berhasil mengejar dia di Yasugawa, perbatasan Omi. Berikan kuda ini padaku.” Orang itu bicara sangat cepat, tulang rusuknya mengembang dan mengempis. Dalam udara dingin itu, kabut mengental menjadi bunga es pada cabang-cabang dan ranting-ranting pohon, tapi leher orang itu berkelip-kelip seperti ular karena keringat.
Otsu tegak diam, wajahnya putih seperti mayat, seakan bumi di bawahnya menguras seluruh darah tubuhnya. Bibirnya menggeletar. Ingin sekali ia bertanya, untuk memastikan apa yang didengarnya itu benar. Tapi ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.
“Kamu bilang Musashi?” ucap Jotaro. Ia masih mencengkeram bulu tengkuk kuda itu, tapi kaki dan tangannya gemetar.
Baiken demikian terburu-buru, hingga tidak melihat geletar tubuh mereka. “Ayo cepat! Kalau tidak kucambuk kamu!” Dan ia mengacungkan ujung tali kekang itu seperti cambuk.
Jotaro tetap menggeleng. “Aku tak mau.”
“Apa maksudmu tak mau?”
“Ini kudaku, kamu tak bisa mengambilnya. Tak peduli kamu terburu-buru atau tidak.”
“Awas kau! Sikapku sudah baik sekali, kujelaskan duduk perkaranya, kalian cuma seorang perempuan dan anak yang jalan sendiri, tapi…”
“Betul, kan, Otsu?” sela Jotaro. “Tak boleh dia ambil kuda ini, kan?” Otsu ingin memeluk anak itu. Baginya soalnya bukanlah kuda itu, tetapi bagaimana mencegah orang jahat ini mengejar lebih cepat.
“Betul,” katanya. “Saya percaya Tuan memang buru-buru, tapi kami juga buru-buru. Tuan dapat menyewa salah satu kuda yang jalan naik-turun gunung ini dengan teratur. Seperti dikatakan anak ini, tidak adil kalau Tuan mencoba mengambil kuda ini dari kami.”
“Aku tak mau turun,” ulang Jotaro. “Lebih baik aku mati daripada turun!”
“Sudah bulat kamu tak mau melepaskan kuda ini?” tanya Baiken kasar.
“Mestinya kamu sudah tahu, kami tak mau,” jawab Jotaro geram.
“Anak anjing!” teriak Baiken, marah oleh nada bicara anak itu.
Jotaro yang mengetatkan cengkeramannya pada bulu tengkuk kuda itu tampak hanya sedikit lebih besar dari seekor kucu. Baiken menjangkau sebelah kaki Jotaro dan menariknya turun. Inilah saatnya Jotaro mesti menggunakan pedang kayunya. Tapi karena bingung ia lupa sama sekali akan senjata itu. Berhadapan dengan musuh yang lebih kuat daripada dirinya, satu-satunya cara bertahan yang teringat olehnya adalah meludahi muka Baiken, dan itulah yang dilakukannya berulang-ulang.
Otsu jadi ngeri sekali. Rasa takut akan terluka atau terbunuh oleh orang ini mendatangkan rasa asam dan kering dalam mulutnya. Tapi memang tak ada soal menyerah dan membiarkan orang itu mengambil kuda. Musashi sedang dikejar makin lama ia dapat menghambat iblis ini, makin banyak Musashi punya waktu untuk lari. Tak jadi soal baginya, apakah jarak antara Musahi dan dirinya akan bertambah juga, justru pada waktu ia tahu bahwa setidak-tidaknya mereka berada di jalan yang sama. Sambil menggigit bibir dan kemudian menjerit, “Kamu tidak boleh berbuat begitu!” ia memukul dada Baiken dengan tenaga yang bahkan ia sendiri pun tak menduganya.
Karena masih menghapus ludah dari wajahnya, Baiken kehilangan ke-seimbangan, dan pada detik itulah tangan Otsu menangkap gagang pedangnya.
“Anjing!” salak orang itu, berusaha mencengkeram pergelangan tangan Otsu. Tapi tiba-tiba ia melolong kesakitan. Karena sebagian pedang itu sudah keluar dari sarungnya, bukan tangan Otsu yang ia parut, tapi mata pedang. Ujung dua jari tangan kanannya jatuh ke tanah. Sambil memegang tangan yang berdarah itu ia melompat mundur, sehingga tak sengaja menghunus pedang dari sarungnya. Baja berkilau cemerlang yang terulur dari tangan Otsu menggaruk tanah dan berhenti di belakang gadis itu.
Baiken melakukan kesalahan lebih besar lagi daripada malam sebelumnya.
Sambil mengutuk diri sendiri karena sikapnya yang tidak hati-hati, ia berjuang untuk memperoleh kembali keseimbangannya. Otsu kini tidak takut pada apa pun dan mengayunkan pedang itu ke samping, ke arah orang itu. Tapi senjata itu senjata besar berlempeng lebar, panjangnya hampir tiga kaki, tidak setiap lelaki dapat menggunakannya. Ketika Baiken menghindar, tangan Otsu guncang dan ia terhuyung ke depan. Ia rasakan kedua tangannya terpilin sekilas dan darah hitam kemerahan menyembur ke wajahnya. Setelah pusing sebentar, ia sadar bahwa pedang mengenai pantat kuda.
Luka itu tidak dalam, tapi kuda itu memperdengarkan suara mengerikan, kemudian mundur dan menyepak dengan liarnya. Disertai teriakan tak keruan, Baiken mencengkeram terus pergelangan tangan Otsu dan mencoba memperoleh kembali pedangnya, tapi waktu itu si kuda menyepak mereka berdua ke udara. Kemudian, sambil berdiri pada kaki belakangnya, kuda meringkik keras dan terbang ke jalan seperti anak panah lepas dari busurnya, sementara Jotaro terus bergayut kuat-kuat pada punggungnya dan darah mencurah di belakangnya.
Baiken terhuyung-huyung di udara penuh debu. Ia tahu tak dapat menangkap binatang yang menggila itu, karena itu dengan mata marah ia menoleh ke tempat Otsu tadi berada. Tapi Otsu sudah tak ada.
Sesaat kemudian ia melihat pedangnya di bawah sebatang pohon larch, dan sekali sergap ia mengambilnya kembali. Sesudah ia membenahi diri, terpikir olehnya: tentunya ada hubungan antara perempuan ini dengan Musashi! Dan kalau ia teman Musashi, ia bisa menjadi umpan yang baik sekali. Setidaknya ia pasti tahu ke mana perginya Musashi.
Setengah berlari setengah meluncur ia menuruni tanggul di samping jalan, mengitari sebuah rumah pertanian beratap lalang, memeriksa bawah lantai dan dalam gudangnya. Seorang perempuan tua yang membungkuk di balik mesin pemintal dalam rumah memandangnya ketakutan.
Kemudian tampak olehnya Otsu berlari kencang melintasi rumpun kriptomeria yang rimbun, menuju lembah di kejauhan. Kelihatan bercak-bercak salju terakhir.
Ia menyerbu turun bukit dengan tenaga bagai tanah longsor dan segera dapat menguasai jarak yang memisahkan mereka.
“Anjing!” teriaknya sambil mengulurkan tangan kiri dan memegang rambut Otsu.
Otsu jatuh ke bawah dan berpegangan pada akar-akar sebatang pohon, tapi kakinya tergelincir dan tubuhnya jatuh ke ujung karang terjal. Di situ tubuh itu berayun-ayun seperti bandul jam. Lumpur dan kerikil jatuh ke wajahnya ketika ia memandang ke atas, ke mata Baiken yang besar dan pedangnya yang berkilauan.
“Tolol!” kata Baiken menghina. “Kau pikir kau bisa lolos sekarang?”
Otsu menatap ke bawah. Lima puluh atau enam puluh kaki di bawah sana sebatang sungai melintasi dasar lembah. Anehnya ia tidak takut. Ia menganggap lembah itu sebagai penyelamatnya. Kapan saja ia mau, ia dapat meloloskan diri hanya dengan melepaskan pohon itu dan melemparkan diri, menyerahkan diri kepada ruang terbuka di bawah. Ia merasakan dekatnya maut, tapi bukan itu yang dipikirkannya. Ia pusatkan pikiran pada satu-satunya bayangan dalam batinnya: Musashi. Ia seolah melihat Musashi seperti bulan bulat di langit penuh badai.
Baiken cepat menangkap pergelangan Otsu, mengangkatnya, dan menyeret-nya dari ujung karang.
Tepat pada saat itu seorang begundalnya memanggil dari jalan. “Apa kerja Bapak di sana? Sebaiknya kita cepat-cepat. Orang tua di warung itu tadi bilang, seorang samurai membangunkannva sebelum fajar, memesan makan siang, dan lari ke Lembah Kaga.”
“Lembah Kaga?”
“Katanya. Tapi dia pergi ke sana atau menyeberang Gunung Tsuchi ke Minakuchi, bukan soal. Semua jalan itu sampai Ishibe. Kalau kita cepat-cepat ke Yasugawa, kita akan bisa menangkapnya di sana.”
Punggung Baiken membelakangi orang itu, sedangkan matanya terpancang pada Otsu yang meringkuk di depannya, seakan terjebak oleh pandangan ganas Baiken. “Hei!” raung Baiken. “Kalian bertiga turun sini!”
“Ada apa?”
“Turun sini cepat!”
“Kalau kita buang waktu, Musashi akan mendahului kita ke Yasugawa.”
“Biar.”
Ketiga orang itu sebagian orang-orang yang ikut melakukan pencarian sia-sia malam sebelumya. Karena terbiasa berjalan melintasi pegunungan, mereka dapat menyerbu menuruni lereng dengan kecepatan gerombolan babi hutan. Sampai di tempat berdirinya Baiken, mereka melihat Otsu. Pemimpin mereka cepat menjelaskan keadaan itu.
“Ikat dia dan bawa,” kata Baiken sebelum berangkat melintasi hutan.
Mereka mengikat Otsu, tapi merasa kasihan kepadanya. Otsu terbaring tanpa daya di tanah, wajahnya menghadap ke samping. Dengan mencuri-curi mereka melontarkan pandangan malu ke raut muka Otsu yang pucat.
Baiken sudah di Lembah Kaga. Ia berhenti, menoleh ke karang, dan berteriak, “Kita ketemu di Yasugawa. Aku ambil jalan pintas, tapi kalian terus ambil jalan raya. Dan buka mata kalian.”
“Baik, Pak!” sahut mereka serempak.
Baiken berlari seperti kambing gunung di antara batu-batu karang, dan segera kemudian sudah tidak kelihatan.
Jotaro terus meluncur ke jalan raya. Meskipun sudah tua, kuda itu demikian menggila, hingga tak dapat dihentikan seutas tali kekang, kalaupun Jotaro tahu caranva. Karena luka baru yang membakar seperti obor, ia melaju membuta ke depan, mendaki bukit turun lembah, melintasi desa-desa.
Suatu nasib baik semata-mata bahwa Jotaro tidak terlontar. “Awas! awas!” jeritnya berulang-ulang. Kata¬kata itu sudah seperti doa yang terus diulangulangnya.
Karena tak bisa lagi bergayut pada bulu tengkuk kuda, ia mengetatkan cekalannya pada leher kuda. Matanya tertutup.
Apabila pantat binatang itu naik ke udara, Jotaro ikut juga naik. Karena lama-kelamaan sadar bahwa teriakan-teriakannya tidak bermanfaat, berangsur-angsur permohonannya berganti dengan lolongan sedih. Ketika ia minta Otsu membolehkannya naik kuda tadi, pikirnya alangkah hebat mencongklang sekehendak hati dengan kuda indah, tapi sesudah beberapa menit saja naik dengan cara yang menegakkan bulu roma seperti itu, kapoklah ia.
Jotaro berharap ada orang-siapa saja-yang mau bersukarela menangkap tali kekang yang lepas itu dan menghentikan si kuda. Tapi harapan itu rasanya berlebihan, karena orang jalan dan orang desa tak ada yang mau terluka oleh perkara yang tidak menyangkut kepentingan mereka. Bukannya membantu, semua orang malah mencoba mencari tempat aman di pinggir jalan dan memaki penunggang kuda yang tidak bertanggung jawab itu.
Sebentar saja ia telah melewati Desa Mikumo dan sampai di kota penginapan Natsumi. Sekiranya ia penunggang ahli yang dapat dengan sempurna mengendalikan kudanya, dapat kiranya ia memayungi mata dengan tangan, dan dengan tenang meninjau pegunungan dan lembah Iga yang indah itu-meninjau ke puncak Nunobiki, Sungai Yakota, dan di kejauhan perairan Danau Biwa yang seperti cermin.
“Berhenti! Berhenti! Berhenti!” nada teriakannya telah berubah. Lebih kuatir. Dan ketika mulai menuruni Bukit Koji, teriakannya mendadak berubah lagi. “Tolong! Tolong!” jeritnya.
Kuda mulai menuruni lereng terjal, dan Jotaro terpental-pental seperti bola di atas punggungnya.
Sekitar sepertiga jalan ke bawah, sebatang pohon ek besar menonjol dari sebuah karang terjal di sebelah kiri, dan salah satu cabangnya mencongak menyeberang jalan. Ketika Jotaro merasa daun-daunan menempel di wajahnya, ia menyatukan kedua tangannya, dengan keyakinan bahwa dewa-dewa telah mendengar doanya dan menggerakkan anggota badannya ke depan. Barangkali ia benar. Ia melompat seperti kodok, dan sesaat kemudian sudah tergantung di udara, kedua tangannya merangkum erat-erat dahan di atas kepalanya. Kuda lolos dari bawahnya dan lari sedikit lebih cepat, karena tanpa pengendara lagi.
Untuk menjatuhkan diri ke tanah, jaraknya tidak lebih tiga meter. Tapi Jotaro tak mau memaksa diri melepaskan cengkeramannya. Dalam keadaan sangat terguncang itu, jarak yang begitu dekat terasa seperti jurang menganga. Ia bergantung terus pada dahan penyelamat hidupnya, ia silangkan kedua kakinya di atas dahan itu, ia perbaiki letak tangannya yang sakit, dan bertanya-tanya dengan gundahnya dalam hati, apa yang harus dilakukannya. Persoalan segera terpecahkan. Cabang itu patah dengan suara berderak. Sesaat Jotaro menyangka telah mati, duduk di tanah tanpa cedera.
“Haa … h,” hanya itu yang dapat dikatakannya.
Beberapa menit lamanya ia duduk malas, semangatnya merosot, kalau tak hendak dikatakan patah. Kemudian ia ingat, kenapa ada di sana, dan langsung lompat berdiri. Tanpa mengindahkan tanah yang diinjaknya ia berseru, “Otsu!” Ia berlari balik mendaki lereng, sebelah tangannya erat memegang pedang kayu. “Apa yang mungkin terjadi dengan dia? …Otsu, Otsu! O-tsu-u-u!” Tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang lelaki berkimono merah kelabu yang menuruni bukit. Orang
asing itu mengenakan hakama kulit dan membawa dua bilah pedang, tapi tak berjubah. Sesudah melewati Jotaro ia menoleh dan katanya, “Halo!” Jotaro menengok, dan orang itu bertanya, “Apa yang terjadi?” “Bapak datang dari atas bukit sana, kan?” tanya Jotaro. “Ya.” “Apa Bapak lihat perempuan manis umur sekitar dua puluh tahun?” “Ya, kulihat.”
“Di mana?” “Di Natsumi kulihat beberapa bromocorah berjalan dengan seorang gadis. Tangan gadis itu terikat di belakang. Tentu saja aneh, tapi aku tak punya alasan untuk campur tangan. Aku yakin orang-orang itu gerombolan Tsujikaze Kohei. Mereka pindahan satu desa penuh gelandangan dari Yasugawa ke Lembah Suzuka beberapa tahun lalu.”
“Itu dia, aku yakin,” Jotaro mulai berjalan terus, tapi orang itu menghentikannya. “Apa kalian tadi jalan bersama?” tanyanya. “Ya. Namanya Otsu.” “Kalau kau nekat, kau bisa terbunuh sebelum dapat menolong orang lain. Kenapa kau tidak tunggu saja di
sini? Cepat atau lambat mereka akan lewat sini. Nah, sekarang ceritakan padaku, apa saja semua ini.
Barangkali aku dapat memberimu nasihat.” Jotaro segera menaruh kepercayaan pada orang itu dan menceritakan segala yang terjadi sejak pagi. Berkali-kali orang bertopi itu menganggukangguk. Ketika Jotaro selesai bercerita, ia berkata, “Aku mengerti kesulitannya, tapi biarpun dengan keberanian, seorang perempuan dan… anak lelaki bukan tandingan orang-orang Kohei. Kupikir lebih baik kuselamatkan Otsu, betul itu namanya?”
“Apa mau mereka menyerahkannya pada Bapak?”
“Barangkali tidak, kalau cuma diminta, tapi akan kupikirkan hal itu nanti. Sementara ini sembunyilah kamu di semak-semak, dan diam di sana.” Sementara Jotaro memilih rumpun semak dan bersembunyi di baliknya. orang itu melanjutkan jalan cepat
menuruni bukit. Sesaat Jotaro bertanya-tanya dalam hati, apakah ia tidak tertipu. Karena merasa kuatir, ia
mengangkat kepala ke atas belukar, tapi karena mendengar suara orang, ia menundukkan badan lagi. Satu-dua menit kemudian Otsu tampak, dikitari tiga orang dengan tangan terikat erat di belakang. Darah mengering di goresan pada kakinya yang putih.
Salah seorang bajingan itu menggeram sambil mendorong bahu Otsu ke depan, “Apa pula menoleh-noleh! Jalan cepat!” “Betul itu, jalan!”
“Saya mencari teman saya. Apa yang terjadi dengannya?… Jotaro!”
“Diam!” Jotaro sudah hampir memekik dan melompat keluar dari persembunyiannya, tapi ronin itu sudah kembali lagi, kali ini tampak mengenakan topi. Umurnya dua puluh enam atau dua puluh tujuh, dan warna mukanya
gelap. Pandangan matanya tampak lurus dan tidak mengembara ke kanan atau ke kiri. Sambil berjalan cepat mendaki lereng, ia berkata seolah kepada diri sendiri, “Mengerikan, betul-betul mengerikan!” Ketika melewati Otsu dan orang-orang yang menangkapnya, ia menegur mereka dengan gumaman dan
berjalan terus cepat-cepat, tetapi orang-orang itu menghentikannya. “Hei!” seru seorang di antaranya. “Apa
kamu bukan kemenakan Watanabe? Apanya yang mengerikan?” Watanabe adalah nama keluarga tua di daerah itu. Kepala keluarganya sekarang Watanabe Hanzo, seorang pelaksana taktik gaib yang dikenal dengan nama Ninjutzu.
“Belum dengar?” “Dengar apa?” “Di kaki bukit ini ada samurai, namanya Miyamoto Musashi, yang siap melakukan pertarungan besar. Dia
berdiri di tengah jalan dengan pedang terhunus, dan menanyai tiap orang yang lewat. Matanya paling dahsyat yang pernah saya lihat.”
“Musashi?” “Betul. Dia langsung mendatangi saya dan menanyakan nama saya, jadi saya katakan padanya nama saya Tsuge Sannojo, kemenakan Watanabe Hanzo, dan saya datang dari Iga. Dia minta maaf dan membiarkan saya pergi. Dia sangat sopan sesungguhnya. Katanya, selama saya tak ada hubungan dengan Tsujikaze Kohei, beres saja.”
“Begitu?” “Saya bertanya padanya, apa yang terjadi. Dia bilang Kohei ada di jalan itu dengan begundal-begundalnya,
mau menangkap dan membunuhnya. Dia bertekad berkubu di tempat itu dan menanti serangan di situ. Rupanya dia siap tempur sampai penghabisan.” “Benar yang kau katakan itu, Sannojo?” “Tentu saja. Buat apa saya bohong?” Wajah ketiga orang itu pucat. Mereka saling pandang dengan gelisah, ragu-ragu apa yang hendak mereka
lakukan. “Lebih baik Anda sekalian hati-hati,” kata Sannojo, pura-pura meneruskan jalan mendaki bukit. “Sannojo!” “Ya?” “Aku tak tahu apa yang mesti kami lakukan. Pak Ketua bilang, Musashi ini luar biasa kuatnya.” “Memang kelihatannya dia yakin betul dengan dirinya. Waktu dia mendekati saya dengan pedang, saya
betul-betul merasa takkan bisa melawannya.”
“Apa yang mesti kami lakukan menurutmu? Kami lagi membawa perempuan ini ke Yasugawa atas perintah Pak Ketua.” “Tak ada hubungannya dengan saya.” “Jangan seperti itu. Tolonglah kami.” “Mustahil! Kalau saya tolong Anda sekalian dan paman saya tahu, dia takkan mengakui saya lagi. Tapi tentu
saja saya dapat memberikan nasihat pada kalian.”
“Nah, bicaralah! Apa yang mesti kami lakukan?”
“Hm… Pertama, kalian dapat mengikat perempuan itu pada sebuah pohon dan meninggalkannya. Dengan begitu, kalian dapat bergerak lebih cepat.” “Ada lagi?” “Kalian jangan ambil jalan ini. Ada jalan yang agak lebih jauh, Anda sekalian dapat menempuh jalan lembah
ke Yasugawa dan memberitahu orang-orang di sana tentang semua ini. Kemudian kalian dapat mengepung Musashi dan berangsur-angsur menjepitnya.”
“Tidak jelek gagasan itu.” “Tapi Anda sekalian mesti hati-hati sekali. Musashi akan berkelahi demi hidupnya, dan dia akan membawa beberapa nyawa kalau dia pergi. Lebih baik Anda sekalian menghindar.”
Mereka segera sependapat dengan saran Sannojo, lalu mereka seret Otsu ke sebuah belukar dan mereka ikatkan talinya pada sebatang pohon. Kemudian mereka pergi, tapi beberapa menit kemudian mereka kembali untuk menyumbat mulutnya.
“Cukup kukira,” kata seorang. “Mari jalan.” Mereka masuk hutan. Sambil jongkok di belakang tabir dedaunan, Jotaro menanti dengan sabar, sebelum akhirnya mengangkat
kepala, meninjau sekitarnya. Tak seorang pun tampak olehnya-tak ada orang jalan, tak ada bromocorah, tak
ada Sannojo. “Otsu!” panggilnya sambil berjingkrak keluar dari semak. Ia cepat mendapatkan Otsu, melepaskan ikatannya, dan menggandengnya. Mereka berlari ke jalan. “Ayo pergi dari sini!” desaknya.
“Apa kerjamu sembunyi dalam semak itu?” “Tidak apa-apa! Ayo kita pergi!”
“Tunggu sebentar,” kata Otsu sambil berhenti untuk merapikan rambutnya, meluruskan kerahnya, dan membetulkan letak obi-nya. Jotaro mendecapkan lidahnya. “Ini bukan waktu buat berdandan. Apa tak bisa Kakak mengaturnya
kemudian?” “Tapi ronin itu bilang Musashi ada di kaki bukit.” “Oh, jadi itu sebabnya Kakak mempercantik diri?” “Tentu saja tidak,” kata Otsu, mempertahankan diri dengan sikap serius yang hampir-hampir lucu. “Tapi
kalau Musashi sudah begitu dekat, tak ada yang mesti kita kuatirkan. Dan karena kesulitan kita boleh dibilang sudah lewat, aku merasa tenang dan cukup aman memikirkan penampilan.” “Apa Kakak percaya, ronin itu betul-betul melihat Musashi?” “Tentu saja. Tapi omong-omong, di mana dia tadi?” “Dia baru saja menghilang. Agak aneh juga dia itu, ya?” “Kita pergi sekarang?” kata Otsu. “Kakak yakin sekarang sudah cukup manis?” “Jotaro!”
“Ah, cuma main-main. Kakak kelihatan senang.”
“Kamu juga.”
“Memang, tapi aku tak mencoba menyembunyikannya seperti Kakak. Aku akan berteriak, supaya tiap orang mendengar, ‘Aku senang!”‘ Ia menari-nari sedikit, melambai-lambaikan tangan, dan menendang¬nendangkan kaki, kemudian katanya, “Sungguh mengecewakan kalau Musashi tak ada di sana, ya? Aku akan lari duluan buat melihat.”
Otsu tenang saja. Hatinya sudah terbang ke dasar lereng sana, lebih cepat daripada lari Jotaro.
“Tampangku tak keruan,” pikirnya sambil mengamati kakinya yang luka dan berlumpur serta dedaunan yang menempel pada lngan kimononya.
“Ayolah!” seru Jotaro. “Apa yang dikutik-kutik itu?” Dari irama bicaranya, Otsu merasa pasti bahwa Jotaro sudah melihat Musashi.
“Akhirnya,” demikian pikirnya. Sampai waktu itu ia harus mencari kesenangan di dalam dirinya sendiri, dan ia sudah bosan. Ia merasakan semacam kebanggaan, baik kepada dirinya maupun kepada dewa-dewa, karena tetap setia pada tujuan. Sekarang, ketika ia akan bertemu dengan Musashi kembali, semangatnya menari-nari gembira. Ia tahu kegembiraan ini disebabkan oleh harapan yang dipendam-nya, namun ia tak dapat meramalkan apakah Musashi akan menerima kesetiaan-nya. Kegembiraan akan berjumpa dengan Musashi itu hanya sedikit ternodai firasat pedih, bahwa penemuan mungkin membawa kesedihan.
Di lereng bukit Koji yang teduh itu bumi beku, tapi di warung teh dekat kaki bukit, cuaca hangat hingga lalat¬lalat berterbangan. Ini kota penginapan, karena itu tentu saja warung menjual teh kepada para musafir. Dijual juga berbagai barang kebutuhan para petani daerah itu, mulai dari gula-gula murah sampai terompah sapi jerami. Jotaro berdiri di depan warung itu sebagai anak kecil di tengah lautan manusia vans ribut.
“Di mana Musashi?” Otsu mencari-cari ke sekitar.
“Tak ada,” jawab Jotaro lesu.
“Tak ada? Dia mesti ada!”
“Tapi aku tidak menemukannya dan tukang warung bilang tidak melihat samurai macam itu di sini. Mestinya keliru.” Jotaro memang tapi tidak patah hati.
Otsu bisa saja mengakui bahwa sebetulnya tak ada alasan baginya berharap seperti sekarang itu, tapi jawaban Jotaro yang tak acuh menjengkelkannya. Karena guncang hatinya dan sedikit marah melihat kurangnya perhatian Jotaro, ia berkata, “Apa sudah kau cari di sana?”
“Sudah.”
“Bagaimana kalau di belakang tonggak kilometer Koshin”
“Aku sudah lihat. Tak ada di situ.”
“Di belakang warung teh?”
“Sudah kubilang, tak ada di situ!” Otsu membuang muka dari Jotaro. “Kakak menangis?” tanya Jotaro.
“Bukan urusanmu,” kata Otsu tajam.
“Sungguh tak mengerti aku. Kakak ini biasanya cukup bijaksana, tapi kadang-kadang seperi bayi. Bagaimana mungkin kita tahu apakah Sannojo itu benar atau tidak? Kakak memutuskan sendiri cerita itu benar, tapi ketika ternyata tidak, Kakak menangis. Perempuan memang gila,” ujar Jotaro, lalu pecah ketawanya.
Otsu merasa ingin langsung duduk dan menyerah. Dalam sejenak saja cahaya hidupnya hilang. Ia merasa kehilangan harapan seperti sebehumnya, bahkan lebih lagi. Gigi sulung rusak dalam mulut Jotaro yang sedang tertawa itu memuakkannya. Dengan marah ia bertanya pada dirinya, kenapa ia menyeret-nyeret anak semacam ini ke mana-mana. Ia iadi ingin sekali meninggalkannya di tempat itu juga.
Benar, anak itu mencari Musashi juga, tapi ia mencarinya hanya sebagai guru. Bagi Otsu, Musashi adalah hidup itu sendiri. Jotaro dapat melepaskan segalanya dengan tawa dan kembali girang seperti biasa daiam sekejap, tapi Otsu bisa berhari-hari lamanya kehilangan daya untuk terus hidup. Dalam pikiran Jotaro yang masih muda itu terdapat keyakinan gembira bahwa pada suatu hari nanti, cepat atau lambat, ia akan bertemu kembali dengan Musashi. Otsu tak punya keyakinan akan akhir yang bahagia seperti itu. Sesudah terlampau optimis akan dapat bertemu dengan Musashi hari ini, kini ia berayun ke arah yang berlawanan dan bertanya pada diri sendiri, apakah hidupnya akan berlangsung selamanya seperti ini, dan ia tak akan lagi melihat atau berbicara dengan orang yang dicintainya.
Orang-orang yang dilanda cinta biasa mencari filsafat, dan karena itulah mereka suka akan kesendirian. Dalam hal Otsu yang yatim, ia merasa sangat terpencil dari orang lain. Untuk membalas sikap tak acuh Jotaro itu, ia mengerutkan kening dan diam-diam pergi meninggalkan warung teh.
“Otsu!” Suara itu suara Sannojo. Ia muncul dari belakang tonggak kilometer Koshin dan menghampiri Otsu lewat belukar yang layu. Sarung pedangnya lembap.
“Bapak bohong,” tuduh Jotaro.
“Apa maksudmu?”
“Bapak bilang Musashi menunggu di kaki bukit. Bapak bohong!”
“Jangan bodoh begitu!” kata Sannojo mencela. “Justru karena kebohongan itu Otsu dapat lolos, kan? Apa yang kamu keluhkan? Apa kamu tak mesti mengucapkan terima kasih padaku?”
“Jadi, Bapak mengarang cerita itu buat mengecoh orang-orang tadi?”
“Tentu saja.”
Sambil menoleh pada Otsu dengan sikap penuh kemenangan, Jotaro berkata, “Lihat tidak? Kubilang begitu tadi, kan?”
Otsu merasa berhak penuh marah kepada Jotaro, tapi tak ada alasan baginya menggerutu kepada Sannojo. Beberapa kali ia membungkuk pada Sannojo dan banyak-banvak mengucapkan terima kasih karena Sannojo telah menyelamatkan-nya.
“Gerombolan gelandangan dari Suzuka itu jauh lebih jinak daripada dulu,” kata Sannojo, “tapi kalau mereka pergi mencegat seseorang, kurang kemungkinannya orang itu dapat lewat jalan ini dengan selamat. Tapi dari pendengaranku tentang Musashi yang kalian risaukan itu, rasanya dia cukup cekatan, hingga tak mungkin masuk salah satu perangkap mereka.”
“Apakah selain jalan ini ada jalan-jalan lain ke Omi?”
“Ada,” jawab Sannojo sambil menengadahkan mata ke puncak-puncak gunung-gunung yang berkilauan oleh matahari tengah hari.
“Kalau kalian pergi ke Lembah Iga, di sana ada jalan menuju Ueno, dan dari Lembah Ano ada satu jalan yang menuju Yokkaichi dan Kuwana. Kalau tak salah, ada tiga atau empat jalan gunung dan terobosan lain. Perkiraanku, Musashi sudah meninggalkan jalan raya pagi-pagi.”
“Jadi, menurut Bapak, dia masih selamat?”
“Itu yang paling mungkin. Paling tidak, lebih aman daripada kalian berdua. Kalian sudah selamat satu kali hari ini, tapi kalau kalian tetap ada di jalan ini, orang-orang Tsujikaze akan menangkap kalian lagi di Yasugawa. Kalau kalian sanggup sedikit mendaki, ayo jalan denganku. Akan kutunjukkan jalan yang praktis tak diketahui siapa pun.”
Cepat saja mereka menerima saran itu.
Sannojo mengantar mereka naik Desa Kaga, menuju Celah Makado. Dari Celah Makado terdapat jalan setapak turun ke Seto, di Otsu.
Sesudah menjelaskan seterang-terangnya cara melanjutkan perjalanan, Sannojo berkata, “Kalian sudah lepas dari jalan yang berbahaya sekarang. Buka mata dan telinga kalian, dan yakinlah kalian akan menemukan tempat aman sebelum gelap.”
Otsu mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan Sannojo, dan berangkat, tetapi Sannojo memandangnya dan berkata, “Kita berpisah di sini sekarang.” Kata-kata itu terasa penuh arti, dan tampak matanya memancarkan keprihatinan. “Sepanjang jalan tadi terpikir olehku. ‘Apa dia akan bertanya sekarang?”‘ demikian ia melanjutkan, “tapi tak juga kamu bertanya.”
“Menanyakan apa?”
“Namaku.”
“Tapi saya sudah mendengar nama Bapak, waktu kita di Bukit Koji.”
“Kamu ingat nama itu?”
“Tentu ingat Tsuge Sannojo, kemenakan Watanabe Hanzo.”
“Terima kasih. Bukannya aku minta supaya kamu selamanya berterima kasih padaku atau yang serupa itu, tapi kuharap betul kamu ingat aku.”
“Tentu, saya berutang sekali pada Tuan.”
“Bukan itu maksudku. Yang kumaksud, nah, aku ini belum kawin. Kalau pamanku tak sekeras itu, mau aku membawamu langsung pulang sekarang…. Tapi kulihat kamu tergesa-gesa. Setidaknya akan kamu temui nanti penginapan kecil beberapa mil dari sini, dan di situ kalian dapat menginap. Aku kenal baik dengan pemilik penginapan itu, karena icu sebut saja namaku kepadanya. Selamat jalan!”
Sesudah orang itu pergi, terasa aneh oleh Otsu. Dari semula ia tak dapat menggambarkan orang macam apakah Sannojo itu, dan ketika mereka berpisah, terasa olehnya seakan ia lolos dari cengkeraman seekor binatang berbahaya. Selama ini dirasanya ia mesti terus mengucapkan terima kasih kepada orang itu, padahal di dalam hatinya ia tak merasa berterima kasih.
Jotaro ada kecenderungan menyukai orang-orang baru, namun reaksinya terhadap orang itu hampir sama dengan Otsu. Ketika mereka berdua sudah mulai menuruni celah itu, ia berkata, “Aku tak suka orang itu.”
Otsu tak ingin bicara buruk di belakang Sannojo, tapi ia membenarkan bahwa ia pun tak suka orang itu, dan tambahnya, “Menurutmu, apa maksudnya bilang dia masih sendiri itu?”
“Ah, itu isyarat dia mau melamarmu nanti.”
“Wah, tidak lucu!”
Mereka melanjutkan perjalanan ke Kyoto tanpa kejadian apa pun, walaupun merasa kecewa karena tidak menjumpai Musashi di tempat-tempat yang mereka harapkan di tepi danau di Omi, di jembatan Kara di Seta, ataupun di perbatasan di Osaka.
Dari Keage mereka bergabung dengan lautan manusia yang merayakan akhir tahun dekat pintu masuk Jalan Sanjo yang menuju kota. Di ibu kota itu, seperti sudah menjadi tradisi pada Tahun Baru, dinding depan rumah dihiasi ranting-ranting pohon pinus. Melihat perhiasan itu, Otsu menjadi riang. Ia tidak meratapi lepasnya kesempatan di masa lalu, dan memnutuskan untuk menaruh harapan pada masa depan dan kemungkinan-kemungkinannya untuk menjumpai Musashi. Jembatan Besar Jalan Gojo. Hari pertama Tahun Baru. Kalau Musashi tak muncul lagi hari itu, maka pagi keduanya. atau pagi ketiganya… Musashi sudah mengatakan pasti akan ada di sana. demikian yang diketahuinya dari Jotaro. Walaupun Musashi datang tidak untuk menjumpainya, tapi cukuplah kalau ia dapat datang melihat pemuda itu dan bicara lagi dengannya.
Kemungkinan berjumpa dengan Matahachi merupakan awan tergelap yang membayangi impiannya. Menurut Jotaro, pesan Musashi hanya disampaikannya kepada Akemi, jadi Matahachi kemungkinan tidak menerima pesan itu. Otsu berdoa semoga Matahachi tidak menerimanya, agar Musashilah yang datang, dan bukan Matahachi.
Otsu melambatkan jalannya, karena terpikir olehnya mungkin Musashi ada di tengah orang banyak itu juga. Bulu romanya pun berdiri, dan ia berjalan lebih cepat. Ibu Matahachi yang mengerikan itu bisa saja muncul setiap saat.
Jotaro sendiri tak punva masalah di dunia ini. Warna-warna dan suara kota yang dilihat dan didengarnya sesudah sekian lama, menyegarkan kembali dirinva. “Apa kita mau langsung ke penginapan?” tanyanya prihatin.
“Tidak, belum.”
“Bagus! Membosankan tinggal di dalam rumah kalau di luar masih terang. Mari kita jalan dulu lagi. Kelihatannya ada pasar di sana.”
“Tak ada waktu buat ke pasar. Ada urusan penting yang mesti kira selesaikan.”
“Urusan? Kita punya urusan?”
“Apa kamu lupa dengan kotak di punggungmu itu?”
“Oh, ini?”
“Ya, itu. Takkan tenang perasaanku sebelum aku menemukan tempat semayam Yang Dipertuan Karasumaru Mitsuhiro dan menyampaikan gulungan itu kepada beliau.”
“Apa kita akan tinggal di rumahnya malam ini?”
“Tentu saja tidak.” Otsu tertawa sambil memandang Sungai Kamo. “Apa menurutmu bangsawan besar macam beliau mau menerima anak kotor macam kamu menginap di bawah atapnya?”
Kupu-Kupu di Musim Dingin
AKEMI menyelinap dari penginapan di Sumiyoshi tanpa memberitahu siapa pun ia merasa seperti burung lepas sangkar, tapi masih belum cukup wmbuh dari persentuhannya dengan maut, hingga belum terbang terlampau tinggi. Bekas-bekas luka yang ditinggalkan oleh kekerasan Seijuro tak akan sembuh dengan cepat. Seijuro telah memporak-porandakan impian yang diudam-idamkannya, yaitu menyerahkan diri tanpa noda kepada lelaki yang benar-benar dicintainya.
Di perahu yang membawanya memudiki Sungai Yodo ke Kyoto ia merasa bahwa seluruh air sungai itu tidaklah sebanyak air mata yang ingin dicurahkannya. Ketika perahu-perahu lain yang bermuatan hiasan dan perbekalan peringatan Tahun Baru didayung lewat dengan cepat, ia menatapnya dan pikirnya, “Sekarang, walaupun betul-betul bertemu dengan Musashi…” Matanya yang resah berlinang, dan tumpahlah air matanya. Tak seorang pun tahu, betapa besar harapannya terhadap pagi Tahun Baru itu, ketika ia akan bertemu dengan Musashi di Jembatan Besar Jalan Gojo.
Kerinduannya kepada Musashi tumbuh semakin dalam dan semakin kuat. Benang cinta telah memanjang, dan menggulung menjadi bola di dalam dadanya. Bertahun-tahun la terus memintal benang kenangan, jauh dari remah-remah berita yang didengarnya, dan menggulungnya pada bola itu serta menjadikan benang itu lebih panjang dan lebih besar. Sampai beberapa hari lalu ia tetap mengagungkan kegadisannya dan terus membawabawanya seperti bunga liar segar dari lereng Gunung Ibuki. Tapi kini kembang di dalam dirinya telah hancur. Walaupun kurang kemungkinannya tiap orang mengetahui kejadian itu, terbayang olehnya setiap orang memandang kepadanya dengan mata maklum.
Di Kyoto, dalam cahaya petang yang memudar itu, Akemi berjalan di antara pohon-pohon liu tak berdaun dan pagoda-pagoda mini Teramachi dekat Jalan Gojo dengan wajah dingin dan murung, seperti kupu-kupu di musim dingin.
“Hei, gadis cantik!” tegur seorang lelaki. “Tali obi-mu lepas. Bagaimana kalau kuikatkan?” Orang itu kurus, pakaiannya jembel, dan bicaranya kurang ajar, tapi ia menyandang dua pedang samurai.
Akemi belum pernah melihatnya, tapi para langganan tempat-tempat minum sekitar itu tentu dapat mengatakan kepadanya nama orang itu, Akakabe Yasoma. Pada malam-malam musim dingin ia biasa
bergelandangan di jalan-jalan gelap. Sandal jeraminya yang sudah usang mendetap-detap ketika ia berlari
ke belakang Akemi dan menangkap ujung tali obi Akemi yang terlepas. “Apa kerjamu sendirian di tempat ini? Kamu bukan bangsanya perempuanperempuan gila yang suka main sandiwara Kyoken itu, kan? Wajahmu manis. Kenapa tidak kamu tata rambutmu sedikit, dan jalan macam gadis-gadis lain?”
Akemi berjalan terus, pura-pura tak bertelinga, tapi Yasoma mengiranya malu. “Kamu kelihatannya gadis kota. Apa kerjamu? Lari dari rumah? Atau suamimu mau kamu tinggalkan?”
Akemi tak menjawab. “Gadis manis macam kau mesti hati-hati berkeliaran tak menentu, seperti lagi dalam kesulitan atau semacam itu. Kamu belum tahu apa yang bisa terjadi. Di sini tak ada pencuri atau bajingan, macam yang berkeliaran seperti Rashomon. Tapi di sini banyak bromocorah yang segera mengocor air liurnya kalau lihat perempuan. Juga gelandangan, dan orang-orang yang suka jual-beli perempuan.”
Walau Akemi tak mengucapkan sepatah kata pun, Yasoma terus ngotot, dan bila diperlukan ia pun
menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri. “Betul-betul bahaya. Kata orang, perempuan Kyoto dijual dengan harga tinggi di Edo sekarang. Dulu orang biasa membawa perempuan dari sini ke Hiraizumi di timur laut sana, tapi sekarang ke Edo. Sebabnya shogun kedua, Hidetada, sedang membangun kota itu secepat mungkin. Rumah-rumah pelesiran di Kyoto semua buka cabang di sana sekarang.”
Akemi diam saja.
“Kamu tampak mencolok di mana saja, karena itu mesti hati-hati. Kalau tidak awas, kamu bisa terlibat dengan bajingan. Betul-betul bahaya!” Maka habislah kesabaran Akemi. Sambil menyampirkan lengan kimononya ke bahu dengan marah, ia
menoleh dan mendesis keras kepada Yasoma. Yasoma hanya tertawa. “Percaya tidak, kupikir kamu ini betul-betul gila!” “Diam, dan pergi dari sini!” “Kamu memang gila, ya?” “Kamu yang gila!” “Ha, ha, ha! Itu namanya membuktikan! Kamu gila. Kasihan.” “Kalau kamu tidak pergi, kulempar batu!”
“Ah, kamu main-main saja, kan?” “Pergi kamu, binatang!” Kedok angkuh yang dikenakannya itu memang untuk menutupi rasa takut yang dirasakannya. Dibentaknya Yasoma, lalu ia lari masuk ladang miskantus, bekas tempat bersemayam Yang Dipertuan Komatsu dan kebunnya yang penuh lentera batu. Akemi seolah berenang di tengah tanaman yang berayun-ayun itu.
“Tunggu!” teriak Yasoma, mengejarnya seperti anjing pemburu. Di atas Bukit Toribe bulan petang membubung seperti setan betina yang menyeringai liar. Tak seorang pun kelihatan di sekitar. Orang terdekat di tempat itu jaraknya sekitar tiga ratus meter. Mereka
adalah rombongan yang pelan-pelan menuruni bukit, tapi mereka tidak bakal datang menyelamatkan Akemi, sekalipun mendengar pekikannya, karena mereka sedang kembali dari penguburan. Mereka mengenakan pakaian putih, topi berpita putih pula, dan memegang tasbih. Sebagian masih menangis.
Tiba-tiba Akemi didorong tajam dari belakang, terantuk, dan jatuh. “Oh, maaf,” kata Yasoma. Ia terjatuh menimpa Akemi, dan terus juga meminta maaf. “Sakit, ya?” tanyanya
sok baik, sambil mendekap Akemi.
Mendidih karena marah, Akemi menampar wajahnya yang berjenggot, tapi tamparan itu tidak membuat ia mundur, bahkan ia kelihatan senang. Ia melirik dan menyeringai ketika Akemi memukul, kemudian ia dekap Akemi lebih erat dan ia gosokkan pipinya ke pipi Akemi. Hampir Akemi tak dapat bernapas. Ia cakar Yasoma dengan sekenanya, dan kebetulan salah satu kukunya mencakar bagian dalam hidung Yasoma, hingga darah memancar. Namun Yasoma tidak mengendurkan pelukannya.
Lonceng Gedung Amida di Bukit Toribe memperdengarkan lagu penguburan, suatu ratapan atas kefanaan dan kesia-siaan hidup. Tapi lonceng itu tidak membawa kesan kepada dua orang yang sedang bergumul itu. Miskantus layu berayun-ayun hebat terkena gerakan mereka.
“Tenanglah, jangan melawan lagi,” mohon Yasoma. “Tak ada yang mesti ditakutkan. Kamu bisa jadi calon istriku. Kamu suka, kan?”
Akemi menjerit, “Aku cuma ingin mati!” Derita dalam suaranya mengejutkan Yasoma.
“Kenapa? Apa soalnya?” gagapnya.
Posisi Akemi meringkuk. Tangan, lutut, dan dada yang terikat erat jadi satu itu mirip kuncup bunga sasankua. Yasoma menghibur dan membujuk, dengan harapan dapat meredakan Akemi dan menundukkannya. Rupanya bukan pertama kali ini ia menjumpai keadaan semacam itu. Sebaliknya, kelihatannya ia menyukainya, karena wajahnya bersinar senang, tapi tetap menyimpan ancaman. Ia tidak terburu-buru. Seperti kucing, ia menikmati permainan dengan korbannya.
“Jangan menangis,” katanya. “Tak ada yang mesti ditangiskan, kan?” Sambil memberi ciuman di telinga, ia melanjutkan, “Kamu mestinya sudah pernah dengan lelaki. Gadis seumurmu tak mungkin masih suci.”
Seijuro. Akemi pun teringat, betapa ia pernah tercekik dan menderita, betapa sosok shoji itu mengabur di depan matanya.
“Tunggu!” kata Akemi.
“Tunggu? Baik, aku akan tunggu,” kata Yasoma, yang mengira panas tubuh Akemi yang seperti demam itu panas nafsu. “Tapi jangan coba-coba kamu lari. Aku bisa jadi kasar.”
Sambil menggerutu tajam Akemi menggeliatkan bahunya dan mengibaskan tangan Yasoma. Ia menatap wajah Yasoma dan bangkit pelan-pelan. “Mau berbuat apa kamu padaku?”
“Kamu tahu keinginanku!”
“Kaupikir kau dapat menggarap perempuan seperti orang tolol, kan? Kalian orang lelaki semuanya begitu! Nah, aku memang perempuan, tapi aku punya keberanian.” Darah merembes keluar dari bibir Akemi yang tergores daun miskantus. Sambil menggigit bibir itu, ia kembali mengucurkan air mata.
“Bicaramu aneh,” kata Yasoma. “Tak mungkin lain, kamu pasti gila.”
“Terserah aku mau bicara apa!” jerit Akemi. Ia tolakkan dada Yasoma dengan segala kekuatannya, kemudian ia tinggalkan tempat itu, menempuh padang miskantus yang menghampar sejauh mata memandang dalam sinar bulan.
“Pembunuh! Tolong! Pembunuh!”
Yasoma menyergapnya. Belum lagi Akemi mencapai sepuluh langkah, Yasoma sudah menangkapnya dan menjatuhkannya kembali. Kaki Akemi yang putih tampak di bawah kimononya, rambutnya membelit muka, dan ia tergeletak dengan pipi tertempel ke tanah. Kimononya setengah terbuka, dan buah dadanya yang putih merasakan angin dingin.
Baru saja Yasoma akan menerkamnya, sesuatu yang keras mendarat di dekat telinganya. Darah muncrat ke kepala dan ia menjerit kesakitan. Ketika ia menoleh untuk melihat, benda keras itu datang lagi menghantam puncak kepalanya. Kali ini tak mungkin lagi ia merasa sakit, karena ia segera jatuh pingsan, kepalanya bergoyang kosong seperti kepala macan kertas. Ia tergeletak dengan mulut menganga.
Penyerangnya, seorang pendeta pengemis, berdiri di atasnya, memegang shakuhachi yang tadi dipergunakannya memukul.
“Binatang jahat!” katanya. “Tapi ternyata lebih mudah mengalahkannya daripada yang kusangka.” Pendeta itu memandang Yasoma beberapa waktu lamanya, ragu-ragu apakah lebih baik ia membunuhnya sekaligus, sebab kalaupun sadar kembali, orang itu tak bakal dapat waras kembali.
Akemi menatap kosong kepada penyelamatnya. Kecuali shakuhachi, tak ada hal lain yang dapat menunjukkan bahwa ia pendeta. Melihat pakaiannya yang kotor dan pedang yang tergantung di pinggangnya, barangkali ia samurai melarat atau bahkan pengemis.
“Aman sekarang,” katanya. “Kamu tak perlu kuatir lagi.”
Setelah pulih dari bingungnya, Akemi mengucapkan terima kasih kepadanya dan mulai meluruskan rambut dan kimononya. Namun ia memandang kegelapan di sekitarnya dengan mata masih ketakutan.
“Di mana kau tinggal?” tanya pendeta itu.
“Ya? Tinggal?… Maksud Bapak, di mana rumah saya?” kata Akemi sambil menutup muka dengan tangan. Disertai sedu sedannya, Akemi mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan orang itu, tapi ia merasa tak dapat berlaku jujur sepenuhnya. Sebagian dari yang disampaikannya pada orang itu memang benar-ibunya lain dengan dirinya, ibunya mencoba menukarkan d:rinya dengan uang, dan la lari ke sini dari Sumiyoshi¬tapi selebihnya dikarangnya seketika itu juga.
“Lebih baik saya mati daripada pulang,” lolongnya. “Banyak beban Ibu yang mesti saya tanggung! Saya sudah dipermalukan dengan berbagai macam cara! Bahkan ketika masih kecil, saya sudah mesti pergi ke medan pertempuran buat mengambil barang-barang dan tubuh prajurit yang tewas.”
Kebencian terhadap ibunya membuat tulang-tulangnya gemetar.
Aoki Tanzaemon membantunya menyingkir ke sebuah lembah kecil, di mana keadaan tenang dan angin tidak begitu dingin. Sampai di sebuah kuil kecil yang sudah runtuh, ia menyeringai, dan katanya, “Di sini aku tinggal. Semuanya serba seadanya, tapi aku suka di sini.”
Akemi sadar, pertanyaan berikut ini sedikit kasar, tapi ia tak dapat tidak menyampaikannya, “Bapak betul¬betul tinggal di sini?”
Tanzaemon membuka pintu berjeruji dengan mendorongnya dan mempersilakan Akemi masuk. Akemi ragu¬ragu.
“Di dalam lebih hangat daripada yang kauduga,” katanya. “Buat tutup lantai, aku cuma punya tikar jerami tipis. Tap itu lebih baik daripada tak ada. Kau takut padaku seperti pada binatang di sana tadi?”
Akemi menggeleng diam. Tanzaemon tidak membuatnya takut. Ia yakin orang itu orang baik, lagi pula sudah cukup umur. Ia terka umurnya sudah lebih dari lima puluh. Yang membuatnya mundur adalah kotornya kuil kecil itu dan bau tubuh serta pakaian Tanzaemon. Tapi ia tak dapat pergi ke tempat lain, belum lagi kalau Yasoma atau orang lain semacamnya menemukannya, padahal kepalanya masih menyala oleh demam.
“Apa saya tidak mengganggu Bapak?” tanyanya ketika ia mendaki anak tangga.
“Sama sekali tidak. Tak ada yang keberatan, biar engkau tinggal di sini beberapa bulan.”
Bangunan itu hitam legam, tempat yang cocok buat kelelawar.
“Tunggu sebentar,” kata Tanzaemon.
Terdengar oleh Akemi suara goresan logam pada batu api, dan sebuah lampu kecil memancarkan sinar lemah. Entah dari mana dipungutnya lampu itu. Akemi menoleh ke sekitar, dan tampak olehnya orang aneh itu ternyata telah mengumpulkan berbagai alat kebutuhan rumah tangga yang pokok-satu-dua buah kuali, beberapa pinggan, bantal kayu, dan tikar jerami. Ia bilang akan membuat sedikit bubur soba untuk Akemi, dan mulai meromet dengan anglo tanahnya yang sudah pecah. Mula-mula dimasukkannya sedikit arang, kemudian beberapa bilah kayu, dan akhirnya naiklah bunga-bunga api. Api menyala.
“Orang tua yang baik,” pikir Akemi. Sesudah mulai merasa lebih tenang, Akemi merasa tempat itu tidak lagi kotor.
“Nah, nah,” kata Tanzaemon. “Kaubilang cuma capek, padahal kelihatannya kau demam. Barangkali masuk angin. Lebih baik kau berbaring di sana, menunggu makanan siap.” Ia menuding ke kasur darurat dari jerami dan kantong beras.
Akemi menebarkan kertas yang ada padanya di atas bantal kayu, dan berbaringlah ia sesudah menggumamkan permintaan maaf karena ia beristirahat, sementara Tanzaemon bekerja. Sebagai selimut dipergunakannya sisasisa kelambu yang sudah compang-camping. Kelambu itu ditutupkannya ke badannya, tapi justru ketika itu seekor binatang dengan mata gemerlap meloncat dari bawahnya dan melompati kepalanya. Akemi menjerit membenamkan muka ke kasur.
Tanzaemon lebih kaget lagi. Kantong tepung yang sedang dituangkannya ke air terjatuh, hingga setengahnya tercurah ke lututnya. “Apa itu?” teriaknya.
Akemi menjawab sambil terus menyembunyikan wajah, “Entahlah, kelihatannya lebih besar dari tikus.”
“Barangkali bajing. Kadang-kadang memang datang kalau bau makanan. Tapi mana?”
Sambil mengangkat kepala sedikit, kata Akemi, “Itu dia!” “Di mana?”
Tanzaemon menegakkan badan dan menoleh ke sekitar. Seekor monyet kecil bertengger di atas susuran tempat semadi bagian dalam, yang sudah lama tak berpatung Budha lagi. Monyet itu meringkuk ketakutan oleh pandangan tajam Tanzaemon.
Tanzaemon tampak terheran-heran, tapi monyet itu tidak kelihatan takut. Sesudah beberapa kali meloncat naik-turun susuran yang warna merahnya sudah pudar, ia duduk kembali. Ia perlihatkan mukanya yang seperti buah persik berbulu panjang, dan mulai mengedip-ngedipkan mata.
“Dari mana dia datang, menurutmu?… Aha! Aku tahu sekarang. Kalau tak salah, tadi beras berceceran.” Ia bergerak mendekati monyet itu. Melihat ia mendekat, monyet itu melompat ke belakang tempat semadi dan bersembunyi.
“Setan kecil mungil,” kata Tanzaemon. “Kalau kita beri dia makan sedikit, barangkali dia tak akan bertingkah. Mari kita biarkan dia.” Ia kibaskan tepung dari lututnya, dan kembali ia duduk di depan anglo. “Tak ada yang perlu ditakutkan, Akemi. Istirahatlah.”
“Apa menurut Bapak dia baik?”
“Ya. Monyet ini bukan monyet liar. Tentunya milik seseorang. Tak perlu kita kuatir. Apa sudah cukup hangat?”
“Ya.”
“Kalau begitu, tidurlah. Itulah obat terbaik buat melawan masuk angin.”
Ia tuangkan lagi tepung di dalam air, dan ia aduk bubur itu dengan sumpit. Api menyala-nyala sekarang. Sementara adonan memanas, Tanzaemon mengiris-iris brambang. Daun meja tua dipakainya sebagai talenan, dan pisaunya belati kecil berkarat. Dengan tangan yang tidak dibasuh ia gusurkan brambang itu ke dalam mangkuk kayu, kemudian ia bersihkan talenan dan ia ubah menjadi baki.
Gejolak dalam kuali yang sedang mendidih berangsur-angsur memanaskan ruangan. Sambil duduk merangkum lutut yang kurus, bekas samurai itu memandang air kaldunya dengan mata lapar. Ia memandang dengan perasaan bahagia dan penuh hasrat, seakan-akan kuali di hadapannya itu berisi kenikmatan tertinggi umat manusia.
Lonceng Kiyomizudera berdentang seperti kebiasaannya tiap malam. Kerasnya udara musim dingin yang berlangsung tiga puluh hari sudah berakhir, dan Tahun Baru sudah dekat, tapi seperti biasa kalau tahun akan berakhir, beban jiwa orang banyak tampak semakin besar. Sampai jauh malam para pemohon berkah masih terus membunyikan gong timah di atas pintu masuk kuil. Mereka membungkuk berdoa, dan lagu-lagu bernada tinggi yang menyerukan minta pertolongan sang Budha mendengung membosankan.
Sambil mengaduk bubur pelan-pelan agar tidak gosong, Tanzaemon melamun. “Aku telah menerima hukuman dan bertobat atas dosa-dosaku, tapi apa yang terjadi dengan Jotaro? Tak ada perbuatan anak itu yang salah. Oh, Kannon yang terberkati, aku mohon, hukumlah orang tua ini karena dosa-dosanya, tapi layangkanlah pandangan penuh kecintaan kepada anak…”
Suatu jeritan tiba-tiba melengking melengkapi doanya. “Binatang kamu!” Mata Akemi masih terpejam, wajahnya menempel erat ke bantal kayu, tapi ia menangis sedih. Ia terus mengigau, sampai bunyi suaranya sendiri membangunkannya.
“Apa saya mengigau?” tanyanya.
“Ya, bikin aku terkejut,” kata Tanzaemon. Ia datang ke sisi tempat tidur dan menghapus dahi Akemi dengan gombal sejuk. “Keringatmu luar biasa. Tentunya demam.”
“Saya… saya… bilang apa?”
“Oh, banyak.”
“Apa saja?” Wajah Akemi yang demam jadi bertambah merah karena malu. Ia tarik selimut untuk menutupinya.
Tanzaemon tidak menjawab langsung, tapi katanya, “Akemi, ada lelaki yang ingin kau kutuk, ya?”
“Apa saya mengatakannya?”
°Hm. Apa yang terjadi? Apa dia meninggalkanmu?”
“Tidak. ”
“Oh, begitu,” kata Tanzaemon mengambil kesimpulan sendiri.
Sambil menggeser badannya ke atas hingga setengah duduk, Akemi berkata, “Oh, apa yang mesti saya lakukan sekarang? Tolonglah, katakan.” Ia sudah bersumpah takkan mengungkapkan aib yang menjadi rahasianya itu pada siapa pun, tapi kemarahan, kesedihan, dan rasa kehilangan yang terpendam dalam dirinya demikian hebat untuk ditanggung sendirian. Ia meringkuk di lutut Tanzaemon dan mengungkapkan seluruh riwayatnya, sambil tersedu-sedu dan meratap.
“Oh,” lolongnya akhirnya. “Aku ingin mati, mati! Biarlah aku mati!”
Napas Tanzaemon menjadi panas. Begitu lama ia tidak begini dekat dengan perempuan. Bau perempuan itu membakar lubang-lubang hidungnya, juga matanya. Hasrat tubuh, yang menurut persangkaannya sudah dapat diatasinya, kini mulai membengkak akibat masuknya darah panas. Tubuhnya yang sampai waktu itu tidak lebih dari sebatang pohon mandul kini mulai memperlihatkan hidup baru. Sebagai gantinya, ia teringat bahwa di balik tulang rusuknya bersemayam paru-paru dan jantung.
“Mm,” gumamnya. “Jadi, begitu macamnya Yoshioka Seijuro.” Dan kebencian hebat terhadap Seijuro menggelegak di dalam dirinya. Bukan hanya kemarahan. Semacam rasa cemburu menggerakkannya untuk mengetatkan pelukan, seakan-akan anak perempuannya sendiri yang diperkosa. Sementara Akemi menggeliat berurai air mata di lututnya. ia merasa memperoleh keakraban, dan pandangan bingung merayapi wajahnya.
“Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Hatimu masih suci. Engkau tidak membiarkan lelaki itu menggaulimu dan tidak membalas cintanya. Yang penting pada seorang perempuan bukan tubuhnya, tapi hatinya, dan kemurnian adalah soal batin. Sebaliknya, kalau seorang perempuan tidak menyerahkan diri pada seorang lelaki, namun memandang lelaki itu dengan bernafsu, dia menjadi tidak murni dan tidak bersih, setidak¬tidaknya selama perasaan itu berlangsung.
“Sudahlah, sudah. Jangan menangis lagi,” kata Tanzaemon lagi, menepuk punggung Akemi. Tetapi geletar leher Akemi yang putih itu tidak memungkinkan ia menunjukkan simpati yang tulus. Kulit yang lembut itu, yang demikian manis baunya, telah dicuri lelaki lain.
Tapi tepat waktu itu si monyet menyelinap ke kuali dan menyantap isinya, maka tanpa basa-basi Tanzaemon memindahkan kepala Akemi dari lututnya. Ia ayunkan tinjunya dan ia kutuk binatang itu
sehabis-habisnya. Makanan jelas lebih penting daripada penderitaan seorang perempuan.
Pagi berikutnya Tanzaemon menyatakan akan pergi ke kota membawa mangkuk pengemisnya.”Engkau tinggal di sini selama aku pergi,” katanya. “Aku mesti cari uang buat membelikanmu obat, dan lagi kita butuh beras dan minyak, agar dapat makan panas.”
Topinya bukan topi tinggi yang dianyam dari gelagah seperti biasa dipakai kebanyakan pendeta pengembara, melainkan dari bambu biasa, dan sandal jeraminya yang sudah lusuh dan belah di tumit mencakar-cakar tanah selagi ia berjalan. Tidak hanya kumisnya, melainkan segala yang ada padanya menampilkan kemesuman. Namun, biarpun tampangnya seperti pengejut burung, ia biasa pergi tiap hari, kecuali kalau hujan.
Karena tak nyenyak tidur, pagi itu matanya tampak muram sekali. Sesudah menangis berkepanjangan malam itu, Akemi sempat menyantap bubur hingga bercucuran keringat, dan ia tidur nyenyak. Sampai fajar, Tanzaemon hampir tak memejamkan mata. Bahkan ketika berjalan di bawah matahari pagi yang cemerlang, penyebab kurang tidurnya tetap bertahan. la tak dapat mengusirnya dari pikiran.
“Hampir sama umurnya dengan Otsu,” pikirnya. “Tapi wataknya sama sekali berlainan. Pada Otsu ada keanggunan dan kehalusan budi, tapi terasa dingin. Sedangkan Akemi merangsang, baik sedang tertawa, menangis, atau cemberut.”
Umur muda di dalam sel-sel tubuh Tanzaemon yang sudah mengering itu bangkit oleh sinar tajam pesona Akemi. Perasaan itu membuatnya sadar akan umurnya. Semalam, sementara ia memandang penuh hasrat kepada Akemi, yaitu selagi gadis itu bergerak dalam tidurnya, peringatan lain memperdengarkan diri dalam hatinya. “Sungguh aku orang tolol yang sial! Apa belum juga aku belajar? Biarpun aku memakai jubah pendeta dan memainkan shakuhachi pengemis, masih jauh aku dari memperoleh pencerahan P’u-hua yang jernih dan sempurna. Tak pernahkah aku akan menemukan kebijaksanaan yang akan membebaskan diriku dari tubuh ini?”
Sesudah menghukum dirinya berkepanjangan, ia memaksa matanya yang sedih memejam dan mencoba tidur, tapi sia-sia.
Di waktu fajar, sekali lagi ia memutuskan, “Aku mau dan harus meninggalkan pikiran-pikiran jahat!” Tapi Akemi itu gadis yang memesona dan demikian menderita. Ia harus mencoba menyenangkan hatinya. Ia harus memperlihatkan pada gadis itu, bahwa tidak semua lelaki di dunia ini setan-setan nafsu.
Disamping obat, ia memikirkan hadiah macam apa yang akan dibawakannya untuk Akemi kalau ia pulang malam nanti. Selama mengemis sepanjang hari itu, semangatnya terdorong oleh keinginan melakukan sesuatu untuk membuat Akemi sedikit lebih bahagia. Cukuplah itu. Ia tidak mendambakan hasrat yang lebih besar.
Kira-kira ketika ia sudah memperoleh ketenangan kembali, dan ketika warna merah sudah kembali ke wajahnya, terdengar olehnya kepak-kepak sayap di atas karang terjal di sampingnya. Bayangan elang pemburu yang besar meluncur, dan tampaklah oleh Tanzaemon bulu cokelat seekor burung kecil menggeletar turun dari sebuah cabang pohon ek di tengah belukar tak berdaun di atasnya. Sambil mencengkeram burung kecil itu, elang pemburu membubung ke udara, memperlihatkan bagian bawah sayapnya.
Tidak jauh dari situ terdengar orang mengatakan, “Sukses!” Dan pemilik elang bersuit kepada burungnya.
Beberapa detik kemudian Tanzaemon melihat dua orang berpakaian pemburu turun bukit di belakang Ennenji. Elang itu bertengger di tinju kiri seorang dari mereka yang menyandang kantong rajut buat tangkapannya di sisi pinggang yang berlawanan dengan kedua pedangnya. Seekor anjing pemburu yang tampak cerdas dan cokelat warnanya menderap di belakangnya.
Kojiro berhenti dan memperhatikan sekitarnya. “Kira-kira di sini kejadiannya kemarin petang,” katanya. “Monyetku berkelahi dengan anjing, dan anjing itu menggigit ekornya. Dia lalu sembunyi dan tak muncul lagi. Terpikir olehku sekarang, apa dia tidak berada di atas salah satu pohon itu.”
Seijuro tampak agak tak puas. Ia duduk di sebuah batu. “Mengapa pula dia mesti terus di sini? Dia kan punya kaki? Dan lagi, aku tak mengerti kenapa Anda membawa-bawa monyet, padahal Anda berburu dengan elang.”
Kojiro duduk seenak mungkin di akar sebatang pohon. “Oh, aku tidak membawanya, tapi aku tak dapat mencegahnya ikut. Dan aku begitu terbiasa dengan dia, hingga rasanya kehilangan kalau dia tak ada.”
“Tadinya aku menyangka cuma perempuan dan orang yang suka melengah waktu yang menyukai monyet dan anjing timangan, tapi ternyata sangkaanku keliru. Sukar dibayangkan bahwa seorang prajurit seperti Anda begitu terikat pada seekor monyet.” Sesudah melihat Kojiro beraksi di tanggul Kema itu, Seijuro sungguh menghargai keahliannya bermain pedang, tetapi selera dan cara hidupnya pada umumnya kelihatan terlampau kekanak-kanakan. Sesudah tinggal serumah dengannya beberapa hari itu, yakinlah Seijuro bahwa kematangan dicapai bersamaan dengan bertambahnya umur. Sukar baginya menghormati Kojiro sebagai pribadi, tapi dalam hal tertentu hal itu mempermudah ia berhubungan dengan pemuda ini.
Kojiro menjawab tertawa, “Sebabnya karena aku masih amat muda. Tak lama lagi aku akan belajar menyukai perempuan, baru sesudah itu barangkali aku akan melupakan monyet itu.”
Kojiro mengobrol dengan nada ringan, sebaliknya wajah Seijuro kelihatan makin lama makin prihatin. Matanya memperlihatkan sorot resah, hampir serupa dengan mata elang yang bertengger di tangannya. Mendadak katanya tak senang, “Apa kerja pendeta pengemis di sana itu? Dari tadi dia berdiri memandangi kita, sejak kita sampai di sini.”
Seijuro menatap Tanzaemon dengan curiga, dan Kojiro memutar badan untuk melihat.
Tanzaemon membalikkan badan dan pergi tertatih-tatih.
Tiba-tiba Seijuro berdiri. “Kojiro,” katanya, “aku mau pulang. Bagaimanapun, mi bukan waktu buat berburu. Sekarang sudah tanggal dua puluh sembilan.”
Sambil tertawa dan dengan nada mencela, kata Kojiro, “Tapi kita pergi ini buat berburu, kan? Baru dapat seekor perkutut dan beberapa mural buat bukti. Kita mesti coba lebih jauh naik bukit.”
“Tidak, mari kita hentikan. Aku tak suka berburu sekarang, dan kalau aku tidak merasa senang, elang ini jadi tidak benar terbangnya. Mari pulang dan berlatih.” Kemudian tambahnya, seolah kepada diri sendiri, “Itulah yang kuperlukan, berlatih.”
“Nah, kalau Anda memang mesti pulang, aku ikut.” Ia berjalan di samping Seijuro, tapi tampak kurang senang. “Kupikir saranku keliru.”
“Saran apa?”
“Pergi berburu kemarin dan hari ini.”
“Sudahlah. Aku tahu Anda bermaksud baik. Cuma, ini akhir tahun, sedang pertarungan dengan Musashi semakin dekat.”
“Itu sebabnya menurutku baik kalau Anda pergi berburu. Anda dapat bersantai, supaya semangat Anda wajar. Tapi kukira Anda bukan orang ,vang dapat melakukan hal itu.”
“Hm. Semakin aku mendengar tentang Musashi, semakin aku cenderung untuk tidak menyepelekannya.”
“Apa itu bukan lebih merupakan alasan untuk menghindari keresahan dan kepanikan? Anda mesti mendisiplinkan semangat Anda.”
“Aku tidak panik. Pelajaran pertama dalam seni bela diri adalah tidak :nenganggap enteng musuh, dan kupikir masuk akal kalau kita mencoba banyak berlatih sebelum bertarung. Kalau mesti kalah, setidaknya aku tahu. Bahwa aku sudah mencoba sebaik-baiknya. Kalau orang itu memang lebih baik daripada aku, yah…”
Sekalipun Kojiro sangat menghargai ketulusan Seijuro, menurutnya dalam diri Seijuro terdapat kekerdilan semangat, dan ini menyulitkan Seijuro menjunjung tinggi nama baik Perguruan Yoshioka.
Karena Seijuro tidak memiliki visi pribadi yang diperlukan untuk mengikuti jejak ayahnya dan menyelenggarakan perguruan besar itu sebaik-baiknya, maka Kojiro merasa kasihan kepadanya. Menurut pendapatnya, adik Seijuro, Denshichiro, lebih kuat wataknya, tapi Denshichiro seorang playboy yang sudah rusak. Sekalipun ia pemain pedang yang lebih mampu dibanding Seijuro, ia tak bisa diharapkan untuk mempertahankan nama Yoshioka.
Kojiro menginginkan Seijuro melupakan pertarungan dengan Musashi yang terus mendekat itu, karena menurut keyakinannya itulah persiapan terbaik baginya. Pertanyaan yang ingin dilontarkannya, namun tidak dilontarkannya adalah apa yang ingin dipelajari Seijuro sejak sekarang sampai saat pertandingan. “Yah,” demikian pikirnya pasrah, “Itulah dia. Kukira tak banyak yang bisa kubantu.”
Anjing itu lari dan kini menggonggong galak di kejauhan.
“Itu berarti dia menemukan mangsa!” kata Kojiro, dan matanya bercahaya.
“Biar dia pergi. Nanti toh menyusul kita.”
“Akan kulihat. Anda tunggu di sini.”
Kojiro berlari cepat ke arah datangnya gonggongan, dan semenit dua menit kemudian terlihat olehnya anjing itu berada di beranda sebuah kuil kuno yang sudah bobrok. Binatang itu melompat-lompat ke pintu kisi-kisi yang bobrok, tapi berulang-ulang mundur kembali. Sesudah beberapa kali mencoba, ia mencakar-cakar tiang dan dinding bangunan berlak merah usang itu. Sambil bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang membuat anjing itu demikian ribut, Kojiro pergi ke pintu lain. Melihat ke dalam kisi-kisi itu seperti melihat ke dalam jambangan lak hitam.
Derak-derik pintu yang dibukanya membuat anjing itu berlari mengikutinya sambil mengibas-ngibaskan ekor. Kojiro menendang pergi anjing itu, tapi tak banyak hasilnya. Dan ketika ia masuk, si anjing cepat berlari menyerobot.
Jeritan perempuan itu memekakkan telinga, sejenis jeritan yang dapat memecahkan kaca. Kemudian anjing itu melolong, dan terjadilah adu suara antara dia dan perempuan yang menjerit itu. Kojiro bertaya-tanya dalam hati, apakah tiang-tiang tak akan ambruk. Ia berlari maju, dan dilihatnya Akemi berbaring di bawah kelambu, sementara monyet yang melompat masuk dari jendela untuk menghindari anjing itu bersembunyi di belakangnya.
Akemi ada di antara anjing dan monyet, menghalangi jalan anjing. Karena itu anjing menyerangnya. Ketika Akemi berguling ke samping, lolongan anjing mencapai puncaknya.
Akemi kini menjerit bukan karena takut, tapi karena sakit. Anjing menggigit lengannya. Sambil menyumpah, Kojiro menendangnya lagi keras-keras pada rusuknya. Anjing itu mati oleh tendangan pertama, tapi sesudah tendangan kedua pun giginya tetap mengatup erat ke lengan Akemi.
“Lepaskan! Lepaskan!” jerit Akemi sambil menggeliat di lantai.
Kojiro berlutut di sampingnya dan membuka paksa rahang anjing itu. Bunyinya seperti potongan-potongan kayu berlem yang dipisahkan satu dari yang lain. Mulut anjing itu terluka. Sedikit saja lagi tenaga Kojiro akan membuat kepala anjing itu belah menjadi dua. Ia lemparkan bangkai anjing itu ke luar pintu, lalu kembali ke sisi Akemi.
“Beres sekarang,” katanya menghibur, tapi lengan Akemi tampak parah. Darah yang mengalir di kulit putih itu membuat gigitan tersebut seperti bunga peoni besar berwarna merah tua.
Melihat itu, Kojiro menggigil. “Apa tak ada sake di sini? Nanti kubasuh dengan sake…. Oh ya, kukira tak ada sake di tempat seperti ini.” Darah hangat mengalir turun dari lengan ke pergelangan. “Akan kucoba,” katanya. “Kalau tidak, racun gigi anjing bisa bikin kau gila. Dia memang aneh tingkahnya beberapa hari terakhir ini.”
Sementara Kojiro menimbang-nimbang apa yang dapat diperbuatnva lekas-lekas, Akemi mengerutkan kening sampai alisnya menjadi satu, menggeliatkan lehernya yang putih indah, dan teriaknya, “Gila? Oh, itu sungguh bagus! Itu yang saya inginkan—gila! Betul-betul gila sama sekali!”
“A-a-apa maksudmu?” gagap Kojiro. Dan tanpa banyak bicara lagi ia membengkokkan lengan Akemi dan mengisap darah dari lukanya. Ketika mulutnya penuh, ia ludahkan isinya dan ia lekatkan kembali ke kulit yang putih itu dan ia isap sampai pipinya menggelembung.
Malam hari Tanzaemon kembali dari perjalanan hariannya. “Aku pulang, Akemi,” katanya sambil masuk kuil, “Apa kau kesepian selagi aku pergi?”
Ia letakkan obat untuk Akemi di sudut, bersama makanan dan guci minyak yang dibelinya, dan katanya, “Tunggu sebentar, akan kunyalakan lampu.”
Ketika lilin sudah dinyalakan, ia lihat Akemi tak ada di dalam ruangan. “Akemi” panggilnya. “Ke mana perginya dia?”
Cinta sebelah tangan tiba-tiba berubah menjadi kemarahan, tapi kemudian cepat digantikan pula oleh kesepian. Seperti kejadian sebelumnya, Tanzaemon diingatkan bahwa ia takkan menjadi muda kembali, dan bahwa tak ada lagi padanya kehormatan, tak ada lagi harapan. Terpikir olehnya tubuhnya yang menua, dan ia menggerenyit.
“Aku sudah menyelamatkan dia dan merawatnya,” gerutunya, “tapi sekarang dia pergi tanpa pesan. Akan begitukah dunia ini selamanya? Memang begitukah dia? Atau masihkah dia curiga dengan maksud¬maksudku?”
Di tempat tidur ia temukan potongan kain, jelas sobekan ujung obi Akemi. Bercak darah pada kain itu membangkitkan naluri binatangnya. Ia tendang tilam jerami itu ke udara dan ia lemparkan obat ke luar jendela.
Dalam keadaan lapar, namun tak ingin menyiapkan makanan, ia ambil shakuhachi, dan sambil mengeluh ia pergi ke beranda. Sekitar sejam lamanva tak henti-henti ia bermain, mencoba mengusir keinginan dan angan-angannya. Namun jelas baginya, nafsu-nafsu dalam dirinya tetap dan akan tinggal dengannya sampai ia mati. “Akemi sudah diambil lelaki lain,” renungnya. “Kenapa pula kemarin aku mesti begitu bermoral dan jujur? Tak ada gunanya aku berbaring sendirian, merana sepanjang malam.”
Separuh dirinya menyesal karena ia tidak berbuat, tapi separuh lagi mengutuk hasratnya yang bejat. Justru konflik emosi yang tanpa hentihentinya bergejolak dalam nadinya itulah yang oleh sang Budha disebut nafsu. Sekarang ia sedang mencoba membasuh dirinya yang tidak murni, tapi semakin ia berusaha, semakin keruh nada shakuhachi yang dimainkannya.
Pengemis yang tidur di bawah kuil itu melongokkan kepalanya dari bawah beranda. “Kenapa kau main suling?” tanyanya. “Apa ada kejadian yang menyenangkan? Kalau kau bawa banyak uang dan beli sake, bagaimana kalau aku minta minum?” Orang itu pincang, dan dari sudut pandangnya yang hina, Tanzaemon hidup seperti raja.
“Apa kau tahu, apa yang terjadi dengan gadis yang kubawa semalam?”
“Manis juga cewek itu, ya? Kalau aku bisa, takkan kubiarkan dia pergi. Tak lama sesudah kau pergi tadi, seorang samurai muda yang pakai kuncung dan pedang raksasa membawanya pergi. Juga monyet itu. Yang satu dipikul di kiri, yang lain di kanan.”
“Samurai… kuncung?”
“Ya. Dan bukan main tampannya anak itu, jelas lebih tampan daripada kau dan aku!”
Humor kalimat tersebut membuat pengemis itu tertawa terbahak-bahak.
bagian 14
Pengumunan
SEIJURO tiba kembali di sekolah dalam keadaan murung. Ia sorongkan elangnya ke tangan seorang murid, dan dengan singkat ia perintahkan murid itu memasukkannya kembali ke sangkarnya.
“Kojiro tidak bersama Tuan?” tanya murid itu.
“Tidak, tapi aku yakin sebentar lagi dia datang.”
Sesudah mengganti pakaian, Seijuro duduk di kamar tamu. Di seberang, halaman ada dojo besar yang sudah ditutup sejak latihan terakhir tanggal dua puluh lima. Selama setahun itu sekitar seribu orang murid pergi-datang. Dojo takkan dibuka lagi sampai datangnya masa latihan pertama Tahun Baru. Karena pedang¬pedang kayu tak berbunyi, rumah jadi terasa sunyi dan dingin.
Seijuro ingin sekali berpasangan latihan dengan Kojiro, karena itu berulang-ulang ia bertanya kepada muridnya, apakah Kojiro sudah kembali. Tapi Kojiro tidak kembali, tidak juga malam itu, dan hari berikutnya.
Tamu-tamu lain, sebaliknya, datang dengan paksa, karena itu hari terakhir rahun ini, yaitu hari untuk membereskan semua rekening. Bagi orang-orang rang bergerak dalam bidang usaha, persoalannya adalah menagih sekarang atau menanti sampai pesta Bon musim panas berikut. Karena itu, tengah hari kamar depan penuh penagih rekening. Biasanya orang-orang itu memperlihatkan wajah patuh sepenuhnya di hadapan samurai, tapi kini kesabaran mereka sudah habis. Mereka mengambil sikap blak-blakan dan menggunakan istilah-istilah jelas.
“Apa tak bisa Bapak paling tidak membayar sebagian utang?”
“Bapak selalu bilang, orang yang bertugas sedang keluar, atau guru sedang pergi selama beberapa bulan ini. Apa Bapak kira Bapak bisa menangguhkan selamanya?”
“Berapa kali kami mesti datang kemari?”
“Pak Guru yang tua dulu langganan yang baik. Saya takkan mengatakan apa-apa kalau cuma untuk setengah tahun terakhir, tapi tengah tahun pun Bapak belum bayar. Oh, bahkan dari tahun lalu ada rekening-rekening yang tak terbayar!”
Beberapa orang dengan tak sabar mengetuk-ngetuk buku rekeningnya dan menyodorkannya ke bawah hidung murid itu. Mereka itu tukang kayu, tukang plester, tukang beras, pedagang sake, penjahit pakaian, dan macammacam warung teh di mana Seijuro makan dan minum dengan berutang. Tapi semua itu cuma kecil saja, dan tagihan mereka tidak seberapa dibandingkan dengan tagihan dari para lintah darat. Tanpa sepengetahuan kakaknya. Denshichiro meminjam uang tunai pada mereka.
Setengah lusin di antara orang-orang itu tetap duduk, menolak meninggalkan tempat.
“Kami mau bicara dengan Seijuro sendiri. Menghabiskan waktu saja bicara dengan murid-murid.”
Seijuro menyendiri di belakang rumah. Pesannya hanyalah, “Katakan pada mereka, aku pergi.” Denshichiro tentu saja takkan berada dekat-dekat rumah pada hari seperti itu. Wajah paling mencolok yang tidak kelihatan adalah wajah orang yang bertanggung jawab atas buku perguruan dan rekening rumah tangga, Gion Toji. Beberapa hari sebelumnya ia melarikan diri dengan Oko beserta semua uang yang telah dihimpunnya dalam perjalanan ke barat.
Tak lama kemudian, enam atau tujuh orang berjalan petentengan masuk, dipimpin Ueda Ryohei. Dalam keadaan demikian memalukan pun Ueda Ryohei tetap merasa bangga menjadi seorang di antara Sepuluh Pemain Pedang Keluarga Yoshioka. Dengan pandangan mengancam ia bertanya, “Apa yang terjadi di sini?”
Murid itu memberikan ikhtisar singkat, walaupun berusaha menyatakan bahwa menurut anggapannya penjelasan tidaklah perlu.
“Cuma itu?” tanya Ryohei mencela. “Jadi, ini cuma rombongan buaya duit? Apa bedanya? Toh akhirnya akan dibayar. Suruh orang-orang yang tak mau tunggu pembayaran itu masuk ruang latihan. Akan kubicarakan dengan mereka menurut bahasaku sendiri.”
Mendengar ancaman ini tukang tagih rekening jadi sebal. Karena kejujuran Yoshioka Kempo dahulu dalam persoalan uang, belum lagi karena kedudukannya sebagai instruktur militer untuk para shogun Ashikaga, para penagih rekening sangat hormat pada Keluarga Yoshioka, mau menyembah-nyembah, mau meminjamkan barang dan segalanya, mau datang apabila dipanggil dan pergi apabila disuruh pergi, dan mau mengatakan ya mengenai segala soal. Tapi ada batasnya sampai berapa lama mereka mesti menjilat prajurit-prajurit kosong ini. Begitu mereka membiarkan dirinya digertak dengan ancaman seperti yang dilontarkan Ryohei, begitu kelas saudagar akan terusir dari dunia usaha. Padahal tanpa mereka, apa yang dapat dilakukan kaum samurai? Apa mereka menyangka dapat menjalankan segalanya itu sendiri?
Sementara mereka berdiri bergerombol sambil menggerutu, Ryohei menyatakan terang-terangan bahwa menurut anggapannya mereka itu cuma sampah. “Ya sudah, pulang kalian sekarang! Menggerombol di sini tak ada gunanya buat kalian.”
Para saudagar terdiam, tapi tak bergerak meninggalkan tempat. “Usir mereka keluar!” teriak Ryohei. “Pak, ini keterlaluan!” “Apanya yang keterlaluan?” tanya Ryohei. “Sama sekali tak bertanggung jawab!” “Siapa bilang tak bertanggung jawab?” “Tapi mengusir kami keluar itu tak bertanggung jawab!” “Kalau begitu, kenapa kalian tidak pergi baik-baik? Kami sibuk di sini.” “Kami takkan mengemis di sini kalau ini bukan hari terakhir tahun ini. Kami butuh uang buat menutup utang¬
utang kami sendiri sebelum hari ini habis.” “Berat. Berat sekali. Sekarang pergi kalian!” “Bukan begini cara memperlakukan kami!” “Kupikir sudah cukup aku mendengar keluhan kalian!” Suara Ryohei menjadi marah lagi. “Tak seorang pun akan mengeluh kalau Bapak mau bayar!” “Sini!” perintah Ryohei. “Si-siapa?” “Siapa saja yang tak puas.” “Gila!” “Siapa yang bilang begitu?” “Saya tidak bicara tentang Bapak. Saya bicara tentang ke… adaan ini.” “Diam!” Ryohei mencekal rambut orang itu dan melemparkannya ke luar pintu samping. “Ada lagi yang mau mengeluh?” geram Ryohei. “Takkan kubiarkan orang jembel macam kalian berada di
rumah ini menuntut uang sesen dua sen. Takkan kubiarkan! Biarpun Tuan Muda ingin membayar kalian,
akan kucegah dia melakukannya.” Melihat tinju Ryohei, para penagih rekening berlari serabutan ke luar gerbang. Tapi begitu mereka sampai di luar, penghinaan yang mereka lontarkan pada Keluarga Yoshioka bertambah hebat.
“Aku akan tertawa dan tepuk tangan nanti, kalau tanda ‘Dijual’ dipasang di tempat ini! Tunggulah, sebentar lagi akan terjadi.” “Ya, memang, kata orang tak lama lagi.”
“Mana mungkin?” Ryohei merasa senang sekali. Sambil tertawa memegang perutnya, ia pergi ke belakang rumah. Murid¬murid lain pergi bersamanya ke ruang tempat Seijuro membungkuk ke anglo, sendirian dalam diam.
“Tuan Muda,” kata Ryohei, “Tuan begitu diam. Apa ada yang terjadi?” “Oh, tidak,” jawab Seijuro, sedikit riang melihat para pengikutnya yang paling setia. “Sebentar lagi tiba harinya, ya?” katanya.
“Ya,” Ryohei membenarkan. “Itu sebabnya kami datang menjumpai Tuan. Apa tidak kita tentukan waktu dan tempatnya dan memberitahukan pada Musashi?”
“Ya, kukira begitu,” kata Seijuro termenung. “Tempatnya… di mana tempat yang baik? Bagaimana kalau lapangan Rendaiji di utara kota?”
“Bagus juga… dan waktunya?”
“Sebelum hiasan Tahun Baru diturunkan, atau sesudahnya?”
“Makin cepat makin baik. Jangan kasih kesempatan pengecut itu menyelinap lari.”
“Bagaimana kalau hari kedelapan?”
“Hari kedelapan itu kan ulang tahun meninggalnya Empu Kempo?”
“Betul kalau begitu, bagaimana kalau hari kesembilan? Jam tujuh pagi: Cocok, kan?”
“Bagus, kita pasang pengumuman di jembatan malam ini.”
“Bagus!”
“Apa Anda sudah siap?” tanya Ryohei.
“Sudah lama aku siap,” jawab Seijuro yang memang tak mungkin menjawab lain. Ia sama sekali tak memikirkan kemungkinan kalah dari Musashi. Sesudah belajar di bawah pimpinan ayahnya sejak kecil, dan sesudah selalu menang melawan siapa pun di perguruan, bahkan dengan yang paling tua dan paling terlatih sekalipun, ia tak dapat membayangkan terkalahkan oleh orang udik yang masih muda dan tak berpengalaman itu.
Namun keyakinannya itu tidaklah mutlak. Ia merasakan adanya rona ketidakpastian. Ia tidak mencari sebab kekurangyakinannya itu pada kegagalannya melaksanakan Jalan Samurai, tapi menganggapnya disebabkan oleh kesulitan-kesulitan pribadi belum lama ini. Salah satu kesulitan itu. barangkali yang terbesar, adalah Akemi. Ia merasa kurang senang semenjak di Sumiyoshi. Ketika Gion Toji lari diam-diam, mengertilah ia bahwa kanker keuangan dalam rumah tangga Yoshioka telah mencapai tahap kritis.
Ryohei dan lain-lainnya kembali membawa pesan untuk Musashi yang ditulis di papan yang baru dipotong.
“Beginikah yang Anda maksud?” tanya Ryohei. Bunyi huruf-huruf yang masih basah mengilat itu sebagai berikut:
Jawaban-Menjawab permintaan Anda untuk mengadakan pertandingan, dengan ini saya sebutkan waktu dan tempatnya. Tempat: Lapangan Rendaiji. Waktu: Jam tujuh pagi, hari kesembilan bulan pertama. Saya ucapkan sumpah suci bahwa saya akan datang. Kalau karena sesuatu alasan Anda tidak memenuhi janji Anda, saya anggap menjadi hak saya untuk menertawakan Anda di depan umum. Kalau saya melanggar perjanjian ini, semoga hukuman dewa-dewa jatuh pada saya! Seijuro, Yoshioka Kempo II dari Kyoto. Dibuat pada hari terakhir/tahun 1605.
Kepada ronin dari Mimasaka, Miyamoto Musahi.
Sesudah membacanya, Seijuro berkata, “Baik.” Pengumuman itu membuat-nya merasa lebih santai, barangkali karena itulah untuk pertama kali ia sadar bahwa dadu sudah dilemparkan.
Pada waktu matahari terbenam, Ryohei mengepit tanda pengumuman itu dan berjalan bangga bersama sejumlah murid lain untuk memasangnya di Jembatan Besar Jalan Gojo.
Di kaki Bukit Yoshida, orang yang dimaksud dalam pengumuman itu berjalan melewati daerah samurai keturunan bangsawan tapi tidak kaya. Mereka cenderung konservatif, hidup biasa-biasa saja, dan tidak melakukan sesuatu yang istimewa.
Musashi berjalan dari gerbang yang satu ke gerbang lain, memeriksa papan-papan nama yang ada. Akhirnya ia berhenti di tengah jalan, kelihatannya tak mau atau tak bisa melihat lebih jauh lagi. Ia sedang mencari bibinya, satu-satunya sanak yang masih hidup di luar Ogin.
Suami bibinya adalah samurai yang bekerja dengan gaji kecil pada Keluarga Konoe. Semula Musashi menyangka mudah menemukan rumah dekat Bukit Yoshida itu, tapi segera ia paham bahwa sukar sekali membedakan rumah yang satu dengan yang lain. Kebanyakan ruimah itu kecil dan dikelilingi pohon¬pohonan. Gerbang-gerbangnya tertutup rapat seperti i:ijing. Cukup banyak juga gerbang yang tak berpapan nama.
Karena kurang pasti tentang tempat yang dicarinya, ia enggan bertanya. Mereka tentunya sudah pindah,” pikirnya. “Lebih baik aku tidak mencari lagi, ia kembali ke pusat kota. Kota waktu itu berselimut kabut yang memantulkan lampu-lampu pasar akhir tahun. Sekalipun waktu itu malam Tahun Baru, jalan-jalan di pusat kota masih berdengung oleh bunyi kesibukan orang banyak.
Musashi menoleh, melihat seorang perempuan yang baru saja lewat ke arah berlawanan. Paling sedikit tujuh atau delapan tahun ia tidak melihat bibinya, tapi ia yakin perempuan itu bibinya, karena ia mirip dengan gambaran yang diciptakannya tentang ibunya. Ia mengikutinya dari jarak dekat dan memanggilnya.
Perempuan itu menatapnya penuh kecurigaan sesaat dua saat. Keterkejutannya sangat tercermin dalam matanya yang mengeriput oleh hidup yang membosankan, dengan anggaran belanja kecil bertahun-tahun lamanya. “Engkau Musashi, anak Munisai, kan?” tanyanya akhirnya.
Musashi heran, kenapa perempuan itu memanggilnya Musashi, bukan Takezo. Tapi yang betul-betul menggundahkan adalah kesan bahwa perempuan itu tidak menerimanya dengan baik. “Ya,” demikian jawabnya. “saya Takezo dari keluarga Shimmen.”
Perempuan itu memandangnya dari kaki sampai rambut, tanpa mengucapkan “oh” atau “ah” yang biasa diucapkan orang, dan tidak menyatakan betapa Musashi sudah besar dan betapa berlainan wajahnya dari sebelumnya. “Kenapa kau datang kemari?” tanyanya dingin, dengan agak menguji.
“Saya datang tanpa maksud khusus. Kebetulan saja saya ada di Kyoto. Saya pikir alangkah senang ketemu Bibi.” Melihat mata dan garis rambut bibinya, ia ingat ibunya. Sekiranya masih hidup, pasti ibu setinggi perempuan ini, dan suara bicaranya pun serupa.
“Engkau bermaksud menengok aku?” tanya bibinya tak percaya.
“Ya. Maaf, begini tiba-tiba.”
Bibinya mengibaskan tangan di depan muka, sebagai tanda tak perlu minta maaf. “Nah, engkau sudah bertemu denganku, jadi tak ada urusan lagi. Pergilah!”
Merasa dipermalukan oleh penerimaan yang dingin ini, Musashi marah, “Kenapa Bibi mengatakan itu, padahal Bibi baru melihat saya? Kalau Bibi menyuruh saya pergi, saya akan pergi, tapi saya tak mengerti sebabnya. Apakah saya melakukan sesuatu yang tidak Bibi sukai? Kalau memang, demikian, setidak¬tidaknya katakanlah.”
Bibinya kelihatan enggan berterus terang. “Ya, berhubung kau sudah di sini, bagaimana kalau kau datang ke rumah kami dan menjumpai pamanmu. Tapi kau tahu sendiri, orang macam apa dia, jadi jangan kecewa dengan apa yang mungkin dikatakannya. Aku bibimu dan karena engkau datang menegok kami, aku tak ingin kau pergi dengan perasaan berat.”
Sambil menyenangkan diri sedikit dengan ucapan bibinya itu, Musashi berjalan bersamanya ke rumah bibinya, kemudian menanti di kamar depan sementara bibinya mengabari suaminya. Lewat shoji ia dapat mendengar suara pamannya yang asmatis menggerutu. Nama paman itu Matsuo Kaname.
“Apa?” tanya Kaname dengan jengkel. “Anak Munisai di sini? Memang itu yang kutakutkan. Akhirnya dia muncul. Maksudmu dia di sini, di rumah ini? Kau membiarkannya masuk tanpa tanya aku dulu?”
Cukup sudah. Tapi ketika Musashi berseru mengucapkan selamat berpisah kepada bibinya, Kaname berkata, “Kau di sini, ya?” dan membuka pintu. Ia bukannya mengerutkan kening lagi, tapi menunjukkan sikap benci sebenci-bencinya, seperti sikap yang ditunjukkan orang kota kepada sanak dari desa yang tidak mandi, seakan-akan seekor sapi masuk rumah dan menginjakkan kakinya ke atas tatami.
“Kenapa engkau datang kemari?” tanya Kaname.
“Kebetulan saja saya ada di kota ini. Saya cuma ingin melihat keadaan Paman.”
“Bohong!”
“Paman?”
“Kau boleh bohong semaumu, tapi aku tahu apa yang kaulakukan. Kau mendatangkan banyak kesulitan di Mimasaka, membuat banyak orang membencimu, mengaibkan nama keluargamu, dan kemudian lari. Apa tidak benar begitu?”
Musashi tercengang.
“Bagaimana mungkin kau bisa begitu tak tahu malu mengunjungi sanak keluarga?”
“Saya minta maaf atas segala yang telah saya perbuat,” kata Musashi. “Tapi saya betul-betul bermaksud menebusnya, demi leluhur saya dan desa saya.”
“Rasanya kau tak bisa pulang. Yah, tangan mencencang bahu memikul. Munisai tentu menangis dalam kuburnya.”
“Rasanya saya sudah cukup lama di sini,” kata Musashi. “Saya pergi sekarang.”
“Jangan!” kata Kaname marah. “Kau tinggal saja di sini! Kalau kau mondar-mandir sekitar tempat ini, sebentar saja kau akan mendapat kesulitan. Perempuan tua tukang bantah dari Keluarga Hon’iden itu muncul di sini kira-kira setengah tahun lalu. Baru-baru ini beberapa kali dia datang. Dia terus bertanya pada kami apa kamu datang kemari, dan mencoba mengetahui dari kami di mana kamu berada. Dia menguntitmu terus dengan nafsu balas dendam yang mengerikan.”
“Oh, Osugi. Dia pernah kemari?”
“Betul. Aku mendengar semua tentangmu dari dia. Kalau kau bukan sanakku, pasti kuikat kau dan kuserahkan padanya, tapi karena keadaan… Paling tidak, tinggallah kau di sini sekarang. Sebaiknya kau meninggalkan tempat ini tengah malam. Jadi, takkan ada kesulitan dengan bibimu dan aku.”
Sungguh memalukan bahwa bibi dan pamannya menelan setiap patah kata dalam fitnah Osugi. Dengan perasaan betul-betul seorang diri, ia duduk diam menatap lantai. Akhirnya bibinya kasihan kepadanya dan menyuruhnya pergi ke kamar lain untuk tidur.
Musashi menjatuhkan diri ke lantai dan mengendurkan sarung pedangnya. Sekali lagi ia merasa bahwa di dunia ini tak ada tempat ia bergantung, kecuali diri sendiri.
Ia merenung. Barangkali benar, justru karena pertalian darahlah paman dan bibinya menerimanya dengan terus terang dan keras. Kalau tadi ia begitu marah, hingga ingin meludah di pintu dan pergi, maka sekarang ia mengambil sikap lebih toleran. Ia ingatkan dirinya bahwa penting ia melepaskan mereka dari segala dakwaan.
Musashi memang terlalu naif, hingga tak dapat menilai secara tepat orang-orang yang ada di sekitarnya. Sekiranya ia sudah kaya dan terkenal, perasaannya mengenai sanak keluarganya pasti mengena. Sekarang ini begitu saja ia masuk dari tengah udara dingin, dengan kimono kotor dan gombal, padahal malam itu malam Tahun Baru. Mengingat itu, tidak mengherankan bahwa bibi dan pamannya tidak menunjukkan keakraban kekeluargaan.
Hal itu segera menyadarkan Musashi. Ia membaringkan badan dalam keadaan lapar, dan merasa akan mendapat tawaran makan. Ia memang mencium bau makanan yang sedang dimasak dan mendengar dentingdenting pinggan-mangkuk di dapur, tapi tak seorang pun mendekati kamarnya. Kelap-kelip api dalam anglo tidak lebih besar dari seekor kunangkunang.. Tak lama kemudian ia menyimpulkan bahwa lapar dan dingin itu nomor dua. Yang paling penting sekarang tidur, karena itu ia segera menidurkan diri.
Ia terbangun sekitar empat jam kemudian oleh dentang lonceng kuil yang menandakan habisnya tahun lama. Tidur membuat badannya sehat. Ketika ia bangkit, terasa lelahnya lenyap. Pikirannya segar dan jernih.
Di dalam dan di sekitar kota, lonceng besar berdentam-dentam dengan irama lambat dan anggun, menandai berakhirnya kegelapan dan dimulainya terang. Seratus delapan dentangan untuk seratus delapan angan¬angan hidup, dan setiap dentangan merupakan seruan kepada lelaki maupun perempuan untuk mengenangkan kesia-siaan cara hidup mereka.
Musashi bertanya-tanya pada diri sendiri, berapa banyak orang yang pada malam itu dapat mengatakan, “Aku benar. Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan. Aku tidak menyesal.” Baginya sendiri, setiap dentang lonceng yang menggema itu membangkitkan getar sesal yang dalam. Ia tak dapat menampilkan apa pun kecuali hal-hal salah yang dilakukannya tahun lalu-tahun sebelumnya dan tahun sebelum itu pun, atau seluruh tahun yang telah lewat itu, semuanya membawa penyesalan baginya. Tak satu tahun pun tanpa penyesalan. Ya, boleh dikata tak satu hari pun tanpa penyesalan.
Menurut pandangannya yang terbatas atas dunia ini, tampaknya apa pun yang diperbuat orang, segera kemudian akan mereka sesali. Orang misalnya mengambil istri dengan maksud menjalani hidup bersama, tapi sering kemudian ia berubah pikiran. Kita dapat dengan mudah memaafkan perubahan pikiran pada perempuan, tapi perempuan jarang memperdengarkan keluhan, sedangkan lelaki sering. Berapa kali ia pernah mendengar lelaki memperolok-olok istrinya, seolah istri itu sandal buangan yang usang.
Musashi memang tidak punya masalah perkawinan, tapi ia menjadi korban angan-angan, dan sesal bukanlah perasaan yang asing baginya. Pada saat ini pun ia menyesal sekali telah datang ke rumah bibinya. “Sekarang pun,” demikian ratapnya, “aku tak bebas dari rasa ketergantungan. Aku selalu mengatakan pada diriku bahwa aku harus berdiri di atas kaki sendiri dan menjaga diri sendiri. Tapi kemudian tiba-tiba aku mundur dan bertopang kepada orang lain. Ini sungguh dangkal! Sungguh bodoh!
“Tahulah aku apa yang mesti kulakukan!” pikirnya. “Aku mesti mengambil sikap dan menuilskannya.”
Ia membuka bungkusan shugyosha-nya dan mengeluarkan buku tulis yang terbuat dari lembar-lembar kertas lipat empat dan diikat dengan kertas gulung. Ia biasa menggunakannya untuk mencatat pikiran¬pikiran yang datang kepadanya selama pengembaraannya, termasuk ungkapan-ungkapan Zen, catatan tentang ilmu bumi, nasihat-nasihat untuk diri sendiri, dan kadang juga sketsa kasar tentang hal-hal menarik yang dilihatnya. Dibukanya buku tulis itu di hadapannya, dikeluarkannya kuas, dan dipandangnya kertas putih itu.
Ia menulis: Aku takkan menyesali apa pun.
Sering memang ia menuliskan sikap yang diambilnya. Menurutnya, dengan menuliskannya pun ia dapat merasakan lega sedikit. Ia mesti mengulang-ulangnya untuk diri sendiri tiap pagi dan malam, seperti orang membaca kitab suci. Akibatnya ia selalu mencoba memilih kata-kata yang mudah diingat dan dibaca, seperti sajak.
Lalu sejenak ia menatap apa yang telah ditulisnya itu dan mengubahnya dengan: Aku takkan menyesali perbuatan-perbuatanku.
Ia menggumamkan kata-kata itu pada diri sendiri, tapi masih terasa kurang memuaskan, dan mengubahnya lagi: Aku takkan melakukan sesuatu yang akan kusesali.
Puas dengan usahanya yang ketiga, ia memainkan kuasnya. Sekalipun ketiga kalimat itu ditulis dengan maksud sama, dua kalimat pertama bisa saja berarti ia takkan menyesal, entah ia berbuat benar atau salah, sedangkan kalimat ketiga menekankan tekadnya untuk bertindak demikian rupa, hingga tak perlu lagi kritik diri.
Musashi mengulangi ketetapan hati itu pada diri sendiri, karena sadar bahwa itu suatu cita-cita yang takkan dapat tercapai kalau ia tidak mendisiplin hati dan pikirannya semampu-mampunya. Namun demikian, berjuang untuk mencapai tingkat di mana tak ada tindakannya yang akan menimbulkan penyesalan merupakan jalan yang harus ia tempuh. “Pada suatu hari nanti aku akan mencapai cita-cita itu!” demikian sumpahnya. Ia benamkan sumpah itu ke dasar hatinya, seperti membenamkan pancang.
Shoji di belakangnya menggeser terbuka dan bibinya menjenguk Dengan suara menggeletar di sekitar akar giginya, bibinya berkata, “Sudah kuduga sebelumnya! Ada yang mengatakan padaku, tak perlu aku menerimamu di sini, dan sekarang apa yang kutakutkan itu betul-betul terjadi. Osugi datang mengetuk dan melihat sandalmu di gang masuk. Dia yakin kamu ada di sini dan mendesak aku menyerahkanmu kepadanya! Dengar itu! Kamu bisa mendengar-nya dari sini. Oh, Musashi, apa yang akan kaulakukan?”
“Osugi? Di sini!” tanya Musashi, enggan mempercayai telinganya. Tapi benar tak ada yang salah. Ia mendengar suara Osugi yang parau itu menerobos celah-celah seperti angin dingin, suara itu tertuju pada Kaname, dengan nada paling kaku dan paling congkak.
Osugi datang ketika dentang-dentang lonceng tengah malam baru saja berhenti dan bibi Musashi baru saja akan pergi menimba air bersih untuk Tahun Baru. Bibi itu gelisah oleh bayangannya sendiri bahwa Tahun Barunya akan kacau oleh pertumpahan darah yang tak suci, karena itu la tidak berusaha menyembunyikan kesal hatinya.
“Larilah kamu secepat-cepatnya,” mohonnya. “Pamanmu masih menahannya dengan mengatakan kamu tidak datang kemari. Menyelinaplah, selagi ada waktu.” Ia pungut topi dan bungkusan Musashi, dan ia antar Musashi ke pintu belakang. Di situ ia telah meletakkan kaus kaki kulit suaminya beserta beberapa pasang sandal jerami.
Sambil mengikatkan sandal, Musashi berkata tersipu-sipu, “Saya sebetulnya benci mengganggu orang, tapi apa tak bisa Bibi berikan pada saya semangkuk bubur? Saya belum makan apa pun malam ini.”
“Ini bukan waktu makan! Tapi inilah, ambil ini! Dan pergi sana!” Ia ulurkan lima kue betas dengan secarik kertas putih.
Musashi menerimanya dengan girang dan mengangkatnya ke depan dahi sebagai tanda terima kasih. “Selamat tinggal,” katanya.
Ia susuri jalanan yang licin oleh es pada hari pertama Tahun Baru yang gembira itu dengan sedih, seperti seekor burung musim dingin yang bulunya berterbangan ke langit hitam.
Rambut dan kuku-kukunya terasa membeku. Yang tampak olehnya hanyalah napasnya sendiri yang putih, yang cepat membeku pada bulu halus sekitar mulutnya. “Dingin,” katanya keras. Tujuh Neraka Beku pasti tak sedingin ini! Kalau biasanya ia mengibaskan rasa dingin begitu saja, kenapa pagi ini ia rasakan dingin sehebat ini?
Dan ia menjawab pertanyaannya sendiri, “Tidak hanya tubuhku. Jiwaku pun dingin. Berarti belum dapat diatur dengan baik. Demikianlah adanya. Aku masih ingin bergayut pada daging hangat, seperti bayi, dan aku terlalu cepat menyerah pada sentimentalitas. Karena aku sendirian, aku merasa kasihan pada diri sendiri dan iri kepada orang-orang yang punya rumah bagus dan hangat. Dalam hal aku merasa hina dan tak berarti! Kenapakah aku tak bisa berterima kasih atas kebebasan dan kemerdekaan untuk pergi ke mana kusuka? Kenapakah aku tak dapat berpegang pada cita-cita dan harga diri?”
Sementara menikmati keunggulan nilai kemerdekaan, kakinya yang sakit bertambah hangar, bahkan sampai ujung-ujung jarinya, dan napasnya berubah menjadi uap. “Seorang pengembara tanpa cita-cita dan tanpa rasa syukur kepada kebebasan yang dimilikinya tidak lebih dari seorang pengemis! Perbedaan besar antara seorang pengemis dan pendeta pengembara menurut Saigyo terletak di dalam hati!”
Tiba-tiba ia melihat kilau putih di bawah kakinya. Ia menginjak lapisan es rapuh. Tanpa diketahuinya, sejak tadi la berjalan menuju tepi Sungai Kamo yang membeku. Sungai maupun langit masih hitam, dan di timur belum lagi tampak bayangan fajar. Kakinya berhenti berjalan. Bagaimanapun, kaki itu telah membawanya dengan selamat melintasi kegelapan Bukit Yoshida. Sekarang keduanya enggan berjalan terus.
Di balik tanggul ia kumpulkan ranting-ranting, pecah-pecahan kayu dan apa saja yang dapat terbakar, kemudian ia menggoreskan batu api. Membuat nyala kecil yang pertama itu menuntut kerja keras dan kesabaran, tapi akhirnya sejumlah daun kering mulai menyala. Dengan ketekunan seorang tukang kayu, ia dapat mengonggokkan bilah-bilah kayu dan cabang-cabang kecil. Pada taraf tertentu, api dengan cepat menyala, dan ketika angin bertiup ia menjilat pembuatnya, hampir-hampir membakar wajahnya.
Musashi mengeluarkan kue betas pemberian bibinya dan membakarnya satu per satu dalam nyala api. Kue itu menjadi cokelat dan membengkak seperti gelembung, mengingatkannya pada perayaan Tahun Baru di masa kecilnya. Kue itu tidak memiliki rasa lain kecuali rasanya sendiri, karena memang tidak digarami atau digulai.
Ketika ia mengunyahnya, terasa olehnya nasi putih itu sebagai rasa dunia nyata di sekitarnya. “Aku merayakan Tahun Baru sendiri,” pikirnya bahagia. Sesudah menghangatkan muka dengan nyala api dan mengisi mulutnya, maka dunia pun terasa agak menarik.
“Ini perayaan Tahun Baru yang bagus! Kalau seorang pengembara seperti aku memiliki lima biji kue nasi yang baik, mestinya surga memberikan kemungkinan pada tiap orang untuk merayakan Tahun Baru dengan caranya masing-masing. Di sini ada Sungai Kamo yang akan kuajak minum merayakan Tahun Baru. Tiga puluh puncak Gunung Higashiyama itulah hiasan pinusku! Aku mesti membasuh tubuhku dan menantikan sinar matahari pertama.”
Di tepi sungai yang membeku itu ia buka obi-nya, ia lepas kimono dan pakaian dalamnya, kemudian ia mencemplungkan diri ke air, membasuh diri seluruhnya sambil berkecipak seperti burung air.
Ia sedang berdiri di tepi sungai sambil menggosok kulitnya kuat-kuat, ketika cahaya fajar pertama memecah dari balik awan dan jatuh hangat ke punggungnya. Ia memandang ke arah api dan tampaklah seseorang berdiri di tanggul di atas api itu. Seorang musafir yang berbeda dalam umur dan penampilan, dan terbawa kemari oleh nasib. Osugi.
Perempuan tua itu melihatnya juga, dan dalam hatinya berseru, “Dia di sini! Perusuh itu di sini!” Dilanda perasaan gembira sekaligus takut, hampir saja ia jatuh pingsan. Ia ingin memanggil Musashi, tapi suaranya tertahan. Tubuhnya gemetar dan tak mau tunduk pada perintahnya.
Secara mendadak ia duduk dalam bayangan sebatang pinus kecil.
“Akhirnya!” ucapnya gembira. “Akhirnya kutemukan dia! Jisim Paman Gon yang memimpinku menemukan dia.” Dalam tas yang bergantung di pinggangnya ia simpan sebagian tulang Paman Gon dan sejumlah rambutnya.
Tiap hari, semenjak kematian Paman Gon, ia bicara dengan orang mati itu. “Paman Gon,” katanya, “biarpun kau sudah mati, aku tak merasa sendirian. Kau bersamaku. Aku bersumpah takkan kembali ke desa sebelum menghukum Musashi dan Otsu. Dan kau masih bersamaku sekarang. Boleh saja kau mati, tapi jisimmu selalu di sampingku. Kita akan bersama selamanya. Pandanglah ke atas lewat rerumputan kepadaku, dan perhatikan! Tak bakal aku membiarkan Musashi pergi tanpa hukuman!”
Paman Gon baru seminggu meninggal, tapi Osugi sudah berketetapan akan setia kepadanya, sampai ia sendiri nanti berubah menjadi abu. Beberapa hari terakhir itu Ia melipatgandakan usaha pencarian dengan kehebohan Kishimojin yang dahsyat. Sebelum tunduk pada sang Budha, Kishimojin telah membunuhi anak¬anak lain untuk memberi makan anaknya sendiri kabarnya jumlahnya sampai lima ratus, atau seribu, atau sepuluh ribu.
Kabar nyata pertama yang didengar Osugi adalah omongan orang di jalan bahwa segera akan terjadi pertarungan antara Musashi dan Yoshioka Seijuro. Kemudian, malam sebelumnya ia berada di tengah orang-orang yang merubung papan pengumuman yang terpasang di Jembatan Besar Jalan Gojo. Sungguh peristiwa itu membesarkan hatinya! Ia membaca papan itu berulang kali sambil berpikir. “Jadi, ambisi Musashi itu akhirnya menguasainya. Oh, mereka akan membuatnya seperti badut. Yoshioka akan membunuhnya. Oh! Kalau hal itu terjadi, bagaimana mungkin aku menghadapi orang di desa? Aku bersumpah aku sendirilah yang akan membunuhnya. Aku harus mendahului Yoshioka dan membawa wajah menangis itu pulang ke rumah, menjinjingnya pada rambutnya supaya orang-orang desa dapat melihatnya!” Kemudian ia berdoa kepada dewa-dewa, bodhisatwa, dan para leluhur, agar mereka membantunya.
Karena marah dan sengit, ia meninggalkan rumah Matsuo dengan kecewa. Pulang menyusuri Sungai Kamo, semula la menyangka cahaya itu api unggun seorang pengemis. Tanpa suatu sebab khusus ia berhenti di tanggul dan menanti. Ketika dilihatnya seorang lelaki telanjang berotot muncul dari sungai tanpa memedulikan dingin, tahulah ia bahwa orang itu Musashi.
Karena Musashi tidak berpakaian, itulah saat yang paling baik untuk menangkapnya dengan kejutan dan memotongnya, tetapi hatinya yang tua dan mengering itu tak tega berbuat demikian.
Ia mengatupkan tangan dan mengucapkan doa syukur, seolah-olah telah membawa kepala Musashi. “Sungguh aku bahagia! Terima kasihku atas pertolongan dewa-dewa dan bodhisatwa, bahwa sekarang aku melihat Musashi di depan mataku. Ini tak mungkin sekadar kebetulan! Keyakinanku yang tak pernah kendur kini mendapat berkah. Musuh diserahkan ke tanganku!” Ia menyembah surga, karena ia percaya sepenuhnya bahwa sekarang tibalah baginya saat terbaik untuk menyempurnakan tugasnya.
Batu-batuan sepanjang tepi air kelihatan mengapung di atas tanah satu demi satu ketika cahaya menimpanya. Musashi mengenakan kimono, mengikatkan obi erat-erat, dan memasangkan kedua pedangnya. Ia bersujud diam kepada dewa-dewa langit dan bumi.
Jantung Osugi melompat ketika ia berbisik, “Sekarang!”
Tepat pada waktu itu Musashi melompat berdiri. Dengan gesitnya ia melompati air dan berjalan cepat menyusuri tepi sungai. Osugi buru-buru berjalan menyusur tanggul, berusaha tidak memancing perhatian Musashi.
Atap-atap dan jembatan-jembatan kota mulai membentuk garis-garis putih dalam kabut pagi, tapi di atas sana bintang-bintang masih melayanglayang di angkasa, dan daerah sepanjang kaki Gunung Higashiyama masih sehitam tinta. Ketika Musashi sampai jembatan kayu di Jalan Sanjo, ia lewat di bawahnya dan muncul kembali di puncak tanggul di seberangnya. Ia berjalan dengan langkah lelaki, panjang-panjang. Beberapa kali Osugi sudah begitu dekat, hingga dapat memanggil Musashi, tapi ia menahan diri.
Musashi iahu la ada di belakang. Tapi ia pun tahu bahwa jika ia menoleh ke belakang, Osugi akan menyerangnya, dan terpaksalah ia menghadiahi perempuan itu dengan pameran cara bertahan, tanpa melukainya. “Lawan yang mengerikan!” pikirnya. Sekiranya ia masih Takezo dulu di desa, tak akan ia memikirkan yang lain kecuali merobohkannya dan menghantamnya sampai muntah darah. Sekarang tentu saja tak dapat lagi ia berbuat demikian.
Sebetulnya ia lebih punya hak membenci perempuan itu daripada sebaliknya, tapi ia ingin perempuan itu sadar bahwa perasaan terhadap dirinya hanya berlandaskan salah pengertian besar. Ia yakin bahwa kalau ia dapat menjelaskan duduk perkaranya, tidak akan lagi perempuan itu bertahun-tahun lamanya menyimpan dendam kesumat, tapi kecil kemungkinannya Musashi dapat meyakinkannya sekarang, kecuali kalau ia menjelaskannya seribu kali. Hanya ada satu kemungkinan. Walaupun keras kepala, Osugi pasti percaya kepada Matahachi. Kalau anaknya sendiri menceritakan dengan tepat apa yang telah terjadi sebelum dan sesudah Sekigahara, mungkin ia tak lagi menganggap Musashi musuh Keluarga Hon’iden, apalagi orang yang melarikan calon istri anaknya.
Kini ia mendekati jembatan di daerah yang pada akhir abad dua belas berkembang pesat, yaitu ketika Keluarga Taira berada di puncak kejayaannya. Sesudah peperangan di abad lima belas pun daerah itu tetap merupakan salah satu bagian Kyoto yang paling padat penduduknya. Matahari baru saja mulai menyinari bagian depan rumah-rumah dan kebun. Tanda-tanda bekas sapuan malam sebelumnya masih kelihatan, tapi pada waktu sepagi itu tak satu pintu pun terbuka.
Osugi dapat menandai jejak kaki Musashi di lumpur. Jejak kaki itu pun dibencinya.
Seratus meter lagi, kemudian lima puluh.
“Musashi!” jerit perempuan tua itu. Sambil mengepalkan tinju ia menjulurkan kepalanya dan berlari mengejar. “Setan jahat kamu!” serunya. “Apa kamu tak punya telinga?”
Musashi tidak menoleh.
Osugi terus berlari. Sekalipun sudah tua, tekadnya yang tak kenal maut memberikan keberanian dan kelelakian kepada langkah-langkahnya. Musashi terus membelakanginya, gelisah menimbang-nimbang cara bertindak.
Tiba-tiba perempuan itu melompat ke hadapannya dan menjerit, “Berhenti!” Bahunya yang lancip dan tulang rusuknya yang tipis kerempeng bergeser. Sesaat la berdiri dengan napas terengah-engah sambil mengumpulkan ludah di mulut.
Musashi tak menyembunyikan sikap pasrahnya. Katanya dengan sikap tak acuh sebisanya, “Oh, kalau tak salah ini Nyonya Hon’iden! Apa kerja Ibu di sini?”
“Anjing biadab kamu! Kenapa pula aku tak di sini? Aku yang mestinya bertanya. Aku sudah membiarkanmu lepas di Bukit Sannen, tapi hari ini akan kumiliki kepalamu itu!” Lehernya yang kurus kering mengingatkan Musashi kepada jago aduan, dan suaranya yang menggeletar, yang seakan hendak melontarkan giginya yang merongos keluar dari mulut itu, lebih mengerikan daripada teriakan perang.
Rasa takut Musashi kepada perempuan tua itu berakar dalam kenangan masa kanak-kanaknya, ketika Osugi menangkap basah ia dan Matahachi melakukan suatu kenakalan di rumpun buah mulberi atau di dapur Hon’iden. Waktu itu ia berumur delapan atau sembilan tahun, masa ketika mereka berdua selalu saja melakukan kenakalan. Dan ia masih ingat dengan jelas, bagaimana waktu itu Osugi memaki-makinya.
Waktu itu ia lari ketakutan dan perutnya terasa mual. Kenangan ini membuatnya menggigil. Ia sudah menganggap perempuan itu tukang sihir tua yang bikin benci dan gampang marah. Sekarang pun ia benci pada Osugi karena pernah mengkhianatinya, sewaktu ia pulang ke desa dari Sekigahara. Tapi aneh, ia juga sudah terbiasa menganggap wanita itu sebagai orang yang takkan pernah dapat dihadapinya dengan baik. Hanya bersama berlalunya waktu, perasaan terhadap perempuan itu menjadi lunak.
Pada Osugi, sebaliknya yang terjadi. Ia tak dapat melepaskan gambaran tentang Takezo sebagai anak nakal yang menjengkelkan dan tak bisa diatur. Ia mengenalnya sejak bayi. Seorang anak yang selalu meler hidungnya dan kepalanya luka-luka. Tangan dan kakinya begitu panjang, hingga kelihatan tidak normal. Bukannya ia tak sadar akan jalannya waktu, bahwa ia sudah tua sekarang. Ia sadar. Dan Musashi sudah dewasa. Tapi ia tak dapat mengatasi dorongan hatinya untuk memperlakukan Musashi sebagai anak melarat yang jahat. Apabila terpikir olehnya betapa anak kecil ini telah mempermalukannya, kontan ia berniat membalas dendam! Soalnya bukanlah sekadar membersihkan diri di hadapan orang desa. Ia mesti melihat Musashi masuk kubur sebelum ia sendiri mengakhiri hidupnya.
“Tak ada gunanya bicara!” pekiknya. “Serahkan kepalamu, atau siapsiaplah merasakan pedangku! Siap kamu, Musashi!” Ia menghapus bibirnya dengan jari, meludah ke tangan kiri, dan mencekal sarung pedangnya.
Ada peribahasa tentang seekor belalang betina yang menyerang kereta kaisar. Tentunya peribahasa itu diciptakan orang untuk melukiskan Osugi yang pucat pasi itu, yang menyerang Musashi dengan kakinya yang kurus panjang. Ia tampak benar-benar seperti seekor belalang betina. Matanya, kulitnya, cara berdirinya yang aneh, semuanya sama. Musashi berdiri waspada memperhatikan gerak Osugi, seperti terhadap anak yang sedang bermain. Bahu dan dadanya tampak tak terkalahkan, seperti kereta besi yang kekar.
Walaupun situasinya tampak ganjil, ia tidak dapat tertawa, karena tiba-tiba ia merasa sangat kasihan. “Tunggu dulu, Nek!” mohonnya sambil menangkap siku perempuan itu sedikit, namun erat.
“A… pa pula ini!” teriak Osugi. Tangannya yang tak berdaya dan giginya gemetar karena terkejut. “P-p-pe¬ngecut!” gagapnya. “Kaupikir kau bisa men-cegahku? Empat puluh Tahun Baru lebih banyak telah kulihat daripada yang sudah kaulihat, karena itu tak bisa kau memperdayakan aku. Terima hukumanmu!” Warna kulit Osugi seperti warna tanah liat merah, sedangkan suaranya penuh kenekatan.
Sambil mengangguk bersemangat, Musashi berkata, “Saya mengerti; saya tahu perasaan Nenek. Memang Nenek menyimpan semangat juang Keluarga Hon’iden. Saya lihat Nenek memiliki darah yang sama dengan leluhur Keluarga Hon’iden, yang dengan berani pernah mengabdi pada Shimmen Munetsura.”
“Lepaskan aku…! Takkan kudengarkan jilatan orang yang semuda cucuku.” “Tenanglah. Kurang tepat kalau orang setua Nenek bersikap kasar. Ada yang mau saya katakan.”
“Pernyataan terakhir sebelum menemui ajalmu?”
“Tidak; saya mau menjelaskan.”
“Aku tak ingin penjelasan apa pun darimu!” Perempuan tua itu menegakkan diri setinggi-tingginya.
“Nah, kalau begitu saya cuma akan mengambil pedang Nenek itu. Nanti, kalau Matahachi muncul, biar dia yang menjelaskan segalanya pada Nenek.”
“Matahachi?”
“Ya. Saya sudah kirim pesan padanya musim gugur lalu.”
“Oh, begitu.”
“Saya minta dia menjumpai saya di sini pagi Tahun Baru ini.”
“Bohong!” jerit Osugi sambil menggelengkan kepala dengan hebatnya. “Kamu mesti malu, Musashi. Apa kamu bukan anak Munisai? Apa dia tidak mengajarkan padamu, bahwa kalau tiba waktunya untuk mati, kau mesti mati seperti lelaki? Ini bukan waktunya bermain kata-kata. Seluruh hidupku ada di belakang pedang ini, dan aku mendapat dukungan dewa-dewa dan bodhisatwa. Kalau kau berani menghadapinya, hadapilah!” Ia berusaha meloloskan tangannya dari Musashi, sambil teriaknya, “Hidup sang Budha.” Ia mencabut pedang dan mencengkeramnya dengan kedua tangan, lalu menerjang dada Musashi.
Musashi mengelak. “Tenang, Nek, tenanglah!”
Musashi menepuk punggungnya sedikit, Osugi menjerit dan berpusing menghadapi Musashi. Sambil bersiap menyerang ia menyerukan nama Kannon. “Puji bagi Kannon Bosatsu!” Ia menyerang lagi.
Ketika melewati Musashi, Musashi menangkap pergelangan tangannya. “Kalau Nenek terus begini, Nenek cuma akan bikin capek diri sendiri. Lihat, jembatan ada di sana. Ayolah kita sama-sama ke sana.”
Osugi memutar kepalanya, menyeringai, dan mengerutkan bibir. “Fui!” Ia meludah dengan segala kekuatannya yang masih tinggal.
Musashi melepaskannya dan menyingkir sambil menggosok mata kirinya. Mata itu terasa terbakar, seolah telah terkena bunga api. Ia pandang tangan yang dipakainya menggosok mata itu. Tak ada darah di situ, tapi ia tak dapat membuka mata. Melihat ia sedang lengah, Osugi menyerang lagi dengan kekuatan baru, sambil menyerukan lagi nama Kannon. Dua kali, tiga kali ia mengayunkan pedang ke arah Musashi.
Ketika pedang terayun ketiga kalinya, Musashi hanya membungkukkan badan sedikit dari pinggang, karena sibuk dengan matanya. Pedang memotong lengan kimononya dan menggores lengannya.
Potongan lengan kimono itu jatuh, hingga Osugi mendapat kesempatan melihat darah pada lapisan putih. “Aku sudah melukainya!” jeritnya gembira meluap-luap, dan terus mengayun-ayunkan pedang membabi buta. Ia merasa bangga, seolah-olah telah menumbangkan sebatang pohon besar sekali tebas. Sama sekali tak mengurangi kegembiraannya bahwa Musashi tidak balik membalas. Terus juga ia meneriakkan nama Kannon dari Kiyomizudera dan menyerukan dewa untuk turun ke bumi.
Dengan suara hiruk-pikuk luar biasa ia berlari-lari sekitar Musashi, menyerangnya dari depan dan belakang. Musashi sendiri tidak berbuat lain kecuali mengubah-ubah letak tubuhnya untuk menghindari tebasan.
Matanya mengganggunya dan lengannya terkena goresan. Walaupun melihat datangnya tebasan, ia tak dapat bergerak cepat untuk menghindar. Belum pernah sebelumnya orang sampai melompatinya atau melukainya biarpun sedikit. Karena ia tidak melayani serangan Osugi secara sungguh-sungguh, tidak pernah terlintas dalam pikirannya siapa akan menang dan siapa kalah.
Tapi bukankah sudah ia biarkan dirinya terluka, karena tidak melayani secara sungguh-sungguh? Menurut Seni Perang, betapapun kecilnya luka itu jelas ia kalah. Keyakinan perempuan tua itu dan ujung pedangnya menunjukkan pada semua orang bahwa Musashi belum matang.
“Aku salah,” demikian pikirnya. Sadar bahwa bersikap pasif itu bodoh. Ia pun melompat menghindari pedang yang menyerangnya, kemudian menampar punggung Osugi dengan keras, hingga perempuan itu terguling dan pedang terlepas dan tangannya.
Dengan lengan kiri, Musashi memungut pedang itu, dan dengan tangan kanan diangkatnya Osugi ke dalam lekuk lengannya.
“Turunkan aku!” jerit Osugi menggapai-gapai. “Apa tak ada dewa-dewa? Tak ada bodhisatwa? Aku sudah melukainya sekali! Apa dayaku, Musashi! Jangan permalukan aku macam ini! Potong kepalaku! Bunuh aku sekarang!”
Musashi bungkam seribu bahasa. Ia menyusuri jalan setapak sambil mengepit perempuan yang meronta¬ronta itu. Sementara itu Osugi terus memprotes dengan suara seraknya, “Inilah peruntungan perang! Ini nasib! Kalau memang ini kehendak dewa-dewa, aku takkan bersikap pengecut!… Kalau Matahachi mendengar Paman Gon dan aku terbunuh dalam usaha balas dendam, pasti bangkit marahnya dan akan dia balaskan dendam kami berdua. Itu obat mujarab untuknya. Musashi, bunuh aku. Bunuh aku sekarang! … Ke mana kamu pergi? Mau kautambahkan lagi aib pada ajalku? Berhenti! Potong kepalaku sekarang!”
Musashi tidak juga menghiraukannya, tapi ketika sampai di jembatan ia mulai bertanya-tanya dalam hati, apa yang mesti ia lakukan terhadap perempuan itu.
Kemudian datanglah ilham. Ketika turun ke sungai, ditemuinya di situ sebuah perahu tertambat di salah satu tiang jembatan. Pelan-pelan diturunkannya perempuan itu ke dalamnya. “Nah, sekarang Nenek mesti sabar dan tinggal di sini sebentar. Matahachi sebentar lagi datang.”
“Apa maumu?” teriak Osugi, mencoba menepiskan tangan Musashi dan sekaligus tikar-tikar gelagah di dasar perahu itu. “Apa bedanya, Matahachi datang ke sini atau tidak? Dan kenapa kaubilang dia akan datang? Aku tahu apa yang akan kaulakukan. Kau tak puas kalau hanya membunuhku; kau mau menghinaku juga!”
“Terserah Nenek. Tak lama lagi Nenek akan lihat kebenaranmya.”
“Bunuh aku!”
“Ha, ha, ha!”
“Apa yang lucu? Kau takkan sulit memotong leher tua ini dengan sekali tebas!”
Karena tak ada cara yang lebih baik, Musashi pun mengikatkannya ke bagian lunas perahu yang menyembul ke atas air. Kemudian dimasukkannya pedang perempuan itu ke dalam sarungnya dan diletakkan baik-baik di sampingnya.
Begitu Musashi pergi, Osugi mengejeknya, katanya, “Musashi! Menurutku kau ini tak mengerti Jalan Samurai! Baik, kemari, akan kuajari kamu.”
“Nanti.”
Musashi mulai mendaki tanggul, tapi Osugi demikian hebohnya, hingga terpaksa ia kembali dan menimbunkan beberapa tikar gelagah di atasnya.
Matahari merah besar menyala-nyala di atas Gunung Higashiyama. Musashi memandang terpesona ketika matahari itu naik dan merasakan cahayanya menembus ke dalam dirinya. la pun jadi termenung. Pikirnya, hanya sekali setahun matahari barn ini naik, membikin cacing ego yang mengikat manusia pada pikiran¬pikiran kerdilnya mencair dan menghilang oleh cahaya yang luar biasa. Dan Musashi dipenuhi kegembiraan karena masih hidup. Ia berseru gembira di tengah fajar merekali itu, “Aku masih muda!”
Jembatan Besar di Jalan Gojo
“LAPANGAN RENDAIJI… hari kesembilan bulan pertama….”
Membaca kata-kata itu membuat darah Musashi menggelegak.
Namun perhatiannya terganggu oleh rasa nyeri tajam dan menikam pada mata kirinya. Ketika ia mengangkat tangan setinggi kelopak mata, kelihatan ada jarum kecil menancap pada lengan kimononya, dan ketika lebih saksama diperhatikannya ternyata ada empat atau lima lagi bersarang seperti potongan¬potongan es kena cahaya pagi.
“Oh, ini dia!” serunya sambil mencabut satu di antaranya dan mengamatamatinya. Besarnya seperti jarum jahit kecil, tapi tak berlubang, dan bentuknya bukan bulat, tapi segi tiga. “Anjing perempuan!” katanya jijik sambil menatap ke arah perahu. “Aku sudah dengar tentang jarum semburan macam ini, tapi siapa sangka perempuan jelek tua itu yang menembakkannya? Sungguh nyaris.”
Rasa ingin tahu seperti biasa muncul. Ia kumpulkan jarum-jarum itu satu demi satu, kemudian ia sisipkan baik-baik dalam kerahnya, dengan maksud mempelajarinya kemudian. Ia mendengar bahwa di antara para prajurit terdapat dua aliran yang berlawanan mengenai senjata kecil ini. Yang satu berpendapat bahwa jarum itu dapat dengan efektif dipergunakan sebagai alat penangkis dengan menyemburkannya ke wajah lawan, sedangkan yang lain menyatakan bahwa itu omong kosong.
Golongan pendukung senjata itu menyatakan bahwa cara yang sudah sangat tua dalam menggunakan jarum itu dikembangkan dari permainan para penjahit dan pemintal yang pindah dari Tiongkok ke Jepang pada abad enam atau tujuh. Sekalipun tidak dianggap sebagai alat penyerang, menurut mereka senjata itu dipergunakan sampai zaman ke-shogun-an Ashikaga sebagai alat persiapan untuk melindungi diri terhadap lawan.
Pihak lain bahkan sampai menyatakan tak pernah ada teknik kuno dalam hal itu, sekalipun mereka membenarkan semburan jarum itu pernah dipergunakan untuk permainan. Mereka membenarkan, orang-orang perempuan mungkin saja bermain-main dengan itu, tapi mereka tetap menolak bahwa semburan jarum dapat dikembangkan sampai taraf dapat menimbulkan luka. Mereka juga menyatakan bahwa air ludah memang dapat menahan panas, dingin, atau keasaman tertentu, tapi sedikit saja dapat menahan rasa nyeri akibat jarum yang menusuk bagian dalam mulut. Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja bahwa dengan latihan yang cukup, orang dapat menyimpan jarum-jarum dalam mulutnya tanpa merasa sakit dan meluncurkannya dengan lidah, dengan ketepatan dan kekuatan tinggi. Itu cukup untuk membutakan orang.
Orang-orang yang tak percaya membantah. Mereka berpendapat bahwa sekalipun jarum itu dapat disemburkan dengan keras dan cepat, kemungkinan untuk dapat melukai seseorang sangat minim.
Bagaimanapun, menurut mereka bagian wajah yang lemah terhadap serangan itu hanyalah mata, sedangkan kemungkinan jarum itu mengenai mata tidak begitu besar, biarpun dalam kondisi paling menguntungkan. Dan kerusakan yang ditimbulkannya tidaklah berarti.
Mendengar banyak argumentasi pada waktu yang berlain-lainan, Musashi cenderung memihak orang-orang yang menyangsikannya. Tapi sesudah mendapat pengalaman sendiri, ia pun sadar bahwa penilaiannya terlampau tergesa-gesa dan bahwa penggal-penggal pengetahuan yang diperoleh secara sembarangan saja dapat terbukti sangat penting dan bermanfaat.
Jarum-jarum itu tidak mengenai biji matanya, tapi matanya kini berair. Ketika ia sedang meraba-raba pakaiannya untuk mencari sesuatu yang dapat dipergunakannya mengeringkannya, didengarnya bunyi kain disobek. Dan ketika ia menoleh, dilihatnya seorang gadis sedang merobek secarik kain merah dari lengan baju dalamnya.
Akemi datang berlari kepadanya. Rambutnya tidak ditata untuk perayaan Tahun Baru dan kimononya acak¬acakan. Ia mengenakan sandal, tapi tanpa kaus. Musashi menyipitkan mata memandang kepadanya dan bergurnam. Walau gadis itu tidak asing baginya, tapi tak dapat ia mengenali wajahnya.
“Ini aku, Takezo… eh, Musashi,” kata Akemi ragu-ragu sambil menawarkan kain merah itu. “Matamu kelilipan, ya? Jangan gosok. Bisa lebih sakit. Pakai ini.”
Musashi menerima kebaikannya tanpa mengatakan sesuatu, lalu menutup matanya dengan kain itu. Kemudian ia menatap wajah Akemi dengan saksama.
“Kau tak ingat aku?” tanya Akemi tak percaya. “Kau harus ingat!” Wajah Musashi betul-betul kosong.
“Harus!”
Sikap diam Musashi itu membobol tanggul penahan emosi Akemi yang sudah lama terpendam. Jiwanya yang sudah demikian terbiasa dengan kesedihan dan kekejaman itu telanjur bergayut pada harapan terakhir ini, dan kini fajar sudah menyingsing, karena itu semuanya jadi tak lebih dari khayal yang telah diciptakannya sendiri. Di dalam dadanya terbentuk gumpalan keras, dan terdengarlah ia tercekik. Sekalipun ia menutup mulut dan hidung untuk menindas sedu-sedannya, namun bahunya menggeletar tak terkendalikan lagi.
Caranya memandang sewaktu menangis itu mengingatkan Musashi kepada sikap gadis polos di zaman Ibuki. Ketika itu anak itu menggantungkan giring-giring pada obi-nya. Musashi melingkarkan tangannya ke bahu yang tipis dan lemah itu.
“Kamu Akemi, tentu saja. Ya, aku ingat. Bagaimana kau bisa sampai di sini? Apa yang terjadi dengan ibumu?” Pertanyaan-pertanyaan Musashi itu seperti mata kail, dan yang paling berat adalah penyebutan nama Oko, yang dengan sendirinya mengingatkannya pada teman lamanya. “Apa kau masih tinggal dengan Matahachi? Dia mestinya datang kemari pagi ini. Apa kebetulan kau tidak bertemu dengannya?”
Setiap patah kata itu menambah penderitaan Akemi. Di dalam pelukan Musashi, tak ada lagi yang diperbuatnya selain menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis.
“Apa Matahachi takkan datang?” tanya Musashi lagi. “Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana aku bisa mengerti, kalau kamu cuma menangis?”
“Dia… dia… dia takkan datang. Dia tak pernah… tak pernah terima pesan-mu.” Dan Akemi pun menekankan wajahnya ke dada Musashi dan kembali menangis mengejang-ngejang.
Ia ingin mengatakan… bercerita… tapi setiap gagasan mati dalam otaknya yang demam. Bagaimana ia dapat menceritakan kepada Musashi nasib ngeri yang dideritanya karena ibunya? Bagaimana mungkin ia mengutarakannya dalam kata-kata, apa yang telah terjadi di Sumiyoshi atau pada hari-hari sesudah itu?
Jembatan itu bermandikan matahari Tahun Baru, dan semakin banyak orang berlalu lalang. Gadis-gadis berkimono baru cemerlang pergi melakukan sembahyang Tahun Baru di Kuil Kiyomizudera. Laki-laki berpakaian jubah resmi mulai melakukan kunjungan Tahun Baru. Hampir tersembunyi di tengah mereka itu ada Jotaro dengan rambut awut-awutan seperti biasa. Hampir sampai tengah jembatan, baru ia melihat Musashi dan Akemi.
“Apa pula ini?” tanyanya pada diri sendiri. “Kupikir dia bersama Otsu. Tapi itu bukan Otsu!” Ia berhenti dan wajahnya berubah.
Ia betul-betul terpukau. Sebetulnya tidak apa-apa, kalau tak ada orang memperhatikan. Tapi di sana mereka beradu dada dan saling peluk di jalan ramai. Seorang lelaki dan seorang perempuan saling dekap di depan umum? Itu tak kenal malu. Ia tak dapat percaya bahwa orang dewasa dapat berlaku demikian memalukan, lebih-lebih sensei-nya sendiri yang dipujanya. Jantung Jotaro berdentam hebat. Ia merasa sedih dan sekaligus sedikit cemburu. Dan marah, begitu marah, hingga ia ingin memungut batu dan melempar mereka.
“Aku pernah melihat perempuan itu,” pikirnya. “Ah… ya, dialah yang menyampaikan pesan Musashi untuk Matahachi. Ya… dia itu gadis warung teh, jadi tak heran. Tapi bagaimana pula mereka bisa saling kenal? Rasanya ini mesti kusampaikan pada Otsu!”
Ia menengok ke sana kemari di jalan itu, mengintai dari susuran jembatan, tapi tak ada tanda-tanda Otsu.
Malam kemarin, karena yakin akan bertemu Musashi hari berikutnya, Otsu mengeramasi rambutnya dan tetap jaga sampai jam-jam pertama Tahun Baru karena menata rambutnya secara layak. Kemudian ia mengenakan kimono hadiah Keluarga Karasumaru, dan sebelum fajar ia pergi memberikan penghormatan ke Kuil Gion dan Kiyomizudera, dan akhirnya pergi ke Jalan Gojo. Jotaro ingin mengawaninya, tapi ia menolak.
Menurut Otsu, pada hari biasa tidak apalah, tapi hari ini Jotaro akan merupakan gangguan. “Kamu diam di sini,” katanya. “Pertama, aku mau bicara dengan Musashi sendiri. Kamu boleh pergi ke jembatan sesudah hari terang, tapi tak perlu buru-buru. Dan jangan kuatir; aku berjanji akan menantimu di sana dengan Musashi, waktu kamu datang.”
Jotaro lebih dari sekadar jengkel. Tidak hanya ia merasa sudah cukup dewasa untuk memahami perasaan Otsu, ia pun menghargai perasaan saling tertarik antara lelaki dan perempuan. Pengalaman berguling-guling di jerami dengan Kocha di Koyagyu itu belum luntur dari kenangannya; sekalipun begitu, aneh baginya bahwa seorang perempuan dewasa seperti Otsu pergi ke sana kemari bermuram durja dan menangisi seorang lelaki.
Walau sudah berusaha setengah mati, ia tak dapat menemukan Otsu. Sementara ia sedang resah itu, Musashi dan Akemi pergi ke ujung jembatan, agaknya supaya tidak tampak terlalu mencolok. Musashi melipatkan lengan dan bersandar pada susuran jembatan. Akemi berdiri di sampingnya, memandang ke sungai. Mereka tidak melihat Jotaro ketika ia menjelinap lewat di sisi lain jembatan itu.
“Kenapa begini lama? Berapa lama orang bisa berdoa buat Kannon?” Sambil menggerutu, Jotaro berjingkat dan menatapkan pandangan ke ujung Jalan Gojo.
Sekitar sepuluh langkah dari tempat berdirinya terdapat empat atau lima pohon liu yang tak berdaun. Sering kali kawanan bangau putih berkumpul sepanjang sungai itu, mencari ikan, tapi hari ini tak seekor pun kelihatan. Seorang pemuda berkuncung panjang bersandar pada cabang pohon liu yang menjulur ke tanah seperti naga yang sedang tidur.
Di jembatan, Musashi mengangguk ketika Akemi berbisik bergairah kepadanya. Akemi membuang jauh-jauh harga dirinya dan sedang bercerita kepada Musashi tentang segalanya, dengan harapan dapat meyakinkan Musashi agar menjadi miliknya seorang. Sukarlah meneliti, apakah kata-kata yang diucapkannya menembus telinga Musashi. Musashi memang terkadang mengangguk, tapi pandangan matanya bukan pandangan seorang kekasih yang sedang mengucapkan kata-kata manis kosong kepada kekasihnya.
Sebaliknya biji matanya bersinar tanpa warna dan tanpa panas, dan terpusat terus pada sesuatu. Akemi tak menyadari ini. Karena tenggelam sepenuhnya, ia sampai tercekik sedikit ketika mencoba menguraikan perasaan yang dikandungnya.
“Nah,” demikian keluhnya, “sudah kuceritakan padamu semua yang bisa kuceritakan. Tak ada sama sekali yang kusembunyikan.” Sambil beringsut mendekati Musashi, katanya prihatin, “Empat tahun sudah lewat sejak Sekigahara itu. Tubuh dan jiwaku sudah berubah.” Kemudian sambil mencucurkan air mata, “Tapi tidak! Aku tidak betul-betul berubah. Perasaanku padamu tak berubah sedikit pun. Aku yakin betul. Kau mengerti, Musashi? Mengerti bagaimana perasaanku?”
“Mm. Mm.”
“Cobalah kau mengerti! Aku sudah menceritakan segalanya. Aku bukan bunga liar yang tanpa dosa seperti ketika kita pertama bertemu di kaki Gunung Ibuki. Aku cuma perempuan biasa yang sudah diperkosa…. Tapi kesucian itu persoalan tubuh atau pikiran? Apa seorang perawan yang berpikiran cabul itu suci?… Aku sudah kehilangan keperawanan gara-gara… tak dapat aku menyebut namanya, tapi gara-gara lelaki tertentu, tapi hatiku masih murni.”
“Mm. Mm.”
“Apa kau tidak menyimpan rasa tertentu padaku? Tak bisa aku menyimpan rahasia kepada orang yang kucintai. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang akan kukatakan, ketika aku melihatmu. Haruskah aku mengatakan semuanya atau tidak? Tapi kemudian jelas soalnya buatku. Tak dapat aku menipumu, biarpun aku menghendakinya. Kuharap kau mengerti! Katakanlah! Katakan kau memaafkan aku. Atau, apa menurut pendapatmu aku tercela?”
“Mm. Ah….
“Kalau kupikirkan hal itu lagi, aku jadi begitu marah!” Akemi pun menurunkan wajahnya ke susuran jembatan. “Oh, malu aku memintamu mencintaiku. Aku tak punya hak berbuat begitu. Tapi… tapi… dalam hatiku aku masih perawan. Aku masih menilai cinta pertamaku ini seperti sebutir mutiara. Aku belum kehilangan kekayaan itu, dan aku tak mau, tak peduli aku menjalani hidup macam apa, atau ke tengah laki¬laki macam apa aku tercebur!”
Tiap helai rambut di kepalanya bergetar bersama sedu-sedannya. Di bawah jembatan tempat jatuhnya air matanya, sungai yang berkilauan dalam matahari Tahun Baru itu mengalir terus seperti impian Akemi tentang keabadian harapan.
“Mm. Mm.” Kepedihan cerita Akemi sering kali mendapat anggukan dan sambutaan suara rendah, tapi mata Musashi tetap terpusat pada titik di kejauhan. Ayahnya pernah mengatakan, “Kau ini tidak seperti aku. Mataku hitam, sedang matamu cokelat tua. Orang bilang, kakekmu, Hirata Shogen, matanya cokelat mengerikan, jadi barangkali kau meniru dia.” Pada waktu itu, dalam sinar matahari yang mencondong, mata Musashi seperti batu koral murni tak bercacat.
“Tentunya dia,” pikir Sasaki Kojiro, orang yang bersandar pada pohon liu itu. Berkali-kali ia mendengar tentang Musashi, tapi inilah untuk pertama kali ia melihatnya.
Musashi bertanya-tanya, “Siapa gerangan orang itu?”
Semenjak mata mereka beradu, diam-diam mereka menyelidik. Masingmasing menaksir dalamnya semangat pihak lain. Dalam melaksanakan Seni Perang, kata orang, kita harus mengukur kemampuan musuh dari ujung pedangnya. Justru inilah yang dilakukan kedua orang itu. Mereka seperti pegulat yang saling mengukur lawan sebelum akhirnya saling cekam. Dan masing-masing punya alasan untuk memandang lawan dengan penuh kecurigaan.
“Aku tak suka,” pikir Kojiro, mendidih darahnya oleh perasaan tak suka. Ia merawat Akemi sejak menyelamatkannya dari Gunung Amida yang rusak itu. Percakapan intim antara Akemi dan Musashi mengesalkannya. “Barangkali dia jenis orang yang biasa memangsa perempuan-perempuan tak berdosa. Dan Akemi! Akemi tak mengatakan tadi ke mana perginya, tapi sekarang dia ada di sana, menangis di bahu seorang lelaki!” Sedang ia sendiri ada di sini karena mengikutinya.
Nada permusuhan dalam mata Kojiro itu tidak hilang begitu saja. Musashi menyadari terjadinya konflik sesaat yang khas itu, yaitu konflik kemauan yang timbul apabila seorang shugyosha bertemu dengan shugyosha lain. Dan tak ada keraguan pula bahwa Kojiro merasakan semangat menantang yang terlontar dari ekspresi Musashi.
“Siapa dia gerangan?” pikir Musashi lagi. “Kelihatannya dia memang jagoan. Tapi kenapa ada pandangan
dengki pada matanya? Lebih baik aku mengamatinya.” Kehebatan kedua lelaki itu bukan bersumber pada mata mereka, tapi pada inti diri mereka. Kembang api seperti akan meloncat dari biji mata mereka. Dilihat dari penampilannya, Musashi tampak setahun atau dua tahun lebih muda dari Kojiro, tapi mungkin juga sebaliknya. Apa pun kenyataannya, mereka berdua memiliki kesamaan: keduanya dalam umur yang ditandai rasa sok, yaitu bahwa mereka merasa yakin tahu segala yang mesti diketahui mengenai politik, masyarakat, Seni Perang, dan semua persoalan lain. Seperti anjing galak yang menggeram apabila melihat anjing galak lainnya, demikianlah Musashi maupun Kojiro. Secara naluriah masing-masing tahu bahwa pihak lain berbahaya.
Kojiro-lah yang pertama melepaskan pandangannya, dan itu dilakukannya disertai gerutu kecil. Musashi yakin sekali bahwa ia menang, sekalipun ia merasakan ada nada ejekan dalam profil Kojiro. Lawan menyerah kepada pandangan matanya, kepada daya kemampuannya, dan ini membuat Musashi merasa bahagia.
“Akemi,” katanya sambil meletakkan tangan ke bahu Akemi. Akemi masih tersedu-sedu. Wajahnya menempel di susuran jembatan. la tak menjawab. “Siapa lelaki di sana itu? Dia kenal kamu, kan? Maksudku pemuda yang tampak seperti calon prajurit itu.
Siapa dia?”
Akemi diam saja. Sampai waktu itu, ia belum melihat Kojiro. Ketika melihatnya, wajahnya yang bengkak oleh air mata itu menjadi bingung. “Oh… maksudmu orang jangkung di sana itu?” “Ya. Siapa dia?” “Oh, dia… anu… dia… aku tidak begitu kenal dia.” “Tapi kamu kenal dia, kan?” “Ya, ya.” “Bawa pedang sebesar dan sepanjang itu, dan pakaiannya memikat perhatian orang-tentunya dia merasa
sudah pemain pedang besar! Bagaimana kamu bisa kenal?”
“Beberapa hari lalu,” kata Akemi cepat, “aku digigit anjing, dan darah tak mau berhenti, karena itu aku pergi ke dokter, dan di situ kebetulan dia tinggal. Dia merawatku beberapa hari ini.” “Dengan kata lain, kamu tinggal serumah dengan dia?” “Ya, ya, aku memang tinggal di sana, tapi itu tak ada artinya. Tak ada apa-apa antara kami.” Bicaranya lebih
tegas sekarang. “Kalau begitu, kukira kamu tak banyak tahu tentang dia. Apa kamu tahu namanya?” “Namanya Sasaki Kojiro. Dipanggil juga Ganryu.” “Ganryu?” Musashi pernah mendengar nama itu.. Walaupun nama itu tidak terlalu terkenal, tapi dikenal oleh
para prajurit di sejumlah provinsi. Ternyata ia lebih muda dari yang pernah dibayangkan Musashi, dan ia memandang orang itu lagi sekarang. Kemudian terjadilah sesuatu yang ganjil. Sepasang lesung pipit muncul di pipi Kojiro. Musashi membalas senyumnya. Namun komunikasi diam ini tidaklah penuh sinar perdamaian dan
persahabatan, seperti senyum yang dipertukarkan oleh sang Budha dan muridnya Ananda selagi mereka meremas bunga dengan jemari mereka. Dalam senyuman Kojiro terasa cemooh menantang dan unsur ironi. Sementara itu, senyuman Musashi tidak hanya bersifat menerima tantangan Kojiro, melainkan juga
menyampaikan kehendak yang dashyat untuk bertempur.
Akemi terperangkap di antara dua orang yang berkemauan keras itu. Ia hendak mulai mencurahkan perasaannya kembali, tapi sebelum terlaksana, Musashi sudah menyatakan, “Nah, Akemi, kupikir lebih baik kamu kembali ke tempat penginapanmu dengan orang itu. Sebentar lagi aku akan datang menemuimu. Jangan kuatir.”
“Betul-betul kamu akan datang?”
“Ya, tentu.”
“Nama penginapan itu Zuzuya, di depan biara Jalan Rokujo!”
“Baik.”
Sikap sambil lalu dalam jawaban Musashi itu kurang memuaskan Akemi. Ia tarik tangan Musashi dari susuran jembatan dan ia pilin penuh perasaan di belakang lengan kimononya. “Kamu betul-betul akan datang, kan? Janji?”
Jawaban Musashi tenggelam dalam ledakan tawa yang memekakkan telinga. “Ha, ha, ha, ha, ha! Oh! Ha, ha, ha, ha! Oh…” Kojiro membalikkan punggungnya dan pergi baik-baik, membawa kegembiraannya yang tak terkendalikan itu.
Jotaro memandang masam dari ujung sana, pikirnya, “Tak ada yang seaneh itu!” Ia sendiri muak dengan dunia ini, terutama dengan gurunya yang seenaknya, dan juga dengan Otsu.
“Ke mana pula perginya Otsu?” tanyanya lagi sambil melangkah marah ke arah kota. Baru saja beberapa langkah, terlihat wajah Otsu yang putih di antara roda-roda kereta sapi di pangkalan jalan itu. “Itu dia!” teriaknya. Karena tergesa-gesa hendak menangkap Otsu, ia tertumbuk ke hidung sapi.
Lain dari biasanya, hari itu Otsu mengenakan sedikit gincu. Riasannya masih sedikit amatir, tapi baunya enak, sedangkan kimononya merupakan setelan musim semi yang manis, dengan sulaman pola putih dan hijau pada latar belakang merah muda. Jotaro mendekap dari belakang. Ia tak peduli tindakannya mengacaukan rambut Otsu atau mengotorkan pupur putih di lehernya.
“Kenapa Kakak sembunyi di sini? Berjam-jam aku menunggu. Ayo ikut aku, cepat!”
Otsu tak menjawab.
“Ayo, sekarang juga!” mohonnya sambil mengguncang-guncangkan bahu Otsu. “Musashi ada di sini juga. Lihat, Kakak dapat melihat dari sini. Aku marah juga sama dia, tapi biar bagaimana ayolah. Kalau kita tidak buru-buru, dia akan pergi!” Ia pegang pergelangan Otsu dan mencoba menarik Otsu berdiri, tapi ia lihat tangan Otsu basah. “Wah! Kakak menangis?”
“Jo, sembunyilah di belakang kereta ini seperti aku. Ayolah!”
“Kenapa?”
“Tak usah tanya kenapa.”
“Nah, inilah…” Jotaro melontarkan kemarahannya. “Inilah yang kubenci pada perempuan. Mereka suka bikin hal-hal yang aneh! Kakak selalu bilang ingin ketemu Musashi, dan di mana-mana nangis mencari dia. Tapi sekarang, ketika dia ada di depan mata, Kakak putuskan sembunyi. Malahan Kakak suruh aku sembunyi! Apa tidak aneh? Ha-oh, ketawa pun aku tak bisa.”
Kata-kata itu menyengat seperti cambuk. Sambil mengangkat matanya yang merah bengkak, Otsu berkata, “Jangan kamu bicara begitu, Jotaro. Aku mohon. Dan jangan kejam padaku juga!”
“Kenapa menuduh aku kejam? Apa yang kulakukan?”
“Diamlah. Dan rundukkan badan di sini denganku.”
“Aku tak mau. Ada tahi sapi di tanah itu. Kakak tahu sendiri, kata orang, kalau kita nangis pada Tahun Baru,
burung gagak pun akan menertawakan kita.” “Oh, aku tak peduli. Aku cuma…” “Nah, kalau begitu aku akan menertawakan Kakak! Tertawa macam samurai beberapa menit lalu itu. Ini
ketawaku yang pertama pada Tahun Baru. Cocok buat Kakak?” “Ya. Tertawalah! Tertawalah keras-keras!” “Tidak bisa,” kata Jotaro sambil menghapus hidungnya. “Berani bertaruh, aku tahu apa soalnya. Kakak
cemburu, karena Musashi bicara dengan perempuan itu.” “Bukan… bukan itu! Sama sekali bukan!” “Memang! Aku tahu, memang itu. Perbuatan itu bikin aku marah juga. Tapi kan masih banyak alasan lain
untuk datang dan bicara dengannya? Kakak kan belum mengerti apa-apa.”
Otsu tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berdiri, tapi Jotaro menyentakkan pergelangannya demikian keras, hingga akhirnya ia terpaksa berdiri. “Berhenti!” teriak Otsu. “Sakit! Jangan dendam begitu. Kaubilang aku tak mengerti apa-apa, padahal kau
sama sekali tak mengerti perasaanku.” “Aku tahu betul apa yang Kakak rasakan. Kakak cemburu!” “Bukan hanya itu.” “Diamlah. Ayo pergi!” Otsu keluar dari belakang kereta, walau enggan. Anak itu menariknya, dan kaki Otsu mencakar-cakar tanah.
Jotaro terus menarik-narik dan menjulurkan leher, melihat ke arah jembatan. “Lihat!” kata Jotaro. “Akemi tak ada lagi.”
“Akemi? Siapa itu Akemi?” “Gadis yang diajak bicara Musashi tadi…. Nah, nah! Musashi pergi sekarang. Kalau tak dikejar, dia bisa hilang.” Jotaro melepaskan Otsu dan berjalan ke arah jembatan.
“Tunggu!” teriak Otsu sambil melontarkan pandangan ke jembatan, untuk mendapatkan kepastian bahwa Akemi tidak terlihat lagi. Setelah yakin bahwa saingannya benar-benar sudah pergi, ia tampak puas sekali dan dahinya tidak mengerut lagi. Tapi ia kembali ke belakang kereta untuk mengeringkan matanya yang bengkak dengan lengan kimono, merapikan runbut, dan meluruskan kimono.
“Cepat, Otsu!” seru Jotaro tak sabar. “Musashi turun ke sungai. Ini bukan waktunya berdandan!” “Ke mana?” “Turun ke sungai. Saya tak tahu kenapa, tapi dia ke sana.” Keduanya berlari bersama ke ujung jembatan.
Sambil meminta-minta maaf, Jotaro merintis jalan di tengah orang banyak, menuju susuran jembatan. Musashi masih berdiri dekat perahu tempat Osugi menggeliat-geliat mencoba membebaskan diri dari ikatan. “Maaf, Nek,” katanya, “tapi rupanya Matahachi takkan datang sama sekali. Saya berharap dapat ketemu
dengannya tak lama lagi dan mencoba mengobarkan keberanianya. Sementara itu, Nenek sendiri mesti mencoba menemukannya dan membawanya pulang sebagai anak yang baik. Itu cara yang jauh lebih baik untuk menyatakan rasa terima kasih Nenek kepada leluhur, daripada mencoba memotong kepala saya.”
Ia selipkan tangannya ke bawah tikar, dan dengan pisau kecil diputuskannya talinya.
“Kau bicara terlalu banyak, Musashi! Aku tak butuh nasihatmu! Susun pikiranmu yang bodoh itu, apa yang mau kaulakukan. Kau mau bunuh aku atau dibunuh?” Nadi-nadi biru cemerlang muncul di seluruh wajah Osugi ketika ia meronta melepaskan diri dari bawah tikar,
tapi ketika ia berdiri, Musashi sudah menyeberang sungai, melompat-lompat seperti kodok menyeberangi karang dan beting. Dalam waktu singkat ia sudah mencapai seberang dan mendaki puncak tanggul.
Jotaro melihatnya dan berteriak, “Lihat, Otsu! Itu dia!” Anak itu langsung turun tanggul dan Otsu mengikuti.
Bagi Jotaro yang cekatan, sungai dan pegunungan tak berarti apa-apa, tetapi Otsu yang mengenakan kimono bagus itu tiba-tiba berhenti di tepi sungai. Musashi tak kelihatan sekarang, tapi Otsu berdiri di situ, menjeritkan namanya berulang-ulang dengan sekuat paru-parunya.
“Otsu!” terdengar jawaban dari tempat yang tak diduga-duga. Osugi tak sampai seratus kaki dari situ.
Ketika Otsu melihat siapa orang itu, ia berteriak, sesaat menutup wajahnya dan lari.
Perempuan tua itu tak membuang-buang waktu, dan mengejar. Rambutnya yang putih melambai-lambai oleh angin. “Otsu!” jeritnya dengan suara yang dapat membelah air Sungai Kamo. “Tunggu! Aku ingin bicara denganmu!”
Perempuan tua yang curiga sifatnya itu mulai mereka-reka sendiri dalam pikirannya tentang hadirnya Otsu. Ia yakin Musashi mengikatnya karena Musashi hendak bertemu dengan gadis itu dan tak ingin kelihatan olehnya. Kemudian, demikian pikirnya, kata-kata Otsu menyinggung perasaannya dan Musashi meninggalkannya. Tidak sangsi lagi, itulah sebabnya Otsu memanggil Musashi kembali.
“Gadis itu tak dapat diperbaiki lagi!” katanya. Kebenciannya pada Otsu jadi lebih besar lagi daripada kebenciannya pada Musashi. Di dalam pikirannya, Otsu sudah sah menjadi menantunya, tak peduli apakah perkawinan sudah berlangsung atau belum. Janji sudah diberikan, dan kalau calon istri ini membenci anaknya, mestinya la membenci juga mertuanya sendiri.
“Tunggu!” jeritnya lagi, hingga mulutnya terbuka lebar dari telinga kiri ke telinga kanan.
Kerasnya jeritan itu mengagetkan Jotaro yang waktu itu berada di sampingnya, maka dicengkeramnya perempuan itu, dan pekiknya, “Kamu mau apa, tukang sihir tua?”
“Menyingkir kamu!” teriak Osugi menepiskan Jotaro.
Jotaro tidak tahu siapa perempuan itu dan kenapa Otsu lari melihatnya, tapi ia merasa bahaya mengancam darinya. Sebagai anak Aoki Tanzaemon dan murid satu-satunya Miyamoto Musashi, ia tak mau disingkirkan dengan siku kurus seorang perempuan tua jelek.
“Oh, kau tak boleh memperlakukan aku begitu!” Dikejarnya perempuan tua itu dan hinggaplah ia di punggungnya.
Osugi cepat mengibaskannya, dan sambil memitingnya dijatuhkannya tamparan keras beberapa kali. “Setan kecil kamu! Ini pelajaran buat orang yang suka mengganggu!”
Sementara Jotaro berjuang melepaskan diri, Otsu berlari terus dengan pikiran kacau. Ia masih muda, dan seperti kebanyakan oang muda, ia masih penuh harapan dan tidak terbiasa menangisi nasibnya yang sial. Ia melahap setiap hari baru, seakan-akan cahaya itu bunga-bunga di kebun Yang disinari matahari. Kesedihan dan kekecewaan memang menjadi kenyataan hidup, rapt semuanya itu tidak membebaninya terlalu lama. Begitu pula ia tak dapat membayangkan kesenangan yang sepenuhnya terpisah dari rasa pedih.
Tapi hari ini ia dipaksa melepaskan optimismenya, bukan satu kali, melainkan dua kali. Kenapa ia sampai datang kemari pagi ini? Demikianlah ia bertanya pada diri sendiri.
Tak ada air mata atau kemarahan yang dapat menghilangkan guncangan itu. Sepintas-lintas terpikir olehnya untuk bunuh diri, kemudian dikutuknya semua lelaki sebagai pembohong kejam. Berganti-ganti ia berang dan sengsara, benci kepada dunia, benci kepada diri sendiri, terlalu tak berdaya untuk mencari kelegaan dalam air mata ataupun berpikir dengan jelas tentang segala sesuatu. Darahnya mendidih karena cemburu, dan kegoyahan yang ditimbulkannya membuat ia mencaci diri sendiri atas begitu banyak kekurangan yang ia miliki, termasuk tak adanya sikap tenang pada waktu ini. Berulang-ulang ia menyuruh dirinya tetap tenang dan sedikit demi sedikit ia menekan berbagai dorongan dari bawah tabir harga dirt yang sewajarnya dimiliki kaum perempuan.
Selama gadis asing itu berada di samping Musashi, Otsu tidak dapat bergerak. Tapi ketika Akemi pergi, kesabarannya habis. Otsu merasa harus bertemu Musashi dan mencurahkan segala yang dirasakannya. Sekalipun tidak tahu di mana harus memulai, ia sudah memutuskan untuk membukakan hatinya dan menceritakan segalanya kepada Musashi.
Tetapi hidup ini penuh dengan kecelakaan kecil. Satu langkah keliru saja—salah hitung kecil yang dibuat di tengah gejolak peristiwa—dapat mengubah bentuk persoalan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun mendatang. Justru karena membiarkan Musashi lepas dari pandangan sedetik itu maka Otsu dapat ditemukan Osugi. Pada pagi Tahun Baru yang mulia ini, kebun kegembiraan Otsu dilanda kawanan ular.
Ini sama dengan mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Dalam banyak mimpinya yang kacau ia sudah bertemu dengan wajah Osugi yang menatap jahat, dan inilah kini kenyataan telanjang itu.
Sesudah berlari beberapa ratus meter, Otsu kehabisan napas sama sekali. Ia berhenti dan menoleh ke belakang. Untuk sesaat napasnya berhenti sama sekali. Osugi yang berada sekitar seratus meter dari situ sedang memukuli dan mengayun-ayunkan Jotaro ke kiri dan ke kanan.
Jotaro melawan, menendang tanah, menendang udara, sekali-sekali memukul kepala penangkapnya.
Otsu melihat bahwa sebentar lagi Jotaro berhasil menarik pedang kayunya. Dan bila demikian, pasti perempuan itu akan menghunus pedang pendeknya dan takkan menyesal menggunakannya. Pada saat itu, Osugi bukan orang yang akan menunjukkan belas kasihan. Jotaro bahkan bisa terbunuh.
Otsu dalam keadaan sulit luar biasa. Jotaro mesti diselamatkan, tapi ia tak berani mendekati Osugi.
Jotaro memang berhasil meloloskan pedang kayu dari obi-nya, tapi tidak berhasil meloloskan kepalanya dari cengkeraman Osugi yang seperti catok itu. Segala tendangan dan ayunan tangannya hanya merugikan dirinya, karena semua menambah keyakinan diri perempuan tua itu.
“Anak bandel!” teriaknya menghina. “Apa yang mau kaulakukan? Niru kodok?” Giginya yang merongos membuat bibirnya tampak seperti bibir kelinci, tetapi air mukanya memperlihatkan kemenangan tersembunyi. Selangkah demi selangkah ia mengingsut mendekati Otsu.
Melihat gadis yang ketakutan itu, sifat liciknya tampil. Dalam sekejap terpikir olehnya bahwa ia menempuh jalan yang salah. Sekiranya lawannya itu Musashi, kecohan takkan mempan. Musuh di depannya sekarang Otsu—yang halus, yang polos—yang barangkali dapat dibuat percaya akan segalanya, asalkan disampaikan dengan lemah lembut dan dengan nada tulus. Pertama ia mesti diikat dengan kata-kata, demikian pikir Osugi, dan kemudian dipanggang untuk makan malam.
“Otsu!” panggilnya dengan nada betul-betul pedih. “Kenapa kau lari? Apa yang membuatmu lari begitu melihatku? Kau lari juga waktu di dimaafkan, tapi masih ada Matahachi yang mesti dipertimbangkan. Apa kau tak mau bertemu lagi dengannya dan bicara dengannya? Sejak dia lari dengan perempuan lain atas kemauan sendiri, menurutku dia takkan minta kamu kembali padanya. Sebetulnya aku tak suka dia melakukan sesuatu yang hanya mementingkan diri sendiri, tapi…”
“Apa?”
“Apa setidaknya kamu tak mau bertemu dengannya? Nanti, kalau kalian sudah berdua, akan kuceritakan padanya bagaimana duduk perkaranya. Dengan begitu, aku dapat menunaikan tugasku sebagai ibu. Aku akan merasa sudah melaksanakan segalanya semampuku.”
“Saya mengerti,” jawab Otsu. Dari pasir di sampingnya, seekor kepiting kecil merangkak ke luar, lalu bergegas lari ke belakang batu. Jotaro menangkapnya, kemudian pergi ke belakang Osugi dan menjatuhkannya ke atas kepalanya.
Kata Otsu, “Tapi biar bagaimana, saya merasa sesudah terjadi semua peristiwa itu, lebih baik saya tidak bertemu Matahachi.”
“Aku bersamamu. Apa tidak lebih baik untukmu kalau kamu bertemu dengannya dan mengutarakan segalanya?”
“Ya, tapi…”
“Nah, kalau begitu lakukanlah itu. Kukatakan ini demi masa depanmu sendiri.”
“Kalau saya setuju… bagaimana kita bisa bertemu dengan Matahachi. Apa Nenek tahu di mana dia?” “Aku dapat cepat menemukan dia. Cepat sekali… kau tahu, baru-baru ini aku bertemu dengannya di Osaka.
Lagi ngumbar napsu, dan ditinggalkannya aku di Sumiyoshi. Tapi biasanya kalau dia berbuat seperti itu, dia akan menyesal. Tak lama lagi dia pasti muncul di Kyoto mencariku.” Otsu merasa kurang enak, karena menurutnya Osugi berbohong. Tapi hanyut juga ia oleh rasa sayang
orang tua itu kepada anaknya yang brengsek. Namun yang menyebabkan ia menyerah sepenuhnya adalah keyakinan bahwa yang diusulkan Osuugi itu benar dan wajar. “Bagaimana kalau saya pergi membantu Nenek mencari Matahachi.” demikian tanyanya. “Oh, kau mau?” teriak Osugi, menggenggam tangan gadis itu.
“Ya, saya pikir saya mesti pergi.” “Baiklah, ikutlah denganku sekarang ke penginapan. Uh! Apa ini?” Sambil berdiri ia meraba belakang kerahnya dan menangkap kepiting itu.
Ia gemetar, serunya, “Oh, bagaimana dia bisa sampai di sini?” Ia mengulurkan tangannya, kemudian
mengibaskan kepiting itu dari jari-jarinya. Jotaro yang berada di belakangnya menahan gelaknya, tapi Osugi tak dapat dikibuli. Dengan mata menyala ia menoleh dan menatap Jotaro. “Perbuatanmu itu, aku yakin!”
“Bukan aku. Aku tidak melakukannya.” Jotaro lari mendekati tanggul menyelamatkan diri, dan serunya,
“Otsu, Kakak akan pergi dengan dia ke penginapan, ya?” Sebelum Otsu dapat menjawab sendiri, Osugi sudah mengatakan, “Ya, dia ikut aku. Aku tinggal di penginapan dekat kaki Bukit Sannen. Selamanya aku tinggal di sana jika datang di Kyoto. Kami tak butuh kamu. Kembalilah kau ke tempatmu sendiri.”
“Baik, aku tinggal di rumah Karasumaru. Kakak datang ke sana juga, kalau sudah selesai urusannya.” Waktu itu Otsu merasakan denyutan kekuatiran. “Jo, tunggu!” Ia berlari cepat naik tanggul, karena enggan
melepaskan Jotaro pergi. Karena takut gadis itu akan mengubah pikiran dan melarikan diri, Osugi cepat mengikutinya, tapi beberapa saat lamanya Otsu dan Jotaro sempat sendirian. “Kupikir aku mesti pergi dengan dia,” kata Otsu. “Tapi aku akan datang ke tempat Yang Dipertuan
Karasumaru, begitu ada kesempatan. Jelaskan semuanya pada mereka dan mohonlah tinggal di sana sampai aku selesai dengan urusanku.” “Jangan kuatir. Aku akan menunggu Kakak.”
“Cari Musashi selama kau menunggu, ya?” “Nah, ke situ lagi Kakak ini maunya! Waktu Kakak menemukan dia, Kakak sembunyi. Dan sekarang Kakak menyesal. Jangan Kakak bilang aku tidak memperingatkan.”
Osugi datang dan berdiri di antara keduanya. Ketiganya berjalan kembali ke jembatan. Pandangan Osugi yang seperti jarum itu berulang-ulang menghujam ke arah Otsu. Ia tak berani mempercayai gadis itu. Walau tak sedikit pun menduga bencana yang menghadangnya, namun Otsu merasa sudah terperangkap.
Sampai di jembatan, matahari sudah tinggi di atas pohon liu dan pinus, jalan-jalan sudah penuh orang-orang yang berbondong-bondong merayakan Tahun Baru, Satu gerombolan besar di antaranya berkerumun di depan papan yang terpasang di Jembatan.
“Aku tak pernah dengar tentang dia.” “Tentunya jagoan boleh juga, kalau berani menghadapi orang-orang Yoshioka. Menarik juga untuk ditonton.” Otsu berhenti dan memandang, Osugi dan Jotaro juga berhenti dan memandang sambil mendengarkan
bisik-bisik orang yang memantul-mantul pelan di sana-sini. Seperti riak-riak air yang digerakkan ikan-ikan mino di bering, nama Musashi menyebar ke tengah orang banyak itu.
Ladang yang Layu
PARA pemain pedang Perguruan Yoshioka berkumpul di ladang tandus yang menghadap pintu masuk Nagasaka ke jalan raya Tamba. Di balik pohonpohon yang membatasi ladang itu, kilau salju pegunungan barat laut Kyoto menyergap mata seperti kilat.
Seorang dari mereka menyarankan membuat api, karena mata pedang mereka yang seolah tersarung menjadi semacam penyalur dingin langsung ke tubuh mereka. Waktu itu awal musim semi, hari kesembilan Tahun Baru. Angin dingin bertiup turun dari Gunung Kinugasa. Bahkan suara burung-burung pun terdengar sedih.
“Bagus nyalanya, kan?”
“Tapi lebih baik hati-hati. Jangan sampai membakar semak.”
Api yang berdetak-detak suaranya itu menghangatkan tangan dan wajah mereka, tapi tak lama kemudian Ueda Ryohei menggerutu sambil mengipas-ngipas asap dari matanya. “Terlalu panas!” Sambil menatap orang yang hendak memasukkan lebih banyak daun ke api, katanya, “Cukup sudah! Berhenti!” Satu jam berlalu tanpa banyak kejadian. “Tentunya sudah jam enam lebih.”
Tanpa pikir panjang lagi mereka semua mengangkat mata ke arah matahari.
“Hampir jam tujuh.”
“Tuan Muda harus sudah di sini sekarang.”
“Ah, dia datang sebentar lagi.”
Dengan wajah tegang mereka memandang kuatir ke jalan dari kota. Tak sedikit di antara mereka menelan ludah gelisah. “Apa yang terjadi dengannya?”
Seekor sapi menguak memecahkan ketenangan. Ladang itu memang pernah digunakan sebagai tempat penggembalaan sapi-sapi Kaisar. Di sekitarnya masih ada sapi-sapi tak terpelihara. Matahari naik lebih tinggi, membawa serta kehangatan serta bau tahi binatang dan rumput kering.
“Apa menurutmu Musashi sudah ada di lapangan dekat Rendaiji?”
“Mungkin.”
“Mesti ada yang melihat ke sana. Cuma sekitar enam ratus meter dari sini.”
Tapi tak seorang pun mau melakukannya. Mereka terdiam kembali. Wajah mereka menyala dalam bayangan yang ditimbulkan asap.
“Tak ada salah pengertian tentang pengaturannya, kan?”
“Tidak. Ueda menerimanya langsung dari Tuan Muda tadi malam. Tak mungkin ada kesalahan.”
Ryohei membenarkan. “Betul. Aku tak heran kalau Musashi sudah ada di sana. Barangkali Tuan Muda sengaja terlambat untuk bikin Musashi gelisah. Mari kita tunggu dulu. Kalau kita membuat gerakan keliru dan menimbulkan kesan pada orang banyak bahwa kita memberikan bantuan kepada Tuan Muda, itu akan bikin malu perguruan. Kita tidak dapat melakukan sesuatu sebelum dia datang. Apa sih Musashi itu? Cuma seorang ronin. Tak mungkin dia hebat.”
Para murid yang telah menyaksikan aksi Musashi di dojo Yoshioka tahun sebelumnya lain sikapnya. Tapi bagi mereka pun mustahil Seijuro akan kalah. Kesepakatan yang mereka capai adalah bahwa sekalipun guru mereka pasti menang, kecelakaan bisa saja terjadi. Dan lagi, karena pertarungan itu diumumkan luas, akan banyak penonton yang kehadirannya menurut mereka tidak hanya akan menambah wibawa
perguruan, melainkan juga meninggikan nama baik guru mereka.
Sekalipun ada perintah khusus dari Seijuro agar dalam keadaan apa pun mereka tidak membantunya, empat puluh orang berkumpul di sini untuk menantikan kedatangannya, untuk memberikan ucapan selamat jalan, dan berjaga-jaga, barangkali saja diperlukan. Disamping Ueda ada lima dari Sepuluh Pemain Pedang Perguruan Yoshioka yang hadir.
Sekarang sudah lewat pukul tujuh. Ketenangan yang dianjurkan Ryohei pada mereka berkembang menjadi kebosanan, dan mereka menggerutu tak senang.
Para penonton yang hendak melihat pertarungan, bertanya-tanya apakah telah terjadi kekeliruan.
“Di mana Musashi?”
“Di mana yang satunya itu – Seijuro?”
“Siapa saja samurai di sana itu?”
“Barangkali mereka datang buat mendukung salah satu pihak.”
“Aneh juga pertarungan ini! Pendukungnya ada, tapi yang bertarung tak ada!”
Sekalipun penonton terus bertambah banyak dan dengung suara manusia terdengar semakin keras, para penonton cukup berhati-hati dan tidak mendekati para pengikut Yoshioka, sedangkan para murid sama sekali tidak memperhatikan kepala-kepala yang mengintip lewat pohon miskantus yang layu atau menonton dari cabang-cabang pohon.
Jotaro berjalan ke sana kemari di tengah orang banyak, meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Dengan pedang kayunya yang amat besar dan sandal yang juga terlalu besar, ia beralih dari perempuan yang satu ke perempuan lain, memeriksa wajahnya. “Tidak ada di sini, tak ada di sini,” bisiknya. “Apa yang terjadi dengan Otsu? Dia tahu pertandingan hari ini.” Dia mesti hadir di sini, demikian pikirnya. Musashi bisa dalam bahaya. Apa yang membuat dia tidak datang?
Pencarian yang dilakukannya tidak membawa hasil, sekalipun ia sudah berjalan susah payah, sampai capek setengah mati. “Aneh sekali,” pikirnya. “Aku tak melihat dia sejak Hari Tahun Baru. Apa dia sakit? Perempuan tua jelek itu bicaranya manis, tapi mungkin juga tipuan. Barangkali dia melakukan tindakan mengerikan terhadap Otsu.”
Soal itu menggelisahkannya bukan main, jauh lebih menggelisahkan daripada hasil pertarungan hari itu.
Sebelum itu tak ada padanya perasaan was-was. Dari beratus-ratus orang yang ada di tempat itu, hampir tak seorang pun tidak mengharapkan kemenangan Seijuro. Hanya Jotaro memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Musashi. Di matanya terbayang gurunya ketika menghadapi lembing para pendeta Hozoin di Dataran Hannya.
Akhirnya ia berhenti di tengah lapangan. “Dan ada satu lagi yang aneh,” renungnya. “Kenapa semua orang ini ada di sini? Menurut papan pengumuman itu, pertarungan dilakukan di lapangan dekat Rendaiji.” Rupanya hanya ia seorang yang merasa heran.
Dari tengah orang banyak yang berbondong-bondong terdengar suara mem-berengut, “Hei, Nak! Coba sini!”
Jotaro mengenal orang itu. Dialah yang memperhatikan Musashi dan Akemi ketika mereka saling bisik di jembatan pada pagi Tahun Baru itu.
“Ada apa, Pak?” tanya Jotaro.
Sasaki Kojiro mendekati Jotaro, tapi sebelum bicara ia memandang Jotaro dulu pelan-pelan dari kepala sampai jari kaki. “Apa bukan kamu yang kulihat di jalan Gojo baru-baru ini?”
“Oh, jadi Bapak ingat, ya?”
“Waktu itu kau bersama seorang perempuan muda.”
“Ya, perempuan itu Otsu.” “Oh, namanya Otsu. Coba katakan, apa dia itu ada hubungan dengan Musashi?” “Saya rasa ada.” “Apa dia saudara sepupu Musashi?” “Enggak.” “Saudaranya?” “Enggak.” “Jadi?” “Dia suka Musashi.” “Mereka saling cinta?” “Itu saya tak tahu. Saya cuma muridnya.” Jotaro mengangguk bangga. “Jadi, itu sebabnya kamu ada di sini? Coba dengar, orang banyak itu mulai gelisah. Kau tentu tahu di mana
Musashi. Apa dia sudah meninggalkan penginapannya?” “Kenapa tanya saya? Sudah lama saya tidak melihatnya.” Beberapa lelaki menerobos orang banyak dan mendekati Kojiro. Kojiro melontarkan pandangan mata elang
pada mereka. “Ah, jadi engkau di sini, Sasaki!” “Oh, Ryohei.” “Di mana engkau selama ini?” tanya Ryohei sambil mencengkeram tangan Kojiro, seakan-akan
menawannya. “Engkau tidak datang ke dojo lebih dari sepuluh hari. Tuan Muda ingin latihan sedikit denganmu.” “Lalu apa salahnya kalau aku tidak datang? Hari ini aku di sini.”
Ryohei dan rekan-rekannya mengelilingi Kojiro, kemudian membawanya ke api mereka. Terdengar bisikan di tengah orang-orang yang melihat pedang panjang Kojiro dan pakaiannya yang gemilang, “Orang itu pasti Musashi!”
“Apa itu dia?”
“Tentunya.”
“Mencolok juga pakaiannya. Tapi kelihatannya bukan orang lemah.”
“Itu bukan Musashi!” teriak Jotaro mencela. “Musashi sama sekali bukan macam itu! Tak bakal kalian lihat
dia pakai pakaian macam pemain Kabuki!”
Tak lama kemudian, bahkan orang-orang yang tidak mendengar protes anak itu pun menyadari kesalahan mereka dan kembali bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang terjadi. Kojiro berdiri dengan para murid Yoshioka dan memandang mereka dengan sikap merendahkan. Mereka
mendengarkannya tanpa mengucapkan sesuatu, tapi wajah mereka cemberut. “Sungguh beruntung Perguruan Yoshioka, bahwa Seijuro dan Musashl tidak datang pada waktunya,” kata
Kojiro. “Lebih baik kalian memecah diri dalam beberapa kelompok, mencegat Seijuro, dan cepat-cepat membawanya pulang sebelum dia terluka.” Usul yang bersifat pengecut ini membikin mereka meradang, tapi Kojiro berkata lagi, “Apa yang
kunasihatkan ini lebih baik bagi Seijuro daripada bantuan apa pun yang mungkin dia peroleh dari kalian.” Kemudian dengan agak angkuh ia berkata, “Aku dikirim dari surga kemari sebagai utusan, demi kepantingan Keluarga Yoshioka. Sekarang aku akan menyampaikan ramalanku: kalau mereka jadi bertarung, Seijuro akan kalah. Maaf aku mesti mengatakan ini, tapi Musashi pasti akan mengalahkan-nya, barangkali membunuhnya.”
Miike Jurozaemon membusungkan dada ke dada pemuda itu, dan pekiknya, “Penghinaan!” Dengan siku kanan terletak di antara wajah sendiri dan Kojiro, ia siap menarik pedang dan memukul.
Kojiro menunduk dan menyeringai, “Jadi, kalian tak suka dengan apa yang kukatakan.”
“Ugh!”
“Kalau begitu, maafkan,” kata Kojiro gembira. “Aku takkan berusaha memberikan dukungan lebih lanjut.”
“Pertama-tama, tak ada yang minta bantuanmu.”
“Itu tidak benar. Kalau kalian tidak memerlukan dukunganku, kenapa kalian mendesak aku datang dari Kema ke rumah kalian? Kenapa kalian berusaha keras membuatku senang? Kalian, Seijuro, ya, kalian semua!”
“Kami hanya bersikap sopan pada tamu. Jadi, kau rupanya hanya memikirkan diri sendiri, ya?”
“Ha, ha, ha, ha! Mari kita hentikan semua ini, supaya akhirnya aku tidak terpaksa melawan kalian semua. Tapi kuperingatkan, kalau kalian tidak menuruti nasihatku, kalian akan menyesal! Aku sudah membandingkan kedua orang itu dengan mataku sendiri, dan menurutku kemungkinan Seijuro kalah sangat besar, Musashi ada di jembatan Jalan Gojo pada pagi Tahun Baru. Begitu melihatnya, aku tahu bahaya. Bagiku papan yang kalian pasang itu tampak lebih sebagai pengumuman berkabung bagi keluarga Yoshioka. Ini sungguh menyedihkan, tapi rupanya begitulah dunia ini: tak pernah orang menyadari bahwa sesungguhnya zamannya sudah lewat.”
“Cukup! Kenapa kau datang kemari kalau tujuanmu cuma bicara macam itu?”
Nada Kojiro jadi menyindir. “Juga, rupanya khas bagi orang yang sedang runtuh bahwa mereka tak mau menerima uluran tangan dalam semangat seperti yang ditawarkan. Silakan saja! Berpikirlah kalian semua! Kalian bahkan takkan perlu sampai menanti habisnya hari ini. Dalam sejam kalian akan tahu, bagaimana kelirunya kalian.”
“Juh!” Jurozaemon meludahi Kojiro. Empat puluh orang bergerak selangkah ke depan; kemarahan mereka menyebar gelap ke seluruh lapangan.
Kojiro menanggapinya dengan penuh keyakinan diri. Ia cepat melompat ke sisi, dan dengan jurusnya ia memperlihatkan bahwa jika mereka mencari perkelahian, ia siap. Kemauan baik yang dinyatakannya kini kelihatan menjadi pura-pura. Orang luar pun bisa bertanya-tanya, barangkali ia sengaja menggunakan psikologi massa untuk menciptakan kesempatan mencuri pertunjukan dari Musashi dan Seijuro.
Keributan melanda orang-orang yang cukup dekat dengan kejadian itu. Ini bukan pertarungan yang ingin mereka saksikan, tapi tampaknya bakal menarik.
Tiba-tiba seorang gadis muda menyerobot ke tengah suasana pembunuhan itu. Di belakangnya mengejar pula seekor monyet kecil, seperti bola sedang bergulir. Gadis itu menderas ke antara Kojiro dan jago-jago pedang Yoshioka, dan jeritnya, “Kojiro, di mana Musashi? Tak ada di sini?”
Kojiro menoleh marah kepadanya. “Apa pula ini?” tanyanya.
“Akemi!” kata salah seorang samurai. “Apa kerjanya di sini?”
“Kenapa kamu datang kemari?” bentak Kojiro. “Aku sudah bilang jangan, kan?”
“Aku bukan milik pribadimu! Kenapa pula aku tak bisa datang kemari?”
“Diam! Dan pergi dari sini! Pulang sana ke Zuzuya,” teriak Kojiro mendorong Akemi pelan.
Akemi yang terengah-engah hebat itu menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan perintah aku ke sana ke sini! Aku tinggal denganmu, tapi aku bukan milikmu, aku…” Sampai di situ tercekiklah ia dan mulai tersedusedu, “Berani sekali kau menyuruh-nyuruh aku, sesudah melakukan semuanya itu padaku? Sesudah mengikatku dan meninggalkan aku di tingkat dua penginapan itu? Sesudah menggertak dan menyiksaku, ketika kubilang aku kuatir akan Musashi?”
Kojiro membuka mulut dan slap berbicara, tapi Akemi tidak memberinya kesempatan. “Salah seorang tetangga mendengar aku menjerit dan datang melepaskan ikatanku. Dan aku ada di sini buat melihat Musashi!”
“Apa kau gila? Apa kau tidak lihat orang banyak di sekitarmu? Diam!”
“Aku tak mau diam! Aku tak peduli siapa yang dengar. Kau bilang Musashi akan terbunuh hari ini—kalau Seijuro tak dapat mengatasi, kau akan bertindak membantunya dan membunuh Musashi sendiri. Barangkali aku gila, tapi Musashi satu-satunya lelaki di hatiku! Aku mesti ketemu dia. Di mana dia?”
Kojiro mendecapkan lidah, tapi tak dapat mengatakan apa-apa menghadapi serangan tajam Akemi itu.
Bagi orang-orang Yoshioka, Akemi kelihatan terlalu bingung untuk dapat dipercayai kata-katanya. Tapi barangkali ada benarnya juga yang dikatakannya itu. Dan kalau memang benar, berarti Kojiro telah menggunakan kebaikan sebagai umpan, kemudian menyiksa Akemi untuk kesenangannya sendiri.
Karena malu, Kojiro menatap Akemi dengan kebencian yang tak disembunyi-sembunyikan.
Tapi tiba-tiba perhatian mereka beralih kepada salah seorang pembantu Seijuro, seorang pemuda bernama Tamihachi. Pembantu itu datang berlari seperti orang liar, sambil melambai-lambaikan tangan dan berteriak¬teriak. “Tolong!” Tuan Muda! Dia sudah ketemu Musashi! Dia luka! Ngeri! Oh, ngeri-i-i!”
“Apa yang kamu ocehkan itu?”
“Tuan Muda? Musashi?”
“Di mana? Kapan?”
“Tamihachi, apa benar katamu itu?”
Pertanyaan-pertanyaan nyaring dimuntahkan oleh wajah-wajah yang tiba-tiba kehabisan darah.
Tamihachi terus menjerit-jerit tak jelas. Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka ataupun beristirahat untuk mengatur napas, ia lari terhuyung-huyung kembali ke jalan raya Tamba. Setengah percaya setengah ragu, tak tahu benar apa yang hendak dipikirkan, Ueda, jurozaemon dan yang lain-lain ikut berlari mengikutinya seperti binatang liar melintasi dataran terbakar.
Sesudah berlari ke utara sekitar lima ratus meter jauhnya, sampailah mereka di lapangan tandus yang menghampar di balik pepohonan ke sebelah kanan. Lapangan itu terjemur sinar matahari musim semi. Permukaannya tenang tenteram. Burung murai dan jagal yang terus berkicau, seakan tak ada yang baru terjadi, segera berterbangan ke udara ketika Tamihachi kalang kabut menerjang rerumputan. Ia mendaki bukit kecil yang tampak seperti kuburan kuno, dan jatuh berlutut. Sambil mencengkeram tanah ia mengerang dan menjerit, “Tuan Muda!”
Yang lain-lain sampai juga ke tempat itu, kemudian berdiri terpukau di tanah, ternganga melihat pemandangan di hadapan mereka. Seijuro tergeletak dengan wajah terbenam di rumput. Ia berkimono pola kembang biru. Tali kulit mengikat lengan kimono. Kepalanya terikat kain putih.
“Tuan Muda!”
“Kami di sini! Apa yang terjadi?”
Tak ada titik darah pada ikat kepala putih itu, tidak juga pada lengan kimononya atau pada rumput di sekitarnya, tapi mata dan dahi Seijuro rampak beku dalam rasa nyeri tak terkira. Bibirnya sewarna dengan buah anggur liar.
“Apa … masih ada napasnya?”
“Sedikit.”
“Cepat angkat!” Satu orang berlutut dan memegang lengan kanan Seijuro, siap mengangkat. Seijuro menjerit kesakitan. “Cari alat pengangkat! Apa saja!” Tiga-empat orang berteriak-teriak bingung dan berlari ke jalan, menuju sebuah rumah pertanian, dan
kembali membawa daun jendela. Hati-hati mereka gulingkan Seijuro ke atasnya. Tapi sekalipun kelihatannya cuma sadar sedikit, masih juga Seijuro merintih kesakitan. Agar tenang letaknya, beberapa orang melepaskan obi-nya dan mengikatnya ke daun jendela.
Mereka mengangkatnya, seorang di masing-masing sudut, dan mereka berjalan diam seperti pada upacara
penguburan. Seijuro menendang-nendang hebat, hingga hampir-hampir memecahkan daun jendela. “Musashi… apa dia sudah pergi? Oh sakit! … Lengan kanan-bahu. Tulangnya… O-w-w-w! Tak tahan. Potong saja!… Kalian tidak dengar? Potong lengan itu!”
Hebatnya rasa sakit yang dideritanya menyebabkan orang-orang yang memikul tandu darurat itu memalingkan mata. Seijuro orang yang mereka hormati sebagai guru. Sungguh tak pantas melihatnya dalam keadaan seperti itu.
Mereka berhenti dan memanggil Ueda dan Jurozaemon. “Dia kesakitan dan minta kami memotong
lengannya. Apa takkan lebih ringan untuknya kalau kita memenuhi permintaannya?” “Jangan bicara macam orang tolol,” raung Ryohei. “Tentu saja sakit, tapi dia takkan mati karenanya. Kalau kita memotong lengannya dan tak bisa menghentikan aliran darahnya, dia akan mati. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membawa dia pulang dan melihat seberapa besar lukanya. Kalau lengan itu memang harus dipotong, kita dapat melakukannya sesudah diambil langkah-langkah lain agar dia tidak mengalami pendarahan yang dapat mengakibatkan kematian. Sebagian dari kalian mesti jalan dulu memanggil dokter ke perguruan.”
Di mana-mana masih banyak orang yang diam berdiri di belakang pohon pinus di sepanjang jalan. Dengan jengkel Ryohei memberengut suram dan menoleh kepada orang-orang di belakang. “Usir orang-orang itu,” perintahnya. “Tuan Muda bukan tontonan.”
Kebanyakan dari samurai itu merasa beruntung mendapat kesempatan melampiaskan kemarahan mereka. Lantas saja mereka berlari dan membuat gerakan-gerakan ganas terhadap para penonton. Para penonton buyar seperti belalang.
“Tamihachi, sini!” Ryohei marah, seakan menyalahkan pembantu muda itu atas segala yang telah terjadi.
Pemuda yang dari tadi berjalan sambil menangis di samping tandu itu mengkerut ketakutan. “Y y-ya?” gagapnya. “Apa kamu bersama Tuan Muda ketika dia meninggalkan rumah?” ” Y- y-ya” “Di mana dia melakukan persiapan?” “Di sini, sesudah sampai lapangan.” “Dia mestinya tahu di mana kami menunggu. Kenapa dia tidak ke sana dulu?” “Saya tidak tahu.” “Apa Musashi sudah ada di sana?” “Dia berdiri di bukit kecil di mana… di mana…”
“Apa dia sendirian?”
“Ya.”
“Bagaimana kejadiannya? Apa kamu cuma berdiri melihat?”
“Tuan Muda memandang langsung pada saya dan berkata… dia bilang, kalau misalnya dia kalah, saya mesti memungut tubuhnya dan membawanya ke lapangan yang lain itu. Dia bilang, Anda dan yang lain-lain sudah ada di sana sejak fajar. Tapi dalam keadaan apa pun tak boleh saya menyampaikan pada siapa pun sampai pertarungan selesai. Dia bilang, ada waktunya seorang murid Seni Perang tak punya pilihan lain kecuali menanggung risiko kalah, dan dia tak ingin menang dengan cara-cara yang tidak terhormat, yang pengecut. Sesudah itu dia maju menjumpai Musashi.” Tamihachi bicara cepat, puas kerena telah menceritakan hal itu.
“Kemudian apa yang terjadi?”
“Saya bisa melihat wajah Musashi. Kelihatannya tersenyum sedikit. Mereka seperti bertukar salam. Kemudian… kemudian terdengar jeritan. Suara itu terdengar dari ujung lapangan yang satu ke ujung yang lain. Saya lihat pedang kayu Tuan Muda terbang ke udara, dan kemudian… hanya Musashi yang berdiri. Dia memakai ikat kepala warna jingga, tapi rambutnya tegak.”
Jalan itu sudah dibersihkan dari orang-orang yang ingin tahu. Orangorang yang memikul daun jendela merasa sedih dan tertekan, tetapi tetap melangkah dengan hati-hati untuk menghindari bertambahnya rasa sakit pada orang yang luka itu.
“Apa itu?”
Mereka berhenti, dan seorang dari yang ada di depan meletakkan tangannya yang bebas ke leher. Yang lain menengadah. Daun pinus yang sudah kering berguguran menimpa Seijuro. Monyet Kojiro bertengger dengan sebelah kakinya di atas mereka, memandang kosong dan membuat gerakan-gerakan cabul.
“Uh!” teriak salah seorang ketika sebutir buah pinus jatuh ke wajahnya yang menengadah. Sambil memaki ia mencabut belati dari sarungnya dan melemparkannya secepat kilat ke arah si monyet, tapi tidak mengenai sasaran.
Mendengar siul tuannya, monyet itu berjungkir balik dan hinggap dengan ringan ke bahunya. Kojiro berdiri dalam bayangan. Akemi ada di sampingnya. Orang-orang Yoshioka melontarkan pandangan benci kepadanya. Kojiro menatap tajam ke tubuh Seijuro di atas daun jendela. Senyuman congkak hilang dari wajahnya, dan sekarang wajah itu menampakkan sikap takzim. Ia menyeringai mendengar rintihan keras Seijuro. Karena masih ingat benar akan kuliahnya tadi, para samurai hanya bisa menyimpulkan bahwa Kojiro datang melulu untuk menikmati kebenaran kata-katanya.
Ryohei memerintahkan pemikul tandu berjalan terus, katanya, “Cuma monyet, bukan manusia. Ayo terus jalan.”
“Tunggu,” kata Kojiro, lalu pergi ke samping Seijuro dan bicara langsung dengannya. “Apa yang terjadi?” tanyanya, tapi tanpa menantikan jawabannya. “Musashi mengalahkan Anda, ya? Di mana dia memukul? Bahu kanan? Wah, berat ini. Tulangnya berantakan. Lengan Anda seperti kantong kerikil. Anda tak boleh menelentang, melambung-lambung di atas daun jendela. Darah bisa naik ke otak.”
Sambil menoleh kepada yang lain-lain, ia memberikan perintah dengan angkuh, “Turunkan dia! Ayo, turunkan dia! Apa yang kalian tunggu? Kerjakan seperti yang kukatakan!”
Seijuro kelihatan sudah hampir mati, tapi Kojiro memerintahkannya berdiri. “Anda bisa, kalau Anda mencoba. Luka itu tidak begitu serius. Cuma lengan kanan Anda. Kalau Anda mencoba jalan, Anda bisa. Anda masih bisa pakai tangan kiri. Lupakan diri Anda sendiri! Pikirkan almarhum ayah Anda. Anda mesti lebih banyak menunjukkan hormat kepada beliau daripada yang Anda tunjukkan sekarang, ya, lebih banyak lagi. Kalau Anda diangkut lewat jalan-jalan Kyoto… seperti apa nanti kelihatannya. Coba pikir, bagaimana pengaruhnya itu nanti pada nama baik ayah Anda?”
Seijuro menatapnya, matanya putih tak berdarah. Kemudian dengan satu gerakan cepat ia angkat dirinya untuk berdiri. Lengan kanannya yang sudah tak berguna itu tampak sekali lebih panjang daripada lengan
kirinya. “Mike!” teriak Seijuro. “Ya, Tuan.” “Potong ini!” “Hah-hh!” “Jangan cuma berdiri! Potong tanganku!” “Tapi… “Goblok. Sini, Ueda, potong ini! Sekarang juga!” “Ya-ya-ya, Tuan.” Tapi sebelum Ueda bergerak Kojiro berkata, “Akan kulakukan, kalau Anda menghendakinya.” “Silakan!” kata Seijuro. Kojiro pergi ke sisinya. Ia mencengkeram erat tangan Seijuro, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan bersamaan
dengan itu ia hunus pedang kecilnya. Dengan bunyi cepat mengejutkan lengan itu jatuh ke tanah dan darah
menyembur dari bonggolnya. Seijuro terhuyung-huyung, dan para siswa datang serentak untuk membantu serta menutup luka dengan kain, untuk menghentikan darahnya.
“Sekarang aku jalan,” kata Seijuro. “Aku pulang dengan kedua kakiku sendiri.” Wajahnya pucat seperti lilin. Ia maju sepuluh langkah. Di belakangnya, darah yang menetes dari lukanya merembes hitam ke tanah.
“Tuan Muda, hati-hati!” Para murid terus mengerumuninya lekat-lekat. Suara mereka yang mengandung rasa kuatir dengan cepat berubah menjadi kemarahan.
Seorang dari mereka mengutuk Kojiro, katanya, “Kenapa pula keledai congkak itu ikut campur? Tuan lebih
baik seperti tadi.” Tetapi Seijuro, yang sudah malu oleh kata-kata Kojiro, mengatakan, “Kukatakan aku jalan, dan aku akan jalan!” Sesudah beristirahat sebentar, ia maju lagi dua puluh langkah, tapi sesungguhnya ia lebih banyak digerakkan oleh daya kemauan daripada oleh kedua kakinya. Ia tak dapat bertahan lama. Sesudah lima puluh atau enam puluh meter ia pun roboh.
“Cepat! Kita mesti membawanya ke tabib!”
Mereka mengangkatnya dan cepat membawanya ke Jalan Shijo. Seijuro tak punya lagi kekuatan untuk melawan. Kojiro berdiri sejenak di bawah pohon, sambil mengawasi dengan wajah suram. Kemudian, sambil menoleh
kepada Akemi dan menyeringai, ia berkata, “Kaulihat? Kukira kau senang, kan?” Akemi menerima cemoohan Kojiro itu dengan perasaan jijik. Wajahnya pucat pasi, tapi Kojiro melanjutkan, “Bisamu cuma bicara akan balas dendam. Apa kau puas sekarang? Apa itu cukup buat ganti keperawananmu yang hilang?”
Akemi terlampau bingung untuk bicara. Pada saat itu Kojiro kelihatan olehnya lebih menakutkan, lebih penuh kebencian, dan lebih jahat daripada Seijuro. Walaupun Seijuro penyebab penderitaannya, Seijuro bukan orang yang kejam. Ia tidak berhati hitam, dan bukan bajingan yang sebenarbenarnya. Kojiro sebaliknya, jahat sejahat-jahatnya – bukan sejenis pendosa yang bisa dibayangkan kebanyakan orang, melainkan jahanam yang licik dan jahat. Ia bukannya ikut senang jika orang lain berbahagia, malah sebaliknya bergembira dengan hadir dan menonton penderitaan orang lain. Ia takkan pernah mencuri atau menipu, tapi ia lebih berbahaya daripada penjahat biasa.
“Mari kita pulang,” katanya sambil mengembalikan monyetnya ke bahu. Akemi ingin sekali melarikan diri, tapi tak bisa mengerahkan keberanian. “Tak ada gunanya kau terus mencari Musashi,” gumam Kojiro, sekaligus pada diri sendiri dan pada Akemi. “Tak ada alasan baginya berlama-lama di sini.
Akemi bertanya pada diri sendiri, kenapa ia tidak mengambil kesempatan ini untuk lari ke alam bebas. Kenapa sepertinya ia tak mampu meninggalkan manusia kejam ini. Bahkan sementara mengutuk kebodohannya sendiri, tidak dapat ia mencegah dirinya pergi dengan Kojiro.
Monyet itu memutar kepala dan memandangnya. Sambil mengoceh mengejek ia memamerkan giginya yang putih dan menyeringai lebar.
Akemi ingin memakinya, tapi tak dapat. Ia merasa dirinya dan monyet itu terikat oleh nasib yang sama. Ia ingat, kasihan sekali tampaknya Seijuro tadi. Sekalipun dirinya sudah dirugikan, hatinya kasihan juga pada Seijuro. Ia benci pada lelaki seperti Seijuro dan Kojiro, namun sekaligus tertarik pada mereka, seperti ngengat tertarik pada nyala api.
Manusia Serba bisa
MUSASHI meninggalkan lapangan itu sambil berpikir, “Aku menang,” katanya pada dirinya sendiri, “Sudah kukalahkan Yoshioka Seijuro; sudah kutundukkan benteng Gaya Kyoto!”
Tapi ia tahu hatinya tidak di situ. Matanya tertunduk dan kakinya seperti tenggelam dalam dedaunan kering. Seekor burung kecil yang terbang membubung ke langit memperlihatkan bagian bawah tubuhnya yang mengingatkan pada seekor ikan.
Ketika ia menoleh ke belakang, tampak olehnya pohon-pohon pinus yang ramping di atas gundukan tempat ia menghadapi Seijuro. “Aku memukul cuma satu kali,” pikirnya. “Barangkali pukulan itu tidak membunuhnya.” Ia memeriksa pedang kayunya untuk memperoleh kepastian bahwa tidak ada sisa darah di situ.
Pagi itu, dalam perjalanan ke tempat yang telah ditentukan, ia menduga akan menjumpai Seijuro ditemani rombongan muridnya, yang bisa saja menempuh jalan licik. Terus terang ia sudah siap menghadapi kemungkinan terbunuh. Agar pada akhir hayatnya ia tidak tampak berantakan, ia sudah menggosok giginya baik-baik dengan garam dan mencuci rambutnya.
Ternyata Seijuro jauh berada di bawah perkiraan Musashi. Musashi bertanya-tanya, apakah Seijuro benar¬benar anak Yoshioka Kempo. Di dalam diri Seijuro yang biasa hidup di kota dan jelas berpendidikan baik itu tidak tampak penampilan seorang guru utama Gaya Kyoto. Ia terlalu ramping, terlalu lunak, terlalu sopan santun untuk menjadi jagoan pedang besar.
Ketika mereka bertukar salam, Musashi sudah berpikir tak enak. “Mestinya tak usah aku menjalani pertarungan ini.”
Penyesalannya memang benar, kerena tujuannya adalah selalu menghadapi lawan yang lebih baik dari dirinya. Sekali pandang cukuplah. Tidak ada gunanya berlatih setahun penuh hanya untuk menghadapi pertarungan ini. Mata Seijuro tidak menampakkan keyakinan diri. Api yang dibutuhkan itu tidak ada, tidak hanya pada wajahnya, melainkan juga pada seluruh tubuhnya.
“Kenapa dia datang kemari pagi ini,” tanya Musashi sendiri, “kalau dia tak punya keyakinan lebih di dalam dirinya?” Tapi Musashi sadar akan kesulitan lawannya, dan ia bersimpati. Seijuro tak dapat membatalkan pertarungan itu, sekalipun meng-hendakinya. Para murid yang diwarisinya dari ayahnya memandangnya sebagai penasihat dan pemimpin. Tak ada pilihan lain baginya kecuali menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi. Ketika kedua orang itu berdiri dan siap bertempur, Musashi menoleh ke sana kemari untuk mencari alasan membatalkan seluruh acara itu, tapi kesempatan untuk itu tidak juga datang.
Kini semuanya sudah berlalu, dan Musashi berpikir, “Berat, berat! Mestinya tidak kulakukan itu.” Dan dalam hati ia berdoa semoga luka Seijuro lekas sembuh.
Tetapi kerja hari itu sudah terlaksana. Tidak sewajarnya seorang prajurit matang bermuram durja mengenai hal yang sudah lalu.
Ketika ia mempercepat langkahnya, seorang perempuan tua muncul di atas petak rumput dengan wajah terkejut. Semula perempuan itu sedang menggaruk-garuk tanah mencari sesuatu. Bunyi langkah Musashi membuatnya tersengal. Perempuan itu mengenakan kimono polos tipis. Kalau tidak karena tali lembayung yang mengikat jubahnya, barangkali ia hampir tak bisa dibedakan dari rumput yang diinjaknya. Sekalipun pakaiannya baju orang awam, kerudungnya kerudung biarawati. Perempuan itu bertubuh kecil halus.
Musashi sama kagetnya dengan perempuan itu. Tiga atau empat langkah lagi, pasti ia sudah menginjaknya. “Apa yang Ibu cari?” tanya Musashi ramah. Ia melontarkan pandang ke tasbih yang tersangkut pada lengan perempuan itu di dalam lengan kimononya, dan sekeranjang tumbuhan liar kecil-kecil pada tangan yang lain. Jemari dan tasbih itu bergetar sedikit.
Untuk menenangkannya, Musashi berkata ringan, “Saya heran melihat tumbuhan ini sudah tumbuh. Saya pikir musim semi baru akan mulai. Oh, saya lihat Ibu sudah punya daun seledri yang manis-manis, juga lobak dan bunga kering, Apa Ibu memetiknya sendiri?”
Tapi biarawati itu menjatuhkan keranjangnya dan lari berteriak-teriak, “Koetsu! Koetsu!”
Musashi memandang tertegun melihat sosok kecil itu menghilang ke arah tanjakan kecil di tengah ladang yang umumnya datar. Di belakang tanjakan itu tampak asap mengepul.
Karena menurut pendapatnya sayang kalau perempuan itu kehilangan sayuran yang sudah dengan susah payah dikumpulkannya, maka Musashi pun memungutnya dan pergi mengikutinya sambil menjinjing keranjang. Kira-kira semenit kemudian, muncul dua lelaki.
Mereka telah menghamparkan permadani di sisi selatan yang kena sinar matahari, pada lereng yang landai. Di situ terdapat juga macam-macam alat yang biasa dipergunakan oleh pemeluk kultus teh, termasuk ketel besi di atas api dan cerek air di satu sisi. Mereka membuat kamar teh di udara terbuka, dan menganggap lingkungan alam itu sebagai kebunnya. Semuanya tampak sedikit bergaya dan anggun.
Seorang dari kedua lelaki itu rupanya pelayan, sedangkan yang satunya mengingatkan orang pada boneka porselin besar yang menggambarkan aristokrat Kyoto karena kulitnya yang putih lembut dan garis-garis wajahnya yang serasi. Ia berperut gendut. Keyakinan diri tercermin pada pipi dan posturnya.
“Koetsu”. Nama itu membangkitkan kenangan, karena pada waktu itu Hon’ami Koetsu sangat terkenal dan tinggal di Kyoto. Orang mengatakan dengan nada iri bahwa upah tahunan Koetsu, seribu gantang, diperoleh dari Yang Dipertuan Maeda Toshiie dari Kaga yang sangat kaya. Sebagai penduduk kota biasa, ia dapat hidup mewah dari situ saja, tapi di samping itu ia menikmati juga perkenan khusus dari Tokugawa Ieyasu dan sering diterima di rumah kaum bangsawan tinggi. Kabarnya para prajurit terbesar negeri ini terpaksa turun dari kuda dan berjalan kaki bila melewati tokonya, agar tidak memberikan kesan merendahkannya.
Nama keluarga itu dipakai karena mereka menetap di Jalan Hon’ami, dan usaha Koetsu di bidang pembersihan, penyemiran, dan penaksiran pedang. Keluarga itu memperoleh nama baik semenjak abad empat belas dan berkembang pesat di zaman Ashikaga. Di kemudian hari mereka dilindungi daimyo-daimyo terkemuka seperti Imagawa Yoshimoto, Oda Nobunaga, dan Toyotomi Hideyoshi.
Koetsu dikenal sebagai orang yang punya banyak bakat. Ia pelukis, ternama sebagai ahli keramik dan pembuat pernis, dan dianggap ahli seni. Ia sendiri beranggapan bahwa kekuatannya adalah dalam kaligrafi. Di bidang ini umumnya ia disejajarkan dengan ahli-ahli yang sudah diakui seperti Shokado Shojo, Karasumaru Mitsuhiro, dan Konoe Nobutada, pencipta Gaya Sammyakuin, yang demikian populer hari-hari itu.
Sekalipun terkenal, Koetsu merasa belum sepenuhnya dihargai orang, atau demikianlah kelihatannya dari cerita yang beredar. Menurut cerita itu, ia sering mengunjungi tempat kediaman sahabatnya, Konoe Nobutada, yang bukan hanya seorang bangsawan, melainkan sekaligus juga Menteri Kiri dalam pemerintahan Kaisar. Dalam salah satu kunjungan, demikian cerita orang, pembicaraan dengan sendirinya beralih ke kaligrafi, dan Nobutada bertanya, “Koetsu, siapa kiranya yang akan Anda pilih sebagai tiga ahli kaligrafi terbesar negeri ini?”
Tanpa keraguan sedikit pun Koetsu menjawab, “Yang kedua adalah Anda sendiri, dan kemudian saya kira Shokado Shojo.”
Sedikit heran, Nobutada bertanya, “Anda mulai dengan kedua terbaik, tapi siapa yang pertama?”
Tanpa senyum sama sekali Koetsu memandang langsung ke mata Nobutada dan menjawab, “Tentu saja saya.”
Tenggelam dalam lamunan itu, Musashi berhenti tak jauh dari tempat orang-orang itu.
Koeuu memegang kuas, dan di lututnya tergeletak beberapa lembar kertas. Dengan sangat hati-hati ia membuat sketsa air yang mengalir tak jauh dari situ. Lukisan yang sedang digarapnya maupun beberapa karya sebelumnya yang berserakan di tanah terdiri semata-mata atas garis-garis pucat yang menurut penilaian Musashi bisa saja dibuat oleh setiap pemula.
Koetsu menengadah dan berkata tenang, “Ada apa?” Kemudian ia menatap adegan itu: Musashi di satu sisi, dan di sisi lain ibunya yang gemetar di belakang pelayan. ‘
Musashi merasa lebih tenang dengan hadirnya orang itu. Ia jelas bukan macam orang yang biasa ditemui Musashi tiap hari, tapi entah bagaimana orang itu menarik bagi Musashi. Matanya memancarkan sinar yang dalam, yang sebentar kemudian mulai tersenyum kepada Musashi, seakan-akan mereka kenalan lama.
“Selamat datang, anak muda. Apa ibuku berbuat salah? Umurku sendiri empat puluh delapan, jadi bisa kaubayangkan sudah seberapa tua beliau. Dia memang sehat sekali, tapi kadang-kadang beliau mengeluh tentang penglihatannya. Kalau beliau melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya, kuharap engkau mau menerima permintaan maaf dariku.” Ia meletakkan kuas dan bloknot di permadani kecil tempat ia duduk, dan meletakkan kedua tangannya ke tanah, bersujud.
Musashi buru-buru berlutut untuk menghalangi Koetsu. “Jadi, Anda putra beliau?” tanyanya bingung.
“Ya.”
“Sayalah yang mesti mohon maaf. Saya sebenarnya tak mengerti kenapa ibu Anda takut, tapi begitu beliau melihat saya, beliau menjatuhkan keranjangnya dan lari. Melihat sayuran beliau tumpah, saya jadi merasa bersalah. Dan ini saya bawa barang-barang yang jatuh itu. Hanya itu. Tak perlu Anda menghormat begitu.”
Sambil tertawa senang, Koetsu menoleh kepada biarawati itu, dan katanya “Sudah Ibu dengar sendiri, kan? Kesan Ibu salah sama sekali.”
Dengan perasaaan sangat lega, ibu itu keluar dari tempat sembunyinya di belakang pelayan. “Maksudmu, ronin ini tak ada maksud mencelakaiku?”
“Mencelakai? Sama sekali tidak. Lihatlah, dia bahkan mengembalikan keranjang Ibu. Apa dia tidak baik budi?”
“Oh, maaf,” kata biarawati itu sambil membungkuk rendah hingga dahinya menyentuh tasbih yang ada di pergelangan tangannya. Kini ia riang dan tertawa sambil menoleh kepada anaknya. “Aku malu mengakuinya,” katanya, “tapi ketika pertama kali kulihat anak muda ini, kupikir aku mencium bau darah. Oh, mengerikan! Jadi tegak bulu romaku. Sekarang aku tahu, betapa tololnya aku tadi.”
Daya tinjau perempuan tua itu mengagumkan Musashi. Ia mampu melihat ke dalam diri Musashi, dan tanpa benar-benar memahaminva sudah menyatakannya dengan terus terang. Bagi perasaan perempuan yang lembut ini, pasti Musashi tampak seperti hantu yang mengerikan dan berlumuran darah.
Koetsu tentunya telah menangkap pula dalam pandangan mata Musashi yang tajam menembus, dari rambutnya yang tegak mengancam itu, sifatnya yang tajam bagai duri dan berbahaya, yang menyatakan kesiapsiagaannya untuk menghantam gangguan yang bagaimanapun kecilnya. Meskipun begitu tampaknya Koetsu cenderung mencari unsur yang baik padanya.
“Kalau engkau tidak terburu-buru,” katanya, “tinggallah di sini dan istirahat sebentar. Di sini sangat sepi dan tenang. Duduk di tengah lingkungan ini, aku merasa bersih dan segar.”
“Kalau saya dapat memetik sedikit lagi sayuran, saya bisa membuat bubur yang enak nanti untukmu,” kata biarawati itu. “Dan juga teh. Atau engkau tak suka teh?”
Bersama ibu dan anak itu, Musashi merasa damai dengan dunia ini. Ia me-nyarungkan semangat perangnya, seperti kucing memasukkan cakarnya. Di tengah suasana yang menyenangkan ini, sukar ia mempercayai bahwa ia berada di tengah orang-orang asing sama sekali. Sebelum menyadarinya, ia telah melepaskan sandal jeraminya dan mengambil tempat duduk di atas permadani.
Sesudah mengajukan beberapa pertanyaan, tahulah ia bahwa sang ibu yang nama biaranya Myoshu itu dahulunya seorang istri yang baik dan setia, sebelum akhirnya menjadi biarawati, sedangkan anaknya ternyata memang si estetikus dan seniman terkemuka itu. Di antara para pemain pedang, tak seorang pun yang tidak mengenal nama Hon’ami—begitu hebat reputasi keluarga itu, berkat kemampuan-nya yang sempurna dalar menilai pedang.
Musashi merasa sukar menghubungkan Koetsu dan ibunya denga.gambaran yang ia miliki tentang bagaimana mestinya keadaan orang-orang seterkenal mereka itu. Baginya, mereka sekadar orang-orang biasa yang kebetulan ia jumpai di ladang sepi. Itulah justru yang ia kehendaki, karena kalau tidak, ia sendiri bisa jadi tegang merusak tamasya mereka.
Sambil membawa ketel teh, Myoshu bertanya pada anaknya, “Berapa umur pemuda ini menurutmu?”
Sambil memandang Musashi, jawab Koetsu, “Dua puluh lima atau enam kukira.”
Musashi menggeleng. “Tidak, umur saya baru dua puluh tiga.”
“Baru dua puluh tiga,” kata Myoshu. Kemudian ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang biasa: di mana rumahnya, apakah orangtuanya masih hidup, siapa yang mengajarinya main pedang, dan seterusnya.
Bicaranya lembut, seolah Musashi adalah cucunya, dan ini menyebabkan jiwa kanak-kanak Musashi muncul. Gaya bicaranya berubah menjadi gaya bicara pemuda yang tidak resmi. Karena terbiasa dengan disiplin dan latihan keras, dan terbiasa menghabiskan waktu dengan menempa diri menjadi pedang baja yang bagus, maka tidak sedikit pun ia kenal sisi kehidupan yang lebih beradab. Sementara biarawati tua itu berbicara, kehangatan menyebar di seluruh tubuhnya yang sudah tertempa cuaca.
Myoshu, Koetsu, barang-barang di atas permadani, bahkan mangkuk teh itu, dengan halusnya berpadu dengan suasana menjadi bagian dari alam seluruhnya. Tetapi Musashi tidak sabar. Tubuhnya terlalu gelisah untuk duduk terus berlama-lama. Memang cukup menyenangkan mengobrol demikian, tapi ketika Myoshu mulai menatap diam ke ketel teh dan Koetsu membelakanginya untuk meneruskan melukis, Musashi menjadi bosan. “Apa enaknya datang kemari ini buat mereka?” tanyanya pada diri sendiri. “Musim semi baru saja mulai. Udara masih dingin.”
Kalau mereka ingin memetik sayuran liar, kenapa tidak menanti sampai udara lebih hangat dan lebih banyak orang di sekitar? Waktu itu banyak bunga dan tumbuhan hijau yang segar. Kalau mereka ingin menikmati upacara teh, kenapa pula susah-susah membawa ketel dan mangkuk-mangkuk teh ke tempat ini? Keluarga terkenal dan makmur seperti mereka ini pasti punya ruang teh yang anggun di rumahnya.
Apakah untuk melukis?
Ketika memandang punggung Koetsu, tahulah ia bahwa dengan mencondongkan badan ke samping ia dapat melihat kuas yang sedang bergerak. Tiada lain yang dilukis oleh seniman itu kecuali garis-garis air yang mengalir, dan matanya terus tertuju pada kali sempit yang membelok melintasi rumput kering. Koetsu berkonsentrasi hanya pada gerakan air. Berkali-kali ia mencoba menangkap gerak air mengalir itu, namun sentuhan yang tepat kelihatannya belum didapatnya. Tak bosan-bosannya ia terus melukis garis-garis itu.
“Yah,” pikir Musashi, “melukis tak semudah kelihatannya.” Untuk sesaat rasa bosannya surut, dan ia terpesona memperhatikan goresan kuas Koetsu. Koetsu tentunya sama perasaannya dengan dirinya sewaktu menghadapi musuh dan ujung pedang yang sudah di depan mata. Pada tahap tertentu ia akan bangkit mengatasi dirinya dan merasa telah jadi satu dengan alam-bukan, bukan “merasa”, karena segala rasa akan lengkap pada saat pedang melukai lawan. Saat transenden yang magis itulah segala-galanya.
“Koetsu masih memandang air sebagai musuhnya,” pikirnya. “Itu sebabnya dia tak dapat melukisnya. Air harus menjadi bagian dan dirinya, baru dia akan berhasil.”
Karena tak ada yang dikerjakannya, dari kebosanan ia meluncur ke dalam kelesuan, dan ini menggelisahkannya. Ia tak boleh membiarkan dirinya kendur, biarpun cuma sesaat. Ia mesti pergi dari tempat itu.
“Saya minta maaf sudah mengganggu,” katanya agak kasar, dan mulai mengikatkan kembali sandalnya.
“Oh, begitu cepat akan pergi?” tanya Myoshu.
Koetsu menoleh ke belakang pelan-pelan, dan katanya, “Tak bisa engkau tinggal sedikit lama? Ibu mau bikin teh sekarang, Kukira engkaulah orang yang bertarung dengan Perguruan Yoshioka pagi ini. Minum teh sedikit sesudah berkelahi baik untuk badan, setidak-tidaknya itulah yang dikatakan Yang Dipertuan Maeda. Ieyasu demikian juga. Teh itu baik untuk semangat. Aku sangsi apakah ada yang lebih baik dari teh. Menurut pendapatku, aksi dilahirkan oleh ketenangan. Tinggallah, dan bicaralah. Akan kutemani.”
Jadi, Koetsu tahu tentang pertarungan itu! Tapi barangkali tidak begitu mengherankan. Rendaiji tidak jauh, hanya di ladang sebelah sana. Persoalan yang lebih menarik adalah, kenapa sampai sedemikian jauh ia tidak mengatakan sesuatu. Apakah karena menurut anggapannya soal-soal macam itu bukan bagian dari dunianya sendiri? Musashi sekali lagi memandang ibu dan anak itu, kemudian duduk lagi.
“Kalau Anda mendesak, saya akan tinggal,” katanya.
“Tak banyak yang dapat kami suguhkan, tapi kami senang engkau bersama kami di sini,” kata Koetsu. Ia meletakkan tutup pada kotak tintanya, lalu meletakkan kotak itu di atas lembar-lembar sketsa, agar tidak kabur. Di dalam tangannya kotak tinta itu berkelip-kelip seperti kunangkunang. Rupanya berlapis emas tebal, dengan tatahan perak dan mutiara.
Musashi membungkuk untuk memperhatikannya. Sesudah terletak di atas permadani, kotak itu tidak lagi berkilau cemerlang, Ia tahu, tak ada yang mencolok. Keindahannya terletak pada lapis emas dan lukisan cat kuil-kuil Momoyama yang dikecilkan beberapa kali. Juga terasa ada bagiannya yang sangat kuno, yaitu tahi tembaga yang redup, yang mengingatkan orang pada kebesaran yang sudah pudar. Musashi menatap dengan saksama. Terasa ada sesuatu yang menyenangkan pada kotak itu.
“Aku membuatnya sendiri,” kata Koetsu rendah hati. “Engkau suka?”
“Oh, jadi Tuan membuat barang pernis juga?”
Koetsu hanya tersenyum. Ia memandang pemuda yang kelihatannya lebih mengagumi kecerdasan manusia daripada keindahan alam itu, dan pikirnya geli, “Bagaimanapun, dia berasal dari desa.”
Tak kenal dengan sikap megah Koetsu, Musashi pun berkata penuh ketulusan, “Ini betul-betul indah.” ia tidak dapat melepaskan pandangannya dari kotak tinta itu.
“Sudah kukatakan itu kubuat sendiri, tapi sajak di atasnya hasil karya Konoe Nobutada. Jadi, ini buatan kami berdua.”
“Apa itu keluarga Konoe yang menurunkan wali kaisar?”
“Ya. Nobutada adalah anak wali yang dahulu.”
“Suami bibi saya mengabdi pada keluarga Konoe bertahun-tahun.”
“Siapa namanya?”
“Matsuo Kaname.”
“Oh, aku kenal baik Kaname itu. Aku selalu mengunjunginya kalau pergi ke rumah Konoe, dan dia kadang¬kadang datang mengunjungi kami.
“Betul?”
“Bu, dunia ini kecil, ya? Bibi dia ini istri Matsuo Kaname.”
“Ah, masa!” kata Myoshu.
Myoshu meninggalkan api dan meletakkan mangkuk-mangkuk teh di depan mereka. Tak sangsi lagi, ia betul-betul ahli dalam hal upacara teh. Gerak-geriknya anggun, namun alamiah, sedangkan tangannya yang lembut itu lemah gemulai. Sekalipun sudah berumur tujuh puluh, ia kelihatan sebagai lambang keluwesan dan kecantikan wanita.
Musashi, yang merasa betul-betul tidak leluasa, duduk bersimpuh dengan sopannya, meniru Koetsu. Kue untuk minum teh berupa kue kismis yang dikenal dengan nama manju Yodo, tetapi kue itu diletakkan dengan apiknya di atas selembar daun hijau yang jenisnya tak ada di ladang sekitar. Musashi tahu ada peraturan tertentu berupa etiket untuk menghidangkan teh, seperti halnya ada peraturan menggunakan pedang, dan selama memperhatikan Myoshu, ia mengagumi keahliannya. Menilainya dalam istilah ilmu pedang, “Dia sempurna sekali! Sama sekali tidak membuka peluang.” Ketika ia mengangkat mangkuk, Musashi merasakan di dalam diri perempuan itu keahlian surgawi, seperti kelihatan pada seorang guru pedang yang siap memukul. “Inilah Jalan,” demikian pikirnya. “Inilah hakikat seni. Orang harus memilikinya, agar dapat sempurna dalam apa saja.”
Ia mengalihkan perhatian kepada mangkuk teh di depannya. Inilah pertama kalinya ia mendapat suguhan dengan cara ini, dan sedikit pun ia tak tahu apa yang mesti dilakukan berikutnya. Mangkuk teh itu membuat ia kagum, karena meskipun mangkuk itu mirip dengan yang dibuat anak kecil sewaktu bermain lumpur, namun kalau warna hijau tua pada busa teh itu diperhatikan dengan latar belakang warna mangkuk, tampaklah warna itu lebih tenteram dan lembut daripada langit.
Tanpa daya ia pun memandang Koetsu yang sudah menghabiskan kuenya dan sedang memegang mangkuk dengan penuh cinta. Ia pegang mangkuk dengan kedua tangannya, seperti sedang membelai benda hangat di malam yang dingin, dan ia habiskan teh itu dengan dua-tiga hirupan.
“Pak,” Musashi berkata agak ragu-ragu, “saya ini cuma anak desa yang bodoh, dan saya tidak tahu seluk¬beluk upacara teh. Saya bahkan tidak tahu pasti, bagaimana cara minum teh.”
Myoshu segera menegurnya baik-baik. “Oh, begini, Nak, semua itu sama saja. Tak ada yang namanya canggih atau khusus dalam minum teh. Kalau engkau anak desa, minum saja seperti caramu di desa.”
“Apa boleh begitu?”
“Tentu saja. Tingkah laku itu bukan soal peraturan, tapi berasal dari hati. Sama dengan ilmu pedang, kan?”
“Kalau Ibu nyatakan demikian, memang ya.”
“Kalau engkau terlalu memikirkan cara yang benar untuk minum, kau takkan menikmati teh itu. Ketika menggunakan pedang, kau tak bisa membiarkan tubuhmu terlalu tegang. Itu akan mematahkan keselarasan antara pedang dan semangatmu. Betul begitu?”
“Betul, Ibu.” Tanpa disadari Musashi menganggukkan kepalanya dan menanti biarawati itu melanjutkan pelajarannya.
Biarawati itu tertawa sedikit berderai. “Coba dengarkan aku ini! Bicara tentang main pedang, padahal aku tak tahu apa-apa tentangnya.”
“Saya minum teh saya sekarang,” kata Musashi sesudah memperoleh kembali keyakinan dirinya.
Kakinya capek akibat duduk dalam sikap resmi, karena itu ia berganti posisi bersila supaya lebih enak. Sebentar saja sudah ia kosongkan mangkuk teh itu dan ia letakkan kembali. Teh itu sangat pahit. Biarpun untuk sekadar basa-basi, ia tak dapat memaksa diri mengatakan enak.
“Tambah lagi?”
“Tidak, terima kasih, sudah cukup.”
Apa enaknya air pahit macam ini buat orang-orang ini? Kenapa mereka bicara begitu serius tentang “kemurnian” rasa dan segala macamnya itu? Musashi tak dapat memahami tuan rumah, namun tak mungkin ia tidak mengaguminya. Bagaimanapun, tentunya ada hal lain yang tak terlihat olehnya. Kalau tidak, mana mungkin masalah minum teh ini menjadi faktor penting filsafat tentang estetika dan hidup? Dan mana mungkin pula orang-orang besar seperti Hideyoshi dan Ieyasu akan mencurahkan perhatian demikian besar pada minum teh ini, demikian pikir Musashi.
Ia ingat betapa Yagyu Sekishusai menghabiskan umur tuanya untuk Jalan Teh, dan Takuan pun bicara tentang kemuliaan. Melihat mangkuk teh dan kain tatakannya, tiba-tiba terbayang olehnya bunga peoni putih dari kebun Sekishusai itu, dan sekali lagi ia rasakan getaran yang dulu pernah ia alami. Kini mangkuk itu memberikan getaran yang sama. Caranya tak bisa dijelaskan. Sesaat lamanya ia bertanya-tanya, jangan¬jangan tadi ia terengah keras.
Ia menjulurkan tangan, memungut mangkuk dengan penuh cinta dan meletakkannya di atas lutut. Matanya bercahaya ketika mengamati. Terasa olehnya kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Diperhatikannya dasar mangkuk itu, demikian juga jejak-jejak kape tukang tembikar dan sadarlah ia bahwa garis-garis itu menunjukkan ketajaman yang sama dengan irisan yang dilakukan Sekishusai pada batang bunga peoni. Mangkuk bersahaja ini pun hasil karya seorang genius. Mangkuk ini mengungkapkan sentuhan semangat dan wawasan yang misterius.
Hampir-hampir ia tak dapat bernapas. Tak tahulah ia, tapi kini ia merasakan kekuatan seniman besar itu, kekuatan yang diam tapi Paso, karena ia memang lebih peka terhadap kekuatan laten yang bersemayam di situ daripada kebanyakan orang lain. Ia gosok-gosok mangkuk itu, tak ingin melepaskan kontak fisik dengannya.
“Pak Koetsu,” kata Musashi, “pengetahuan saya tentang alat-alat ini tidak lebih baik daripada pengetahuan saya tentang teh, tapi saya kira mangkuk ini dibuat oleh tukang tembikar yang sangat terampil.”
“Kenapa begitu?” kata-kata seniman itu sama lembutnya dengan wajahnya. Matanya simpatik dan mulutnya bagus bentuknya. Sudut-sudut mata yang turun sedikit memberikan kesan sungguh-sungguh, namun di sekitar ujung mata terdapat kerut-merut.
“Saya tak bisa menjelaskannya, tapi saya merasakannya.”
“Jelasnya, bagaimana menurut perasaanmu? Coba ceritakan.”
Musashi berpikir sejenak, kemudian katanya, “Nah, saya tak dapat mengungkapkannya dengan jelas sekali, tapi terasa ada yang melebihi kemampuan manusia pada guratan tajam tanah liat ini…”
“Hmmm.” Koetsu memang memiliki sikap seniman sejati. Sesaat pun ia tak pernah menilai orang lain tahu banyak tentang karya seninya, dan karena itu merasa pasti Musashi bukanlah perkecualian. Bibirnya mengerut. “Kenapa guratannya, Musashi?”
“Bersih sekali.”
“Cuma itu?”
“Tidak, tidak… lebih rumit dari itu. Ada sesuatu yang besar dan agung dari pembuatnya.”
“Apa lagi?”
“Tukang tembikar itu sendiri sama tajamnya dengan pedang Sagami. Tapi dia menyelimuti semuanya itu dengan keindahan. Mangkuk teh ini tampak sangat sederhana, tapi terasa ada keangkuhan, sesuatu yang agung dan congkak, seakan-akan dia menganggap orang lain belum sepenuhnya manusia.”
“Mm.”
“Sebagai manusia, orang yang membuat mangkuk ini sukar ditaksir, saya kira. Siapa pun orangnya, saya berani bertaruh dia orang terkenal. Tak dapatkah Bapak menyebutkan siapa dia?”
Bibir Koetsu yang tebal itu pun tertawa keras. “Namanya Koetsu. Tapi barang ini kubuat hanya untuk bersenang-senang hati.”
Musashi yang tak tahu bahwa dirinya sedang diuji itu terkejut dan kagum mendengar Koetsu dapat membuat keramik sendiri. Tapi yang lebih mengesankan daripada luasnya kecakapan artistik orang itu adalah dalamnya nilai manusia yang tersembunyi dalam mangkuk teh yang kelihatannya sederhana mi. Agak terganggu juga Ia oleh kedalaman sumber spiritual Koetsu. Karena terbiasa mengukur orang lain dengan kemampuan menggunakan pedang, tiba-tiba ia menyimpulkan bahwa kemampuan dirinya terlalu kecil. Pikiran ini membuatnya merasa hina. Ini satu orang lagi, kepada siapa ia mesti mengakui kekalahannya. Walaupun pagi itu ia baru saja mendapat kemenangan gemilang, sekarang ia tak lebih dar seorang pemuda pemalu.
“Jadi, engkau suka keramik juga, ya?” tanya Koetsu. “Engkau rupanya bisa juga menilai barang tembikar.”
“Saya sangsi apakah itu benar,” jawab Musashi rendah hati. “Saya cuma menyatakan apa yang ada dalam
kepala saya. Maafkan saya, kalau ada yang tolol dalam kata-kata saya.”
“Ya, tentu saja kita tak bisa mengharapkan kau tahu banyak tentang soal ini. Untuk membuat satu mangkuk teh yang baik saja dibutuhkan pengalaman selama hidup. Tapi engkau memang punya rasa keindahan, ada daya tangkap naluriah yang agak kuat. Kukira engkau sudah mendapat sedikit kemajuan dalam mengembangkan ketajaman matamu, karena engkau mempelajari ilmu pedang.” Ada nada kagum dalam nada suara Koetsu, tapi sebagai orang yang lebih tua ia tidak dapat memuji anak itu. Tidak hanya perbuatan itu tidak terpuji, melainkan juga dapat membuat anak itu sombong.
Tak lama kemudian, pelayan kembali membawa lebih banyak sayuran liar, dan Myoshu menyiapkan bubur. Ketika ia sudah memindahkan bubur itu ke piring-piring kecil yang rupanya juga dibuat oleh Koetsu, seguci sake yang harum pun dipanaskan, dan pesta tamasya pun dimulai.
Makanan dalam upacara teh itu terlalu ringan dan lembut untuk selera Musashi. Jasmaninya menghendaki isi dan rasa yang lebih mantap. Namun ia berusaha juga dengan sebaik-baiknya menelan bau halus adonan berdaun itu, karena diakuinya banyak yang dapat ia pelajari dari Koetsu dan ibunya yang luwes itu.
Waktu berlalu terus, dan ia menoleh ke sekitar ladang dengan gelisah. Akhirnya ia menoleh kepada tuan rumah, katanya, “Semua ini sangat menyenangkan, tapi sudah waktunya saya pergi sekarang. Saya masih ingin tinggal di sini, tapi saya kuatir lawan-lawan saya akan datang dan menimbulkan kesulitan. Tak ingin saya melibatkan Bapak dalam hal seperti ini. Saya harap saya akan mendapatkan kesempatan bertemu lagi dengan Bapak.”
Myoshu bangkit melepaskan tamunya, katanya, “Kalau kau kebetulan ada di sekitar Jalan Hon’ami, jangan tidak mampir ke tempat kami.”
“Ya, silakan datang menengok kami. Kita nanti dapat berbincang-bincang yang enak,” tambah Koetsu.
Sebetulnya Musashi sudah kuatir, tapi ternyata tidak tampak tanda-tanda murid-murid Yoshioka. Habis minta diri, ia berhenti untuk menoleh pada kedua teman barunya. Ya, dunia mereka itu lain sekali dengan dunianya. Jalannya sendiri yang panjang dan sempit itu takkan pernah mencapai lingkungan kesenangan hidup Koetsu yang penuh kedamaian. Ia berjalan diam menuju tepi ladang, kepalanya tertunduk merenung.
Terlalu Banyak Kojiro
DI warung minum kecil di luar kota itu, bau kayu terbakar dan makanan yang sedang direbus memenuhi udara. Warung itu cuma gubuk tak berlantai. Ada papan pengganti meja dan beberapa bangku di sana-sini. Di luar, cahaya terakhir matahari terbenam membuat seolah ada bangunan di kejauhan yang sedang terbakar. Burung-burung gagak yang mengelilingi pagoda Toji tampak seperti abu hitam yang membubung dari nyala kebakaran.
Tiga atau empat pemilik warung dan seorang biarawan pengembara duduk di meja darurat tadi, sedangkan di sebuah sudut ada beberapa pekerja berjudi dengan taruhan minuman. Gasing yang mereka putar adalah mata uang tembaga yang lubangnya ditusuk dengan sepotong kayu.
“Yoshioka Seijuro betul-betul kesulitan sekarang ini!” kata salah seorang pemilik warung. “Dan aku senang sekali melihatnya. Mari kita minum!”
“Aku ikut minum,” kata yang lain.
“Sake lagi!” kata yang lain lagi pada pemilik warung.
Para pengunjung warung itu minum dengan cepat dan terus-menerus. Lama-kelamaan hanya cahaya temaram yang menerangi tirai warung. Seorang di antaranya melenguh, “Tak kelihatan lagi, mangkuk ini sampai hidung atau mulut? Terlalu gelap di sini. Bagaimana kalau pasang lampu?”
“Tunggu sebentar. Akan kupasang,” kata pemilik dengan letih.
Dari tungku tanah yang terbuka segera menjulang nyala api. Makin gelap di luar, makin merah sinar api itu.
“Bikin gila tiap kali memikirkannya,” kata orang pertama tadi. “Berapa banyak uang diutang orang-orang itu buat ikan dan arang! Jatuhnya besar juga. Lihat saja besarnya perguruan itu! Aku sudah bersumpah akan mendapatkan kembali uang itu pada akhir tahun, tapi apa yang terjadi waktu aku sampai di sana? Tukang¬tukang gertak Yoshioka menghadang di pintu masuk, menggertak dan mengancam semua orang. Berani betul mereka itu mengusir penarik rekening, pemilik-pemilik warung yang jujur, yang bertahun-tahun memberinya kredit!”
“Tak ada gunanya menangisi sekarang. Yang sudah terjadi sudahlah. Dan lagi, sesudah pertarungan di Rendaiji itu, merekalah sekarang yang lebih punya alasan menangis, bukan kita.”
“Ah, aku tak marah lagi sekarang. Mereka sudah mendapatkan ganjarannya.”
“Coba bayangkan, Seijuro ditundukkan hampir tanpa pertarungan!”
“Apa kau melihat sendiri?”
“Tidak, tapi aku dengar dari orang yang lihat. Musashi bikin lumpuh dia hanya dengan satu pukulan. Dan dengan pedang kayu pula! Cacat seumur hidup dia sekarang.”
“Bagaimana jadinya perguruan itu?”
“Kelihatannya kurang baik juga. Semua murid sekarang menuntut darah Musashi. Kalau mereka tidak membunuh Musashi, mereka bisa kehilangan muka sama sekali. Nama Yoshioka terpaksa runtuh. Musashi begitu kuat. Tiap orang merasa satu-satunya yang akan dapat mengalahkan dia hanya Denshichiro. Mereka sedang mencarinya sekarang.”
“Aku tidak tahu Seijuro punya adik.”
“Memang hampir tak ada yang tahu, tapi dia pemain pedang yang lebih baik, menurut yang kudengar. Dialah berandal keluarga itu. Dia tak pernah memperlihat-kan muka di perguruan itu, kecuali kalau butuh uang. Buang waktu dengan makan dan minum dan memanfaatkan namanya sendiri. Hidup dari orang-orang yang menghormati ayahnya.”
“Bukan main pasangan itu. Bagaimana orang terkemuka macam Yoshioka Kempo bisa memperanakkan orang-orang macam itu?”
“Itu berarti darah bukan segala-galanya!”
Seorang ronin teronggok setengah sadar di dekat tungku. Sudah beberapa waktu lamanya ia di situ, dan pemilik warung membiarkannya saja, tapi sekarang dibangunkannya. “Pak, tolong mundur sedikit,” katanya sambil menambahkan ranting-ranting kayu api. “Api ini bisa membakar kimono Bapak.”
Mata Matahachi yang sudah merah oleh sake itu terbuka pelan-pelan. “Mm, mm, aku tahu, aku tahu. Biarkan aku sendiri.”
Warung sake ini bukan satu-satunya tempat Matahachi mendengar tentang pertarungan di Rendaiji itu. Peristiwa tersebut dibicarakan setiap orang, dan semakin terkenal Musashi, semakin murung temannya yang bertingkah itu.
“Hei, kasih lagi,” panggilnya. “Tak usah dipanaskan, tuangkan saja ke mangkukku.”
“Bapak tak apa-apa, ya? Wajah Bapak pucat sekali.”
“Apa urusanmu? Ini mukaku sendiri, kan?”
Ia menyandarkan diri ke dinding lagi dan menyilangkan tangan di dada. “Sebentar lagi akan kutunjukkan pada mereka,” pikirnya. “Keahlian main pedang bukan satu-satunya jalan menuju sukses. Dengan menjadi kaya, atau memiliki gelar, atau menjadi bajingan, sama saja, asal sampai di puncak. Musashi dan aku sama¬sama berumur dua puluh tiga. Orang yang punya nama pada umur itu tak banyak yang jauh jalannya. Umur tiga puluh tahun mereka sudah tua dan sempoyongan—‘si anak pandai yang menua.”
Kabar pertarungan di Rendaiji itu telah menyebar di Osaka, dan mendorong Matahachi datang ke Kyoto. Sekalipun belum punya tujuan jelas, kemenangan Musashi itu berat menekan jiwanya, hingga ia mesti melihat sendiri bagaimana keadaannya. “Dia sedang menanjak sekarang,” pikir Matahachi benci, “tapi pasti dia akan jatuh.” Banyak orang yang cakap di perguruan Yoshioka itu—Sepuluh Pemain Pedang, Denshichiro, dan banyak lagi yang lain…” Hampir-hampir ia tak dapat menanti, kapan Musashi akan
menerima pembalasan. Sementara itu nasibnya sendiri pasti sudah berubah. “Oh, haus!” katanya keras. Dengan menopang, menggeser, dan punggung bersandar pada dinding, ia berhasil berdiri. Semua mata memperhatikan ketika ia membungkuk ke tong air di sudut ruangan dan mencelupkan kepalanya, lalu menenggak beberapa tegukan besar dengan ciduk. Ciduk dilemparkannya ke samping, digesernya tirai warung, dan keluarlah ia tertatih-tatih.
Setelah menganga keheranan, pemilik warung segera tersadar dan lari mengejar tubuh yang berjalan gontai itu. “Pak, Bapak belum bayar!” panggilnya. “Apa?” kata Matahachi tak jelas. “Saya pikir ada yang Bapak lupakan.” “Aku tidak lupa apa-apa.” “Maksud saya, uang sake itu. Ha, ha!” “Begitu, ya?” “Maaf sudah mengganggu.” “Aku tak punya uang.” “Tak punya uang?” “Ya, tak punya sama sekali. Aku punya sampai beberapa hari yang lalu, tapi…”
“Oh, lalu kenapa Bapak duduk minum-minum di sana…! Bapak… Bapak… „ “Diam kamu!” Matahachi meraba-raba dalam kimononya, kemudian mengeluarkan kotak obat samurai yang sudah mati itu dan melemparkannya kepada orang itu. “Jangan banyak ribut! Aku samurai dengan dua pedang. Kamu lihat sendiri, kan? Aku belum bangkrut dan tidak akan ngeluyur tanpa bayar. Barang itu lebih mahal daripada sake yang kuminum. Boleh kembaliannya kamu simpan!”
Kotak obat tepat mengenai muka orang itu. Ia memekik kesakitan dan menutup mukanya dengan tangan. Para pembeli lain yang melongokkan kepala lewat celah tirai warung berteriak marah. Seperti kebanyakan orang mabuk, mereka marah melihat pemabuk lain ingkar membayar.
“Bajingan!” “Penipu busuk!” “Mari kita hajar dia!” Mereka berlari mengepung Matahachi. “Bajingan! Bayar! Tidak bisa kamu pergi begitu saja!” “Brengsek! Kamu rupanya biasa begitu terus, ya? Kalau kamu tak bisa bayar, kami gantung kamu!” Matahachi menjamah pedangnya untuk menakut-nakuti mereka. “Kalian pikir kalian bisa?” gertaknya. “Akan
menarik sekali ini. Boleh coba! Apa kalian sudah tahu, siapa aku?”
“Kami tahu macam apa kamu itu—ronin kotor dari tumpukan sampah, yang harga dirinya lebih rendah dari pengemis, tingkahnya lebih dari pencuri:” “Jadi, kalian belum tahu!” teriak Matahachi memandang tajam dan mengerutkan kening dengan ganas.
“Bicara kalian akan lain kalau kalian tahu namaku.” “Namamu? Apa istimewanya nama itu?”
“Aku Sasaki Kojiro, murid seangkatan Ito Ittosai, pemain pedang Gaya Chujo. Kalian pasti sudah mendengar tentangku!”
“Jangan bikin aku ketawa! Tak perlu itu nama-nama khayal, bayar saja.” Satu orang mengulurkan tangan untuk mencekal Matahachi, tapi Matahachi berteriak, “Kalau kotak obat itu tak cukup, akan kuberi kamu sedikit pedangku buat tambahan!” Ia cepat menarik senjatanya, menebas tangan orang itu sampai putus.
Melihat bahwa ternyata mereka tadi terlalu menyepelekan musuh, yang lain beraksi seolah darah mereka
sendiri yang sudah tercurah. Mereka pun melarikan diri ke dalam kegelapan. Dengan wajah penuh kemenangan Matahachi menantang. “Kembali kalian, kutu-kutu! Akan kutunjukkan pada kalian cara Kojiro menggunakan pedang kalau sedang serius. Sinilah, akan kupotong kepala kalian.”
Ia memandang ke langit dan tertawa terpingkal-pingkal, giginya yang putih berkilau di tengah kegelapan, girang atas suksesnya. Kemudian tiba-tiba sikapnya berubah. Wajahnya berselimut kesedihan. Ia seperti mencucurkan air mata. Dengan kaku ia entakkan pedangnya kembali masuk ke sarungnya dan pergilah ia dengan gontai.
Kotak obat di tanah itu berkelip-kelip di bawah sinar bintang. Kotak itu terbuat dari kayu cendana dengan tatahan kulit kerang; kelihatannya tidak terlalu berharga, tetapi kilat kulit kerang mutiara yang biru itu menyinarkan keindahan lembut, seperti sekelompok kecil kunang-kunang.
Ketika keluar dari gubuk, si biarawan pengembara melihat kotak obat itu dan memungutnya. Ia berjalan terus, tapi kemudian kembali dan berdiri di bawah ujung atap warung. Dalam cahaya redup yang keluar dari celah dinding ia amat-amati pola dan tali kotak itu dengan saksama. “Hmmm,° pikirnya. “Ini pasti milik guru itu. Dia tentu sedang membawanya ketika terbunuh di Kuil Fushimi. Ya, ini namanya, Tenki, tertulis di dasarnya.”
Biarawan itu segera mengejar Matahachi. “Sasaki!” panggilnya. “Sasaki Kojiro!”
Matahachi mendengar nama itu, tapi dalam keadaan bingung ia tak mampu menghubungkannya dengan dirinya. Ia terhuyung terus dari Jalan Kujo ke Jalan Horikawa. Biarawan itu berhasil mengejarnya dan memegang ujung sarung pedangnya. “Tunggu, Kojiro,” katanya.
“Tunggu sebentar.” “Hah?” kata Matahachi tersentak, “Maksudmu aku?” “Anda Sasaki Kojiro, kan?” Sinar tajam menyala dalam mata biarawan itu. Matahachi sedikit sadar sekarang. “Ya, aku Kojiro. Apa urusannya itu denganmu?” “Saya mau mengajukan satu pertanyaan.” “Nah, pertanyaan apa itu?” “Di mana Anda mendapat kotak obat ini?” “Kotak obat?” tanya Matahachi kosong. “Ya. Di mana Anda mendapatkannya? Itu yang ingin saya ketahui. Bagaimana kotak ini bisa menjadi milik
Anda?” Biarawan itu berbicara agak resmi. Ia masih muda, barangkali baru sekitar dua puluh enam tahun, dan tampaknya bukan biarawan pengemis yang tak bersemangat, yang mengembara dari kuil ke kuil dan hidup dari derma. Sebelah tangannya memegang tongkat kayu ek bulat, lebih dari enam kaki panjangnya.
“Tapi siapa kamu ini?” tanya Matahachi, wajahnya mulai tampak prihatin. “Itu tak penting. Kenapa tidak Anda nyatakan saja dari mana ini datangnya?” “Tidak dari mana-mana. Selamanya itu milikku.”
“Anda bohong! Katakan yang sebenarnya!”
“Sudah kukatakan yang sebenarnya.”
“Anda menolak mengakuinya?”
“Mengakui apa?” tanya Matahachi tak bersalah.
“Kau bukan Kojiro!” Seketika tongkat di tangan biarawan itu membelah udara.
Naluri Matahachi mendorongnya bergerak mundur, tapi ia masih terlampau pening untuk cepat beraksi. Tongkat mengenai sasaran, dan melolong kesakitan ia sempoyongan ke belakang lima belas atau dua puluh kaki jauhnya, dan jatuh telentang. Begitu bangkit lagi, ia langsung lari.
Si biarawan mengejarnya, dan beberapa langkah kemudian melontarkan lagi tongkat ek itu. Matahachi mendengar tongkat itu terbang ke arahnya. Ia meren-dahkan kepala. Peluru terbang itu melayang lewat telinganya. Karena ketakutan, ia melipatgandakan kecepatannya.
Si biarawan meraih senjata yang terjatuh itu, mengambilnya, dan sesudah membidik baik-baik, melontarkannya lagi, tapi sekali lagi Matahachi merunduk.
Sesudah berlari dengan kecepatan tinggi lebih dari satu setengah kilometer, Matahachi melewati Jalan Rokujo dan mendekati Jalan Gojo. Akhirnya ia lepas dari kejaran dan berhenti. Terengah-engah ia mengetuk-ngetuk dadanya. “Tongkat itu… senjata mengerikan! Orang mesti berhati-hati sekarang ini.”
Sudah tenang benar tapi haus bukan main, ia mencari sumur. Ia temukan sumur itu di ujung sebuah jalan sempit. Ia angkat satu timba dan ia reguk air sepuas-puasnya, kemudian ia taruh ember di tanah dan berkecipaklah ia membasahi wajahnya dan berkeringat.
“Siapa pula orang itu?” pikirnya, “Dan apa maunya?” Tapi begitu merasa normal kembali, datanglah kembali rasa murung itu. Di ruang matanya tampaklah wajah mayat tak berdagu yang kelihatan menderita sekali di Fushimi.
Hati nuraninya terasa sakit, karena ia menggunakan uang orang mati itu. Bukan untuk pertama kalinya ia bermaksud menebus perbuatan keliru itu. “Kalau aku punya uang,” sumpahnya, “yang pertama akan kulakukan adalah membayar kembali utangku. Barangkali nanti setelah aku sukses akan kudirikan batu peringatan untuknya.”
Cuma sertifikat itu yang tinggal. Barangkali aku mesti melepaskannya. Kalau nanti orang yang tidak tepat tahu aku yang memilikinya, bisa timbul kesulitan.” Ia meraba ke dalam kimononya dan menyentuh gulungan yang selama itu selalu diselipkan di perut, di bawah obi, sekalipun terasa tak enak.
Bahkan kalaupun ia memang tak dapat mengubahnya menjadi uang dalam jumlah banyak, sertifikat itu dapat menjadi pembuka ke anak tangga ajaib yang pertama menuju sukses. Jadi, pengalaman sial dengan Akakabe Yasoma tidak menyembuhkan-nya dari penyakit mimpi.
Sertifikat itu sudah menjadi amat berguna. Dengan menunjukkannya ke dojo-dojo kecil tak bernama atau kepada orang kota yang polos dan ingin belajar main pedang, ia dapat memperoleh penghormatan dari mereka bahkan juga mendapat makan bebas dan tempat menginap, walaupun tidak dimintanya. Begitulah cara ia hidup selama enam bulan terakhir ini.
“Tidak ada alasan membuangnya. Ah, apa yang terjadi dengan diriku ini? Rupanya makin lama aku makin jadi penakut. Barangkali itulah vang menghalangiku mencapai kemajuan di dunia ini. Dari sekarang aku takkaa berbuat seperti itu lagi! Aku akan jadi besar dan berani, seperti Musash. Akan kutunjukkan pada mereka!”
Ia menoleh ke sekitar, ke pondok-pondok yang mengitari sumur. Orang-orang yang tinggal di situ membuatnya iri. Memang rumah mereka melengkung akibat beratnya lumpur dan rumput liar di atapnya, tapi setidaknya mereka memiliki peneduh. Ia mengintip, melihat beberapa di antara keluarga itu. Di satu rumah ia lihat sepasang suami-istri duduk menghadapi kuali berisi makan malam mereka yang sederhana. Di dekat mereka duduk anak lelaki dan perempuan bersama nenek mereka yang sedang memotong-motong.
Sekalipun miskin dalam hal keduniaan, mereka memiliki semangat kesatuan keluarga, suatu kekayaan yang tidak dimiliki bahkan oleh orang-orang besar seperti Hideyoshi dan Ieyasu. Matahachi merasa bahwa semakin orang menderita kemiskinan, semakin kuat rasa saling cinta. Orang miskin juga dapat memahami kegembiraan sebagai manusia.
Dengan rasa malu ia teringat benturan kemauan yang menyebabkan ia pergi meninggalkan ibunya sendiri di Sumiyoshi. “Mestinya aku tak boleh berlaku demikian terhadapnya,” pikirnya. “Apa pun kesalahannya, tak bakal ada orang lain yang cintanya padaku seperti cintanya.”
Selama seminggu tinggal bersama, berjalan dari tempat suci ke kuil, dan dari kuil ke tempat suci yang sangat menjengkelkan itu, Osugi berkali-kali berbicara kepadanya tentang daya-daya ajaib Kannon di Kiyomizudera. “Tak ada bodhisatwa di dunia ini yang dapat menciptakan keajaiban lebih besar daripada dia,” demikian ibunya meyakinkannya. “Kurang dari tiga minggu sesudah aku pergi berdoa ke sana, Kannon memimpin Takezo datang padaku membawanya langsung ke kuil itu. Aku tahu engkau tak begitu peduli dengan agama, tapi lebih baik engkau percaya kepada Kannon.”
Sekarang hal itu terpikir oleh Matahachi, dan teringat olehnya ibunya mengatakan bahwa sesudah tahun baru ia punya rencana akan pergi ke Kiyomizu, meminta perlindungan Kannon atas keluarga Hon’iden. Jadi, ke sanalah ia mesti pergi! Malam itu ia tak punya tempat untuk tidur. Ia dapat menginap di beranda, ada kemungkinan bisa bertemu dengan ibunya kembali.
Ketika menyusuri jalan-jalan gelap menuju Jalan Gojo, ia diikuti segerombolan anjing kampung liar yang menyalak-nyalak, yang sialnya bukan dari jenis yang dapat dibungkam dengan melemparkan sebutir dua butir batu. Untungnya ia sudah biasa digonggong anjing, jadi tidak ada halangan anjing-anjing itu menggeram kepadanya dan memperlihatkan gigi mereka.
Di Matsubara, sebuah hutan pinus dekat Jalan Gojo, ia melihat kawanan anjing kampung lain berkumpul sekitar sebatang pohon. Anjing-anjing yang mengawalnya itu berlari menggabungkan diri dengan mereka. Jumlahnya lebih banyak dari yang dapat dihitungnya. Semuanya begitu gaduh. Sebagian ada yang melompat-lompat sampai setinggi dua meter ke batang itu.
Ia menajamkan mata, dan tampak olehnya seorang gadis meringkuk gemetar di sebuah cabang pohon itu. Paling tidak, ia cukup yakin orang itu seorang gadis.
Ia mengacung-acungkan tinju dan berteriak mengusir anjing-anjing itu. Ketika dilihatnya tanpa hasil, ia lemparkan batu-batuan, tapi juga tak berhasil. Kemudian ia ingat kata orang, cara menakuti anjing adalah dengan merangkak dan meraung keras. la pun berbuat demikian. Tapi ini pun tak ada hasilnya. Barangkali jumlah anjing itu demikian banyaknya, melompat ke sana kemari seperti ikan dalam jaring. Ada yang mengibas-ngibaskan ekor, mencakar-cakar kulit pohon, dan melolong kejam.
Tiba-tiba terpikir olehnya, seorang perempuan bisa menganggap lucu bahwa seorang pemuda dengan dua bilah pedang merangkak menirukan binatang. Sambil memaki ia meloncat berdiri. Sesaat kemudian seekor anjing melolong untuk terakhir kali dan mati. Ketika yang lain-lain melihat pedang Matahachi yang berdarah itu teracung di atas kepalanya, mereka pun menarik diri berdekatan, hingga punggung mereka yang kurus¬kurusitu berombak naik-turun seperti ombak samudra. “Mau lagi, ya?”
Takut akan ancaman pedang itu, anjing-anjing buyar ke segala jurusan. “Hai, yang di atas itu!” seru Matahachi. “Turun kamu sekarang.”
Dari tengah dedaunan pinus itu ia dengar denting logam kecil yang manis. “Oh, Akemi,” gagapnya. “Akemi, kau, ya?”
Dan terdengar Akemi berseru ke bawah, “Siapa kamu?”
“Matahachi. Apa kau tidak kenal suaraku?”
“Mana mungkin! Kamu bilang Matahachi?”
“Apa kerjamu di atas itu? Kamu bukan orang yang gampang takut dengan anjing.”
“Aku di atas ini bukan karena anjing.”
“Nah, apa pun sebabnya, turunlah.”
Dari tempat bertenggernya, Akemi meninjau ke sekitar, ke tengah kegelapan yang tenang. “Matahachi!” katanya mendesak. “Pergi kamu dari sini. Kukira dia datang mencariku.”
“Dia? Siapa dia itu?”
“Tak ada waktu membicarakannya. Seorang lelaki. Dia menawarkan bantuan padaku akhir tahun lalu, tapi ternyata dia binatang. Semula kukira dia baik, tapi kemudian dilakukannya segala macam tindakan kejam padaku. Malam ini kulihat kesempatan lari.”
“Apa bukan Oko yang mengejarmu?”
“Bukan, bukan Ibu. Lelaki!”
“Gion Toji, barangkali?”
“Jangan melucu begitu, aku tidak takut pada Gion Toji…. Oh, oh, dia sudah di sana. Kalau kamu tetap di situ, dia nanti menemukan aku. Dan dia akan berbuat yang mengerikan juga padamu! Cepat sembunyi!”
“Jadi, maumu aku lari hanya karena muncul seorang lelaki?” Matahachi tetap berdiri, gelisah oleh sikap ragu-ragunya sendiri. Ia setengah ingin melakukan perbuatan gagah berani. Ia seorang lelaki. Ada perempuan dalam bahaya. Ia ingin menebus malu karena merangkak ketika hendak mengusir anjing tadi. Semakin Akemi mendesaknya bersembunyi, semakin ingin Matahachi memperlihatkan kejantanannya, baik kepada Akemi maupun kepada diri sendiri.
“Siapa di situ!”
Kata-kata itu serentak diucapkan oleh Matahachi dan Kojiro. Kojiro menatap pedang Matahachi dan darah yang masih menetes-netes darinya. “Siapa engkau?” tanyanya dengan sikap bermusuhan.
Matahachi diam saja. Mendengar nada takut dalam suara Akemi tadi, ia menjadi tegang. Tapi sesudah memperhatikan lagi ketegangan pun mereda. Orang baru itu jangkung dan tegap tubuhnya, tapi tak lebih tua dari Matahachi sendiri. Dari potongan rambut dan pakaiannya, Matahachi menduga orang itu bawahan yang masih buruk kelakuan dan matanya pun tampak merendahkan. Biarawan tadi memang telah membuat ia ketakutan, tapi ia yakin takkan kalah oleh pemuda pesolek itu.
“Apa ini orang kejam yang sudah menyiksa Akemi?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Kelihatannya begitu hijau seperti labu. Cerita seluruhnya belum kudengar, tapi kalau memang dia orang yang bikin susah itu, kukira lebih baik kuberi dia satu-dua pelajaran.”
“Siapa engkau?” tanya Kojiro lagi. Daya ucapan itu demikian rupa, hingga seolah dapat mengusir kegelapan sekitar mereka.
“Aku?” jawab Matahachi menggoda. “Aku cuma manusia.” Dan dengan sengaja ia menyeringai.
Wajah Kojiro merah oleh amarah. “Jadi, engkau tak punya nama rupanya,” katanya. “Atau barangkali kau malu dengan namamu?”
Matahachi merasa gusar, namun tidak takut, dan jawabnya pedas, “Aku tak melihat perlunya memberikan nama kepada orang asing yang barangkali juga takkan mengenali nama itu.”
“Jaga lidahmu itu!” bentak Kojiro. “Tapi mari kita tunda dulu perkelahian antara kita. Aku mau menurunkan gadis dari atas pohon itu dan mengembalikannya ke tempat semestinya. Tunggu di sini.”
“Jangan bicara macam orang tolol! Bagaimana kau bisa menduga akan kubiarkan kau mengambil gadis itu?”
“Lho, ada hubungan apa denganmu?”
“Ibu gadis itu dulu istriku, dan aku takkan membiarkannya dibikin cedera. Kalau kau meletakkan satu jari saja padanya, akan kurajang kau.”
“Oh, menarik. Engkau rupanya mengkhayalkan dirimu sebagai samurai. Terpaksa kukatakan di sini, lama aku tak melihat samurai yang begini kurus. Tapi ada yang perlu kauketahui. Galah Pengering di punggungku ini terus menangis dalam tidurnya, karena sejak diturunkan sebagai pusaka belum sekali pun merasa puas minum darah. Dan sudah sedikit karatan juga, jadi kupikir sekarang akan kugosok dia sedikit dengan bangkaimu yang kurus itu. Dan jangan coba-coba lari!”
Matahachi tak punya kemampuan menilai bahwa ini bukan gertak sambal, karenanya ia berkata mengejek, “Cukup omongan besar itu! Kalau engkau mau berpikir sekali lagi, sekarang ini waktunya. Pergi dari sini. selagi kau masih melihat jalan. Akan kuselamatkan nyawamu.”
“Sama juga denganmu, hai manusia tampan. Kamu membanggakan diri bahwa namamu terlalu bagus untuk disebutkan kepada orang-orang macam aku. Coba sebutkan, siapa namamu yang indah itu? Menyebutkan nama itu bagian dari etiket dalam berkelahi. Atau kamu tak tahu itu?”
“Aku tidak keberatan menyebutnya, tapi jangan kaget kalau kamu mendengarnya.” “Aku akan menguatkan diri untuk tidak terkejut. Tapi lebih dulu, apa gaya main pedangmu?” Matahachi membayangkan bahwa orang yang mengoceh secara itu tak mungkin pemain pedang berarti,
maka taksirannya terhadap lawannya pun lebih turun lagi. “Aku punya sertifikat Gaya Chujo, cabang dari Gaya Toda Seigen,” jelas Matahachi. Kojiro kaget, tapi mencoba menyembunyikannya. Matahachi percaya bahwa ia lebih unggul, karenanya ia berpendapat. tolol sekali kalau ia tidak menekan
terus. Menirukan orang yang bertanya kepadanya, katanya, “Sekarang sebutkan, apa gayamu? Itu bagian etiket dalam perkelahian, Iho!” “Nanti. Tapi dari mana kamu belajar Gaya Chujo itu?” “Dari Kanemaki Jisai, tentu saja,” jawab Matahachi fasih. “Dari siapa lagi?”
“Oh?” ucap Kojiro yang sekarang benar-benar heran. “Dan apa kamu kenal Ito Ittosai?” “Tentu saja.” Menurut tafsiran Matahachi, pertanyaan-pertanyaan Kojiro itu membuktikan bahwa cerita yang dikarangnya ada hasilnya, dan ia merasa yakin bahwa orang muda itu akan segera mengajukan kompromi. Untuk lebih menekan sedikit lagi, katanya, “Kukira tak ada alasan menyembunyikan hubunganku dengan Ito Ittosai. Dia pendahuluku. Yang kumaksud, kami berdua belajar di bawah pimpinan Kanemaki Jisai. Kenapa kamu tanyakan?”
Kojiro mengabaikan saja pertanyaan itu. “Kalau begitu, boleh aku tanva lagi, siapa kamu?” “Aku Sasaki Kojiro.” “Katakan lagi!” “Aku Sasaki Kojiro,” ulang Matahachi dengan sopan sekali. Setelah terdiam sejenak karena tercengang, Kojiro pun memperdengarkan suara geram dan
memperlihatkan lesung pipitnya. Matahachi menatapnya. “Kenapa kamu pandang aku macam itu? Apa namaku mengejutkanmu?” “Kukira begitu.” ‘Baiklah… sekarang pergi!” Matahachi memerintah dengan nada mengancam. dengan dagu ditegakkan. “Ha, ha, ha, ha! Oh! Ha, ha, ha!” Kojiro memegang perutnya agar tidak roboh karena tawa. Ketika akhirnya
ia dapat mengendalikan diri kembali, katanva, “Sudah banyak kutemui orang dalam perjalananku, tapi belum pernah aku mendengar hal seperti ini. Nah, Sasaki Kojiro, sekarang sudilah kamu menyatakan padaku, siapa aku ini?”
“Mana aku tahu?”
“Kamu mesti tahu! Kuharap sikapku tidak terasa kasar, tapi untuk memastikan bahwa pendengaranku benar, harap sebut namamu sekali lagi.” “Apa kamu tidak bertelinga? Aku Sasaki Kojiro.” “Dan aku…?” “Manusia lain, kukira.” “Tentu saja, tapi siapa namaku?”
“Bajingan kamu, apa kamu mau mempermainkan aku?” “Tentu saja tidak. Aku sungguh-sungguh. Belum pernah aku lebih serius dari sekarang. Katakan padaku, Kojiro, siapa namaku?”
“Kenapa bikin susah diri sendiri? Jawab sendiri pertanyaan itu.”
“Baik. Aku akan bertanya pada diriku sendiri siapa namaku, dan kemudian, meskipun bisa kelihatan lancang, akan kusampaikan nama itu padamu.” “Baik. ” “Jangan terkejut!” “Orang goblok!” “Aku Sasaki Kojiro, dan dikenal juga sebagai Ganryu.” “A-apa?” “Sejak zaman nenek moyangku, keluargaku sudah tinggal di Iwakuni. Nama Kojiro itu kuterima dari
orangtuaku. Akulah orang yang di kalangan pemain pedang dikenal dengan nama Ganryu. Nah, kapan dan bagaimana bisa menurutmu, di dunia ini terdapat dua Sasaki Kojiro?”
“Kalau begitu kamu… kamu…? “Ya, sekalipun banyak sekali orang mengadakan perjalanan di pedesaan, kamulah orang pertama yang kutemui memakai namaku. Yang pertama sekali! Apa bukan suatu kebetulan aneh bahwa kita bertemu?”
Matahachi berpikir cepat. “Ada apa? Kamu kelihatan gemetar.” Matahachi jadi ngeri. Kojiro mendekat, menepuk bahunya, dan katanya, “Mari kita berteman.” Dengan muka pucat pasi Matahachi
melepaskan diri dan mendengking. “Kalau kamu lari, kubunuh kau!” Suara Kojiro itu menembus seperti
lembing langsung ke wajah Matahachi. Galah Pengering mendesis di atas bahu Kojiro bagai ular perak. Satu pukulan saja, tak lebih. Dengan sekali lambungan Matahachi mental hampir tiga meter. Seperti serangga yang diembuskan dari selembar daun, ia cerjungkir balik tiga kali dan jatuh telentang tak sadarkan diri.
Kojiro malahan tak melihat ke arah jatuhnya Matahachi. Pedang yang panjangnya tiga kaki dan masih tak
berdarah itu masuk kembali ke dalam sarungnya. “Akemi!” panggil Kojiro. “Turunlah! Takkan kulakukan hal itu lagi karena itu kembalilah ke penginapan denganku. Oh, kurobohkan temanmu. tapi aku tidak betul-betul melukainya. Turun sini, dan rawatlah.”
Tak ada jawaban. Karena tak melihat apa-apa di cabang-cabang gelap itu, Kojiro memanjat pohon, tapi
kemudian dilihatnya ia hanya sendirian. Akemi sudah lari lagi. Angin bertiup lembut lewat dedaunan pinus. Ia duduk diam di ala, dahan, bertanya-tanya pada diri sendiri, ke mana terbangnya burung layang-layang yang kecil itu. Ia tak dapat menduga, kenapa Akemi begitu takut
kepadanya. Tidakkah ia mencurahkan cintanya dengan cara terbaik yang dikenalnya? Memang mungkin caranya memperlihatkan kasih sedikit kasar. tapi ia tak sadar bahwa cara itu berlainan dengan cara orang lain dalam bercinta.
Jawaban atas soal itu barangkali dapat ditemukan dalam sikapnya terhadap seni pedang. Selagi kanak¬kanak ia memasuki sekolah Kanemaki Jisai. Ia memperlihat-kan kemampuan besar dan diperlakukan sebagai anak ajaib. Caranya mempergunakan pedang sungguh luar biasa. Tetapi yang lebih luar biasa lagi adalah kegigihannya. Ia menolak menyerah sama sekali. Kalau berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, semakin ketat lagi ia berusaha.
Pada zaman ini, cara yang dipergunakan seorang pesilat untuk menang jadi jauh kurang penting dibandingkan dengan kemenangan itu sendiri. Tak seorang pun mempertanyakan cara-cara itu dengan saksama, dan kecenderungan Kojiro untuk bertahan dengan jalan apa pun sampai akhirnya menang tidak dianggap sebagai cara yang kotor. Lawan-lawannya mengeluh karena ia masih terus saja menyerang mereka, padahal kalau orang lain sudah mengaku kalah, tapi tak seorang pun menganggapnya tidak jantan.
Pada suatu kali, ketika ia masih kanak-kanak, sekelompok murid yang lebih besar dan terang-terangan ia benci menghajarnya dengan pedang kayu sampai pingsan. Karena kasihan kepadanya, salah seorang penyerangnya memberinya air dan menunggunya sampai sadar kembali. Waktu itulah Kojiro merebut pedang kayu orang yang telah menolongnya itu dan memukulnya sampai mati.
Kalau ia kalah dalam pertarungan, tak pernah ia melupakannya. Ia akan mengintai terus sampai musuh itu lengah-di tempat gelap, saat musuhnya berada di tempat tidur, atau bahkan di kamar kecil dan diserangnya musuh itu dengan sehebat-hebatnya. Mengalahkan Kojiro sama saja dengan menciptakan musuh kepala batu.
Setelah dewasa, ia biasa bicara tentang dirinya sebagai seorang jenius. Memang ini bukan sekadar bualan, dan baik Jisai maupun Ittosai membenarkannya. Ketika ia menyatakan telah belajar menebas burung layang-layang yang sedang terbang dan menciptakan gayanya sendiri, ia memang tidak mengada-ada. Itu pula yang menyebabkan orang menganggapnya “tukang sihir”, suatu pujian yang ia terima dengan senang hati.
Tak seorang pun tahu, apa wujud keinginannya yang keras itu, ketika Kojiro jatuh cinta kepada seorang perempuan. Tapi tak mungkin ada keraguan bahwa di situ pun ia akan menempuh jalannya yang biasa. Namun ia sendiri tak melihat ada hubungan apa pun antara kemampuannya bermain pedang dengan caranya bercinta. Tak dapat ia memahami, kenapa Akemi tidak menyukainya, padahal ia demikian cinta kepada gadis itu.
Ketika sedang merenungkan masalah cintanya itu, ia lihat sesosok tubuh berjalan ke sana kemari di bawah pohon, tanpa menyadari kehadiran Kojiro.
“Ada orang menggeletak di sini,” kata orang baru itu. Ia membungkuk untuk melihat lebih jelas, kemudian serunya, “Oh, ini bangsat dari warung sake itu!”
Orang itu biarawan pengembara. Ia menurunkan bungkusan dari punggungnya, ucapnya, “Kelihatannya tidak luka. Dan tubuhnya hangat.” Ia meraba-rabanya dan menemukan tali di bawah obi Matahachi. Tali dilepaskan dan diikatnya tangan Matahachi ke punggung. Kemudian ia tekankan lututnya pada lekuk pinggang Matahachi dan ia sentakkan bahu Matahachi ke belakang. Bersamaan dengan itu, ia tekan keras saraf simpatisnya. Matahachi sadar kembali, merintih tak jelas. Biarawan itu mengangkatnya seperti sekarung kentang ke sebatang pohon dan menyandarkannya di situ.
“Berdiri!” katanya tajam. Ditegaskannya perintahnya itu dengan tendangan. “Berdiri kamu!”
Matahachi yang sudah setengah jalan ke neraka itu memperoleh kembali kesadarannya, tapi belum dapat memahami apa yang sedang terjadi. Masih dalam keadaan pusing, ia paksakan dirinya berdiri.
“Bagus,” kata si biarawan. “Berdiri saja begitu.” Kemudian ia ikat kaki dan dada Matahachi ke pohon.
Matahachi membuka mata sedikit dan berteriak heran.
“Hei, penipu,” kata orang yang menangkapnya, “kau membuatku lari mengejar, tapi semuanya sudah lewat sekarang.” Pelan-pelan ia mulai menggarap Matahachi. Ditamparnya dahinya beberapa kali hingga kepala Matahachi membentur-bentur pohon. “Di mana kau mendapat kotak obat itu?” tanyanya. “Katakan yang sebenarnya. Ayo!”
Matahachi tidak menjawab.
“Kaupikir kau bisa terus bertahan dengan tak tahu malu begitu, ya?” Dengan marah biarawan itu menjepitkan jempol dan jari telunjuknya ke hidung Matahachi dan mengguncangkan kepalanya ke depan ke belakang.
Matahachi tersengal-sengal, dan ketika ia kelihatan mencoba berbican, biarawan itu melepaskan hidunganya. “Aku akan bicara,” kata Matahachi putus asa. “Akan kuceritakan semuanya.”
Air matanya meleleh. “Peristiwa itu terjadi musim panas lalu…,” mulainya, lalu diceritakannya seluruh peristiwa itu, yang akhirnya dengan permintaan ampun. “Saya tak dapat membayar uang itu sekarang juga, tapi saya berjanji, kalau Bapak tidak membunuh saya, saya akan kerja keras dan mengembalikannya nanti. Akan saya berikan janji tertulis, yang ditandatangani dan diberi meterai.”
Mengakui kesalahan seperti mengeluarkan nanah dari luka yang mesti disembunyikannya. Kini, setelah tak ada lagi yang mesti disembunyikan, tak ada lagi yang mesti ditakutkan. Paling tidak, itulah dugaan Matahachi.
“Benar begitu?” tanya si biarawan.
“Benar.” Matahachi menundukkan kepala penuh sesal.
Sesudah beberapa menit mereka diam, biarawan itu menarik pedang pendek dan menudingkannya ke muka Matahachi.
Matahachi berteriak sambil cepat menolehkan muka ke samping, “Bapak mau bunuh saya?”
“Ya, kau mesti mati.”
“Sudah saya ceritakan semuanya pada Bapak dengan penuh kejujuran. Sudah saya kembalikan kotak obat itu, dan akan saya serahkan kepada Bapak sertifikat itu. Tak lama lagi akan saya bayar kembali uang itu. Saya bersumpah! Kenapa saya mesti dibunuh?”
“Aku percaya padamu, tapi kedudukanku sangat sulit. Aku tinggal di Shimonida, di Kozuke, dan aku pembantu Kusanagi Tenki. Dia samurai yang tewas di Kuil Fushimi itu. Biar aku berpakaian biarawan, aku ini samurai. Namaku Ichinomiya Gempachi.”
Matahachi tidak mendengarkan kata-kata itu. Ia mencoba melepaskan diri dan lari. “Saya minta ampun,” katanya hina dina. “Saya tahu sudah melakukan perbuatan salah, tapi saya tidak bermaksud apa-apa. Saya bermaksud menyampaikan semuanya itu pada keluarganya, tapi kemudian, yah, kemudian saya kehabisan uang, dan yah, saya tahu tak boleh saya melakukan itu, tapi saya sudah menggunakannya. Saya mau minta ampun bagaimana saja menurut keinginan Bapak, tapi mohon jangan bunuh saya.”
“Rasanya lebih baik kamu tidak minta ampun,” kata Gempachi yang kelihatan sedang bergulat dalam batinnya. Ia menggeleng-geleng sedih, lanjutnya, “Aku sudah pergi ke Fushima menyelidiki ini. Semuanya cocok dengan yang kaukatakan. Tapi aku mesti membawa pulang sesuatu untuk penghibur keluarga Tenki. Bukan uang. Aku cuma butuh sesuatu buat menunjukkan bahwa pembalasan sudah dilaksana-kan. Tapi tak ada satu penjahatnya, tak ada satu orang tertentu yang sudah membunuh Tenki. Jadi, bagaimana aku dapat membawa kepala pembunuh itu buat mereka?”
“Tapi saya… saya… saya tidak membunuh dia. Jangan Bapak salah.”
“Aku tahu kau tidak membunuh dia. Tapi keluarga dan teman-temannya tidak tahu dia dikeroyok dan dibunuh pekerja. Dan lagi itu bukan cerita yang akan bikin dia terhormat. Tak suka aku menceritakan pada mereka hal yang sebenarnya. Jadi, biarpun aku kasihan padamu, kupikir kau mesti dijadikan orang yang bersalah itu. Akan lebih baik keadaannya kalau kau setuju aku membunuhmu.”
Sambil merenggangkan tali-tali yang mengikatnya, Matahachi berteriak, “Lepaskan saya! Saya tak mau mati!”
“Dengan sendirinya. Tapi coba tinjau soal ini dari sudut lain. Kamu tak dapat membayar sake yang kauminum. Itu berarti kau tidak cakap menghidupi dirimu sendiri. Daripada kelaparan dan menjalani hidup memalukan di dunia yang kejam ini, apa tidak lebih baik kau istirahat dengan damai di dunia lain? Kalau uang yang jadi persoalanmu, aku punya sedikit. Dengan senang hati aku akan mengirimkan kepada orangtuamu sebagai sumbangan penguburan. Dan kalau kau mau, aku dapat mengirimkannya ke kuil leluhurmu sebagai sumbangan peringatan. Aku jamin, uang akan disampaikan sebaik-baiknya.”
“Gila. Aku tak perlu uang; aku mau hidup! Tolong!”
“Aku sudah menjelaskan semuanya baik-baik. Setuju atau tidak, kau terpaksa berperan selaku pembunuh tuanku. Menyerahlah, kawan. Anggap saja ini nasib.” Ia mencengkeram pedangnya dan melangkah mundur, agar ada ruang baginya untuk menebas.
“Gempachi, tunggu!” seru Kojiro.
Gempachi menengadah dan teriaknya, “Siapa di situ?”
“Sasaki Kojiro.”
Gempachi mengulang nama itu pelan-pelan dengan curiga. Apakah ada Kojiro palsu lain lagi turun dari langit? Namun suara itu mirip sekali dengan suara manusia, bukan suara hantu. Ia melompat menghindari pohon dan mengangkat pedang tegak-tegak.
“Ini keterlaluan,” katanya sambil tertawa. “Rupanya tiap orang menyebut dirinya Sasaki Kojiro sekarang ini. Di bawah sini ada satu, yang kelihatan begitu sedih. Ah, ya! Sekarang aku mulai mengerti. Kau teman orang ini, ya?”
“Bukan, aku Kojiro. Dengar, Gempachi, engkau sudah siap memotongku jadi dua kalau aku turun, ya?”
“Ya. Bawa sini berapa saja Kojiro palsu itu semaumu. Akan kuhadapi mereka semua.”
“Cukup adil. Kalau kau dapat memotongku, bolehlah kau yakin aku yang palsu, tapi kalau kau yang mati, yakinlah bahwa aku Kojiro sejati. Aku turun sekarang, dan kuperingatkan kamu, kalau kau tak dapat melukaiku di udara, Galah Pengering akan membelahmu seperti sepotong bambu.”
“Tunggu. Rasanya aku ingat suaramu. Kalau pedangmu bernama Galah Pengering yang terkenal itu, benar engkau Kojiro.”
“Kau percaya sekarang?”
“Ya, tapi apa kerjamu di atas itu?”
“Kita bicarakan nanti.”
Kojiro melompat lewat wajah Gempachi yang tengadah dan mendarat di belakangnya, disertai hujan daun pinus. Perubahan sosok Kojiro itu mengagumkan Gempachi. Kojiro, menurut ingatannya di sekolah Jisai itu. anak yang hitam kulitnya dan kikuk. Pekerjaan satu-satunya waktu itu menimba air, dan sesuai dengan kecintaan Jisai akan kesederhanaan, tidak pernah Kojiro menggunakan pakaian lain kecuali yang paling sederhana.
Kojiro duduk di pangkal pohon dan mengajak Gempachi berbuat demikian juga. Gempachi kemudian bercerita bahwa Tenki dikira mata-mata dari Osaka dan dilempari batu sampai mati, dan bahwa sertifikatnya jatuh ke tangan Matahachi.
Kojiro senang sekali mengetahui ada orang yang memakai namanya, tapi ia mengatakan tak ada untungnya membunuh orang yang demikian lemah. Ada cara lain untuk menghukum Matahachi. Kalau Gempachi kuatir dengan keluarga Tenki atau reputasinya, Kojiro sendiri akan pergi ke Kozuke dan mengatur segala sesuatunya agar majikan Gempachi dianggap sebagai prajurit berani dan terhormat. Tak perlu membuat Matahachi sebagai kambing hitam.
“Engkau setuju, Gempachi?” tutup Kojiro.
“Kalau demikian, kukira ya.”
“Baiklah kalau begitu. Aku mesti pergi sekarang, tapi kukira kau mesti pulang ke Kozuke.” “Memang aku mau pulang. Aku akan langsung pulang.” “Terus terang, aku agak buru-buru. Aku sedang mencari gadis yang tiba-tiba meninggalkanku.” “Apa tak ada yang kaulupakan?” “Kukira tidak.” “Bagaimana dengan sertifikat itu?” “Oh, itu.” Gempachi menggerayangi Matahachi dan mengambil gulungan itu. Matahachi merasa ringan dan lepas dari
beban. Kini ia merasa hidupnya akan selamat, dan ia senang terlepas dari dokumen itu.
“Hmm,” kata Gempachi. “Coba pikirkan, barangkali kejadian malam ini memang diatur roh Jisai dan Tenki, hingga aku bisa mendapatkan kembali sertifikat ini dan memberikannya padamu.” “Aku tak mau,” kata Kojiro. “Kenapa?” tanya Gempachi tak percaya. “Aku tidak memerlukannya.” “Aku tak mengerti.” “Aku tak perlu kertas macam itu.” “Apa yang kaukatakan! Apa engkau tidak merasa berterima kasih kepada gurumu? Bertahun-tahun Jisai
mempersiapkan diri untuk memutuskan apakah dia akan memberikan sertifikat ini padamu. Dan dia tidak juga mengambil keputusan, sebelum akhirnya berada di ranjang kematian. Dia menugaskan Tenki untuk menyerahkannya padamu, tapi lihatlah sendiri apa yang terjadi dengan Tenki. Engkau mesti malu bersikap begitu.”
“Apa yang dilakukan Jisai itu urusannya sendiri. Aku punya ambisi sendiri.” “Bukan begitu mestinya bicara.” “Jangan engkau salah mengerti.” “Engkau menghina orang yang sudah mengajarmu?” “Sama sekali tidak, tapi aku dilahirkan dengan bakat-bakat yang lebih besar daripada dia. Aku bermaksud
lebih maju daripada dia. Menjadi pemain pedang yang tak dikenal di daerah pedesaan bukanlah tujuanku.” “Engkau bersungguh-sungguh?” “Tidak salah lagi.” Kojiro tidak menyesal mengungkapkan ambisi-ambisinya, sekalipun menurut ukuran biasa
tak patut. “Aku berterima kasih pada Jisai, tapi sertifikat dari sekolah desa yang tidak begitu dikenal itu lebih merugikan diriku daripada menguntungkan. Ito Ittosai menerima sertifikatnya, tapi dia tidak meneruskan Gaya Chujo. Dia menciptakan gayanya yang baru. Aku bermaksud berbuat demikian juga. Kepentinganku adalah menciptakan Gaya Ganryu. Tak lama lagi nama Ganryu akan sangat terkenal. Engkau lihat, dokumen itu tak ada artinya buatku. Bawa itu kembali ke Kozuke dan minta kuil di sana menyimpannya bersama catatan kelahiran dan kematian.” Tak ada sama sekali nada kesederhanaan ataupun kerendahan hati dalam bicara Kojiro.
Gempachi memandangnya benci. “Tolong sampaikan salamku untuk keluarga Kusanagi,” kata Kojiro sopan. “Beberapa lama lagi aku akan pergi ke timur dan mengunjungi mereka. Yakinlah.” Dan ia akhiri kata-kata perpisahan itu dengan senyum lebar.
Bagi Gempachi, pameran kesopanan yang terakhir itu mengandung sikap menggurui. Ia berpikir untuk menegur Kojiro atas sikapnya yang tak kenal terima kasih dan tidak hormat kepada Jisai itu, tapi sesudah mempertimbangkannya lagi sejenak, ia menganggap buang-buang waktu saja. Maka pergilah ia menghampiri bungkusannya, memasukkan sertifikat ke dalamnya, dan mengucapkan selamat berpisah singkat dan pergi.
Sesudah ia pergi, Kojiro tertawa senang sekali. “Aduh, aduh, dia marah rupanya. Ha, ha, ha, ha!” Kemudian ia menoleh kepada Matahachi. “Nah, apa sekarang katamu tentang dirimu sendiri, orang palsu tak berguna?”
Matahachi tentu saja tak bisa bicara apa-apa.
“Jawab pertanyaanku! Kamu mengaku mencoba memalsukan aku, kan?”
“Ya..”
“Aku tahu namamu Matahachi, tapi siapa nama lengkapmu?”
“Hon’iden Matahachi.”
“Apa kamu ronin?”
“Ya.”
“Ambil pelajaran dariku, keledai tak bertulang punggung! Kaulihat aku mengembalikan sertifikat itu, kan? Kalau orang lelaki tak punya keberanian berbuat seperti itu, tak bakal dia dapat melakukan apa-apa sendiri. Tapi! coba lihat dirimu itu! Kamu pakai nama orang lain, mencuri sertifikatnya. dan ke sana kemari hidup dengan reputasinya. Apa ada yang lebih keji daripada itu? Barangkali pengalaman malam ini memberikan pelajaran kepadamu: kucing bisa saja mengenakan kulit macan, tapi tetap saja dia kucing.”
“Saya akan berhati-hati sekali di masa depan.”
“Aku menahan diri tidak membunuhmu, tapi kukira lebih baik kamu membebaskan dirimu sendiri, kalau kau bisa.” Tapi tiba-tiba Kojiro mendapat pikiran baru. Ia hunus belati dari sarungnya dan ia pun mengorek¬ngorek kulit pohon di atas kepala Matahachi. Serpihan kulit pohon berjatuhan ke leher Matahachi. “Aku butuh alat tulis,” gumam Kojiro.
“Ada kantong kuas dan tempat tinta dalam obi saya,” kata Matahachi ingin membantu.
“Bagus! Kupinjam sebentar.”
Kojiro membasahi kuas itu dengan tinta dan menulis di atas petak batang pohon yang sudah ia korek kulitnya. Kemudian ia mundur sedikil mengagumi hasil kerjanya. “Orang ini,” bunyinya, “adalah penipu lihai. Dengan menggunakan nama saya, ia pergi ke sana kemari di pedesaan. melakukan perbuatan tidak terhormat. Saya sudah menangkapnya, dan saya meninggalkannya di sini untuk diejek-ejek oleh siapa saja. Nama saya, dan nama pedang saya yang menjadi milik saya seorang, adalah Sasaki Kojiro, Ganryu.”
“Cukup begini,” kata Kojiro puas.
Di hutan gelap itu angin menderu seperti air pasang. Kojiro pergi sambil memikirkan ambisi masa depannya dan kembali menempuh jalur aksinya waktu itu. Matanya menyala ketika ia menerobos hutan, seperti seekor macan tutul.
Adik
SEMENJAK zaman kuno, orang-orang kelas tertinggi dapat naik joli. Baru belakangan saja joli jenis sederhana dapat dipergunakan oleh orang kebanyakan. Joli itu sedikit lebih besar dari keranjang besar bersisi rendah yang diikatkan pada pikulan. Supaya penumpang tidak jatuh keluar, ia harus berpegangan erat pada tali di depan dan belakang. Para pemikul yang biasanya menyanyi berirama untuk menyamakan langkah, mempunyai kecenderungan memperlakukan penumpangnya sebagai muatan. Orang-orang yang memilih bentuk kendaraan ini dinasihatkan untuk menyesuaikan napasnya dengan irama pemikul, terutama apabila para pemikul berlari.
Joli yang berjalan cepat ke arah hutan pinus di Jalan Gojo itu diiringi tujuh atau delapan orang. Baik pemikul maupun orang-orang lainnya terengah-engah, seakan hendak memuntahkan jantung mereka.
“Kita sampai di Jalan Gojo.”
“Apa ini bukan Matsubara?”
“Tidak jauh lagi.”
Walaupun lentera-lentera yang mereka bawa berbulu jambul seperti yang biasa dipakai para pelacur bersurat ijin di wilayah Osaka, penumpangnya bukanlah kupu-kupu malam.
“Pak Denshichiro!” seru salah seorang pembantu di depan. “Kita hampir sampai di Jalan Shijo.”
Denshichiro tidak mendengar. Ia tertidur, kepalanya berayun-ayun naik turun seperti kepala macan kertas. Kemudian keranjang itu tersentak, dan seorang pemikul mengeluarkan tangan untuk menahan penumpangnya agar tidak jatuh.
Sambil membuka matanya yang besar, Denshichiro berkata, “Aku haus. Kasih aku sake!”
Senang karena mendapat kesempatan beristirahat, para pemikul menurunkan joli ke tanah dan mulai menghapus keringat lengket dari wajah dan dada mereka yang berambut dengan saputangan.
“Sake tinggal sedikit lagi,” kata seorang pembantu sambil menyerahkan tabung bambu pada Denshichiro.
Denshichiro mengosongkannya dengan sekali teguk, kemudian mengeluh. “Dingin sekali, sampai ngilu gigiku.” Tapi sake itu cukup menyegarkannya karena ia menyatakan, “Masih gelap. Rupanya jalan kita cepat sekali.”
“Kalau menurut kakak Bapak, tentunya lambat sekali. Dia begitu ingin bertemu dengan Bapak, hingga tiap menit seperti setahun.”
“Kuharap dia masih hidup.”
“Dokter bilang dia akan sembuh. Tapi dia gelisah, dan lukanya terus mengeluarkan darah. Itu berbahaya.”
Denshichiro mengangkat tabung kosong itu ke bibirnya dan menjungkirkannya. “Musashi!” katanya muak sambil melemparkan tabung. “Mari jalan!” lenguhnya. “Lekas!”
Denshichiro memang peminum kuat, tapi ia pesilat yang lebih kuat lagi dan cepat marah. Ia hampir merupakan kebalikan dari kakaknya. Ketika Kempo masih hidup pun sudah ada orang-orang yang berani menyatakan bahwa ia lebih mampu daripada ayahnya. Pemuda itu sendiri sependapat dengan pandangan orang tentang bakat-bakatnya itu. Ketika ayah mereka masih hidup, kedua bersaudara tersebut berlatih bersama di dojo, dan di situ mereka dapat bekerja sama, tapi begitu Kempo meninggal, Denshichiro tidak lagi ambil bagian dalam kegiatan sekolah, dan bahkan sampai pernah langsung mengatakan kepada Seijuro bahwa Seijuro harus mundur dan menyerahkan segala yang menyangkut permainan pedang kepadanya.
Semenjak keberangkatannya ke Ise tahun lalu, orang memberitakan bahwa ia menghabiskan waktunya di Provinsi Yamato. Barulah sesudah terjadi bencana di Rendaiji, orang dikirim untuk mencarinya. Sekalipun tak suka kepada Seijuro, Denshichiro langsung sepakat untuk kembali.
Dalam perjalanan tergesa-gesa kembali ke Kyoto itu, ia memburu-buru para pemikul demikian hebatnya, hingga tiga atau empat kali mereka mesti diganti. Tapi ada saja waktunya buat berhenti di setiap pemberhentian di jalan raya untuk membeli sake. Barangkali alkohol itu dibutuhkannya untuk menenangkan saraf, karena memang ia dalam ketegangan luar biasa.
Ketika mereka baru akan berangkat lagi, anjing-anjing yang menggonggong di hutan gelap itu memikat perhatian mereka.
“Apa itu kira-kira?”
“Cuma segerombolan anjing.”
Kota itu memang penuh anjing liar. Bergerombol-gerombol mereka masuk kota, karena tidak ada lagi pertempuran yang menyediakan daging manusia buat mereka.
Denshichiro berteriak marah agar orang-orang tidak membuang-buang waktu lagi, tapi salah seorang murid berkata, “Tunggu dulu; ada yang aneh di sana.”
“Coba lihat, ada apa,” kata Denshichiro yang kemudian pergi sendiri mendahului.
Sesudah Kojiro pergi, anjing-anjing itu datang kembali. Tiga atau empat kawanan anjing di sekitar Matahachi dan pohon tempat ia terikat itu heboh besar. Kalau saja anjing-anjing bisa mengungkapkan perasaan, mungkin dapat dibayangkan bahwa mereka sedang melakukan balas dendam atas kematian seekor dari kawannya.
Namun yang lebih mungkin adalah mereka sekadar menyiksa korban yang menurut mereka dalam keadaan tak berdaya. Semuanya tampak lapar, seperti serigala-perutnya cekung, tulang punggungnya tajam seperti pisau, dan giginya demikian tajam, seperti dikikir.
Matahachi jauh lebih takut pada anjing-anjing itu daripada kepada Kojiro atau Gempachi. Karena tak dapat menggunakan tangan dan kakinya, senjatanya tinggal wajah dan suaranya.
Semula dengan naif ia mencoba mengajak bicara binatang-binatang itu, tapi kemudian ia mengubah taktik. Ia melolong seperti binatang liar. Anjing-anjing itu menjadi takut dan mundur sedikit. Tapi kemudian hidung Matahachi mulai beringus dan efek lolongannya segera menurun.
Berikutnya ia membuka mulut dan mata selebar mungkin, dan menatap tanpa mengedip. Ia kerutkan muka dan ia julurkan lidahnya hingga dapat menyentuh ujung hidung, tapi ia justru jadi cepat kehabisan tenaga. Dengan mengerahkan kekuatan otaknya kembali, ia berpura-pura menjadi seekor dari mereka dan tidak memusuhi mereka. Ia menyalak, bahkan membayangkan dirinya memiliki ekor untuk dikibas-kibaskan.
Gonggongan makin lama makin keras. Anjing-anjing yang terdekat memperlihat-kan gigi ke muka Matahachi dan menjilati kakinya.
Dengan harapan dapat menenangkan anjing-anjing itu dengan musik, mulailah Matahachi menyanyikan bagian yang terkenal dari dongeng tentang Heike, menirukan tukang nyanyi yang biasa keliling membawakan cerita itu dengan iringan kecapi.
Kemudian kaisar yang menyendiri itu memutuskan Pada musim semi tahun kedua Melihat vila luar kota Kenreimon’in, Di pegunungan dekat Ohara. Tetapi selama bulan kedua dan ketiga Angin bertiup kencang, dan udara dingin mengepung, Dan salju putih di puncak gunung pun tidak mencair.
Dengan mata terpejam, muka menegang menyeringai kesakitan, Matahachi menyanyi keras hingga hampir memekakkan dirinya sendiri. Ia masih menyanyi ketika Denshichiro dan teman-temannya datang dan anjing¬anjing itu lari cerai-berai.
Lupa akan harga dirinya, Matahachi berteriak, “Tolong! Selamatkan saya!”
“Saya pernah lihat orang ini di Yomogi,” kata salah seorang samurai.
“Ya, ini suami Oko.”
“Suami? Seharusnya dia tak punya suami.”
“Itu ceritanya pada Toji.”
Karena kasihan kepada Matahachi, Denshichiro memerintahkan orang-orang itu berhenti bergunjing dan membebaskannya.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, Matahachi mengarang cerita. Sifat-sifatnya yang luhur dilukiskan dengan baik sekali, sedangkan kelemahankelemahannya tak disinggung sama sekali. Mengambil keuntungan dari pembicaraannya dengan pengikut Yoshioka, ia menampilkan nama Musashi. Ia ungkapkan bahwa di masa kecil ia dan Musashi bersahabat, sampai kemudian Musashi melarikan tunangannya dan melumuri keluarganya dengan aib yang tak dapat dilukiskan. Ibunya yang gagah berani sudah bersumpah takkan pulang. Baik ibunya maupun dirinya bertekad akan menemukan Musashi dan menghancurkannya. Suatu hal yang jauh dari kebenaran kalau orang mengatakan bahwa ia suami Oko. Ia memang lama tinggal di Warung Teh Yomogi, tapi itu bukan karena ada hubungan pribadi dengan pemiliknya. Buktinya Oko jatuh cinta kepada Gion Toji.
Kemudian ia menjelaskan kenapa ia terikat pada pohon itu. Ia diserang kawanan perampok yang merampas uangnya. Tentu saja ia tidak melakukan perlawanan. Ia mesti berhati-hati agar tidak terluka justru karena kewajiban terhadap ibunya.
Dengan harapan mereka percaya akan semua itu, kata Matahachi, “Terima kasih. Saya merasa barangkali nasiblah yang mempertemukan kita. Ada satu orang yang sama-sama menjadi musuh kita, musuh yang tak bisa kita biarkan hidup di bawah naungan langit kita. Malam ini Anda sekalian datang justru pada saat yang tepat. Saya berterima kasih untuk selamanya.
“Dari penampilan Anda, saya menduga Anda Denshichiro. Saya merasa pasti Anda punya rencana menghadapi Musashi. Siapa di antara kita yang akan membunuhnya lebih dahulu tidak dapat saya katakan, tapi saya berharap akan mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Anda.”
Ia tak ingin memberikan kesempatan pada mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, karena itu ia bergegas pergi. “Osugi, ibu saya, sedang berziarah ke Kiyomizudera untuk berdoa demi suksesnya pertempuran kami melawan Musashi. Saya dalam perjalanan menjumpainya sekarang. Tak lama lagi pasti saya berkunjung ke rumah di Jalan Shijo untuk menyatakan penghormatan saya. Sementara itu, izinkan saya memohon maaf karena menghambat Anda yang sedang demikian terburu-buru.”
Dan pergilah ia cepat-cepat, hingga para pendengarnya terheran-heran, seberapa benar isi cerita itu.
“Siapa pula badut itu?” dengus Denshichiro sambil mendecapkan lidah, menyesali waktunya yang terbuang.
Seperti dikatakan dokter, beberapa hari pertama akan merupakan hari-hari terberat. Waktu itu hari keempat. Malam sebelumnya Seijuro sudah merasa sedikit lebih ringan.
Pelan-pelan ia membuka mata dan bertanya-tanya malamkah itu atau siang. Lampu bertutup kertas di samping bantalnya hampir mati. Dari kamar sebelah terdengar suara dengkur. Orang-orang yang menjaganya jatuh tertidur.
“Aku mestinya masih hidup,” pikirnya. “Hidup tapi dalam keadaan malu sekali!” Ia menarik selimut ke wajahnya dengan jari-jari gemetar. “Bagaimana aku dapat menghadapi orang lain sesudah ini?” ia menelan ludah keraskeras untuk menindas air matanya. “Habislah semuanya!” rintihnya. “Ini akhir diriku dan akhir Keluarga Yoshioka.”
Seekor ayam jantan berkokok dan lampu man dengan suara mendetik. Ketika cahaya fajar yang redup menjalar ke dalam ruangan, ia terkenang kembali akan pagi di Rendaiji itu. Pandangan mata Musashi! Kenangan itu membuatnya menggigil. Terpaksa ia mengakui bahwa ia bukanlah tandingan orang itu. Kenapa ia tidak membuang saja pedang kayunya, mengaku kalah, dan berusaha menyelamatkan reputasi keluarganya?
“Terlalu tinggi aku menilai diriku,” rintihnya. “Padahal selain menjadi anak Yoshioka Kempo, apa yang pernah kulakukan untuk meningkatkan diriku?”
Bahkan ia menyadari bahwa cepat atau lambat akan tiba saat keruntuhan Keluarga Yoshioka jika ia tetap memegang kendalinya. Dengan terjadinya perubahan suasana, tidak mungkin keluarga itu terus sejahtera.
“Pertarunganku dengan Musashi itu sekadar mempercepat keruntuhan. Kenapa.aku tidak mati saja di sana? Kenapa pula aku hidup?”
Ia mengerutkan kening. Bahunya yang tak berlengan berdenyut-denyut sakit. Hanya beberapa detik
sesudah terdengar ketukan di gerbang depan, satu orang masuk membangunkan samurai di kamar Seijuro. “Denshichiro?” tanya suatu suara kaget. “Ya, dia baru saja datang.” Dua orang bergegas menjumpainya, seorang lagi berlari ke sisi Seijuro.
“Pak! Berita baik! Denshichiro pulang.” Daun jendela dibuka, arang dimasukkan ke anglo, dan sebuah bantal ditata di lantai. Sebentar kemudian suara Denshichiro terdengar dari sebelah shoji, “Kakakku ada di sini?”
Seijuro terkenang masa lalu. “Lama sudah waktu itu.” Walaupun ia minta berjumpa dengan Denshichiro, ia takut dilihat dalam keadaannya sekarang, terutama oleh adiknya. Ketika Denshichiro masuk Seijuro menengadah lemah dan mencoba tersenyum, namun tak berhasil.
Denshichiro berbicara bersemangat. “Lihat, kan?” ia tertawa. “Kalau engkau dalam kesulitan, adikmu yang tak berguna ini datang menolongmu. Kutinggalkan segalanya dan aku datang selekas-lekasnya. Kami berhenti di Osaka untuk membeli perbekalan, kemudian jalan lagi sepanjang malam. Aku di sini sekarang, jadi engkau dapat merasa tenang. Apa pun yang terjadi, takkan kubiarkan seorang pun menjamahkan jari ke sekolah ini…
“Apa ini?” katanya kasar sambil menoleh pada seorang pelayan yang membawakan teh. “Aku tak perlu teh! Sana pergi ambil sake.” Kemudian ia berteriak pada seseorang supaya menutup pintu-pintu luar. “Apa kalian semua gila? Apa tidak kalian lihat kakakku kedinginan?”
Ia duduk mencangkung ke anglo serta memandang diam wajah si sakit. “Jurus apa yang engkau pergunakan dalam pertarungan itu?” tanyanya. “Kenapa kau kalah? Mungkin saja Miyamoto Musashi sedang menanjak sekarang, tapi dia tak lebih dari pemula biasa, kan? Bagaimana bisa engkau membiarkan dirimu lengah diserang oleh orang tak punya nama macam dia?”
Salah seorang murid menyebut nama Denshichiro dari pintu masuk. “Nah, ada apa?” “Sake sudah siap.” “Bawa masuk!” “Sudah saya siapkan di kamar lain. Tuan mau mandi dulu, kan?” “Aku tak mau mandi! Bawa sake itu ke sini.” “Di samping tempat tidur Tuan Muda?” “Kenapa tidak? Aku sudah beberapa bulan tidak melihat dia, dan aku ingin bicara dengannya. Hubungan
kami memang selalu kurang baik, tapi tak ada yang lebih baik dari saudara, kalau kita memerlukannya. Aku
minum di sini dengan dia.” Ia menuang untuk dirinya semangkuk penuh, kemudian semangkuk lagi. dan bermangkuk-mangkuk lagi. “Oh, enak. Kalau kau sehat, kutuangkan juga untukmu.”
Seijuro menyabarkan diri beberapa menit lamanya, kemudian mengangkat mata dan katanya, “Bagaimana kalau kau tidak minum di sini?” “Ha?” “Bikin teringat hal-hal yang tak menyenangkan.”
“Oh?” “Terpikir olehku ayah kita. Dia takkan senang melihat caramu dan caraku memperturutkan hati. Dan apa gunanya bagi kita?”
“Kenapa kau ini?”
“Barangkali kau belum lagi melihatnya, tapi sementara berbaring di tempat ini, aku sudah sempat menyesali hidupku yang terbuang sia-sia.”
Denshichiro tertawa. “Bicaralah atas nama dirimu sendiri! Sejak dulu kau selalu gugup dan sensitif. Itu sebabnya kau tak akan menjadi jago pedang sejati. Kalau kau mau mendengar yang sebenarnya, kupikir salah engkau menghadapi Musashi. Tapi sesungguhnya tak ada bedanya, apa itu Musashi atau yang lain. Berkelahi tak ada dalam darahmu. Kau mesti menganggap kekalahan ini sebagai pelajaran, dan kau mesti melupakan permainan pedang. Seperti kukatakan dulu, kau mesti mengundurkan diri. Kau masih mengepalai Keluarga Yoshioka. Jika ada orang menantangmu hingga engkau tak dapat menghindarinya, aku yang akan berkelahi untukmu. Tinggalkan dojo itu padaku dari sekarang. Akan kubuktikan aku dapat membuatnya beberapa kali lebih berhasil dari zaman ayah kita. Kalau engkau mau menyingkirkan kecurigaanmu bahwa aku mencoba merebut perguruanmu, akan kutunjukkan padamu apa yang dapat kulakukan.” Ia tuangkan sisa sake yang terakhir ke dalam mangkuknya.
“Denshichiro?” teriak Seijuro. Ia mencoba bangkit dari kasur jeraminya, menepiskan selimut pun ia tak dapat. Ia rebah kembali, kemudian mengulurkan tangan dan menangkap pergelangan adiknya.
“Awas!” gerutu Denshichiro. “Bisa tumpah.” Ia memindahkan mangkuknya ke tangan lain.
“Denshichiro, dengan senang hati akan kuserahkan perguruan ini kepadamu, tapi engkau mesti menerima juga kedudukanku sebagai kepala rumah.”
“Baik, kalau itu yang kaukehendaki.”
“Engkau jangan menerima beban itu demikian gampang. Lebih baik pikirkan dulu. Aku sendiri lebih suka… menutup tempat ini daripada mengulangi kesalahan yang kuperbuat dan mendatangkan aib yang lebih besar lagi kepada ayah kita.”
“Jangan edan begitu. Aku tidak seperti kau.”
“Apa kau berjanji akan memperbaiki cara-cara hidupmu?”
“Tunggu! Aku akan minum kapan aku mau kalau itu yang kaumaksudkan.”
“Aku tidak keberatan engkau minum, asalkan tidak sampai keterlaluan bagaimana, kesalahan-kesalahan yang telah kubuat sebenarnya tidak, babkan oleh sake”
“Aku berani bertaruh, kesulitanmu itu menyangkut perempuan. Yang mesti kaulakukan kalau nanti engkau sembuh adalah kawin dan menetap.
“Tidak. Aku memang akan meninggalkan pedang, tapi belum waktunya berpikir tentang beristri. Namun ada satu orang yang mesti mendapat perhatianku. Tapi kalau aku bisa mendapat keyakinan bahwa dia bahagia, tak ada lagi yang kuminta. Aku puas hidup sendiri di sebuah gubuk beratap ilalang di hutan.”
“Siapa dia itu?”
“Tak usahlah, karena tak ada urusannya denganmu. Sebagai samurai aku mesti bertahan dan mencoba menebus diriku. Tapi aku bisa menindas harga diriku. Ambillah tanggung jawab perguruan ini.”
“Akan kulakukan, aku berjanji. Aku juga bersumpah, tak lama lagi akan kujernihkan namamu. Tapi di mana Musashi sekarang?”
“Musashi?” Seijuro tercekik. “Kukira engkau takkan memerangi Musashi! Baru saja kuperingatkan engkau untuk tidak berbuat kesalahan yang sama dengan yang kubuat.”
“Mana boleh aku memikirkan yang lain? Apa bukan ini sebabnya kau memanggilku? Kita mesti menemukan Musashi, sebelum dia meloloskan diri. Kalau bukan karena itu, ada urusan apa aku begini cepat pulang?”
“Kau tidak mengerti apa yang kubicarakan.” Seijuro menggelengkan kepala. “Kularang engkau melawan Musashi!”
Nada bicara Denshichiro mengandung kebencian. Selamanya ia jengkel menerima perintah kakaknya.
“Kenapa?” Rona merah muda muncul di pipi Seijuro yang pucat. “Engkau takkan bisa menang!” katanya singkat. “Siapa takkan bisa menang?” Muka Denshichiro jadi kebiruan. “Kau. Takkan bisa engkau melawan Musashi.” “Kenapa begitu?” “Engkau tak cukup kuat.” “Omong kosong!” Dengan sengaja Denshichiro memperdengarkan tawanya hingga bahunya berguncang.
Dilepaskannya tangannya dari Seijuro dan dibalikkannya guci sake. “Hei, bawa sake sini!” lenguhnya. “Tak ada sisa lagi.” Ketika seorang murid masuk membawa sake, Denshichiro sudah tidak ada lagi di dalam kamar, sedangkan
Seijuro tengkurap di bawah selimut. Ketika murid itu menelentangkannya dan menaruh kepalanya di atas
bantal, kata Seijuro pelan, “Panggil dia lagi kemari. Ada yang mau kukatakan lagi kepadanya.” Merasa senang karena majikannya bicara jelas, orang itu berlari ke luar mencari Denshichiro. Ia menemukannya sedang duduk di lantai dojo dengan Ueda Ryohei dan Miike Jurozaemon, Nampo Yoichibei, Otaguro Hyosuke, dan beberapa murid senior.
Satu orang bertanya, “Bapak sudah ketemu Seijuro?” “Ya, aku barusan di kamarnya.” “Dia tentu senang melihat Bapak.” “Kelihatannya tidak begitu senang. Sebelum masuk kamarnya, aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi dia
sedang murung dan uring-uringan. karena itu kukatakan saja apa yang ingin kukatakan. Kami jadi bertengkar, seperti biasa.” “Bapak bertengkar dengannya? Mestinya tak usah. Dia baru mulai sembuh.”
“Tunggu sampai kaudengar seluruh ceritanya.” Denshichiro dan murid-murid senior itu sudah seperti sahabat lama. Ia mencekal bahu Ryohei yang mencela tadi dan ia guncangkan bahu itu dengan sikap bersahabat.
“Dengar apa yang dikatakan kakakku,” mulainya. “Dia bilang aku tak boleh menjernihkan namanya dengan melawan Musashi, karena aku tak dapat mengalahkan Musashi! Dan kalau aku kalah, Keluarga Yoshioka akan runtuh. Dia bilang dia akan mengundurkan diri dan menerima tanggung jawab aib yang terjadi. Dia tak ingin aku melakukan yang lain kecuali melanjutkan pekerjaannya dan kerja keras menegakkan kembali sekolah.”
“Oh, begitu?” “Apa maksudmu berkata begitu?” Ryohei diam saja. Ketika mereka sedang duduk diam, murid itu masuk dan berkata pada Denshichiro, “Bapak Seijuro minta
Anda kembali ke kamarnya.” Denshichiro memberengut. “Bagaimana dengan sake itu?” detapnya. “Saya tinggalkan di kamar Pak Seijuro.” “Nah, bawa kemari.” “Bagaimana dengan kakak Anda?”
“Dia rupanya menderita kegugupan. Kerjakan seperti kukatakan.”
Protes dari yang lain-lain bahwa mereka tak ingin minum dan bahwa ini bukan waktu minum, membikin jengkel Denshichiro, dan ia menyerang mereka. “Apa yang terjadi dengan kalian semua? Apa kalian takut kepada Musashi juga?”
Rasa terguncang, rasa sakit, dan rasa sedih tergambar jelas pada wajah mereka. Sampai tiba ajal mereka, mereka akan tetap ingat, bagaimana guru mereka dibikin cacat hanya dengan satu pukulan pedang kayu, dan perguruan mereka dibikin malu. Namun demikian, tak dapat mereka menyusun satu rencana aksi. Setiap pembicaraan tentang tiga hari lalu itu memecah mereka menjadi dua kelompok, sebagian menyetujui dilontarkannya tantangan kedua, sebagian lagi menyatakan lebih baik membiarkan saja pengalaman buruk yang lalu itu. Sekarang beberapa orang yang lebih tua dapat menerima pendapat Denshichiro, sedangkan sebagian lagi, termasuk Ryohei, cenderung setuju dengan guru mereka yang telah dikalahkan. Sayangnya, anjuran Seijuro untuk bersabar itu sukar sekali disetujui para murid, terutama di hadapan adik yang berkepala panas itu.
Melihat keraguan sikap mereka, Denshichiro mengatakan, “Biarpun kakakku sudah luka, tak perlu dia berlaku seperti pengecut. Macam perempuan saja! Bagaimana mungkin aku diminta mendengarkan kata¬katanya, apalagi menyetujuinya?”
Sake datang, ia menuangkannya seorang semangkuk. Sekarang, karena ia yang akan memegang kendali, ia bermaksud membawakan gaya yang ia sukai: semua orang ini harus merupakan kesatuan manusia sejati.
“Dan inilah yang akan kulakukan,” katanya mengumumkan. “Aku akan melawan Musashi dan mengalahkannya! Tak peduli apa yang dikatakan kakakku. Kalau menurutnya kita mesti membiarkan orang ini lepas setelah melakukan perbuatannya itu, tidak mengherankan kalau dia kalah. Jangan sampai siapa pun di antara kalian berbuat kesalahan dengan menyangka aku ini masih hijau macam dia.”
Nampo Yoichibei angkat bicara. “Tak ada persoalan tentang kemampuan Anda. Kami semua yakin, tapi…”
“Tapi apa? Apa yang terpikir olehmu?”
“Nah, kakak Anda rupanya berpendapat Musashi tidak penting. Dia benar, kan? Pikirkan risikonya…”
“Risiko?” lolong Denshichiro.
“Eh, maksud saya bukan begitu! Saya cabut kembali kata-kata saya.,” gagap Yoichibei.
Tapi sudah terlambat. Denshichiro melompat dan menangkap tengkuk Yoichibei, lalu membenturkannya keras-keras ke dinding. “Keluar dari sini! Pengecut!”
“Saya tadi keliru mengucapkan. Yang saya maksud…”
“Tutup mulutmu! Keluar! Orang lemah tak pantas minum denganku.”
Yoichibei pucat, kemudian diam berlutut menghadap semua yang lain. “Saya ucapkan terima kasih kepada Anda sekalian yang mengizinkan sava berada di tengah Anda sekalian demikian lama,” katanya pendek. Ia pergi ke tempat suci Shinto di belakang kamar, membungkuk, dan pergi.
Tanpa menoleh lagi ke arahnya, Denshichiro berkata, “Mari sekarang kita semua minum. Sesudah itu, kuminta kalian mencari Musashi. Kukira dia belum meninggalkan Kyoto. Barangkali dia masih berkeliaran membanggakan kemenangannya.
“Dan satu hal lagi. Kita akan kembali memberikan semangat kepada dojo ini. Aku minta kalian masing¬masing berlatih keras dan mengajak murid lain berbuat demikian juga. Sesudah beristirahat, aku sendiri mulai berlatih. Dan ingat satu hal ini: Aku bukan orang lunak macam kakakku. Murid yang termuda pun kuminta berusaha sebaik-baiknya.”
Tepat seminggu kemudian, seorang di antara murid yang masih muda datang berlari-lari masuk dojo, membawa berita, “Saya sudah menemukannya!”
Sesuai dengan ucapannya, Denshichiro berlatih dengan keras hari demi hari. Tenaganya yang seakan tak ada habis-habisnya itu membikin para murid kagum. Sekelompok di antara mereka sedang memperhatikan bagaimana ia menangani Otaguro, salah seorang dari murid yang paling berpengalaman, seakan-akan murid itu masih kanak-kanak.
“Kita berhenti sekarang,” kata Denshichiro sambil menarik pedang dan duduk di ujung petak latihan. “Kamu bilang sudah menemukannya?” “Ya.” Murid itu mendekat dan berlutut di depan Denshichiro. “Di mana?” “Di timur Jissoin, di Jalan Hon’ami. Musashi tinggal di rumah Hon’ami Koetsu. Saya yakin.” “Aneh. Bagaimana mungkin orang kasar macam Musashi sampai kenal orang macam Koetsu?”
“Saya tidak tahu, tapi dia di situ.” “Baiklah, mari mengejarnya. Sekarang!” salak Denshichiro sambil melangkah mempersiapkan diri. Otaguro dan Ueda yang mengikutinya mencoba mencegahnya.
“Menyergap dia bisa tampak seperti perkelahian umum. Orang-orang takkan menyetujuinya, biarpun kita menang.”
“Tidak apa. Etiket itu untuk dojo. Dalam pertempuran sebenarnya yang menang itulah yang menang!” “Betul, tapi bukan itu cara yang dipakai orang bebal itu mengalahkan kakak Anda. Apa menurut Anda tidak lebih cocok buat pemain pedang kalau mengirimkan surat kepadanya untuk menetapkan waktu dan tempat, kemudian mengalahkannya dengan adil dan jujur?”
“Barangkali juga engkau benar. Baik, akan kita lakukan demikian. Sementara itu, aku tak ingin siapa pun di antara kalian memberikan peluang kepada kakakku mempengaruhi kalian untuk melawanku. Aku akan melawan Musashi, apa pun yang dikatakan Seijuro atau yang lain lagi.”
“Sudah kita singkirkan semua orang yang tidak sependapat dengan Anda, juga orang-orang yang tak kenal
terima kasih dan ingin pergi.” “Bagus! Jadi, kita sudah jauh lebih kuat sekarang. Kita tidak butuh orang-orang brengsek macam Gion Toji atau orang-orang penakut macam Nampo Yoichibei.”
“Apa akan kita sampaikan pada kakak Anda sebelum kita kirimkan surat?” “Jangan! Aku sendiri tak akan menyampaikannya.” Ketika ia pergi ke kamar Seijuro, yang lain-lain pun berdoa semoga takkan terjadi lagi bentrokan antara dua
bersaudara. Keduanya memang tak mau sedikit pun mundur dalam persoalan Musashi: Ketika ternyata tidak terdengar suara-suara dari kamar sesudah beberapa waktu lewat, para murid pun mulai membicarakan waktu dan tempat untuk konfrontasi kedua dengati musuh bebuyutan mereka.
Tapi waktu itulah suara Denshichiro terdengar berderai, “Ueda! Miike! Otaguro… semua kalian! Sini!”
Denshichiro berdiri di tengah kamar dengan pandangan murung dan air mata bercucuran. Tak seorang pun pernah melihatnya dalam keadaan seperti itu. “Coba kalian semua lihat ini.” Ia angkat tinggi-tinggi sepucuk surat yang sangat panjang, dan katanya dengan kemarahan dipaksakan,
“Coba lihat apa yang sudah diperbuat kakakku yang goblok itu. Dia mengemukakan lagi pendapatnya padaku, tapi dia pergi selamanya…. Bahkan tidak menyebutkan ke mana perginya.”
Cinta Seorang Ibu
OTSU menurunkan jahitannya dan berseru, “Siapa itu?”
Dibukanya shoji yang menghadap beranda, tapi tak seorang pun kelihatan Semangatnya terbang. Tadinya ia mengharap orang itu Jotaro. Sekarang in: ia butuh sekali anak itu, lebih butuh dari kapan pun.
Lagi satu hari yang penuh kesepian. la tak dapat mencurahkan perhatiannya kepada kerja menjahit itu.
Di bawah Kiyomizudera ini, di kaki Bukit Sannen, jalan-jalan kotor sekali, tetapi di belakang rumah-rumah dan warung terdapat rumpunrumpun bambu dan ladang-ladang kecil, bunga-bunga kamelia yang sedang berkembang, prem yang mulai berjatuhan. Osugi suka sekali penginapan khusus ini. Ia selalu tinggal di situ bila berada di Kyoto, dan pemilik penginapan selalu menyediakan baginya rumah kecil, terpisah, dan tenang ini. Di belakangnya terdapat petak pohon-pohon, bagian dari kebun rumah sebelah. Di depan terdapat kebun sayuran kecil dan di sebelahnya dapur penginapan yang selalu sibuk.
“Otsu!” terdengar suara dari dapur. “Sudah waktunya makan siang. Boleh kubawa masuk sekarang?”
“Makan siang?” tanya Otsu. “Aku akan makan dengan nyonya tua itu saja, kalau nanti dia kembali.”
“Dia sudah bilang takkan lekas pulang. Barangkali sampai malam.”
“Aku tidak lapar.”
“Tak mengerti aku, bagaimana engkau bisa tahan, makan begitu sedikit. ”
Asap kayu pinus mengepul masuk ruangan dari tempat pembakaran tembikar di sekitar tempat itu. Pada hari-hari pembakaran selamanya banyak asap. Tetapi sesudah udara bersih, langit awal musim semi itu lebih biru daripada biasa.
Dari jalan terdengar suara kuda, langkah kaki, dan suara para peziarah yang sedang dalam perjalanan ke kuil. Dari orang-orang lewat itulah cerita tentang kemenangan Musashi atas Seijuro sampai di telinga Otsu. Wajah Musashi terbayang di depan matanya. “Jotaro tentunya ada di Rendaiji hari itu,” pikirnya. “Oh, coba kalau dia datang dan menceritakannya padaku.”
Ia tak yakin anak itu mencarinya dan tak dapat menemukannya. Dua puluh hari telah berlalu, dan Jotaro tahu ia tinggal kaki Bukit Sannen itu. Jotaro kemungkinan sakit, tapi ia tak yakin Jotaro sakit. Jotaro bukan jenis orang yang biasa sakit. “Barangkali dia sedang main layang-layang menyenangkan diri,” katanya pada diri sendiri. Pikiran itu membuatnya sedikit kesal.
Mungkin Jotaro-lah yang justru menunggu. Memang Otsu tidak kembali ke rumah Karasumaru, walaupun ia berjanji kepada Jotaro akan segera kembali.
Sekarang Otsu tak dapat pergi ke mana-mana, karena dilarang meninggalkan penginapan tanpa izin Osugi. Osugi rupanya minta kepada pemilik penginapan dan para pembantu untuk mengawasinya. Baru ia memandang ke jalan saja orang sudah bertanya, “Engkau akan pergi, Otsu?” Pertanyaan dan nada pertanyaan itu terasa polos, tapi ia mengerti maknanya. Satu-satunya jalan baginya untuk mengirimkan surat adalah dengan mempercayakannya kepada orang-orang penginapan, yang sudah diberi instruksi untuk menyimpan baik-baik surat apa saja yang mungkin hendak dikirimnya.
Osugi cukup terkenal di wilayah itu, dan orang di situ gampang disuruh melaksanakan perintahnya. Sebagian pemilik warung, pemikul tandu, dan kusir gerobak di sekitar tempat itu ikut menyaksikan aksi Osugi tahun lalu ketika ia menantang Musashi di Kiyomizudera. Melihat sifatnya yang gampang marah itu, mereka memandangnya dengan perasaan kagum bercampur kasihan.
Ketika Otsu sekali lagi hendak menyelesaikan jahitan pakaian perjalanan Osugi yang telah dilepas jahitannya untuk dicuci, sebuah bayangan muncul di luar. Ia mendengar suara yang tak dikenalnya mengatakan, “Ah, apa saya keliru?”
Seorang perempuan muda masuk gang dari jalan, dan waktu itu sedang berdiri di bawah potion prem antara dua petak tanaman bawang. la kelihatan bingung, sedikit malu, tapi enggan kembali.
“Apa ini bukan penginapan? Ada lentera di pintu masuk gang, menyatakan ini penginapan,” katanya kepada Otsu.
Hampir Otsu tak dapat mempercayai matanya, dan demikian menyakitkan kenangan yang tiba-tiba timbul
padanya. Dengan nada bersalah, Akemi bertanya malu-malu, “Boleh tanya, yang mana yang penginapan?” Kemudian, ketika ia menoleh ke sekitar, terlihat olehnya kembang prem dan ia berseru, “Aduh, bukan main bagusnya!”
Otsu memandang saja gadis itu tanpa menjawab.
Seorang pegawai yang dipanggil salah seorang gadis dapur datang terburuburu melewati sudut penginapan. “Engkau mencari jalan masuk?” tanyanya. “Ya.” “Di sudut situ, sebelah kanan gang.” “Penginapan ini langsung menghadap jalan itu?” “Betul, tapi kamar-kamarnya tenang.” “Saya ingin tempat yang dapat dipakai keluar-masuk tanpa dilihat orang. Saya pikir tadinya penginapan ini
jauh dari jalan. Apa rumah kecil itu bukan bagian dari penginapan?” “Ya.” “Kelihatannya tenang dan enak.” “Kami ada juga kamar-kamar yang sangat enak di bangunan utama.” “Kelihatannya ada perempuan yang meninggalinya, tapi apa tak bisa saya tinggal di sana juga?” “Tapi di situ ada lagi seorang nyonya. Dia sudah tua dan agak penggugup. “Ah, tak apa-apa, asal dia mau.” “Akan saya tanya dia, kalau nanti kembali. Lagi pergi sekarang.” “Boleh saya minta kamar buat istirahat sambil menanti?” “Tentu saja.” Pegawai itu mengantar Akemi turun gang, meninggalkan Otsu. Otsu menyesal kenapa ia tidak
menggunakan kesempatan tadi dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Alangkah baiknya kalau ia bisa
sedikit lebih agresif pikirnya sedih. Untuk meredakan rasa cemburunya, berkali-kali Otsu mencoba meyakinkan dirinya bahwa Musashi bukan jenis lelaki yang biasa main-main dengan perempuan lain. Tetapi sejak hari itu ia jadi kecil hati. “Dia lebih banyak punya kesempatan berada dekat Musashi…. Barangkali dia jauh lebih pandai dari aku, dan lebih tahu bagaimana merebut hati lelaki.”
Sebelum hari itu, kemungkinan adanya perempuan lain tidak terlintas dalam pikirannya. Sekarang ia sibuk memikirkan hal yang menurut anggapannya merupakan kelemahannya sendiri. “Aku tidak cantik…. Dan tidak cemerlang…. Aku tak punya orangtua atau sanak keluarga yang menunjangku dalam perkawinan.” Kalau ia membandingkan dirinya dengan perempuan lain, terasa olehnya cita-cita hidupnya itu sesungguhnya berada di luar jangkauannya. Adalah suatu kesombongan memimpikan Musashi sebagai miliknya. Dan ia tak dapat lagi mengarahkan keberanian seperti yang pernah memungkinkannya memanjat pohon kriptomeria tua di tengah badai besar itu.
“Alangkah baiknya kalau aku mendapat bantuan Jotaro!” demikian sesalnya. Ia bahkan membayangkan dirinya telah kehilangan kemudaannya. “DI Shippoji itu aku masih memiliki sebagian dari kepolosan yang sekarang ada pada Jotaro. Itu sebabnya waktu itu aku dapat membebaskan Musashi.” Dan ia menangis bersama jahitannya.
“Kamu di situ, Otsu?” tanya Osugi angkuh. “Apa kerjamu duduk dalam gelap itu?”
Senja telah turun, tapi gadis itu tidak menyadarinya, “Oh, akan saya menyalakan lampu sekarang juga,” katanya minta maaf sambil bangkit dan kemudian pergi ke kamar kecil di belakang.
Ketika akhirnya ia masuk dan duduk, Osugi melemparkan pandangan dingin ke punggung Otsu. Otsu meletakkan lampu di samping Osugi dan membungkuk. “Nenek tentunya lelah,” katanya. “Apa yang Nenek lakukan tadi?”
“Kau mestinya tahu, tanpa mesti tanya.” “Bagaimana kalau saya pijat kaki Nenek?” “Kakiku tidak begitu capek, tapi bahuku kaku sudah empat atau lima hari terakhir ini. Barangkali karena
udara. Kalau mau pijatlah sedikit.” Kepada diri sendiri ia menyatakan ia mesti bersabar menghadapi gadis mengerikan ini sebentar lagi, sampai nanti ia bertemu Matahachi dan menyuruhnya membereskan cacat cela masa lalu itu.
Otsu berlutut di belakangnya dan mulai memijat bahunya. “Memang kaku bahunya. Tentunya sakit buat
bernapas.” “Kadang-kadang rasanya dadaku tersumbat. Tapi aku memang sudah tua. Tak lama lagi barangkali aku dapat serangan jantung dan mati.”
“Ah, tak akan terjadi. Nenek punya lebih banyak semangat hidup daripada kebanyakan orang muda.” “Mungkin juga, tapi aku teringat Paman Gon. Dia masih segar bugar waktu itu, tapi kemudian semua itu
lewat dalam sedetik. Manusia memang tak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya. Tapi tak ada yang keliru tentang satu hal itu. Supaya aku tetap menjadi diriku, aku mesti berpikir tentang Musashi.” “Dugaan Nenek tentang Musashi itu keliru. Dia bukan orang jahat.” “Ya, ya, betul,” kata perempuan tua itu, mendengus sedikit. “Biar bagaimana, dia lelaki yang begitu
kaucintai, sampai kau meninggalkan anakku. Sudahlah, aku takkan bicara jelek tentang dia padamu.” “Oh, bukan itu maksud saya!” “Bukan, begitu? Kau lebih cinta pada Musashi daripada pada Matahachi, kan? Kenapa tidak diakui saja?” Otsu terdiam, dan perempuan itu melanjutkan, “Kalau nanti kita temukan Matahachi, aku akan bicara
dengan dia dan memutuskan semuanya sesuai dengan keinginanmu. Tapi kukira sesudah itu kau akan
langsung lari kepada Musashi dan selanjutnya kalian berdua memfitnah kami.” “Kenapa Nenek berpikir begitu? Saya bukan manusia macam itu. Saya takkan melupakan banyak hal yang telah Nenek lakukan untuk saya di walau lalu.”
“Begitulah cara gadis-gadis muda sekarang bicara! Tak tahulah bagaimana kamu bisa bicara begitu manis. Aku sendiri orang jujur. Aku tak dapat menvembunyikan perasaanku dengan kata-kata halus. Kau tahu, kalau kau kawin dengan Musashi, kau jadi musuhku. Ha, ha, ha! Tentunya menjengkelkan memijat bahuku ini.”
Otsu tak menjawab. “Kenapa kau menangis?” “Saya tidak menangis.” “Air apa yang jatuh ke leherku?” “Maaf. Saya tak tahan.” “Hentikan! Rasanya seperti bangsat merayap ke sana kemari. Tak usah lagi merana karena Musashi dan
keraskan pijatanmu!”
Di halaman tampak cahaya. Otsu mengira itu pelayan yang biasanya membawa makan malam mereka
sekitar waktu itu, tapi ternyata seorang pendeta. “Maaf,” katanya sambil masuk beranda. “Apa ini kamar Nyonya Hon’ iden? Oh, Nyonya sendiri.” Lentera yang dibawanya bertulisan “Kiyomizudera di Gunung Otowa”.
“Baiklah saya jelaskan,” mulainya. “Saya pendeta dari Shiando, di atas bukit sana.” Ia turunkan lentera dan ia ambil surat dari dalam kimononya. “Saya tak kenal orang itu, tapi petang tadi, sebelum matahari terbenam, seorang ronin datang ke kuil dan bertanya apakah seorang wanita tua dari Mimasaka ada di sana. Saya katakan tidak, tapi seorang pemuja taat menjawab bahwa Anda kadang-kadang memang datang. Dia lalu minta kuas dan menulis surat ini. Dia minta saya menyerahkannya pada wanita itu kalau datang. Saya mendengar Nyonya tinggal di sini, dan karena saya dalam perjalanan ke Jalan Gojo, saya singgah menyampaikannya kepada Nyonya.”
“Terima kasih banyak,” kata Osugi hormat. Ia menawarkan bantal kepada tamu itu, tapi pendeta itu langsung minta diri. “Apa pula ini?” pikir Osugi. Ia buka surat itu. Sementara membaca, warna mukanya berubah. “Otsu,” panggilnya. “Ada apa, Nek?” jawab gadis itu dari kamar belakang. “Tak usah menyuguhkan teh. Dia sudah pergi.”
“Sudah? Kalau begitu Nenek saja yang minum.” “Berani-berani kamu menyuguhi aku teh yang kamu buat untuk dia! Aku bukan comberan. Lupakan teh itu, dan sekarang berpakaian!”
“Apa kita akan pergi?” “Ya. Malam ini kita akan sampai di tempat yang kamu harapkan.” “Oh, kalau begitu surat itu dari Matahachi.” “Bukan urusanmu.” “Baiklah, saya akan minta orang menyiapkan makan malam.” “Apa kamu belum makan?” “Belum, saya menanti Nenek datang tadi.” “Kamu memang tolol. Aku sudah makan waktu pergi tadi. Nah, makanlah nasi dan acar. Tapi cepat!” Ketika Otsu berangkat ke dapur, kata perempuan tua itu, “Di gunung akan dingin nanti malam. Apa kamu
sudah selesai menjahit jubahku?” “Sedikit lagi saya selesaikan jahitan kimono Nenek.” “Yang kubicarakan bukan kimono, tapi jubah. Sudah kuminta tadi kamu mengerjakannya juga. Dan apa
sudah kaucuci kausku? Tali sandalku itu kendur. Ambil yang baru.”
Perintah-perintah itu datang begitu bertubi-tubi, hingga tak sempat Otsu menjawab, apalagi menuruti, namun ia merasa tak berdaya untuk berontak. Semangatnya seperti runtuh, takut, dan putus asa menghadapi perempuan tua jelek itu. Makanan tak
sempat pula dimakan. Dalam beberapa menit saja Osugi sudah menyatakan siap berangkat. Sambil meletakkan sandal baru di beranda, kata Otsu, “Nenek berangkat saja dulu. Saya menyusul.”
“Kamu bawa lentera?”
“Tidak.”
“Dungu! Jadi, maumu aku tersandung-sandung di sisi glinting itu tanpa lampu? Pinjam sana sama penginapan.”
“Maaf, saya tak ingat.”
Otsu ingin tahu ke mana mereka akan pergi, tapi ia tidak bertanya, karena tahu hal itu akan membangkitkan kemarahan Osugi. Ia mengambil lentera, lalu berjalan diam mendahului di muka, mendekati Bukit Sannen. Walaupun mendapat macam-macam hal menjengkelkan, ia tetap merasa riang. Surat itu tentunya dari Matahachi, dan ini berarti masalah yang telah mengganggunya bertahun-tahun lamanya akan terpecahkan malam itu. “Begitu semuanya sudah dibicarakan,” demikian pikirnya, “aku akan pergi ke rumah Karasumaru. Aku mesti ketemu Jotaro.”
Mendaki bukit itu bukan pekerjaan ringan. Mereka harus berjalan hatihati menghindari batu-batu jatuhan dan lubang-lubang di tengah jalan. Di tengah ketenangan alam itu, air terjun terdengar lebih keras daripada di slang hari.
Beberapa waktu kemudian Osugi berkata, “Aku yakin ini tempat suci buat dewa gunung ini. Oh, ini papan namanya, ‘Pohon Ceri Dewa Gunung’.”
“Matahachi!” panggilnya ke tengah kegelapan. “Matahachi! Ibu di sini!” Suara yang gemetar dan wajah yang penuh ungkapan kecintaan ibu itu terasa bagai wahyu bagi Otsu. Ia tak pernah menduga akan melihat Osugi demikian tenggelam dalam keprihatinan terhadap anaknya.
“Jangan sampai lentera itu mati!” bentak Osugi.
“Akan saya jaga,” jawab Otsu penuh tanggung jawab.
Perempuan tua itu menggerutu dan terengah-engah. “Dia tak ada. Dia betul-betul tak ada.” Ia sudah mengelilingi pekarangan kuil, tapi dikelilinginya sekali lagi.
“Dalam surat dia bilang aku mesti datang ke aula Dewa Gunung.”
“Apa dikatakannya malam ini?”
“Dia tidak bilang malam ini atau besok atau kapan lagi yang lain. Aku ingin lihat juga, apa dia jadi lebih besar. Heran juga, kenapa dia tidak datang ke penginapan. Barangkali dia malu karena kejadian di Osaka itu.’
Otsu menarik lengan kimononya, katanya, “Ssst! Barangkali itu dia. Ada orang naik bukit.”
“Kamu itu, Matahachi?” tanya Osugi.
Orang itu melewati mereka tanpa menoleh dan langsung menuju belakang kuil kecil itu. Tapi sebentar kemudian ia kembali dan berhenti di samping mereka dan menatap muka Otsu dengan terang-terangan. Ketika ia lewat tadi, Otsu tak mengenalinya, tapi sekarang ia ingat-dialah samurai yang dulu duduk di bawah jembatan pada Hari Tahun Baru.
“Kalian berdua baru saja naik?” kata Kojiro.
Pertanyaan itu demikian mendadak, hingga baik Otsu atau Osugi tak menjawab. Keheranan mereka menjadi lengkap melihat pakaian Kojiro yang sangat mencolok itu.
Sambil menudingkan jari ke wajah Otsu, lanjut Kojiro, “Aku mencari gadis yang seumurmu. Namanya Akemi. Lebih kecil daripada kau, dan wajahnva sedikit lebih bundar. Dia terlatih kerja di warung teh, dan tingkahnya sedikit lebih dewasa dari umurnya. Apa kalian melihat dia di sekitar sini?”
Mereka menggelengkan kepala, tak menjawab.
“Aneh sekali. Ada yang bilang dia kelihatan di tempat ini. Aku yakin dia menginap di salah satu ruangan
kuil.” Ia menunjukkan perhatian pada mereka, tapi sepertinya ia bicara kepada diri sendiri. Kemudian ia
menggumamkan beberapa kata lagi dan pergi. Osugi mendecapkan lidahnya. “Satu lagi manusia sampah. Pedangnya dua, jadi mestinya samurai, tapi coba kaulihat pakaiannya! Dan mencari perempuan pula malam begini! Mestinya dia sudah melihat sendiri, kita bukan orang yang dicarinya.”
Otsu tidak mengatakannya kepada Osugi, tapi ia menduga keras gadis yang dicari orang itu adalah yang tersesat di penginapan sore tadi. Hubungan apakah yang ada antara Musashi dan gadis itu dengan orang ini?
“Mari kita pulang,” kata Osugi, suaranya terdengar kecewa dan pasrah. Di depan Hongando, di mana pernah terjadi konfrontasi antara Osugi dan Musashi, mereka berpapasan lagi
dengan Kojiro. Kojiro memandang mereka dan mereka memandangnya, tapi tak terjadi percakapan. Osugi melihat orang itu naik ke Shiando, kemudian membelok dan berjalan langsung turun Bukit Sannen. “Mata orang itu menakutkan,” bisik Osugi. “Macam mata Musashi.Justru pada waktu itu mata Osugi melihat
gerakan samar, dan bahunya yang bungkuk itu tersentak tegak. “Oww!” pekiknya seperti burung hantu. Dari
belakang pohon kriptomeria besar kelihatan tangan memanggil. “Matahachi,” bisik Osugi. Terpikir olehnya, sungguh mengharukan bahwa Matahachi tak mau dilihat orang lain kecuali ibunya sendiri.
Ia berseru kepada Otsu yang sekarang delapan belas atau dua puluh meter di bawahnya. “Kamu jalan saja terus, Otsu. Tapi jangan jauh-jauh. Tunggu aku di tempat yang namanya Chirimazuka. Beberapa menit lagi aku datang.”
“Baik,” kata Otsu. “Tapi jangan pergi ke mana-mana! Aku melihatmu. Tak perlu kamu lari.” Osugi cepat-cepat lari ke pohon itu. “Matahachi, apa itu kamu?” “Ya, Bu.” Tangan Matahachi keluar dari kegelapan dan menggenggarn tangan ibunya, seakan-akan sudah
bertahun-tahun ia menantikan pertemuan itu.
“Apa kerjamu di belakang pohon itu? Oh, tanganmu dingin seperti es!” Hampir ia mencucurkan air mata merasakan kekuatirannya sendiri. “Aku mesti sembunyi,” kata Matahachi, sedangkan matanya gugup memandang ke sana kemari. “Orang
yang lewat tempat ini semenit yang lalu, Ibu lihat, kan?” “Orang yang pakai pedang panjang itu?” “Ya.” “Apa kamu kenal dia?” “Boleh dibilang begitu. Orang itu Sasaki Kojiro.” “Apa? Bukan kamu yang Sasaki Kojiro?” “Hah?” “Di Osaka kautunjukkan padaku sertifikat. Nama itu tertulis di sertifikat itu. Itu nama yang kaupakai, kan?” “Begitu, ya? Ah, tidak benar itu…. Tadi, ketika dia naik, kulihat dia. Kojiro sudah bikin aku susah beberapa
hari yang lalu, karena itu aku sembunyi menghindari dia. Kalau dia kembali lewat jalan ini, aku bisa
kesulitan.” Osugi demikian terguncang, hingga tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Tapi ia lihat Matahachi lebih kurus daripada sebelumnya. Hal itu, dan ditambah lagi kegelisahan anaknya, membuatnya lebih
mencintainya lagisetidaknya untuk sementara waktu.
Dengan pandangan yang menyatakan tak ingin mendengar cerita seluruhnya, katanya, “Semua itu tak apa¬apa. Sekarang coba katakan, Nak, apa kau sudah tahu Paman Gon meninggal?” “Paman Gon…? “Ya, Paman Gon. Dia meninggal di sana itu, di Pantai Sumiyoshi, tepat sesudah engkau meninggalkan
kami.” “Aku belum dengar.” “Yah, begitulah kejadiannya. Persoalannya sekarang, apa engkau memahami kematiannya yang tragis itu,
dan kenapa aku meneruskan misi yang panjang dan sedih ini, biarpun umurku sudah setua ini.”
“Ya, hal itu sudah terukir dalam pikiranku sejak malam di Osaka, ketika Ibu… mengingatkan aku tentang kekurangan-kekuranganku.” “Jadi, engkau ingat, ya? Nah, sekarang aku punya berita untukmu, berita yang akan bikin kau senang.” “Berita apa itu?” “Otsu.” “Oh! Gadis yang dengan Ibu itu!” Matahachi mulai berjalan mengitari ibunya, tetapi Osugi menghadang jalannya dan tanyanya mencela, “Ke
mana engkau pergi?” “Kalau dia Otsu, ingin aku bertemu dengan dia. Begitu lama sudah.” Osugi mengangguk. “Kubawa dia
kemari dengan maksud menyuruhmu bertemu dengannya. Tapi coba katakan pada ibumu ini, apa rencanamu?” “Akan kusampaikan kepadanya aku menyesal. Aku sudah memperlakukan dia dengan buruk sekali, dan
kuharap dia memaafkan aku.” “Sudah itu?” “Kemudian… nah, kemudian akan kukatakan aku takkan berbuat kesalahan macam itu lagi. Ibu katakanlah
juga begitu padanya atas namaku.” “Lalu apa lagi?” “Lalu akan seperti sebelumnya.” “Apa yang akan seperti sebelumnya?” “Aku dan Otsu. Aku ingin bertemu lagi dengan dia. Aku ingin mengawini dia. Oh, ibu, apa menurut Ibu dia
masih…” “Anak tolol!” Dan ditamparnya Matahachi keras-keras. Matahachi rebah dan memegang pipinya yang pedas. “K—Kenapa, Bu, ada apa?” gagapnya. Osugi tampak lebih marah dari yang pernah ia lihat semenjak ia disapih. Geramnya, “Baru saja engkau
meyakinkan ibumu takkan melupakan apa yang kukatakan di Osaka, kan?” Matahachi menundukkan kepala. “Apa pernah aku bicara tentang minta maaf kepada anjing yang tak ada gunanya itu? Bagaimana mungkin
engkau mohon maaf kepada setan perempuan itu, sesudah dia membuang dirimu dan lari dengan lelaki lain? Kau akan bertemu dengan dia, bolehlah, tapi kau tak boleh minta maaf! Sekarang dengarkan aku!” Osugi menangkap Matahachi dengan kedua tangannya dan mengguncangkannya. Dengan kepala
terombang-ambing, Matahachi menutup matanya, dan dengan takut-takut mendengarkan cacian yang
panjang sekali. “Apa ini?” jerit Osugi. “Kau nangis? Kau masih cinta pada pelacur itu, sampai engkau menangisinya? Kalau betul begitu, engkau bukan anakku!” Dibantingnya Matahachi ke tanah, kemudian ia sendiri pun rebah.
Beberapa menit lamanya keduanya duduk menangis. Tetapi kesedihan Osugi tak dapat lama berada di permukaan. Ia berdiri, katanya, “Sudah saatnya kau
mengambil keputusan. Aku takkan lama lagi hidup. Dan kalau aku mati, kau takkan dapat bicara denganku macam ini, biarpun kau ingin. “Pikirkan, Matahachi. Otsu bukan satu-satunya gadis di dunia ini.” Kemudian suaranya menjadi lebih tegang.
“Kau tak boleh membiarkan dirimu merasa terikat kepada orang yang sudah berbuat seperti dia itu. Cari gadis yang kau sukai dan aku akan menjemputnya untukmu, biarpun aku terpaksa mengunjungi orangtuanya sampai seratus kali—biarpun akan bikin aku lelah dan mati.”
Matahachi tetap murung dan diam. “Lupakan Otsu, demi nama Hon’iden. Apa pun jalan pikiranmu, dia tak dapat diterima dari sudut keluarga.
Jadi, kalau engkau sama sekali tak dapat lepas dari dia, potong saja kepalaku yang sudah tua ini. Sudah itu kau dapat berbuat semaumu. Tapi selama aku masih hidup…” “Sudah, Bu!” Dahsyatnya nada Matahachi itu membuat bulu kuduk Osugi meremang. “Kau berani sekali membentakku!” “Coba sekarang Ibu jawab: perempuan yang akan kukawini itu akan menjadi istriku atau istri Ibu?” “Tolol sekali omonganmu itu!” “Tapi kenapa aku tak boleh memilih sendiri?” “Nah, nah. Sejak dulu kau memang keras kepala. Kaupikir berapa umurmu itu? Kau bukan lagi anak-anak,
atau kau sudah lupa?” “Tapi… yah, memang betul Ibu ini ibuku, tapi Ibu terlalu banyak menuntut dariku. Itu tak adil.” Perbedaan pendapat di antara mereka memang sering kali seperti itu, dimulai dengan bentrokan perasaan
keras, diikuti oleh bergulatnya perlawanan yang keras pula. Saling pengertian sudah runtuh sebelum sempat tumbuh.
“Itu tak adil?” desis Osugi. “Kau pikir kau itu anak siapa? Kau pikir dari perut siapa engkau lahir?” “Tak ada gunanya bicara macam itu, Bu. Aku mau kawin dengan Otsu! Dialah orang yang kucintai!” Karena tak tahan melihat kerutan dahi ibunya yang kelabu itu, Matahachi menujukan kata-katanya ke langit.
“Anakku, apa betul yang kau katakan itu?” Osugi menarik pedang pendeknya dan mengacungkan mata pedang itu ke tenggorokannya sendiri.
“Bu, apa yang Ibu lakukan ini?” “Cukuplah. Jangan coba mencegahku! Sekarang tunjukkan kesopananmu dan berikan padaku tusukan terakhir.”
“Jangan lakukan itu di depanku! Aku anakmu! Aku tak bisa berdiri di sini membiarkan Ibu berbuat begitu!” “Baik. Mau tidak kau meninggalkan Otsu-sekarang juga?’ “Kalau itu yang Ibu inginkan dariku, kenapa Ibu bawa dia kemari? Kenapa Ibu menggodaku dengan
memamerkannya di depanku? Tak mengerti aku.” “Coba dengar, buatku gampang sekali membunuh dia, tapi kau yang rugi. Sebagai ibumu, kupikir lebih baik
kuserahkan padamu pelaksanaan hukuman itu. Menurutku, engkau pasti berterima kasih karenanya.” “Ibu minta aku membunuh Otsu?” “Kau tidak mau, ya? Kalau memang tidak mau, katakan tak mau! Tapi bulatkan pikiranmu!” “Tapi… tapi, Bu…” “Jadi, kau masih tak dapat meninggalkan dia, kan? Baik, kalau memang begitu perasaanmu, engkau bukan
anakku, dan aku bukan ibumu. Kalau kau tak bisa memotong kepala perempuan nakal itu, paling tidak
penggal kepalaku ini! Jatuhkan tebasan terakhir!” Anak-anak memang bisa merepotkan orangtuanya, tapi kadang-kadang sebaliknya yang terjadi, demikian renung Matahachi. Osugi tidak hanya membuatnya takut, melainkan juga telah menempatkannya pada kedudukan yang paling sukar dalam hidupnya. Pandangan liar pada wajah ibunya itu sungguh mengguncangkannya.
“Bu, berhenti! Jangan lakukan! Baik, akan kulakukan kemauan Ibu. Akan kulupakan Otsu!” “Cuma itu?” “Aku akan menghukum dia. Aku berjanji akan menghukum dia dengan tanganku sendiri.” “Kau akan membunuhnya?” “Ah, ya, aku akan membunuhnya.” Dengan penuh kemenangan Osugi menangis gembira. Sambil menyingkirkan pedangnya, ia mencekal
tangan anaknya. “Bagus! Sekarang kau sudah kelihatan seperti calon kepala Keluarga Hon’iden. Leluhurmu akan bangga denganmu.” “Apa betul begitu menurut Ibu?” “Pergi laksanakan sekarang! Otsu menunggu di bawah sana, di Chirimazuka. Cepat!”
Mm. “Akan kita kirimkan surat ke Shippoji bersama kepalanya. Dari situ semua orang di kampung akan tahu aib kita sudah berkurang separuh. Dan kalau Musashi mendengar Otsu mati, harga dirinya memaksanya datang pada kita. Betapa hebat!… Matahachi, cepat!”
“Ibu tunggu aku di sini, kan?”
“Tidak. Aku ikut kamu, tapi dari tempat yang tidak kelihatan. Kalau nanti Otsu melihatku, dia akan merengek supaya aku ingat janjiku. Kalau begitu bisa kikuk.” “Ah, dia kan cuma perempuan tak berdaya,” kata Matahachi sambil bangkit pelan-pelan. “Tak ada susahnya
membereskan dia, jadi lebih baik Ibu tinggal di sini saja. Akan kubawa ke sini kepalanya. Tak perlu kuatir.
Takkan kubiarkan dia lolos.” “Tapi bisa saja kau kurang hati-hati. Memang dia cuma perempuan, tapi kalau melihat mata pedangmu, dia bisa melawan.”
“Tak usah kuatir. Ini soal gampang.”
Sambil menguatkan hatinya, berangkatlah Matahachi turun bukit; ibunya berjalan di belakang dengan wajah kuatir. “Ingat,” katanya, “jangan sampai kurang waspada!” “Ibu masih ikut? Kupikir Ibu akan tinggal di tempat yang kelihatan.” “Chirimazuka masih jauh di bawah sana.” “Aku tahu, Bu! Kalau Ibu mau terus juga, pergi saja sendiri. Aku tunggu di sini.” “Kenapa pula kamu ragu-ragu?”
“Dia manusia. Kan sukar aku menyerangnya kalau aku merasa seperti membunuh anak kucing tak berdosa?”
“Aku mengerti perasaanmu. Walaupun tidak setia, dia dulu tunanganmu. Baiklah, kalau kau tak ingin kuawasi, pergilah sendiri. Aku tinggal di sini.” Matahachi pergi tanpa mengucapkan apa pun.
Otsu semula bermaksud melarikan diri, tapi kalau ia melarikan diri, segala kesabaran yang telah ditahankannya selama dua puluh hari itu akan sia-sia. Ia memutuskan bertahan sebentar lagi. Untuk melewatkan waktu, ia memikirkan Musashi, kemudian Jotaro. Cintanya kepada Musashi menyalakan berjuta-juta bintang terang dalam hatinya. Ia menghitung berbagai harapan yang dicita-citakannya bagi masa depannya, seakan dalam mimpi. Dan terkenang olehnya janji-janji Musashi kepadanya-di Celah Nakayama, di Jembatan Hanada. Sekalipun bertahun-tahun telah berlalu, ia percaya dengan segenap hatinya bahwa Musashi takkan meninggalkannya.
Kemudian bayangan Akemi datang mengganggunya, menggelapkan harapan-harapannya dan membuatnya gelisah. Tapi cuma sesaat. Rasa takutnya pada Akemi tidak berarti dibandingkan dengan kepercayaannya yang tak terbatas kepada Musashi. Ia ingat pula, Takuan pernah mengatakan ia mesti dikasihani. Tapi itu tak ada artinya. Bagaimana mungkin Takuan memandang kegembiraannya yang abadi itu dalam arti demikian?
Sekarang pun, ketika ia berada di tempat sepi menantikan orang yang tak ingin ia lihat, impiannya yang mengasyikkan mengenai masa depan tetap menguatkannya agar dapat menahan derita macam apa pun.
“Otsu!”
“Siapa… itu?” kata Otsu.
“Hon’iden Matahachi.”
“Matahachi?” gagap Otsu.
“Kau sudah lupa suaraku?”
“Tidak, aku ingat lagi sekarang. Kau sudah ketemu ibumu?”
“Ya, dia menungguku. Kau tidak berubah, ya? Kau kelihatan seperti waktu di Mimasaka.”
“Kau di mana? Begini gelap, sampai aku tak lihat.”
“Boleh aku lebih dekat? Aku berdiri di sini. Aku malu sekali berhadapan denganmu. Apa yang kaupikirkan tadi?”
“Oh, tidak ada, tak ada yang khusus.”
“Kau memikirkan aku, ya? Aku tak pernah tidak memikirkan engkau.” Ketika Matahachi pelan-pelan mendekatinya, Otsu merasa sedikit kuatir.
“Matahachi, apa ibumu sudah menjelaskan semuanya?”
“Sudah.”
“Nah, karena engkau sudah mendengar semuanya,” kata Otsu puas sekali, “cobalah kau memahami perasaanku, tapi aku sendiri minta kau meninjau soal-soal itu dari sudut pandangku. Mari kita lupakan masa lalu. Semua itu tak disengaja.”
“Ah, jangan seperti itu, Otsu.” Matahachi menggeleng. Walaupun ia tak tahu apa yang disampaikan ibunya pada Otsu, tapi ia merasa cukup yakin hal itu dimaksudkan untuk menipu Otsu. “Sakit rasanya kalau masa lalu disebut-sebut. Sukar bagiku menegakkan kepala di depanmu. Tapi karena sebab-sebab tertentu, tak mungkin aku berpikir akan melepaskan engkau.”
“Matahachi, gunakan akalmu. Tak ada apa pun sekarang antara hatimu dan hatiku. Kita dipisahkan oleh lembah yang besar.”
“Betul. Dan lebih dari lima tahun lewat lembah itu.”
“Tepat. Tahun-tahun itu tak akan kembali lagi. Tak ada jalan untuk menangkap kembali perasaan yang pernah kita punyai.” “Oh, tidak! Kita dapat menangkapnya kembali! Kita dapat!” “Tidak, semuanya sudah hilang buat selamanya.” Matahachi menatapnya, takjub oleh dinginnya wajah Otsu dan tandasnya nada bicaranya. Ia bertanya pada
diri sendiri, apakah itu gadis yang dahulu seperti sinar matahari musim semi apabila sudah mau mengungkapkan perasaan cintanya? Kini ia merasa seperti sedang mengusap batu pualam putih yang bersalju. Di manakah sikap keras ini tersembunyi di masa lalu?
Teringat olehnya beranda Shippoji. Teringat olehnya Otsu duduk di sana dengan mata jernih melamun, sering sampai setengah hari atau lebih, diam meninjau ke ruang kosong. Seakan di tengah awan-awan itu ia melihat ayah-ibunya, melihat saudara-saudaranya.
Matahachi lebih mendekat lagi. Dengan sikap takut-takut, seperti sedang berada di tengah duri ketika memetik kuncup mawar putih, bisiknya, “Mari kita coba lagi, Otsu. Memang tak ada jalan mengembalikan lima tahun yang sudah lewat itu, tapi marilah kita mulai lagi, sekarang ini, kita berdua.”
“Matahachi,” kata Otsu tenang, “apa engkau berkhayal? Aku bukan bicara tentang panjangnya waktu, aku
bicara tentang jurang yang memisahkan hati kita, hidup kita.” “Aku tahu. Tapi yang kumaksud adalah mulai sekarang ini juga aku hendak merebut kembali cintamu. Barangkali tak perlu aku mengatakan hal itu, tapi apakah kesalahan yang kuperbuat bukan kesalahan hampir setiap pemuda?”
“Bicaralah semaumu, tapi aku tak akan dapat lagi menerima kata-katamu dengan sungguh-sungguh.”
“Otsu, aku tahu aku salah! Aku lelaki, tapi lihatlah, aku minta maaf pada seorang perempuan. Apa engkau tak mengerti, betapa berat ini bagiku?” “Hentikan! Kalau kau seorang lelaki, kau mesti berbuat seperti lelaki.” “Tapi tak ada di dunia ini yang lebih penting bagiku. Kalau kau mau, aku akan berlutut dan memohon maaf
padamu. Aku berikan sumpahku. Aku mau bersumpah demi apa pun yang kausukai.” “Tak peduli aku, apa yang kaulakukan!” “Kuminta jangan engkau marah. Lihatlah, ini bukan tempat buat bicara. Mari kita pergi ke tempat lain.” “Tidak.” “Aku tak mau ibuku melihat kita. Mari kita pergi. Aku tak dapat membunuhmu. Mana bisa aku
membunuhmu.”
Matahachi memegang tangannya, tapi Otsu melepaskannya. “Jangan sentuh aku!” teriaknya marah. “Lebih baik aku dibunuh daripada hidup denganmu!” “Kau tak mau pergi denganku?” “Tidak, tidak, tidak.” “Itu keputusan terakhir?” “Ya!” “Artinya kau masih cinta pada Musashi?” “Ya, aku cinta padanya. Aku akan mencintainya dalam hidup ini dan hidup yang akan datang.”
Tubuh Matahachi menggeletar. “Bukan begitu mestinya kau bicara, Otsu.”
“Ibumu sudah tahu. Dan dia bilang akan menyampaikannya padamu. Dia berjanji kita akan membicarakan ini bersama-sama dan mengakhiri masa lalu itu.” “Oh, begitu. Dan kukira Musashi memerintahkan engkau menemuiku dan menyampaikan semua itu! Begitu,
kan?” “Tidak, tidak begitu! Musashi tak perlu menyuruhku melakukan apa pun.” “Kau tahu aku punya harga diri. Semua lelaki punya harga diri. Kalau memang begitu perasaanmu
terhadapku…” “Apa yang akan kaulakukan?” teriak Otsu. “Aku lelaki juga seperti Musashi. Kalau soal ini menyeret seluruh hidupku, akan kucegah kau bersatu
dengan dia. Takkan kuizinkan!” “Memangnya kau siapa, sampai mesti memberi izin?” “Takkan kubiarkan kau kawin dengan Musashi! Ingat, Otsu, bukan Musashi tunanganmu.” “Kau bukan orang yang mesti mengemukakan hal itu.” “Kenapa tidak? Engkau dijanjikan jadi istriku. Tak bisa kau kawin dengan siapa pun, kalau aku tidak
menyetujui.” “Kau pengecut, Matahachi! Aku kasihan padamu. Bagaimana kau bisa menurunkan derajat seperti itu?
Sudah lama aku menerima surat darimu dan dari perempuan yang namanya Oko itu, yang isinya memutuskan pertunangan.” “Aku tidak tahu apa-apa tentang itu. Aku tidak mengirimkan surat itu. Oko mestinya yang melakukannya,
atas namanya sendiri.”
“Bohong. Satu surat ditulis dengan tulisanmu sendiri, dan mengatakan aku mesti melupakanmu dan mencari orang lain sebagai suami.” “Mana surat itu? Tunjukkan itu padaku!” “Tak ada lagi. Ketika Takuan membacanya, dia tertawa dan membuang ingus dengannya, dan
membuangnya.” “Dengan kata lain, engkau tak punya bukti, dan tak seorang pun akan mempercayaimu. Semua orang di kampung tahu kau tunanganku. Aku punya segala bukti untuk itu, sedangkan kau tidak. Ingat. Otsu, kalau
kau memutuskan diri dari semua orang agar dapat bersatu dengan Musashi, kau takkan pernah bahagia. Rupanya Oko mengganggumu, tapi aku bersumpah, tak ada lagi sama sekali hubunganku dengan dia.” “Kau buang-buang wakt